Home / Romansa / Dosen Kampret itu, Suamiku!! / Chapter 81 - Chapter 90

All Chapters of Dosen Kampret itu, Suamiku!!: Chapter 81 - Chapter 90

328 Chapters

[81] Perasaan Alexiz, Mendadak Tak Enak

“Bapak Kamarudin. Saya merasa tidak punya harga diri loh ini. Masa habis diusir, diundang lagi sih. Mana saya-nya juga mau-mau saja!” Sarkas Alexiz berbicara formal.Alexiz kembali terlihat bersama Surti yang ditugaskan untuk menjemput pria itu.“Thanks buat bini lo,” ucap Alexiz sembari melemparkan kasar tubuhnya ke atas sofa.Sepuluh menit saja dirinya masih berada di rumah orang tua sahabatnya, gendang telinganya mungkin membutuhkan penanganan para ahli.“Ibu marah-marah?”“Better kalau ngamuk. Dia nanyain gue kapan kawin, terus bla-bla-bla-bla!”Kamarudin menyimak curahan hati sahabatnya. Ibunya memang suka bertindak berlebihan, terlebih kepada orang-orang yang dianggapnya seperti keluarga sendiri.Tidak hanya kepada anak-anaknya, perempuan itu juga suka merecoki kehidupan pribadi Alexiz. Alasannya tentu karena kedua orang tua mereka bersahabat baik. Alexiz tak ubahnya dirinya dan sang kakak dimata nyonya Miranti Hasan.“Come on, Mas Lingga yang lebih tua juga belom kawin-kawin tu
last updateLast Updated : 2023-08-28
Read more

[82] Pusing Pala Barbie

“What the hell, Kam! Serepot ini mau balik ke rumah aja?”Kamarudin mengangguk, “heum,” balasnya singkat sembari mengulurkan botol air mineral.“Bentar,” ucap Alexiz. “Kapan dia nyiapin beginian?” Alexiz membuang asal sikat dan pasta gigi yang baru saja dirinya gunakan.“Sumpah! Kelakuan bini lo bener-bener diluar nalar,” cerocos Alexiz lalu meraih apa yang Kamarudin ulurkan ke arahnya.“Fungsinya sikat gigi sebelum balik tuh apaan, Kam? Gue juga nggak akan langsung ketemu anak-anak lo!”Kamarudin mengedikkan bahunya. Ia hanya menjalankan perintah, yang nantinya akan mempermudah pekerjaannya.“Jangan bilang abis ini lo nyuruh gue ganti baju.”“Sst! Berisik! Cepet minum! Gue tau tenggorokan lo kering.” Hardik Kamarudin.“Emang sohib gue. Tau aja lo kalau gue pengen minum. Gara-gara kelakuan bini lo nih, gue jadi misuh-misuh nggak jelas.”Kamarudin memejamkan mata saat Alexiz mulai menandaskan isi cairan di dalam botol. Ia berharap banyak, termasuk pada larutan perangsang yang telah dir
last updateLast Updated : 2023-08-28
Read more

[83] Tidak Sesuai Skenario

“Udin, My Honey Bunny Sweety.. Wake up! Udah waktunya kita beraksi.” Anya menepuk-nepuk pelan kedua pipi Kamarudin. Sesekali mulutnya menguap lebar. Anya menelungkupkan dirinya di atas tubuh Kamarudin. Ia mengantuk. Semalaman dirinya terjaga karena tak dapat menyusul Kamarudin ke alam mimpi. “Bangun! Ayo jemput ibu sama yang lain,” ucap Anya sembari menjaga kesadaran dirinya. Efek terlalu excited dengan penggerebekan membuatnya tak bisa tidur. Padahal tubuhnya sangat lelah karena percintaannya dengan Kamarudin. Namun semua itu rupanya tak cukup untuk membuat dirinya terlelap. Kamarudin mengeluh. Perlahan pria itu membuka matanya. “Jam berapa, Babe?” tanya Kamarudin. Lengannya lalu memerangkap tubuh Anya dengan pelukan. Bugh! “Jangan tidur lagi,” amuk Anya usai memukul dada Kamarudin. “Udah setengah 4 nih,” timpalnya menjawab pertanyaan sang suami. “Masih pagi, Babe. Kita tidur lagi aja ya. Grebek merekanya jam 6 aja.” Kamarudin menjerit. Ia mengusap nipple yang baru saja Anya
last updateLast Updated : 2023-08-29
Read more

