Home / Romansa / Frozen in Love / Chapter 131 - Chapter 140

All Chapters of Frozen in Love: Chapter 131 - Chapter 140

313 Chapters

Teman Baru [2]

Kelly sedang membuat catatan di ponselnya seraya berdiri di depan sebuah maneken dengan gaun pengantin berpotongan A-line saat seorang perempuan mendadak limbung di dekatnya. Refleks, Kelly meraih lengan perempuan asing itu, mencegahnya jatuh. Suara tertahan yang meluncur dari bibir gadis itu pun diakhiri dengan tarikan napas yang dianggap Kelly sebagai tanda kelegaan.“Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan harga diriku. Sepatu ini memang cantik tapi menyusahkan,” kata perempuan itu dengan gaya jenaka. Refleks, mata Kelly tertuju pada sepatu platform berwarna shocking pink yang mencolok itu. Bahasa Inggris orang yang baru ditolongnya itu terdengar unik karena diselipi aksen sengau yang khas. Sejak tiba di Auckland, telinga Kelly mulai terbiasa dengan aksen itu.“Sepatu yang cantik,” puji Kelly dengan tulus, meski dia sendiri tidak akan pernah mengenakan sepatu dengan tumit lebih dari lima sentimeter. Tinggi tubuhnya yang sudah
last updateLast Updated : 2021-07-10
Read more

Teman Baru [3]

Kelly melongo lagi. Imogen tampaknya tak sungkan membagi informasi yang bersifat pribadi padanya. Atau, bisa jadi Imogen merasa bahwa memberi tahu orang asing bahwa dia baru menikah selama dua hari, bukanlah hal yang aneh. Binar di kedua mata Imogen sudah bicara begitu banyak. Perempuan ini jelas-jelas sedang bahagia luar biasa.“Selamat, kalau begitu. Berarti kamu dan suamimu adalah pengantin baru, ya? Hmm ... seharusnya sekarang kalian sedang berbulan madu. Tapi kenapa kamu malah berada di pameran gaun pengantin?” Kelly tak mampu menyembunyikan keheranannya. Sedetik kemudian gadis itu baru menyadari bahwa kata-katanya yang cenderung lancang. “Ups, maafkan aku! Tak seharusnya aku bicara seperti itu. Aku....”“Kamu sama sekali tidak salah bicara. Jadi, tak perlu minta maaf,” komentar Imogen. “Kami memang sengaja menunda untuk berbulan madu.”“Hei, kamu sudah punya teman baru, ternyata,” tegur Cilla dala
last updateLast Updated : 2021-07-11
Read more

(Masih) Teman Baru

“Kamu membuatku cemas. Kukira, terpaksa membuat laporan orang hilang pada pihak berwajib karena tak kunjung menemukanmu,” komentar Duncan dengan nada gurau. Napas lelaki itu agak terengah. Ada rasa nyeri samar di kaki kanannya.Duncan menatap Imogen dengan rasa lega yang membuatnya bernapas dengan normal. Lebih dari sepuluh menit dia harus berkonsentrasi untuk menemukan ibu tirinya di antara lautan manusia yang memenuhi ballroom Prodigious Hotel ini. Andai tidak ada masalah dengan kaki kanannya, Duncan mungkin tak terlalu keberatan.Masalahnya, dia harus bergerak hati-hati agar kakinya tak kian sakit. Duncan terpaksa memanjangkan leher demi mencari-cari bayangan ibu tirinya. Jika dia berada di Indonesia, tinggi badannya memberi keuntungan tersendiri. Masalahnya, dia sedang berada di Auckland yang juga dipenuhi dengan manusia-manusia sejangkung dirinya. Bahkan tak sedikit yang lebih tinggi dibanding Duncan.Tadi, saat mereka baru tiba di hala
last updateLast Updated : 2021-07-11
Read more

(Masih) Teman Baru [2]

