Share

Part 49

Author: Arsyla Adiba
last update Last Updated: 2023-11-09 01:17:47

Alex yang masih berdiri di luar ruangan sambil menatap ke arah jendela yang memperlihatkan Laura, menanamkan penglihatannya ketika samar-samar ia melihat pergerakan kecil di jari Laura.

Alex bergegas masuk ke dalam ruang rawat Laura, dan benar jari jemari Laura bergerak meskipun gerakan lambat.

"Dokter.. dokter," teriak Alex panik.

Pintu terbuka, "Dok jari dia bergerak" ucap Alex sambil melihat ke arah pintu masuk.

"Kok malah lo yang masuk, maana dokternya?" Tanya Alex kesal campur panik.

"Oh lo manggil dokter," ucap Rafa dengan wajah tanpa dosanya.

"Rafa bego, panggil dokter," Suruh Alex sambil menahan emosinya.

Rafa bergegas keluar ruangan Laura, berniat memanggil dokter seperti yang di suruh oleh Alex.

Setelah Rafa menghilang dari balik pintu, Alex kembali melihat ke arah Laura.

'Lex," panggil Laura lirih, bahkan suaranya sangat pelan.

"Laura kamu sudah siuman," ucap Alex lega sambil menghampiri Laura dan tersenyum ke arahnya.

"Aku di mana Lex?" Tanya Laura sambil bola matanya berk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Teror Mantan   Part 50

    Sementara itu di kantor polisi Ezra yang langsung masuk ke sel tahanan, terus berteriak minta di keluarkan."Diam kamu," bentak Dimas kesal."Gue gak salah, keluarin gue dari sini," teriak Ezra nyolot."Saya sudah punya bukti-bukti tentang kejahatan kamu semua, kamu gak akan bisa ngelak lagi," ucap Dimas dingin.Ezra tak menjawab, ia menatap Dimas dengan penuh amarah sambil mengepalkan tangannya."Selamat mendekam di penjara, saya pastikan kamu akan menerima hukuman berat, apalagi kamu telah melecehkan dan melukai calon menantu saya," ucap Dimas menatap Ezra sengit."Bacot," teriak Ezra tak terima.Dimas hanya melihat sekilas pada Ezra lalu meninggalkan Ezra yang lanjut berteriak agar minta di bebaskan."Saya mau ke klinik tempat korban di rawat," "Tolong kamu awasi dia," tunjuk Dimas ke arah Ezra."Baik pak," jawab bawahan Dimas.Setelah itu ia pergi dari kantor polisi menggunakan mobilnya, menyusul istri dan Doni yang sudah terlebih dahulu pergi ke sana......Pov SintaAku turun d

    Last Updated : 2023-11-10
  • Teror Mantan   Part 51

    Beberapa jam telah berlalu, langit pun sudah mulai gelap karena kini sudah pukul 20.00 malam, Laura sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu.Meskipun ia teriak-teriak kembali setelah bangun dari tidurnya, tapi untungnya ada Sinta yang menenangkan Laura yang membuat Laura tenang."Laura tenang sayang," ucap Sinta lembut sambil memeluk dan mengelus rambut anak semata wayangnya.Sinta memeluk Laura dengan erat, "Ada bunda di sini kamu gak sendirian," "Tapi bun," isak Laura."Tapi apa sayang,""Sakit, Laura udah gak suci lagi Laura kotor Bun," lirih Laura yang terdengar pilu di telinga yang mendengarnya, Rio mendekat ke arah Laura."Anak ayah, jangan bicara kaya gitu yah,""Gak baik, apapun yang terjadi sama kamu kamu tetap anak ayah dan bunda," ucap Rio sambil melihat ke arah mata Laura yang berbincang air mata."Aku udah membuat kalian malu yah," "Gak! ayah sama bunda gak malu, kamu gak salah kamu gak ngelakuin hal yang salah," jelas Rio sambil ikut memeluk Laura serta Sinta."Ud

