Share

Pertunjukan Drama

Author: Purplexyiii
last update Huling Na-update: 2025-03-20 17:05:20

Kami baru saja keluar dari restoran ketika tiba-tiba Lucian menarikku ke arahnya. Aku terhuyung sedikit, tidak siap dengan gerakan mendadaknya.

"Apa—"

"Ssstt, diamlah." Dia berbisik dengan lembut.

Tangannya yang kokoh melingkari pinggangku, menahanku tetap dekat dengannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang stabil, kontras dengan debaran di dadaku sendiri yang tiba-tiba melonjak drastis.

Aku hampir bertanya apa yang terjadi ketika dia sedikit menunduk, bibirnya hampir menyentuh telingaku.

"Mereka mengikutimu," ucapnya pelan.

Aku merasa tubuhku membeku. "Siapa?"

Lucian terdiam sebentar. Matanya sekilas melirik pantulan kaca restoran di depan kami. "Celeste dan Damien."

Aku spontan ingin menoleh, tapi Lucian menahanku dengan sedikit menekan punggungku. "Jangan melihat langsung."

Aku menghela napas pelan. "Mereka menguntit kita?"

"Mungki
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Kaugnay na kabanata

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Istri Paling Bahagia

    Butik yang aku pilih bukan yang paling mewah di kota ini, tapi tetap memiliki reputasi tinggi. Tempat ini terkenal dengan koleksi busana eksklusif yang elegan tanpa terlalu mencolok. Saat Lucian memarkir mobil di depan butik, aku merasa sedikit aneh. Aku tidak terbiasa berbelanja dengan seorang pria—apalagi pria yang statusnya sebagai suamiku masih terasa seperti ilusi yang belum sepenuhnya kupahami. Lucian membuka pintu untukku, dan aku melangkah masuk ke butik yang terasa sejuk dengan pencahayaan lembut. Begitu melihat kami, seorang pegawai langsung menghampiri. "Selamat datang di Belle Élise. Ada yang bisa kami bantu?" Lucian mengangguk singkat ke arahku, seolah memberi isyarat bahwa aku yang bertanggung jawab atas kunjungan ini. Aku tersenyum kecil. "Aku ingin melihat koleksi gaun terbaru kalian." Wanita itu mengangguk dengan ramah, lalu mulai membimbing

    Huling Na-update : 2025-03-20
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Hiburan di Butik

    Aku bisa merasakan bagaimana Celeste menatapku dengan ekspresi terkontrol, tapi matanya menyiratkan sesuatu yang lain. Kekesalan. Bagus. Aku berbalik ke pegawai butik dan tersenyum. "Sepertinya aku ingin mencoba satu gaun lagi sebelum pergi. Ada koleksi terbaru yang lebih … eksklusif?" Pegawai itu mengangguk cepat. "Tentu, Nyonya Devereaux. Kami memiliki koleksi terbatas yang baru tiba minggu ini." Aku melirik Celeste sekilas sebelum berkata, "Koleksi terbatas? Kedengarannya menarik. Pastikan aku mendapatkan yang terbaik, ya?" Celeste jelas tidak menyukai nada santai dalam suaraku. Aku bisa melihat dari ekor mataku bagaimana bibirnya sedikit menegang. Aku tahu dia ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri karena situasi. Lucian tetap diam, tapi aku yakin dia menikmati ini dalam caranya sendiri. Aku berjalan dengan anggun ke ruang pas, sementara pegawai butik membawakan satu set gaun eksklusif yang tampaknya hanya tersedia dalam jumlah terbatas. Saat aku mencoba salah satunya

    Huling Na-update : 2025-03-21
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kunjungan Ke Rumah

    Suara dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil. Lucian mengangkatnya tanpa mengubah ekspresi, matanya tetap fokus pada jalan. Aku melirik sekilas, menangkap namanya di layar: Haelyn Devereaux. Aku langsung tahu ini bukan percakapan biasa. Karena itu adalah nama ibunya Lucian. Lucian menjawab, suaranya datar seperti biasa. "Iya? Ada apa?" Aku tidak bisa mendengar suara di ujung sana, tapi butuh waktu kurang dari lima detik sebelum Lucian menarik ponsel menjauh dari telinganya seolah ingin menghindari ledakan suara. Wajahnya tetap tenang, tapi saat aku melirik aku bisa ujung rahangnya sedikit mengetat. "Oh," gumam Lucian setelah seseorang di sana selesai bicara. "Baiklah." Lalu panggilan berakhir. Lucian terdengar menghela napas berat. Aku langsung menelan ludah, merasa firasat buruk merayapi tulang punggungku. "Apakah itu ibumu?" Lucian menyandarkan tangannya ke kemudi, matanya beralih padaku sejenak sebelum kembali ke jalan. "Kau benar." Aku menunggu

