Baru saja aku hendak keluar Ibu sudah keluar terlebih dahulu untuk menyambut mereka.“Sudah kamu tidurin Kia aja dulu biar Ibu yang menyambut mereka,” kata ibu, aku mengangguk.Kalau didengar dari suaranya sih, memang sepertinya rombongan banyak ada suara anak kecil juga dan itu sepertinya memang suara Mbak Ning.Sebenarnya aku sangat senang dan bahagia saudara-saudaraku mau berkunjung ke sini yang membuat aku mual dan bikin enek adalah mereka ke sini hanya ada maunya saja. Misalnya butuh bantuanku atau hanya minjem duit ya, pokoknya semacam itulah.Sebenarnya berdosa jika aku mengeluh begitu harusnya aku itu bersyukur karena masih dibutuhkan mereka, tapi entah kenapa aku tidak bisa membuang rasa kesal kepada mereka yang datang hanya untuk meminta bantuan sajaAh, pokoknya alasan di hatiku ini campur aduk jadi satu.Meski aku menidurkan Kia, tapi kupingku mawas untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka.Mama Atik dan Mbak Asih cekatan membawa cemilan dan air minum ke depan.
Mendengar pengakuan suami Mbak Ning sebenarnya aku ikut bahagia karena jika Mbak Ning hidupnya enak dia tidak akan menyusahkan orang tua dan saudara, tapi yang tidak enak didengar adalah nada sombong dari suami Mbak Ning. Ibu pun melengos buang muka ketika mendengar jawaban suami Mbak Ning.“Syukur ... alhamdulillah, kalau gitu, Mas. Aku ikut senang kalau Mbak Ning sukses berarti kan, Mbak Ning bisa bantu-bantu saudara yang lain.”“Apa bantu saudara-saudara yang mana yang mau aku bantu? Ingat, ya, Ta, bisnis adalah bisnis enggak ada ikatan saudara kalau mau Mbak bantu, iya, kasih utangan. Ngasih utangan cuma yang ada bunganya, ya, tidak kalah dengan di banklah setiap apa pun perbuatannya harus ada timbal baliknya gitu,” jawab Mbak Ning.“Oh, gitu, Mbak. Ya, barangkali aja, kan? Aku kan, hanya menebak-nebak. Oh, ya, Mbak dan Mas datang ke sini ada keperluan apa, ya?” tanyaku to the point.“Mbak mau minta tolong sama kamu,” jawab Mbak Ning.Kalau sudah ada kata minta tolong entah kena
"Kok, Mbak Ning, sekarang ngomongnya beda lagi? Kemarin Mbak Ning ngomong sama kita begitu kok, aku itu Mbak, enggak berani bohong karena kalau berbohong itu pasti dosa. Mbak Ningg ini enggak mau disalahin!” protes salah satu adik ipar Mbak Ning.“Sudah ah, jangan dibahas dulu itu yang penting kita tanya dulu nih, sama Ita, mau enggak dia itu nampung kalian berdua di sini. Enak loh, kerja sama Ita. Dia itu orangnya baik,” sahut Mbak Ning.“Enggak, Mbak, aku, kan, udah bilang dari tadi. Kalau aku tidak bisa terima karyawan perempuan karena itu banyak alasannya yang sudah aku bilang tadi itu. Maaf ya, Mbak, aku enggak bisa bantu,” jawabku halus.“Kamu itu pelit banget enggak mau bantu saudara sama sekali. Ingat, Ta, harta itu cuma titipan Tuhan, cuma dititipin kedua adik iparku aja enggak mau. Padahal mereka itu di sini mau bantu kamu tenaga mereka dikeluarin untuk kamu.” Mbak Ning bersikeras agar adiknya kerja di sini.“Udah, sih, Mbak Ning, enggak usah kayak gitu loh. Aku juga enggak
"Kalian enakin aja, ya, santai-santai aja Mbak tinggal masuk ke dalam dulu,” ucapku pada kedua adik ipar Mbak, Ning. Mereka mengiyakan. Sebenarnya kasihan juga mereka harus mengikuti aturan yang dibikin oleh Mbak Ning.“Ya, ampun Ita, kamu orang kaya kok, cuma masak oseng kangkung sama goreng ayam doang! Pelit banget sih, orang kaya itu makanannya harusnya yang enak-enak. Meski mulutnya ngomel dan sewot, tpi tangannya cekatan mengambil nasi, sayur, dan lauk lalu memakannya dengan lahap dia tidak ingat suami dan anak-anaknya.“Kalau tinggal makan itu enggak usah banyak protes nanti makanan yang kamu masukkan ke dalam perutmu itu tidak berkah," sahut Mama Atik seraya menoyor kepala Mbak Ning. Bukan hanya saja Mama Atik, Mbak Asih pun ikutan Mama Atik menoyor kepala mbak Ning.Mbak Ning diam saja tetap melahap makanannya. Mungkin dia sungkan pada Mamah Atik atau mungkin juga dia takut pada mama Ati karena tadi waktu masuk ke dapur tidak ada Mamah Atik dan Mbak Asih ini tiba-tiba mer
“Ita, aku mau nanya deh, sama kamu, tolong jawab yang jujur, ya?” Aku mengangguk kalau sudah begini pasti Mbak Ning akan menanyakan sesuatu yang penting.“Ita, kamu pakai pelaris apa? Kok, toko kamu laris banget? Kata suamiku setiap hari toko kamu itu pelanggannya membludak kalau begitu terus kamu bisa kaya dan bisa buka usaha satu lagi.” Aku tidak kaget dengan pertanyaan Mbak Ning karena memang sudah ada beberapa orang yang menanyakan hal itu kepadaku mereka mengira Kami menggunakan pelaris padahal demi apa pun aku menjauhi hal-hal yang sangat dilarang oleh agama.“Mbak, mau tahu aku pakai pelaris apa?” Pancingku dan reaksi Mbak Ning sungguh luar biasa dia sangat tertarik“Iya, dong, mau! Aku juga kan, kepingin sukses kayak kamu, kalau kita sukses orang tua kita juga yang akan senang makanya aku tanya ini sama kamu barangkali bisa aku tiru,” jawab Mbak Ning antusias.“Sungguh beneran Mbak Ning, mau tahu dan mau meniru apa yang aku lakukan? Enggal nyesel nih, setelah aku beritahu?”
