Hamamatsu, prefektur Shizuoka.
Seorang gadis berambut panjang bernama Hachiya Hatsuki berjalan masuk ke sebuah rumah mewah yang letaknya jauh dari perkotaan. Rumah tersebut dikelilingi pagar tinggi dan pohon-pohon besar di bagian sampingnya. Dengan muka lelah, gadis itu pun disambut oleh seorang perempuan tua yang merupakan pelayan di rumah keluarga tersebut.
“Okaerinasai, Hatsuki-san.” kata si perempuan dengan ramah.
“Tadaima.” Hatsuki membalas dengan senyuman lebar. Ia pun melangkah masuk, dan mendapati seorang lelaki tua berusia 65 tahunan tengah asyik menonton TV. Lelaki itu adalah Hachiya Takaya, lelaki yang pernah bermain golf bersama Arata. Menyadari kehadiran Hatsuki, lelaki itu pun langsung tersenyum.
“Ah, kau sudah pulang ya?”
“Yah meskipun agak lelah. Ayah, bukannya ini saatnya aku tinggal saja di Tokyo? jarak Tokyo ke Shizuoka cukup membuatku lelah kalau pulang-pergi seperti ini.” pinta Ha
“Hasumi.. “Chika mendekatkan bahunya sambil berbisik ke arah Hasumi yang sedari tadi sibuk menatap sosok pria di depan sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.“Aku tahu ketampanannya menandingi anggota boy band, tapi kalau kau melihatnya begitu terus nanti sensei risih, lho.” bisik Chika.Hasumi yang mendengar itu langsung jadi sadar. Kini mereka sedang ada di kelas, mendengarkan materi yang Arata bacakan melalui sebuah buku. Sejak beberapa waktu lalu, Hasumi terus saja memandangi Arata. Bukan dengan tatapan kagum atau terpesona, tapi dengan tatapan heran. Sejak hari kencan mereka waktu itu, Hasumi merasa kalau Arata jadi agak berbeda.Bisa dibilang, jadi agak murung.Setelah kelas usai, Hasumi meminta Chika pergi duluan. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung mengikuti Arata ke ruangannya. Saat melihat Hasumi datang, Arata hanya melirik sekilas ke pintu masuk tanpa berkata apa-apa.“Sensei, apa sensei sed
Di antara butiran salju tipis yang menghujani, dua orang manusia masih saling bertatapan. “Bagi sensei, aku ini apa?” Kata-kata itu terdengar seperti suara angin lembut yang berhembus tepat di telinga. Arata bisa mendengarnya dengan jelas, tapi ia sendiri tak tahu jawabannya. Kalau ditanya status, mungkin ia akan menjawab ‘dosen dan mahasiswa’ atau bahkan ‘tunanganku’. Tapi masalahnya, Hasumi malah menanyakan hal yang belum bisa Arata jawab dengan pasti. Ia menganggap Hasumi apa? adik? tunangan? atau mahasiswa didik? Hasumi berusaha mencari jawaban itu dalam mata Arata, tapi yang ia lihat hanyalah kebingungan. Mungkin benar kata Risa, Hasumi yang tak tahu apa-apa ini mungkin akan kecewa, dan tak sepantasnya ia berharap apa pun. “Kalau aku menganggapmu adik, kau marah tidak?” Hasumi terpaku. Dadanya terasa seperti ditusuk jarum, agak perih. Meskipun begitu, gadis itu berusaha tersenyum lebar. “Aku bercanda, kok. Kenapa muka sens
“Saat umurku masih 20 tahunan, aku bekerja sebagai asisten pribadi tuan Gouto. Menurutku beliau sangat baik, meskipun dari luar terlihat galak dan keras kepala. Beliau pernah menceritakan soal perjanjian kedelapan, katanya itu perjanjian dua orang sahabat di masa lalu yang ingin menyatukan keluarga dengan menikahkan anak-anak mereka. Fujiwara Tarou dan Tanizaki Junichiro, merekalah dua sahabat yang dikenal sebagai pendiri universitas Ryosei sekaligus pebisnis yang mempunyai banyak sekali koneksi. Dengan pernikahan keluarga, mereka berharap bisa.. uhuk uhuk.. “Kazuma tersedak. Dengan cepat, Arata memberinya segelas air.“Maaf maaf, habisnya pai ini sangat enak. Sebentar ya, aku mau pesan satu lagi.”Arata hanya bisa mengangguk, meskipun ia sangat penasaran dengan kelanjutannya.“Baiklah kita lanjutkan. Sampai mana ya?”“Apa yang diharapkan dari pernikahan keluarga.” jawab Arata.“Oh ya it
