Beranda / Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Pembicaraan Menegangkan

Share

Pembicaraan Menegangkan

Penulis: Purplexyiii
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-23 21:38:00

Ruangan tamu di rumah keluarga Devereaux terasa lebih seperti ruang sidang daripada tempat berkumpul. Langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung emas yang berkilauan, dan perabotannya mencerminkan kemewahan yang melebihi kata mewah itu sendiri.

Aku duduk di sofa panjang dengan Lucian di sampingku, sementara Haelyn dan Matteo duduk berhadapan. Haelyn masih dengan ekspresi tajamnya, sementara Matteo tampak lebih netral—atau mungkin hanya lelah dengan semua ini.

Veronica memilih untuk tidak ikut. Tentu saja. Dia mungkin sedang mengatur strategi baru untuk menyerangku nanti.

Lucian kemudian membuka suara langsung ke inti permasalahan. "Jadi, kenapa kalian memanggilku pulang?"

Haelyn menegakkan punggungnya. "Lucian, kau benar-benar perlu bertanya? Astaga. Kami bangun pagi-pagi hanya untuk membaca berita bahwa putra kami sudah menikah secara mendadak, tanpa pemberitahuan apa pun?"

Lucian tampak tidak terganggu. "Berita itu tidak salah. Aku memang menikah."

Haelyn mendecakkan lidahny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Berkeliling Gedung

    "Jadi, sampai kapan kau menganggap tidak ada orang di sini?" Suaraku menggema di dalam lift VIP yang sedang bergerak naik. Aku berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, memandang Lucian yang bersandar santai di sudut lift. Lucian menatap pantulan dirinya di dinding logam, lalu menoleh dengan alis sedikit terangkat. "Aku tidak ada topik pembicaraan.""Lucian." Aku mendesah pelan. "Kau cukup menyebalkan."Sebelum Lucian sempat menjawab, ponselnya tiba-tiba bergetar. Dia melirik layar lalu beralih padaku. "Aku harus mengangkatnya."Aku memutar mata malas. "Silakan saja."Lucian menjauh, berdiri menghadap dinding lift. Nada suaranya berubah serius begitu dia mulai berbicara. Aku menatap punggungnya dengan pandangan penasaran. Lift berhenti di lantai yang kami tuju, tetapi Lucian menahan pintu dengan satu tangan sambil masih berbicara di telepon. Dia menoleh sebentar. "Ada urusan mendesak. Kau ke ruanganku dulu saja.""Apa itu masalah serius?""Iya, sangat serius. Aku harus segera p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Makan di Kantin Karyawan

    "Felix, ini serius kantin untuk karyawan?" Aku berhenti di depan pintu kaca besar bertuliskan Devereaux Cafeteria. Suara ramai dari dalam terdengar jelas, bercampur aroma sedap yang menggoda. Felix berdiri di sebelahku dengan pandangan menatap sekeliling seolah mewaspadai sesuatu. "Iya, Nona," jawab Felix sambil menoleh padaku. "Tapi ini memang bukan sembarang kantin. Ini tempat yang sering dibilang kantin kantor yang paling mewah dan berbintang lima."Aku spontan menggeleng takjub. "Kedengarannya sombong.""Dan itu fakta." Felix berganti menatapku serius. "Anda yakin ingin makan di sini?""Kenapa tidak?" Aku mendorong pintu kaca dengan percaya diri. "Aku juga bagian dari perusahaan ini. Aku bebas makan di mana saja. Lagi pula aku bosan dengan makanan di kantin VIP."Felix sepertinya tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengikuti dari belakang saat aku mulai melangkah masuk.Di dalam, suasananya jauh dari kata biasa. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi, dihiasi lampu gantun

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Benarkah itu Kebohongan?