 Bibir Kelly membulat sementara Cilla berusaha menyembunyikan tawanya dengan sopan. Bagi kedua perempuan itu, kemungkinan besar berita yang disampaikan Imogen tersebut cukup mengejutkan.“Duncan baru datang tiga hari lalu, untuk menghadiri pernikahanku. Dia juga berasal dari negara kalian. Duncan tinggal di kota ... apa namanya?” Imogen menatap putra tirinya dengan kening berkerut.“Bogor.”“Kami juga tinggal di Bogor,” beri tahu Kelly. Mata agak sipit milik gadis itu menatap Duncan saat bicara lagi. Namun Kelly tampaknya tak terlalu kaget mendengar kota asal Duncan. Mungkin karena Imogen sudah menyinggung sebelumnya tentang Jerome dan kaitannya dengan Indonesia. “Kebetulan yang luar biasa, ya. Di Bogor yang tidak terlalu luas, kita tidak pernah bertemu. Tapi justru berkenalan di Auckland,” Kelly menambahkan.Imogen akhirnya bersepakat dengan kedua gadis itu untuk bertemu kurang dari  seten
last updateLast Updated : 2021-07-12
Read more

(Masih) Teman Baru [3]

Lima belas menit kemudian, mereka kembali bertemu Kelly yang sedang berdiri mengamati sebuah setelan berwarna putih. Di mata Duncan, pakaian itu sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai gaun pengantin. Pakaian untuk bekerja, lebih masuk akal.“Serius, setelan ini dipakai oleh mempelai perempuan?” tanya Duncan, memberi penekanan pada kata terakhir. Kali ini, dia menggunakan bahasa Indonesia. Kelly sempat menoleh dengan ekspresi kaget sebelum akhirnya tergelak pelan.  Tawa yang menjalari hingga ke pupil mata serupa obsidian milik gadis itu.“Ini memang nggak ... tradisional,” ucap Kelly sambil mengulum senyum.“Bukan cuma nggak tradisional. Tapi juga aneh,” tegas Duncan. Matanya menyipit memandangi maneken di depannya selama tiga denyut nadi sebelum mulai bicara lagi. “Aku belum pernah melihat pengantin perempuan mengenakan pakaian semacam ini. Atau yang berwarna hitam seperti di area itu,” tunjuknya ke satu ar
last updateLast Updated : 2021-07-12
Read more

(Masih) Teman Baru [4]

Duncan mendengarkan uraian dari Kelly yang tampak begitu bersemangat menggambarkan model gaun pengantin yang sedang populer.“Tahun ini, para perancang banyak menggunakan bateau necline. Yaitu, garis leher tinggi yang melintang lurus dari bahu ke bahu, emngikuti lengkungan tulang selangka. Floral prints dan cropped tops pun banyak muncul saat ini. Selain itu, gaun berpotongan sheath atau A-Line juga kian banyak. Sheath itu maksudnya gaun ramping mengikuti bentuk tubuh yang sudah mulai populer sejak tahun 1930-an. Sepertinya, para perancang masa kini menyiapkan gaun pengantin yang terkesan ‘ringan’ dan santai. Aku pribadi sih....” Kelly tiba-tiba berhenti dengan wajah yang terlihat memerah.“Ada apa?” Duncan tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.“Maaf, aku bicara terlalu bersemangat. Kamu pasti nggak mengerti apa yang tadi kuocehkan.” Gadis itu tampak merasa serb
last updateLast Updated : 2021-07-13
Read more

(Masih) Teman Baru [5]

Mereka berpindah dari satu maneken ke maneken lain sambil tetap mengobrol beragam tema. Usai membahas tentang Perisa, mereka malah membicarakan tentang global warming, serial televisi, biaya pendidikan, hingga acara memasak yang mendapat banyak slot di televisi belakangan ini. Duncan selalu menjadi orang yang lumayan mudah bergaul. Namun tetap saja cukup takjub karena bisa menemukan lawan bicara yang dengan lincahnya melenturkan diri membahas berbagai topik obrolan tanpa terkesan kehilangan kenyamanan.“Aku nggak tahu serial televisi yang sedang populer. Bukan karena tak suka, tapi masalah waktu. Aku baru meninggalkan Perisa setelah restoran tutup,” ujar Duncan di suatu ketika. “Hidupku cuma berkutat di sekitar Perisa.”“Kalau kamu suka cerita yang punya banyak kejutan, ada beberapa pilihan. Baik yang masih tayang maupun yang sudah tak lagi diproduksi. Salah duanya, Chicago PD atau How to Get Away with Murders. Aku selalu melongo
last updateLast Updated : 2021-07-13
Read more

