Saka keluar kamar mandi, mendapati Stela masih duduk di ruang tengah apartemen nya, Saka berjalan sembari mengusap rambutnya yang basah.
"Kamu masih di sini? Pulang sana!" Saka meminta kakak perempuannya itu pergi, ia serasa di awasi sejak kakaknya itu datang. "Kenapa? Aku hanya duduk, urus saja dirimu sekarang, pakai baju yang betul, aku bukan Clara yang tergoda melihatmu bertelanjang dada. Menjijikkan!" Stela mencemooh dengan terang-terangan lantas kembali sibuk dengan _Ultrabook_ di tangannya. Saka ingin sekali membalas ucapan kakaknya, namun bunyi ponsel membuat dia urung untuk beradu argumen lagi. Segera Saka membuka tas kecilnya di sisi ranjang, melihat nama "Mama" di layar ponsel membuat lelaki itu terdiam sebentar. "Kamu menghubungi mama?" Tanya Saka dengan mata memicing, ia curiga pada Stela yang sudah tau masalah yang dirinya buat sekarang. "Tidak! Buat apa aku menghubungi mama." Ucap Stela acuh, matanya sibuk menatap layar laptopnya. "Lalu kenapa mama meneleponku sepagi ini?" Stela meghela napas, lantas menatap adik lelakinya itu dengan kesal. "Mana aku tau, Mungkin mama sudah datang ke rumahmu dan melihat kamu tak ada di sana." Ucap Stela semakin membuat Saka panas dingin. "kakak yakin itu yang terjadi?" Mata Saka membelalak, ia tak sanggup membayangkan amaran ibunya jika tau dirinya menghilang di malam pertamanya dengan Zelinda. Ingin rasanya Saka tak menjawab panggilan ibunya, namun dia takut itu akan menambah masalah baru, di tambah juga sang ibu jelas tak akan berhenti menelepon sampai terhubung dengan nya. Menghela napas dengan pajang, Saka memberanikan diri mengangkat ponsel miliknya. "Ya ma, ada apa?" Ucapnya mencoba tetap tenang. 'Lama sekali kamu angkat telepon mama Saka!' Suara dari seberang terdengar melengking, khas mamanya jika berteriak. "Saka baru selesai mandi ma, mama di mana?" Saka bertanya dengan perasaan was-was. 'Di rumah, tapi kita ada janji bertemu kan siang ini. Kamu ingat?' "Rumah? Di depan rumahku?" Jantung Saka mulai berdegup kencang, ia juga sempat melihat Stela sama terkejutnya dengan dirinya. 'hahaha, jangan konyol Saka, mama ada di rumah mama sendiri, lagi pula buat apa mama ada di rumahmu sepagi ini?" Saka menghela napas lega saat mendengar ibunya masih berada di rumahnya sediri. "Hahahaa, ia juga ya, ngapain mama ke rumah pagi-pagi begini." Ucap Saka mulai merasa tenang 'Dimana istrimu? Mama ingin bicara.' Baru saja dirinya merasa tenang, Saka sudah kembali panik. "Em, dia, dia, em sedang di bawah ma, aku kan di kamar sekarang dan belum berganti baju. Bagaimana jika aku hubungi mama lagi nanti." 'Ah, begitu. Baiklah jika begitu, mama tunggu telepon darimu segera. Tapi tunggu Saka, kamu tak buat masalah kan? Kamu tidak mempersulit hidup menantuku kan?' "Tidak ma, mama tenang saja. Sudah ya, Saka mau ganti baju dulu, nanti Saka hubungi lagi." 'Baiklah, mama tunggu. Bye sayang' Suara mamanya tak lagi terdengar dalam ponselnya, Saka langsung terduduk di tepi ranjang karena gemetar, kakinya bahkan kesemutan sekarang. "Hah, masih punya rasa takut rupanya?." Stela menatap dengan remeh. "Tentu saja masih, jelas saja aku masih takut pada mama." Saka menjawab sembari melihat ponselnya dengan seksama. Banyak pesan masuk di sana, pesan dari Clara tentunya, wanita itu begitu marah pada sikap Stela padanya tadi. "Ya, ya, harusnya memang begitu, jika tidak kamu mungkin akan jadi gelandangan karena di tendang dari keluarga Gunawan. Aku mau pulang dulu." Stela berdiri