Kelly menggeleng. Merasa tidak mungkin membenarkan pernyataan Ian bahwa Brandon sebenarnya cemburu pada kedekatan mereka berdua.“Kita lihat saja nanti.” Ian menyeringai saat memarkir kendaraannya di depan restoran.Kedua pasangan itu duduk berhadapan. Kelly tidak memperdulikan lirikan sinis Gracia padanya saat mereka berbincang.“Sampai kapan Granny Eliza di luar negeri?” Gracia bertanya pada Brandon.“Tidak tau.” Brandon menggeleng acuh sambil menatap ponselnya.Ian sepertinya sengaja membangun keakraban dengan Kelly. Ia beberapa kali mengajak Kelly mengobrol dengan berbisik pelan dan melemparkan candaan yang membuat Kelly tersenyum.“Kita mulai saja rapatnya!” sentak Brandon tiba-tiba.Tidak ada yang Kelly lakukan selain mendengar diskusi antara Brandon dan Ian. Selama rapay, Kelly sesekali melirik Gracia yang tampak hanya bermain ponsel saja.Melalui pembicaraan yang ia dengar, Kelly menyimpulkan bahwa Brandon sangat kesal karena produk parfumnya gagal produksi. Bagian produksi ti
“Kamu beneran suka dengan Kelly?” Brandon menatap sahabatnya dengan mata menyelidik.Mereka telah mengantar Gracia dan Kelly ke apartemen masing-masing. Akhirnya, Brandon setuju Kelly menginap di tempat tinggalnya sebelum menikah. Sementara Gracia awalnya tetap ingin menginap di mansion, namun Brandon menolak dengan alasan ia dan Ian ingin mendiskusikan masalah perusahaan.Ian tersenyum mendengar pertanyaan Brandon. “Wajar, bukan? Kelly itu ... selain cantik dan cerdas, ada sesuatu di dirinya yang entah kenapa sangat menarik. Unik.”Rasanya Brandon dapat mendengar jantungnya berdebar kuat saat ini mendengar pujian Ian untuk Kelly. Ia mengetatkan rahang, mencoba untuk tidak membalas pernyataan sahabatnya.“Bagaimana menurutmu? Apa aku cocok dengan Kelly?” Ian merentangkan tangannya dan berputar di depan Brandon.“Tidak tau.” Brandon mendengus kesal.“Hehe. Tenang saja, aku tidak akan melakukan pendekatan sekarang. Mungkin setelah kalian bercerai. Aku siap menunggu.”Sengaja, Ian memana
Ruang rapat dipenuhi jajaran petinggi perusahaan. Kelly tidak merasa asing dengan situasi ini. Sejak kecil, Kelly bahkan sering ikut rapat dengan orang tua atau kakak-kakaknya.Di depan mereka ada meja panjang dengan lima produk parfum. Kemasan botol yang elegan dan mewah sangat menarik perhatian. Saat ini, Gracia sedang menjelaskan situasi yang mereka hadapi.“Rapat ini untuk menentukan akan kita apakan produk-produk gagal ini.” Gracia mengakhiri kata-kata pembukaan.Ian mengambil alih. “Saat ini ada beberapa pilihan. Produk dimusnahkan, direvisi pabrik atau ... dijual.”Terdengar bisikan demi bisikan. Mereka tidak mengira ada pilihan untuk tetap menjual produk gagal.“Kelly sudah hadir di sini untuk memberikan pendapatnya. Silahkan, Kelly.” Ian tersenyum dan mempersilahkan Kelly bicara.Kini, semua mata menatap Kelly. Karyawan baru yang sejak awal kehadirannya mendapat perhatian karena banyak mendapat keistimewaan. Mereka bahkan tidak tau, mengapa Kelly menjadi bagian dari pengambil
