Zahra mengetik hasil wawancaranya, ia tidak kesulitan karena asisten Hisyam mengirimkan data yang di jnginkan Zahra. Tentu saja atas seijin Hisyam. Semenjak kejadian itu, Zahra sering menghindari Hisyam. Ia menjauhkan diri sampai pindah kamar segala.Gadis itu tersinggung karena Hisyam hanya menginginkan tubuhnya. Tidak mencintainya. Zahra memaklumi kalau cinta Hisyam sudah habis untuk Winda almarhum istrinya. Apalagi mendengar perkataan Brenda membuat perasaannya makin campur aduk. Usai mengetik di laptop tanpa sadar Zahra terserang rasa kantuk. Dia menyandarkan kepalanya di atas meja. Lama-lama tertidur juga saking ngantuknya.Sementara di kamar utama, Hisyam tidak menemukan keberadaan Zahra. Dia panik karena semua pakaian Zahra tidak ada di lemari. Langsung Hisyam merogoh ponselnya barangkali Zahra meninggalkan pesan. Ternyata benar, gadis itu meninggalkan pesan pendek, kalau pindah di kamar sebelah."Om, maaf aku pindah di kamar sebelah. Aku pingin sendiri dulu," pesan Zahra.His
Zahra tidak mau di antar Abie sampai ke rumahnya. Dia memilih naik taksi, hal itu tentu saja membuat Abie kecewa karena kehilangan cewek incarannya. Sampai di rumah, Zahra yang tidak memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi mendapat teguran dari Hisyam."Pakaianmu kenapa bisa ganti?" Hisyam menghentikan langkah Zahra sewaktu tiba di depan pintu kamar."Bukan urusan Om," jawab Zahra dingin."Kok bukan urusanku, kamu itu istriku Zahra. Kamu harus jaga sikap di luar sana," peringat Hisyam. Zahra yang hendak masuk ke dalam kamarnya menjadi berbalik menoleh ke arah Hisyam. "Om, sadar gak sih kita itu menikahnya diam-diam. Jadi, mana mungkin ada yang tahu hubungan kita," bantah Zahra."Oh, jadi karena itu kamu leluasa jalan sama pria lain. Ke butik beli pakaian. Seolah aku tidak bisa belikan kamu baju," protes Hisyam."Om, mata-matain aku?" tanya Zahra sedikit berang."Bukan mata-matain kamu. Aku hanya tidak ingin kamu sembarangan kenal orang," kata Hisyam. "Om, kok jadi ngatur-ngatur
Abie masih teringat pertemuannya dengan Zahra. Ia tidak bisa melupakan wajah ayu perempuan yang baru kemarin di temuinya. Abie merasa Zahra berbeda dengan gadis seusianya. Tidak matre dan tidak mau memanfaatkan orang lain."Sepertinya, aku sudah jatuh hati pada perempuan itu. Tapi di mana aku bisa menemukannya. Nomor teleponnya pun aku tidak punya," batin Abie. Tidak mudah meminta nomor telepon dari Zahra. Gadis itu tertutup terhadap orang yang baru di kenalnya. Karena itulah Abie menjadi penasaran.Abie seperti orang linglung melamunkan kejadian kemarin. Hingga tanpa sadar ada seorang wanita yang tiba-tiba datang merangkul dirinya. "Ada apa sih, tumben kamu melamun?" tanya Citra. Gadis itu menempel saja kayak perangko. Kali ini mereka berdua berada di apartemen Abie."Tidak apa-apa, kamu sebaiknya pulang saja karena aku masih ada perlu penting," ucap Abie."Kamu ngusir aku? Kita belum lakuin apapun sedari tadi," rengek Citra."Lain kali saja, aku sibuk," tolak Abie. Sementara Citra
