All Chapters of Rahasia Hati: Terperangkap Menjadi Istri Kedua CEO Dingin : Chapter 251 - Chapter 260

264 Chapters

251. Kejutan Di Hari Ulang Tahun Nyonya

Pagi ini, Gretha sedang berada di ruang makan. Duduk berhadapan dengan Tuan Alaric yang menyuap makanannya dengan ekspresi wajah yang tampak enggan. "Papa tidak pergi ke luar negeri lagi?" tanya Gretha di antara keheningan yang awalnya tumbuh di sekitar mereka. "Pergi nanti, tapi masih belum tahu kapan pastinya karena Zain belum memberi jadwal untuk Papa," jawab Tuan Alaric setelah meneguk minuman dari dalam gelas. "Papamu sibuk dengan kegiatannya di luar negeri tapi tidak pernah mengajak Mama, Gretha," sela Nyonya Bertha. "Kamu mau ikut?" Tuan Alaric meletakkan sendok makan yang tadi digenggamnya kemudian memandang pada sang istri. "Tapi sebagian besar kunjunganku ke luar negeri dan kalau kamu ikut bersamaku itu pasti ujungnya kamu banyak mengeluh, Bertha. Tidak bisa bahasa A, tidak cocok dengan makanannya, tidak ini tidak itu, dengan aku yang sibuk kerja dan tidak untuk main-main, apa kamu pikir aku punya waktu untuk mengurus hal-hal sepele yang kamu keluhkan itu?" Nyonya Bert
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

252. Siapa Yang Menghamilimu, Gretha?

"A-apa?" tanya Gretha seraya bangun dari duduknya dan hendak menuju pada Tuan Alaric. Tapi sebelum hal itu ia lakukan, Tuan Alaric lebih dulu melempar foto-foto itu ke hadapannya. Sebagian mendarat di atas meja, sebagiannya jatuh berserakan di lantai. Gretha menggigit bibirnya hingga terasa perih saat ia mengambil salah satu foto tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Tuan Alaric, foto itu benar menunjukkan dirinya yang berdiri di dekat mobilnya, berhadapan dengan seorang pria yang menunduk dan mencium perutnya. Tentu itu adalah dirinya, dan pria yang menunduk itu adalah Henry! Itu adalah pertemuan mereka di mana hari itu Henry sangat ingin merasakan gerakan bayi mereka dan sialnya ... ada yang melihat dan mengambil foto mereka berdua. 'Siapa?' batin Gretha dengan tangan yang gemetar. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap sang ayah yang sepasang matanya nyalang dan memerah. Ekspresi yang paling buruk yang pernah dilihatnya selama ini. Gretha tak pernah melihat beliau marah sepe
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

253. Duduk Di Pangkuannya

Lampunya sudah dimatikan, hanya tersisa lampu tidur keemasan yang redup yang nyaman di mata. Bayangan dua orang yang saling memagut tanpa henti terpantul di dinding ruang rawat presidential suite milik William. Lilia yang duduk di pangkuannya setelah William merengkuh pinggangnya dan dengan tidak sabar menjatuhkan bibirnya di bibir Lilia. Sebisa mungkin William tak merengkuh Lilia terlalu kuat atau tangannya bisa meremukkan pinggang kecil gadisnya ini. Saat menit berlalu, William menarik wajahnya, menyempatkan diri untuk menatap wajah Lilia yang matanya masih terpejam. Pipinya tampak begitu merah di bawah temaramnya cahaya lampu tidur yang menerangi ruangan tempat mereka berada. "Kenapa kamu tidak membuka mata?" tanya William seraya menyentuh dagu kecil Lilia kemudian barulah gadisnya itu membuka mata. "Kamu mengejutkanku," jawab Lilia akhirnya. Kedua tangannya yang ada di belakang leher William berpindah ke depan, menyentuh kerah baju pasien berwarna biru yang ia kenakan. "Me
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