“Ngapain, Kak Cha?” Kelly mengamati apa yang dilakukan kakaknya.Pagi itu, Kelly baru keluar dari kamar. Ia melihat Sacha sedang memijat kepala Cedric dari belakang. Sementara Cedric sedang serius menatap layar laptop dengan berbagai buku tebal kedokteran di sisi kanannya.Seolah mengerti pertanyaan di mata Kelly, Sacha berkata, "Treatment untuk rambut yang mulai menipsi."Keyna mengangguk-angguk, lalu terkekeh. "Professor itu memang biasanya botak.”“Sudah,” potong Cedric sambil menutup laptopnya. “Rambutku baik-baik saja, Sayang.”Cedric kini berdiri sambil menyampirkan tas laptop di bahu. Tangan kirinya memegang beberapa jurnal kedokteran. Tangan kanannya meraih pinggang Sacha dan merapatkan tubuh mereka.“Cup.” Cedric mencium bibir Sacha. “Aku pergi dulu. Jemputan sudah menunggu di lobi.” Sebelum pergi, ia juga memberikan kecupan sekilas di pipi Kelly.“Kak Cedric jadi belum sarapan. Maaf, ya.” Kelly terlihat tidak enak hati karena tidak menjamu tamunya.“Memang Cedric yang berang
“Sacha ada keperluan sebentar untuk mengambil brosur universitas. Setelah itu kami antar kamu bekerja sebelum kami ke bandara.” Cedric menjelaskan mengapa mereka berhenti di sebuah gedung pendidikan.Kelly tersenyum tipis mendengar pernyataan Cedric. Alma adalah putri pertama Kak Sacha dan Kak Cedric. Memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan juga bercita-cita menjadi dokter seperti Papanya.Sambil menunggu Sacha, mereka berbincang tentang keluarga. Cedric mengatakan Sacha sekarang sudah tidak terlalu sibuk dengan produk kecantikannya. Dan memilih lebih banyak meluangkan waktu menemani keluarga.“Persis seperti yang Mommy lakukan dulu. Membatalkan beasiswa menjadi profesor muda agar bisa tetap memiliki waktu bersamaku dan Daddy.”Cedric mengangguk setuju. “Keyna memang banyak memberi inspirasi pada keluarga Dalton. Aku akui itu.”Mendengar ucapan Cedric, mata Kelly memicing dengan wajah keras . “Bukankah tidak sopan memanggil ibu mertua dengan panggilan nama saja?”Cedric tergelak. “Me
“Kamu harus gerak cepat jika memang suka dengan Kelly, Ian.” Gracia tersenyum setengah bibir. “Ada salah satu pegawai kita memergoki Kelly makan malam romantis dengan lelaki setengah baya.“Dan kalian langsung bergosip pagi ini bahwa lelaki itu adalah kekasih Kelly.” Ian mendengus kesal.“Mungkin bukan kekasih.” Gracia mencondongkan tubuhnya ke arah Ian. “Lebih tepatnya, simpanan Om-Om.”“Jangan bicara sembarangan, jika tidak memiliki bukti!” bentak Ian.“Buktinya, hari ini ia memakai tas dan aksesoris branded. Mana mampu seorang pegawai rendahan membeli barang-barang seperti itu. Pasti hadiah dari Om di restoran tersebut.”“Siapa tau barang KW.”Gracia tergelak mendengar ucapan Ian. Wanita itu merasa tersinggung Ian meragukan kemampuannya melihat barang branded original dan KW. Gracia yakin benda-benda yang digunakan Kelly adalah asli, bahkan keluaran model terbaru butik ternama.Mereka sedang berada di depan meja Brandon. CEO perusahaan itu memijat kening mendengar tunangan dan sahab
