Kutatap lekat-lekat wajah suamiku meski Aku sedikit kecewa padanya tapi aku harus memberikan maaf kepada suamiku Illahi Ta'ala karena dengan begini semua yang terjadi pada kehidupan kami akan teratasi dengan baik.Aku tahu suamiku melakukan semua ini demi menjaga perasaanku demi menjaga hatiku Aku tidak cepat agar aku tidak was-was dan agar aku tidak cemas aku tidak berpikiran negatif pada suamiku ataupun Maya.Maya wanita yang telah benar-benar menjadi kucing yang tersedia untuk kelangsungan dan kelanggengan Rumah tanggaku.Ayah yang tiba-tiba saja hadir semuanya baik-baik saja yang benar-benar menguras segala isi otak dan hatiku karena harus sabar menghadapinya.Dan kini dia telah menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan suami dan ketentuannya kembali hadir pada kehidupan rumah tangga kami dengan cara menjadi bekerja di toko kami.“Jujur meskipun kasih dan menyembunyikan semua itu kepadaku tapi setelah mendengar kejujuran dan kesungguhan dan meminta maaf padaku aku sudah ikhlas
“Baik, Pak Ustaz, kami mengikuti semua nasihat dan saran dari Ustaz," jawab ibu mertuaku.Mbak Asih hanya diam saja saat kami membicarakannya bersandar di bahu ibu mertua dan memilin-milin ujung jilbab yang dikenakannya.“Seperti yang sudah saya katakan tadi kepada Mas Danu dan Mba kita bahwa apa yang kita lakukan semuanya akan berbalik kepada diri kita sendiri. Oleh karena itu nanti setelah melakukan ruqyah beberapa kali saya akan menanyakan itu secara terperinci kepada Mbak Asih dan tolong pada keluarga dan ibu Makasih agar membantu Mbak Asih untuk tetap menjaga salat dan juga wudhunya,” ucap Pak Ustaz lagi.“Insyaallah, Ustaz, kami akan menjaga sesuai perintah ustad dengan sebaik-baiknya," jawab ibu mertua.“Bukan hanya itu saja, Bu, tapi tolong agar Mbak Asih tetap menutup auratnya di mana pun dia berada jangan biarkan Mbak Asih sendiri bengong tanpa ditemani siapa pun."“Baik, Ustaz, kami akan mencobanya," jawab Mama Atik seraya membelai kepala Mbak Asih yang terbalut jilbab.“T
“Ita, semalam di rumahmu ada apa? Seperti ada acara ramai sekali?” tanya Novi padaku, saat ini aku sedang menjemur pakaian di samping rumahku.“Enggak ada acara apa-apa kok, Nov! Rnggak ramai juga. Mungkin kamu salah lihat,” jawabku.“Enggak, kok, aku enggak salah lihat. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri waktu aku pulang dari rumah orang tuaku sekitar jam 9 malam di rumahmu itu ramai sekali tidak biasanya lampumu juga dihidupkan semua,” jawab Novi.Apa karena efek ruqyah semalam, ya, jadi di rumahku terlihat ramai padahal hanya kami saja ditambah Ustazah dan suaminya.“Oh, mungkin pas kamu lihat semalam pas kami sedang mencoba lampu baru. Mas Danu habis beli lampu baru untuk mengganti semua lampu yang ada di rumah,” jawabku berbohong karena aku tidak mau menceritakan apa pun yang terjadi pada rumah tanggaku kepada orang lain takutnya justru akan menjadi bahan gosip dan juga ditertawakan oleh orang lain.“Wah, pantesan aja lampunya terang sekali. Memang kamu beli lampu di mana sih
