Home / Romansa / Bukan Pernikahan Biasa / Chapter 121 - Chapter 130

All Chapters of Bukan Pernikahan Biasa : Chapter 121 - Chapter 130

158 Chapters

Part 121 Kerennya Hot Daddy

Sabda melangkah kembali ke kamar. Untuk segera mandi karena harus lekas Salat Asar sebelum waktunya habis. Sedangkan Senja langsung menghampiri Mbak Nur yang menjaga Radja. "Mas Sabda sudah pulang ya, Mbak?" tanya Senja ketika melihat mobil suaminya di garasi. Sebab dalam beberapa hari ini suaminya pulang di atas jam tujuh malam."Iya, Mbak. Baru saja masuk."Senja menyusul ke kamar. Terdengar suara shower yang menyala dari kamar mandi. Segera diambilnya pakaian ganti untuk suaminya dari lemari. Beberapa saat kemudian Sabda keluar kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang melilit pinggang. Senja berdesir juga saat melihat tubuh setengah basah itu. Perasaan yang beda dari biasanya. Apakah dirinya juga sedang rindu? "Mas, pulang awal hari ini?"Sabda tersenyum dan mendekati istrinya. "Iya. Pengennya bisa pulang cepat tiap hari. Cuman banyak pekerjaan untuk start projek baru," jawab Sabda sambil mendekati istrinya. Wangi sabun mandi terasa segar di penciuman Senja. Mereka saling p
last updateLast Updated : 2022-09-15
Read more

Part 122

Perutnya yang kemarin seperti balon, kini memang tak sekencang sewaktu sebelum dia hamil. Tapi dokter Eli bilang, butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih seperti sedia kala. Perubahan hormon yang menyebabkan rahim berkontraksi dan akan menyusut seperti keadaan sebelum hamil.Makanya tadi siang ia sempatkan untuk luluran dan Mbak Nur melakukan pijatan ringan pada tubuhnya, biar lebih rileks. Untungnya baby Radja cukup anteng setelah nenen kenyang habis zhuhur tadi.Memiliki suami seperti Sabda, ia harus pandai-pandai menjaga. Jangan sampai terjadi perselingkuhan seperti yang dilakukan kakak iparnya. Sebenarnya banyak faktor yang membuat lelaki mendua. Salah satunya karena dasar lelakinya memang buaya.Padahal Senja sudah merencanakan sejak awal kalau besok malam dia akan menyiapkan surprise buat suaminya. Tapi ternyata Sabda telah tahu lebih dulu kalau dirinya telah selesai nifas hari ini.Dada Senja makin berdebar ketika pintu kamarnya di buka dari luar. Debarannya mengalahkan ketika
last updateLast Updated : 2022-09-15
Read more

Part 123 Cemburu Seorang Istri

Apa mungkin dia yang berulang tahun, terus dia yang ngasih hadiah pada istrinya? Tapi bisa saja kan? Apa yang tidak mungkin bagi suaminya.Senja masih memperhatikan kotak di tangannya. Nama yang dituju pun bukan namanya, tapi nama Sabda. Kalau untuk dirinya sudah pasti nama yang dikirimi pakai namanya.Bimbang juga, antara mau membuka atau tidak. Itu pasti bukan untuk dirinya. Di letakkannya benda itu di nakas, lantas ia bangkit untuk Salat Asar.Rasa penasarannya di bawa hingga suaminya pulang ke rumah jam setengah sembilan malam. Senja yang sedang mengemas beberapa keperluan Radja untuk perjalanan besok segera berdiri dan membuka pintu."Assalamu'alaikum," ucap Sabda sambil tersenyum. Langsung dipeluknya sang istri dan mengecup keningnya."Wa'alaikumsalam," jawab Senja tidak secerah biasanya. Hari ini dia berharap suaminya bisa pulang cepat, agar bisa makan malam bersama. Tapi nyatanya, Sabda pulang malam lagi.Seperti biasanya pria itu langsung masuk kamar dan mandi, karena ingin s
last updateLast Updated : 2022-09-16
Read more

