Share

Chapter 59 Persiapan Pesta

Penulis: Sya Reefah
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-21 23:46:29

Di ruang kerja Samuel yang tenang, Dave menatapnya yang duduk di depannya dengan serius.

Setelah beberapa saat, Dave membuka percakapan dengan suara rendah, “Tuan, besok adalah ulang tahun Nyonya Elise. Seluruh keluarga besar akan berkumpul, Nyonya meminta saya agar Tuan menyempatkan untuk hadir.”

Samuel mengangguk pelan, tetapi dalam hatinya ada keraguan yang menggelayut. Dia sebenarnya tidak begitu bersemangat untuk menghadiri acara tersebut.

Keluarga besar Henry terkenal dengan standar tinggi dan ekspektasi yang sulit dipenuhi. Sering kali, pertemuan semacam itu lebih menyerupai ajang pameran kesempurnaan daripada acara keluarga.

Samuel bermonolog dalam hati, merasa ada alasan kuat untuk tidak datang. “Sebenarnya aku sangat malas untuk datang, aku sudah bisa menebak isi acara yang hanya menjadi ajang pamer dan kesempurnaan. Tapi… bagaimana jika Eva di sana?"

Pikiran itu segera tergantikan oleh bayangan wajah Eva. Eva adalah istri Henry, yang sering kali menjadi sasaran kritik pe
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 60 Ketegangan Sebelum Perayaan

    Ryan duduk tenang, menunggu Eva. Ketika pintu terbuka, dia terpaku. Eva muncul dengan riasan yang begitu cantik, wajahnya bersinar dan matanya berkilau.Gaun hitam yang elegan itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, menampilkan keanggunan yang tak terbantahkan. Kulit mulus lengannya terlihat indah, menambah kesan glamor.Ryan terdiam, tidak bisa berkata-kata, terpesona oleh transformasi Eva. Dia tidak hanya terlihat cantik, dia tampak berbeda, seolah mengeluarkan aura baru yang membuatnya tak dapat berpaling.Dalam hati, Ryan merasa bangga, pasti dengan begini, tuannya juga tidak akan bisa berpaling nanti.“Asisten, Ryan, Saya merasa gaun ini terlalu ketat,” keluh Eva sambil menarik sedikit bagian gaun itu agar lebih turun.Gaun hitam yang elegan dan mewah yang dia kenakan itu memperlihatkan lekuk tubuh dan menampilkan punggung mulusnya.Eva merasa sedikit tidak nyaman. Ini adalah pertama kalinya dia mengenakan model seperti ini, dia merasakan ketegangan di setiap gerakannya. Set

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-22
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 61 Gengsi Akut!

    Eva berdiri di tengah kamar hotel megah, dikelilingi oleh kemewahan yang seolah tak ada habisnya. Dinding-dinding berwarna lembut, lampu kristal yang berkilauan, dan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang sibuk. Namun, semua itu terasa hampa baginya.Dia mengamati setiap detail kamar, mencoba mencari ketenangan di tengah hati yang berdegup tak beraturan. “Apa yang akan terjadi nanti?” pikirnya. Dia berusaha menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam dan merasakan udara dingin dari AC yang menyentuh kulitnya.Pikirannya melayang ke pesta yang akan berlangsung. Keluarga besar Henry—keluarga yang selalu membuatnya merasa seperti orang asing, bahkan di rumah mereka sendiri.Kenangan akan ejekan dan hinaan yang terlontar dari mulut mereka kembali menghantuinya. Tak jarang, saat dia mencoba berbaur, mereka malah menganggapnya lelucon, memandangnya dengan sinis."Apakah kali ini mereka akan bersikap lebih baik?" pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Namun, hatinya meragu

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-23
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 62 Gemas Sekali Dengan Pasangan Ini!!!

    Henry merasa dadanya bergetar, campuran cemburu dan ketidakpastian melanda. Dia menatap Eva dengan tajam, hatinya berdebar saat membayangkan Samuel memperhatikan keanggunan istrinya. Dia berusaha terlihat acuh, tetapi jawaban Eva terus bergaung di pikirannya, seolah membenarkan ucapannya. Dalam hati, dia berharap Eva tidak melihat perhatian dari orang lain, terutama Samuel.Henry menahan napas sejenak, berusaha menyembunyikan rasa cemburunya. “Menawan? Mungkin. Tapi gaun saja tidak cukup untuk menarik perhatiannya, lihat saja tubuhmu yang terlihat lurus itu!” jawabnya dengan nada mengejek, meski di dalam hatinya, dia merasa terdesak oleh perasaannya sendiri.Dengan spontan Eva kembali melihat pantulan tubuhnya di cermin. Lurus? Kata siapa?Dia menautkan alisnya, rasanya tidak terima Henry mengatainya. Enak saja! Bentuk tubuh sebagus itu dikatai lurus. Henry mengalihkan pandangannya, berusaha terlihat santai. “Aku hanya bilang, gaun itu tidak ada artinya jika dia tidak bisa melihat