dari tempatnya duduk, merapikan bajunya yang sedikit kusut karena duduk terlalu lama dan mengambil tas di sofa. "Kamu mau pulang sekarang?" Saka bertanya dengan cepat, membuat Stela menatap curiga. "Ya, kenapa? Kamu akan buat masalah apa lagi setelah ini?" "Kamu tak dengar mama baru saja menelepon? Aku harus bersiap segera ke rumah dan menemui Zelinda." Stela mengangkat kedua alisnya bersamaan "Cobalah bersikap baik padanya, aku lihat dia wanita bak." "Pada siapa?" "Zelinda, istrimu." Ucap Stela kesal "Akan aku coba. Pulanglah, aku harus segera bersiap." Ucap Saka mencoba tenang di hadapan kakaknya Stela segera keluar apartemen Saka, dia membuka pintu dan mendapati Clara masih berdiri di depan pintu apartemen Saka. Clara berjalan mundur saat melihat Stela keluar dan menatapnya dengan dingin. "kenapa Kamu belum pergi? Sebegitu murahnya dirimu sampa rela menunggu di sini selama berjam-jam?" "Apa urusanmu?" Clara menjawab dengan dingin. "Dia adikku! semua yang ada urusannya dengan Saka adalah urusanku. Pergilah sebelum aku panggil keamanan dan menyeret mu keluar dari sini." Stela melewati Clara dengan acuh, namun perempuan itu segera berbalik dan mengikuti nya dari belakang. "Bagaimana jika aku tak bisa melepaskan adikmu Saka? Kamu tau, dia sangat mencintai aku dan aku yakin cintanya bukan sekedar cinta sesaat. kami sudah lama bersama dan kamu tau bagaimana dia bertahan kan?." Stela tersenyum getir, muak rasanya mengurusi wanita murahan seperti Clara, namun demi nama baik keluarganya, Stela harus memberi wanita murahan ini pelajaran. "Coba saja jika kamu memang punya keberanian untuk tetap berada di sisinya, cepat atau lambat kamu akan tersingkirkan." "Kamu menantangku kak?" Clara membelalak, dia tak percaya Stela akhirnya mengatakan hal yang pasti dia menangkan. Stela tersenyum sinis seolah meremehkan Clara. "Ya, coba saja dekati Saka, lantas lelaki yang kau bilang sangat mencintaimu itu akan jatuh miskin karena di cabut haknya sebagai pewaris utama keluarga Gunawan." Clara terdiam sebentar, ia lantas berusaha tersenyum meladeni Stela, meski senyum itu terlihat canggung sekarang. "Kamu kira aku akan percaya? Mana mungkin Saka di hapus dari ahli waris. Dia satu-satunya pewaris laki-laki Gunawan." "Karena itulah, cerdas itu peting untuk seorang wanita. Dengar baik-baik Clara, kamu tidak ada apa-apanya di banding istri Saka, dia wanita berkelas, dari keluarga baik-baik dan yang paling penting dia bukan perempuan gampangan. Lantas kamu kira jika Saka memilihmu dan meninggalkan berlian seperti Zelinda dia akan baik-baik saja? Keluarga kami tak akan mungkin menerimamu sebagai bagian dari kami. jangan mimpi terlalu tinggi!" Stela bicara terus terang, dia sedang tak mau berbasa-basi kali ini, entah itu membuat Clara sakit hati atau tidak, dia tak perduli. "Apa kamu masih akan bilang cinta jika Saka hanya lelaki biasa tanpa embel-embel pewaris kekayaan? Kamu masih mau juga bersamanya jika dia adalah gelandangan?" Clara hanya diam tanpa memberi jawaban. " Pergilah, jemputanmu sudah datang!" Stela bicara sembari menunjuk ke arah lif, terlihat empat petugas keamaan gedung sudah berjalan mendekati Clara dan dirinya. "Kamu panggil mereka? Kenapa kamu panggil scurity kemari? Aku bukan pencuri atau penjahat yang harus di paksa pergi!" Clara terdengar begitu kesal, selain dia merasa sangat sakit hati dengan ucapan Stela, dia juga tak menyangka wanita itu akan meminta scurity membawanya turun. "Bawa pak, pastikan