    Huling Na-update : 2025-03-22
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Merasakan Kekalahan

    Suara melengking itu langsung memenuhi udara. Aku bahkan belum sempat menoleh sebelum seorang wanita dengan gaun mahal dan rambut disanggul rapi berjalan cepat ke arah kami. Mata coklatnya menyipit tajam ke arahku. Haelyn Devereaux. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku bisa langsung tahu bahwa wanita ini adalah seseorang yang tidak bisa dihadapi dengan sembarang cara. Dia berhenti di depan kami, matanya masih terkunci pada wajahku, sebelum akhirnya bergumam sinis. "Jadi, ini menantu yang kau pilih?" Aku bisa merasakan tubuhku menegang. Ini lebih mengerikan dari sidang skripsi. Tapi Lucian hanya berkata dengan tenang, "Ibu, namanya Seraphina." Haelyn mendecakkan lidahnya, lalu melipat tangan di depan dada. "Sungguh tidak sesuai dengan ekspektasi. Aku pikir kecantikannya di atas Celeste." Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap anggun dan tenang. Aku sudah memperkirakan ini, bukan? Meskipun aku tidak menyangka dia akan membandingkanku dengan istri Damien. Na

    Huling Na-update : 2025-03-22
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Pembicaraan Menegangkan

    Ruangan tamu di rumah keluarga Devereaux terasa lebih seperti ruang sidang daripada tempat berkumpul. Langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung emas yang berkilauan, dan perabotannya mencerminkan kemewahan yang melebihi kata mewah itu sendiri. Aku duduk di sofa panjang dengan Lucian di sampingku, sementara Haelyn dan Matteo duduk berhadapan. Haelyn masih dengan ekspresi tajamnya, sementara Matteo tampak lebih netral—atau mungkin hanya lelah dengan semua ini. Veronica memilih untuk tidak ikut. Tentu saja. Dia mungkin sedang mengatur strategi baru untuk menyerangku nanti. Lucian kemudian membuka suara langsung ke inti permasalahan. "Jadi, kenapa kalian memanggilku pulang?" Haelyn menegakkan punggungnya. "Lucian, kau benar-benar perlu bertanya? Astaga. Kami bangun pagi-pagi hanya untuk membaca berita bahwa putra kami sudah menikah secara mendadak, tanpa pemberitahuan apa pun?" Lucian tampak tidak terganggu. "Berita itu tidak salah. Aku memang menikah." Haelyn mendecakkan lidahny

    Huling Na-update : 2025-03-23
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Berkeliling Gedung

    "Jadi, sampai kapan kau menganggap tidak ada orang di sini?" Suaraku menggema di dalam lift VIP yang sedang bergerak naik. Aku berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, memandang Lucian yang bersandar santai di sudut lift. Lucian menatap pantulan dirinya di dinding logam, lalu menoleh dengan alis sedikit terangkat. "Aku tidak ada topik pembicaraan.""Lucian." Aku mendesah pelan. "Kau cukup menyebalkan."Sebelum Lucian sempat menjawab, ponselnya tiba-tiba bergetar. Dia melirik layar lalu beralih padaku. "Aku harus mengangkatnya."Aku memutar mata malas. "Silakan saja."Lucian menjauh, berdiri menghadap dinding lift. Nada suaranya berubah serius begitu dia mulai berbicara. Aku menatap punggungnya dengan pandangan penasaran. Lift berhenti di lantai yang kami tuju, tetapi Lucian menahan pintu dengan satu tangan sambil masih berbicara di telepon. Dia menoleh sebentar. "Ada urusan mendesak. Kau ke ruanganku dulu saja.""Apa itu masalah serius?""Iya, sangat serius. Aku harus segera p