“Pasti ada sesuatu.”Sacha mondar-mandir di depan meja kerja kakaknya. Ia telah kembali dan langsung ke kantor karena tak sabar ingin menceritakan pertemuannya dengan adik mereka.“Sesuatu seperti apa, Cha? Wajar jika Kelly masih beradaptasi dengan dunia kerja.” Frederix, anak sulung keluarga berkata santai.“Tapi ... Kelly bekerja sebagai pegawai administrasi. Ya ampun, Kak Freedd. Adik kita, kerja sebagai pegawai rendahan dan sering dibully di sana.” Sacha membelalakkan matanya.“Oke. Bagian perundungan itu, aku juga tidak suka.”“Ya sudah. Jemput Kelly sekarang. Suruh ia bekerja di sini saja. Kelly paling nurut sama kamu.”Belum sempat Frederix menjawab, pintu ruang kerja terbuka. Louis masuk tergesa dan segera menutup pintu.“Ada apa dengan Kelly?”Sacha memang mengirim pesan pada kakak dan adik laki-lakinya tentang Kelly. Kini, Sacha terpaksa mengulang cerita yang baru ia sampaikan pada Frederix agar adiknya – Louis mengerti situasi yang adik bungsu mereka hadapi.“Kak Fred, perus
“Kamu hebat malam ini.” Ria mengacungkan jempolnya pada Kelly.“Hebat bagaimana? Biasa saja.” Kelly membalas dengan kekehan kecil.Para tamu undangan sudah pulang. Mereka sedang membereskan perlengkapan kantor yang penting dan membawanya ke tempat aman. Kelly mengamati sekeliling. Ia tidak melihat Brandon di mana pun.“Apa CEO kita memang begitu? Tidak bersosialisasi saat pesta?”Ria mengangguk. “Tuan Brandon seorang introvert. Ia benci keramaian. Biasanya, hanya bertahan maksimal dua jam di pesta, lalu pulang diam-diam. Lima tahun aku menjadi pegawainya, jadi sudah terbiasa melihat beliau begitu.”Kelly membuka mulutnya karena terkejut dengan cerita Ria. Pasti menyiksa sekali bagi seorang introvert harus bekerja seperti ini. Ia jadi mengerti mengapa Ian dan Gracia tampak paling memegang peranan di perusahaan.“Untungnya semua relasi bisnis memahaminya. Mereka juga respect pada prestasi dan karya-karya perusahaan RichScent meski CEO-nya tidak suka bergaul.” Selesai beberes, Ria dan K
Persalinan semakin dekat. Mansion Brandon kembali ramai dengan keluarga yang datang untuk menyambut si kembar tiga. Bahkan kakak-kakak dan keponakan-keponakan Kelly pun datang dan menginap di mansion.Beberapa hari ini para grandpa dan grandma masih sibuk di kamar bayi. Mereka meminta izin untuk mengatur dan menata kamar bayi. Kelly dan Brandon tentu saja tidak keberatan.Kelly duduk di sofa menyusui dan memperhatikan orang tua dan mertuanya. Mommy Keyna dan Mommy Florence sedang berdiskusi tentang aksesoris ranjang bayi tiga. Sementara Daddy William dan Daddy Donald lebih cepat menyelesaikan ranjang bayi satu dan dua.Hingga akhirnya keempatnya berkumpul di depan ranjang bayi tiga. Kelly menggeleng samar saat mereka begitu selektif.“Akh.” Keelly meringis dan mengatur napas.Mommy Keyna langsung mendekat. “Ada apa? Mereka bergerak bersamaan lagi?”“Kontraksi, Mom.” Kelly berdiri dan mencoba berjalan mondar-mandir dibimbing Mommy Keyna.“Bayi-bayi itu aktif sekali.” Daddy William mena
"Pagi, Brandon."Brandon menatap sekilas, lalu mengalihkan pandangan sambil memberi kode pada wanita yang baru datang itu untuk duduk di depannya.Kelly mengizinkannya bertemu Audrey tetapi berpesan untuk tidak berpandang-pandangan lama dengan wanita lain.Wanita cantik dengan tubuh ramping dan harum bunga jasmine itu mengangguk lalu duduk."Kelly bilang kamu mau bertemu?"Brandon tidak langsung menjawab. Ia memilih menu sarapan favorit di kafe untuknya dan Audrey. Bicara sambil makan akan membuatnya tidak perlu bertatapan dengan wanita tersebut."Ian menemuiku dini hari tadi dan menceritakan hubungan kalian." Brandon melirik jari manis Audrey yang terselip cincin berlian."Oh. Oke." Bingung berkomentar apa, Audrey hanya mengangguk dan menjawab singkat."Kamu mencintai Ian?" Kini, Brandon menatap tajam Audrey.Tidak memberi Audrey kesempatan menjawab, Brandon kembali berkata, "Aku rasa tidak, bukan? Rasanya terlalu cepat bagi kalian untuk jatuh cinta.""Tapi, kami serius ingin menikah
