"Tahu begini lebih baik aku tidak izinkan kamu pergi menemani Paman,” sesal suami Evi.“Iya, benar! Bibi juga kalau tahu akan begini tidak akan kasih izin ke pamanmu untuk datang ke sini mencari keponakannya,” sahut bibi seraya mengunyah camilan yang ada di meja.“Ya, kamu enggak bisa gitu juga, Bu. Bapak kan, tujuannya baik,” sahut paman tak terima.“Baik apanya, Pak? Kamu itu pamit pergi hanya dua atau tiga hari. Lah ini sudah mau sebulan enggak pulang, enggak kasih kabar, enggak ninggalin kami uang. Kami harus lontang-kantung kerja untuk menyambung hidup,” kata bibi.“Benar kata, Bibi. Bahkan, rentenir tiap hari menagih utang ke rumah paman sampai rumah disita. Bibi menumpang tinggal di rumahku,” sahut suami Evi.“Apa!” teriak Evi dan paman hampir bersamaan.“Bagaimana bisa begitu, Bu? Rumah disita kita mau tinggal di mana? Utang kita tidak sebanding dengan rumah itu. Kenapa Ibu kasihkan begitu saja?” tanya paman, tampak jelas sekali beliau frustasi.“Salah Bapak enggak kirim uang
Hidup ini sudah sulit, jadi jangan dibuat sulit. Selagi masih lapang, selagi masih ada kesempatan gunakan sebaik mungkin.Terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan apa yang dirasa. Istilah jawanya sawang sinawang. Rumput tetangga lebih hijau.Itulah sebabnya seberapa pun buruknya perlakuan orang padaku, aku akan tetap menjadi orang yang tidak akan pernah mendendam. Tegas boleh, menyakiti jangan! Mawas diri harus, pelit dan kikir jangan!🌸🌸🌸“Mbak ... tunggu dong, jangan buat kesimpulan seperti itu. Mbak kan, enggak tahu sifat asli suamiku. Di depan orang aja baik aslinya jahat. Makanya aku enggak mau lagi jadi istrinya,” ucap Evi beralasan.“Sudah mau sore, Vi. Kami mau masak dan juga salat. Sebaiknya kamu berkemas. Besok kamu harus sudah pergi dari sini,” tegasku.Tak kupedulikan lagi panggilan Evi yang seperti Tarzan di tengah hutan. Dia benar-benar tidak mau pergi dari sini. Lebih baik aku menyiapkan menu untuk makan malam nanti.“Itaaaa ... Danu mana?”“Di kamar, Bu. I
"Iya, Mah. Itu di depan juga ada suami Evi sama anak-anaknya mereka ke sini mau jemput Evi juga.”“Ck, beneran ya, Ta. Kalau mereka malah ikut tinggal di sini Mamah sendiri yang akan turun tangan.”“Sssttt ... Mah, jangan gitu, ah. Enggak baik loh. Bibi ke sini beneran mau jemput Paman.”“Em—maaf ya, Bu, kalau kedatangan kami ke sini tidak berkenan di hati Ibu dan keluarga ini. Saya ke sini memang benar-benar mau jemput suami saya. Biar dia tidak seenak sendiri ninggalin kami begitu saja.”“Suamimu itu memang kebangetan! Sudah numpang, tapi malasan. Sudah gitu banyak maunya. Bagus kalau kamu ke sini mau jemput dia. Jujur aja aku sudah enek sama tingkahnya,” ujar Mamah Atik lagi.“Sembarangan kalau ngomong! Aku tidak mau pulang meski orang satu kampung yang jemput aku ke sini!” sahut paman dari pintu samping.“Beneran Pak, enggak mau pulang? Baiklah kalau gitu aku tinggal telepon saja Nyonya Desi dan ngasih tahu kalau kamu di sini. Ingat Pak, kalau mereka sudah ke sini dan gebukin bap
