Gunting tersebut memancarkan cahaya dingin di bawah sinar rembulan. Permukaan yang tajam pun bersentuhan dengan bahan kain yang mahal. Kain tersebut terpotong dengan mudahnya.Suara potongannya juga terdengar sangat renyah di telinga.Namun entah kenapa, setelah Tuan Richard memotong sudut tersebut, rasa penyesalan langsung menyelubunginya.Pria tua itu pun berhenti dan mengamatinya dengan saksama. Baju pesta itu sudah rusak.Perasaan yang sangat rumit telah muncul di dalam hati pria itu. Tuan Richard samar-samar merasakan sedikit penyesalan. Pria tua itu pun menghela napas dan membuang guntingnya, lalu bergumam."Celine oh Celine! Tolong menurutlah! Untuk apa harus seperti ini?"Meskipun pertemuan mereka terbilang singkat, Tuan Richard sangat memahami karakter Celine.Gadis itu selalu bersikap terus terang dan tidak gila nama besar. Dia juga tidak selalu mengikuti arus.Wanita itu tidak lantas merubah tindak tanduknya karena sudah menjadi cucu angkat Keluarga Nadine.Tuan Richard sang
"Kakek, aku nggak ingin membangunkanmu. Aku nggak ingin membangunkan orang lain. Aku ... aku hanya merindukan ibu."Lily pun menggigit bibirnya.Wanita itu sadar bahwa perkataannya pasti bisa menyentuh sisi terlemah dari hati sang kakek.Benar saja! Ketidaksenangan yang ada di wajah pria tua itu pun perlahan-lahan menghilang dan berubah lembut ketika berkata, "Ibumu ... dia masih hidup. Kenapa kamu bisa seperti ini?"Tuan Richard menunjuk kertas sembahyang yang ada di dalam baskom. Di dalam matanya terlihat penolakan yang sangat kuat.Reaksi dari Richard memang sesuai dengan pemikiran Lily. Dia tahu bahwa Tuan Richard tidak bisa menerima kematian putrinya.Akan tetapi, Aurora memang sudah mati.Hahaha!Lily tidak akan memberitahu kenyataannya kepada pria ini. Akan tetapi, dia bisa memanfaatkan kematian putri Richard untuk memicu Tuan Richard."Kakek, aku ...." Sambil mengatakannya, Lily tidak tahan dan akhirnya menangis.Sambil menangis, Lily menambahkan sesuatu."Aku juga nggak percay
"Loli, aku nggak akan membiarkan Lily bersedih. Semua yang seharusnya menjadi milikmu akan kuberikan kepada Lily."Perkataan pria ini membuat Lily ingin berteriak kegirangan.Akan tetapi, dia masih sanggup menahan diri.Wanita ini tahu bahwa Aurora adalah kelemahan utama sang kakek. Kelemahan merupakan deraan mental seseorang.Asalkan dia bisa membangkitkan perasaan menyesal Tuan Richard, pria tua itu akan berusaha keras untuk menebus masa lalunya.Lily menghapus air matanya. Wanita itu melihat Tuan Richard dengan ragu-ragu dan berkata, "Kakek, apa yang ingin kamu berikan padaku?"Sepasang mata jernih Lily yang terlihat polos dan tidak berdosa seperti tidak dikotori oleh apa pun. Wanita ini seolah-olah sama sekali tidak tertarik pada hal-hal berbau duniawi.Tuan Richard menjadi senang dan berkata, "Besok kamu juga akan mengetahuinya."Di pesta ulang tahunnya besok, pria ini bukan hanya akan mengganti marga Lily menjadi marga Nadine. Pria ini juga akan buat surat wasiat dan mengumumkan
