Share

Di ajak Ke Pesta

Penulis: Rasyidfatir
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-25 04:53:17

Zahra bungkam setelah Hisyam mengucapkan perkataan sebelumnya. Yaitu ada wanita lain yang sudah mengisi hatinya.

"Gila dia senyum-senyum aja, gak tau hatiku sesakit ini," batin Zahra bermonolog.

"Zahra, nanti sore ada pesta peresmian cabang perusahaanku. Apa kamu mau ikut mendampingiku?" ajak Hisyam.

Zahra terdiam sesaat, membayangkan suasana pesta itu pasti banyak yang datang dari kalangan para pengusaha terkenal. Kalau dia ada di sisi Hisyam pasti menimbulkan pertanyaan.Zahra belum siap menghadapi pertanyaan mereka mengenai status dirinya.

"Enggak Om, aku pingin di rumah saja," jawab Zahra.

Kecewa iya, tapi Hisyam tidak bisa memaksa. Terlebih akhir-akhir ini sikap Zahra kembali acuh. Ia tidak mengerti apa yang di pikirkan istrinya. Menikah dengan gadis kecil membuatnya main tebak-tebakan.

"Oke, kalau kamu berubah pikiran. Nanti bilang ya, aku sudah siapin baju pestanya."

Hisyam masih sabar menunggu Zahra berubah pikiran. Ia berharap Zahra mau menemaninya. Meski sebenarnya, sejak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Terpesona Papa Mertua   Siapa Zahra

    Abie terkesiap kaget mendapati gadis yang di carinya justru ada di samping Papanya. Semua juga berbisik-bisik sekaligus bertanya-tanya mengenai posisi Zahra.Zahra sedikit takut, namun Hisyam menggenggam tangannya erat. Mencoba meyakinkannya meski tanpa kata-kata.Semua mata tertuju pada mereka, pasangan serasi meski berbeda generasi. Zahra memakai gaun tertutup tetap saja terkesan cantik dan elegan. Tanpa sadar warna yang di pakai hampir senada dengan setelan jas yang di kenakan Hisyam.Seorang pelayan memberikan nampan berupa gunting berpita. Hisyam mengambil gunting itu dan memotong pita peresmian. Semua bertepuk tangan menyambut di bukanya perusahaan baru yang merupakan cabang dari perusahaan Hisyam. Abie ikut bertepuk tangan tapi bibirnya melongo heran. Bagaimana Zahra bisa berada di posisi sedekah itu dengan papanya. Sebenarnya apa hubungan mereka?"Kalau boleh tahu siapa wanita di samping Anda Pak Hisyam?" tanya salah seorang wartawan."Dia ..."Hisyam memandang Zahra sejenak

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Terpesona Papa Mertua   Menjauhkan Zahra Dari Abie

    Selama beberapa saat Abie terpaku memandang Zahra. Wanita yang selama ini di tolaknya salam pernikahan justru sekarang dia inginkan. Andai saat itu Abie lebih teliti lagi tidak terburu-buru, mungkin Zahra sekarang sudah menjadi istrinya.Zahra tengah sibuk menata makanan untuk sarapan pagi. Hari ini dia libur, lumayan bisa membantu Mbok Siyem memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak biasanya Abie bangun lebih awal, tentu saja dia tidak ingin melewatkan momen bertemu Zahra. "Pagi Ma, cantik banget hari ini," puji Abie. Sementara Zahra merasa risih di panggil Mama oleh Abie. Ia terdiam tidak menjawab sapaan Abie. Rasanya hatinya masih kesal setelah tahu ternyata pria yang baru di kenalnya itu adalah mantan calon suami yang pernah di jodohkan dengannya dulu."Aku bantu ya nata piringnya," seloroh Abie tidak tahu malu. Gerah mendengar perkataan Abie yang menyebut dirinya Mama ia langsung menatap tajam ke arah Abie. Tak rela rasanya kalau dirinya yang masih muda di panggil Mama.