Zahra pamit pada Hisyam, parfumnya yang wangi membuat hasrat Hisyam makan tinggi melihat kecantikan istrinya. Tapi sayangnya, istrinya itu hanya mencium punggung tangannya. Lalu apa hubungannya dengan area bawahnya mengapa ikut kesetrum juga."Om, aku berangkat dulu. Doakan semoga semuanya lancar," lirih Zahra. Ucapan itu sedikit berat dan penuh penekanan. Seperti ada makna dalam kata-katanya. Hisyam mengangguk mengiyakan. Ia membalas mengecup kening Zahra. Bibir lembab itu mendarat seketika, membuat Zahra sedikit kaget. Ia masih ingat bagaimana Hisyam dulu sering menciumnya. Zahra berusaha menghapus kenangan itu. Ia tidak ingin terpengaruh terbawa perasaan yang akan membuatnya jatuh cinta pada Hisyam.Zahra melangkah keluar dari kamar Hisyam. Ia harus menghadapi hari ini apapun yang terjadi. Sepeninggal Zahra, Hisyam langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia mandi air hangat di bathup agar lebih segar. Lalu keluar memakai pakaian necis. Hari ini ada hal penting yang harus dj lakukan
"Sepertinya orang tua kamu tidak cukup baik mendidikmu. Wanita yang kamu hina sedari tadi itu adalah istriku!" jelas Hisyam. Suaranya keras dan lantang, hingga semua orang yang hadir di sana tercengang di buatnya."Tunggu .... Bapak bilang Zahra ini istrinya Pak Hisyam?" tanya Risa tak percaya. Begitu juga dengan Pak Ali atau para pejabat kampus yang hadir di acara itu."Saya yakin, dia pasti istri simpanan kan!" ejek Risa.Plak! Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Risa hingga memerah. Tamparan itu di lakukan bodyguard Hisyam."Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menampar bocah ingusan sepertimu. Tapi mulutmu sudah keterlaluan, kau pantas menerimanya!" ucap Hisyam. "Tetap saja Zahra wanita tidak benar, ia melakukan berbagai cara untuk memenangkan lomba ini!" Risa masih saja ngoceh tak karuan. Ia tidak terima sekaligus iri Zahra menjadi istri pengusaha paling kaya raya di kota."Dia istri sahku, aku tidak pernah menganggapnya simpanan!" Hisyam makin berang menjawab perkataan
Hisyam sengaja mengosongkan isi rumahnya. Tidak ada pelayan di sana, hanya ada dirinya. Tentu saja semua makanan sudah tersakiti sempurna. Ia tahu istri kecilnya itu pasti sangat lapar setelah kejadian tidak menyenangkan menimpanya.Zahra masuk ke dalam rumah, dia heran mengapa tampak sepi tidak seperti biasa nya. Ia langsung masuk ke dalam kamar karena kelelahan. Namun pada saat membuka pintu kamarnya dia kaget karena Hisyam sudah menunggu di dalam."Om, kok di sini. Kamar Om kan di sana," ucap Zahra panik. Hampir saja dia melepas bajunya sembarangan. Untung saja dia sempat melihat pantulan wajah Hisyam di cermin."Dimanapun, semua kamar milikku," kata Hisyam. Ia mendekati Zahra membuat gadis muda itu kikuk. Susah payah dua pergi menghindari Hisyam sekarang pria itu justru berdiri di hadapannya."Aku mau istirahat. Om pergilah ke kamar Om sendiri," ucap Zahra setengah memohon.Tangan kekar Hisyam meraih pinggang Zahra, membuat tubuh gadis cantik itu meremang. "Setelah apa yang aku la
Zahra bungkam setelah Hisyam mengucapkan perkataan sebelumnya. Yaitu ada wanita lain yang sudah mengisi hatinya. "Gila dia senyum-senyum aja, gak tau hatiku sesakit ini," batin Zahra bermonolog."Zahra, nanti sore ada pesta peresmian cabang perusahaanku. Apa kamu mau ikut mendampingiku?" ajak Hisyam.Zahra terdiam sesaat, membayangkan suasana pesta itu pasti banyak yang datang dari kalangan para pengusaha terkenal. Kalau dia ada di sisi Hisyam pasti menimbulkan pertanyaan.Zahra belum siap menghadapi pertanyaan mereka mengenai status dirinya. "Enggak Om, aku pingin di rumah saja," jawab Zahra.Kecewa iya, tapi Hisyam tidak bisa memaksa. Terlebih akhir-akhir ini sikap Zahra kembali acuh. Ia tidak mengerti apa yang di pikirkan istrinya. Menikah dengan gadis kecil membuatnya main tebak-tebakan. "Oke, kalau kamu berubah pikiran. Nanti bilang ya, aku sudah siapin baju pestanya."Hisyam masih sabar menunggu Zahra berubah pikiran. Ia berharap Zahra mau menemaninya. Meski sebenarnya, sejak
