All Chapters of Menantu Tak Dihormati Ternyata Putri Konglomerat! : Chapter 11 - Chapter 20

24 Chapters

11. Apa Yang Terlihat Oleh Mata, Terkadang Tidak Sama Dengan Apa Yang Terjadi

"Lancang sekali mulutmu!" bentak Melani. Pamela tak gentar. Entah setan apa yang menguasai dirinya sampai berani melawan mamanya. "Aku begini karena mama juga!""Apa maksudmu, hah?!" tanya Melani geram."Bahkan, mama tidak mengenal aku sama sekali!" teriak Pamela kencang sampai otot lehernya timbul. "Irene tercengang melihat adiknya yang sangat emosi."Mama sibuk dengan dunia mama sendiri," sambung Pamela, matanya mulai berkaca-kaca. "Mama tidak peduli denganku! Dari kecil, aku tidak pernah diperhatikan. Saat aku sakit dan dirawat, di mana mama saat itu?!" tanya Pamela kecut. Kejadian dua tahun lalu saat Pamela terkena demam berdarah kembali diungkit. Disaat putri kecilnya butuh dukungan, saat itu Melani sibuk dengan dunia sosialitanya. "Jadi, sekarang kamu mulai menyalahkan mama?!""Apa itu ada gunanya?!" ledek Pamela. Bulir air mata mulai jatuh dari kelopak matanya. "Sejak papa meninggal, mama seakan hidup hanya untuk diri sendiri. Aku ,,," Pamela menunjuk dadanya sendiri. "Aku
last updateLast Updated : 2024-10-17
Read more

12. Damai Itu Indah

Puas melumat bibir dan berhasil membuat Irene terdiam. Kevin dalam hati bersorak girang usahanya tidak sia-sia."Kamu tidak marah lagi?!" bisik Kevin setelah melepaskan ciumannya.Irene menunduk, menghapus sisa-sisa saliva yang menempel di bibir. Wajahnya merona merah. Kevin memang paling pandai kalau sudah urusan membujuk. Segala macam cara selalu dilakukan dan ujungnya Irene akan luluh. "Melihatmu diam, artinya kamu telah memaafkan aku. Iya, kan?!" "Tidak ada kesempatan lagi, jika kamu mengulang kesalahan yang sama," ucap Irene ketus. "Kamu harus tahu, aku benci dengan orang yang selingkuh.""He-he-he," Kevin terkekeh senang. Ditariknya tubuh Irene, dipeluk erat. "I love you," bisiknya lembut depan telinga.Wajah yang telah merah, bertambah merah. Irene membalas pelukan Kevin. Hatinya terasa tenang. "Aku juga mencintai mu."Pagutan bibir kembali terjadi, tapi kali ini tak ada paksaan. Kevin dan Irene sama-sama mau, saling melumat dan saling berbalas penuh cinta.Puas berbagi kasih
last updateLast Updated : 2024-10-22
Read more

13. Setega Itukah, Melani Pada Putri Bungsunya?

Kediaman Wijaya. Praaaang!Suara nyaring piring jatuh memecah kesunyian rumah. Sontak membuat semua orang yang berada dalam kamar masing-masing keluar, ingin mengetahui apa yang terjadi. "Suara apa itu?!" tanya Melani begitu keluar dari kamar pribadinya. Tak ada jawaban."Bibi!" panggilan nyaring Melani memecah kesunyian rumah.Di dapur. Bibi sedang ketakutan dan kebingungan melihat pecahan piring yang berserakan di lantai. "Bibiii!" panggilan menggema kembali terdengar dari Melani.Deg!Jantung bibi berdetak lebih cepat. Wajahnya pucat melihat ke arah pintu. Tak ,,, tuk ,,, tak ,,, tuk ,,,Langkah suara semakin datang mendekat."Bibiiii!" teriak Melani dengan kedua mata melotot, nyaris keluar, begitu melihat apa yang terjadi di dapur. Pecahan dari piring kesayangannya berserakan di lantai.Kedua kaki bibi gemetar, berdiri di samping wastafel."Kurang ajar kau!" bentak Melani tanpa bertanya dan kenapa piring itu bisa pecah. "Kau bosan hidup, hah?!""Nyo,, nyonya, itu ,, itu," b
last updateLast Updated : 2024-10-23
Read more