Sejatinya semua hal memiliki warna pun dengan kehidupan ini. Berkatnyalah kehidupan kita menjadi banyak rasa dan asa.Ujian yang sering kuhadapi kadang putih dan kadang pula hitam tergantung aku memaknainya. Itu pula yang terkadang membuat hatiku bimbang antara perbuatan dan perasaan.Bolehkah jika aku mengeluh? Rasanya hatiku lelah ujian ini bertubi-tubi walaupun aku yakin di luar sana ada banyak kehidupan dengan ujian yang lebih dahsyat dari yang kualami. Satu-satunya yang selalu membuatku kuat dan bertahan untuk tidak berontak adalah lelakiku. Katanya, nikmat yang kami terima tidak sebanding dengan terjalnya sandungan batu kehidupan yang harus kita jalani. Ya, lagi-lagi karena apa yang kami hadapi tidak sebanding dengan apa yang kami punyai. Tubuh lemah yang setiap hari kupeluk kini menggigil kedinginan padahal suhu tubuhnya sangat tinggi. Pada awalnya aku yang ingin sekali melontarkan banyak pertanyaan padanya kuurungkan. Tak tega rasanya jika aku hanya menilai sesuatu dari sat
“Danu bilang apa, Ta?” tanya bapak. Mimik wajahnya jelas sekali menggambarkan kecemasan.“Apa kurang jelas, pengakuan Evi, bukti, dan juga pengakuan anakmu ini?” sela paman.“Pokoknya aku tidak terima meski, Mas Danu itu kakakku, tapi kalau melecehkan begini aku tidak akan bisa terima kita harus tempuh jalur hukum,” sahut Evi. Paman dan suaminya mengangguk setuju. Apa yang kukhawatirkan terjadi juga.“Mas Dani memang jujur padaku kalau mau melakukan tindakan asusila itu .....”“Nah, kan, kurang apa lagi? Tersangka sudah mengaku. Sebaiknya kita cepat-cepat buat laporan, Vi,” sela paman.“Ini kepala isinya apa? Kalau ada orang lagi ngomong didengarin dulu!” Bibi memukul kepala paman.“Mas Danu melakukan itu tidak disengaja, dia mengira kalau Evi adalah aku. Badannya memang panas menggigil kesadarannya tidak sepenuhnya berfungsi. Mas Danu bilang Evi tiba-tiba masuk dan memberi segelas teh. Karena aku biasa melakukan itu, jadi Evi dikira aku,” jelasku. “Bohong! Mas Danu jelas-jelas sadar
“Ita! Ta!”Ibu menggedor-gedor pintu kamarku. Pasti ini ada hubungannya dengan ribut-ribut di depan sana. Pagi-pagi paman dan bibi sudah bikin kehebohan. Hari ini juga mereka harus pergi.Mas Danu semakin parah makanya aku semalaman tidak keluar kamar lagi hingga subuh ini.“Ta, Ita!” panggil ibu lagi.“Iya, Bu?”“Sudah subuhan? Danu gimana keadaannya apa kita bawa ke rumah sakit pagi ini saja?” tanya ibu seraya melongok ke dalam melihat Mas Danu.“Iya, Bu, aku berkemas dulu. Sekalian mau telepon Joko untuk mengantar.”“Kasihan sekali menantu Ibu. Ya, sudah cepatlah bersiap ini Ibu siapkan sarapannya.” Aku mengangguk.Belum juga pintu kututup paman sudah nyelonong masuk.“Paman! Kebiasaan, deh!” tegurku untungnya aku masih pakai mukena.“Ma—af, Ta. A—ku terpaksa! Cepetan kasih aku denda untuk Evi semalam, aku harus bayar cicilan hutang. Itu Nyonya Desi di depan sama anak buahnya. A—ku takut sekali,” ucap paman terbata.Pantas saja pagi-pagi sudah ribut dengan bibi ternyata sudah dita
Bibi panik. Dia langsung lari ke depan.“Mau kabur ke mana lagi, kamu!” bentak orang-orang itu lagi.Lalu selanjutnya terdengar teriakan bibi dan suara pukulan berkali-kali. Sudah kupastikan paman pasti menjadi bulan-bulanan dihajar oleh mereka.“Ampun!” rintih paman.“Lepas Mas, tolong sudah jangan pukuli suamiku!” teriak bibi.Brak!Bibi terbentur pintu. Aku dan Mamah Atik berlari keluar. Kurang ajar sekali mereka main fisik pada perempuan.“Jika terjadi sesuatu pada perempuan ini aku pastikan kalian semua masuk penjara!” teriak Mamah Atik, seketika mereka menghentikan pukulannya pada paman.“Jangan ikut campur!” bentak mereka.“Aku tidak ikut campur, tapi kalian sudah main fisik apa lagi pada seorang wanita. Ingat ya, negara ini negara hukum!” Suara Mamah Atik tak kalah lantang dari mereka.“Ka—lian bilang kal—au aku memberi tahu kebe—radaan suamiku kalian tidak akan kasar pada suamiku nyat—anya kalian malah memukuli suamiku sampai begini,” ucap bibi terbata sambil menangis.Orang
