Home / Romansa / Cinta Satu Malam Tanpa Komitmen / Chapter 81 - Chapter 90

All Chapters of Cinta Satu Malam Tanpa Komitmen: Chapter 81 - Chapter 90

115 Chapters

Bab 81 Persiapan Masing-masing

“Anita, ke ruangan saya,” ucap Faris singkat. Tanpa banyak bertanya, Anita masuk ke ruangan Faris.“Ada apa pak?” tanya Anita.“Duduk Ta,” ujar Faris. Anita duduk di kursi yang ada di hadapan Faris. “Anita, kamu weekend ini kosong?” tanya Faris.“Maksudnya?” “Kamu weekend ini apa ada kesibukan atau kosong? Saya mau ajak kamu ke suatu tempat,” ujar Faris.“Oh, kosong kok pak,” jawab Anita.“Kamu mau saya ajak ke Villa saya? Nanti ada 6 orang yang akan pergi. Saya, kamu, Valerie, kamu kenal kan? Dia sama pacarnya dan ada lagi Namanya Adrian sama Rania.”Anita bingung, ia tidak tahu bagaimana harus merespon. Ia senang, tentu saja. Tapi ia bingung, ini terlalu mendadak, dan pergi ber6? Anita bukan tipe orang yang bisa dengan mudah beradaptasi dengan orang baru, ia khawatir kalau ia tidak bisa berbaur dengan teman-teman dari Faris.
last updateLast Updated : 2024-09-16
Read more

Bab 82 Awal Nostalgia

Sampai di depan ruangan Faris, terlihat ada seorang wanita muda, jika dilihat dari penampilan dan mukanya, dapat dikira-kira berumur 25 tahun. Ia adalah Anita, yang sedang duduk dan masih focus dengan laptopnya.“Anita?” panggil Valerie.“Eh Bu Valerie,”ujar Anita. Ia melihat ke sekeliling Valerie, ada 3 orang bersamanya. “Kamu ikut kan Anita?” tanya Valerie.“Iya Bu, ikut,”  ujar Anita.“Udah enggak usah panggil bu lah, kita mau liburan bukan mau meeting. Panggil Valerie aja,” ujarnya.“Haha iya Valerie.”“Oh iya kenalin ini Rania, sahabat aku. Ini Adrian pacarnya Rania, dan ini Risko pacarku,” ujar Valerie.Risko yang diperkenalkan sebagai ‘pacar’ dari Valerie serasa ingin terbang. Ia begitu senang, ini adalah pertama kalinya Valerie menyebutnya pacar.Anita kenal dengan Rania, waktu pernikahan Faris, Anita menjadi orang yang sibuk
last updateLast Updated : 2024-09-17
Read more

Bab 83 Perjalanan Dimulai

Setelah setengah jam, akhirnya Faris dan yang lainnya memutuskan untuk berangkat. “Yuk, udah siap semua? Sekarang jam 8 ya. Mungkin sampe sana jam 2 atau jam 3. Kalo yang belom kebagian nyetir bisa tidur dulu, nanti kalo gue rasa gue ngantuk gue minta gentian,” ujar Faris.“Siap.” Jawab yang lain.Faris kebagian membawa mobil pertama, di sampingnya sudah duduk dengan manis Anita. Di belakang Faris, ada Risko dan disampingnya Valerie. Sedangkan Adrian dan Rania duduk di paling belakang. Semua barang bawaan seperti baju ada di bagasi, kecuali bekal yang dibawa Valerie.Mereka semua berangkat diawali dengan berdoa agar bisa selamat sampai tujuan.“Anita, nyalain lagu dooong,” teriak Adiran dari kursi paling belakang. Anita menatap Faris sebagai tanda meminta persetujuan. Faris mengangguk, membiarkan Anita yang memilih lagu apa yang akan diputar. All I want dari kodaline menjadi pilihan pertama Anita.All
last updateLast Updated : 2024-09-18
Read more

