Share

Part 41

Author: Arsyla Adiba
last update Last Updated: 2023-01-16 06:49:28

Sinta terbangun dari tidurnya, kepalnya terasa pusing mata sembab juga hidungnya karena menangis semalam memikirkan keadaan Laura yang entah sekarang di mana.

Sinta membangungkan Rio yang masih tertidur di sampingnya, "Yah bangun," sambil mengguncangkan tangan Rio yang berada di sampingnya

Rio mengerjapkan matanya, ia melihat ke arah Sinta yang sudah bangun dan bersabar di ranjang.

"Jam berapa bun?" tanya Rio pada Sinta sambil bangun dari baringnya.

"Jam 8," jawab Sinta pelan.

Rio bangkit dari kasur , "Aku mau hari Laura lagi," ucap Rio pada Sinta.

"Yah temuin Laura dalam keadaan selamat," pinta Sinta penuh harap.

"Tentu," Rio berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan kemudian lanjut mencari Laura.

Sinta turun dari kasurnya dan berjalan ke luar kamar, ia melihat ke sekitar ruang tamu tak ada siapapun hanya terdengar suara bising di arah dapur.

Sinta langsung melangkahkan kaki ke dapur, terlihat Anita sedang menata meja makan, aroma nasi goreng yang harum langsung me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Teror Mantan   Part 42

    Ezra membuka pintu dan langsung melihat Laura yang terus menerus bergerak gelisah, sambil menggesekan bagian intimnya.Ezra yang sudah minum obat perasang pun ikut terangsang ketika melihat Laura yang terlihat menggoda.Tanpa basa-basi Ezra segera menghampiri Laura, tak lupa melucuti pakaiannya terlebih dahulu sehingga ia telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.Laura yang melihat Ezra menanggalkan semua pakaiannya, menatapnya takut-takut.Tapi saat Ezra mulai menyentuh tubuh Laura pelan, Laura seolah tak bisa menolak sentuhan tersebut dan malah menginginkan lebih jauh.Ezra membuka pakaian yang di kenakan Laura, tanpa ada perlawanan dari Lauranya sendiri, melihat Laura yang seperti ini membuat Ezra tak bisa menahan lagi."Jangan Zra," mohon Laura dengan suara serak serta matanya yang sayu.Ezra tak mendengarkan ucapan Laura ia asik memainkan serta melumat dua daging kenyal yang begitu pas di tangan Ezra."Aah Zra stop," pinta Laura memohon, tapi ia tak bisa bohong bahwa tubuhnya men

    Last Updated : 2023-01-16
  • Teror Mantan   Part 43

    Mereka berdua kini sudah sampai di rumah Alex yang memang sedang kosong karena Anita dan Dimas masih berada di kediaman Laura menemani Sinta di sana.Mereka berdua melangkah masuk menuju ruang tamu, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa penat di atas sofa.Alex mengambil ponselnya yang berada di saku celana, sejak tadi ia belum memainkan ponselnya itu karena sibuk mencari keberadaan Laura.Ia mulai menekan tombol yang berada di samping ponsel, terlihat ada notifikasi pesan masuk merupakan video yang entah siapa pengirimnya karena nomornya tidak ada dalam kontak Alex.Tangan Alex dengan lincah menari di atas layar ponsel, menekan nomor pin pada ponselnya yang memang ia kunci, ia membuka aplikasi hijau berlogo gagang telepon tersebut.Setelah itu ia memutar video tersebut matanya membulat seketika ia yang tadi sedang berbaring langsung duduk dengan tegap, matanya tak lepas dari ponsel yang kini terdengar suara-suara desahan yang saking bersahutan, cengkramannya semakin kuat pada ponsel

    Last Updated : 2023-10-09
  • Teror Mantan   Part 44

    "Mendingan kita susul bokap lo ke kantornya?" Usul Rafa pada Alex yang masih tertunduk lesu."Jangan lembek kaya cewek, hayu ah," seru Rafa sambil menarik lengan Alex agar mengikutinya.Alex melangkah dengan pelan, mengambil kunci motor yang berada di saku jaket ya g di kapai oleh Alex, ketika mereka keluar, di sebrang jalan tepat di rumah Laura, Sinta melihat mereka berdua."Kalian berdua ke sini?' Suruh Sinta.Alex dan Rafa nenganggukan kepala, mereka menyebrangi jalan menuju rumah Laura, Sinta masih setia berdiri menunggu rua pemuda tersebut."Kalian dari tadi sudah pulang?" Tanya Sinta."Terus kenapa malah pulang ke sana gak kesini?" Tanya Sinta kembali sambil menyipitkan mata."Salah belok ma," jawab Alex enteng lalu masuk ke dalam rumah melewati Sinta yang terbengong dengan jawaban aneh anaknya."Kalau salah belok kenapa gak di belokin lagi," ucap Sinta sambil menyusul Alex, tak lupa mengajak Rafa yang hanya bisa cengengesan mendengar ucapan sahabatnya."Baru ingetnya sekarang,"