    “Kau yakin Lucian akan menjemputmu?” Veronica bersandar santai di ambang pintu ruang kerja Lucian. Senyumnya miring, matanya menyorot penuh kemenangan. Aku yang tengah duduk di sofa sengaja tidak langsung menjawab. Wajahku tetap tenang, meskipun hatiku tidak sepenuhnya. “Aku tidak menunggunya,” jawabku akhirnya. Suaraku pelan, tapi tegas. Veronica tertawa kecil. “Oh, ya? Jadi kau di sini untuk apa? Melamun sampai ketiduran?” Aku menarik napas perlahan. Mataku menatap Veronica tanpa ekspresi. Memang, aku ketiduran. Setelah menunggu berjam-jam, aku berkali-kali mengecek ponselku, tapi tidak ada satu pesan pun dari Lucian. Bukan hanya tidak datang, bahkan Lucian tidak mengabariku. “Apa kau tidak lelah?” Veronica melangkah masuk, mendekat dengan langkah pelan seperti singa yang mengintai mangsanya. “Kau tahu kau terlihat menyedihkan? Duduk di sini sepanjang hari,

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Masuk Kamar Lucian

    “Lucian belum pulang juga?" Pertanyaan itu berkali-kali terlintas di kepalaku sejak aku masuk ke apartemen malam ini. Aku bahkan tidak sadar sudah berapa kali melihat jam di dinding. Pukul 11.35 malam. Aku menghela napas panjang. Sepatu hak tinggi yang sejak tadi melekat di kakiku akhirnya aku lepas. Langkahku pelan menuju kamar. Tubuhku lelah, bukan hanya karena menunggu berjam-jam di kantor Lucian tadi, tetapi juga karena perasaanku yang entah kenapa terasa lebih berat malam ini. Begitu masuk kamar, aku langsung melepaskan blazer dan membiarkannya terjatuh di sofa. Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh kulitku, membuatku merinding tipis. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitku, mengalir dari kepala hingga ke ujung kaki. Rasanya menenangkan, tapi tidak cukup untuk menghapus gelisah di dadaku. Aku memejamkan mata, berharap pikiranku tenang. Tapi y

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Baju Tidur Agresif

    "Astaga. Apa yang aku lakukan?" Aku tersentak dan spontan duduk. Napasku sedikit memburu. Selimut tebal berwarna kelabu masih melilit tubuhku. Tanganku bergetar saat menyibak kain itu, dan ... ternyata aku masih memakai baju. Syukurlah. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pandanganku menyapu ruangan. Ini jelas bukan kamarku. Ini kamar Lucian. Kasurnya, aromanya—semua familiar. Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku mengacak rambutku dengan frustrasi. Kejadian semalam samar-samar terlintas. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Aku memang bodoh. Dengan gerakan terburu-buru, aku merapikan selimut dan bantal di tempat tidur. Aku bahkan menepuk-nepuk kasur itu, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang mencurigakan. Lalu dengan langkah hati-hati, aku melangkah ke pintu. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai ruang tengah, aroma masakan tiba-tiba memenuhi hidungku. T

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Berkas Berisi Rahasia

    “Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Seraphina.” Suara Lucian terdengar datar dari dapur. Aku mendengus kecil, menatap pintu kamar dari kejauhan. Jarak dari sini ke meja makan hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti ada tembok tak kasat mata yang terlalu tebal buat kulewati. Bau telur orak-arik dan kopi yang baru diseduh memenuhi udara, tapi perutku tidak tertarik. Perutku bahkan terasa kosong, bukan karena lapar, melainkan karena rasa canggung yang menggelayuti hati. “Duduklah di sini, jangan mengurung diri di kamar." Suara Lucian terdengar santai, seolah dia tidak merasakan ketegangan yang mengalir di antara kami. Aku menghela napas. Ini konyol. Setelah kejadian semalam di kamar Lucian—yang sampai sekarang kupikir tidak seharusnya terjadi—aku masih belum siap berhadapan dengannya. Bukan karena aku takut, tapi karena ... aku malu. Kejadian itu terlalu mendebarkan, dan aku belum siap untuk menghadapinya. Aku menenggelamkan wajah ke bantal sofa, berus