Bab 84 Sampai di Villa

Perjalanan sudah berjalan setengahnya, kini mereka sudah keluar dari jalan tol. Jalan yang dilalui kali ini lebih didominasi oleh pohon-pohon. Hari juga sudah semakin malam, Valerie dan Faris, satu-satunya yang masih terjaga semakin merapatkan jaketnya masing-masing.“Ris, ngantuk enggak? Kalo ngantuk gue bangunin Risko nih suruh gantian, atau gue sini gantian, gue masih hafal kok jalan kesana,” ujar Valerie.“Enggak usah, gue masih kuat. Biasa juga gue yang bawa dari rumah ke Villa kan,” ujar Faris.Sejak dulu ketika mereka masih sering kesana, memang Faris selalu kuat membawa mobilnya tanpa gantian. Dengan kondisi sepanjang jalan mengobrol dengan Valerie. Valerie yang duduk di kursi samping pengemudi akan bicara tentang apa saja yang seru agar Faris tidak mengantuk. Kadang jika obrolan mereka sudah habis, Valerie menyalahkan lagu untuk mereka bernyanyi bersama.“Ris, how’s your life?” tanya Valerie. “So
last updateLast Updated : 2024-09-19
Read more

Bab 85 Perbincangan Malam

“Anita, saya mau tidur ya,” ujar Faris.“Iya, aku masih nanti ya. Belum ngantuk sama sekali.”Faris mengangguk. Ia masuk ke kamar meninggalkan Risko dan Anita yang belum mengantuk. Seketika, Faris langsung terlelap. Ia begitu lelah dan membutuhkan istirahat.“Makannya enak ya,” ujar Risko. Ia makan dengan sangat lahap. “Iya, yang masak jago banget,” ujar Anita. “Ah kenyang,” ujar Risko sambil mengelus perutnya. Anita tertawa melihatnya. Awal bertemu, ia kira Risko sama seperti Faris, dingin, cuek, tapi setelah ngobrol beberapa saat, ia tahu Risko pastilah seorang penyayang.“Kamu belom mau tidur?” tanya Risko.“Belum ngantuk sama sekali. Kamu?” tanya Anita balik.“Sama. Ngobrol di depan yuk,” ajak Risko. Anita mengikuti. Risko dan Anita keluar dari ruang makan, duduk di kursi yang ada di teras.“Valerie kenapa suka banget sama
last updateLast Updated : 2024-09-20
Read more

Bab 86 Suasana Pagi di Villa

Valerie, Anita dan Risko menelusuri jalanan sekitar Villa. Suasana perkampungan yang asri benar-bener memanjakan mata mereka bertiga. Di kanan kiri jalan, mereka masih banyak melihat sawah, atau kebun. Di pinggir jalan, banyak yang menjual aneka macam makanan. Mulai dari pecel sayur, ada lontong sayur, nasi uduk, nasi kuning, ada cemilan juga seperti donat, ada kue, dan masih banyak lagi.Anita dan Valerie jalan beriringan sedangkan Risko mengikuti mereka dari belakang. Ia takjub dengan pemandangan seperti ini. Bisa dibilang, lokasi Villa Faris tidak berada di tempat yang sering dikunjungi turis atau orang dari kota. Benar-benar sebuah surga yang tersembunyi. Valerie, Risko dan Anita menyusuri jalanan dari ujung hingga ujung untuk melihat-lihat apa saja yang ada di sana. Setelah sudah merasa cukup jauh, dan sudah merasa melihat semuanya, baru mereka menentukan ingin makan apa. “Kamu mau apa?” tanya Valerie pada Anita.
last updateLast Updated : 2024-09-20
Read more

Bab 87 Menghabiskan Waktu di Curug

Mobil Faris parkir di tempat yang telah disediakan. Faris, Valerie, Anita, Risko, Adrian dan Rania semua turun dari mobil. Risko dan Valerie membawa barang bawaan mereka keluar. Sedangkan Adrian mengeluarkan perlengkapan melukisnya, dan Rania membawa laptopnya.“Dari sini kita masih harus jalan sekitar 5 menit buat sampe ke curugnya,” jelas Faris. Mereka ber6 berjalan beriringan 2-2. Paling depan ada Faris dan Anita, dibelakangnya ada Valerie dan Risko dan yang terakhir ada Adrian dan Rania.“Kamu suka?” tanya Faris pada Anita. Tatapan Faris begitu lembut. Seakan ingin memastikan bahwa Anita senang kali ini.“Suka Pak,” ujar Anita malu-malu.“Damn. Stop call me Pak. Saya jadi kayak bawa anak kalo kayak gitu,” gumam Faris.“Hehe maaf ya Faris,” ujar Anita.Tiba-tiba Faris merangkul bahu Anita. Valerie dan Risko yang ada dibelakang mereka saling pandang. Mereka tahu itu adalah reaksi a
last updateLast Updated : 2024-09-21
Read more

