terima kasih sudah membaca ya 🤗 jangan lupa follow 1nst4gram othor @almiftiafay untuk melihat visualnya, tinggalkan komentar dan ulasan di depan. kirim gems juga untuk othor biar semangat update 🤗 maaciww
Laura terdiam, benaknya ditumbuhi oleh kemelut akan penafsirannya sendiri, bahwa barangkali sejelas itulah Jake memperlakukannya di depan banyak orang. Sebuah hal yang bahkan disadari oleh Zafran hingga membuat pria bersurai hitam di hadapannya ini geram dan mengolok-olok Jake seperti orang gila. Laura sedikit memalingkan wajahnya, memandang pada buket bunga daffodil yang ada di atas meja sebelum kembali pada Zafran yang menyebut namanya saat bertanya, “Apakah malam itu kamu baik-baik saja, Laura?” Manik mata mereka bertemu, Laura melihatnya sedikit mengerutkan alis, “Jake tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu, ‘kan?” “Tidak, Pak Zafran,” jawab Laura. “Maaf sekali lagi karena sudah membuat keributan malam itu.” Zafran menundukkan kepalanya dengan sopan, seolah itu adalah caranya mengekspresikan maaf yang tulus. “Aku justru berterima kasih pada Pak Zafran,” tanggap Laura yang membuat Zafran mengangkat wajahnya dengan cepat, teriring dengan salah satu alis lebatnya yang terang
‘Bukan hanya murka,’ kata Laura dalam hati. ‘Itu bisa jadi bencana.’Laura tahu betul akan semarah apa Jake jika pria itu tahu ia membuat acara seperti ini.Laura kembali memandang wanita itu. “Kenapa mereka membatalkan secara tiba-tiba?” tanya Laura, suaranya serak dan gemetar. Tania yang berdiri di sebelahnya mencoba menenangkannya. “Atau mereka akan datang sedikit lebih lambat, Non?”“Tidak, Tania. Aku membaca jadwal yang diberikan sama orang EO itu kalau harusnya mereka sudah siap setengah jam yang lalu.”Laura menghela napasnya. Ia melihat seorang pria yang beberapa waktu lalu bertemu dengannya untuk membicarakan berlangsungnya kegiatan hari ini dengan wajah yang cemas.“Maaf, Bu Laura,” katanya begitu ia berhadapan dengan Laura. “Kami tidak bisa menghubungi model-model itu. Kami juga sedang menghubungi anggota tim kami yang bertanggung jawab atas para model itu.”Tapi jika itu berhasil pun, tidak memungkinkan kegiatan berlangsung dengan segera.Dan orang-orang pasti tidak mau m
Laura menunduk, menghapus darah di hidungnya dengan cepat. Tetapi tiba-tiba Jake menghentikan tangannya. Jemari besar pria itu kini melingkar di pergelangan tangan Laura.Kebisuan memeluk mereka selama beberapa detik hingga Jake menghancurkan keheningan itu.“Ada apa, Laura?” tanyanya. “Kenapa hidungmu berdarah?”Laura tak ingin menjawab. Ia menepis tangan Jake, tetapi itu tak membuahkan hasil karena yang ada Jake mencengkeramnya semakin erat.“Jawab aku!” titahnya.Laura mengangkat wajahnya, menemukan manik mata Jake yang kelam menatapnya menunggu jawaban.“B-bukan apa-apa,” jawab Laura gugup.“Bohong!” sahut Jake, kedua alis lebatnya berkerut.Laura pikir … sepertinya Jake tidak akan percaya begitu saja kepadanya. Sehingga ia harus menemukan kalimat bantahan yang tepat.“K-kalau kamu berpikir aku bohong, memangnya kamu tahu apa yang terjadi padaku?”Jake membuang napasnya dengan sedikit kasar, kedua bahunya yang bidang jatuh bersamaan saat ia melakukan itu. “Jadi beri aku jawaban y
Jake mendengus. “Kenapa aku harus menikahi Fidel?”“Kenapa lagi memangnya?” tanggap sang ibu. “Tentu saja karena dia datang dari keluarga yang baik dan terpandang. Dulu kamu juga sempat berpacaran dengannya, ‘kan?”“Itu sudah berakhir sangat lama, Mam.”“Mama yakin dia adalah wanita cerdas dan bisa menjalani kodratnya sebagai wanita dengan memberi keturunan untuk keluarga kita, Jake.”“Tahu dari mana Mama jika dia pasti bisa melakukan itu?” tanya Jake, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sementara Alina masih tak henti menatapnya.“Karena Fidel tidak menjalani pengobatan jangka panjang seperti Laura,” jawabnya. “Artinya, jika Laura tidak menjalani pengobatan jangka panjang, maka dia juga memiliki kesempatan untuk menjadi wanita yang sempurna, begitu?”Alina bergeming, tak menjawab anak lelakinya yang seolah sedang mengatakan agar ia berhenti membandingkan antara Laura dan mantan pacarnya itu.“Tidak juga,” sahut Alina tiba-tiba. “Mungkin saja dia memang benar-benar wanita mandu