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 63 Ketegangan Dalam Pesta

    Julia tiba di aula hotel menggenggam sebuah kotak kecil berbungkus kecil. Dia bisa melihat Elise tengah berbincang dengan beberapa tamu.Dia menyusun senyum terbaiknya dan berjalan mendekat. “Selamat ulang tahun, Aunty,” sapanya hangat.Tanpa ragu, Julia mencondongkan tubuhnya untuk memberikan ciuman ringan di pipi kanan dan kiri Elise, sebagaimana kebisaan para wanita saat bertemu.Elise tersenyum menerima sapaan itu, matanya memperhatikan Julia dengan perasaan senang. “Terima kasih, Julia. Kau datang sendiri?”Julia mengangguk. “Julia sengaja buru-buru datang hanya ingin menyapa dan memberikan ucapan selamat.” Julia memberikan kontak berbungkus pada Elise. “Julia juga menyiapkan hadiah khusus untuk Aunty. Julia harap Aunty menyukainya.”Elise menerima kotak hadiah dari tangan Julia dengan senyum lebar, menandakan perasaan senang. “Oh, astaga Julia… kau sungguh perhatian. Aunty sangat mernghargainya.”Elise kembali menyambutnya dengan pelukan hangat.Julia tidak bisa menyembunyikan se

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-26
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 64 Ketegangan dalam Pesta 2

    Eva melangkah lebih jauh berniat memilih kursi yang berada di sudut ruangan. Namun dengan cepat Henry menariknya, mendudukkannya di kursi yang tidak jauh dari jarak mereka. Eva menatap Henry dengan bingung. “Kenapa kau menarikku ke sini?” tanyanya, mengernyitkan dahi. Dia merasa seperti ada yang tidak beres dengan sikap aneh Henry yang tiba-tiba itu. Henry terdiam, mencari kata-kata yang tepat. “Aku tidak mau nanti harus berjalan jauh ke depan sana,” jawabnya, matanya berkilau serius. “Tapi aku suka tempat yang tenang. Di sudut itu, aku bisa lebih fokus.” Eva melirik ke arah kursi yang ada di sudut. Henry ikut menggerakkan tubuhnya, menutupi sudut tempat yang dilihat Eva.Eva menatap Henry dengan ekspresi kesal, alisnya berkerut dan bibirnya mengerucut. Di dalam hatinya, pertanyaan muncul, ‘Dia kenapa, sih?’ Perasaannya campur aduk, kebingungan dan frustrasi saling bersaing dalam benaknya.“Biarkan aku ke sana, kau di sini. Lagi pula kehadiranku tidak penting di acara puncak nant

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-27
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 65

    Para tamu mulai menyanyikan lagu yang dipersembahkan untuk Elise.Lilin mulai dinyalakan satu per satu, Elise yang menjadi bintang di acara itu tersenyum lebar. Dia menatap lilin-lilin di depannya, lalu menarik napas sebelum meniup lilin itu dengan sekali hembusan. Para tamu bersorak riuh, dan ledakan konfeti melayang di udara. Elise tersenyum lebar, merasakan bahagia tak bisa diutarakan. “Sekali lagi selamat, ya….” Para tamu dan kerabat kembali memberikan ucapan selamat padanya. Setelah acara tiup lilin selesai, aula megah itu kembali dipenuhi oleh suara denting gelas kristal dan tawa hangat para tamu.Acara itu dipenuhi dengan tawa dan keriuhan para tamu undangan serta kerabat yang berbaur dalam kebahagiaan. Musik merdu mengalun di udara, bercampur dengan suara gelas-gelas yang bersulang dan percakapan riuh rendah. Di tengah semua kemeriahan itu, Eva duduk terpencil, jauh dari sorotan dan keramaian. Hatinya terasa hampa, seolah tidak mampu merasakan kehangatan yang menyelimuti p

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-29
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 66 Gara-Gara si Ular