"Aku bisa jelaskan!" Ian membuntuti Brandon.Tengah malam, Eros menelepon Brandon dan mengabari bahwa Ian datang. Brandon mengira ada sesuatu yang genting, terpaksa meninggalkan Kelly di kamar.Dan sekarang saat ternyata Ian menemuinya hanya untuk membicarakan hubungannya dengan wanita di ranjangnya, Brandon segera membalik arah kembali ke kamar utama."Nggak perlu. Aku nggak mau tau, kok.""Ish... tapi aku mau cerita.""Nanti saja. Istriku sendirian di kamar."Brandon berjalan lurus meninggalkan Ian. Tapi, sahabatnya itu memang pantang menyerah."Wanita itu... Audrey!" Ian berteriak.Langkah Brandon terhenti. Dahinya berkerut saat membalik tubuh menghadap Ian."Audrey? Wanita yang katamu, sok cantik, sok pinter, sok paling tau, sok keren dan paling sombong di dunia itu?"Ian melipat bibirnya ke dalam dan mengangguk pelan."Wanita yang barusan berada di ranjangmu itu adalah wanita yang kamu benci?"Sekali lagi, Ian mengangguk.Hening sejenak. Brandon tampak berpikir sambil mengamati s
Memasuki semester tiga kehamilan, Kelly mulai kesulitan berjalan. Bukan hanya kakinya yang bengkak, namun matanya terhalang perut saat melangkah."Sebaiknya pakai kursi roda. Lebih aman. " Dokter kandungan menyarankan.Selain kursi roda, dokter juga meminta Brandon menyiapkan tabung oksigen. Saat Kelly merasa sesak karena tekanan dari perut, ia bisa menggunakan oksigen untuk membuatnya bernapas lebih lega.“Kalau kamu di mansion, semua itu sudah tersedia.” Daddy William berkata pada putrinya yang bercerita sepulang dari dokter.“Di mansion Daddy ada kursi roda?” Brandon yang menjawab dengan kening berkerut.“Dulu, kan, Daddy sempat lumpuh. Lalu, diterapi Mommy sampai bisa jalan lagi.”Brandon mengangguk mendengar penjelasana Kelly. Dalam hati sangat kagum pada Mommy Keyna. Dulu, Mommy Keyna masih sangat muda saat menemani Daddy yang keras kepala.Saat Kelly, Mommy Keyna dan Daddy William mengobrol, Brandon mencoba menghubungi Ian. Lelaki itu menggeleng saat sahabatnya tidak menjawab.A
Beberapa hari ini, Ian tampak normal. Sebelumnya, Brandon selalu melihat sahabatnya berwajah tegang cenderung kesal.“Bagaimana proyek toko Kak Sacha?”“Aku sudah tidak terlibat dalam tim itu. Sudah kuserahkan pada yang lain. Lagipula, bagianku sudah selesai.” Ian menjawab acuh.Brandon mengangguk pelan. Mungkin karena sudah tidak berhubungan dengan Audrey, keadaan Ian jadi lebih tenang.“Proyek ruangan privasimu sudah selesai, kan? Ada revisi? Aku mau lunasi tagihan Darrell.” Ian menyodorkan jumlah yang harus Brandon bayar.“Bayar saja.” Brandon mengangguk. “Nanti kalau ada revisi, pembayarannya bisa menyusul.”Ian mengangguk. Lalu, keluar dari ruang kerja Brandon. Ini juga aneh.Biasanya, Ian senang mengobrol dengan Brandon. Bahkan membawa pekerjaan ke ruang Brandon. Tapi, akhir-akhir ini, Ian lebih sering mengurung diri di ruang kerjanya sendiri.Belum lagi sekarang, Ian selalu pulang tepat waktu. Ia jadi jarang lembur. Sebenarnya, Brandon tak masalah, namun hanya heran dengan peru
