All Chapters of Pelukan Bos Cantik, Membuatku Kembali Menjadi Raja Mafia: Chapter 301 - Chapter 310

320 Chapters

Kamu Menuduhku?

Dario menatap layar ponselnya. Nama Ayah masih terpampang jelas di sana, dengan suara dering yang terus menggema di dalam mobil yang melaju di tengah malam.Tangannya sedikit gemetar. Dia tahu jika dia mengangkat telepon itu, Gigio pasti akan mencoba membujuknya untuk pulang.Tapi dia tidak bisa kembali.Dario menarik napas dalam, lalu mematikan ponselnya. Seketika, mobil terasa lebih sunyi.Ruben, yang sedang fokus menyetir, melirik sekilas ke arah Dario. “Itu dari ayahmu?”“Ya, dari ayahku,” jawab Dario sambil menganggukkan kepalanya pelan.“Ayahmu pasti panik sekali saat ini, Dario,” kata Ruben. “tanganmu belum pulih dan sekarang kamu kabur. Perasaannya pasti kacau. Apakah kamu tidak mau pulang saja?”Dario mendengus, lalu menatap jendela dengan ekspresi keras. “Aku tidak akan pulang, Ruben. Ini bukan sekadar tentang kehilangan tangan. Lucas menghancurkan harga diriku. Aku tidak bisa hidup sebagai orang yang lemah.”Ruben terdiam sebentar, lalu dia mengangguk pelan sambil berkata,
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

Ingin Cucu

Lucas menatap Gigio dengan ekspresi santai, tetapi matanya menyiratkan sesuatu yang tajam dan dingin.Gigio menelan ludah. Dia sadar, pertanyaannya tadi bisa dianggap sebagai tuduhan. Jika ada satu hal yang dia pelajari dari Lucas, itu adalah bahwa pria ini tidak suka dicurigai tanpa alasan yang jelas.Gigio buru-buru melambaikan tangannya. “Bukan begitu, Lucas. Aku hanya khawatir. Dario baru saja kehilangan tangannya, dan sekarang dia menghilang dari rumah sakit tanpa jejak. Aku hanya ingin memastikan…”Lucas menyilangkan tangannya di dada. “Gigio, kalau aku ingin Dario mati, aku sudah membunuhnya saat di rumah Marco. Tidak ada gunanya bagiku menculiknya sekarang.”Gigio terdiam. Kata-kata Lucas memang masuk akal.Lucas mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Gigio dengan lebih tajam. “Aku menyuruh Gigio bersujud dan memotong tangan anaknya di depanku. Bukankah itu sudah cukup sebagai hukuman?”Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Gigio. Dia tahu Lucas tidak asal bicara
last updateLast Updated : 2025-02-19
Read more

Diterima Xena

Dario berdiri diam di depan gerbang besi yang tinggi, napasnya terasa berat. Udara malam yang dingin menyelimuti mereka, tetapi bukan itu yang membuat Dario tegang.Gerbang yang menjulang tinggi di hadapannya seperti monumen yang menandai awal perjalanan baru atau akhir dari semuanya.Di sebelahnya, Ruben tampak lebih santai. Dia menyelipkan tangannya ke dalam saku jaket, menatap gerbang dengan ekspresi bosan.“Kenapa kamu tegang begitu?” Ruben melirik ke arah Dario. “bukannya ini yang kamu inginkan?”Dario menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Bukan itu masalahnya. Hanya saja ... tempat ini terasa berbeda.”Mata Dario menyapu bangunan di balik gerbang, rumah batu besar dengan desain klasik, pilar-pilar tinggi, dan jendela-jendela gelap yang seolah mengawasi mereka. Rumah ini tidak seperti rumah pelatih bela diri pada umumnya.Ruben tertawa kecil. Lalu dia berkata, “Ya, tempat ini memang misterius. Tapi tenang saja. Dua tahun lalu, aku pernah ke sini saat mengantar Marco.”D
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Sudah Masuk Tidak Bisa Sembarang Keluar

