Aku kembali ke rumah sakit. Sebelum turun dari mobil, kuaktifkan dulu ponsel. Banyak pesan yang masuk. Di antaranya Alina. [Makan di mana?] [Sudah makan belum, Bang?] [Saya siapkan di rumah, ya.] [Tak aktif terus?] Aku segera menghubunginya lewat Video call. Wajahnya terlihat masam saat muncul di layar. Benar kata Ustadz Firman, sepertinya perasaanku memang cenderung pada Alina. “Sayang, Abang baru je pulang dari Ustadz Firman. Hp sengaja Abang matikan takut mengganggu.” “Ustadz Firman atau Ustazd Firman?” “Ya, Ustadz Firman.” “Lalu, petuahnya apa? Poligami?” “Yang pasti petuah ulama terbaik tuk dunia akhirat. Tuk kita, tuk Aisha. Nanti kita main kat sana biar adik hafal, beliau sahabat Aba, teman Umma pun.” Alina mengangguk. “Iya,” katanya pasrah. “Lalu sekarang pulang kat mana?” Alina menjeda sesaat dan berganti topik. “Aneh ya, nak pulang je harus tanya kat mana.” Dia menekuk wajah. Aku diam dan menghela napas. “I’m Sorry, Sayang.” Alina tampak mengehela nafas panjang.
Last Updated : 2022-12-19 Read more