(Masih) Teman Baru [6]

Duncan duduk di meja yang sama dengan kedua teman barunya. Mereka menyantap nasi, empal daging, sayur godog jamur merang, kering kentang ebi, serta semur telur. Dia sempat tergelak melihat ekspresi bingung Cilla dan Kelly.“Papaku memutuskan untuk memasak menu yang menurutnya akan membuatku betah di sini. Meski tentu saja rasanya sudah dimodifikasi,” gurau Duncan dengan senyum melebar.Jerome ikut bergabung di meja mereka, duduk bersebelahan dengan istri barunya. Lelaki itu mengangguk membenarkan ucapaan Duncan. Sementara Imogen menjadikan nasi goreng keju sebagai menu yang akan disantapnya untuk makan siang.“Kalian ini temannya Duncan atau Nina?” tebak Jerome setelah semua orang melewati periode basa-basi.“Bukan, Dad. Aku juga baru kenal dengan mereka tadi. Boleh dibilang, Kelly dan Cilla adalah teman Imogen,” kata Duncan dengan nada ringan. Dia bisa melihat Imogen mengangguk setuju seraya melingkarkan tangan kananny
last updateLast Updated : 2021-07-14
Read more

(Masih) Teman Baru [7]

Isi kepala Duncan berputar cepat sebelum dia memberi jawaban tanpa ragu, “Tidak.”Imogen menimpali, “Aku juga bisa bergabung dengan kalian.”Duncan tak bisa menahan tawa. “Kamu baru menikahi ayahku, tapi kamu malah ingin bersenang-senang dengan Kelly dan Cilla. Lalu, ayahku harus ditinggal sendirian?”Imogen mendorong piringnya yang sudah licin, bersandar pada suaminya. “Kami akan berbulan madu, Duncan. Jangan cemaskan itu! Aku punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan minggu depan. Ayahmu saat ini pun harus mengurus masalah perpanjangan kontrak kafe. Jadi, lebih bijak jika kami menunda, kan?” argumennya. “Memangnya menikah berarti tak boleh bersenang-senang dengan teman baru?”Kelly dan Cilla tampak sungkan dan berusaha menolak ide yang dilontarkan Jerome. “Kalian bisa memberi rekomendasi seputar tempat menarik yang terlalu sayang untuk dilewatkan,” usul Cilla setelah saling panda
last updateLast Updated : 2021-07-14
Read more

Halo, Auckland [1]

Ini pagi ketiga Kelly terbangun di Auckland. Seperti kemarin, dia membuka mata dengan semangat yang melompat-lompat. Membayangkan bahwa dia punya kesempatan untuk melewati hari dengan pengalaman baru yang siap menanti, sungguh menggairahkan.“Apa? Kamu sekarang berada di Auckland? Auckland yang nun jauh di New Zealand itu? Serius, Kel?” teriak Violet saat Kelly meneleponnya kemarin. “Kenapa kamu bisa ada di sana tanpa memberitahuku? Jangan bilang kalau kamu berbulan madu di sana atau malah kawin lari,” oceh Violet lagi.Violet yang biasanya cukup tenang itu pun sampai membuat tudingan menggelikan yang membuat Kelly terkekeh geli.“Kalau aku kawin lari atau bulan madu, mustahil aku tak mengabari kalian,” kata Kelly, membela diri. “Aku ke sini dalam rangka urusan pekerjaan. Aku dan Cilla mengikuti pameran gaun pengantin di sini, mewakili Kirana Mahardika.”Reaksi tak kalah heboh pun didapat Kelly saat menelepo
last updateLast Updated : 2021-07-16
Read more
PREV
1
...
1213141516
...
32
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status