14. Adeline Menjadi Bahan Gosip Di Tempat Barunya

"Tadi saya lihat, mama berdiri depan pintu kamar Pamela. Apa piring ini pecah karena ulah bocah itu?!" tebak Irene. Bibi diam, melihat suaminya minta bantu jawab. "Hanya kesalahpahaman saja, non. Tidak ada apa-apa," jelas Mang Ujang. "Eh, ngomong-ngomong apa non perlu sesuatu?!" "Saya mau juice jeruk.""Iya non, nanti bibi bawakan ke kamar," sahut bibi. Irene pergi, "jangan pake lama!"***Adeline tak bisa tidur. Bayang-bayang suaminya bersama Bianca menari-nari dalam pikirannya. "Kenapa mereka bisa bersama-sama? Apa mungkin, dibelakangku, Ronald sering bertemu dengan Bianca?" Berbagai macam pertanyaan dan prasangka, akhirnya bergelayut dalam benak Adeline. Menghela napas sejenak, Adeline kemudian bangun untuk mencari udara segar di luar. Adeline menutup pintu rumah. Berdiri sejenak diteras, melihat keadaan sekelilingnya yang nampak sepi. Tak berapa lama kemudian, lewat dua orang ibu-ibu menyapa Adeline. "Permisi bu.""Iya bu, silahkan," jawab Adeline ramah."Penghuni baru ya
last updateLast Updated : 2024-10-24
Read more

15. Siapa Wanita Itu?

Pelayan toko menyambut kedatangan Nyonya Melani ramah. Tak ada senyum, wajah Melani begitu dingin langsung melangkah menuju ke etalase yang memajang roti-roti terbaik toko. Nyonya Adras melihat sekilas ke arah Nyonya Melanie yang ada disampingnya."Apa roti ini semuanya masih fresh?" tanya Melanie."Tentu saja nyonya," jawab pelayan. "Setiap hari, toko kami menjual roti-roti baru.""Saya pesan roti best seller toko ini! Jangan lupa, roti yang masih baru!""Baik, nyonya," pelayan tersebut langsung pergi.Melani melihat Nyonya Adras yang ada di sampingnya, nampak sibuk dengan ponselnya. Merasa sedang diperhatikan, Nyonya Adras melihat Melani. "Sedang menunggu pesanan juga nyonya?" sapa Melanie ramah basa basi Nyonya Adras tersenyum. "Iya, nyonya.""Saya juga sedang menunggu pesanan," ujar Melanie.Nyonya Adras hanya menjawab dengan tersenyum."Saya sudah cukup lama berlangganan di toko roti ini," Melani membuka pembicaraan lagi. "Anak-anak sangat menyukai roti dari toko ini, kala
last updateLast Updated : 2024-10-26
Read more

16. Perasaan Zahra Yang Terpendam

"Ada apa?" Zahra heran melihat perubahan di wajah Kevin."Irene," jawab Kevin tegang."Irene?" Zahra mengikuti kemana Kevin melihat.Deg!Irene sedang menatapnya tajam."Aku tidak tahu ada Irene di sana," Kevin berdiri."Kamu mau ke mana?" tanya Zahra."Aku tidak mau, Irene salah paham padaku!" sergah Kevin. "Sebaiknya aku ke sana.""Saranku, sebaiknya jangan!" Kening Kevin mengernyit, melihat Zahra tidak mengerti. "Kelihatannya, Irene marah. Kalau kamu menghampirinya, kalian berdua pasti akan ribut. Kamu mau menjadi tontonan orang-orang?!""Apa maksudmu?! Justru, kalau aku tidak menghampirinya, dia akan semakin marah dan salah paham. Aku sangat mengenal Irene dengan baik. Aneh, kau ini!"Kevin segera pergi meninggalkan Zahra.Irene bersama dua temannya. Wajahnya kecut melihat Kevin."Hai," sapa Kevin basa basi, berusaha ramah menyapa kekasihnya dan kedua temannya."Hai Kevin! Loe ada di sini?" tanya Silvi."Gue kebetulan di sini bersama temanku," jawab Kevin menarik kursi disebel
last updateLast Updated : 2024-10-30
Read more

17. Sakit Tak Berdarah

"Ka,,kamu jangan berburuk sangka padaku," Zahra gugup.Kevin melengos. "Tidak seperti itu," elak Zahra. "Kalau tidak, ya syukurlah," sergah Kevin. Zahra menelan saliva. Kecanggungan menguasai dirinya, akhirnya memutuskan turun saja. "Aku turun di sini saja.""Aku tadi menjemputmu dari rumah, jadi aku harus mengantarmu pulang ke rumah dengan selamat," jawab Kevin. "Kenapa? Apa ada masalah?"Zahra menggeleng. "Aku baru ingat. Sore ini ada janji dengan temanku.""Baiklah, kalau itu mau kamu." Mobil berhenti dipinggir jalan.Zahra melepas seatbeltnya. "Terima kasih.""Kamu yakin mau turun di sini?" "Iya, dari sini aku langsung ke rumah temanku."Setelah Zahra keluar. Kevin melajukan mobilnya, membaur kembali bersama kendaraan lain. Di dalam taksi. Zahra berubah murung. Wajah cerianya seketika hilang. "Neng," panggil sopir taksi. "Iya, pak?" tanya Zahra."Neng sakit ?""Tidak. Kenapa pak?!" tanya Zahra heran. "Tidak ada apa-apa, non," jawab sopir mengurungkan niatnya ingin bertany
last updateLast Updated : 2024-11-01
Read more