“Aku tidak ada urusan denganmu, Ta. Jangan coba-coba melindungi tukang utang enggak mau bayar!” bentak Mbak Desi. “Aku tidak ikut campur Mbak, aku tadi hanya terkejut saja ternyata dirimu yang jadi rentenir. Silakan saja urus urusanmu dengan orang ini,” jawabku tak kalah sengit.“Taaa ... tolong bayarin dulu utang Paman,” rengek paman seraya memegangi kakiku.“Maaf Paman, aku tidak mau ikut campur urusan Paman. Kan, tadi nyonya Rentenir itu minta sertifikat rumah Paman kasihkan saja, maka semua urusan akan beres!” tegasku. Sengaja aku menekankan kata Rentenir agar Mbak Desi tersinggung. Rupanya berhasil, dia langsung mencebikkan bibirnya.“Beri atau nyawamu akan melayang!” Ancam anak buah Mbak Desi seraya melayangkan tinjunya lagi ke wajah Paman.“Cukup! Tolong jangan pukuli suamiku lagi. Aku akan cari tunggu dulu,” ucap bibi.“Kamu taruh mana, Pak. Cepat bilang. Apa kamu mau mati sia-sia!” bentak bibi. Paman semakin ketakutan.“I—tu, Bu. Sertifikatnya sudah aku gadaikan di Pegadaian,
Wak Tono melotot begitu juga dengan istrinya. Pasti mereka benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan nekat seperti ini mempolisikan mereka berdua.“Sabar Ita, sabar dulu. Kita dengarkan dulu penjelasan Wak Tono. Barangkali itu memang bukan barang milik Wak Tono atau mungkin memang punya dia, tapi tidak untuk dipakai mencelakai kamu ataupun Danu,” bela Mbak Ning.“Kalau tidak tahu apa-apa enggak usah banyak komentar Mbak. Lama-lama mulut Mbak Ning, aku sumpel pakai paku ini. Aku tidak butuh saran dari Mbak Ning dan Mbak Ning tidak usah mencampur urusan rumah tanggaku. Aku sudah benar-benar kesal dan batas ambang sabarku sudah habis, Mbak! Pokoknya aku mau kita selesaikan ini secara hukum. Wak Tono dan istrinya harus benar-benar dihukum dengan setimpal karena ini membahayakan nyawa orang lain,” tegasku. Mbak Ning diam saja mungkin dia takut akan aku masukkan ke penjara juga jika membantah ucapanku.“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Ita. Baik Wak Tono maupun istrinya harus kita pro
"Hentikan! Tolong hentikan dan jangan kamu pukuli suamiku!” sela istri Wak Tono seraya memukul-mukul punggung Mas Danu. Aku yang geram pun langsung mendorong tubuh tua istri Wak Tono hingga dia tersungkur tepat di bawah kaki suaminya.“Jahat! Kalian jahat!” teriak istri Wak Tono lagi dan berusaha bangun untuk menyerangku. Badannya yang gemuk membuatnya susah untuk leluasa bergerak sedangkan wajah Wak Tono sudah babak belur. Wak Tono diseret oleh Pak RT dan beberapa warga ke rumah kami.Istri Wak Tono terus saja meraung-raung menangisi suaminya. Semua saudara-saudara yang sudah terlelap tidur pun terpaksa bangun untuk melihat apa yang terjadi di sini, bahkan ibu mertuaku dan Mbak Lili yang berada di rumahnya pun tergopoh-gopoh menghampiri kami.“Ada apa ini, Ita? Kenapa istrinya Wak Tono menangis begitu?” tanya ibuku.“Mereka itu penjahat, Bu! Ternyata yang meneror keluarga kita selama ini adalah Wak Tono dan juga istrinya. Itu sebabnya istrinya Wak Tono menangis karena Wak Tono sudah