    Huling Na-update : 2025-03-24
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Makan di Kantin Karyawan

    "Felix, ini serius kantin untuk karyawan?" Aku berhenti di depan pintu kaca besar bertuliskan Devereaux Cafeteria. Suara ramai dari dalam terdengar jelas, bercampur aroma sedap yang menggoda. Felix berdiri di sebelahku dengan pandangan menatap sekeliling seolah mewaspadai sesuatu. "Iya, Nona," jawab Felix sambil menoleh padaku. "Tapi ini memang bukan sembarang kantin. Ini tempat yang sering dibilang kantin kantor yang paling mewah dan berbintang lima."Aku spontan menggeleng takjub. "Kedengarannya sombong.""Dan itu fakta." Felix berganti menatapku serius. "Anda yakin ingin makan di sini?""Kenapa tidak?" Aku mendorong pintu kaca dengan percaya diri. "Aku juga bagian dari perusahaan ini. Aku bebas makan di mana saja. Lagi pula aku bosan dengan makanan di kantin VIP."Felix sepertinya tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengikuti dari belakang saat aku mulai melangkah masuk.Di dalam, suasananya jauh dari kata biasa. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi, dihiasi lampu gantun

    Huling Na-update : 2025-03-24
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Benarkah itu Kebohongan?

    “Kau yakin Lucian akan menjemputmu?” Veronica bersandar santai di ambang pintu ruang kerja Lucian. Senyumnya miring, matanya menyorot penuh kemenangan. Aku yang tengah duduk di sofa sengaja tidak langsung menjawab. Wajahku tetap tenang, meskipun hatiku tidak sepenuhnya. “Aku tidak menunggunya,” jawabku akhirnya. Suaraku pelan, tapi tegas. Veronica tertawa kecil. “Oh, ya? Jadi kau di sini untuk apa? Melamun sampai ketiduran?” Aku menarik napas perlahan. Mataku menatap Veronica tanpa ekspresi. Memang, aku ketiduran. Setelah menunggu berjam-jam, aku berkali-kali mengecek ponselku, tapi tidak ada satu pesan pun dari Lucian. Bukan hanya tidak datang, bahkan Lucian tidak mengabariku. “Apa kau tidak lelah?” Veronica melangkah masuk, mendekat dengan langkah pelan seperti singa yang mengintai mangsanya. “Kau tahu kau terlihat menyedihkan? Duduk di sini sepanjang hari,

    Huling Na-update : 2025-03-25

Pinakabagong kabanata

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Perlindungan Ketat

    Aku menatap layar ponsel dengan jantung berdegup kencang. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku simpan. Namun, kali ini isinya jauh lebih spesifik. [Berhenti mencari tahu kebenaran yang tersembunyi, Seraphina. Jika tidak, kau akan kehilangan lebih banyak orang yang kau cintai.] Tanganku meremas ponsel erat. Napasku tersendat, mataku tidak bisa lepas dari pesan itu. Ini bukan pertama kalinya aku menerima ancaman, tapi kali ini … mereka menyebutkan orang-orang yang kucintai. Aku segera berdiri, langkahku tergesa menuju ruang kerja Lucian. Aku harus memberitahunya. Saat pintu terbuka, Lucian sedang berdiri di balik meja kerjanya sambil berbicara dengan Felix. Matanya langsung mengarah kepadaku dan seketika ekspresinya berubah begitu melihat wajahku. "Ada apa?" tanyanya tegas. Aku menyerahkan ponselku padanya tanpa berkata apa-apa. Lucian mengambilnya, matanya tajam membaca pesan itu. Rahangnya mengencang, lalu jemarinya menggenggam ponsel dengan kuat. "Felix, keluarlah dulu,

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Melanggar Perintah

    Langkahku terhenti di depan pintu kafe Serenity Sips, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Aku tidak yakin apakah ini ide yang baik, tetapi aku harus mendapatkan jawaban. Damien sudah menungguku di dalam, duduk di sudut ruangan dengan ekspresi yang sulit diterka. Aku menarik napas perlahan, lalu melangkah masuk. Begitu matanya menangkap sosokku, ekspresinya berubah sejenak—seperti ada kegugupan yang berusaha dia tutupi. Namun, pria itu segera menegakkan punggung dan menatapku dengan tajam. “Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang.” Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk tanpa basa-basi. “Kita perlu bicara sesuatu yang penting.” Damien menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tangannya terlipat di dada. “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” Mataku menelusuri ekspresinya untuk mencari