Hasumi tersenyum seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Dress warna merah muda pilihan Misaki waktu itu terlihat sangat cocok di tubuhnya. Sebelumnya, dress warna ungu muda yang dipakai saat ulang tahun Gouto juga sangat disukai Hasumi. Semua barang-barang pemberian Misaki secara ajaib selalu membuat gadis itu terpana karena ukuran, warna dan modelnya sesuai dengan selera Hasumi.Meskipun sudah bisa memakai make up, Hasumi masih belum pandai menata rambut. Makanya, di pesta ulang tahun Arata hari ini, Hasumi memutuskan untuk mengurai rambutnya. Agar tak kelihatan terlalu sederhana, ia menambahkan jepitan rambut warna perak di sisinya.“Yosh!”Hasumi tersenyum lebar, tak sabar menghadiri pesta hari ini. Tanpa ia sadari, Hirotaka sudah berdiri di ambang pintu kamarnya yang terbuka sambil menyilangkan tangan di depan dada.“Wah, sejak kapan bidadari ada di sini?” godanya.“Ayah lebay.” jawab Hasumi sambil menole
“Apa?!”Misaki dan Arata terpekik bersamaan saat Gouto bilang mereka akan pergi ke Shizuoka akhir minggu ini untuk membicarakan soal perjanjian keluarga.“A-ayah percaya begitu saja dengan ucapan laki-laki itu?” mata Misaki berkaca-kaca. Ia benar-benar tak percaya sekaligus kesal mendengar penjelasan Gouto barusan yang intinya menyatakan kalau Hasumi bukanlah gadis yang ‘ditakdirkan’.“Bukankah lebih masuk akal untuk percaya pada mereka yang punya bukti kuat daripada gadis asing yang baru kita temui?” sindir Gouto.“Tapi mereka juga orang asing, lho! ayah baru bertemu dengan mereka hari ini ‘kan?” Misaki tak mau kalah.“Misaki! apa kau sadar betapa pentingnya bagi kita untuk memilih gadis yang benar demi perjanjian itu?!” nada bicara Gouto meninggi, membuat Misaki langsung terdiam.“Pokoknya kita harus pergi ke sana untuk melihat semua bukti yang mereka punya
Tokyo, ketika Arata masih berumur 17.Lelaki berseragam SMA itu berlari sekuat tenaga, meninggalkan rumah sakit besar tempat adiknya dirawat. Dulu. Sekarang, ia sudah tak punya adik lagi setelah dokter baru saja mengabarkan kalau adiknya sudah meninggal. Semua anggota keluarga Arata masih ada di dalam, menangisi kepergian Keiko yang dirasa sangat mengguncang.Gadis itu masih berumur 15 saat ia dinyatakan meninggal karena kanker. Belum sempat merasakan kehidupan SMA, belum sempat menapaki kehidupan orang dewasa, belum sempat merasakan indahnya jatuh cinta, dan bahkan belum sempat mengucapkan kata-kata perpisahan untuk kakak kesayangannya.“Keiko.. kenapa kau pergi secepat ini?” Arata terus bergumam sambil melangkahkan kaki.Tak terasa, Arata sudah berada jauh dari rumah sakit tersebut. Kini ia ada di sebuah pinggiran sungai, sedang duduk memeluk lutut sambil mengenang semua momen yang ia lalui bersama adik kesayangannya.Kemarin, mereka
Akhir-akhir ini, Hirotaka sering bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan anaknya. Sejak beberapa hari yang lalu, Hasumi banyak mengurung diri di kamar. Sekalinya keluar untuk makan pun pasti matanya sembap hingga membuat Hirotaka benar-benar khawatir. Ia ingin sekali bertanya, tapi selalu urung karena takut menyinggung perasaannya. Akhirnya Hirotaka hanya bisa menunggu waktu yang tepat sampai Hasumi mau menceritakannya sendiri. Pagi ini, Hirotaka dibuat kaget saat melihat Hasumi keluar kamar sambil membawa sebuah ransel seperti mau bepergian jauh. “Kau mau ke mana?” tanyanya saat Hasumi menuruni tangga. “Ah, aku mau.. memancing.” jawab Hasumi terpaksa berbohong. “Di musim dingin begini?” Hasumi mengangguk. “Bersama Chika.” tambahnya. Hirotaka awalnya ragu, namun saat ia mendengar nama Chika perasannya jadi agak lega. Mungkin Hasumi ingin refreshing dan akan jadi baikan setelah pulang nanti, pikirnya. Hirotaka akhirnya memberi iz
Jam menunjukkan pukul setengah 6 petang. Di ruang tengah, semua anggota keluarga Tanizaki kecuali Arata dan Yusuke tengah berkumpul. Wajah Misaki terus tertunduk, ia merasa malu untuk sekedar menatap wajah Hasumi dan Hirotaka yang duduk di hadapannya.Suasana terasa begitu canggung, namun Hasumi memberanikan diri untuk berbicara duluan. Ia mengulurkan sebuah kotak cincin ke arah meja.“Ini cincin pertunanganku dengan Tanizaki-sensei, tuan. Dengan begini aku dan Tanizaki-sensei sudah tak punya hubungan apa pun lagi.”“Padahal kau boleh membuangnya ke mana pun.” balas Gouto.Hasumi menggelengkan kepala.“Itu tidak mungkin, tuan. Cincin ini pasti dibeli dengan harga yang tak murah.”Gouto manggut-manggut.“Kau jauh lebih dewasa dari yang aku kira. Terima kasih.”“Aku dan Hasumi minta maaf, tuan. Kami sudah banyak merepotkan keluarga ini.” kali ini Hirotaka yang berb