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Terpesona Papa Mertua   Membeku Di Kamar

    Hari sudah mulai gelap, keduanya sudah kembali dari pantai membersihkan diri. Hisyam tersenyum saat Zahra memakai pakaian tidur. Ia kelihatan menggemaskan dengan bajunya yang bergambar boneka. Sementara kepala Zahra masih di balut hijab. Meski memakai pakaian yang longgar tetap saja terlihat cantik.Hisyam sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Ia pura-pura berbaring di ranjang memasang muka kelelahan. Terpaksa dia mengakali Zahra. Hanya dengan cara itu gadis itu peka dan lebih perhatian padanya."Om balik badan dulu," ucap Zahra. Otomatis kayak boneka di remot, tubuh Hisyam langsung berbalik tengkurap. Pikirannya sudah berselancar kemana-mana. Membayangkan jari-jari lentik Zahra memijat punggungnya. "Om, badannya gede. Kayaknya jariku nggak kuat kalau mijit langsung. Boleh kan aku pakai alat bantu?" tanya Zahra."Terserah kamu saja. Yang penting pegel-pegelku hilang," kata Hisyam pasrah. Meski ia tidak tahu apa yang akan di gunakan Zahra. Daripada aksi pijat memijatnya tidak jad

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • Terpesona Papa Mertua   pengantin Pria Tidak Datang

    "Mas, dua hari lagi kita akan menikah. Kapan kamu pulang dari luar negeri?" tanya Zahra yang di penuhi rasa rindu terhadap kekasihnya. Kekasih yang tidak pernah di lihatnya secara langsung, tapi ia meyakini kalau Abie memang jodohnya. Seorang wanita cantik memakai pakaian minim bahan tengah tersenyum membaca pesan pendek yang di terimanya. Tentu saja itu bukan hapenya melainkan hape Abie. Dahi Zahra mengernyit heran. Ia melihat pesannya centang biru pertanda sudah di baca pemilik hape. Tapi kenapa belum juga di balas. Zahra berusaha untuk positif thingking. Ia mengira Abie masih sibuk dengan pekerjaannya. Karena semenjak Abie mengurus bisnis papanya, dia memang jarang menghubungi Zahra. Zahra seorang gadis sederhana lewat perjodohan hanya bisa menunggu kedatangan calon suaminya. Calon suami Zahra bernama Abie. Abie beruntung karena almarhum Mamanya menikah dengan Hisyam seorang pengusaha kaya raya. Hisyam yang kabarnya sudah lama mencintai Winda, merasa cintanya bersambut manakal

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Terpesona Papa Mertua   Pengantin Pengganti

    "Tenanglah, aku akan mencoba menghubungi Abie lagi," kata Hisyam mencoba menenangkan besannya. Ia tidak menyangka akan di hadapkan pada situasi pelik seperti ini. Hisyam yang terbiasa menghadapi situasi rumit dalam urusan bisnisnya kini di hadapkan pada masalah pernikahan putra tirinya."Winda, mengapa kamu meninggal lebih dulu. Sehingga putramu mempermalukanku hari ini," batin Hisyam. Ia setengah menggerutu karena sebenarnya Abie juga bukan putra kandungnya. Tapi kenapa dia yang kena getahnya.Hisyam benar-benar marah karena Abie tak kunjung bisa di hubungi. Semya mata tertuju kepadanya menatapnya tajam seolah mengintimidasinya. "Banyak orang yang hadir dalam pernikahan ini, kami tidak mungkin membatalkan pernikahan ini begitu saja." Bu Siti dengan nada kesal berkata lebih keras dari biasanya."Saya paham dengan perasaan kalian. Namun sungguh saya tidak bermaksud membatalkan pernikahan ini. Saya tidak tahu keberadaan Abie," ucap Hisyam apa adanya. Pernyataan dari Hisyam membuat me

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Terpesona Papa Mertua   Om Ganteng