Pagi hari ini, Laura sedang berada di luar rumahnya. Usai menghabiskan makanan yang ia paksa telan karena sejak semalam ia tak makan, ia melakukan kegiatan untuk mengurangi kebosanan.Kegiatan kecil yang setidaknya membuat kakinya tetap bergerak serta tidak terpaku duduk diam di satu tempat saja.Ia sedang memotong tangkai bunga, membuang yang kering dan menjaga yang masih segar.Tangannya yang sedari tadi sibuk bergerak dan kakinya yang berjalan mendadak berhenti saat di pikirannya terlintas sebuah tanya, ‘Kapan pengadilan akan memanggil aku dan Jake untuk mulai proses perceraiannya?’Laura akan tanya pada Elsa nanti. Ia lupa menanyakan, kapan persisnya sejak berkas perkara didaftarkan ke pengadilan hingga datangnya surat panggilan.“Kenapa melamun?” tanya sebuah suara bariton yang mengejutkan Laura.Ia menoleh ke sebelah kanannya dan kedua matanya membola melihat siapa yang tengah berdiri di halaman rumah tanpa ia dengar kedatangannya itu.“P-Pak Zafran?” sebutnya gugup.“Selamat pa
‘Jadi benar selama ini mereka memang menjalin hubungan?’ tanya Laura dalam keheningan. Meski hatinya sakit melihat pemandangan yang ada di depan matanya, ia tak ingin mengambil hati. Ia tak ingin mempedulikan keberadaan baik itu Jake, Fidel, atau bahkan Alina.Laura menoleh pada Zafran, ingin memintanya untuk mencari jalan yang lain agar mereka bisa segera pergi dari sini secepatnya. Tapi saat Laura menemukan manik mata cokelat gelap milik pria itu, sepertinya Zafran juga sudah mengetahui keberadaan Jake di sana.Zafran membuang napasnya dengan kesal, seolah benci dengan kebetulan yang tidak menyenangkan ini.“Kita lewat sana saja, Mam!” ajak Zafran, menunjuk ke arah lain.Meski ibunya bingung karena anak lelakinya bermanuver secara tiba-tiba, tetapi Ema menurut. Ema juga meraih tangan Laura agar mereka mengambil jalan yang lain yang ditunjuk oleh Zafran.Mereka tiba di sebuah kafe di sudut food court. Zafran memastikan Laura duduk dengan nyaman terlebih dahulu barulah kemudian ia
Laura bisa merasakan tangan Jake yang melingkar di pergelangan tangannya menegang saat Zafran mengatakan agar Jake melepasnya Jake tertawa lirih, rahangnya menggertak saat ia menatap Zafran. “Kamu tidak berhak melarangku menyentuh istriku sendiri, Zafran Almair Roya!” Zafran ikut tertawa, menyiratkan ekspresi mencemooh yang kental di balik senyumnya kala netranya yang kelam masih beradu dengan manik mata Jake. “Jika Laura istrimu, lalu kenapa kamu pergi dengan mantan pacar dan ibumu ke wedding exhibition, Jake?” tanyanya. “Setidaknya jelaskan itu dulu sebelum kamu berbicara seolah Laura sedang melakukan dosa besar dengan makan di sini bersamaku dan menariknya dengan kasar seperti ini!” lanjutnya penuh penekanan. “Kamu dan Laura pun tidak ada bedanya sebenarnya,” tanggap Jake. “Karena Laura datang ke sini dengan pria lain juga saat status kami masih sebagai suami dan istri.” Jake memandang laura yang tak hentinya menatapnya dengan penuh kebencian. “Laura datang ke sini karena Ib
“Fidella—”“Melihatmu seasing ini ….” Fidel menjeda bicaranya, gadis itu menunduk dan meremas jemarinya. “Aku yakin kamu pasti lupa bahwa aku pernah menyelamatkan hidupmu,” lanjutnya. “Makanya sekarang kamu membenciku.”“Aku tidak membencimu, Fi,” tanggap Jake. “Dan aku tidak akan melupakan bahwa kamu pernah menyelamatkan hidupku.” Fidel tertawa lirih, ia kembali mengangkat wajahnya.Jake bisa menemukan manik cokelatnya yang tampak mengkilat tetapi itu karena netranya terbingkai oleh air mata.“Tapi kamu berubah, Jake.”“Apa yang berubah dariku memangnya? Aku hanya—““Jake yang aku kenal tidak akan pernah membentakku,” potongnya. “Baiklah—” ia tersenyum tegar. “Aku dan Tante Alina bisa pulang sendiri.”Fidel berjalan pergi meninggalkan Jake yang mematung di tempatnya. Sedangkan kepala pria itu berputar untuk melihat ke arah lobi, tempat di mana Laura berdiri di sana sebelumnya tetapi kini ia tak tampak lagi.‘Dia sudah pergi naik taksi?’ tanyanya dalam hati.Jake membuang napasnya,