    Julia tersenyum ke arah Henry, berusaha menarik perhatiannya. Dengan gerakan natural, dia berusaha ikut bergabung dalam pembicaraan, berharap kehadirannya bisa mengalihkan pikiran Henry dari Eva. Dengan sengaja, Julia memilih posisi strategis, agar bisa menutupi pandangan Henry dari sudut ruangan, di mana tempat Eva berada.Henry dan para kolega bisnisnya memandang ke arah Julia. Bibir Julia tertarik ke atas membentuk senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Senyumnya yang indah membuat para kolega Henry menatapnya kagum. Vincent tersenyum, lalu menyapa, “Owh, halo, Nona Julia. Senang bisa bertemu Anda kembali.” Alex ikut menimpali, “Lama tidak jumpa, hari ini Anda terlihat memukau, Nona Julia.”Mereka tahu siapa Julia, orang yang berperan membantu pekerjaan Henry selama di kantor. Wajah dan namanya sudah tidak asing di kalangan para kolega Henry. Julia tersipu dengan pujian Alex. “Senang juga bertemu dengan kalian, Tuan-Tuan.” Nada suaranya terdengar lembut dan sopan. Orang-or

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-31
  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 67 Terkurung

    Eva yang berada di dalam kamar mandi itu segera mengeringkan tangannya menggunakan tisu dengan cepat. Dia merasakan ketidaknyamanan yang menggelayuti hatinya, tetapi dia harus tetap kembali ke pesta.Suasana riuh di dalam aula seolah memanggilnya untuk segera kembali. Dengan satu tarikan napas, ia berusaha menyingkirkan keraguan dan melangkah ke arah pintu.Tangannya terangkat menarik gagang pintu, tetapi pintu kamar mandi itu tidak bisa dibuka. Dia mencoba berkali-kali, tapi pintu itu tak kunjung terbuka.“Terkunci?” ucapnya terkejut.Eva menggedor pintu itu dari dalam kamar mandi, berharap ada seseorang di luar sana yang membukakan pintu untuknya. “Apa ada orang di luar?”“Halo! Apa ada orang di luar?” Dia melakukannya lagi. “Tolong bukakan pintu untukku. Siapapun itu.”Upaya yang dia lakukan tidak membuahkan hasil. Tak ada satu orangpun yang menyahutinya.Eva kembali menggedor pintu. Kali ini, dia melakukannya sedikit lebih keras. “Siapapun di luar, tolong bukakan pintu!” teriaknya

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02

Bab terbaru

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 149 Eva Adalah Kewajibanku

    Henry memerhatikan Eva yang terlihat memalingkan pandangannya, seolah tidak melihat kehadirannya. Biasanya dia paling tak peduli dengan reaksi Eva selama ini, dan sekarang, dadanya terasa sesak ketika istrinya tak melihat keberadaanya. “Ayo kita berangkat,” ajaknya dengan suara lembut. “Tidak perlu!” Eva berbalik. “Aku bisa berangkat sendiri.”Eva melangkah dengan mantap, bersiap pergi tanpa menoleh lagi. Namun, sebelum dia sempat menjauh, Henry dengan sigap meraih tangannya."Tidak ada penolakan!” tegasnya. Dia menggenggam tangan Eva erat, lalu menuntunnya menuju mobil.Eva ingin menolak, tetapi genggaman Henry terlalu kuat, membuatnya enggan berdebat lebih jauh. Akhirnya, dia membiarkan pria itu membawanya pergi.Selama perjalanan, keduanya terdiam. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, sementara tatapan Eva terarah ke luar jendela. Henry, di sisi lain, sesekali meliriknya, ingin mengatakan sesuatu tetapi menahan diri.Akhirnya bersuara, suaranya rendah dan penuh perhatian. "B

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 148 Prioritas Utama

    Henry duduk di kursi kebesarannya, matanya menatap layar proyektor yang sedang menampilkan presentasi. Rapat penting tidak bisa ditunda. Namun di tengah-tengah fokusnya, ponselnya berdering memenuhi ruangan. Semua yang ada di ruangan itu mengikuti asal suara ponsel itu. Tak ada yang berani melayangkan protes padanya. Henry melirik ke layar ponselnya dengan sedikit malas. Hanya satu orang yang berani mengganggunya dalam jam-jam seperti ini, yaitu mamanya. Dia meraih ponsel, kemudian bangkit dan meminta para karyawannya itu melanjutkan pembahasannya. “Halo, Ma,” jawabnya dengan setengah malas. Di ujung telepon, terdengar suara lembut, tapi begitu tegas. “Di mana kamu? Cepat datang ke rumah sakit! Julia sedang membutuhkanmu di sini!”“Kenapa harus Henry?” jawabnya dengan datar. “Dia sudah berbuat baik pada kita, Henry! Dia baru saja mengalami kecelakaan, kita harus balas kebaikannya. Mama mau kamu datang dan merawatnya.” Elise berbicara tanpa jeda, seolah tak membiarkan Henry meno