    Last Updated : 2023-11-22
  • Teror Mantan   Part 52

    Pov BiancaSebentar lagi jam 8 malam, aku harap-harap cemas, menunggu seseorang untuk membantu ku pergi dari sini, yah aku harus pergi dari sini sekarang juga sebelum papa masuk ke dalam kamar ku dan mengantarkan ke Singapura malam ini juga.Tak akan ku biarkan papa menghancurkan semua usaha ku, aku tak ingin pergi kemanapun sebelum dendam ini terbalaskan pada mereka semua yang telah menghancurkan hidup ku selama ini."Cek di mana dia?" Ucap ku kesal sambil melihat ke arah jendela yang tidak tertutup gordeng di kamar ku.Kalau aku bisa kabur sendiri, sudah sejak tadi aku pergi tapi sialnya kaki ini menyusahkan aku saja, benar-benar sialan!TingPonsel ku berbunyi gegas aku mengambil ponsel tersebut yang berada di pangkuan ku."Aku sudah di depan," bisik ku membaca isi chat tersebut.Aku mengetikan sesuatu, lalu mengirimkan padanya.Setelah itu aku mengambil sebuah tas sling bag yang bisa aku pakai, memasukan semua yang aku perlukan seperti uang, kartu atm dan yang lain yang tentu saja

    Last Updated : 2023-11-24
  • Teror Mantan   Part 53

    Anita yang mendengar permintaan maaf Laura segera menghampiri Laura yang kini sudah tertidur."Kamu gak salah sayang, gak perlu minta maaf sama bunda," ucap Anita terisak, ia memeluk tubuh Laura, mengecup pipinya berkali-kali."Maaf bun, sepertinya pasien sangat trauma hebat, Pasien harus ke dokter spesialis untuk menghilangkan traumanya,""Iya dok saya tahu,""Setelah ini, saya akan memberikan pasien pada dokter Ardi, untuk menangani pasien," "Saya pamit," ucap Dokter lalu pergi meninggalkan ruang rawat Laura.Anita yang masih memeluk Laura tak mau melepaskan pelukannya, "Sudahlah Nit, biarkan Laura beristirahat," ucap Sinta sambil mengelus bahu Anita lembut."Aku gak kuat lihat, Laura kaya gini Sin," ucap Anita lirih."Aku tahu, aku pun sama gak bisa liat Laura kaya gini, tapi kita harus kuat demi Laura," ucap sinta memberikan nasihat."Kamu gak tahu hancurnya aku kaya gimana," bentak Anita tiba-tiba sambil melihat ke arah Sinta yang terkejut."Dari dia masih kecil , aku jaga dia a

    Last Updated : 2023-11-25
  • Teror Mantan   Part 54

    "Sebenarnya kemarin Alex sama Rafa, udah nemuin tempat Ezra tinggal," jelas Alex sambil melihat ke arah Dimas dan Rio secara bergantian."Kenapa kamu gak bilang?" Tanya Dimas kesal."Maafin Alex pah," ucap Alex."Padahal papah belum nemuin tempat tinggal dia di mana, papa hanya nemuin tempat dia nyokap Laura," Kesal Dimas, padahal ia juga menyuruh bawahannya untuk mencari tempat tinggal Ezra di mana tapi mereka tak menemukan keberadaanya."Terus," ucap Rio penasaran dengan lanjutan cerita Alex."Di sana ada adiknya Ezra dan ibunya yang mungkin kurang waras," ucap Alex."Maksud kamu gila?" Tanya Dimas."Iya," "Ternyata Ezra udah niinggalin mereka berdua selama berhari-hari tanpa makan dan minum, jadi kami bawa mereka berdua ke panti jompo yang di urus oleh pamannya Rafa," jelas Alex."Sebenanrnya dari awal Alex gak mau ngelakuin itu tapi untuk jaga-jaga maknanya kami bawa mereka berdua sebagai jaminan supaya Ezra agar mudah di tangkap,""Lagi pula kasian Lala, anak sekecil itu harus n

    Last Updated : 2023-12-05
  • Teror Mantan   Part 55

    Sesampainya di parkiran rumah sakit, Agatha dan Rafa turun dari motor milik Agatha, bersamaan dengan itu sebuah motor sport terhenti si sebelah mereka berdua.Agatha dan Rafa refleks menoleh ke arah pemotor tersebut apalagi ia sangat familiar dengan motor itu."Alex," panggil Agatha sambil tersenyum ke arah Alex, yang kini sedang membuka helmnya."Kalian baru sampai?" Tanya Alex, ia turun dari motornya tak lupa menaruh helm di atas jok motor."Iya, kirain gue lo udah dari tadi di sini?" Tanya Rafa heran, pasalnya seingat Rafa sore tadi Alex bilang akan langsung menuju rumah sakit karena khawatir dengan keadaan Laura."Gue abis dari kantor bokap, lo tau Ezra! Dia berhasil kabur," ucap Alex menceritakan hal tersebut pada Rafa dan Agatha."Ezra," beo Agatha.Agatha terdiam, pasalnya ia memang belum tahu siapa pelakunya dari penculikan Laura itu."Ezra siapa?" Tanya Agatha sambil melihat ke arah Rafa dan Alex secara bergantian."Kakak kelas kita," jawab Rafa yang membuat Agatha terkejut b

