Pov Zelinda. Aku sudah siap dengan dres berwarna merah muda, berulang kali juga ku pastikan make-up ku bisa menutupi segala memar akibat perbuatan Saka. Sejujurnya saat aku tau akan di jodohkan dengan Saka, aku menyukainya. Kami pernah bertemu beberapa kali di sebuah acara dan aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama aku melihatnya. Saka adalah pria baik di mataku, aku menyelipkan namanya dalam doaku selama ini, ku pikir tak ada yang salah bila aku menaruh rasa padanya dulu, dan aku tak pernah membayangkan kami akhirnya akan berjodoh. Tapi aku tak pernah membayangka dia akan bersikap begitu mengerikan sekarang, setelah kami menikah. Brak! Brak! "Masih lama? mau sampai kapan kamu akan di dalam sana, ha!" Teriakan Saka dari luar membuat aku terkejut. Aku kembali menatap diri ini di kaca, bertemu dengan kolega keluarga Saka membuat aku sedikit canggung. terlebih aku tak ingin membuat mama Sintia kecewa. Wanita itu sangat menyayangi aku, dan dia begitu bangga memiliki menantu s
Pov Zelinda. Kami tiba di depan hotel Pionix, salah satu hotel yang di miliki oleh mama Sintia. Aku pernah mendengar bahwa mama Sintia memang bukan orang biasa, selain dia cantik dan istri dari pengusaha ternama Jodi Gunawan, Mama Sintia juga anak dari salah satu pengusaha besar di Asia dan hotel ini adalah salah satu milik keluarganya. "Ayo sayang, kita masuk." Mama Sintia meminta aku segera turun dari mobil dan mengikuti wanita itu masuk ke dalam lobi hotel. Aku sedikit terkejut saat baru memasuki pintu kaca nan megah, deretan staf bahan menejer hotel sudah berjajar menyambut kami dengan minuman selamat datang dan memberikan buket bunga yang cantik padaku. "Selamat datang nyonya Zelinda, kami dari hotel pionix mengucapkan selamat atas pernikahan nyonya dengan tuan Saka." Seorang lelaki dengan jas yang rapi menyalami aku. "Terimakasih atas sambutannya yang hangat." Aku tersenyum dengan tulus, sungguh apa yang mereka lakukan sangat menyentuhku. "Mari kami antar ke ruang pe
Pov Saka. Perempuan macam apa si Zelinda itu, sampai dia berani menerkamku seperti singa kelaparan. Bahkan mana masih saja bersikap baik padanya, apa mama tak tau menantu kesayangannya itu baru saja menggigit anak nb lelakinya. Tapi mana mungkin aku bercerita pada mama, dia pasti lebih nb percaya pada Zelinda. "Saka!" Mana memanggil aku yang sedang memikirkan banyak hal di dalam kepalaku ini. "Ya ma." "Cari istrimu sana, mana jadi khawatir jangan-jangan terjadi sesuatu padanya." Lagi, mama bersikap seolah dialah ibu kandung Zelinda, apa mama lupa jika akulah bc anak kandungnya. "Saka, Kenapa diam saja!" Kali ini mana menepuk pundak ku dengan kencang. "Auh... Sakit ma!" Aku berteriak terkejut. "Apasih! Mama cuma menepuk pundaknya dengan tangan bukan besi. Manja sekali!" Aku berdecak kesal, bagaimana aku tak berteriak jika mama menepuk tepat di pundak yang masih ngilu sekali karena gigitan si singa perempuan itu. Ingin rasanya aku bilang pada mama, tapi perempuan it