Bab 88 Apa Yang Terjadi dengan Faris dan Valerie

Sampai di Villa, semua satu per satu mandi bergantian, termasuk Adrian dan Rania. Walaupun mereka tidak ikut berenang, namun tetap harus mandi karena tubuh terasa kotor. Selesai mandi, mereka kembali berkumpul di ruang makan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Mang Een. Hari ini menunya adalah ayam bakar, lengkap dengan lalapan, oseng cumi cabe hijau, dengan pete, dan berbagai jus untuk minumannya. “Makan kayak gini emang enak banget ya,” ujar Risko sambil menjilati tangannya yang masih bersisa bumbu cumi asin.“Iyalah, sebenernya makanan kayak gini banyak di kota juga, Cuma yang bikin beda dan bikin rasa makin enak ya karena suasanya, karena udaranya, karena kebersamaannya juga,” ujar Rania.“Iya iya bener,” ujar Risko menyutuji.Selesai makan, mereka berenak duduk-duduk santai di ruang tamu di depan televisi. Tidak ada yang menyalahan televisi, mereka hanya sedang mengobrol untuk lebih mengakr
last updateLast Updated : 2024-09-22
Read more

Bab 89 Faris Mengamuk

“Val..” panggil Faris.Valerie membuka matanya dan melihat wajah Faris yang termat dekat dengan wajahnya. Valerie tersadar dan buru-buru memalingkan wajahnya. Fak, pikirnya.Jika saja Faris tidak memanggilnya untuk menyadarkannya, Valerie pasti sudah melumat bibir Faris dengan ganasnya tadi. Valerie benci dengan dirinya sendiri yang masih saja tidak bisa menahan godaan Faris jika ada di dekatnya.Faris juga merasakan hal yang sama, jika kesadarannya tidak cepat-cepat menemui dirinya, mungkin Valerie sudah dilumatnya tadi.“Yuk masuk aja,” ujar Valerie canggung. Barusan ia memuja-muja Risko, namun kini ia mengagumi Faris. Apa sebenarnya yang ia mau?  Valerie buru-buru masuk ke dalam rumah, tanpa basa-basi lagi, ia masuk ke dalam kamar, Risko masih lelap tertidur di tempat tidurnya. Valerie memilih untuk tidur di bawah, tidak ingin mengganggu Risko.Lain halnya dengan Faris, ia tidak masuk ke dalam kamar. Ia tidak tahu a
last updateLast Updated : 2024-09-23
Read more

Bab 90 Bagaimana Seharusnya

Setelah merasa yakin Faris sudah terlelap, Valerie keluar dari kamar Faris. Ia benar-bener merasa takut, terutama takut melihat Risko.Benar saja, ketika ia melawati ruang tamu, keempat temannya sudah duduk menunggu. Valerie ikut duduk di ruang tamu. Suasana terasa canggung, terutama antara Valerie dengan Risko.“Kamu mau ngejelasin sesuatu?” tanya Risko, to the point. “Hem oke. Gini Risko, guys. Pertama gue minta maaf dulu, terutama sama kamu Risko. Aku minta maaf kalo apa yang aku lakuin tadi pasti nyakitin hati kamu.”Valerie menundukkan kepalanya, ia berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanian dan kata-kata untuk menggambarkan keadaan Faris yang sebenarnya.“Jujur aja Val, biar enak,” ucap Risko. Kali ini suaranya terdengar lebih kea rah putus asa daripada marah.“Gue ngelakuin itu biar Mang Een enggak kenapa-kenapa. Faris itu kalo marah banget, suka enggak sadar. Dia akan main kasar, main fisik sam
last updateLast Updated : 2024-09-24
Read more
PREV
1
...
789101112
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status