    Last Updated : 2023-10-13
  • Teror Mantan   part 45

    Pov Laurahiks hiks hiksSudah sejam aku menangis meskipun aku ingin berhenti menangis entah kenapa air mata ini tak mau berhenti, aku tak mengerti kenapa Ezra melakukan semua ini padaku apa salah ku padanya?Tubuh ku terasa sakit apalagi di bagian bawah Ezra melakukannya sangat kasar, ketika teringat kejadian tadi aku kembali menangis lagi, aku merasa kotor sekarang.Aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuh ku tadi, hati ku memang menolak di sentuh oleh Ezra tapi tubuh ku menginginkan itu malah lebih.Apa dia mencampurkan sesuatu ke dalam makanan atau minuman yang tadi ia beri, keterlaluan dia!''Ayah Bunda! Laura pengen pulang,'' ucap ku lirih.Pasti mereka berdua kini sangat mencemaskan ku karena menghilang tiba-tiba, aku hanya berharap agar mereka segera menemukan ku dan membebaskan ku dari genggaman Ezra.Benar kata bunda, Ezra bukan cowok baik-baik aku malah sempat cekcok hebat dengan bunda hanya karena membela Ezra yang aku sendiri baru mengenal cowok tersebut.Padahal bunda ha

    Last Updated : 2023-10-17
  • Teror Mantan   Part 46

    Sesampainya di alamat yang di kirim oleh Dimas, Alex terpaku sejenak melihat kediaman tersebut yang memang familiar bagi Alec.Bianca! Nama itu terlintas di otak Alex, yah ini kediaman Bianca, ia tak mungkin salah, dulu ia pernah ke sini sekali dua kali tak mungkin ia lupa meskipun sudah cukup lama.Lalu ada hubungan apa Ezra dan Bianca? bukannya dulu Bianca berteman baik dengan Laura malah seperti saudara sendiri, tapi kenapa dia melakukan ini, ah gak! Mungkin aja ini memang persembunyian Ezra dan tempat ini sudah lama kosong lagi pula jaraknya yang jauh dari siapapun.Tak ingin membuang-buang waktu lagi Alex dan Rafa segera berjalan ke pagar rumah tersebut, pagar itu tak terkunci memudahkan bagi mereka berdua untuk masuk ke dalam, keadaan cukup lenggang dan sepi tak ada siapapun bahkan rumah ini seperti rumah kosong meskipun tak ada sampah atau daun-daun yang berserakan seperti rajin di bersihkan apalagi rumah tersebut di kelilingi pohon pohon besar yang membuat halaman rumah terseb

    Last Updated : 2023-10-25
  • Teror Mantan   part 47

    Sepanjang jalan, sebelah Alex terus memengangi kedua tangan Laura yang ia lingkari di pinggangnya, dan sebelah lagi ia gunakan itu menyetir motornya.Sesekali menengok ke belakang memastikan bahwa tubuh Laura masih bersandar di belakangnya, kepala Laura yang tertutup kuopluk hodie yang hanya menyisahkan rambut panjang yang tak ikut masuk, tertiup angin membuat wajah cantik Laura terlihat."Tetap bertahan Ra, aku tau kamu wanita yang kuat," ucap Alex lirih.Alex takut kondisi Laura akan semakin memburuk, apalagi tubuh Laura yang malah menggigil karena terkena angin, belum lagi cuaca yang malah tidak mendukung, sinar matahari malah sembunyi di balik awan-awan yang mulai menghilang, seolah tak sudi memberi kehangatan pada tubuh Laura."Kita akan segera sampai," seru Alex lagi, ia tak tahu daerah sini, Alex hanya melajukan motornya, mau di bawa ke rumah sakit yang di dekat rumahnya itu terlalu jauh, tapi Alex ingat di sekitar sini ada sebuah klinik.Dan benar saja setelah lima menit Alex

