Malam itu, Agnia mentraktir para tetangganya makan malam di warung nasi bebek langganan mereka. Gadis itu berkata kalau ini dalam rangka berbagi kebahagiaan dan rasa syukur karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan tawaran sebagai pemeran utama.
Kedua pria tetangganya tentu saja menerima traktiran itu dengan senang hati. Terutama Narendra yang sejak pertama kali mencoba nasi bebek Madura itu langsung ketagihan. Badi senang karena alasan yang berbeda, dia senang karena Agnia memintanya untuk mengajak Antari ikut bergabung bersama mereka.
“Bang Ucok masih belum pulang?” Antari mencuci tangan pada mangkuk yang disediakan kemudian mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya.
“Belum. Kemarin sempat ngirim pesan, katanya mumpung udah di sana dia sekalian ambil cuti beberapa hari.”
“Aku nggak nyangka banget, lho, Bang Ucok sampai senekad itu,” Agnia menyeruput pesanan es jeruknya, “Aku tahu, di antara kita semua itu p
"Mimpi apa gue lo udah ada si kantor sepagi ini?" Abimana terkejut ketika menemukan sepupunya sudah duduk di meja kerja dan menghadap layar laptop dengan muka serius.Narendra hanya sejenak mengalihkan wajah dari layar laptop sebelum kembali menutup menatap laptop."Kamu telat," hanya itu yang diucapkan sebelum pria itu kembali serius."Seriusan, lo kesambet apa gimana, sih?" Dengan santai pria duduk pada salah satu kursi di hadapan meja kerja Narendra."Berisik. Lebih baik kamu buatkan aku kopi atau melakukan sesuatu yang lebih berguna.""Gue penasaran. Kenapa lo Senin pagi udah stand by di kantor? Perasaan kemarin gue nggak teriak-teriakin lo buat datang, deh."Dengan kesal Narendra menutup laptop kemudian menatap sepupunya tajam, "Coffee, please.""Beneran kesambet lo!""Coffee before talk. Urgent.""Takuuut!" Tentu pria itu hanya pura-pura takut. Sambil terkekeh dia berjalan menuju pintu kemudian te
“Ayo,” Bimasakti langsung bangun dari duduknya ketika Narendra memasuki ruangan kerjannya.“Ke mana?” Tentu saja Narendra langsung bertanya karena dalam pikirannya mereka hanya akan makan siang di kantor. Antara di kafetaria atau Bimasakti sudah memesankan makanan untuk mereka.“Lagi pengin makan di Puncak.”“Puncak? Kak Bima serius?!”Keluarga Widjaja memiliki beberapa property di Puncak. Ada satu vila yang letaknya begitu terpencil dan jauh dari keramaian karena Widjaja membeli lahan sangat luas dan hanya membangun sebagian kecil. Sejak dulu Narendra dan Bimasakti sering menghabiskan waktu di sana ketika suntuk dengan kuliah atau tanggung jawab yang mereka emban sejak usia muda.“Lo nggak kangen sama villa kita? Udah lama lo nggak main ke sana.”“Ya, memang sudah lama. Tetapi kalau memang mau berkunjung ke sana bisa lain waktu, Kak.”“Heli udah nunggu di a
“Ma,” Narendra menunduk lalu mencium kedua pipi Reinya, “Maaf agak telat.”Selesai makan siang dan mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkannya dari Bimasakti, Narendra segera kembali ke ibukota. Dalam perjalanan dia bertanya jadwal ibunya dan meminta wanita itu untuk makan malam bersama.Ada hal penting yang ingin dibicarakannya dengan Reinya. Dia ingin memastikan informasi terakhir yang dapat melengkapi puzzle mengenai orang tua Agnia.“It’s okay,” Reinya tersenyum dan menepuk pipi anak kesayangannya, “Mama tahu dari Bimasakti kalau kamu langsung dari vila, kan, ini?”Narendra mengangguk, “Kak Bimasakti masih sama kayak dulu. Impulsifnya nggak ada yang bisa ngalahin.”“Iya,” Renya tertawa, “Mama masih inget gimana paniknya kita waktu kamu sama Calya tiba-tiba hilang. Papa udah mikir macam-macam dan udah siap ngehubungi kenalannya yang petinggi polisi.