Rasa tidak senang kakek ini tetap jauh lebih baik daripada memasukkan Celine ke bahaya yang tidak diketahui."Oh! Nggak datang, ya?"Lily pun menunjukkan kekecewaannya dan cemberut. Namun, di dalam hatinya wanita itu tersenyum dingin.Dia telah menggunakan sebuah email asing untuk mengirimkan undangan kepada Celine. Lalu di dalam email itu dia sengaja menambahkan sebuah informasi. Tidak jelas apakah informasi itu bisa membangkitkan rasa penasarannya.Kalau Celine penasaran, wanita itu bisa datang ke pesta ini.Kakek akan mengumumkan ahli warisnya, sekaligus memastikan siapa yang akan menjadi pemilik dari Perusahaan Perhiasan Nadine. Bagaimana mungkin Celine boleh tidak hadir?Lalu di hari yang sangat baik ini, dia ingin Celine melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa sesuatu yang seharusnya menjadi milik Celine, pada akhirnya jatuh ke tangan Lily walaupun Celine menyaksikannya tanpa mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.Membayangkannya saja sudah membuat hati Lily senang bukan mai
Karena dia sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Celine, pekerja itu pun tidak mengetahui statusnya."Oh! Baiklah! Ini!"Celine tidak memutus panggilan teleponnya. Dia hanya keluar dari layar pembicaraan. Wanita itu pun mencari undangan yang ada di dalam email dan memperlihatkannya kepada pekerja tersebut."Baiklah! Silakan!"Celine sudah masuk ke dalam mansion. Dia kembali terhubung dengan Albert. "Halo, Kak Albert kamu masih tersambung? Untuk apa kamu mencariku? Ada masalah?""Nggak apa-apa. Aku hanya merindukanmu."Albert yang berada di ujung telepon tersenyum hangat. Kehangatan dari ucapannya seperti api yang menggelora.Celine lantas berpikir bahwa Albert pasti adalah seseorang yang sangat ahli dalam urusan cinta.Celine lantas merasa sedikit bersimpati. Setelah berbasa-basi, Albert juga tidak mengatakan hal yang lainnya lagi.Begitu telepon itu terputus, Celine langsung memperhatikan ponselnya dengan kebingungan.Pria ini menghubunginya karena ingin memberitahunya bahwa dia meri
Tante Noni pun tertegun.Selain wanita yang ada di hadapannya ini, siapa lagi yang merupakan Nona Celine?Hanya saja pagi ini dia mendengar Tuan Hansen mengatakan bahwa Nona Celine tidak akan datang.Ketika sedang dilanda keraguan, dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya melalui alat komunikasi.Hari ini adalah ulang tahun Tuan Richard. Meskipun mereka mendatangkan pembantu dari luar, pembantu yang ada di dalam mansion tetap bekerja.Tante Noni tidak berani membuang waktu. Saat teringat bahwa Tuan Richard sudah lama tidak melihat Nona Celine, sebelum Tante Noni pergi, wanita itu pun memberitahu Celine sesuatu."Nona Celine, Tuan seharusnya berada di kamar."Celine lantas melihat punggung wanita itu dan mengerutkan dahinya.Tuan?Maksudnya Tuan Richard?Dilihat dari dandanan wanita tadi, dia sudah pasti adalah pelayan dari mansion ini.Wanita itu mengenalinya dan memberitahunya bahwa Tuan Richard berada di kamar. Apa dia ingin Celine pergi menemui tuan tersebut?Sepertinya, buka
Ekspresi kesedihan itu muncul dan tertangkap oleh sorot mata Tuan Richard sehingga rasa menyesalnya pun bangkit.Tuan Richard langsung mengalihkan tatapannya."Baju itu ... nggak sengaja rusak."Tuan Richard tidak berani menatap mata Celine.Di dalam mata Tuan Richard pun muncul kekecewaan. Celine yang tidak tega langsung berkata, "Bolehkah aku mencoba untuk memperbaikinya?"Tuan Richard tertegun sejenak. Segera pria itu pun berkata, "Boleh! Tentu saja boleh!"Setelah menanyakan bahan yang dibutuhkan oleh Celine untuk memperbaikinya, Tuan Richard langsung memanggil Tante Noni.Dalam waktu singkat, jarum dan benang sudah disiapkan dan diantarkan untuk Celine.Celine mengambil jarum dan benang tersebut. Dia tahu bahwa dia bisa merancang baju pesta. Akan tetapi, dia sama sekali tidak yakin dalam hal menjahit dan memperbaiki. Ketika dia memegang jarum dan benang tersebut, di dalam benaknya seperti sudah muncul sebuah rancangan untuk memperbaiki.Celine melepaskan baju pesta itu dari gantun