"Siapa pun pelaku utamanya aku dan Mas Danu sepakat menyerahkan semuanya kepada Allah, Nov, biarkan itu menjadi urusan dia dengan Allah. Biarkan saja Allah yang membalas kami pasrah saja yang bisa kami lakukan adalah mempertebal keimanan dan juga ibadah kami.”“Halah kamu itu ngomongnya kayak udah orang paling bener sedunia kayak ustazah yang ceramah di masjid.”“Terserah kamu saja Nov, berpendapat bagaimana.”“Atau kalau kamu tidak mau minta jimat saja sama orang pintar nanti aku mintain kalau untuk jimat ini bisa diperwakilkan karena jimat Ini fungsinya untuk melindungi diri kamu dan juga keluarga kamu dari hal-hal yang tidak diinginkan,” saran Novi lagi.“Untuk jimat pun tidak dulu deh, Nov, aku tidak memakai yang begitu-begitan jimatku hanya bismillah pasrah hanya pada Allah lagi pula loh, kalau kamu mau memakai jimat begitu hukumnya syirik sama saja kamu menyekutukan Allah tidak boleh loh, begitu yang ada kamu nanti dosa. Kamu tahu hukumnya orang yang berbuat sirik itu tidak mai
"Enggak enak Mah, mau ninggalin Novinya,” jawabku sekenanya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.“Itulah kamu itu selalu baik kepada siapa pun, meski orang itu jahat sekalipun sama kamu salut padamu Mamah bangga punya menantu sepertimu, Nak.”“Ah, Mamah terlalu berlebihan aku begini pun karena mencontoh orang-orang yang baik yang ada di sekitar rumah termasuk Mamah Atik yang baik dan selalu rendah hati."“Tapi, lain kali kalo si Novi itu nyerocos saja mulutnya kamu sekak lalu kamu tinggal pulang. Oang begitu kalau enggak dilakukan tindakan apa pun selamanya akan tetap begitu meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena,” ucap Mamah Atik mengingatkanku.“Iya, Mah, insya Allah lain kali aku tegur Novi. Oh, ya, Kia mana, Mah, kayaknya tadi dia manggil-manggil aku?”“Ada di depan lagi mainan sama Asih, tadi Kia panggilin kamu makanya Mamah ke belakang eh, enggak tahunya kamu lagi ngobrol sama tetangga kepo.”“Ih, Mamah enggak usah begitulah. Bagaimana pun juga kan, Novi, itu tet
"Yang lalu biarlah berlalu, Dik, jangan kamu ungkit lagi nanti khawatir hatimu akan sakit jika mengungkit tentang masa lalu. Biarlah masa lalu kita yang pahit itu kita kubur dalam-dalam untuk kita jadikan sejarah lalu kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak agar mereka tahu dulu orang tuanya seperti apa dan agar mereka tidak sombong sebab mereka tahu tentang sejarah hidup orang tuanya di masa lalu, jadi bisa untuk mawas diri,” ucap Mas Danu, aku mengangguk setuju dengan pendapat Mas Danu.Sebenarnya bukan bermaksud mengungkit tentang pahit dan pedih masa lalu hanya saja untuk mawas diri agar aku tidak berbuat semena-mena kepada orang miskin dan agar aku selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan padaku.“Alhamdulillah ... Mama Atik yang baru bertemu dengan kalian pun sangat bangga pada kalian apalagi orang tua kalian yang mendidik kalian dari kecil. Mamah selalu berharap kalian akan terus seperti ini sampai kapan pun rendah hati dan juga menghormati siapa pun.”“Insya Alla
“Heh! tunggu mau ke mana kamu bukanya minta maaf malah nyonong pergi aja kualat nanti kamu!” teriak Mamah Atik seraya melempar mobil Novi menggunakan batu kerikil.“Sudah biarin saja yang penting Kia enggak kenapa-kenapa. Kianya hanya kecemplung comberan saja,” cegah ibuku saat Mamah Atik hendak melempar batu yang berukuran lebih besar ke arah mobil Novi.“Songong bener, jadi manusia. Baru juga punya mobil kecil begitu sudah sombongnya naudzubillah apalagi punya mobil Alphard. Duh, heran sama orang-orang kaya baru zaman sekarang ini enggak punya sopan santun sama sekali,” gerutu Mamah Atik.“Sudahlah Mah, biarin saja ini Kianya juga sudah diam nangisnya hanya kecemplung comberan dimandikan saja nanti bersih lagi kok,” sahutku ikut mengademkan kemarahan Mamah Atik.Kulirik ke arah Mbak Asih, dia hanya terkekeh saja mungkin baginya Kia kecemplung comberan adalah suatu kelucuan dan yang membuatku makin heran adalah meski Mbak Asih terkekeh tertawa tatapannya tetap lurus ke depan.“Anak I