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Balasan Setimpal

    Aku berdiri di depan meja Lucian, menggenggam sebuah dokumen yang baru saja kutemukan tadi. Tatapanku menuntut jawaban, tetapi Lucian hanya menatap balik dengan wajah tanpa ekspresi. Kekhawatiran dan rasa ingin tahuku berpadu dalam satu titik fokus: dokumen itu. “Tolong jelaskan, apa maksudnya ini?” Lucian tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya menghentikan aktivitasnya yang mengetik. Rasa frustrasiku meningkat. Seakan-akan dia memiliki semua jawaban, tapi tidak ingin membagikannya. "Hei, jawab aku." Aku tidak menyerah. Kutemukan keberanian untuk mendekat, menggoda dengan kata-kata manis dan senyum yang dirancang untuk melunakkan hati. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Lucian menangkap pergelangan tanganku dengan cepat dan menarikku ke pangkuan. Kini aku duduk di atas satu paha Lucian. Posisi itu cukup intim untuk membuat pikiranku kosong seketika. Nafasku tersendat, dan aku tak bisa mempercayai situasi ini. Lucian tersenyum tipis, penuh makna yan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Wanita yang Berkelas

    “Lucian memang selalu punya selera yang ... unik, ya?” Suara Celeste terdengar begitu manis, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti ditaburi racun ular. Mataku bergerak dari piring kecil berisi mini eclair dengan isian krim vanila di tanganku ke arah perempuan itu. Senyum tipis masih bertengger di wajahnya, sementara jemarinya melingkari gelas anggur putih yang tampak nyaris kosong. “Oh, aku setuju,” sahut salah satu wanita di sebelahnya dengan rambut sebahu. “Aku dengar dulu mereka berdua benar-benar tidak terpisahkan. Siapa sangka akhirnya dia beralih ke ... pilihan lain?” Mereka tertawa pelan, cukup lirih untuk dianggap sopan, tapi cukup nyaring untuk membuat siapa pun paham. Aku mengambil gigitan kecil dari eclair di tanganku, mengunyah perlahan, dan menyesap rasa lembut vanila yang meleleh di lidah. Aku tidak menoleh. Tidak sekarang. “Maksudku." Celeste melanjutkan. "Gaun emerald itu cantik, tapi blazer tailored dipadukan stiletto nude dan clutch sat

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26

Bab terbaru

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Hampir Membuat Gila

    Aku menatap lurus ke depan, tapi otakku berputar memutar ulang kejadian tadi di pertemuan bisnis. Suara mesin mobil berdengung halus di telinga, tapi yang mengganggu justru gema tawa Veronica dan Celeste. Sialan. “Mereka bilang apa saja?” Suara Lucian terdengar tiba-tiba di keheningan, hampir tanpa emosi. Dia menyandarkan punggung ke jok mobil, tangan kirinya menggenggam setir dengan santai. Aku mendesah panjang. “Celeste. Dia mengatakan beberapa kalimat sampah di depan semua wanita di sana. Dia berpikir aku menikahimu hanya mendapat kekuasaan. Dan Veronica, entah kenapa tiba-tiba datang dan mendukung Celeste. Seperti biasa, saudarimu itu melontar kata-kata mutiara yang membuat telingaku panas." Lucian masih diam. Sorot matanya tetap fokus ke jalanan, seolah semua ini bukan hal yang mengejutkan. “Lalu Damien ternyata mengikutiku saat aku pergi ke tempat sepi." Aku melanjutkan dengan nada sedikit jengkel, “Dia meminta maaf atas nama istrinya. Tapi yang paling menyebalkan dia be

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tidak Bisa Dipengaruhi

    "Suamimu itu ... benar-benar pria yang menarik perhatian, ya?” Suara itu datang dari belakang, pelan tapi penuh maksud. Aku tidak perlu berbalik untuk tahu siapa pemiliknya. Hanya ada satu orang yang selalu mulai percakapan dengan nada seolah-olah aku harus peduli. Damien Vaughn. Aku menghela napas pendek. Jari-jariku mencengkeram piring kecil berisi kue yang kubawa dari acara tadi. Aku sengaja pergi ke sisi lain mansion ini untuk menenangkan diri. Aku duduk di kursi kecil di dekat kolam renang. Meletakkan piring di pangkuan, lalu mengambil sepotong kue tanpa menoleh ke arahnya. Satu gigitan manis meleleh di lidahku, tapi rasanya hambar dengan kehadiran Damien yang masih berdiri di belakangku. “Kau baik-baik aja?” tanyanya lagi. Kali ini suaranya lebih dekat. Aku tetap diam. Memilih memotong lagi kue di piringku. Aku sebenarnya sedang menahan muak dan malas. “Aku mendengar tentang kejadian tadi.” Damien melangkah ke sisi kananku, akhirnya berdiri di samping kursi. “Celest