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 147

    Tak Ada niatan untuk Henry mengalihkan pandangannya dari Eva. Dia bisa merasakan setiap kata yang keluar dari mulut Istrinya itu penuh makna. Nada suaranya terdengar lembut, seolah tulus memberi saran untuknya. Akan tetapi, Henry bisa merasakan nada sarkasme yang tersimpan di dalamnya. “Kau terlihat begitu peduli padanya,” katanya pelan, nada suaranya terdengar datar, tetapi matanya menelisik ekspresi Eva. Eva mengangkat bahu dengan bersikap santai. “Aku hanya mengatakan faktanya. Bukankah memang itu yang terjadi? Kau selalu menjadi penyelamatnya. Atau mungkin … itu hanya kebetulan yang selalu terulang?” Henry menghela napasnya, mencoba menahan kesabarannya. Setiap perkataan Eva itu seperti belati untuknya. Kata-kata yang keluar itu menunjukkan bahwa dia sangat tidak becus berada di sisi Eva selama ini. Henry mengeram pelan, matanya lurus menatap Eva yang tampak santai menikmati makanan miliknya. Ingin sekali dia menyangkalnya, ingin sekali mengatakan jika istrinya itu terlalu be

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 146

    Henry tersenyum penuh kemenangan, dia tak mau tahu, saat itu juga, kalung itu harus berada di tangannya. Setelah negosiasi panjang, akhirnya, kalung itu berada di tangan Henry. Tak mau menunggu, saat itu juga Henry memakaikan kalung itu pada Eva di depan semua orang. Semua tamu yang hadir dibuat terkejut, saat tahu dia memakaikan kalung itu pada seorang wanita. Apa itu Istrinya?Wajar dia bersikap seperti itu, Istrinya benar-benar cantik!Aku kira dia bersama Sekertarisnya tadi!Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?Yang lebih mengejutkan mereka adalah kemunculan Eva di publik. Selama kedatangannya bersama Henry, banyak yang tidak menyadarinya. Mereka berpikir, dia adalah Julia. Akhirnya, mereka tahu bagaimana wajah Istri dari CEO perusahaan terkenal di kota mereka. "Henry…?" suara Eva sedikit ragu, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun, Henry tidak menjawab. Dia memandangi kalung yang terpasang di leher Eva, tidak peduli semua orang menatap ke arahnya. "Ini …

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 145

    “Tuan Henry, mungkin lain kali kita harus bertemu. Saya akan membawa Istriku juga.” Pria itu begitu semangat. Istrinya, yang banyak menghabiskan waktu di rumah pasti akan senang bertemu dengan Eva. Henry terkekeh pelan. Dia pun menyetujui ucapan pria itu. “Saya setuju.”Pria itu tersenyum lebar, wajahnya begitu antusias. “Saya yang akan mengaturnya. Saya yakin para Istri pasti langsung akrab, dan pertemuan kita akan menyenangkan.” “Saya akan menunggu kabar Anda selanjutnya, Tuan.”“Kalau begitu, mari duduk dan nikmati acaranya, Tuan,” ujar pria itu sambil memberi jalan bagi mereka.“Terima kasih banyak,” kata Henry dengan nada halus, menyunggingkan senyum yang sedikit lebih santai.Pria itu membalas dengan senyum tipis, memandang mereka sejenak sebelum beranjak pergi, menyisakan mereka berdua di kursi VIP, dikelilingi oleh kemewahan acara yang sedang berlangsung. Suasana terasa nyaman dan eksklusif, meskipun Henry dan Eva tidak bisa mengabaikan tatapan-tatapan yang mulai tertuju pa