Aku bergegas keluar. Tak pedulikan panggilan Mamah Atik dan juga Ibuku. Rupanya mereka juga belum tidur. Mungkin sedang menyusun rencana untuk acara besok. Sedangkan Dina tadi tidak aku memperbolehkan ikut karena dia harus tetap tinggal di kamar untuk menjaga anak-anak.Teras depan langsung sepi sepertinya bapak-bapak yang ikut mengobrol tadi langsung menuju ke samping kamarku. Ya, Allah aku deg-degan sekali. Takut sesuatu terjadi pada Mas Danu karena dia jalannya saja susah agak pincang kalau dia berduel dengan orang yang mengetuk jendelaku tentu saja dia kalah.Aku yakin sekali bahwa itu adalah manusia, kalau hantu tentu saja tidak akan seperti itu. Mana bisa hantu melakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh manusia. Walaupun ada itu hanya dalam cerita saja.“Wak, kenapa di luar begini? Apa Wak dengar keributan juga?” tanyaku pada istri Wak Tono, tapi istri Wak Tono diam saja justru jalannya terburu-buru menghampiri kerumunan. Rupanya dia pun penasaran sama sepertiku.Memang sih,
“Iya, Din, Betul kata kamu. Makanya tadi pas Mbak ke sana, ya, hanya ngasih saran sekedarnya saja. Sepertinya juga Mas Roni tadi ketakutan karena aku ancam akan kupolisikan kalau masih memaksa Mbak Asih dengan kekerasan.”“Ya, Allah ngeri banget, sih! Mas Roni benar-benar nekat!” ujar Dina.“Ya, begitulah kalau orang sudah nekat pasti segala cara akan dilakukan. Sebentar, ya, Din, aku mau WA Mas Danu dulu. Tadi mau manggil dia enggak enak karena sedang ngobrol sama Pak RT dan juga bapakku.”[Mas, ada yang ketuk-ketuk jendela kamar kita. Sewaktu Dina berniat untuk melihatnya, tapi tidak ada siapa-siapa. Tolong Mas Danu awasi barangkali setelah ini akan ada ketukan selanjutnya.] terkirim dan langsung dibaca oleh Mas Danu.[Iya, Sayang! Ini Mas juga sambil ngawasin saudara-saudara kita. Karena tadi Mas seperti melihat bayangan hitam menyelinap. Mas pikir hanya halusinasi saja.][Iya, Mas. Sepertinya yang meneror keluarga kita mulai beraksi lagi, setelah tiga hari kemarin dia tidak mela
"Mbak, Mbak, itu apa seperti bayangan hitam?” tanyaku pada Mbak Mala. Dia justru memegang lenganku dengan erat. Mbak Mala ketakutan.“Duh, apa, ya, aku pun tidak tahu Ita? Aku takut. Ayo, ah, kita masuk rumah saja!” ajak Mbak Mala seraya menyeret lenganku untuk segera masuk ke dalam rumah.“Itu manusia loh, bukan hantu. Kakinya saja tadi napak tanah, tapi dia tidak melihat kita. Mungkin dia terburu-buru. Ayo, Mbak, kita, intip!” ajakku pada Mbak Mala.“Enggak maulah, Ta, aku takut!” tolak Mbak Mala kemudian dia buru-buru menutup pintu aku pun mengekorinya.“Tuh, kan, Ta, semuanya sudah tidur hanya para bapak-bapak saja itu di depan yang sedang main gaple. Ayolah, kita tidur juga biar besok bisa bangun pagi! Mungkin tadi itu beneran hantu tahu, Ta. Kita sih, malam-malam kelayapan,” ucap Mbak Mala. Lucu sekali ekspresinya dia. Mbak Mala menunjukkan bahwa dia benar-benar ketakutan.“Iya, Mbak Mala tidur sana. Terima kasih infonya nanti kalau misalnya beneran ada apa-apa kita selidiki b
“Mbak Asih, kamu tidak apa-apa, Mbak? Bagaimana perutmu apa sakit? tanyaku khawatir pada Mbak Asih. Mbak Asih hanya menggeleng saja mulutnya terus saja beristighfar. Kasihan sekali. Aku tidak tega melihat dia begini.“Ayo, Ibu, Mbak Lili, Mbak Mala sudah jangan hiraukan Mas Roni dulu. Kita tolong Mbak Asih. Kasihan dia sedang hamil pasti perutnya sakit karena tersungkur begini. Ini pasti Mas Roni kan, yang sudah mendorong Mbak Asih,” kataku lagi. Mereka bertiga bergegas menghampiri untuk membantu Mbak Asih berdiri dan pindah duduk ke sofa.“Iya, benar sekali ini ulah si Roni laknat itu! Padahal Asih sudah menolaknya berkali-kali ini tetap saja si Roni memaksanya untuk kembali. Asih tidak mau lalu si Roni mendorong Asih. Dia itu tidak punya otak dan pikiran padahal Asih sedang hamil besar. Ibu benar-benar benci pada dia. Kalau bisa jebloskan saja Roni ke penjara!” ucap ibu.“Mana bisa begitu, Bu, kalian tidak berhak mengatur hidupku dan juga Asih. Aku ini masih suami sahnya Asih, ja