Part 124

Sabda memeluk erat tubuh Senja. Aroma jasmine yang menguar dari tubuh sang istri terasa menenangkan dan menimbulkan keinginan lain, keinginan seperti malam kemarin. Menyesal juga telah membuat istrinya benar-benar salah paham. Ketika tangannya telah membingkai wajah Senja dan hendak mengecupnya, baby Radja menangis. Senja melepaskan tangan sang suami, kemudian mendekati box bayi dan mengambil anaknya. Di pangkunya Radja untuk di susui. Sabda mendampingi di sebelahnya sambil memeluk bahu Senja.Lima belas menit sang Radja telah terlelap. Senja menidurkan kembali ke box-nya."Sini!" Sabda menarik pelan tangan istrinya. Senja yang masih jengkel duduk tanpa memandang suaminya. Entah kenapa, rasanya sakit meski sudah dijelaskan kalau itu hanya sekedar bercanda."Percayalah kalau Mas nggak akan mengkhianati sebuah komitmen. Apalagi komitmen sebuah pernikahan. Mas hanya ingin tahu, sejauh mana perasaanmu sama Mas.""Sekarang sudah tahu?" tanya Senja datar."Hmm, Mas tahu kalau akhirnya kamu
last updateLast Updated : 2022-09-16
Read more

Part 125 Ziarah

Foto pria setengah badan, memakai kemeja warna abu-abu dan tersenyum memandang ke arah kamera. Foto itu mungkin sudah berusia belasan tahun, Pak Saif masih terlihat sangat muda dengan senyumnya yang memikat. Senyum itu yang diwariskannya pada Senja. Namun karena sejak dulu Bu Yola tidak ingin mengenali kekasih putranya, makanya beliau tidak menyadari itu.Bu Yola kembali menunduk sebelum ada yang melihat tingkahnya yang aneh. Beliau memandang Bu Hanum yang sedang memangku Radja sambil berbincang dengan Bu Airin. Wanita yang lembut dan anggun. Itulah penilaiannya terhadap ibunya Senja.Pak Prabu mengucapkan permintaan maafnya pada keluarga Bu Hanum karena baru bisa bersilaturahmi, setelah hampir setahun pernikahan anak-anak mereka. "Kami mohon maaf, Bu Hanum, Pak Harto, dan keluarga semua. Sebab baru sekarang kami datang untuk menyambung silaturahmi. Saya pribadi dan istri benar-benar minta maaf."Pakdhe Harto yang jadi perwakilan keluarga mengangguk-angguk sambil tersenyum. Beliau tid
last updateLast Updated : 2022-09-17
Read more

Part 126

Jam tiga sore, ketika matahari sudah mulai lengser ke langit barat. Mereka bersiap-siap hendak ziarah ke makam Ayahnya Senja. Kali ini Senja dan baby Radja tidak ikut. Dia di rumah di temani budhe, Bumi, dan tetangga sebelah rumah.Angin sore yang berembus bersama kabut menebarkan hawa dingin. Kaum perempuan memakai sweater untuk melindungi tubuh. Pak Prabu, Pak Dipta, Sabda, dan Pakdhe Harto berjalan beriringan paling depan. Kemudian Bu Hanum bersama Bu Airin dan Bu Yola. Di belakang mereka ada Arga dan Citra. Ketika Bu Airin berbincang dengan Bu Hanum, Bu Yola diam mendengarkan sambil memperhatikan sekeliling. Penduduk desa yang ramah. Mereka menyapa Bu Hanum dari depan rumah masing-masing. Jarak antara rumah dan pemakaman desa bisa ditempuh dengan jalan kaki. Mereka berjalan sekitar tiga ratus meter.Pemakaman yang bersih dan terawat, jadi tidak ada kesan yang membuat merinding. Mereka memasuki gapura yang di cat warna hijau daun. Banyak pepohonan rindang di sana. Dedaunan kering h
last updateLast Updated : 2022-09-17
Read more

Part 127 Sabda Senja

Bu Airin ikut menemani Bu Hanum menjaga baby Radja. Kemudian Bu Yola ikut menyusul juga ke kamar yang lumayan luas. Ketiga wanita itu duduk bawah beralaskan permadani. Di atas meja ada foto masa kecilnya Senja. Ada foto Bu Hanum bertiga dengan suami dan putrinya."Ini foto terakhir kami bersama ayahnya Senja, sebelum beliau pergi." Bu Hanum mengambil foto di atas meja."Senja kalau diperhatikan dengan serius, sangat mirip ayahnya, Bu," ujar Bu Airin memperhatikan foto yang ditunjukkan padanya.Bu Hanum tersenyum sambil mengangguk pelan. "Senja sebenarnya punya adik kalau saya nggak keguguran saat hamil empat bulan. Adiknya Senja laki-laki.""Oh ya?""Iya. Waktu saya hamil anak kedua, Senja berumur empat tahun. Saya terpeleset waktu belanja di pasar, setelah sampai puskesmas saya pendarahan."Bu Yola hanya memperhatikan Bu Hanum dan Bu Airin bercerita. Ia menunggu, mungkin Bu Hanum akan menceritakan kehidupannya bersama sang suami waktu itu. Tentu kisah yang sangat romantis, mengingat
last updateLast Updated : 2022-09-18
Read more