    Last Updated : 2023-10-25
  • Teror Mantan   Part 48

    Perawat sudah mengganti pakian Laura dengan baju yang sudah ia beli tadi, kini Alex sedang duduk di kursi sebelah Laura.Laura masih belum sadar, tapi keadaannya sudah mulai membaik, bibir yang semula pucat kini sudah mulai memerah, suhu tubuh Laura tak panas seperti tadi, semoga saja dia cepat membuka mata dan kembali sehat.Alex terus memandangi wajah cantikLaura yang masih terlelap, wajahnya muram, Alex bukan tak senang karena kondisi Laura yang sudah mulai membaik.Tapi ia tau ketika Laura kembali sadar dan membuka matanya kembali, Laura akan di tampar kenyataan yang tak pernah ia bayangkan, Alex tak berani membayangkan hal tersebut, membayangkan Laura menangis karena masalah yang menerpa dirinya."Aku berjanji Ra, akan selalu bersama kamu, meskipun kamu selalu menjauh dari ku tapi i am ready to be afortress or place to lean on for you,""I love you Laura varista Safa," ucap Alex lirih sambil memegang tangan Laura dan menatap lembut wajah Laura.Drttt drttt drtttSuara ponsel memb

    Last Updated : 2023-11-03
  • Teror Mantan   Part 49

    Alex yang masih berdiri di luar ruangan sambil menatap ke arah jendela yang memperlihatkan Laura, menanamkan penglihatannya ketika samar-samar ia melihat pergerakan kecil di jari Laura.Alex bergegas masuk ke dalam ruang rawat Laura, dan benar jari jemari Laura bergerak meskipun gerakan lambat."Dokter.. dokter," teriak Alex panik.Pintu terbuka, "Dok jari dia bergerak" ucap Alex sambil melihat ke arah pintu masuk."Kok malah lo yang masuk, maana dokternya?" Tanya Alex kesal campur panik."Oh lo manggil dokter," ucap Rafa dengan wajah tanpa dosanya."Rafa bego, panggil dokter," Suruh Alex sambil menahan emosinya.Rafa bergegas keluar ruangan Laura, berniat memanggil dokter seperti yang di suruh oleh Alex.Setelah Rafa menghilang dari balik pintu, Alex kembali melihat ke arah Laura.'Lex," panggil Laura lirih, bahkan suaranya sangat pelan."Laura kamu sudah siuman," ucap Alex lega sambil menghampiri Laura dan tersenyum ke arahnya."Aku di mana Lex?" Tanya Laura sambil bola matanya berk

    Last Updated : 2023-11-09

Latest chapter

  • Teror Mantan   Kenangan di Atas Roda Dua

    Esok paginya, Laura melangkah ke ruang makan dengan langkah santai, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan. Di meja makan, Rio sudah duduk sambil memangku Kenzo, yang terlihat segar setelah dimandikan. Bayi itu tertawa kecil, tangannya menggapai-gapai wajah Rio, membuat suasana terasa lebih hidup.Di dapur, Sinta sedang membuatkan kopi sambil tersenyum melihat pemandangan itu. Ketika Laura mendekat, Sinta menyapanya. "Pagi, Laura. Mau sarapan apa?" tanyanya ramah.Laura hanya mengangguk kecil dan duduk di kursinya, menghindari kontak mata dengan Kenzo. Ia mengambil roti yang sudah tersedia di meja dan mulai memakannya dalam diam.Rio, yang melihat sikap Laura, tersenyum kecil. "Ra, kamu nggak mau gendong Kenzo? Dia lagi ceria banget pagi ini," ucapnya sambil menggerakkan Kenzo sedikit ke arah Laura.Laura menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menjawab tanpa menatap ayahnya. "Ayah tahu jawabannya," ujarnya datar.Rio menghela napas pelan, menatap putrinya dengan penuh kesabar

  • Teror Mantan   Bayi Kenzo

    Laura melangkah masuk ke dalam kamarnya di rumah dengan langkah lelah. Setelah percakapannya dengan Alex di pantai, tubuh dan pikirannya terasa begitu berat. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang dihiasi oleh balok kayu khas Bali.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar. Kata-kata Alex masih terngiang jelas di benaknya. "Mau seribu kali pun lo nolak gue, gue gak akan pernah menyerah, Ra."Laura menutup matanya, mencoba meredakan kekacauan di dalam dirinya. "Kenapa semua ini harus sekompleks ini?" gumamnya pelan. Di satu sisi, ia merasa bersalah telah membuat Alex terus berharap, tapi di sisi lain, ia tahu bahwa perasaannya sendiri belum benar-benar sembuh dari luka di masa lalu.Ia bangkit perlahan, berjalan menuju balkon kamarnya. Udara malam Bali yang sejuk menyapa wajahnya. Suara debur ombak dari kejauhan terdengar menenangkan, meski hatinya tetap terasa berat."Pernah nggak sih gue benar-benar tahu apa yang g