perempuan ini tak lagi punya akses naik ke lantai ini.." "Baik nyonya, kami minta maaf atas kelalaian kami." Clara menatap binggung saat tangannya diseret ke arah lif. "Aku bukan pencuri! Aku kekasih tuan Saka Gunawan. Lepaskan aku!" Clara berteriak dengan kesal, namun dua scurity tetap membawanya masuk ke dalam. "Awas kamu Stela! Akan aku balas apa yang kamu lakukan!" Teriaknya kesal sebelum pintu lif tertutup dan lorong terasa sunyi.Setelah kepulangan Stela dari rumah Saka, Zelinda masih duduk di teras rumahnya, ia tak lagi berselera untuk makan, bahkan ingatan nya terus berputar pada kejadian demi kejadian bersama Saka. Zelinda menghela napas panjang, ia masih bimbang bagaimana menjelaskan pada keluarga nya bila bertemu nanti, dia bahkan tak tau di mana Saka sekarang, sementara mungkin saja kakeknya atau mama Saka datang ke mari hari ini. Lama Zelinda duduk diam di teras, hingga akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. "Nyonya tidak makan lagi?" Rani bertanya dengan pelan, gadis itu berdirii di sisi meja makan yang masih penuh. "Tidak Rani, bereskan saja mejanya, bawa pulang makanan yang kamu suka juga, masih banyak makanan di situ, sayang jika akhirnya tak termakan." "Mana boleh begitu nyonya, saya bisa di pecat nanti." Rani menjawab dengan santai, namun tangannya sudah sibuk membereskan meja makan. "Lalu, kemana makanan itu nanti akhirya?" "Ya di sini nyonya, kalau
Pov Zelinda. Aku selalu berharap keluar dari rumah kakekku saat menikah, aku selalu berharap pernikahan ku bisa menyelamatkan aku dari sikap egois kakek, didikan kerasnya padaku dan juga hidupku yang tersandra. Namun ternyata pernikahan ini seperti membawa aku masuk ke dalam lubang yang sama, yang bahkan lebin dalam dari apa yang aku bisa bayangkan. Saka Gunawan adalah lelaki yang meminang aku dengan baik, keluarga nya begitu baik, aku tak pernah membayangka bahwa sedikitpun di hatinya tak ada cinta untuk diriku. Lelaki itu kini berdiri di depanku, entah kenapa tiba-tiba saja dia menarik aku ke dalam kamar. Dia mendekat perlahan sekarang, membuat aku juga akhirnya mundur menjauh. Aku masih terus menatap kedua matanya dengan perasaan marah dan kecewa yang bercampur. Tamparannya tak bisa aku lupakan, dia membuat aku benar-benar merasa terpuruk sekarang. "Katakan kenapa kamu akhirnya memilih menikahi aku?" Aku masih menuntutnya menjawab tanya yang sejak tadi terus membuat aku
Pov Zelinda. Aku sudah siap dengan dres berwarna merah muda, berulang kali juga ku pastikan make-up ku bisa menutupi segala memar akibat perbuatan Saka. Sejujurnya saat aku tau akan di jodohkan dengan Saka, aku menyukainya. Kami pernah bertemu beberapa kali di sebuah acara dan aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama aku melihatnya. Saka adalah pria baik di mataku, aku menyelipkan namanya dalam doaku selama ini, ku pikir tak ada yang salah bila aku menaruh rasa padanya dulu, dan aku tak pernah membayangkan kami akhirnya akan berjodoh. Tapi aku tak pernah membayangka dia akan bersikap begitu mengerikan sekarang, setelah kami menikah. Brak! Brak! "Masih lama? mau sampai kapan kamu akan di dalam sana, ha!" Teriakan Saka dari luar membuat aku terkejut. Aku kembali menatap diri ini di kaca, bertemu dengan kolega keluarga Saka membuat aku sedikit canggung. terlebih aku tak ingin membuat mama Sintia kecewa. Wanita itu sangat menyayangi aku, dan dia begitu bangga memiliki menantu s