Kalau dilihat dengan saksama, pola yang sangat rapi itu adalah hiasan untuk baju pesta tersebut.Seperti tidak ada bekas kerusakannya.Celine merasa sangat puas. Wanita itu melihat ke arah Tuan Richard dan menunggu pemeriksaannya.Richard juga merasa sangat puas. Saat itu, ketika dia memperhatikan pola sulaman yang ada di baju pestanya, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Dia kembali memperhatikannya dari setiap sudut dan mengangkat wajahnya memperhatikan Celine."Kenapa kamu bisa tahu pola ini?"Tuan Richard bertanya dengan suara yang cukup keras. Sorot matanya ketika melihat Celine terlihat sangat aneh.Celine lantas tertegun dan matanya berhenti di pola yang dijahitnya itu.Kenapa dirinya bisa membuat pola ini?Celine juga tidak tahu.Bahkan ketika Celine menjahitnya, Celine juga tidak mengerti kenapa dia hanya teringat pada pola ini.Dia hanya menjahitnya dan menjahitnya, lalu jadilah pola seperti itu."Bicaralah!"Tuan Richard terus mendesaknya. Pria itu terus menatap Celine dan so
Di pesta malam, nona-nona yang datang tidak berani mendekati Celine lagi selain untuk menyapanya. Mereka takut tidak sengaja melakukan sesuatu dan menyakiti Nyonya Jayadi ini.Mereka pun semakin kagum dengan Nyonya Jayadi dan semakin berusaha menyanjung Nyonya Yuni.Semua orang sibuk mengelilingi Nyonya Yuni, Gisela bahkan tidak bisa berbaur.Bertha juga berada di luar kerumunan itu, dia sama sekali tidak ada niat untuk menyanjung Nyonya Yuni.Di benaknya masih terus ada bayangan adegan yang terjadi di taman tadi, dia bahkan masih ingat jelas tekstur bibir pria itu.Bertha merasa otaknya sangat berantakan.Ada apa dengannya?Menyadari kondisinya yang aneh, Bertha berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran itu. Namun, ingatan itu seperti kutukan yang tertanam di benaknya.Semakin dia pikirkan, wajahnya semakin merah.Dia pun memutuskan untuk diam-diam pergi. Dia ingin mencari tempat yang lebih sepi untuk meredakan panas di wajahnya.Karena terlalu buru-buru, dia menabrak dada seseoran
Gisela mengalihkan pandangannya dan kebetulan melihat Bertha dan Alvin berdiri bersama, sedang membicarakan sesuatu.Bertha mau mendekati Alvin?Muncul tebakan ini di benak Gisela.Kalau Bertha berhasil mendekati Alvin ....Waktu dia sedang berpikir, Evan menghampirinya dengan terburu-buru, terdengar maksud menyalahkan di suaranya. "Tadi kamu kenapa? Kenapa kamu sampai melewatkan kesempatan sebagus itu?""Kamu tahu, nggak? Dia bukan hanya istri Tuan Andreas, dia itu pemegang saham terbesar di Grup Nadine, juga putri Keluarga Tjangnaka ....""Kalau bisa berteman dengannya, Keluarga Wisma pasti bakal sukses, tapi ...."Evan sangat kecewa. Semakin dia memikirkan manfaat yang bisa didapatkan kalau bisa membangun koneksi dengan Nyonya Jayadi, dia semakin merasa kalau Gisela telah melewatkan kesempatan yang sangat bagus."Kenapa kamu ...."Gisela memutar bola matanya di dalam hati.Kalau dia menunjukkan bakatnya di depan Nyonya Jayadi dan disukai Nyonya Jayadi, manfaatnya tentu saja jadi mil