    Last Updated : 2023-12-07
  • Teror Mantan   Part 56

    "Kenapa Ra?" Tanya Alex lembut melihat ke arah Laura sambil tersenyum."Gak," jawab Laura pelan, lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain."Kenapa masih di situ?" Tanya Laura heran, sejak tadi Alex hanya diam berdiri di tempatnya sambil terus memperhatikan Laura.Meskipun Laura tak melihat ke arah Alex langsung tapi ia diam-diam melihat dengan ekor matanya."Cuman mau nemenin, kenapa?" Tanya Alex balik."Pergi aja sana, aku mau istirahat," ucap Laura tanpa mau melihat ke arah Alex, lalu merebahkan tubuhnya tak lupa menyelimuti sampai ke atas kepala."Mau tidur Ra?" Tanya Alex sambil mendekat dan kini sudah berdiri di samping kasur."Hmmm," jawab Laura yang belum menyadari keberadaan Alex yang sudah berada di belakang tubuh Laura.Alex diam, memperhatikan Laura tanpa berkedip, bayangaan Laura yang tengah bercinta dengan Ezra membuat Alex kesal, sejak tadi ia mati-matian menahan agar tak emosi tapi sekarang rasanya Alex ingin memeluk tubuh Laura untuk menghilangkan bekas Ezra pada tubuh

    Last Updated : 2023-12-08
  • Teror Mantan   Part 57

    Rafa mendekat ke arah Agatha yang masih berdiam diri di depan pintu ruang rawat Laura,"Gue jelasin tapi gak di sini?" Ucap Rafa sambil menggenggam tangan Agatha."Terus di mana?" Tanya Agatha dengan kening berlipat."Di kantin! Gue lapar belum makan sejak tadi," jelas Rafa menarik Agatha agar mulai berjalan bersamanya."Lex Gue ke kantin dulu," pamit Rafa pada Alex.Alex menganggukan kepalanya, melihat hak itu Rafa dan Agatha bergegas pergi ke kantin.Sesampainya di kantin rumah sakit mereka berdua mengambil tempat duduk di pojok yang agak jauh dari keramaian."Jelasin sekarang," Suruh Agatha gak sabaran, padahal ia sendiri baru saja mendaratkan bokongnya di kursi panjang, sementara Rafa setengah berdiri karena ia baru akan duduk."Bokong gue aja belum duduk! Gak sabaran amat sih," Kesal Rafa."Yaudah cepetan duduk," Kesal Agatha."Jadi," tanya Agatha lagi setelah melihat Rafa sudah duduk anteng si sampingnya."Kita pesen makan aja dulu yah," ucap Rafa sambil melihat ke arah sekitar,

    Last Updated : 2023-12-09

Latest chapter

  • Teror Mantan   Kenangan di Atas Roda Dua

    Esok paginya, Laura melangkah ke ruang makan dengan langkah santai, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan. Di meja makan, Rio sudah duduk sambil memangku Kenzo, yang terlihat segar setelah dimandikan. Bayi itu tertawa kecil, tangannya menggapai-gapai wajah Rio, membuat suasana terasa lebih hidup.Di dapur, Sinta sedang membuatkan kopi sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Ketika Laura mendekat, Sinta menyapanya. "Pagi, Laura. Mau sarapan apa?" tanyanya ramah.Laura hanya mengangguk kecil dan duduk di kursinya, menghindari kontak mata dengan Kenzo. Ia mengambil roti yang sudah tersedia di meja dan mulai memakannya dalam diam.Rio, yang melihat sikap Laura, tersenyum kecil. "Ra, kamu nggak mau gendong Kenzo? Dia lagi ceria banget pagi ini," ucapnya sambil menggerakkan Kenzo sedikit ke arah Laura.Laura menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menjawab tanpa menatap ayahnya. "Ayah tahu jawabannya," ujarnya datar.Rio menghela napas pelan, menatap putrinya dengan penuh kesabar