Aku mengikuti Mbak Mala ke luar rumah dan terpaksa meninggalkan piring makan malamku. Untungnya tinggal sedikit lagi. Gampanglah nanti bisa aku habiskan.Malam ini rembulan memang bersinar terang sekali sepertinya memang hari ini tanggal 15, jadi bulan purnama bertengger cantik di langit malam.Sejujurnya memang dari awal Wak Tono datang ke rumah aku sudah sedikit tidak sreg dengan segala tingkah lakunya. Seperti ucapannya yang terkesan selalu ketus, selalu menyudutkanku dan Mas Danu dan juga seperti mengawasi keadaan rumahku.“Mbak Mala apa beneran tadi Wak Tono ke sini?” tanyaku pada Mbak Mala, dia hanya mengangguk dan terus menggandeng tanganku.“Iya, Ita. Tadi aku lihat Wak Tono tlewat sini terus ke arah sana, ke pohon jeruk kamu dan membakar sesuatu seperti yang aku jelaskan tadi,” jawab Mbak Mala.“Baiklah kalau gitu, ayo kita cek ke sana!” Kami berdua gegas mengecek pohon jeruk yang dimaksud oleh Mbak Mala. Aku menggunakan senter HP untuk lebih menerangi jalanan kami karena me
"Ya, Allah ... sungguh mulia hatimu, Dina. Bapak jadi malu karena tidak bisa mengontrol emosi. Bapak begitu mendengar kabar dari Danu bahwa Wira besok akan menikah sungguh Bapak benar-benar malu. Maafkan kekhilafan Bapak Dina,” ucap bapak dengan tulus.“Iya, Pak. Aku memaafkan semua orang-orang yang menyakitiku karena aku merasa lebih tenang dan damai jika aku berbuat demikian. Sudahlah lebih baik kita jangan bahas Mas Wira lagi nanti selera makanku jadi turun kasihan kan, cucu Bapak dan Ibu, jadi asinya nanti enggak berkualitas kalau aku makannya tidak banyak.”“Iya, iya, betul. Benar apa yang kamu bilang, ya, sudah Bapak kembali ke depan untuk menemui Danu. Kamu tetap di sini dengan ibu dan juga kakak-kakakmu. Terima kasih sudah menjadi menantu Bapak yang baik hati. Terima kasih Dina,” ucap bapak lagi sebelum pergi meninggalkan kamar ini. Matanya berkaca-kaca, tangannya mengelus pundak Dina.Aku tahu Dina pun menahan gejolak yang ada di hatinya itu terbukti dari tatapan Dina yang s
"Ya, Allah, Dina! Kamu yang sabar, ya, sayang? Di sini ada Bulek yang akan selalu membelamu. Apa pun yang terjadi Bulek akan menjadi garda terdepan untuk kamu. Apalagi hanya laki-laki pecundang macam Wira. Bulek akan polisikan dia, sampai bertekuk lutut padamu. Memang Tuhan itu menunjukkan siapa sebenarnya suamimu itu, Dina. Di saat kamu berhijrah ke jalan Allah menjalani hidup menjadi lebih baik justru suamimu perbuatannya makin tidak terkendali. Makin bobrok sehingga melupakan anak istrinya. Tenanglah Dina. Jangan kamu tangisi laki-laki seperti itu. Jangan pernah kamu bersedih karena ulahnya. Allah sudah merencanakan masa depanmu yang jauh lebih indah dari pada ini. Bulek yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Wira. Kamu masih muda, cantik, saleha pasti banyak laki-laki yang jauh di atas Wira yang mau dengan kamu. Percayalah pada Bulekmu ini Dina, kesedihan kamu kesedihan Bulek juga. Sakitmu sakitnya Bulek juga," ucap Mamah Atik seraya memeluk Din