Celine tersenyum ke Yuni untuk menenangkannya. "Nenek, aku benar-benar nggak apa-apa.""Nggak apa-apa juga harus diperiksa."Yuni sangat teguh.Namun, Celine tidak mungkin tenang membiarkan wanita licik seperti ini menyentuhnya. Dia akhirnya terpaksa melihat Gisela."Kamu profesional?""Iya, benar."Gisela segera mengangguk. Entah kenapa, Nyonya Jayadi di depannya ini jelas-jelas terlihat sangat lembut, tapi dia merasa tekanan yang membuatnya susah bernapas.Gisela tersenyum lembut, berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan niat baiknya pada Nyonya Jayadi.Sementara Celine juga bisa melihat "niat baik" Gisela.Dia hanyalah berpura-pura.Celine melihatnya dan berkata secara perlahan, "Kamu dokter?"Gisela tertegun sejenak lalu menggeleng. "Bukan."Celine bertanya lagi, "Perawat?"Gisela terdiam sejenak."Bukan, tapi aku ...."Sebelum Gisela selesai bicara, Celine tidak memberinya kesempatan lagi. "Kamu bukan dokter, juga bukan perawat, mananya yang profesional?"Celine berkata penuh makn
Yuni segera menyuruh orang memanggil dokter pribadi.Saat ini, Gisela juga langsung sadar kembali dan segera mengajukan diri. "Aku ... aku pernah belajar keperawatan ...."Hal yang terjadi tadi ....Gisela merasa dia sudah mau meledak saking kesalnya.Jelas-jelas dia melihat Bertha sudah mau menabrak Nyonya Jayadi, tapi di luar dugaannya .... Teringat dengan kejadian tadi, Gisela tidak hanya merasa kecewa karena rencananya gagal.Pria yang ditimpa Bertha tadi adalah tuan muda pertama Keluarga Sugito.Mereka ... berciuman.Namun, Bertha mana layak?Gisela tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Mendengar Yuni meminta orang memanggil dokter pribadi, Gisela langsung sadar kembali.Rencananya mencelakai Bertha sudah gagal, dia tidak boleh melewatkan kesempatan untuk menunjukkan kehebatannya.Oleh karena itu, dia pun segera menawarkan diri.Baru saja dia selesai bicara, semua orang pun melihatnya.Termasuk Nyonya Yuni dan juga Nyonya Jayadi itu."Kamu bisa ilmu keperawatan?" Yuni meli
Melihat gadis baju hitam itu sudah mau menabraknya, Celine refleks berteriak, "Andreas ...."Saat ini, di bandara Kota Binara.Seorang pria memegang dadanya, keningnya juga berkerut. Kegelisahan yang tiba-tiba muncul di hatinya membuat kepalanya pusing."Tuan, kamu kenapa?"Orang yang lewat menyadari keanehannya dan segera bertanya.Pria itu berusaha untuk menenangkan dirinya, tapi hatinya seperti diremas oleh sebuah tangan. Dia tidak pernah merasakan rasa sakit seperti itu.Di hatinya bahkan muncul ketakutan, lalu perlahan-lahan ketakutan itu menyelimutinya.Dia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya."Tuan, kamu kenapa?"Melihat kondisinya, orang yang lewat tadi bertanya lagi.Pria itu menghirup napas dalam-dalam lalu mengibaskan tangannya, tapi ketakutan itu masih mengikutinya.Sebenarnya ... ada apa dengannya?Sementara saat ini, Celine menutup matanya, suasana sekitarnya seakan-akan menjadi hening. Dia berusaha melindungi perutnya, berdoa hal yang dia takutkan tidak akan ter
Semakin Evan menyukai rasa puas ini, dia semakin tidak menyukai Bertha yang angkuh."Kalau begitu, aku ke sana?"Gisela memasuki area dansa dengan hati-hati tapi semangat seakan-akan sudah mendapat dukungan.Dia mengikuti tempo dan irama lalu mulai membaur dengan orang-orang.Di tempat yang tidak diperhatikan orang, Gisela diam-diam mengamati sekelilingnya, mencari kesempatan. Akhirnya, dia melihat Bertha sedang berputar mendekati Celine.Gisela tahu kalau kesempatannya sudah datang."Siapa gadis baju hitam itu? Tariannya lumayan bagus ...."Yuni juga memerhatikan Bertha.Nada pujiannya kebetulan didengar oleh Gisela, Gisela pun semakin yakin dengan rencananya.Nyonya Yuni sedang memuji Bertha? Nanti, takutnya dia baru akan puas setelah membunuh Bertha!Gisela berpikir sambil menunggu waktu yang pas, kemudian dia diam-diam mendorong gadis yang sedang menari membelakanginya ...."Aduh ...."Seiring dengan seruan kaget, gadis itu menabrak orang di depannya."Ah ....""Aduh ...."Suara te