254. Kali Ini Aku Tak Bisa Berjanji Kapan Aku Rela Melepasmu

"A-apa yang mau kamu lakukan?" tanya Lilia seraya menahan dada bidang William dengan menggunakan kedua tangan kecilnya. "'K-kenapa kamu tiba-tiba pindah ke atasku dan mencium leherku seperti itu?" "Rasanya tidak bisa mengendalikan diri karena kamu sangat cantik, Lilia," jawab William kemudian memindahkan posisinya seperti sedia kala. Berbaring di samping Lilia dan menggenggam tangannya. Tatapannya mengatakan kejujuran saat mengatakan 'Tidak bisa menahan diri' karena sepasang matanya terlihat gelisah. Lilia menyentuh dagu William kemudian menjawab, "Aku tidak akan pergi ke mana-mana," ujarnya. "Sabar dulu ...." "Aku juga tidak sabar kapan Papa Alaric akan datang ke sini jadi aku bisa mengatakan pada beliau aku ingin segera menikah denganmu." "Mungkin akhir pekan nanti Papa akan datang," balas Lilia dengan seulas senyum manisnya yang membuat William menelan ludah dengan sedikit kasar. "Apa Papa bilang begitu?" "Tidak juga, tapi mungkin akhir pekan karena Papa seringnya begitu," ja
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

255. Of Course, Sayang

Pagi ini, Lilia kembali dijemput oleh Giff untuk pergi mengajar. Tapi, pemuda itu tak datang sendirian melainkan bersama dengan Keano. Bocah kecil itu berlari menuju pada William setelah Giff membukakan pintu untuknya. Namun sepertinya itu salah. Sebab yang pertama kali dipanggil oleh Keano bukanlah William, melainkan Lilia yang berdiri di dekat nakas dan menoleh pada kedatangannya. "Mama!" serunya pada Lilia yang segera merendahkan tinggi tubuhnya sehingga bocah kecil itu bisa memeluknya. "Sayang, kamu ikut Paman Giff?" Ia mengangguk sehingga rambut hitamnya bergerak seirama. "Iya, Mama," jawabnya. "Keano mau ketemu Mama." "Mama saja? Papa tidak?" Keano lalu menoleh pada William yang sabar menunggu percakapan mereka usai. "Tentu saja Keano juga mau ketemu Papa." Lilia melepas pelukannya dan mengangkatnya untuk dapat duduk dengan William di atas ranjang. "Wah, sudah rapi sekali, setelah ini langsung pergi ke sekolah?" tanya William setelah menerima kecupan di pipi sebelah
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

256. Suka Duka, Air Mata Dan Darah Kita

Pipi Lilia seketika memanas. Ia menyentuhnya dan mengulang apa yang dikatakan oleh William. "S-sayangku?!" William mengangguk sebagai jawaban, "Iya, Sayangku. Apa kamu tidak suka aku memanggilmu seperti itu?" "B-bukannya tidak suka, t-tapi aku pikir itu cukup terburu-buru." "Terburu-buru? Setelah kita berciuman? Setelah kita semalaman tidur dengan berpelukan? Setelah kita—Lilia!" Lilia yang tak ingin mendengar ucapan William lebih banyak dengan segera berlari pergi dari sana. Suara stiletto-nya meninggalkan ruang rawat William yang hanya tersenyum melihat betapa cantik gadisnya itu saat kedua pipinya memerah dan lambat laun ronanya menyebar ke seluruh wajah. Ia menghela dalam napasnya lalu berdeham. "Tidak apa-apa 'kan aku begitu pada istriku sendiri?" Tapi di luar semua itu .... Ada sesuatu yang tadi lupa ia tanyakan pada Keano gara-gara si Giff itu lebih dulu meminta anaknya melakukan kemauannya. Ia ingin menanyakan pada Keano apakah pegawai kelurahan yang bernama Zavian
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

257. Penyadap

"Papa sudah tahu?" ulang William, seolah sedang memastikan bahwa ia tak salah dengar. "Iya, William." "Sejak kapan?" "Sejak Lilia dan Keano Papa sembunyikan," jawab Tuan Alaric. "Papa meminta Zain untuk menempatkan penyadap di dalam mobilnya dengan mempertimbangkan bahwa dia akan pergi menemui seseorang, siapapun itu nanti kita bisa mencari tahunya lebih jauh. Semua bukti rekaman suara yang dia lakukan di dalam sana Papa memilikinya." William tak tahu bagaimana cara mengapresiasi cara kerja beliau. Bukankan tidak salah jika ia mengatakan pada Giff bahwa Tuan Alaric adalah sang maestro? "Lalu apa yang terjadi di dalam rekaman itu, Pa?" tanyanya kembali. "Dia paling sering bertemu dengan Henry, kamu tahu, 'kan? Sopirnya Reynold." William menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Iya aku tahu." "Di sana mereka berdua mengatakan bahwa anak yang dia kandung itu adalah hasil hubungan semalam keduanya," jawab Tuan Alaric. "Papa bisa mendapatkan banyak hal sebagai bukti bahwa mereka be
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