Pantaslah jika ibu mertuaku curiga kepada Mas Roni bahwa Mas Roni sudah pakai pelet. Karena menurutku juga cintanya Mbak Asih pada Mas Roni itu tidak wajar bahkan sangat berlebihan sampai dia lupa pada dirinya sendiri sampai dia rela mengorbankan segalanya untuk Mas Roni.“Istighfar, Asih, kamu enggak boleh begitu terlalu cinta pada manusia. Itu tidak baik nanti Allah cemburu padamu. Kalau Allah sudah cemburu padamu nanti murka padamu, kalau Allah sudah murka nanti hidupmu susah, jadi kalau cinta pada manusia sekalipun itu suami kita sendiri harus sewajarnya jangan melebihi cinta kita kepada sang pencipta itu tidak boleh.” Nasehat ibuku pada Mbak Asih.“Apa betul begitu Bulek? Memangnya aku ini terlalu berlebihan mencintai Mas Roni?” tanya Mbak Asih.“0h, ya, jelas kamu terlalu berlebihan cinta sama Roni. Semua-semua kamu lakukan untuk Roni. Coba pikir pakai akal sehatmu itu, apa Roni selama ini peduli padamu. Kamu hamil pun dia tidak pernah menengokmu. Tiak pernah membawakan makanan
[Aku tidak peduli, pokoknya cepat kembalikan uangku! Aku sudah benar-benar marah padamu, aku sudah tidak percaya lagi padamu. Terserah kamu masih mau berteman denganku atau tidak karena itu sama sekali tidak membuatku rugi.][Iyalah baik, aku ke sana, tunggu!]Dengan senang hati aku menunggu kedatangan Novi, semoga saja kali ini dia tidak berbohong dan tidak banyak alasan. Kalau sampai dia tidak datang ke sini maka aku yang akan datang menghampiri ke rumahnya. Dia yang memulai, dia pun yang harus mengakhiri.Brak! tiba-tiba saja kacaku kembali dilempar oleh seseorang dengan batu yang sangat besar, kami yang sedang asyik bersantai di ruang TV pun bergegas lari ke depan.Tidak ada siapa-siapa hanya ada batu bata besar dengan bungkusan plastik hitam. Bapak lari ke jalan dan celingak-celinguk mencari apakah ada orang yang patut dicurigai.“Mbak Asih dari mana?" tanyaku pada Mbak Asih. Dia sepertinya dari minimarket karena menenteng plastik berlogo minimarket terkenal dengan segala isinya
Setelah selesai sarapan aku segera beres-beres rumah. Hari ini rencananya akan berbelanja untuk acara esok yang akan kami adakan 5 hari lagi.Ting!WA dari Novi.[Ita maksudmu apa nulis status begitu, kamu menyindirku?Kamu tidak ikhlas menolongku. Oke, aku, kembalikan uang kamu, tapi tolong dong, kamu nggak usah bikin status-status begitu! Kamu merendahkan sekali. Jadi manusia baru kaya begitu saja sudah sombong.][Sepertinya kamu harus berkaca pakai kaca yang besar, kalau tidak ada datanglah ke rumahku sini. Berkaca di sini kamu kan, yang memulainya duluan, Nov! Kamu update status menyinggung aku bahwa aku ini berutang padamu subuh-subuh padahal kan, kamu yang hutang sama aku, jadi manusia itu jangan suka memutarbalikkan fakta. Ingat dosa, ingat mati, memangnya aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku? Banyak orang yang laporan padaku.] balasku berapi-api, kalau dia benar-benar mengajak perang maka aku akan ladeni.[Eh, fitnah itu, siapa yang bilang begitu. Aku tidak ada u