Pov Zelinda. Kami tiba di depan hotel Pionix, salah satu hotel yang di miliki oleh mama Sintia. Aku pernah mendengar bahwa mama Sintia memang bukan orang biasa, selain dia cantik dan istri dari pengusaha ternama Jodi Gunawan, Mama Sintia juga anak dari salah satu pengusaha besar di Asia dan hotel ini adalah salah satu milik keluarganya. "Ayo sayang, kita masuk." Mama Sintia meminta aku segera turun dari mobil dan mengikuti wanita itu masuk ke dalam lobi hotel. Aku sedikit terkejut saat baru memasuki pintu kaca nan megah, deretan staf bahan menejer hotel sudah berjajar menyambut kami dengan minuman selamat datang dan memberikan buket bunga yang cantik padaku. "Selamat datang nyonya Zelinda, kami dari hotel pionix mengucapkan selamat atas pernikahan nyonya dengan tuan Saka." Seorang lelaki dengan jas yang rapi menyalami aku. "Terimakasih atas sambutannya yang hangat." Aku tersenyum dengan tulus, sungguh apa yang mereka lakukan sangat menyentuhku. "Mari kami antar ke ruang pe
Pov Saka. Perempuan macam apa si Zelinda itu, sampai dia berani menerkamku seperti singa kelaparan. Bahkan mana masih saja bersikap baik padanya, apa mama tak tau menantu kesayangannya itu baru saja menggigit anak nb lelakinya. Tapi mana mungkin aku bercerita pada mama, dia pasti lebih nb percaya pada Zelinda. "Saka!" Mana memanggil aku yang sedang memikirkan banyak hal di dalam kepalaku ini. "Ya ma." "Cari istrimu sana, mana jadi khawatir jangan-jangan terjadi sesuatu padanya." Lagi, mama bersikap seolah dialah ibu kandung Zelinda, apa mama lupa jika akulah bc anak kandungnya. "Saka, Kenapa diam saja!" Kali ini mana menepuk pundak ku dengan kencang. "Auh... Sakit ma!" Aku berteriak terkejut. "Apasih! Mama cuma menepuk pundaknya dengan tangan bukan besi. Manja sekali!" Aku berdecak kesal, bagaimana aku tak berteriak jika mama menepuk tepat di pundak yang masih ngilu sekali karena gigitan si singa perempuan itu. Ingin rasanya aku bilang pada mama, tapi perempuan it
Pov : SkaAku terkejut, bagaimana bisa dia merusak baju Zelinda? Mama pasti akan sangat marah jika sampai tau baju Zelinda rusak begitu saja."Ini acara penting bagi Keluarga ku Clara, mama akan memberikan sahamnya padaku sebagai hadiah pernikahan Clara""Ya lalu? Wanita itu masih baik-baik saja kan?, aku hanya merusak gaunnya, bukan hidupnya seperti dia juga merusak hidupku dan menjauhkan aku darimu!" Clara bicara begitu saja lantas berjalan keluar dari pintu darurat.Aku terdiam, apa yang Clara katakan memang benar, Zelinda masih baik-baik saja.Aku segera mengikuti Clara keluar dari pintu darurat, aku ingin dia segera pergi dari tempat ini sebelum mama atau kak Stela tau Clara ada di sini."Pergilah dari sini secepatnya Clara,aku tak mau kau terlihat dalam masalah dan membuat dirimu berada dalam kesulitan."Aku meminta Clara untuk segera pergi."Aku tak akan membuatmu dalam masalah sayang, tidak sekarang, aku tau hari ini adalah acara penting buatmu kan? Aku akan memastikan semua b
"Apa kau gugup?" Saka bertanya pada Zelinda dan wanita itu mengangguk dengan pelan, berulang kali terlihat menarik napasnya dalam-dalam.Mereka berjalan masuk ke tempat pesta. Ini bukanlah pesta yang resmi, hanya pertemuan bisa untuk makan siang sekaligus bercengkrama. Sintia dan Jodi langsung mendekati orang-orang penting di sana, sementara Saka masih berdiri di tepi bersama Zelinda."Jangan gugup atau orang akan menaruh curiga pada kita." Ucap Saka berusaha tersenyum pada siapapun yang melihat ke arahnya.Zelinda yang merasa semakin gugup mencengkeram lengan suaminya, membuat Saka merasa kan panas juga di tubuhnya."Lihat ini si pengantin baru." Seorang lelaki dengan stelan jas mahal berjalan di iringi beberapa lelaki bertubuh kekar mendekati Saka dan Zelinda."Hallo om Alex." Saka memeluk lelaki itu dengan erat. Mereka tampak begitu akrab nya, hingga senyum keduanya terlihat begitu lepas."Kamu beruntung punya istri seperti Zelinda, Saka. Tak satu orangpun di ruangan ini tak memuj