  • Teror Mantan   Bayi Kenzo

    Laura melangkah masuk ke dalam kamarnya di rumah dengan langkah lelah. Setelah percakapannya dengan Alex di pantai, tubuh dan pikirannya terasa begitu berat. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh balok kayu khas Bali.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar. Kata-kata Alex masih terngiang jelas di benaknya. "Mau seribu kali pun lo nolak gue, gue gak akan pernah menyerah, Ra."Laura menutup matanya, mencoba meredakan kekacauan di dalam dirinya. "Kenapa semua ini harus sekompleks ini?" gumamnya pelan. Di satu sisi, ia merasa bersalah telah membuat Alex terus berharap, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa perasaannya sendiri belum benar-benar sembuh dari luka di masa lalu.Ia bangkit perlahan, berjalan menuju balkon kamarnya. Udara malam Bali yang sejuk menyapa wajahnya. Suara debur ombak dari kejauhan terdengar menenangkan, meski hatinya tetap terasa berat."Pernah nggak sih gue benar-benar tahu apa yang g

  • Teror Mantan   Luka dan suka Tasya

    Pov GrettaGretta dan Rafa berjalan santai di tepi pantai, pasir lembut menyentuh kaki mereka. Mereka baru saja membeli beberapa makanan ringan dari penjual yang ada di sepanjang pantai—kacang rebus, jagung bakar, dan es kelapa muda. Gretta memegang gelas es kelapa dengan satu tangan, sementara tangan satunya sibuk menepis Rafa yang terus menggoda."Lo tahu nggak, Gretta, gue beli jagung bakar ini khusus buat lo. Supaya lo bisa ngunyah sambil diem, nggak terus-terusan ngetawain gue," ucap Rafa sambil menyeringai.Gretta tertawa keras, hampir menjatuhkan gelasnya. "Hah! Emang lucu banget lo, ya. Humor lo tuh receh banget, Raf. Tapi gue akui, kadang itu yang bikin gue betah sama lo.""Kadang? Jadi gue cuma lucu 'kadang-kadang'?" Rafa pura-pura cemberut, membuat Gretta tertawa lebih keras.Mereka berhenti sejenak, duduk di atas pasir sambil menikmati angin malam. Gretta menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa, sementara Rafa dengan santai melingkarkan lengannya di bahunya."Raf, lo sadar ngg

  • Teror Mantan   Keyakinan Alex

    ...Setelah suasana menjadi lebih cair, mereka semua mulai berbincang lebih santai bersama orang tua Laura. Sinta dan suaminya, Rio, ikut duduk di meja mereka, membuat obrolan semakin hidup.Namun, meski suasana terlihat akrab, Alex sesekali mencuri pandang ke arah Laura. Perasaan yang ia pendam selama bertahun-tahun sejak kepergian Laura tampak jelas di matanya. Gretta, yang duduk di samping Laura, menyadari hal itu tapi memilih untuk tidak berkomentar.Tasya, di sisi lain, merasa tidak nyaman dengan cara Alex memandang Laura. Ia mencoba mengalihkan perhatian Alex dengan memulai obrolan. "Alex, gue denger katanya li mau kuliah di luar negeri?" tanyanya dengan nada ceria.Alex tersenyum kecil, meski jelas terganggu oleh interupsi Tasya. "Iya, tha tapi gue juga gak.tahu, mungkin oindah rencana kuliah di tempat lain," ucapnya sambil melirik ke arah Laura.Tasya tersenyum kaku, menyadari bahwa Alex tidak sepenuhnya memperhatikannya. Ia menggenggam gelasnya lebih erat, mencoba menahan ras

  • Teror Mantan   Pertemuan 2

    Laura muncul dengan langkah tenang, tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dress putih sederhana yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin dari luar, membuatnya terlihat seperti bayangan dari masa lalu yang tiba-tiba hadir.Alex menatapnya dengan campuran emosi yang sulit diuraikan. “Laura...” panggilnya pelan, seolah takut suara lebih keras akan membuat momen ini menghilang.Laura menghentikan langkahnya, matanya terarah pada Alex. "Kamu... Alex?" gumamnya, suaranya bergetar.Semua orang terdiam. Gretta menatap Laura dengan raut wajah tak percaya, sementara Tasya mencuri pandang ke arah Alex, mencari reaksi dari pria itu."Kenapa kalian semua di sini?" tanya Laura sambil mendekat, suaranya tenang, meskipun sorot matanya penuh kebingungan.Alex, yang sedari tadi duduk, berdiri begitu Laura tiba di hadapannya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menarik Laura ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, seolah