Abie terkesiap kaget mendapati gadis yang di carinya justru ada di samping Papanya. Semua juga berbisik-bisik sekaligus bertanya-tanya mengenai posisi Zahra.Zahra sedikit takut, namun Hisyam menggenggam tangannya erat. Mencoba meyakinkannya meski tanpa kata-kata.Semua mata tertuju pada mereka, pasangan serasi meski berbeda generasi. Zahra memakai gaun tertutup tetap saja terkesan cantik dan elegan. Tanpa sadar warna yang di pakai hampir senada dengan setelan jas yang di kenakan Hisyam.Seorang pelayan memberikan nampan berupa gunting berpita. Hisyam mengambil gunting itu dan memotong pita peresmian. Semua bertepuk tangan menyambut di bukanya perusahaan baru yang merupakan cabang dari perusahaan Hisyam. Abie ikut bertepuk tangan tapi bibirnya melongo heran. Bagaimana Zahra bisa berada di posisi sedekah itu dengan papanya. Sebenarnya apa hubungan mereka?"Kalau boleh tahu siapa wanita di samping Anda Pak Hisyam?" tanya salah seorang wartawan."Dia ..."Hisyam memandang Zahra sejenak
Hisyam tidak langsung menjawab permintaan Abie. Ia harus mendiskusikannya dengan Zahra. Suami mana yang sanggup melihat istri yang di cintainya berduaan dengan pria lain. Meski Abie putranya, dia bukan putra kandungnya."Akan aku tanyakan pada Mama kamu," lirih Hisyam."Kamu istirahat dulu."Hisyam keluar dari kamar Abie, dia berhasil menenangkan putranya. Giliran hatinya tidak tenang. Ia harus merelakan Zahra berdekatan dengan Abie."Permintaan yang konyol," batin Hisyam."Di saat seperti ini bisa-bisanya dia memanfaatkan situasi dan perasaanku."Sama halnya ketika Winda datang membawa Abie yang masih kecil. Meminta perlindungan padanya. Menikahinya meski tidak pernah menyentuhnya. Ia menjadi perjaka bodoh yang berstatus suami.Baru saja keluar dari pintu kamarnya. Hisyam di kagetkan keberadaan Zahra yang sudah berdiri di depan pintu. Rupanya sedari tadi Zahra berada di luar kamar Abie. Ia tidak berani masuk, takut amukan Abie."Om, mau bicara sama kamu."Lirih namun bisa di dengar Z
Abie tersenyum, seolah dia mendapatkan kemenangannya. Papanya kembali tidak memarahinya. Ia kenal Hisyam. Seorang ayah yang tidak tegaan dan penuh kasih sayang. Di usianya yang masih bayi ibunya sudah di tinggal oleh papa kandungnya. Di usia lima tahun dia di pertemukan papa baru yang tajir melintir. Siapa yang tidak senang. Hidup berkecukupan bergelimang harta dan mendapat sekolah terbaik tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.Abie tidak pernah tahu wajah ayah kandungnya seperti apa. Karena Winda tidak pernah menunjukkan fotonya. Kemungkinan Winda terlalu sakit hati di tinggal selingkuh suaminya di saat hamil besar. Hisyam tahu jelas siapa pria itu. Tapi Hisyam selalu di wanti-wanti oleh Winda agar tidak mengatakannya pada Abie. Alasan Winda cukup kuat karena ayah kandung Abie tidak pantas membesarkan Abie. Zahra menautkan telapak tangannya di telapak tangan Hisyam. Membuat pria bertubuh tegap itu tersadar dari lamunannya. Hari ini Abie ingin pulang ke rumah, ia ingin rawat jalan. Sua