Pov: ZelindaAku menghela napas dalam, sungguh aku tak menyangka mama Sintia akan memberikan saham dan aset Rayon miliknya sebagi milik ku juga hari ini. Aku tak pernah membayangkan akan menerima semua ini sekarang.Setelah pesta usai aku dan keluarga Saka masih berada di hotel Pionix milik Rayon Grup. Sejak keluar dari ruang pertemuan Saka terus saja bersikap dingin padaku, terlebih saat tak ada siapapun yang melihat kami."Apa kau senang sekarang tuan Putri?" Dia bertanya dengan sinis."Apa yang kau katakan? Aku tak paham."" Hah, jangan pura-pura tak tahu apapun Zelinda,. Bukankah ini bagian dari rencanamu?""Rencana? Aku tak paham maksudmu Saka.""Hah, Dasar penjilat!" Ucap Saka dengan tatapan nyalang nya kini, dia melewati aku begitu saja sekarang, seolah aku adalah musuh terbesarnya di tempat ini.'Apa dia marah padaku? Dia bersikap begitu karena saham yang mama Sintia berikan?' Aku terus bertanya dalam hatiku sendiri, sebab dia terus menggatakan aku penjilat.Aku kini kembali
"Apa, ke bali?" Clara berdecak kesal mendengar Saka akan pergi bulan madu dengan Zelinda, istrinya."Hadiah dari mama, aku tak bisa menolak Clara."Wanita itu berbalik dengan kesal dan menatap Saka dengan tajam."Ya kamu kasih alasan apa gitu. Aku nggak rela ya kamu pergi berdua dengan wanita itu!" Ucapnya dengan tatapan tak mau kalah."Jangan begitu Clara, aku juga tidak bisa menolak apa yang mama berikan. Jika aku tak pergi bulan madu dengan Zelin, mama bisa curiga pada kami."Clara melipat tangannya di depan dada. Mereka bertemu secara diam-diam hari ini, bertemu di rumah Clara. Saka menyewakan rumah itu untuk Clara tinggali.Saka memeluk wanita itu dari belakang dan berusaha merayunya agar mengizinkan dia pergi dengan Zelinda."Jika mama sampai curiga dan kami ketahuan, aku bisa kehilangan semuanya Clara. Jika aku kehilangan semuanya, bagaimana bisa aku membelikan rumah baru untukmu." Ucap Saka pada kekasihnya itu.Clara berbalik dengan mata berbinar, wanita murahan memang selalu
Zelinda mengendarai mobil menuju ke tempat Erlando merawat kuda-kudanya. Wanita itu memarkirkan mobilnya di area luar dan berjalan masuk mencari sosok yang dia ingin temui. "Nyonya ada di sini rupanya." Seorang staf Erlando menyapa dengan hangat. Dia adalah Bella, sekertaris yang sering ikut saat Erlando memiliki urusan bisnis. Kedatangan Zelin ke tempat itu bukanlah hal baru. Zelinda cukup sering datang untuk berkuda, dia selalu senang berada di ruangan terbuka, menimati udara yang sejuk dan merasakan adrenalinya terpacu kala menguasai laju kudanya dan merasa dirinya bisa mengendalikan laju kuda adalah sesuatu yang menyenangkan baginya. Zelin menatao Bella dengan senyum, meski dia bisa melihat bahwa Bella memang tak terlalu suka padanya sejak awal mereka bertemu. "Hay Bella, sedang ada urusan pentingnya?." Zelinda menanyai sekertaris Erlando. Wanita itu selalu ada jika Erlando sedang mengurusi bisninya. "Iya nyonya, tuan ada pertemuan. Apa nyonya akan berkuda hari ini?" "Iya, a