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Wanita yang Berkelas

    “Lucian memang selalu punya selera yang ... unik, ya?” Suara Celeste terdengar begitu manis, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti ditaburi racun ular. Mataku bergerak dari piring kecil berisi mini eclair dengan isian krim vanila di tanganku ke arah perempuan itu. Senyum tipis masih bertengger di wajahnya, sementara jemarinya melingkari gelas anggur putih yang tampak nyaris kosong. “Oh, aku setuju,” sahut salah satu wanita di sebelahnya dengan rambut sebahu. “Aku dengar dulu mereka berdua benar-benar tidak terpisahkan. Siapa sangka akhirnya dia beralih ke ... pilihan lain?” Mereka tertawa pelan, cukup lirih untuk dianggap sopan, tapi cukup nyaring untuk membuat siapa pun paham. Aku mengambil gigitan kecil dari eclair di tanganku, mengunyah perlahan, dan menyesap rasa lembut vanila yang meleleh di lidah. Aku tidak menoleh. Tidak sekarang. “Maksudku." Celeste melanjutkan. "Gaun emerald itu cantik, tapi blazer tailored dipadukan stiletto nude dan clutch sat

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Balasan Setimpal

    Aku berdiri di depan meja Lucian, menggenggam sebuah dokumen yang baru saja kutemukan tadi. Tatapanku menuntut jawaban, tetapi Lucian hanya menatap balik dengan wajah tanpa ekspresi. Kekhawatiran dan rasa ingin tahuku berpadu dalam satu titik fokus: dokumen itu. “Tolong jelaskan, apa maksudnya ini?” Lucian tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya menghentikan aktivitasnya yang mengetik. Rasa frustrasiku meningkat. Seakan-akan dia memiliki semua jawaban, tapi tidak ingin membagikannya. "Hei, jawab aku." Aku tidak menyerah. Kutemukan keberanian untuk mendekat, menggoda dengan kata-kata manis dan senyum yang dirancang untuk melunakkan hati. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Lucian menangkap pergelangan tanganku dengan cepat dan menarikku ke pangkuan. Kini aku duduk di atas satu paha Lucian. Posisi itu cukup intim untuk membuat pikiranku kosong seketika. Nafasku tersendat, dan aku tak bisa mempercayai situasi ini. Lucian tersenyum tipis, penuh makna yan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Berkas Berisi Rahasia

    “Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Seraphina.” Suara Lucian terdengar datar dari dapur. Aku mendengus kecil, menatap pintu kamar dari kejauhan. Jarak dari sini ke meja makan hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti ada tembok tak kasat mata yang terlalu tebal buat kulewati. Bau telur orak-arik dan kopi yang baru diseduh memenuhi udara, tapi perutku tidak tertarik. Perutku bahkan terasa kosong, bukan karena lapar, melainkan karena rasa canggung yang menggelayuti hati. “Duduklah di sini, jangan mengurung diri di kamar." Suara Lucian terdengar santai, seolah dia tidak merasakan ketegangan yang mengalir di antara kami. Aku menghela napas. Ini konyol. Setelah kejadian semalam di kamar Lucian—yang sampai sekarang kupikir tidak seharusnya terjadi—aku masih belum siap berhadapan dengannya. Bukan karena aku takut, tapi karena ... aku malu. Kejadian itu terlalu mendebarkan, dan aku belum siap untuk menghadapinya. Aku menenggelamkan wajah ke bantal sofa, berus