Ruangan menjadi sunyi.Api di perapian berderak, memberikan cahaya temaram di wajah Xena yang kini berubah semakin menyeramkan.Xena menutup matanya sejenak, menarik napas panjang.Tidak lama kemudian, dia pun berdiri.Dengan gerakan pelan tetapi pasti, dia melangkah mendekati Dario.Saat dia berbicara, suaranya terdengar seperti petir di malam yang gelap.“Kalau begitu, kita punya tujuan yang sama,” ucap Xena.Dario menoleh ke arah Ruben, matanya penuh semangat."Apakah itu berarti aku diterima menjadi muridmu?" tanya Dario dengan nada penuh harapan.Xena tersenyum tipis, tetapi tatapannya tetap tajam."Belum tentu," jawab Xena. "aku akan melihat potensimu setelah dua kali latihan. Jika kamu tidak cukup baik, kamu akan pergi dari sini."Dario mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan mengecewakanmu."Xena tidak menanggapi, tetapi bibirnya melengkung dalam senyum samar. Seolah dia tahu bahwa semangat Dario bukanlah segalanya.Xena bertepuk tangan pelan. Seorang pria bertubuh besar dengan
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Audit Dimulai

Sabrina menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum yang nyaris tidak bisa dia sembunyikan. Di hadapannya, tim audit masih berkutat dengan dokumen-dokumen laporan keuangan yang menumpuk di meja. Tangan mereka sibuk mengetik, mencatat, dan sesekali berbisik satu sama lain, mendiskusikan sesuatu yang tampak serius."Kalian harus teliti, jangan sampai ada dokumen yang terlewat." Sabrina memberi perintah."Baik, Bu Presdir!" jawab salah satu dari tim audit. "Aku mau hari ini selesai semua." Sabrina melipat tangan di depan dada. Ruangan rapat dipenuhi suasana tegang. Beberapa eksekutif perusahaan yang hadir duduk dengan ekspresi penuh waspada, menunggu hasil audit yang bisa saja mengguncang perusahaan.Matias dan Randy, dua orang yang dicurigai Sabrina tidak terlihat sepanjang hari. Tentu saja, itu semakin memperkuat keyakinan Sabrina bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Pasti ada hal yang mereka lakukan, yang tidak orang lain tahu. "Ini akan menjadi hari yang panjang," gumam
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Hasil Dari Audit

Ruangan itu mendadak sunyi. Semua orang menahan napas, menunggu kata-kata selanjutnya dari ketua tim audit.Sabrina menatap Randy dan Matias dengan penuh kemenangan. Dia yakin sesuatu akan terungkap.Randy mengetukkan jarinya di meja, Matias menyilangkan tangan di dada. Mereka berdua memang tampak tegang, tetapi ada sesuatu dalam ekspresi mereka yang tidak sepenuhnya takut.“Setelah pemeriksaan menyeluruh,” kata ketua tim audit akhirnya, suaranya tegas dan penuh otoritas. “kami tidak menemukan adanya indikasi korupsi atau mark up yang signifikan.”Keheningan menggantung di udara.Sabrina mengerutkan kening. "Apa?"Angeline menatap ketua tim audit dengan tajam. “Itu tidak mungkin.”Ketua tim audit mengangguk. “Ada beberapa permasalahan dalam pencatatan dan kesalahan kecil dalam pengelolaan anggaran, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan kecurangan skala besar.”Sabrina mendesis pelan. Tangannya mengepal di atas meja. “Tidak mungkin. Pasti ada yang kalian lewatkan.”Randy dan Matias s
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Tiba-tiba Saja Merasa Khawatir

Ruangan di markas Veleno berbau tembakau dan alkohol, bercampur dengan udara yang dipenuhi aroma kayu tua. Cahaya remang-remang dari lampu gantung kuno menciptakan bayangan yang menari di dinding batu.Lucas duduk di sofa utama dengan kaki disilangkan, matanya tajam menatap pria di depannya.Pria itu tidak lebih tua darinya, mungkin hanya terpaut beberapa tahun. Rambut hitamnya tertata rapi, tetapi tatapan matanya menunjukkan kecerdasan yang tajam dan naluri yang berbahaya. Dia bernama Nero. Salah satu anggota Veleno yang dikenal tidak hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena otaknya yang brilian.Lucas menatap Nero dengan tajam, lalu berkata dengan suara rendah namun penuh otoritas, "Aku ingin kamu bergabung di BQuality."Nero menautkan kedua alisnya, tidak percaya."BQuality, The Obsidian Blade?" ulangnya, seolah memastikan bahwa dia tidak salah dengar.Lucas mengangguk. Lalu dia berkata, “Aku butuh seseorang di dalam perusahaan itu. Seseorang yang bisa mengawasi segala perger
last updateLast Updated : 2025-02-21
Read more