Pov : SkaAku terkejut, bagaimana bisa dia merusak baju Zelinda? Mama pasti akan sangat marah jika sampai tau baju Zelinda rusak begitu saja."Ini acara penting bagi Keluarga ku Clara, mama akan memberikan sahamnya padaku sebagai hadiah pernikahan Clara""Ya lalu? Wanita itu masih baik-baik saja kan?, aku hanya merusak gaunnya, bukan hidupnya seperti dia juga merusak hidupku dan menjauhkan aku darimu!" Clara bicara begitu saja lantas berjalan keluar dari pintu darurat.Aku terdiam, apa yang Clara katakan memang benar, Zelinda masih baik-baik saja.Aku segera mengikuti Clara keluar dari pintu darurat, aku ingin dia segera pergi dari tempat ini sebelum mama atau kak Stela tau Clara ada di sini."Pergilah dari sini secepatnya Clara,aku tak mau kau terlihat dalam masalah dan membuat dirimu berada dalam kesulitan."Aku meminta Clara untuk segera pergi."Aku tak akan membuatmu dalam masalah sayang, tidak sekarang, aku tau hari ini adalah acara penting buatmu kan? Aku akan memastikan semua b
"Apa kau gugup?" Saka bertanya pada Zelinda dan wanita itu mengangguk dengan pelan, berulang kali terlihat menarik napasnya dalam-dalam.Mereka berjalan masuk ke tempat pesta. Ini bukanlah pesta yang resmi, hanya pertemuan bisa untuk makan siang sekaligus bercengkrama. Sintia dan Jodi langsung mendekati orang-orang penting di sana, sementara Saka masih berdiri di tepi bersama Zelinda."Jangan gugup atau orang akan menaruh curiga pada kita." Ucap Saka berusaha tersenyum pada siapapun yang melihat ke arahnya.Zelinda yang merasa semakin gugup mencengkeram lengan suaminya, membuat Saka merasa kan panas juga di tubuhnya."Lihat ini si pengantin baru." Seorang lelaki dengan stelan jas mahal berjalan di iringi beberapa lelaki bertubuh kekar mendekati Saka dan Zelinda."Hallo om Alex." Saka memeluk lelaki itu dengan erat. Mereka tampak begitu akrab nya, hingga senyum keduanya terlihat begitu lepas."Kamu beruntung punya istri seperti Zelinda, Saka. Tak satu orangpun di ruangan ini tak memuj
Pov: ZelindaAku menghela napas dalam, sungguh aku tak menyangka mama Sintia akan memberikan saham dan aset Rayon miliknya sebagi milik ku juga hari ini. Aku tak pernah membayangkan akan menerima semua ini sekarang.Setelah pesta usai aku dan keluarga Saka masih berada di hotel Pionix milik Rayon Grup. Sejak keluar dari ruang pertemuan Saka terus saja bersikap dingin padaku, terlebih saat tak ada siapapun yang melihat kami."Apa kau senang sekarang tuan Putri?" Dia bertanya dengan sinis."Apa yang kau katakan? Aku tak paham."" Hah, jangan pura-pura tak tahu apapun Zelinda,. Bukankah ini bagian dari rencanamu?""Rencana? Aku tak paham maksudmu Saka.""Hah, Dasar penjilat!" Ucap Saka dengan tatapan nyalang nya kini, dia melewati aku begitu saja sekarang, seolah aku adalah musuh terbesarnya di tempat ini.'Apa dia marah padaku? Dia bersikap begitu karena saham yang mama Sintia berikan?' Aku terus bertanya dalam hatiku sendiri, sebab dia terus menggatakan aku penjilat.Aku kini kembali
Jangan tanya bagaimana takutnya Zelinda sekarang, keluar dari rumah itu tanpa baju yang pantas dan dalam rintik hujan. Jangankan membawa dompet dan segala isinya, dia bahkan tak memakai alas kaki sekarang. Jalanan mulai sepi saat Zelinda melewatinya, tak ada satupun kedaraan yang bisa dia mintai tolong sekarang.'Apakah aku benar-benar akan mati di tangan suamiku sendiri?'Pikiran itu terus berputar di dalam otaknya. Hidupnya tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Dunia yang ia perjuangkan agar tetap bertahan serasa terus menghujamnya dengan banyak siksaan."Awas!" Teriakan seorang wanita membuat Zelinda yang berjalan sendirian terkejut dan segera menepi, tubuhnya tersungkur di tepi jalan, bajunya yang terkoyak kini basah karena air yang menggenang."Apa tak bisa jika kau berjalan lebih ketepi? Untung saja aku melihatmu, jika tidak kamu mungkin sudah tertabrak dan aku yang akan dapat masalah!"Suara wanita yang marah terdengar dengan jelas, Zelinda bahkan tak berani menatap wajah wanita