Alvin kenal dengan Nyonya Jayadi ini?Gisela melihat Alvin berjalan kemari bersama Celine, jarak di antara mereka seperti sengaja untuk menghindari rumor.Apakah hubungan mereka tidak biasa?Gisela memutar matanya, otaknya juga ikut berputar.Waktu melihat Nyonya Jayadi sudah mendekati kerumunan orang, Alvin berhenti mengikutinya, tapi matanya tetap tertuju pada Nyonya Jayadi.Gisela pun melihat wanita yang meski sedang hamil, tetap sangat cantik itu. Dalam hati muncul perasaan yang aneh, bahkan dia juga tidak bisa membedakan apakah itu kagum atau iri.Nyonya Jayadi ini benar-benar beruntung.Sedangkan dia ....Gisela mencari Bertha di sekitar, lalu segera menemukannya yang terlihat sangat mencolok di antara kerumunan.Bertha ada di antara kerumunan orang yang menari, sepertinya dia terbawa suasana, terlihat sangat gembira, sama sekali tidak sedih karena Evan mau membatalkan pernikahan mereka.Kenapa dia tidak sedih?Gisela merasa kesal.Bertha harusnya sedih, karena bagaimanapun juga
Celine terus menunggu Andreas, merindukannya setiap hari. Sejak babak final Kompetisi Desain Perhiasan Nasional di mana dia menerima cincin "Penantian", dia tidak menemukan petunjuk apa pun lagi tentang Andreas.Dia terjebak dalam penantian yang tidak terlihat ujungnya, seakan-akan mengerti maksud dari orang yang mengirim cincin itu.Penantian ....Orang itu memberi tahu dia kalau dia akan terus menunggu.Alvin bisa melihat kepahitan di mata Celine. Di kalangan para orang kaya di Binara ada sangat banyak rumor tentang Celine dan Andreas.Ada yang bilang Celine sedang hamil, tapi Tuan Andreas tidak pernah muncul di sisinya sekalipun, hubungan mereka sudah renggang.Ada yang bilang Celine hanya diakui karena hamil dengan keturunan Keluarga Jayadi, Yuni juga hanya mementingkan cicitnya yang ada di kandungan Celine.Di luar ada banyak rumor seperti ini, tapi karena identitas Celine yang merupakan pewaris Grup Nadine dan juga putri Keluarga Tjangnaka, tidak ada yang berani meremehkannya.Al
Di bawah tatapan semua orang, seorang wanita berpakaian putih memegang wajahnya, jelas terlihat dia baru saja ditampar.Wanita itu memasang ekspresi bingung, lalu sibuk meminta maaf pada orang yang menamparnya seakan-akan tidak peduli dengan rasa sakit di wajahnya. "Maaf, Kak, aku ...."Sebelum dia selesai, seorang pria maju dan melindungi wanita baju putih itu di belakangnya sambil memelototi wanita baju hitam di depan wanita baju putih itu. "Kenapa kamu memukulnya?""Kak Evan, jangan salahkan Kakak, aku yang salah, membuatnya marah."Wanita baju putih itu terlihat sangat lemah seperti bunga yang mudah rusak.Alasan dia terlihat lemah,adalah karena kekejaman "Kakak" yang disebut olehnya itu. Semakin dia terlihat lemah, semakin bisa merangsang keinginan pria untuk melindunginya.Namun, di mata wanita baju hitam itu ....Celine melihat wanita baju hitam itu dengan tatapan penasaran. Wanita itu terlihat sangat tenang, seakan-akan sudah biasa dengan kelemahan wanita baju putih dan juga s