Informasi Tentang Hector Valerio

Julian terdiam, namun dia menjadi cemas. Dia tahu Lucas jarang mengkhawatirkan seseorang. Jika Lucas mengatakan dia memiliki firasat buruk, maka itu berarti ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.Julian akhirnya berkata, "Kalau begitu, aku akan menyelidiki Dario. Dan aku juga akan mencari tahu tentang Matteo."Lucas mengangguk ringan. "Lakukan apa yang menurutmu perlu, Julian."Mereka kembali terdiam. Julian tahu, pertempuran ini belum berakhir. Satu masalah mungkin sudah diselesaikan, tetapi selalu ada musuh lain yang siap muncul dari bayangan.Dan dia tahu, Lucas selalu siap menghadapi mereka.“Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu,” ucap Julian.Kemudian pria itu berdiri dan membungkukkan badannya kepada Lucas. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan.Lucas tetap duduk di tempatnya, menatap kosong ke arah cahaya temaram lampu yang berpendar di dalam markas Veleno.Dia tahu badai sedang mendekat. Dan dia perlu siap untuk menghadapinya.Malam semakin larut saat Lucas meninggalkan S
last updateLast Updated : 2025-02-21
Read more

Sepakat

Lucas memperhatikan Stella dengan saksama. Tawaran informasi tentang Hector dan Dominus Noctis jelas sangat menggiurkan, tetapi dia tidak terburu-buru mengambil keputusan."Kenapa kamu menawarkan ini padaku?" tanyanya, matanya tajam menusuk Stella.Stella tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan anggun. "Aku sudah bilang, aku ingin bebas. Dan aku tahu, kalau ada seseorang yang bisa membuat itu terjadi, orang itu adalah kamu."Lucas tetap diam. Dia tahu wanita seperti Stella tidak akan pernah memberikan sesuatu tanpa alasan tersembunyi.Melihat Lucas yang masih ragu, Stella mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya menjadi lebih lembut. "Aku bisa memberimu lebih dari sekadar informasi, Lucas."Lucas menyipitkan mata. "Maksudmu?"Stella memainkan ujung rambutnya, bibir merahnya melengkung ke atas. "Aku bisa menemanimu. Membuatmu senang. Memenuhi kebutuhanmu."Lucas tertawa kecil, tetapi tidak ada humor dalam tawanya. Dia sangat paham maksud dari kata-kata Stella."Kebutuhan
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Tanggung Jawab Dan Ketegasan Lucas

Lisa menatap Lucas dengan mata menyala. Dia benar-benar tersinggung oleh Lucas.“Apa? Kamu mengusirku?” suaranya naik satu oktaf, penuh kemarahan yang ditahan.Lucas tetap berdiri dengan tenang, tidak sedikit pun terguncang oleh reaksi wanita tua itu.“Aku hanya memintamu pulang. Ini sudah larut malam, dan tidak ada gunanya membuat keributan di sini,” kata Lucas.Lisa mendengus, lalu menyilangkan tangannya di dada. “Kamu lupa, Lucas? Rumah ini dibeli dengan uang keluarga Jordan. Jadi aku berhak berada di sini. Jika ada yang harus pergi, itu kamu! Bahkan kamu pun tidak berhak untuk bicara!”Lucas terkekeh kecil, tetapi tatapannya tetap dingin. Lalu dia berkata, “Ini rumah Angeline. Dia membelinya dengan uang hasil kerjanya. Dan yang terakhir aku tahu, Angeline bukan lagi bagian dari perusahaan keluargamu.”Lisa semakin tersulut. Dengan suara yang bergetar karena telah diselimuti emosi tinggi, dia berkata, “Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya! Angeline tetap memiliki tanggung jawab
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more
PREV
1
...
272829303132
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status