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Baju Tidur Agresif

    "Astaga. Apa yang aku lakukan?" Aku tersentak dan spontan duduk. Napasku sedikit memburu. Selimut tebal berwarna kelabu masih melilit tubuhku. Tanganku bergetar saat menyibak kain itu, dan ... ternyata aku masih memakai baju. Syukurlah. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pandanganku menyapu ruangan. Ini jelas bukan kamarku. Ini kamar Lucian. Kasurnya, aromanya—semua familiar. Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku mengacak rambutku dengan frustrasi. Kejadian semalam samar-samar terlintas. Aku menggigit bibir bawahku keras-keras. Aku memang bodoh. Dengan gerakan terburu-buru, aku merapikan selimut dan bantal di tempat tidur. Aku bahkan menepuk-nepuk kasur itu, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang mencurigakan. Lalu dengan langkah hati-hati, aku melangkah ke pintu. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai ruang tengah, aroma masakan tiba-tiba memenuhi hidungku. T

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Masuk Kamar Lucian

    “Lucian belum pulang juga?" Pertanyaan itu berkali-kali terlintas di kepalaku sejak aku masuk ke apartemen malam ini. Aku bahkan tidak sadar sudah berapa kali melihat jam di dinding. Pukul 11.35 malam. Aku menghela napas panjang. Sepatu hak tinggi yang sejak tadi melekat di kakiku akhirnya aku lepas. Langkahku pelan menuju kamar. Tubuhku lelah, bukan hanya karena menunggu berjam-jam di kantor Lucian tadi, tetapi juga karena perasaanku yang entah kenapa terasa lebih berat malam ini. Begitu masuk kamar, aku langsung melepaskan blazer dan membiarkannya terjatuh di sofa. Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh kulitku, membuatku merinding tipis. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Air hangat menyentuh kulitku, mengalir dari kepala hingga ke ujung kaki. Rasanya menenangkan, tapi tidak cukup untuk menghapus gelisah di dadaku. Aku memejamkan mata, berharap pikiranku tenang. Tapi y

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Benarkah itu Kebohongan?

    “Kau yakin Lucian akan menjemputmu?” Veronica bersandar santai di ambang pintu ruang kerja Lucian. Senyumnya miring, matanya menyorot penuh kemenangan. Aku yang tengah duduk di sofa sengaja tidak langsung menjawab. Wajahku tetap tenang, meskipun hatiku tidak sepenuhnya. “Aku tidak menunggunya,” jawabku akhirnya. Suaraku pelan, tapi tegas. Veronica tertawa kecil. “Oh, ya? Jadi kau di sini untuk apa? Melamun sampai ketiduran?” Aku menarik napas perlahan. Mataku menatap Veronica tanpa ekspresi. Memang, aku ketiduran. Setelah menunggu berjam-jam, aku berkali-kali mengecek ponselku, tapi tidak ada satu pesan pun dari Lucian. Bukan hanya tidak datang, bahkan Lucian tidak mengabariku. “Apa kau tidak lelah?” Veronica melangkah masuk, mendekat dengan langkah pelan seperti singa yang mengintai mangsanya. “Kau tahu kau terlihat menyedihkan? Duduk di sini sepanjang hari,

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Makan di Kantin Karyawan

    "Felix, ini serius kantin untuk karyawan?" Aku berhenti di depan pintu kaca besar bertuliskan Devereaux Cafeteria. Suara ramai dari dalam terdengar jelas, bercampur aroma sedap yang menggoda. Felix berdiri di sebelahku dengan pandangan menatap sekeliling seolah mewaspadai sesuatu. "Iya, Nona," jawab Felix sambil menoleh padaku. "Tapi ini memang bukan sembarang kantin. Ini tempat yang sering dibilang kantin kantor yang paling mewah dan berbintang lima."Aku spontan menggeleng takjub. "Kedengarannya sombong.""Dan itu fakta." Felix berganti menatapku serius. "Anda yakin ingin makan di sini?""Kenapa tidak?" Aku mendorong pintu kaca dengan percaya diri. "Aku juga bagian dari perusahaan ini. Aku bebas makan di mana saja. Lagi pula aku bosan dengan makanan di kantin VIP."Felix sepertinya tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengikuti dari belakang saat aku mulai melangkah masuk.Di dalam, suasananya jauh dari kata biasa. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi, dihiasi lampu gantun

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status