Setelah kepulangan Sintia, Saka duduk bersama Zelinda di halama belakang. Mereka jarang menikmati waktu seperti ini, namun kali ini Saka meminta Zelinda menemaninya duduk di teras belakang."Kopi." Zelinda meletalkan secangkir kopi di meja, wanita itu latas duduk bersebelahan dengan Saka, suaminya."Apa kamu sangat sibuk?"Saka bertanya pada Zelinda lebib dulu, sebelum ia menngeluarkan tiket pesawat untuk bulan madu mereka pada Zelinda."Lumayan, besok aku ada pertemuan dengan salah satu kolega Star hotel dan melihay desain villa baru Rayon grup di kantor. Ada apa? Tumben sekali kamu bertanya apa kegiatanku?""Apa lusa dan selama satu minggu kedepan kamu sibuk?"Zelin meletakkan lagi cangkirnya di meja, menatap wajah Saka dengan heran, kedua alisnya bahkan bertaut."Ada apa? Tidak biasanya kamu begini?""Tentang bulan madu ini, apa kamu mau?""Apa aku punya pilihan? Jika kita tak berangkat lantas apa yang ak terjadi pada nasib kita berdua."Zelinda mengatakan yang sebenarnya. Dia tau
Saka berjalan pelan ke arah mamanya, wajahnya berusaha setenang mungkin agar tak menimbulkan pikiran buruk padanya."Apa kamu tak dengar saka, mama bertanya dari mana saja kamu?""Ah, ada urusan mendadak ma, em... Sebaiknya kita masuk ke ruanganku saja." Ucap Saka setengah berbisik, ia tak mau Zelinda dan Erlando mendengarnya di marahi."Kenapa harus ie ruang kerjamu? Mama mau di sini saja." Sintia tak beranjak dari tempatnya duduk."Ayolah ma, sebentar saja." Ucap Saka memohon dengan manja.Zelinda dan Erlando saling pandang dengan wajah datar, Zelin juga baru kali ini melihat Saka benar-benar maja pada mamaya.Sintia tak dapat menolak ajakan Saka, wanita itu berjalan masuk ke runag kerja putranya dan duduk di kursi utama ruangan itu. Wajahnya tajam menatap anak lelaki sati-satunya itu."Kenapa mama harus ke ruangan ini untuk bicara padamu, kenapa? Ada yang kamu sembunyikan?"Saka mendekat perlahan dan duduk di depan ibunya."Sebenarnya ini rahasia ma." Ucapnya mulai membuat cerita.
Berbicara dengan Erlndo ternyata membuat Zelinda merasa nyaman. Mereka lantas mengobrol lama, bahkan dia membantu wanita itu menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan mudah, dia selalu mendengarkan apa yang Zelinda katakan, beryukar pikiran dengannya dalam banyak cerita, bahkan tertawa lepas. Hal yang tak pernah Zelinda lakukan dengan siapapun.Zelinda menggagumi sikap dan cara Erlando menghargai orang lain. Kopi buatannya juga sangat enak, Zelinda tak tau dia juga seorang barista yang handal. Dia membuat Zelinda merasa punya harga diri sekarang."Aku tak tau kau pandai membuat kopi." Zelin memuji dengan santun saudara suaminya itu."Aku pernah belajar kopi saat berkunjung ke Italia beberapa tahun lalu.""Kau suka bepergian?" Zelin bertanya dengan sangat antusias."Ya, ke beberapa negara.""Berapa yang sudah kau datangi?""Em, aku tak menghitungnya dengan tepat, tapi mungkin lebih dari 20 negara. Mungkin.""Waow. Itu menakjubkan." Ucap Zelin dengan penuh kekaguman.Zelinda selalu i
Pov SakaAku membiarkan Zelinda pulang dengan Erlando, mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji pada Clara untuk bertemu. Ua, sampai detik ini aku masih menjalin hubungan dengannya, sudah aku katakan dejak awal aku tak bisa jauh dari wanita itu.Clara selalu bisa membuat aku merasa bahagia, dia sedikit manja, tapi aku suka caranya meperlakukan aku selama ini.Aku tiba di mall tempat kami janjian, memakai topi dan kacamata hitam, aku keluar untuk bertemu dengan kekasihku. Clara meminta untuk menonton bioskop hari ini dan karena kami lama tak bertemu, aku kasihan padanya jika tak mengabulkan permintaanya.Aku berjalan masuk ke dalam lif, Clara sudah menunggu di dalam bioskop sekarang dan aku masuk mendekat ke tempat duduknya."Hay..."Hay sayang, kau terlambat." Clara menyapa dengan hangat, dia mendekat dan mencium pipiku dengan lembut.Wanginya selalu membuat aku merasa rindu, terlebih jika dia memakai pakaian terbuja seperti sekarang, aku jadi percaya diri ada di dekat wanita secantik d