"Kenapa, Mbak? Apa ada yang salah dengan yang aku tulis?” tanyaku pada Mbak Ning.“Jadi, ini pelaris yang kamu pakai selama ini, Ta? Kamu mikir enggak sih, pakai otak kamu? Ini namanya bukan pelaris. Ita, pelaris yang aku maksud itu doa jampi-jampi dari orang pintar,” jawab Mbak Ning dari nadanya bicaranya dia sangat marah dan kesal padaku. Aku tersenyum saja menanggapi omelan mbak Ning.“Iya, kan, dari awal tadi Mbak Ning, tanya waktu kita di depan situ aku sudah jawab bahwa aku tidak pakai apa pun, tapi Mbak Ningnya ngeyel makanya aku catat inilah pelarisku selama ini yang aku amalkan. Mas Danu pun mengamalkannya begitu. Mau enggak nih, usahanya berkah, ya, enggak usah pakai jampi-jampi yang enggak jelas. Berdoa langsung sama Allah minta langsung sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” jelasku. panjang lebar.“Sudah si, Ta. Enggak usah ceramah segala kamu di depanku. Pusing deh, ternyata tidak sesuai harapanku sia-sia buang-buang waktu saja tahu enggak!” omel Mbak Ning lagi.“Jadi, yakin
Rasa kesal kepada Mbak Ning dan juga rasa kantuk yang menguasai mataku sirna begitu saja saat aku mendengar suara perempuan itu di HP suamiku.Ini Mas Danu yang ceroboh atau Mas Danu yang dengan sengaja memberikan ponselnya pada Maya atau malah Maya yang sengaja mengambil HP Mas Danu secara diam-diam?Akan tetapi, sepertinya itu tidak mungkin karena kalau mengambil diam-diam kan, ada CCTV dan pastinya Maya akan dituduh sebagai pencuri. Berarti ini memang benar-benar Mas Danu dalam keadaan sadar memberikan HP-nya pada Maya.Baru saja semalam di ruqyah saling meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi sesuatu perbuatan yang menyakiti hatiku ini sudah diulangi lagi, tapi kali ini aku tidak mau gegabah. Aku harus cari informasi lebih dulu.Aku segera mengganti pakaianku lalu berdandan sekedarnya mengoleskan bedak dan juga liptint ke bibirku.Lalu menyambar kunci motor aku akan segera datang ke toko membawakan makan siang pesanan Mas Danu.“Lho, Ita, kamu cantik sekali mau ke man
“Mas Danu dan yang lainnya lagi salat, ya? Kamu kenapa masih main HP. Kan, harusnya kamu salat juga. Orang itu kalau istirahat gunakan waktu semaksimal mungkin! Salat Zuhur, jadi nanti kalau ada ramai pelanggan kalian semua sudah salat,” tegurku pada Maya.“Anu, itu, Ta, aku lagi enggak salat makanya main HP,” jawab Maya. Dasar alasan saja kan, lebih baik dia makan siang dari pada main HP tidak guna begitu.“Ya, sudah kamu sana makan siang kalau nunggu nanti keburu toko rame!” titahku pada Maya.Dia terlihat kesal, tapi dia tetap mengambil kotak bekal di tasnya lalu memakannya tanpa menawariku.Amarahku masih kusimpan. Aku akan meluapkannya nanti ketika ada Mas Danu.Jadi, Mas Danu tidak bisa berdalih dengan alasan apa pun lagi dan aku ingin melihat ekspresi langsung dari keduanya.Waktu menunggu Mas Danu yang biasanya 20 menit terasa sangat cepat sekarang ini terasa sangat lama. Mungkin dikarenakan aku menahan amarah yang mengebu-gebu.“Assalamualaikum ... Masya Allah, Dik, kam
Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro
"Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah
Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,
“Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela
"Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b
“Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja
Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me
"Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s
"Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din