"Bagaimana keadaannya?" tanya Zahra."Dia lemah, butuh banyak cairan karena tidak mau makan beberapa hari ini," ucap Hisyam.Wajahnya terlihat lelah seperti ada yang di pikirkan tapi tidak bisa di curahkan pada istrinya. Zahra tidak sanggup untuk banyak bertanya lagi. Tidak rela rasanya."Om, temani aku makan di bawah. Perutku udah melilit dari tadi," ajak Zahra manja. Tatapannya penuh permohonan membuat Hisyam tak tega. Perasaannya yang tengah gundah gulana di tepis sebentar demi menyenangkan istri tercintanya."Turunlah lebih dulu, aku mau berganti pakaian," balas Hisyam."Oke."Aku tunggu di bawah ya," ucap Zahra penuh semangat.Sepeninggal Zahra, Hisyam duduk termenung sendirian. Memikirkan perkataannya Abie yang meminta agar dirinya melepas Zahra. Ia tidak habis pikir mengapa Abie bisa berpikiran seperti itu. Hisyam merasa gagal mendidik Abie selama ini."Lama-lama karaktermu mirip seperti ayah kandungmu," lirih Hisyam. Banyak hal yang di ketahui Hisyam mengenai ayah kandung Abie
Sepulang dari bulan madu Hisyam segera bergegas menemui Abie. Ia yakin putranya itu keras kepala dan tidak mau makan. Namun pada saat dia membuka pintu kamarnya, Abie tidak ada di tempat."Dimana dia?" Seorang pelayan mendekati Hisyam seolah ada sesuatu uang ingin di beritahukannya."Maaf Tuan. Tuan muda sudah di bawa ke rumah sakit karena tubuhnya terus melemah tidak mau makan," terang ARTnya. Zahra ikut kaget mendengarnya."Kenapa aku tidak di beritahu?" Hisyam geram karena tidak ada yang memberitahunya sama sekali."Maaf Tuan, kejadiannya begitu cepat. Kami hendak memberitahu Tuan tapi Tuan sudah datang lebih dulu." Pelayan itu menjelaskan sembari menundukkan kepalanya. Bibirnya bergetar takut kalau Hisyam marah besar dan menecatnya."Ya sudah, nanti aku akan kesana," pungkas Abie. Ia pun mengajak Zahra untuk beristirahat di kamarnya. Awalnya, Zahra memasuki kamarnya sendiri. Namun karena tidak tega pada Hisyam dia memilih tinggal di kamar Hisyam saja."Om tidak apa-apa?" tanya Z
Sepulang dari bulan madu Hisyam segera bergegas menemui Abie. Ia yakin putranya itu keras kepala dan tidak mau makan. Namun pada saat dia membuka pintu kamarnya, Abie tidak ada di tempat."Dimana dia?" Seorang pelayan mendekati Hisyam seolah ada sesuatu uang ingin di beritahukannya."Maaf Tuan. Tuan muda sudah di bawa ke rumah sakit karena tubuhnya terus melemah tidak mau makan," terang ARTnya. Zahra ikut kaget mendengarnya."Kenapa aku tidak di beritahu?" Hisyam geram karena tidak ada yang memberitahunya sama sekali."Maaf Tuan, kejadiannya begitu cepat. Kami hendak memberitahu Tuan tapi Tuan sudah datang lebih dulu." Pelayan itu menjelaskan sembari menundukkan kepalanya. Bibirnya bergetar takut kalau Hisyam marah besar dan menecatnya."Ya sudah, nanti aku akan kesana," pungkas Abie. Ia pun mengajak Zahra untuk beristirahat di kamarnya. Awalnya, Zahra memasuki kamarnya sendiri. Namun karena tidak tega pada Hisyam dia memilih tinggal di kamar Hisyam saja."Om tidak apa-apa?" tanya Z
"Jadi kan buat anaknya tiap hari," goda Hisyam. Ia hendak merangkul Zahra tapi gadis cantik itu justru menepis tubuhnya."Ih ... Om ke ger-an deh. Kalau bukan karena temen Om yang tingkahnya berbau pelakor aku pasti udah duduk anteng aja," ucap Zahra membela diri."Itu tandanya sayang.""Ya enggak juga, aku mempertahankan harga diriku sebagai istri kok. Mentang-mentang tampangku bocil gini mau di ejek semaunya," gerutu Zahra.Hisyam hanya geleng-geleng kepala. Seperti biasa kalau dari pantai dia pasti ke kamar mandi untuk membersihkan diri lagi. Pasalnya tubuh terasa lengket kalau tidak langsung mandi. Pagi dah mandi siang mandi lagi pokoknya kayak lumba-lumba si Om ini.Zahra cukup bosan karena dia dari tadi menunggu Hisyam mandi tidak kelar juga. "Ini Om sedang luluran ato ngapain sih. Lama banget mandinya kayak cewek," gerutu Zahra.Ia hendak mengetuk pintu kamar mandi tapi kaget bukan main karena tiba-tiba kepala Hisyam nongol separuh dari balik daun pintu."Astagfirullahhaladzim