“Abaaang..!” Gayatri langsung terlonjak dari duduk dan menyapa manja kekasihnya yang baru saja memasukin rumahnya.Gayatri sudah menunggu kedatangan pria itu sejak beberapa saat lalu. Kekasihnya memang berjanji selesai membereskan berbagai urusan di lokasi syuting, dia akan segera ke rumah Gayatri dan membawakan makan malam mereka.“Pacar siapa ini manja banget, hm?” Kenny langsung merentangkan tangan menandakan dia siap menerima sang gadis kapan saja.“Pacar kamu!” Gayatri berlari ke pelukan pria itu sebelum memanyunkan bibir, “Kamu tahu, aku nggak bisa kayak gini terus. Nggak enak banget harus biasa aja kalau lagi di lokasi syuting!” Dia berujar manja, “Mana kamu sok galak lagi kalau lagi kerja.”Kenny refleks tertawa mendengar keluhan kekasihnya. Bagaimana tidak? Sejak awal mereka berpacaran tahun lalu, Gayatri yang meminta untuk merahasiakan hubungan. Kenny langsung menyetujui permintaan gadi
“Lo udah dengar kabar tentang Kenny?”Gayatri yang sedang berada di bilik toilet seketika menajamkan telinga ketika mendengar nama kekasihnya diucapkan. Tidak hanya itu, tanpa sadar dia menahan napas karena tidak ingin keberadaannya disadari oleh siapa pun. Dia harus mendengar apa yang ingin dibicarakan oleh dua orang kenalannya itu.Dari suara, gadis itu dapat menebak siapa yang berada di luar. Keduanya aktris yang cukup terkenal. Beberapa kali mereka pernah terlibat dalam proyek yang sama. Sesekali mereka akan menghabiskan waktu bersama hanya untuk memastikan hubungan mereka masih terjalin baik. Mereka bukan teman. Hanya kenalan yang saling memanfaatkan dan mencari keuntungan pribadi. Tidak lebih.“Kabar dulu, nih?” Pertanyaan itu bercampur dengan suara gemericik air, “Kalau tentang filmnya nggak usah ditanya, ya. Jamin banget ini film bakalan meledak! Lo nggak lihat gimana reaksi orang-orang tadi?!”“Kalau itu
"Jadi Gayatri memang berpacaran dengan Kenny?""Tante Gayatri, Narendra," ketika Reinya mengucap nama Gayatri ekspresi wanita itu terlihat begitu sendu."Iya, Tante Gayatri dan Om Kenny.""Kalau Kenny tidak perlu pakai Om. Kalau benar dia meninggalkan Gayatri berarti dia bajingan. Kok tega ninggalin perempuan yang lagi mengandung anaknya?!""Dari informasi yang aku kumpulkan, Tante Gayatri yang tiba-tiba menghilang. Sampai sekarang Kenny sama dengan Mama, masih mencari tahu tentang keberadaan kekasihnya itu."Reinya menghembuskan napas panjang, "Mama juga sebenarnya berharap itu yang terjadi. Tapi...kalau itu pilihan Gayatri kenapa lalu dia bunuh diri?""Tidak ada yang tahu alasan seseorang bunuh diri, Ma. Kemungkinan besar itu merupakan akumulasi dari beban dan masalah yang ditanggung selama bertahun-tahun.""Bisa jadi. Membesarkan anak seorang diri itu...sesuatu yang mengerikan. Mama tidak sanggup membayangkannya."Selama beb
“Hai cowok,” Agnia hanya menunjukkan kepala di ambang pintu kontrakan petak kekasihnya, “Kamu seharian ke mana aja?”Narendra tentu saja langsung tersenyum ketika menyadari keharian kekasihnya, “Bantu-bantu di toko orang tua.”“I see,” gadis itu masuk ke kontrakan petak Narendra, “Capek pasti, ya?”“Kinda,” Narendra tersenyum dan merentangkan tangan seakan meminta gadis itu untuk memeluknya.“Butuh recharge, ya?”Entah sejak kapan pelukan menjadi cara mereka untuk menghilangkan kelelahan. Di akhir hari, setelah lelah dengan aktivitas masing-masing, ketika bertemu mereka akan berpelukan. Agnia yang pertama kali menyebutnya sebagai proses recharge energi. Gadis itu berkata serupa dengan ponsel yang membutuhkan proses pengisian baterai secara berkala, begitu juga dengan mereka. Caranya tentu dengan berpelukan.“Tentu. Ka
Lokasi syuting bukan sesuatu yang asing bagi Narendra. Sejak kecil dia sudah sering berkunjung ke lokasi syuting untuk menemani Reinya ketika ibunya masih aktif sebagai seorang artis. Beranjak remaja, alasannya berkunjung ke lokasi syuting berubah. Biasanya karena dia menemani Asija sebelum akhirnya alasan itu berubah menjadi tanggung jawab seorang produser. Tetapi ini pertama kalinya dia datang untuk menemani kekasihnya.Ketika sampai di rumah yang akan digunakan sebagai lokasi syuting pertama proyek film ini, Agnia dengan ramah menyapa seluruh kru dan pemeran yang berpapasan dengannya. Siapa pun dapat melihat kalau Agnia disukai oleh semua orang yang ada di lokasi syuting. Sementara Agnia menyapa dan briefing, Narendra memilih untuk mengamati sekitar dalam diam.Tanpa disadari oleh seorang pun, pria itu memperhatikan semua orang yang ada di sana. Mulai dari kru sampai pemeran lainnya. Dia tidak menemukan keanehan. Semuanya serupa dengan lokasi-lokasi syuting