  • Teror Mantan   Luka dan suka Tasya

    Pov GrettaGretta dan Rafa berjalan santai di tepi pantai, pasir lembut menyentuh kaki mereka. Mereka baru saja membeli beberapa makanan ringan dari penjual yang ada di sepanjang pantai—kacang rebus, jagung bakar, dan es kelapa muda. Gretta memegang gelas es kelapa dengan satu tangan, sementara tangan satunya sibuk menepis Rafa yang terus menggoda."Lo tahu nggak, Gretta, gue beli jagung bakar ini khusus buat lo. Supaya lo bisa ngunyah sambil diem, nggak terus-terusan ngetawain gue," ucap Rafa sambil menyeringai.Gretta tertawa keras, hampir menjatuhkan gelasnya. "Hah! Emang lucu banget lo, ya. Humor lo tuh receh banget, Raf. Tapi gue akui, kadang itu yang bikin gue betah sama lo.""Kadang? Jadi gue cuma lucu 'kadang-kadang'?" Rafa pura-pura cemberut, membuat Gretta tertawa lebih keras.Mereka berhenti sejenak, duduk di atas pasir sambil menikmati angin malam. Gretta menyandarkan kepalanya ke bahu Rafa, sementara Rafa dengan santai melingkarkan lengannya di bahunya."Raf, lo sadar ngg

  • Teror Mantan   Keyakinan Alex

    ...Setelah suasana menjadi lebih cair, mereka semua mulai berbincang lebih santai bersama orang tua Laura. Sinta dan suaminya, Rio, ikut duduk di meja mereka, membuat obrolan semakin hidup.Namun, meski suasana terlihat akrab, Alex sesekali mencuri pandang ke arah Laura. Perasaan yang ia pendam selama bertahun-tahun sejak kepergian Laura tampak jelas di matanya. Gretta, yang duduk di samping Laura, menyadari hal itu tapi memilih untuk tidak berkomentar.Tasya, di sisi lain, merasa tidak nyaman dengan cara Alex memandang Laura. Ia mencoba mengalihkan perhatian Alex dengan memulai obrolan. "Alex, gue denger katanya li mau kuliah di luar negeri?" tanyanya dengan nada ceria.Alex tersenyum kecil, meski jelas terganggu oleh interupsi Tasya. "Iya, tha tapi gue juga gak.tahu, mungkin oindah rencana kuliah di tempat lain," ucapnya sambil melirik ke arah Laura.Tasya tersenyum kaku, menyadari bahwa Alex tidak sepenuhnya memperhatikannya. Ia menggenggam gelasnya lebih erat, mencoba menahan ras

  • Teror Mantan   Pertemuan 2

    Laura muncul dengan langkah tenang, tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dress putih sederhana yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin dari luar, membuatnya terlihat seperti bayangan dari masa lalu yang tiba-tiba hadir.Alex menatapnya dengan campuran emosi yang sulit diuraikan. “Laura...” panggilnya pelan, seolah takut suara lebih keras akan membuat momen ini menghilang.Laura menghentikan langkahnya, matanya terarah pada Alex. "Kamu... Alex?" gumamnya, suaranya bergetar.Semua orang terdiam. Gretta menatap Laura dengan raut wajah tak percaya, sementara Tasya mencuri pandang ke arah Alex, mencari reaksi dari pria itu."Kenapa kalian semua di sini?" tanya Laura sambil mendekat, suaranya tenang, meskipun sorot matanya penuh kebingungan.Alex, yang sedari tadi duduk, berdiri begitu Laura tiba di hadapannya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menarik Laura ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat, seolah