    "Jangan panggil aku Pak, panggil Mas. Aku kelihatan terlalu tua jika kau memanggilku Pak. Aku bukan bapakmu," protes Hisyam."Bapak ini lucu, usia tidak akan pernah bisa berbohong. Pak Hisyam tetaplah bapak-bapak," ujar Zahra. Hisyam berdiri lebih dekat ke arah Zahra membuat gadis muda usia 20an itu pun mundur sedangkah ke belakang."Ya sudah aku panggil Om saja, karena memang sudah Om2 kan?" celoteh Zahra."Terserah kamu sajalah. Yang penting bukan Bapak-Bapak," balas Hisyam nyerah. Zahra tersenyum mendengar perkataan Hisyam."Jawab jujur, aku dan Abie lebih tampan mana?" tanya Hisyam."Aku tidak pernah bertemu Mas Abie secara langsung. Aku hanya melihatnya di poto, mana tahu aslinya lebih tampan mana," ungkap Zahra.Hisyam baru sadar kalau selama ini mereka di jodohkan oleh Winda. Mungkin karena Zahra yang dandanannya sederhana membuat Abie kurang tertarik. Karena pakaian Zahra serba tertutup."Duduklah di sini, kita bisa bicara sebagai teman bukan suami istri. Karena aku tahu kamu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Terpesona Papa Mertua   Alasan Kabur

    "Sudahlah Pa, bukankah peristiwa itu sudah berlalu. Aku juga tidak peduli sekarang nasibnya bagaimana. Yang terpenting aku sudah terbebas dari perjodohan itu," ungkap Abie."Kau pasti akan menyesal karena sudah meninggalkan Zahra di pelaminan," jawab Hisyam geram."Menyesal? Mana mungkin, Pa. Aku tidak akan menyesal meninggalkan gadis kampungan itu!" tegas Abie. Ia masih merasa tindakannya benar meninggalkan Zahra. Selama ini Abie belum pernah melihat Zahra secara langsung dan cermat. Pertama kali di perkenalkan, Zahra menunduk saja. Dia tidak melihat ke arah Abie. Hubungan mereka terjalin lewat wa. Zahra tidak pernah mengiyakan Abie, manakala lelaki itu iseng mengajaknya bertemu dan melakukan hubungan yang lebih intim. Akhirnya, Abie kesal ia merasa Zahra gadis kampungan yang tidak mau di ajak begituan. Zahra tidak asyik. Abie pun melampiaskan keinginannya itu dengan wanita di luaran sana.Hisyam pun menutup kembali teleponnya, berbicara dengan anak tirinya itu membuat telinganya pa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Terpesona Papa Mertua   Terima Kasih Petir

    Dia masih ingat bagaimana Zahra membuat gaduh di dapur, membuat masakan kecil buat Hisyam. Kelakuan anak itu terkadang membuatnya gemas sekaligus senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya.Saatnya makan siang, Hisyam akhirnya bisa menikmati bekal itu. Ia terdiam sesaat menikmati masakan istrinya. Tiba-tiba dia mempercepat makannya. Menurut uji tes lidah Hisyam merasakan masakan Zahra cukup enak juga. Ia pun makan semuanya dalam sekejap.Tiba-tiba ada sebuah kiriman video di hapenya. Laporan mengenai kegiatan Zahra. Tampak seorang pria muda tengah berdiri di depan Zahra berusaha memegang tangan Zahra. Namun Zahra menghindarinya. Hisyam tersenyum, ada semacam perasaan lega karena Zahra tidak menerima uluran tangan teman lelakinya. "Tumben kamu senyum-senyum sendiri?" Sapa seorang wanita muncul dari balik pintu. "Brenda, kapan kamu datang mengapa tidak mengabariku?" tanya Hisyam cukup kaget.Brenda adalah sahabat Winda, dia tinggal di luar kota selain Jakarta. Ia biasanya memang terkad