Rani menatap ke arah Zelinda saat mendengar pertanyaannya, namun ia kembali sibuk mengoleskan salep pada luka yang ada di tubuh Zelin."Auuww.." Zelinda tersentak saat tanpa sengaja Rani menyentuh punggung nya yang juga terluka."Apa ada luka yang lain nyonya?" Rani memberanikan diri membuka punggung Zelinda dan terkejut saat melihat luka lainnya di sana."Bagaimana bisa dia melakukan ini semua pada wanita yang bahkan sudah menjadi istrinya? Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala Tuhan Saka!" Rani berdecak kesal, baru saja dia memberikan salep pada luka di paha Zelinda, ternyata ada luka lain yang lebih besar tersembunyi di balik baju nya."Apa aku bisa bertahan sampai akhir Rani? Bagaimana aku harus menjalani hari-hari esok." Zelinda begitu khawatir dirinya tak dapat melewati hari demi hari setelah ini."Nyonya harus bertahan, nyonya harus bilang pada keluarga nyonya, mereka pasti akan melakukan sesuatu." Rani memberikan saran, saran yang tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.Zel
"Apa, ke bali?" Clara berdecak kesal mendengar Saka akan pergi bulan madu dengan Zelinda, istrinya."Hadiah dari mama, aku tak bisa menolak Clara."Wanita itu berbalik dengan kesal dan menatap Saka dengan tajam."Ya kamu kasih alasan apa gitu. Aku nggak rela ya kamu pergi berdua dengan wanita itu!" Ucapnya dengan tatapan tak mau kalah."Jangan begitu Clara, aku juga tidak bisa menolak apa yang mama berikan. Jika aku tak pergi bulan madu dengan Zelin, mama bisa curiga pada kami."Clara melipat tangannya di depan dada. Mereka bertemu secara diam-diam hari ini, bertemu di rumah Clara. Saka menyewakan rumah itu untuk Clara tinggali.Saka memeluk wanita itu dari belakang dan berusaha merayunya agar mengizinkan dia pergi dengan Zelinda."Jika mama sampai curiga dan kami ketahuan, aku bisa kehilangan semuanya Clara. Jika aku kehilangan semuanya, bagaimana bisa aku membelikan rumah baru untukmu." Ucap Saka pada kekasihnya itu.Clara berbalik dengan mata berbinar, wanita murahan memang selalu
Zelinda mengendarai mobil menuju ke tempat Erlando merawat kuda-kudanya. Wanita itu memarkirkan mobilnya di area luar dan berjalan masuk mencari sosok yang dia ingin temui. "Nyonya ada di sini rupanya." Seorang staf Erlando menyapa dengan hangat. Dia adalah Bella, sekertaris yang sering ikut saat Erlando memiliki urusan bisnis. Kedatangan Zelin ke tempat itu bukanlah hal baru. Zelinda cukup sering datang untuk berkuda, dia selalu senang berada di ruangan terbuka, menimati udara yang sejuk dan merasakan adrenalinya terpacu kala menguasai laju kudanya dan merasa dirinya bisa mengendalikan laju kuda adalah sesuatu yang menyenangkan baginya. Zelin menatao Bella dengan senyum, meski dia bisa melihat bahwa Bella memang tak terlalu suka padanya sejak awal mereka bertemu. "Hay Bella, sedang ada urusan pentingnya?." Zelinda menanyai sekertaris Erlando. Wanita itu selalu ada jika Erlando sedang mengurusi bisninya. "Iya nyonya, tuan ada pertemuan. Apa nyonya akan berkuda hari ini?" "Iya, a