  • Teror Mantan   Pertemuan

    “Kita nginep di Wavecrest Hotel. Gue udah booking dua kamar di sana,” ucap Alex sambil melirik ke arah spion belakang, memastikan semuanya baik-baik saja di kursi penumpang.“Wavecrest Hotel?” tanya Gretta sambil menatap Tasya.“Iya, tempatnya persis di samping kafe Laura,” lanjut Alex dengan nada santai.“Wah, pas banget dong. Jadi nggak perlu ribet kalau mau ketemu Laura,” komentar Rafa sambil melihat peta di layar ponsel.Gretta tersenyum tipis. “Bagus sih, biar kita juga punya waktu buat istirahat sebelum ketemu dia.”Mobil pun terus melaju menuju Canggu, mengikuti suara navigasi yang membimbing mereka."Gue denger, bukannya Laura pergi tanpa pamitan? Kok kalian masih mau jauh-jauh ke sini buat nemuin dia?" tanya Tasya tiba-tiba, suaranya terdengar tajam.Mendengar itu, Gretta langsung menoleh dengan tatapan tak suka. "Maksud lo apa, Tasya?" tanyanya, nadanya jelas menunjukkan ketidaksenangan.Rafa mencoba menenangkan suasana, tapi Gretta sudah melanjutkan, "Gue kenal Laura udah l

  • Teror Mantan   Tamu Tak Di Undang

    Sore telah tiba, suasana bandara mulai dipenuhi hiruk-pikuk orang yang bersiap untuk penerbangan mereka. Alex duduk di salah satu kursi tunggu, wajahnya menampilkan kegelisahan. Penerbangan menuju Bali tinggal 30 menit lagi, namun Rafa dan Grettha, dua sahabatnya yang berjanji menemaninya, belum juga terlihat.Semalam, mereka bertiga berbincang panjang tentang rencana ini. Alex meyakinkan Rafa dan Grettha untuk ikut bersamanya menemui Laura,. Keduanya dengan antusias menyetujui, bahkan menjanjikan akan tepat waktu di bandara. Namun, sekarang janji itu terasa seperti angin lalu.Alex meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rafa lebih dulu. Nada sambung terdengar, tetapi tak ada jawaban. Ia lalu mencoba menelepon Grettha, namun hasilnya sama—tak diangkat. Ia menghela napas panjang, menatap layar ponselnya sejenak sebelum menyimpan kembali perangkat itu ke dalam sakunya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Rafa dan Gretta muncul di pintu masuk dengan koper masing-masing. Alex mendesah lega

  • Teror Mantan   Menemukan Kamu

    Setelah selesai dengan acara perpisahan di sekolahnya, Alex pulang ke rumah dengan langkah gontai. Meski acara berjalan meriah, hatinya tetap terasa hampa."Alex Pulang," teriak Alex dengan suara lesu saat memasuki rumah.Ia melemparkan tasnya ke sofa, lalu duduk di ruang tamu. Kepalanya bersandar ke sandaran sofa, matanya menerawang ke langit-langit. Pikirannya kembali melayang, lagi-lagi ke sosok Laura.Di ruang tamu yang sepi, hanya suara jarum jam yang terdengar. Alex menghela napas berat, mencoba mengusir rasa penat yang mendera hatinya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, bayangan Laura justru semakin jelas.“Ra... sebenarnya lo di mana?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Di ruang tamu itu, Alex duduk lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tahu ia harus melanjutkan hidup, seperti yang Agatha bilang, tapi rasa kehilangan itu masih terlalu kuat. Hari ini mungkin berhasil ia tutupi dengan senyuman palsu di sekolah,

  • Teror Mantan   Setahun Kemudian

    Setahun telah berlalu, dan kini Alex telah menyelesaikan masa SMA-nya. Hari ini seharusnya menjadi momen yang penuh kebahagiaan, saat dia dan teman-temannya merayakan kelulusan di aula sekolah. Suara riuh canda dan tawa memenuhi ruangan, namun bagi Alex, semuanya terasa hampa.Di sudut aula, Alex duduk sendirian, pandangannya tertuju ke arah panggung di mana teman-temannya sedang berfoto bersama, menyanyikan lagu perpisahan dengan penuh semangat. Tapi Alex hanya bisa terdiam. Kepergian Laura yang tanpa kabar masih menjadi beban berat di hatinya.Setahun ini, ia terus mencoba mencari tahu keberadaan Laura. Media sosial Laura sudah tidak aktif, seolah lenyap begitu saja. Pesan-pesan yang ia kirim ke keluarga Laura pun tak pernah mendapatkan balasan. Meski berita tentang pelecehan yang pernah menimpa Laura sudah lama tenggelam, bayangan gadis itu tetap hidup dalam pikirannya."Kenapa harus seperti ini, Ra?" gumam Alex pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ken

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status