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14

Bab terbaru

  • Terpesona Papa Mertua   Membeku Di Kamar

    Hari sudah mulai gelap, keduanya sudah kembali dari pantai membersihkan diri. Hisyam tersenyum saat Zahra memakai pakaian tidur. Ia kelihatan menggemaskan dengan bajunya yang bergambar boneka. Sementara kepala Zahra masih di balut hijab. Meski memakai pakaian yang longgar tetap saja terlihat cantik.Hisyam sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Ia pura-pura berbaring di ranjang memasang muka kelelahan. Terpaksa dia mengakali Zahra. Hanya dengan cara itu gadis itu peka dan lebih perhatian padanya."Om balik badan dulu," ucap Zahra. Otomatis kayak boneka di remot, tubuh Hisyam langsung berbalik tengkurap. Pikirannya sudah berselancar kemana-mana. Membayangkan jari-jari lentik Zahra memijat punggungnya. "Om, badannya gede. Kayaknya jariku nggak kuat kalau mijit langsung. Boleh kan aku pakai alat bantu?" tanya Zahra."Terserah kamu saja. Yang penting pegel-pegelku hilang," kata Hisyam pasrah. Meski ia tidak tahu apa yang akan di gunakan Zahra. Daripada aksi pijat memijatnya tidak jad

  • Terpesona Papa Mertua   Menjauhkan Zahra Dari Abie

    Selama beberapa saat Abie terpaku memandang Zahra. Wanita yang selama ini di tolaknya salam pernikahan justru sekarang dia inginkan. Andai saat itu Abie lebih teliti lagi tidak terburu-buru, mungkin Zahra sekarang sudah menjadi istrinya.Zahra tengah sibuk menata makanan untuk sarapan pagi. Hari ini dia libur, lumayan bisa membantu Mbok Siyem memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak biasanya Abie bangun lebih awal, tentu saja dia tidak ingin melewatkan momen bertemu Zahra. "Pagi Ma, cantik banget hari ini," puji Abie. Sementara Zahra merasa risih di panggil Mama oleh Abie. Ia terdiam tidak menjawab sapaan Abie. Rasanya hatinya masih kesal setelah tahu ternyata pria yang baru di kenalnya itu adalah mantan calon suami yang pernah di jodohkan dengannya dulu."Aku bantu ya nata piringnya," seloroh Abie tidak tahu malu. Gerah mendengar perkataan Abie yang menyebut dirinya Mama ia langsung menatap tajam ke arah Abie. Tak rela rasanya kalau dirinya yang masih muda di panggil Mama.

  • Terpesona Papa Mertua   Siapa Zahra

    Abie terkesiap kaget mendapati gadis yang di carinya justru ada di samping Papanya. Semua juga berbisik-bisik sekaligus bertanya-tanya mengenai posisi Zahra.Zahra sedikit takut, namun Hisyam menggenggam tangannya erat. Mencoba meyakinkannya meski tanpa kata-kata.Semua mata tertuju pada mereka, pasangan serasi meski berbeda generasi. Zahra memakai gaun tertutup tetap saja terkesan cantik dan elegan. Tanpa sadar warna yang di pakai hampir senada dengan setelan jas yang di kenakan Hisyam.Seorang pelayan memberikan nampan berupa gunting berpita. Hisyam mengambil gunting itu dan memotong pita peresmian. Semua bertepuk tangan menyambut di bukanya perusahaan baru yang merupakan cabang dari perusahaan Hisyam. Abie ikut bertepuk tangan tapi bibirnya melongo heran. Bagaimana Zahra bisa berada di posisi sedekah itu dengan papanya. Sebenarnya apa hubungan mereka?"Kalau boleh tahu siapa wanita di samping Anda Pak Hisyam?" tanya salah seorang wartawan."Dia ..."Hisyam memandang Zahra sejenak