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 144

    Eva duduk di sofa dengan terkulai, matanya terpaku pada ponsel yang ada di tangannya. Dia memandang pesan yang baru saja dia kirimkan pada Samuel. Pesan yang selalu dia kirim dengan penuh harapan, meski tak pernah mendapat balasan. Terakhir kali mereka berinteraksi melalui telepon Henry, sejak saat itu, tak ada tanda-tanda Samuel membalas pesannya. Orang yang dulu selalu ada untuknya, kini tiba-tiba berubah. Tak ada kata-kata, tak ada jawaban, hanya ruang hening yang menyelimuti keduanya. Eva hanya ingin melihat kondisi Samuel, dia merasa banyak hutang budi dengan pria itu di saat semua hidupnya terombang ambing dalam ketidakpastian. Eva tampak berpikir keras. Perasaannya bimbang, antara harus menghubungi Samuel, atau membiarkan pria itu dengan dunianya. Dia merasa bingung. Perubahan sikap Samuel begitu cepat dan tiba-tiba. Sekarang, terasa Samuel tengah menjauh. Wajahnya tampak lesu, dan perasaannya begitu berkecamuk. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Atau, dia beg

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 143

    Pagi ini, Henry datang ke kelas memasak dengan semangat tinggi. Ruangan dapur berkilauan dengan peralatan masak yang tertata rapi. Aroma rempah-rempah yang tercium samar, memberikan suasana yang hangat dan menyenangkan."Selamat datang, Tuan Henry!" sapa Chef Miles dengan ramah.Henry mengangguk. “Apa yang akan kita masak hari ini?" tanyanya tanpa berbasa-basi. Hari ini adalah hari pertamanya untuk mengikuti kelas memasak, dan terlihat dia sudah tidak sabar untuk memasak sendiri. Chef Miles tersenyum lebar melihat antusias Henry. "Kita akan mulai dari resep sederhana, Tuan. Kita akan membuat salad segar dari sayuran dan saus sederhana. Semua bahan sudah tersedia di meja. Yang perlu Anda lakukan hanyalah mengikuti instruksi dari saya," jelas Chef Miles sambil menunjukkan meja berisi sayuran.Chef miles memilih untuk dengan sesuatu yang mudah, membuat salad sayur yang sederhana. Meski itu terbilang mudah, dia tahu betul bahwa memasak bisa menjadi hal yang membingungkan bagi pemula.H

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 142

    Eva kembali menatap piringnya, sendok berikutnya terasa lebih lembut dan akrab. Setiap gigitan menghidupkan kembali kenangan yang hampir terlupakan di dapur ibunya. Suara obrolan ringan yang menyelingi waktu makan malam, hingga pelukan hangat yang selalu datang setelah mereka selesai makan bersama."Terima kasih," ucap Eva pelan tanpa menoleh, suaranya penuh dengan rasa syukur yang tak terucapkan.Henry memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajahnya yang terlihat lebih tenang. “Untuk apa?”“Sudah membawaku ke sini,” jawabnya sambil menatap piringnya. “Aku hampir lupa bagaimana rasanya. Tapi akhirnya aku bisa mengingatnya lagi.” Kata-katanya begitu tulus.Sesimpel itu? Henry menghela napas perlahan, senang melihat cahaya lembut kembali ke mata Eva. Di momen itulah Henry menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi begitu berarti. Wajah Eva yang biasanya datar dan diselimuti dengan emosi kini tampak tenang. Senyumnya yang tidak pernah muncul saat bersamanya, kini terlihat lembut dan tulu

  • Tuan Pewaris, Nyonya Memilih Pergi    Chapter 141

    Henry mengemudi dengan fokus, sementara Eva duduk tenang di sebelahnya. Mobil melaju mengikuti arus lalu lintas yang ramai, dan sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil tampak sunyi. Sesekali Henry melirik ke arah Eva, dan pada akhirnya, Henry mulai membuka suara, “Kenapa tidak izin kalau kau keluar?” Eva menoleh, mengerutkan kening. “Aku tidak mau mengganggu waktumu,” jawabnya singkat.Henry kembali bersuara, “Kenapa kau menolak pengawalan yang kuberikan untukmu?” “Aku tidak perlu pengawalan,” jawabnya santai. “Terlalu mencolok, dan itu membuatku tidak nyaman saat di luar.”Henry menghela napas panjang, matanya tetap fokus mengarah ke depan. “Aku sengaja menempatkan mereka untuk menjagamu. Anggap saja mereka tidak ada bersamamu. Keselamatanmu lebih penting.” Eva terdiam mendengar pernyataan Henry. Kata-kata itu terngiang di benaknya. Dia menoleh perlahan, mencoba mencari ekspresi di wajah Henry, tetapi pria itu tetap menatap lurus ke depan dengan wajah penuh keseriusan.Hat

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status