Semua Bab Belenggu Hati Mantan Suami: Bab 81 - Bab 90

93 Bab

BAB 44A

"Qāla rabbi annā yakụnu lī gulāmuw wa kānatimra`atī 'āqiraw wa qad balagtu minal-kibari 'itiyyā.” (QS. Maryam : 8)"Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”"Qāla każālik, qāla rabbuka huwa 'alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka ming qablu wa lam taku syai`ā.” (QS.Maryam : 9)"(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”Kiran menangis kencang saat membaca arti dari surat Maryam ayat ke delapan dan sembilan. Pras menarik napas panjang. Dia menutup Al-Qur’an dan meraih Kiran ke dalam pelukan. Pras membiarkan Kiran menumpahkan tangis sampai puas. Dia mengelus bahu istrinya pelan.“Sudah lega?” Pras melepaskan pelukan dan membingkai wajah Kiran dengan kedua tangan beberapa saat kemudian. Lelaki itu tersenyum lembut melih
Baca selengkapnya

BAB 44B

“Jaga mulutnya ya, Mbak Lira!” Kiran menatap Lira tajam. “Kenapa? Masih jadi barisan sakit hati sama saya kalian, hah?!”“Ya kan saya bilang mungkin, Bu, kalau nggak ya sudah.” Lira terkekeh. “Tapi ya, Pak Pras itu aduuuuh, kalau saya jadi dia, mending cari yang masih gadis.” Lira menggeleng pelan. Dia terlihat sangat puas bisa menyindir Kiran habis-habisan.“Kenapa memang kalau janda?” Risdi menangkap umpan dari Lira. “Janda tuh, aduuuuh. Maksudku ‘kan Pak Pras masih lajang ya, tampan dan mapan pula, mau-maunya sama barang bekasan. Heran.”“Jaga ucapannya, Mbak Lira!” Kiran berkata tegas. Dia akhirnya memutuskan meladeni omongan dua seniornya itu.Kiran paham sekali, beberapa karyawan senior memang kurang menyukai dirinya. Bahkan menurut kabar yang dia dengar, mereka akan melakukan segala cara agar dia merasa tidak kerasan dan akhirnya keluar dengan sendirinya.“Lah? Memang iya ‘kan barang bekas?” Lira mengangkat bahu dan menoleh pada Risdi. “Nih ya, Ran, aku kasih tahu. Pandangan o
Baca selengkapnya

BAB 45A

"Assalamualaikum, Ran?""Apa kabar?""Sehat?""Lama kita tidak saling sapa. Semenjak Mas pindah Bank, rasa-rasanya tidak ada topik pembicaraan yang bisa dijadikan alasan untuk berkirim pesan.""Semoga Kiran tidak marah ya karena Mas mendadak memutus kerjasama waktu itu.""Mas mau berkabar, in syaa Allah minggu depan Mas akan menikah. Datang ya, Ran? Nanti undangan resminya Mas kirim ke kantor.""Salam buat, Pras."Haidar menghembuskan napas pelan setelah mengirim pesan beruntun pada Kiran. Dia tersenyum saat melihat tanda terkirim walau belum dibaca. Haidar tahu, ini jam-jam sibuk bagi Kiran sehingga dia tidak menunggu jawaban. Paling nanti saat akan pulang baru mantan istrinya itu akan mengecek pesan.“Mas? Berangkat sekarang?”“Ah iya, sudah siap semua yang mau dibawa?” Haidar berdiri dan tersenyum lebar pada wanita berhijab hijau botol yang berjalan mendekatinya. Dia segera mengambil keranjang bunga dan kendi yang dibawa wanita itu.“Ah, sebentar, Mila lupa membawa ponsel. Nanti kh
Baca selengkapnya

