"Enggak enak Mah, mau ninggalin Novinya,” jawabku sekenanya seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.“Itulah kamu itu selalu baik kepada siapa pun, meski orang itu jahat sekalipun sama kamu salut padamu Mamah bangga punya menantu sepertimu, Nak.”“Ah, Mamah terlalu berlebihan aku begini pun karena mencontoh orang-orang yang baik yang ada di sekitar rumah termasuk Mamah Atik yang baik dan selalu rendah hati."“Tapi, lain kali kalo si Novi itu nyerocos saja mulutnya kamu sekak lalu kamu tinggal pulang. Oang begitu kalau enggak dilakukan tindakan apa pun selamanya akan tetap begitu meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena,” ucap Mamah Atik mengingatkanku.“Iya, Mah, insya Allah lain kali aku tegur Novi. Oh, ya, Kia mana, Mah, kayaknya tadi dia manggil-manggil aku?”“Ada di depan lagi mainan sama Asih, tadi Kia panggilin kamu makanya Mamah ke belakang eh, enggak tahunya kamu lagi ngobrol sama tetangga kepo.”“Ih, Mamah enggak usah begitulah. Bagaimana pun juga kan, Novi, itu tet
"Yang lalu biarlah berlalu, Dik, jangan kamu ungkit lagi nanti khawatir hatimu akan sakit jika mengungkit tentang masa lalu. Biarlah masa lalu kita yang pahit itu kita kubur dalam-dalam untuk kita jadikan sejarah lalu kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak agar mereka tahu dulu orang tuanya seperti apa dan agar mereka tidak sombong sebab mereka tahu tentang sejarah hidup orang tuanya di masa lalu, jadi bisa untuk mawas diri,” ucap Mas Danu, aku mengangguk setuju dengan pendapat Mas Danu.Sebenarnya bukan bermaksud mengungkit tentang pahit dan pedih masa lalu hanya saja untuk mawas diri agar aku tidak berbuat semena-mena kepada orang miskin dan agar aku selalu bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan padaku.“Alhamdulillah ... Mama Atik yang baru bertemu dengan kalian pun sangat bangga pada kalian apalagi orang tua kalian yang mendidik kalian dari kecil. Mamah selalu berharap kalian akan terus seperti ini sampai kapan pun rendah hati dan juga menghormati siapa pun.”“Insya Alla
“Heh! tunggu mau ke mana kamu bukanya minta maaf malah nyonong pergi aja kualat nanti kamu!” teriak Mamah Atik seraya melempar mobil Novi menggunakan batu kerikil.“Sudah biarin saja yang penting Kia enggak kenapa-kenapa. Kianya hanya kecemplung comberan saja,” cegah ibuku saat Mamah Atik hendak melempar batu yang berukuran lebih besar ke arah mobil Novi.“Songong bener, jadi manusia. Baru juga punya mobil kecil begitu sudah sombongnya naudzubillah apalagi punya mobil Alphard. Duh, heran sama orang-orang kaya baru zaman sekarang ini enggak punya sopan santun sama sekali,” gerutu Mamah Atik.“Sudahlah Mah, biarin saja ini Kianya juga sudah diam nangisnya hanya kecemplung comberan dimandikan saja nanti bersih lagi kok,” sahutku ikut mengademkan kemarahan Mamah Atik.Kulirik ke arah Mbak Asih, dia hanya terkekeh saja mungkin baginya Kia kecemplung comberan adalah suatu kelucuan dan yang membuatku makin heran adalah meski Mbak Asih terkekeh tertawa tatapannya tetap lurus ke depan.“Anak I
Pantaslah jika ibu mertuaku curiga kepada Mas Roni bahwa Mas Roni sudah pakai pelet. Karena menurutku juga cintanya Mbak Asih pada Mas Roni itu tidak wajar bahkan sangat berlebihan sampai dia lupa pada dirinya sendiri sampai dia rela mengorbankan segalanya untuk Mas Roni.“Istighfar, Asih, kamu enggak boleh begitu terlalu cinta pada manusia. Itu tidak baik nanti Allah cemburu padamu. Kalau Allah sudah cemburu padamu nanti murka padamu, kalau Allah sudah murka nanti hidupmu susah, jadi kalau cinta pada manusia sekalipun itu suami kita sendiri harus sewajarnya jangan melebihi cinta kita kepada sang pencipta itu tidak boleh.” Nasehat ibuku pada Mbak Asih.“Apa betul begitu Bulek? Memangnya aku ini terlalu berlebihan mencintai Mas Roni?” tanya Mbak Asih.“0h, ya, jelas kamu terlalu berlebihan cinta sama Roni. Semua-semua kamu lakukan untuk Roni. Coba pikir pakai akal sehatmu itu, apa Roni selama ini peduli padamu. Kamu hamil pun dia tidak pernah menengokmu. Tiak pernah membawakan makanan