  • Terpesona Papa Mertua   Di ajak Ke Pesta

    Zahra bungkam setelah Hisyam mengucapkan perkataan sebelumnya. Yaitu ada wanita lain yang sudah mengisi hatinya. "Gila dia senyum-senyum aja, gak tau hatiku sesakit ini," batin Zahra bermonolog."Zahra, nanti sore ada pesta peresmian cabang perusahaanku. Apa kamu mau ikut mendampingiku?" ajak Hisyam.Zahra terdiam sesaat, membayangkan suasana pesta itu pasti banyak yang datang dari kalangan para pengusaha terkenal. Kalau dia ada di sisi Hisyam pasti menimbulkan pertanyaan.Zahra belum siap menghadapi pertanyaan mereka mengenai status dirinya. "Enggak Om, aku pingin di rumah saja," jawab Zahra.Kecewa iya, tapi Hisyam tidak bisa memaksa. Terlebih akhir-akhir ini sikap Zahra kembali acuh. Ia tidak mengerti apa yang di pikirkan istrinya. Menikah dengan gadis kecil membuatnya main tebak-tebakan. "Oke, kalau kamu berubah pikiran. Nanti bilang ya, aku sudah siapin baju pestanya."Hisyam masih sabar menunggu Zahra berubah pikiran. Ia berharap Zahra mau menemaninya. Meski sebenarnya, sejak

  • Terpesona Papa Mertua   Marah Atau Berterima Kasih

    Hisyam sengaja mengosongkan isi rumahnya. Tidak ada pelayan di sana, hanya ada dirinya. Tentu saja semua makanan sudah tersakiti sempurna. Ia tahu istri kecilnya itu pasti sangat lapar setelah kejadian tidak menyenangkan menimpanya.Zahra masuk ke dalam rumah, dia heran mengapa tampak sepi tidak seperti biasa nya. Ia langsung masuk ke dalam kamar karena kelelahan. Namun pada saat membuka pintu kamarnya dia kaget karena Hisyam sudah menunggu di dalam."Om, kok di sini. Kamar Om kan di sana," ucap Zahra panik. Hampir saja dia melepas bajunya sembarangan. Untung saja dia sempat melihat pantulan wajah Hisyam di cermin."Dimanapun, semua kamar milikku," kata Hisyam. Ia mendekati Zahra membuat gadis muda itu kikuk. Susah payah dua pergi menghindari Hisyam sekarang pria itu justru berdiri di hadapannya."Aku mau istirahat. Om pergilah ke kamar Om sendiri," ucap Zahra setengah memohon.Tangan kekar Hisyam meraih pinggang Zahra, membuat tubuh gadis cantik itu meremang. "Setelah apa yang aku la

  • Terpesona Papa Mertua   Pembalasan

    "Sepertinya orang tua kamu tidak cukup baik mendidikmu. Wanita yang kamu hina sedari tadi itu adalah istriku!" jelas Hisyam. Suaranya keras dan lantang, hingga semua orang yang hadir di sana tercengang di buatnya."Tunggu .... Bapak bilang Zahra ini istrinya Pak Hisyam?" tanya Risa tak percaya. Begitu juga dengan Pak Ali atau para pejabat kampus yang hadir di acara itu."Saya yakin, dia pasti istri simpanan kan!" ejek Risa.Plak! Sebuah tamparan keras melayang ke pipi Risa hingga memerah. Tamparan itu di lakukan bodyguard Hisyam."Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan menampar bocah ingusan sepertimu. Tapi mulutmu sudah keterlaluan, kau pantas menerimanya!" ucap Hisyam. "Tetap saja Zahra wanita tidak benar, ia melakukan berbagai cara untuk memenangkan lomba ini!" Risa masih saja ngoceh tak karuan. Ia tidak terima sekaligus iri Zahra menjadi istri pengusaha paling kaya raya di kota."Dia istri sahku, aku tidak pernah menganggapnya simpanan!" Hisyam makin berang menjawab perkataan