Tak ada yang terjadi semalam, Zahra masih bergulat dengan selimutnya setelah sholat subuh. Sementara Hisyam sibuk dengan laptopnya memeriksa laporan dari Candra asisten pribadinya. Ingin dia mengabaikan semua pekerjaan itu. Namun acara bulan madu termasuk acara dadakan gara-gara ada Abie. Jadi banyak pekerjaan yang mesti harus di selesaikan."Om, kita pulang aja yuk," suara Zahra terdengar dari balik selimut.Hisyam terdiam sejenak menghentikan aktifitas di laptopnya. Tangannya berhenti mengetik, menyimpan data-data itu sebelum mematikan laptopnya. Ia mendekati istri kecilnya, menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh Zahra."Kamu bosan di sini?" tanya Hisyam."Enggak, aku cuman nggak enak. Om kayaknya banyak kerjaan," balas Zahra. Manik matanya menatap ke arah Hisyam yang tengah duduk di hadapannya."Tidak usah kamu pikirkan. Ayo kita keluar jalan-jalan lagi," ajak Hisyam.Zahra menggeleng. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke dinding. Tiba-tiba pria tampan itu ikut berbaring mir
Hari sudah mulai gelap, keduanya sudah kembali dari pantai membersihkan diri. Hisyam tersenyum saat Zahra memakai pakaian tidur. Ia kelihatan menggemaskan dengan bajunya yang bergambar boneka. Sementara kepala Zahra masih di balut hijab. Meski memakai pakaian yang longgar tetap saja terlihat cantik.Hisyam sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Ia pura-pura berbaring di ranjang memasang muka kelelahan. Terpaksa dia mengakali Zahra. Hanya dengan cara itu gadis itu peka dan lebih perhatian padanya."Om balik badan dulu," ucap Zahra. Otomatis kayak boneka di remot, tubuh Hisyam langsung berbalik tengkurap. Pikirannya sudah berselancar kemana-mana. Membayangkan jari-jari lentik Zahra memijat punggungnya. "Om, badannya gede. Kayaknya jariku nggak kuat kalau mijit langsung. Boleh kan aku pakai alat bantu?" tanya Zahra."Terserah kamu saja. Yang penting pegel-pegelku hilang," kata Hisyam pasrah. Meski ia tidak tahu apa yang akan di gunakan Zahra. Daripada aksi pijat memijatnya tidak jad
Selama beberapa saat Abie terpaku memandang Zahra. Wanita yang selama ini di tolaknya salam pernikahan justru sekarang dia inginkan. Andai saat itu Abie lebih teliti lagi tidak terburu-buru, mungkin Zahra sekarang sudah menjadi istrinya.Zahra tengah sibuk menata makanan untuk sarapan pagi. Hari ini dia libur, lumayan bisa membantu Mbok Siyem memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak biasanya Abie bangun lebih awal, tentu saja dia tidak ingin melewatkan momen bertemu Zahra. "Pagi Ma, cantik banget hari ini," puji Abie. Sementara Zahra merasa risih di panggil Mama oleh Abie. Ia terdiam tidak menjawab sapaan Abie. Rasanya hatinya masih kesal setelah tahu ternyata pria yang baru di kenalnya itu adalah mantan calon suami yang pernah di jodohkan dengannya dulu."Aku bantu ya nata piringnya," seloroh Abie tidak tahu malu. Gerah mendengar perkataan Abie yang menyebut dirinya Mama ia langsung menatap tajam ke arah Abie. Tak rela rasanya kalau dirinya yang masih muda di panggil Mama.