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Seperti Cermin Retak

    Aku masih terbaring di sofa ruangan kerja Lucian saat suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita masuk dengan langkah anggun. Joanne Devereaux. Matanya yang tajam menelusuri ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebihan, tapi ada ketegasan yang sulit diabaikan. Aku menarik napas pelan, bersiap menghadapi percakapan yang kemungkinan besar tidak disertai candaan. "Hai, Seraphina," sapanya sambil duduk di sampingku. "Hai juga, Joanne. Saya tidak menyangka Anda datang ke sini," balasku setelah duduk dan menoleh padanya. Dia mengamati wajahku dengan saksama. "Bagaimana kondisi ibumu?" "Masih belum ada kabar baik," jawabku singkat tanpa emosi berlebih. Lebih tepatnya air mataku sudah kering berlarut-larut dalam kesedihan. Joanne mengangguk pelan sebelum akhirnya melipat tangannya di atas pangkuan. "Aku tidak akan bertele-tele. Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang mungkin ingin kau

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dugaan Pelaku

    Sejak tadi pagi, Lucian menghubungi beberapa orang, termasuk tim investigasi pribadinya. Tatapannya tajam, wajahnya menunjukkan ketegangan yang tak biasa. Ternyata pria itu sungguh tidak akan diam saja setelah insiden kecelakaan Ibuku. Lucian berdiri di dekat jendela dengan punggungnya yang menghadapku. “Aku ingin laporan lengkap dalam waktu dua puluh empat jam,” katanya dengan nada tegas. “Cari tahu siapa yang ada di sekitar lokasi kejadian sebelum dan sesudah kecelakaan.” Aku mendengar suara seseorang di seberang telepon menjawab dengan cepat, lalu Lucian melanjutkan, “Termasuk semua aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan keluarga Langley dan Devereaux.” Dia menutup telepon tanpa banyak basa-basi. Aku segera mendekatinya untuk mencari tahu seberapa jauh dia sudah mendapatkan informasi. “Apa ada perkembangan?” tanyaku dengan ekspresi penuh harap. Lucian menoleh padaku. “Masih dalam tahap pengumpulan data. Aku juga meminta rekaman CCTV di sekitar rumah sakit.” Aku me

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Cokelat dan Permen

    Suara langkah kakiku terdengar cepat di lantai rumah sakit. Jantungku berdegup kencang saat aku kembali menghampiri ruangan dokter. Tanganku gemetar saat mengetuk pintu, berharap ada kabar baik yang bisa meredakan sesak di dadaku. Dokter yang sama seperti tadi pagi membuka pintu. Ekspresinya masih sama—serius dan penuh kehati-hatian. "Bagaimana kondisi Ibu saya, Dokter?" tanyaku mendesak. Dokter itu menghela napas. "Kami masih melakukan yang terbaik. Tapi sampai sekarang, ibu Anda belum menunjukkan respons yang signifikan." "Tidak bisakah Anda memprediksi kapan ibu saya akan sadar?" "Kami tidak bisa memberikan kepastian, Nona. Lukanya cukup parah, dan masa pemulihan setiap pasien berbeda-beda. Kami hanya bisa terus memantau dan memberikan perawatan terbaik." Aku mengepalkan tanganku, menahan rasa frustrasi yang meluap di dadaku. "Jadi, saya hanya bisa menunggu tanpa kepastian?" Dokter itu menatapku penuh pengertian. "Saya mengerti ini sulit untuk Anda. Tapi percayalah, k