  • Teror Mantan   Pertemuan

    “Kita nginep di Wavecrest Hotel. Gue udah booking dua kamar di sana,” ucap Alex sambil melirik ke arah spion belakang, memastikan semuanya baik-baik saja di kursi penumpang.“Wavecrest Hotel?” tanya Gretta sambil menatap Tasya.“Iya, tempatnya persis di samping kafe Laura,” lanjut Alex dengan nada santai.“Wah, pas banget dong. Jadi nggak perlu ribet kalau mau ketemu Laura,” komentar Rafa sambil melihat peta di layar ponsel.Gretta tersenyum tipis. “Bagus sih, biar kita juga punya waktu buat istirahat sebelum ketemu dia.”Mobil pun terus melaju menuju Canggu, mengikuti suara navigasi yang membimbing mereka."Gue denger, bukannya Laura pergi tanpa pamitan? Kok kalian masih mau jauh-jauh ke sini buat nemuin dia?" tanya Tasya tiba-tiba, suaranya terdengar tajam.Mendengar itu, Gretta langsung menoleh dengan tatapan tak suka. "Maksud lo apa, Tasya?" tanyanya, nadanya jelas menunjukkan ketidaksenangan.Rafa mencoba menenangkan suasana, tapi Gretta sudah melanjutkan, "Gue kenal Laura udah l

  • Teror Mantan   Tamu Tak Di Undang

    Sore telah tiba, suasana bandara mulai dipenuhi hiruk-pikuk orang yang bersiap untuk penerbangan mereka. Alex duduk di salah satu kursi tunggu, wajahnya menampilkan kegelisahan. Penerbangan menuju Bali tinggal 30 menit lagi, namun Rafa dan Grettha, dua sahabatnya yang berjanji menemaninya, belum juga terlihat.Semalam, mereka bertiga berbincang panjang tentang rencana ini. Alex meyakinkan Rafa dan Grettha untuk ikut bersamanya menemui Laura,. Keduanya dengan antusias menyetujui, bahkan menjanjikan akan tepat waktu di bandara. Namun, sekarang janji itu terasa seperti angin lalu.Alex meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rafa lebih dulu. Nada sambung terdengar, tetapi tak ada jawaban. Ia lalu mencoba menelepon Grettha, namun hasilnya sama—tak diangkat. Ia menghela napas panjang, menatap layar ponselnya sejenak sebelum menyimpan kembali perangkat itu ke dalam sakunya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Rafa dan Gretta muncul di pintu masuk dengan koper masing-masing. Alex mendesah lega

  • Teror Mantan   Menemukan Kamu

    Setelah selesai dengan acara perpisahan di sekolahnya, Alex pulang ke rumah dengan langkah gontai. Meski acara berjalan meriah, hatinya tetap terasa hampa."Alex Pulang," teriak Alex dengan suara lesu saat memasuki rumah.Ia melemparkan tasnya ke sofa, lalu duduk di ruang tamu. Kepalanya bersandar ke sandaran sofa, matanya menerawang ke langit-langit. Pikirannya kembali melayang, lagi-lagi ke sosok Laura.Di ruang tamu yang sepi, hanya suara jarum jam yang terdengar. Alex menghela napas berat, mencoba mengusir rasa penat yang mendera hatinya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, bayangan Laura justru semakin jelas.“Ra... sebenarnya lo di mana?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Di ruang tamu itu, Alex duduk lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tahu ia harus melanjutkan hidup, seperti yang Agatha bilang, tapi rasa kehilangan itu masih terlalu kuat. Hari ini mungkin berhasil ia tutupi dengan senyuman palsu di sekolah,

  • Teror Mantan   Setahun Kemudian

    Setahun telah berlalu, dan kini Alex telah menyelesaikan masa SMA-nya. Hari ini seharusnya menjadi momen yang penuh kebahagiaan, saat dia dan teman-temannya merayakan kelulusan di aula sekolah. Suara riuh canda dan tawa memenuhi ruangan, namun bagi Alex, semuanya terasa hampa.Di sudut aula, Alex duduk sendirian, pandangannya tertuju ke arah panggung di mana teman-temannya sedang berfoto bersama, menyanyikan lagu perpisahan dengan penuh semangat. Tapi Alex hanya bisa terdiam. Kepergian Laura yang tanpa kabar masih menjadi beban berat di hatinya.Setahun ini, ia terus mencoba mencari tahu keberadaan Laura. Media sosial Laura sudah tidak aktif, seolah lenyap begitu saja. Pesan-pesan yang ia kirim ke keluarga Laura pun tak pernah mendapatkan balasan. Meski berita tentang pelecehan yang pernah menimpa Laura sudah lama tenggelam, bayangan gadis itu tetap hidup dalam pikirannya."Kenapa harus seperti ini, Ra?" gumam Alex pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ken

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status