“Iya, Mah, Bu. Terima kasih sudah mengingatkan aku, tapi aku sudah kadung bikin status unek-unek di story WA.”“Ya, sudah tidak apa-apa biar kamu merasa puas kali ini Ibu maklum, tapi lain kali jangan kamu ulangi lagi, ya, Nak? Ibu tidak mau loh anak Ibu yang Ibu banggakan ini terpengaruh oleh lingkungan yang kotor.”“Astaghfirullahaladzim ... Iya, Bu, insya Allah aku tidak akan mengulangi lagi. Terima kasih Mama dan Ibu sudah selalu mmenasihatiku.”“Iya, kan, ini memang sudah tugas orang tua untuk selalu mengingatkan anaknya jika anaknya tersesat di jalan yang salah. Sudah kamu makan saja dulu. Lupakan masalahmu kalau kamu makan sambil mengingat-ingat kejadian yang bikin kamu emosi tidak akan pernah jadi daging makanan yang kamu telan itu,” jawab mamah Atik.“Iya, Mah. Terima kasih, ya, sudah masakin nasi goreng yang super enak ini kalau kita buka restoran dan ada menu nasi gorengnya, Mama wajib yang masak, rasanya enak banget. Pasti laris dan keuntungannya juga banyak,” pujiku pada
[Dasar manusia tidak tahu diri, tidak bersyukur tidak tahu diuntung, sudah dibantu malah memutar balikan fakta. Semoga saja kamu tidak bertemu dengan orang yang sifatnya sama denganmu. Pagi-pagi datang memohon-mohon meminjam uang setelah dapat bukanya mengucapkan terima kasih malah mengatakan yang tidak-tidak tentang aku.]Kutulis status di WA-ku panjang lebar agar semua orang-orang yang ada di sini, tetangga-tetanggaku bisa membacanya. Aku sudah benar-benar gerah dengan sikap Novi Yang keterlaluan padaku.Kutinggalkan ponselku di atas nakas lalu membantu Mama Atik dan ibuku untuk masak. Sebentar lagi pasti Mas Danu akan pulang.“Kamu kenapa, Ta, kok senyum-senyum begitu?” tanya ibu penuh selidik.“Tidak apa-apa, Bu, hanya ingat kejadian lucu tadi di warung,” jawabku.“Kejadian apa itu? Ibu, jadi kepo, nih! Duh bahasanya sudah kayak Si Nopi saja kepo,” ujar ibu.“Jadi ceritanya, Bu, tadi pagi subuh-subuh Novi itu datang ke sini pinjam uang sama aku satu juta katanya uangnya untuk be
“Wak, aku, bukan tipe orang yang suka melupakan jasa orang lain. Ya, terserah awak saja mau percaya atau tidak. Yng jelas aku tidak ada uutang dengan Novi," jawabku kesal lalu ikut mengantri untuk belanja.“Nih, Wak, dimakan! Biar itu mulut nggak pedes kayak cabe setan!" sahut Ibuku lalu memasukkan segenggam cabe caplak jawa yang kata orang cabe setan ke mulut Wak Jum yang sedang menganga karena menertawakanku.“Apa-apaan sih, kamu, Wak, jelek-jelekin menantuku! Bibirmu itu lama-lama nanti double dan dosamu menumpuk. Ingat, dosa woi! Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Menantuku itu orang baik tidak mungkin dia berhutang kepada orang lain," bela ibu mertuaku.“Iya, betul tuh masih aja ada yang percaya sama mulutnya Novi. Dia itu kan, ember dan juga mulut comberan. PAgi-pagi sudah bikin orang ribut saja!" sahut Mbak Fitri yang ternyata dia ada di sini belanja sayuran juga.“Sudah jangan ribut perkara uutang orang lain nggak baik. Dasar itu aja mulutnya comberan mau ikut campur aja u
“Assalamualaikum permisi! Assalamualaikum permisi! berkali-kali kuulangi panggilan dan menggedor pintu Novi, tetapi tetap juga tidak dibukakan olehnya. Benar-benar memang dia sudah keterlaluan! Oke baiklah Novi aku akan pakai caramu!Dia benar-benar sudah tidak menghormati aku sebagai tetangga dan tidak menganggapku teman lagi. Padahal tadi pagi subuh-subuh dia memohon-mohon padaku untuk meminjamkan uang padanya. Lalu dia menyindirku lewat status WA. Aku datangi dia tidak berani nongol! Maunya apa? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Padahal aku merasa tidak pernah punya salah pada dia.Bukankah seharusnya jika sudah mengenalku dari kecil, menganggapku teman, dan sekarang kami bertetanggaan, sikapnya harusnya lebih baik padaku bahkan menganggapku lebih dari saudara. Seperti aku menganggapnya begitu. Dasar saja Novi ternyata sifatnya sejak dulu tidak pernah berubah.Aku telusuri jalanan di depan rumahku dengan perasaan dongkol dan kesal. Astagfirullah pagi-pagi aku tidak boleh beg