  • Terpesona Papa Mertua   Hinaan Dan Pemghargaan

    Zahra pamit pada Hisyam, parfumnya yang wangi membuat hasrat Hisyam makan tinggi melihat kecantikan istrinya. Tapi sayangnya, istrinya itu hanya mencium punggung tangannya. Lalu apa hubungannya dengan area bawahnya mengapa ikut kesetrum juga."Om, aku berangkat dulu. Doakan semoga semuanya lancar," lirih Zahra. Ucapan itu sedikit berat dan penuh penekanan. Seperti ada makna dalam kata-katanya. Hisyam mengangguk mengiyakan. Ia membalas mengecup kening Zahra. Bibir lembab itu mendarat seketika, membuat Zahra sedikit kaget. Ia masih ingat bagaimana Hisyam dulu sering menciumnya. Zahra berusaha menghapus kenangan itu. Ia tidak ingin terpengaruh terbawa perasaan yang akan membuatnya jatuh cinta pada Hisyam.Zahra melangkah keluar dari kamar Hisyam. Ia harus menghadapi hari ini apapun yang terjadi. Sepeninggal Zahra, Hisyam langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia mandi air hangat di bathup agar lebih segar. Lalu keluar memakai pakaian necis. Hari ini ada hal penting yang harus dj lakukan

  • Terpesona Papa Mertua   Abie Mulai Goyah

    Abie masih teringat pertemuannya dengan Zahra. Ia tidak bisa melupakan wajah ayu perempuan yang baru kemarin di temuinya. Abie merasa Zahra berbeda dengan gadis seusianya. Tidak matre dan tidak mau memanfaatkan orang lain."Sepertinya, aku sudah jatuh hati pada perempuan itu. Tapi di mana aku bisa menemukannya. Nomor teleponnya pun aku tidak punya," batin Abie. Tidak mudah meminta nomor telepon dari Zahra. Gadis itu tertutup terhadap orang yang baru di kenalnya. Karena itulah Abie menjadi penasaran.Abie seperti orang linglung melamunkan kejadian kemarin. Hingga tanpa sadar ada seorang wanita yang tiba-tiba datang merangkul dirinya. "Ada apa sih, tumben kamu melamun?" tanya Citra. Gadis itu menempel saja kayak perangko. Kali ini mereka berdua berada di apartemen Abie."Tidak apa-apa, kamu sebaiknya pulang saja karena aku masih ada perlu penting," ucap Abie."Kamu ngusir aku? Kita belum lakuin apapun sedari tadi," rengek Citra."Lain kali saja, aku sibuk," tolak Abie. Sementara Citra

  • Terpesona Papa Mertua   Di Tegur Suami

    Zahra tidak mau di antar Abie sampai ke rumahnya. Dia memilih naik taksi, hal itu tentu saja membuat Abie kecewa karena kehilangan cewek incarannya. Sampai di rumah, Zahra yang tidak memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi mendapat teguran dari Hisyam."Pakaianmu kenapa bisa ganti?" Hisyam menghentikan langkah Zahra sewaktu tiba di depan pintu kamar."Bukan urusan Om," jawab Zahra dingin."Kok bukan urusanku, kamu itu istriku Zahra. Kamu harus jaga sikap di luar sana," peringat Hisyam. Zahra yang hendak masuk ke dalam kamarnya menjadi berbalik menoleh ke arah Hisyam. "Om, sadar gak sih kita itu menikahnya diam-diam. Jadi, mana mungkin ada yang tahu hubungan kita," bantah Zahra."Oh, jadi karena itu kamu leluasa jalan sama pria lain. Ke butik beli pakaian. Seolah aku tidak bisa belikan kamu baju," protes Hisyam."Om, mata-matain aku?" tanya Zahra sedikit berang."Bukan mata-matain kamu. Aku hanya tidak ingin kamu sembarangan kenal orang," kata Hisyam. "Om, kok jadi ngatur-ngatur

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status