Setelah kepulangan Sintia, Saka duduk bersama Zelinda di halama belakang. Mereka jarang menikmati waktu seperti ini, namun kali ini Saka meminta Zelinda menemaninya duduk di teras belakang."Kopi." Zelinda meletalkan secangkir kopi di meja, wanita itu latas duduk bersebelahan dengan Saka, suaminya."Apa kamu sangat sibuk?"Saka bertanya pada Zelinda lebib dulu, sebelum ia menngeluarkan tiket pesawat untuk bulan madu mereka pada Zelinda."Lumayan, besok aku ada pertemuan dengan salah satu kolega Star hotel dan melihay desain villa baru Rayon grup di kantor. Ada apa? Tumben sekali kamu bertanya apa kegiatanku?""Apa lusa dan selama satu minggu kedepan kamu sibuk?"Zelin meletakkan lagi cangkirnya di meja, menatap wajah Saka dengan heran, kedua alisnya bahkan bertaut."Ada apa? Tidak biasanya kamu begini?""Tentang bulan madu ini, apa kamu mau?""Apa aku punya pilihan? Jika kita tak berangkat lantas apa yang ak terjadi pada nasib kita berdua."Zelinda mengatakan yang sebenarnya. Dia tau
Saka berjalan pelan ke arah mamanya, wajahnya berusaha setenang mungkin agar tak menimbulkan pikiran buruk padanya."Apa kamu tak dengar saka, mama bertanya dari mana saja kamu?""Ah, ada urusan mendadak ma, em... Sebaiknya kita masuk ke ruanganku saja." Ucap Saka setengah berbisik, ia tak mau Zelinda dan Erlando mendengarnya di marahi."Kenapa harus ie ruang kerjamu? Mama mau di sini saja." Sintia tak beranjak dari tempatnya duduk."Ayolah ma, sebentar saja." Ucap Saka memohon dengan manja.Zelinda dan Erlando saling pandang dengan wajah datar, Zelin juga baru kali ini melihat Saka benar-benar maja pada mamaya.Sintia tak dapat menolak ajakan Saka, wanita itu berjalan masuk ke runag kerja putranya dan duduk di kursi utama ruangan itu. Wajahnya tajam menatap anak lelaki sati-satunya itu."Kenapa mama harus ke ruangan ini untuk bicara padamu, kenapa? Ada yang kamu sembunyikan?"Saka mendekat perlahan dan duduk di depan ibunya."Sebenarnya ini rahasia ma." Ucapnya mulai membuat cerita.
Berbicara dengan Erlndo ternyata membuat Zelinda merasa nyaman. Mereka lantas mengobrol lama, bahkan dia membantu wanita itu menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan mudah, dia selalu mendengarkan apa yang Zelinda katakan, beryukar pikiran dengannya dalam banyak cerita, bahkan tertawa lepas. Hal yang tak pernah Zelinda lakukan dengan siapapun.Zelinda menggagumi sikap dan cara Erlando menghargai orang lain. Kopi buatannya juga sangat enak, Zelinda tak tau dia juga seorang barista yang handal. Dia membuat Zelinda merasa punya harga diri sekarang."Aku tak tau kau pandai membuat kopi." Zelin memuji dengan santun saudara suaminya itu."Aku pernah belajar kopi saat berkunjung ke Italia beberapa tahun lalu.""Kau suka bepergian?" Zelin bertanya dengan sangat antusias."Ya, ke beberapa negara.""Berapa yang sudah kau datangi?""Em, aku tak menghitungnya dengan tepat, tapi mungkin lebih dari 20 negara. Mungkin.""Waow. Itu menakjubkan." Ucap Zelin dengan penuh kekaguman.Zelinda selalu i
Pov SakaAku membiarkan Zelinda pulang dengan Erlando, mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji pada Clara untuk bertemu. Ua, sampai detik ini aku masih menjalin hubungan dengannya, sudah aku katakan dejak awal aku tak bisa jauh dari wanita itu.Clara selalu bisa membuat aku merasa bahagia, dia sedikit manja, tapi aku suka caranya meperlakukan aku selama ini.Aku tiba di mall tempat kami janjian, memakai topi dan kacamata hitam, aku keluar untuk bertemu dengan kekasihku. Clara meminta untuk menonton bioskop hari ini dan karena kami lama tak bertemu, aku kasihan padanya jika tak mengabulkan permintaanya.Aku berjalan masuk ke dalam lif, Clara sudah menunggu di dalam bioskop sekarang dan aku masuk mendekat ke tempat duduknya."Hay..."Hay sayang, kau terlambat." Clara menyapa dengan hangat, dia mendekat dan mencium pipiku dengan lembut.Wanginya selalu membuat aku merasa rindu, terlebih jika dia memakai pakaian terbuja seperti sekarang, aku jadi percaya diri ada di dekat wanita secantik d