"Yah, namanya juga orang enggak punya adab, jadi gitu deh! Kalau ngeliat orang bahagia dia enggak suka. Biasa orang kaya baru,” sindir Bu Rum gengnya Bu Jum.“Sudah, Mah, jangan diladeni kita pulang saja!" ajakku pada Mamah Atik.“Karma ibayar tunai, makanya Novi, kamu itu kalau melakukan sesuatu harus bertanggung jawab. Ya, minimal minta maaflah, jadi kamu juga tidak kesusahan begini,” ucap Mamah Atik pada Novi Yang masih saja menangis melihat mobil Karimunnya masuk ke dalam got.“Halah Bilang aja kamu iri karena enggak punya. Makanya kamu ngomong kayak gitu,” sahut Novi. Oh rupanya dia masih nyambung juga apa yang dikatakan Mamah Atik.“Iri, sama kamu enggak lah, ya? Mobil Karimun beli kes lunas juga aku bisa. Kamu pasti kredit 'kan belinya, makanya itu mobil bunyi tit tit tit tit saat masuk ke got,” jawab Mama Atik.“Udah, deh, Mah. Enggak usah diladenin. Ayo, kita pulang saja dari pada Mamah nanti tambah emosi!” Kutarik tangan Mamah Atik agar menjauh dari kerumunan itu.“Eh, kamu
“Duh, capek deh, Roni lagi, Roni lagi? Emang dunia ini penuh dengan Roni. Asih-Asih, Mbok ya, kamu tu, eling, sadar orang itu bukan laki-laki yang baik masih saja kamu telepon-teleponan sama dia,” gerutu Mamah Atik.“Biarin, Mah. Biarin saja yang penting Mbak Asih seneng dari pada dia bengong, sedih, malah kita juga yang bingung.”Aku punya ide agar Mbak Asih berhenti menelepon Mas Roni. Dia kalau sudah berhubungan dengan Mas Roni pasti lupa dengan kami semua, meski kami duduk di sebelahnya.Lebih baik aku matikan Wi-finya saja dengan begitu video call mereka berhenti. Lagi pula Mbak Asih kan, tidak ada kuota, jadi tidak mungkin dia bisa menelepon Mas Roni lagi.“Ita? kok WIFi-nya mati apa mati lampu!” teriak Mbak Asih seraya menghampiriku yang sedang menidurkan Kia di depan TV.Benar saja kan, dugaanku pasti dia akan protes kalau WiFi-nya dimatikan, tapi lebih baik begitu. Mendingan aku mendengarkan omelan Mbak Asih dari pada dia terus terjebak oleh cinta semunya Mas Roni.“Enggak
Baru saja aku hendak keluar Ibu sudah keluar terlebih dahulu untuk menyambut mereka.“Sudah kamu tidurin Kia aja dulu biar Ibu yang menyambut mereka,” kata ibu, aku mengangguk.Kalau didengar dari suaranya sih, memang sepertinya rombongan banyak ada suara anak kecil juga dan itu sepertinya memang suara Mbak Ning.Sebenarnya aku sangat senang dan bahagia saudara-saudaraku mau berkunjung ke sini yang membuat aku mual dan bikin enek adalah mereka ke sini hanya ada maunya saja. Misalnya butuh bantuanku atau hanya minjem duit ya, pokoknya semacam itulah.Sebenarnya berdosa jika aku mengeluh begitu harusnya aku itu bersyukur karena masih dibutuhkan mereka, tapi entah kenapa aku tidak bisa membuang rasa kesal kepada mereka yang datang hanya untuk meminta bantuan sajaAh, pokoknya alasan di hatiku ini campur aduk jadi satu.Meski aku menidurkan Kia, tapi kupingku mawas untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka.Mama Atik dan Mbak Asih cekatan membawa cemilan dan air minum ke depan.
Mendengar pengakuan suami Mbak Ning sebenarnya aku ikut bahagia karena jika Mbak Ning hidupnya enak dia tidak akan menyusahkan orang tua dan saudara, tapi yang tidak enak didengar adalah nada sombong dari suami Mbak Ning. Ibu pun melengos buang muka ketika mendengar jawaban suami Mbak Ning.“Syukur ... alhamdulillah, kalau gitu, Mas. Aku ikut senang kalau Mbak Ning sukses berarti kan, Mbak Ning bisa bantu-bantu saudara yang lain.”“Apa bantu saudara-saudara yang mana yang mau aku bantu? Ingat, ya, Ta, bisnis adalah bisnis enggak ada ikatan saudara kalau mau Mbak bantu, iya, kasih utangan. Ngasih utangan cuma yang ada bunganya, ya, tidak kalah dengan di banklah setiap apa pun perbuatannya harus ada timbal baliknya gitu,” jawab Mbak Ning.“Oh, gitu, Mbak. Ya, barangkali aja, kan? Aku kan, hanya menebak-nebak. Oh, ya, Mbak dan Mas datang ke sini ada keperluan apa, ya?” tanyaku to the point.“Mbak mau minta tolong sama kamu,” jawab Mbak Ning.Kalau sudah ada kata minta tolong entah kena
Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro
"Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah
Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,
“Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela
"Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b
“Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja
Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me
"Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s
"Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din