[84] Kelakuan Diluar Angkasa

“KALINGGA HASAN!!” Kamarudin memijat keningnya. Habis sudah riwayat sang kakak. Hari ini pria itu tidak akan bisa selamat. Ibunya tak mungkin meloloskan kakaknya, sama seperti yang terjadi padanya dulu. “Ngapain kalian keluar dari kamar yang sama, hah?!” “Anu, Tante. Kita cuman tidur aja kok.” Miranti mendelik, “cuman kamu bilang, Flo? Mentang-mentang udah tunangan, bobok bareng itu ‘cuman,’ ya?” cerca Miranti menekankan kata yang disepelekan oleh calon menantu ke-dua-nya. “Buk, bukan begitu maksudnya. Kamu nggak ngap..” “Hasyah!” potong Miranti, mengibaskan telapak tangannya. “Diem kamu! Ngapa-ngapain atau nggak, kamu pikir ibu bakalan percaya?!” “Penampilan acak-acakan. Kancing kemeja nggak bener. Dikira Ibu bisa kamu bohongin?! Ibu udah pro-nya abis kejadian adek-mu!” Kamarudin menghela napas. Sesuai dengan dugaannya, namanya pun pada akhirnya ikut terseret. “Nggak ada nunggu wisuda-wisudaan! Siang ini, nikah kalian! Ibu yang panggil orang tua Flo biar ke rumah!” Flora dan
last updateLast Updated : 2023-08-29
Read more

[85] Anya Berasa Jadi Ibu Tiri

“UDDDDIIIIIINN!!!!” “SAYAAAA!!” Kamarudin terkesiap. Ia terjaga dengan posisi langsung terduduk setelah mendengar teriakan maut milik istrinya. Time flies so fast dan tanpa keduanya sadari, anak-anak mereka telah bertumbuh. Dua malaikat menggemaskan itu kini lebih pantas disebut sebagai bocah kecil kematian— setidaknya begitu Anya menjuluki mereka. “Loh! Si kembar kemana?” gumam Kamarudin, mencari keberadaan anak-anaknya. Terakhir sebelum ia menutup mata, ia ingat jika dirinya sudah menidurkan keduanya. Josephin dan Kamasea terlelap sembari memeluk masing-masing tangannya. Lalu, kemana hilangnya dua setan ciliknya itu?! “MASIH NGGAK NYAMPER KAMU, DIN?!” “UDIIIIN!!” “IYAAA!!!” balas Kamarudin tak kalah kencang. Jika ditelusuri, suara istrinya berasal dari balik pintu kamar mandi. Tak ingin mendapati murka sang istri, Kamarudin pun mencoba peruntungannya. Ia mendorong daun pintu yang tak tertutup sempurna. “Ya Tuhan!” pekiknya terkejut kala menemukan Anya lengkap bersama d
last updateLast Updated : 2023-08-30
Read more

[86] Semua Salah Papa Udin, Titik!

Kamarudin mengatur kedua anaknya untuk berbaris menyamping. Sebelum diungsikan, mereka harus menghadap Anya. Mendengarkan wejangan-wejangan kecil wanita itu. “Jajannya Jo sama Sea ada di Mbak Surti. Susunya juga. Jadi nggak boleh keluar ajakin Nenek buat beli jajan. Ngerti?” “Tiii,” jawab sepasang anak kembar itu kompak. Kemarin saat kedua anak itu diungsikan, mereka membawa pulang berbagai macam makanan ringan. Tak tanggung-tanggung dalam memiskinkan dompet neneknya, tiga ART ibu mertuanya bahkan sampai harus membantu Surti untuk membawakan belanjaan mereka ke rumah. Ibu mertuanya terlalu lemah terhadap cucu-cucunya. Apa yang mereka lirik dan ambil akan dianggap sebagai sesuatu yang wajib untuk dibeli. Saat membongkar tas belanjaan anaknya, Anya tidak hanya menemukan makanan, tapi juga boks celana dalam laki-laki dewasa. Ketika menunjukkannya kepada Kamarudin, bapak dua anak itu terpingkal. “Terus jangan..” “Kakal?” serobot Josephin mendahului Anya, menyebutkan kata nakal sepe
last updateLast Updated : 2023-08-30
Read more

[87] Anya Mana Tahan!

“Ya Allah.” Anya— Ibu dua anak yang statusnya masih tergantung di dunia pendidikan itu menghela napas sembari mengingat Tuhannya.Disaat para juniornya mengerjakan tugas akhir dengan keadaan tenang, dirinya justru selalu berada di dalam momen yang berkebalikan dengan mereka.Ia tak bisa leluasa mengerjakan skripsinya karena mempunyai dua bocil kematian. Anak-anak itu menambah tingginya tingkat stress yang sudah ada sehingga memperlambat kinerja otaknya.“Papaaaa!!!”“On the way, Mah!” teriak Kamarudin Hasan, mantan dosen yang seharusnya bisa membuka jalan tol keberhasilan tak terhambat untuk skripsi Anya.Sayang seribu sayang, sebelum Anya berhasil menambahkan mata kuliah skripsi pada KRS-nya, laki-laki itu sudah undur diri dari dunia pengajaran.Pria itu beralih profesi menjadi seorang pengusaha, menggantikan kursi kebesaran yang dulunya diduduki oleh papa Anya— ayah mertuanya.“Kenap..” Seharusnya kalimat itu berbunyi, ‘Kenapa Mah?!’ Sebuah kalimat tanya untuk memastikan apa gerang
last updateLast Updated : 2023-08-31
Read more

[88] MAMA YA!