18. Liontin Bermata Ruby

Pamela baru saja masuk, melihat Irene galak. "Awas saja kau, kalau sampai rotinya dihabiskan semua, aku akan ,,,"Irene dengan cepat memotong kalimat Pamela. "Akan apa, hah?!" tantangnya.Pamela diam, tapi tatapannya marah pada Irene. Tak ada garis ketakutan di wajah Irene. Kakinya melangkah, mendekati adiknya dengan tangan bertolak pinggang. "Akan apa, hah?!" tanyanya berulang. Kedua tangan Pamela terkepal di antara sisi tubuhnya. Kemarahan terpendam hari kemarin karena ribut dengan mamanya, sekarang tersulut kembali."Dasar bocah tengik! Pulang sekolah bukannya kasih salam pada kakak dan mama ,,,"Buukh!Tiba-tiba Pamela menendang kaki Irene. "Aaaa!" Jerit Irene. Meringis kesakitan di antara rasa kagetnya. Tak menduga, Pamela akan berbuat hal seperti itu. Tulang kering kaki kirinya langsung berdenyut."Siapa yang bocah tengik, hah?!" bentak Pamela marah. Irene meringis menahan sakit di kaki. Tubuhnya limbung jatuh ke lantai. Melani yang melihat kejadian tersebut, langsung berge
last updateLast Updated : 2024-11-06
Read more

19. Numpang Tinggal

Di kediaman Ronald Wijaya. "Nyonya," bibi datang. "Ada tamu.""Siapa?!" tanya Melani.Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu menggema, mengisi kesunyian rumah. "Tante.""Bianca!" seru Melani. "OMG! Ada angin apa sampai bidadari cantik datang ke rumahku?"Bianca memeluk Melanie. "Apa kabar, tante?""Kabar tante baik, sangat baik. Bagaimana denganmu?" "Aku juga baik, tante," jawab Bianca.Tak lama datang Irene."Hai, Irene," sapa Bianca ramah. "Kak Bianca?" Bianca tersenyum lebar. "Kamu sudah besar dan semakin cantik saja. Bagaimana kabarmu?" "Kabarku baik," jawab Irene melihat Bianca dari atas sampai bawah. "Kak Bianca sangat cantik. Aku hampir tidak mengenali kakak.""Kamu juga cantik!" Bianca balas memuji. "Aku pangling melihatmu."Tak lama, bibi datang dengan membawa satu buah koper berukuran besar."Koper siapa itu?!" tanya Melani. "Koperku," jelas Bianca mengambil koper dari tangan bibi. Melani dan Irene saling berpandangan. Muncul kecurigaan dalam benak keduany
last updateLast Updated : 2024-11-18
Read more

20. Dilema

"Terima kasih kawan atas pujiannya," Ronald menepuk bahu Ivan. "Tapi ngomong-ngomong, apa loe sudah menikah?" "Nasib gue kurang beruntung dalam pernikahan," jawab Ivan."Kenapa?" "Gue tidak beruntung dalam mendapatkan seorang istri," jawab Ivan getir."Maksudnya?" tanya Ronald."Mantan istri gue lebih tertarik dengan uang daripada dengan janji suci pernikahan.""Kalian bercerai?" "Iya. Dia pergi dengan pria itu. Bahkan anaknya sendiripun dilupakan," jelas Ivan tersenyum kecut. "Berapa anak loe?""Baru satu. Laki-laki umur 2 tahun," jawab Ivan. "Ibu gue yang merawatnya.""Sabar ya," Ronald menepuk bahu Ivan sebagai rasa empati. "Semua orang sudah punya takdirnya masing-masing.""Awalnya, gue tidak bisa menerima kenyataan pernikahan gue gagal, tapi lambat laun gue bisa mengikhlaskannya. Mantan istri gue bukan yang terbaik. Ini memang sudah jalan hidup yang harus gue lalui. Pelajaran bagi gue agar nantinya lebih berhati-hati dalam mencari wanita yang benar-benar mencintai gue apa ada
last updateLast Updated : 2024-11-19
Read more
PREV
123
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status