BAB 45B

“Pulang?” Haidar menatap Kamila yang menunduk. Entah apa yang ada di pikiran calon istrinya itu hingga sejak tadi terus memperhatikan sekitar. Haidar menarik napas lega saat melihat senyum di wajah gadisnya. Setelah membereskan semua, mereka kembali berjalan beriringan menuju tempat parkir.Di sini, terpisah jarak puluhan kilometer dari kuburan Raya, Kiran menyandarkan badan setelah seharian keliling melakukan kunjungan nasabah bersama para AO. Mereka sampai di kantor lagi setengah jam setelah waktu normal jam kantor selesai.Wanita itu mengambil ponsel pribadi dan mulai mengecek satu persatu pesan yang masuk. Dia tersenyum lebar melihat nama Pras ada diurutan paling atas.“Mih ”“Mih? Sibuk ya? Jangan lupakan aku yang disini merindukanmu.” Kiran tergelak membaca pesan dari suaminya. Walau hampir setiap hari Pras seperti ini, tapi Kiran selalu merasa senang setiap kali membaca pesan-pesan itu.“Mih, Mih, Mih, balas, Mih.”“Ya ampun, Ibu Manager sibuk amat dah sampe pesan suaminya d
Baca selengkapnya

BAB 46

Mata Kiran membelalak lebar melihat testpack di tangannya. Garis dua. Seketika sekujur tubuh wanita itu bergetar hebat hingga dia harus berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh.Kiran akhirnya jongkok di toilet kantor. Dia masih menatap tidak percaya pada hasil tes di tangannya. Dia bahkan berkali-kali memastikan bahwa itu adalah alat tes kehamilan, bukan testpack ovulasi untuk mengetahui masa subur."Ran?"Gedoran di pintu terdengar. Sementara Kiran masih tercekat tidak percaya dengan testpack di tangannya. Pagi tadi, Mira mendadak membawakan alat pengecek kehamilan dan memberikannya pada Kiran."Sana cek dulu!" Melihat Mira yang sangat ngotot bahkan sampai meminta OB membelikan alat itu tadi, Kiran akhirnya menerima walau dengan sedikit enggan.Sudah lama sekali dia tidak menggunakan testpack, dia takut kecewa dan sakit hati saat hasilnya tidak garis dua. Bahkan, selama menjalani program kehamilan dengan Pras, Kiran juga tidak menggunakannya. Untuk Kiran yang PCOS, telat dapat s
Baca selengkapnya

BAB 47A

"Berhenti dulu, Pi, beliin rujak buah itu." Kiran mencengkram tangan Pras sambil menunjuk ke pinggir jalan. "Mual, pengen yang asem-asem." Kiran nyengir melihat wajah Pras yang kesal karena dia minta berhenti mendadak."Ini Dedek yang mau, bukan aku.” Kiran mengelus perutnya pelan. Dia menahan tawa saat Pras memperhatikan dia dengan pandangan curiga.Pras menatap istrinya penuh selidik. Setelahnya, Pras tertawa dengan pandangan tidak percaya. “Dedek yang mau?” Pras tersenyum menggoda dengan sebelah alis terangkat. Dia mengelus pelan perut Kiran yang masih rata.“Iya.” Kiran mengangguk dengan raut wajah lucu hingga membuat Pras merasa gemas. Lelaki itu mencubit pipi istrinya sebelum membuka pintu mobil dan menyeberang jalan menuruti keinginan Kiran.Pras menggeleng pelan sambil menyerahkan plastik berisi irisan buah segar pada Kiran. Sejak tadi malam, istrinya itu mulai merasakan “ngidam”. Kiran bahkan menjadi lebih manja padanya. Pras sedikit heran karena sebelum mengetahui sedang ham
Baca selengkapnya

BAB 47B

“Dugaan awal saya, kemungkinan janin tidak berkembang, Pak, Bu.” Dokter menjelaskan dengan hati-hati. Dia tahu sekali bagaimana perasaan dua orang di hadapannya ini. Mereka yang tadi datang dengan wajah cerah dan penuh rona bahagia kini terlihat pucat pasi seolah tak ada aliran darah di wajahnya.“Tidak berkembang bagaimana?” Pras mengepalkan tangan. Suaranya terdengar meninggi karena merasa dokter begitu lambat menjelaskan. Napasnya terengah menahan perasaan yang tidak karuan di dalam sana.“Begini, saya akan resepkan obat.” Dokter berdehem menyadari kondisi Kiran dan Pras yang mulai tidak bisa mengendalikan diri. “Semoga kontrol bulan depan, janinnya sudah bergerak aktif dan terdengar detak jantung. Dalam beberapa kasus, hal seperti ini sering terjadi. Kita usahakan yang terbaik.”Pras menekan matanya dengan jari. Sebisa mungkin dia mengendalikan diri dan menahan tangis. Dalam keadaan seperti ini, Pras menyadari ada Kiran yang pasti sangat terpukul mengetahui hasil pemeriksaan. Kala
Baca selengkapnya