Pov Zelinda"Kau bisa pulang sendiri?" Saka bertanya padaku setelah acara kantor selesai.Tentu saja aku masih terpaku menatapnya dengan tajam. Kami pergi bersama hari ini, tapi Saka tak bisa mengantarkanku pulang?"Ada apa?" Tanyaku akhirnya, aku jelas terus melihatnya selalu menatap ke arah jam di tangan."Aku ada janji bertemu dengan orang, jadi kau bisa pulang sendiri?"Dia memintaku pulang sendiri? Yang benar saja."Jika kau sibuk biar aku yang antar Zelinda pulang."Tiba-tiba saja Erlando mendekat dan mengatakan akan mengantarkan aku pulang."Kau tak keberatan?" Saka bertanya pada Erlando."Tidak, aku tak keberatan. Tapi tanya dulu pada Zelinda, apakah dia mau ikut bersamaku." Mereka berdua menatapku dengan tatapan menanti jawaban."Bagaimana, kau mau ikut Erlando?"Sejujurnya, aku tak keberatan. Erlando dan aku cukup dekat belakangan ini, meski aku memang masih menjaga jarak, takut jika ada berita yang tak menyenangkan di luar."Apa kau akan pulang juga?" Tanyaku memastikan ba
Pov Zelinda1 tahun setelah hari itu.Sejak hari di mana aku kembali di antarkan ke rumah keluarga Gunawan, maka hari itu hatiku sudah mati.Aku hanya tau bahwa menurut sebagai seorang istri adalah cara terbaikku untuk tetap hidup. Tak ada lagi kabar yang ingin ku dengar dari rumah Wijaya, bahkan aku tak pernah mau menerima panggilan masuk dari kakek yang entah sudah berapa puluh kali ku tolak.Hari ini adalah pesta peresmian perusahaan baru Saka, aku menyerahkan segala aset yang di berikan mama Sintia padanya, salah satu hal yang meyelamatkan hidupku hingga sekarang. Amukannya masih sering ku terima, tapi menggadu juga tak akan membuat posisiku berubah lebih baik, jadi aku menerima segalanya sebagai takdirku sendiri."Apa kau tak bisa lebih cepat!" Saka datang dengan wajah tak senang, aku belum selesai bersiap saat dia membuka pintu kamar."Aku akan segera siap." Ucapku bergegas menyelesaikan makeup ku.Saa berdiri di belakangku dengan tatapan ambisius, berulang kali dia membetulkan
"Apa tidurmu nyenyak?" Saka bertanya pada Zelinda dan wanita itu mengangguk dengan pelan.Empay bulan sudah mereka laui setelah hari itu, tak ada lagi drama pertengkaran terdengar. Zelinda menjadi istri yang sangat patuh pada suaminya. Setidaknya itu yang mereka semua pikirkan sekarang."Baguslah, jadi kau bisa ikut aku ke kantor hari ini." Ucapan Saka terdengar datar tapi membuat ke dua manik mata Zelinda membulat dengan sempurna."Aku? Ke kantormu? Kenapa, ah maksudnya untuk apa aku ke sana?.""Mama memintamu datang. Lagi pula ada baiknya juga kau bekerja kan, jadi pikiranmu bisa terbebas dari hal-hal buruk.".Zelinda mengerutkan alisnya."Hal buruk apa yang kau maksud?""Ya apa lagi, seperti kabur dari rumah misalnya."Zelin membuang wajahnya dengan malas. Dia tak pernah melakukan itu lagi kan, tapi Saka masih suka membahasnya tanpa alasan."Mama memberikanmu posisi di kantor, kau bisa belajar banyak hal di sana bukan?"Zelinda masih terdiam. Dia memang lulusan terbaik di kampusnya