“Mama, Jo au is cim!”Josephin langsung meminta, tepat setelah matanya melihat kedai es krim yang mereka lewati.“Mama..” Rengeknya karena tidak mendapatkan respon dari sang mama.“Nanti ya, Jo. Kita beli laptopnya Mama dulu. Kan Jo yang rusakin!”“Dak yeh?” tanya Josephin sembari memasang tampang sedihnya.Anya pun menepuk keningnya. Ia lupa jika yang sedang dirinya hadapi adalah si pentolan setan kecil.Nanti bagi Jo merupakan kata tidak. Entah belajar dari mana sikap tak terpuji itu berasal.“Boleh! After Mama beli laptop!” Ulang Anya, menghapus kata nanti dari statemennya.“Aunya cekayang!”Keras kepala merupakan watak utama Josephin. Anak itu tidak akan pernah berhenti merusuh, sebelum apa yang diinginkan terpenuhi.“Oke! Mama turunin, tapi Jo beli sendiri ya?!” tawar Anya. Mari kita lihat, seberani apa nyali anaknya Papa Udin ini.“Ce! Pi acih wit, ce?”“Babe, jangan!” Protes Kamarudin karena Anya terlihat serius dengan perkataannya. Wanita itu bahkan sudah bersiap untuk menurun
last updateLast Updated : 2023-08-31
Read more

[89] Like a Dream

“Mau kemana kamu? Ke rumah Ibu?”Anya membuang muka. Ia sama sekali tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan suaminya.“Anya..”‘Bodo amat! Dipanggil seribu kali juga gue nggak bakalan mau berhen..’“Mama..”“APA?” sahut Anya galak. Tubuh dan mulutnya resmi berkhianat. Mereka tidak mau mengikuti apa yang otaknya tengah pikirkan.“Kok jadi Mama yang galakan dari Papa?! Mama yang salah loh.”Kamarudin mendekati Anya. Ia menurunkan telapak tangan Anya yang bertengger di atas knop pintu.“Papa tanya baik-baik loh, Mah.” Kamarudin lantas mengulang kembali pertanyaannya. “Mau ngapain ke tempat Ibu, heum?” kali ini dengan intonasi yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.“Ngadu-lah! Apalagi!”Jujur sekali wanita yang satu ini. Dibandingkan mencari-cari alasan, Anya sangat suka berterus terang. Untuk apa juga ditutup-tutupi. Beberapa menit kemudian toh ibu mertuanya akan melabrak suaminya.“Hasil instrospeksi dirinya udah mentok?”“He’em,” anggukkan Anya berikan. Kamarudin tidak salah. B
last updateLast Updated : 2023-09-01
Read more

[90] Hey, Jenglot!

“Masuk!” teriak Kamarudin ketika pintu ruang kerjanya diketuk.Pemandangan layaknya penitipan anak menyambut kedatangan asisten pribadi Kamarudin. Citra ruangan Presiden Direktur yang rapi dan elegan tidak akan bisa ditemukan pada kantor ayah dua anak itu. Laptop, berkas dan mainan anak-anak tersebar di atas lantai yang dilapisi karpet.“Kenapa Man? Belum waktunya rapat kan?” tanya Kamarudin. Tangannya menjauhkan berkas yang hendak Kamasea raih.“Anu, Pak. Ada informasi dari lantai bawah, katanya Ibu sedang menuju ke atas.”“Istri saya?”“Betul, Pak.”“Oke,” ucap Kamarudin dengan santainya. Pria itu belum mengetahui bagaimana kondisi sang istri saat ini.“itu, Pak Kamaru. Ibu keliatan emosi dari wajahnya.” Terang Lukman menyampaikan kabar sesuai dengan apa yang Sinta— sekretaris Kamarudin, dapatkan dari bagian resepsionis di bawah.“yang bener kamu, Man?!” sentak Kamarudin. Papa Josephin dan Kamasea itu kontan langsung berdiri.“Anak-anak ungsiin dulu ke ruangan Opanya, Man!”Gawat!I
last updateLast Updated : 2023-09-02
Read more
PREV
1
...
7891011
...
33
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status