Astaghfirullahaladzim ... kubaca status WA-nya Novi.“Pagi-pagi buta sudah ada orang datang ke rumah pinjam uang. Kelihatannya sih, kaya raya, rumahnya gede, bagus, ke mana-mana naiknya mobil ternyata pagi-pagi sudah pinjam uang. Yaa, elah, berarti dia lebih miskin dari aku, dong!”Aku geram sekali membaca status WA-nya Novi. Kenapa dia memutarbalikkan fakta seperti itu? Ini orang pagi-pagi sudah membuat kepalaku mendidih.Apa iya, aku harus mengikuti saran Mbak Fitri untuk melabrak dia, tapi meskipun Novi nulis status WA begitu itu, tapi tidak ada orang yang percaya dengan status dia buktinya Mbak Fitri malah marah-marah pada dia. Kalau meladeni Novi tidak akan pernah habisnya dan itu sangat buang-buang waktuku.Hidupku bukan hanya untuk mengurusi urusan orang lain. Lebih dari itu, tapi kalau dia tidak dikasih pelajaran dia bakalan selamanya menginjak-nginjak harga diriku. Salah apa aku ini pada Novi? Perasaan aku sudah selalu berbuat baik padanya, tapi masih saja dia menjelek-jelek
“Mas, sepertinya dia ini manusia benar-benar tidak punya pekerjaan. Bayangkan saja dia meneror kita setiap hari, setiap waktu dengan kata-kata serupa, tapi dia tidak berani menunjukkan actionnya selain mengirimi kita makhluk-makhluk halus begitu ya, enggak sih, Mas?” ucapku kepada Mas Danu.“Iya, betul, Dik, itulah kenapa Mas, selalu berpesan padamu dan juga yang lainnya agar selalu hati-hati karena lawan kita tidak kasat mata. Jika manusia di depan kita hendak mencelakai, kita, bisa melawannya, tapi kalau makhluk halus begitu kita tidak melihat bagaimana kita akan melawan mereka selain dengan doa dan kehati-hatian kita. Kamu paham kan, maksudku?” ujar Mas Danu.“Iya, Mas, aku paham, maka dari itu aku pun selalu mewanti-wanti Ibu, Mama, Ibumu, untuk selalu waspada. Apalagi Mbak Asih kan, sekarang dia sudah bertaubat memperbaiki diri, menutup, aurat, banyak-banyak mendekatkan diri pada Allah. Intinya yang pasti sudah tidak ada lagi media yang bisa digunakan untuk menteror kita dengan m
"Ada, Nov. Alhamdulillah ini aku kasih jangka waktu sampai suamimu gajian, ya? Oh, ya suamimu gajiannya tanggal berapa, Nov?” tanyaku seraya memberikan uang yang aku pegang kepada Novi.“Gajiannya akhir bulan, Ita, ini kan masih tanggal 5 masih lama. Ya, makanya aku harus hemat uang satu juta ini sampai tanggal 25 nanti, ya, sudah terima kasih ya, Ta, nanti kalau suamiku sudah gajian pasti akan aku bayar,” ucap Novi senang.“Iya, Nov, santai aja pakai aja dulu pokoknya begitu suamimu gajian, kamu langsung aja datang ke rumah. Aku tidak mau menagih padamu, Nov, selain tidak enak aku juga menjaga privasimu takutnya pas aku lagi nagih, eh, ada tetangga kita atau yang lain atau ada teman kamu, jadi kan, mereka tahu kalau kamu punya utang. Jadi, aku minta tolong kamu cukup tahu diri aja ya, Nov. Kalau sudah gajian langsung ke rumah,” kataku to the point. Orang seperti Novi memang harus ditegasin. Kalau tidak dia akan menganggap remeh.“Oh, jelaslah itu. Kamu enggak usah khawatir. Ya, kalau