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Harus Tetap Sempurna

    “Ayah, aku ingin mengenalkan seseorang,” ucapku setelah duduk kembali ke kursi tunggu dan Lucian di sebelahku. Namun sebelum aku sempat melanjutkan, suara Lucian terdengar lebih dulu. “Selamat malam, Tuan Dawson.” Aku spontan menoleh. Melihat wajah Lucian tampak serius, tetapi ada nada hormat dalam suaranya. Sesuatu yang cukup mengejutkanku, mengingat sebelumnya tak pernah menunjukkan sikap seperti itu pada orang tuanya sendiri. Dawson menatap Lucian dengan seksama, lalu tersenyum tipis. “Jadi kau yang namanya Lucian Devereaux, ya?" Lucian mengangguk sopan. “Benar, saya Lucian Devereaux, suami dari Seraphina, putri Anda." Dawson mengangguk dengan senyum lembut. “Salam kenal. Aku sering mendengar tentangmu.” Aku membelalakkan mata. Apa maksudnya? Dari siapa ayah mendengar tentang Lucian? Padahal setahuku ini pertama kalinya mereka bertemu. “Ayah mengenal Lucian?” tanyaku mengangkat alis heran. "Tentu saja, Seraphina. Semua orang mengetahui siapa saja keluarga Deverea

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Insiden yang Berhubungan

    Aku menatap kosong ke dalam cangkir kopi yang sudah dingin di hadapanku. Pikiranku masih dipenuhi dengan ucapan Joanne beberapa jam lalu. Gemetar ringan di meja menyadarkanku. Ponselku bergetar untuk menampilkan sebuah pesan masuk. Aku mengulurkan tangan dan mengambilnya dengan setengah hati. Namun, saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersentak. Margaret Roseanne. Alisku berkerut, rasa cemas langsung menjalari tubuhku. Margaret jarang sekali menghubungiku, apalagi di jam segini. Dengan cepat aku membuka pesannya. [Seraphina, ibumu kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit dekat perusahaan Devereaux. Kondisinya sangat kritis.] Dadaku langsung sesak. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku merasa nyaris pingsan jika aku tidak menampar pipiku. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru bangkit. Bahkan kursi yang berdecit saat terdorong ke belakang hampir saja jatuh. Aku meraih tas dan ponselku, lalu bergegas keluar dari apartemen. Aku mengemudi secepat yang aku bisa

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Mengabaikan Larangan

    Kepalaku masih berat saat membuka mata. Rasa pusing menyerang begitu cepat, seperti efek samping dari malam yang penuh kekacauan. Aku menghela napas sambil menatap langit-langit kamar. Kemudian mataku bergerak ke arah kaki yang diperban rapi. Luka yang kuterima semalam kembali muncul dalam ingatan. Seseorang memberikanku teror. Namun yang membuatku lebih terkejut adalah bagaimana Lucian bertindak. Dia tidak seharusnya begitu peduli, tapi perlakuannya padaku kemarin menunjukkan sebaliknya. Aku menggeleng, mencoba menyingkirkan pikiran yang mulai berantakan. Tak lama suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka, dan di sana berdiri sosok yang sama sekali tak kuduga akan muncul pagi ini. Lucian. Aku pikir dia sudah berangkat ke kantor. Dengan santai, dia masuk sambil membawa nampan berisi sepiring pancake mini dengan maple syrup dan segelas susu hangat. Aku menatapnya dengan alis terangkat, tidak yakin harus merespons bagaimana. "Aku tidak meminta apapun," kataku s

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Hampir Membuat Gila

    Aku menatap lurus ke depan, tapi otakku berputar memutar ulang kejadian tadi di pertemuan bisnis. Suara mesin mobil berdengung halus di telinga, tapi yang mengganggu justru gema tawa Veronica dan Celeste. Sialan. “Mereka bilang apa saja?” Suara Lucian terdengar tiba-tiba di keheningan, hampir tanpa emosi. Dia menyandarkan punggung ke jok mobil, tangan kirinya menggenggam setir dengan santai. Aku mendesah panjang. “Celeste. Dia mengatakan beberapa kalimat sampah di depan semua wanita di sana. Dia berpikir aku menikahimu hanya mendapat kekuasaan. Dan Veronica, entah kenapa tiba-tiba datang dan mendukung Celeste. Seperti biasa, saudarimu itu melontar kata-kata mutiara yang membuat telingaku panas." Lucian masih diam. Sorot matanya tetap fokus ke jalanan, seolah semua ini bukan hal yang mengejutkan. “Lalu Damien ternyata mengikutiku saat aku pergi ke tempat sepi." Aku melanjutkan dengan nada sedikit jengkel, “Dia meminta maaf atas nama istrinya. Tapi yang paling menyebalkan dia be

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status