BAB 48A

"Makan yang banyak, biar cepat pulih. Ini Mama bawakan buah-buahan, bolu gulung, dimsum, ayo dimakan." Linda mengeluarkan barang bawaannya di meja. Satu persatu makanan itu diletakkan di hadapan Kiran. "Atau kalau nggak selera, biar Mama pesankan, Nak Kiran mau apa?"Kiran menggeleng pelan sambil tersenyum pada Linda. "Terima kasih, Ma." Tangannya terulur mengambil sumpit, dia mengangguk-angguk saat satu gigitan dimsum masuk ke mulutnya. "Enak, Ma." Kiran mengacungkan jempol."Sama-sama." Linda ikut duduk di meja makan. Wanita itu mengelus bahu Kiran pelan. "Habiskan." Linda tersenyum lembut."Diminum, Bu Linda, Pak Sakti." Rista meletakkan teh hangat. Dia lalu mengambil beberapa buah dan mengupasnya untuk dimakan bersama. Sementara Ahmad dan Sakti mulai asyik dengan topik obrolan mereka berdua."Kata Pras, Nak Kiran susah makan. Masih kepikiran ya?" Linda mengelus bahu Kiran. "Paksakan makan biar cepat pulih. Ajak Pras liburan, mumpung Nak Kiran dapat jatah cuti, toko nanti biar Papa
Baca selengkapnya

BAB 48B

Kesyahduan itu terhenti saat dua kanak-kanak berteriak riang di dekat mereka. Anak lelaki berusia sekitar enam tahun sedang mengejar anak wanita berusia sekitar empat tahun yang tertawa-tawa. “Oh!” Kiran menutup mulut. Matanya membelalak lebar pada Pras. Sedetik kemudian tawa Kiran berderai saat kedua anak itu berlarian di bawah meja mereka. Dia benar-benar senang melihat anak-anak itu bercanda.“Sini!” Teriak si anak laki-laki.“Tangkap ayo tangkap!” Anak wanita itu menjulurkan lidah dari seberang meja.“Nina, Fajar, kemari!” Wanita muda yang seusia dengan Kiran dan Pras berteriak galak pada kedua anaknya. “Maaf ya, Mas, Mbak, anak saya mengganggu makan malamnya.” Wanita itu mengangguk sungkan.“Tidak apa-apa, anaknya lucu.” Kiran menuntun anak itu memutari meja dan menyerahkannya pada ibunya. Kiran masih sempat mencubit gemas pipi gembil itu sebelum mereka berlalu.Pras dan Kiran tersenyum berbarengan saat meja mereka kembali sepi. Mereka mulai menikmati hidangan penutup malam itu.
Baca selengkapnya

BAB 49A

“Wa ja’alna minal-maa-I kulla syai’in hayyin. Afala yu’minuna.” (QS. Al-Anbiya: 30).“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”"Alhamdulillah." Kiran langsung mengucap hamdalah begitu turun dari mobil. Waktu sudah senja saat mereka tiba. "Bu, Pak." Kiran berjalan menghampiri orangtuanya yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.Kiran menatap sekitar. Dia benar-benar merindukan suasana rumah mereka. Dua belas hari perjalanan umroh ditambah dengan masa karantina membuat dia dan Pras cukup lama meninggalkan tempat itu."Istirahat dulu." Linda yang menjemput mereka di tempat karantina tadi menepuk punggung Kiran pelan. Wanita itu membantu membawakan beberapa bawaan khas oleh-oleh dari tanah suci. Rista dan Ahmad bergegas ikut bergabung membawakan barang-barang dari mobil.Tidak terasa, azan isya’ berkumandang saat mereka baru saja selesai merapikan barang bawaan agar tidak terlalu berantakan.Setelah membersihkan diri dan makan m
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5678910
DMCA.com Protection Status