Part 128

"Sayang, ayo kita masuk!" ajak Sabda lagi karena istrinya masih mematung."Mas, menyewa vila ini satu malam saja untuk kita?" tanya Senja belum bergerak dari tempatnya."Ayo, masuk. Nanti Mas cerita."Akhirnya mereka melangkah masuk. Sabda kembali mengunci pintu utama. Senja memperhatikan bangunan yang benar-benar masih baru. Di ruang tamu ada sofa warna kelabu dan televisi layar datar yang menempel di dinding. Sabda meraih lengan istrinya dan mengajaknya untuk naik ke lantai dua. Di sana ada tiga kamar. Sabda membuka salah satu kamar yang menguarkan aroma musk. Di tengah ruangan ada ranjang dengan taburan bunga mawar berwarna merah dan putih. Lilin aroma terapi menyala di pojok ruangan. "Ini kamar kita." Sabda menyingkap gorden warna kuning keemasan yang menutupi pintu kaca geser yang menghubungkan kamar dengan balkon."Kita, Mas?" tanya Senja belum juga paham.Kini keduanya berdiri di balkon sambil memandang pekatnya malam. "Ini vila hadiah buat kamu dan Radja. Untuk kalian berdua
last updateLast Updated : 2022-09-18
Read more

Part 129 Hadiah yang Dikembalikan

"Ayo, Radja sudah menunggu kita." Sabda mengajak istrinya segera turun.Seketika Senja lekas meraih hand bag-nya lalu turun dan melangkah sambil digandeng suaminya. Mereka menuju pintu samping. Di balai-balai duduk Citra yang sedang memangku Radja di temani Arga. Bayi itu menatap dua orang yang sedang menjaganya. Entah, bagaimana perasaan Arga ketika memangku anak dari sepupu dan perempuan yang pernah di cintainya."Assalamu'alaikum." Sabda mengucapkan salam."Wa'alaikumsalam." Arga dan Citra menjawabnya hampir bersamaan. "Mommy datang, Radja." Citra bicara pada bayi di pangkuannya.Senja tersenyum sambil menunduk. Dia menyentuh pipi Radja yang memandangnya. Mata beningnya seolah paham kalau yang sedang berdiri di depannya adalah ibunya. "Aku cuci tangan dulu, Mbak." Bergegas Senja ke dapur. Di sana ada ibu dan mama mertuanya yang tengah menyiapkan sarapan. Mereka bicara sejenak, karena Senja ingin segera menyusui putranya dan masuk kamar.Bu Airin pergi ke ruang dalam dan bertemu Sab
last updateLast Updated : 2022-09-19
Read more

Part 130

Semua barang-barang sudah di masukkan ke dalam kendaraan. Bagasi dua mobil sudah penuh oleh buah-buahan dan sayuran. Baik Arga maupun Sabda sedang memanasi mesin mobil."Biar aku saja yang nyetir, Mas," kata Bumi mendekati kakaknya yang berdiri di samping mobil."Jangan. Kamu kan belum punya SIM A. Nanti ketilang malah panjang urusannya. Makanya setelah ini kamu segera ngurus SIM," cegah sang kakak.Bumi mengangguk."Mas.""Hmm, ada apa?""Sikap Tante Yola kok aneh banget ya. Seperti bukan Tante Yola yang kita kenal.""Itu hanya perasaanmu saja.""Enggak. Pokoknya aneh banget. Tiba-tiba saja ia sangat sayang dan peduli pada Mbak Senja dan Radja. Terus, Mas tahu nggak kalau Tante Yola berkaca-kaca ketika Papa dan Mama serta keluarganya Mbak Senja membahas rencana resepsi kalian tadi malam. Aneh pokoknya.""Biar saja. Bagus juga beliau bisa berubah."Sabda dan Bumi melangkah kembali ke dalam rumah. Di sofa ruang tengah mereka melihat Bu Yola menelepon sambil menangis di sebelah Pak Dip
last updateLast Updated : 2022-09-19
Read more
PREV
1
...
111213141516
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status