Pov Zelinda"Kau bisa pulang sendiri?" Saka bertanya padaku setelah acara kantor selesai.Tentu saja aku masih terpaku menatapnya dengan tajam. Kami pergi bersama hari ini, tapi Saka tak bisa mengantarkanku pulang?"Ada apa?" Tanyaku akhirnya, aku jelas terus melihatnya selalu menatap ke arah jam di tangan."Aku ada janji bertemu dengan orang, jadi kau bisa pulang sendiri?"Dia memintaku pulang sendiri? Yang benar saja."Jika kau sibuk biar aku yang antar Zelinda pulang."Tiba-tiba saja Erlando mendekat dan mengatakan akan mengantarkan aku pulang."Kau tak keberatan?" Saka bertanya pada Erlando."Tidak, aku tak keberatan. Tapi tanya dulu pada Zelinda, apakah dia mau ikut bersamaku." Mereka berdua menatapku dengan tatapan menanti jawaban."Bagaimana, kau mau ikut Erlando?"Sejujurnya, aku tak keberatan. Erlando dan aku cukup dekat belakangan ini, meski aku memang masih menjaga jarak, takut jika ada berita yang tak menyenangkan di luar."Apa kau akan pulang juga?" Tanyaku memastikan ba
Pov Zelinda1 tahun setelah hari itu.Sejak hari di mana aku kembali di antarkan ke rumah keluarga Gunawan, maka hari itu hatiku sudah mati.Aku hanya tau bahwa menurut sebagai seorang istri adalah cara terbaikku untuk tetap hidup. Tak ada lagi kabar yang ingin ku dengar dari rumah Wijaya, bahkan aku tak pernah mau menerima panggilan masuk dari kakek yang entah sudah berapa puluh kali ku tolak.Hari ini adalah pesta peresmian perusahaan baru Saka, aku menyerahkan segala aset yang di berikan mama Sintia padanya, salah satu hal yang meyelamatkan hidupku hingga sekarang. Amukannya masih sering ku terima, tapi menggadu juga tak akan membuat posisiku berubah lebih baik, jadi aku menerima segalanya sebagai takdirku sendiri."Apa kau tak bisa lebih cepat!" Saka datang dengan wajah tak senang, aku belum selesai bersiap saat dia membuka pintu kamar."Aku akan segera siap." Ucapku bergegas menyelesaikan makeup ku.Saa berdiri di belakangku dengan tatapan ambisius, berulang kali dia membetulkan
"Apa tidurmu nyenyak?" Saka bertanya pada Zelinda dan wanita itu mengangguk dengan pelan.Empay bulan sudah mereka laui setelah hari itu, tak ada lagi drama pertengkaran terdengar. Zelinda menjadi istri yang sangat patuh pada suaminya. Setidaknya itu yang mereka semua pikirkan sekarang."Baguslah, jadi kau bisa ikut aku ke kantor hari ini." Ucapan Saka terdengar datar tapi membuat ke dua manik mata Zelinda membulat dengan sempurna."Aku? Ke kantormu? Kenapa, ah maksudnya untuk apa aku ke sana?.""Mama memintamu datang. Lagi pula ada baiknya juga kau bekerja kan, jadi pikiranmu bisa terbebas dari hal-hal buruk.".Zelinda mengerutkan alisnya."Hal buruk apa yang kau maksud?""Ya apa lagi, seperti kabur dari rumah misalnya."Zelin membuang wajahnya dengan malas. Dia tak pernah melakukan itu lagi kan, tapi Saka masih suka membahasnya tanpa alasan."Mama memberikanmu posisi di kantor, kau bisa belajar banyak hal di sana bukan?"Zelinda masih terdiam. Dia memang lulusan terbaik di kampusnya