258. Cukup Tepati Janjimu

William memandang Tuan Alaric cukup lama dengan keadaan bibir terbungkam. Dan itu membuat beliau berdeham seraya bertanya, "Kenapa, Nak?" William menghela dalam napasnya kemudian menggeleng, "Tidak, Pa," jawabnya. "Aku hanya ... senang karena mendapat sosok seorang Papa dari Alaric Roseanne dan bukan dari Adam Quist. Sejak menikah dengan Ivana, aku bisa melihat cinta tulus seorang ayah justru dari ayah mertuaku, dan Papa masih akan terus menjadi ayah mertuaku, selamanya." "Papa sudah pernah bilang, 'kan?" tanggap beliau. "Papa juga sedang melakukan penebusan kesalahan atas apa yang pernah Papa lakukan di masa lalu, kegagalan Papa melindungi Ivana dan ibunya jadi Papa melakukan apapun untuk bisa membuat Leonora bahagia. Dan karena dia adalah istrimu, jadi Papa juga akan melindungi kamu dan Keano." William mengangguk dengan penuh terima kasih, "Terima kasih, Pa," ucapnya. "Seperti yang Papa katakan, aku akan menyelesaikan apa yang sudah Papa mulai. Terima kasih sudah menjaga Lilia dan
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

259. H-1, Detak-detak Di Dadaku

Setelah mengantar Keano dan Alya pulang ke rumah yang mereka tinggali, Alaric menuju ke hotel tempat ia beristirahat. Ia melepas coat yang ia kenakan saat berjalan memasuki lift bersama dengan Zain yang berjalan mengekor di belakangnya. "Kamu sudah memberikan bukti-bukti yang kita bicarakan kemarin pada William, Zain?" tanyanya setelah lift naik meninggalkan lobi. "Sudah, Tuan Alaric," jawab pemuda itu. "Saya sudah memberikannya tadi setelah hampir mengganggu Tuan William dan Nona Lilia di dalam." Alaric tersenyum mendengarnya sebelum ia menghela napas dengan lega. "Setidaknya sekarang kita bisa melihat mereka bahagia, dan mendampingi mereka sampai nanti pada hari pernikahan, dan selama-lamanya." "Benar." "Soal rumah baru dan rumah lama? Sudah kamu selesaikan juga?" imbuhnya. "Sudah, rumah barunya sesuai dengan permintaan Anda, dan rumah lamanya sudah terjual," jawab Zain. "Saya meminta pemilik barunya untuk menempatinya bulan depan. Seperti yang Anda katakan, kita masih harus
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

260. Wedding Day

Waktu pernikahannya akan diberlangsungkan pada pagi hari, sekitar pukul delapan. Tadi pagi-pagi sekali—sekitar pukul tiga dini hari—Lilia, Keano dan Alya dijemput oleh Giff dan Zain untuk menuju ke hotel. Lilia dibawa masuk ke sebuah kamar hotel tersendiri oleh staf yang telah menunggunya di sana. Keano yang masih mengantuk digendong Giff masuk ke dalam kamar William. Lilia sudah melihat gaunnya sebelumnya, benar seperti tak ada bedanya dengan gaunnya yang hari itu ia lihat dilahap bara api. Gaun itu akhirnya ia kenakan setelah make up yang cantik dibubuhkan di wajahnya oleh seorang teman William yang secara khusus dimintanya ke sini. "Gaunnya pas dengan bentuk tubuhmu, Lilia," ucap wanita bernama Sherly itu. "Terima kasih." "Kamu juga memilih crown yang cocok untuk gaunnya." Lilia mengangguk dan tak bisa menahan senyumnya, atau sebenarnya ia sedang berusaha menyembunyikan rasa harunya yang sangat besar ini? Satu demi satu prosesnya terlewati, dari make up hingga gaun yang te
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more
PREV
1
...
222324252627
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status