Baru kali ini Brandon menulis pesan di grup keluarga Richmont. Mengabarkan jenis kelamin janin-janin yang ada di perut Kelly. Bahkan juga mengirimkan foto USG dan rekaman suara detak jantung.Saking kagetnya, tidak ada satu pun anggota keluarga yang merespon padahal pesan itu terbaca. Tak lama kemudian, Mommy Florence melakukan panggilan video call di grup.Brandon langsung mengaktifkan video. Ia melihat semua keluarga Richmont hadir.“Mommy pikir yang mengirim pesan adalah Kelly.” Mommy Florence mengulum senyum.“Kelly sedang bersama Mommy Keyna dan Daddy William di taman.” Brandon membalas.Tidak ada yang mengira, Brandon sendiri yang inisiatif mengirim pesan. Meskipun ia bilang, itu karena melihat Kelly mengabari grup keluarga Dalton, ia jadi ikut-ikutan.Semua anggota keluarga Richmont mengucapkan selamat dan doa untuk kesehatan Kelly dan janin-janinnya. Brandon terharu. Ia baru merasakan bagaimana menjadi bagian dari keluarga yang harmonis.Tentu saja yanng laing heboh adalah kel
Usia kandungan Kelly sudah memasuki semester kedua. Kali ini, Kelly menjalani kehamilannya tanpa kendala – kecuali perutnya yang lebih besar dari kehamilan satu janin.“Semua harus beli baru.” Kelly menunjukkan dalaman dan pakaiannya yang sudah tidak cukup atau ketat di bagian perut dan dada.“Beli sama mall-nya juga boleh, Babe.” Brandon menyahut santai.“Nggak mau, Aku maunya pilih-pilih.”Rengekan Kelly membuat Brandon berhenti bekerja. Mungkin istrinya sedang butuh perhatian karena tubuhnya sudah membesar.“Ya, sudah. Mau pergi kapan?”“Kamu sudah selesai kerja?”Brandon tidak langsung menjawab. Ia membuka ponsel dan melihat berbagai pesan di sana. Salah satunya dari Darrell yang mengatakan akan melakukan finishing ruangan jika Brandon sudah pulang.Kebetulan. Jika ia tidak ke kantor sekarang, Darrell bisa lebih cepat selesai. Brandon menggumam dalam hati.“Aku baca satu kontrak kerja dulu, ya, Babe. Setelah itu kita bisa pergi.” Brandon mencium kepala sang istri lalu kembali ke m
Kelly dirawat selama tiga hari. Dokter kandungan meminta Kelly untuk berkonsultasi ke psikolog agar perasannya lebih lega mengingat beberapa bulan belakangan banyak kejadian mengejutkan terjadi pada hidupnya.Tidak keberatan, Kelly mengangguk saat dokter kandungan memberika surat rekomendasi. Ia dan Brandon sudah berjanji akan menjalani kehamilan ini dengan lebih tenang.“Sayang.” Kelly memanggil Brandon yang sedang menyikat gigi.“Apa, Babe?” segera Brandon menghampiri.“Lihat.” Kelly menunjuk perutnya. “Sudah kelihatan membesar.”Brandon mengamati perut Kelly dengan senyum di wajah. “Lucu, Babe.”Beberapa menit kemudian, Brandon mengambil banyak foto-foto Kelly dengan perut yang mulai membuncit.“Kita dokumentasikan setiap bulan, ya, Babe.”Kelly mengangguk setuju. Keduanya melihat hasil foto-foto barusan dan tampak puas.“Kamu juga tambah cantik, Babe. Jangan-jangan bayinya perempuan semua.”“Atau lelaki semua.”Keduanya tergelak. Tidak mau pusing dengan jenis kelamin. Yang terpent
Sudah dua minggu, Kelly mual dan muntah. Berat badannya pun turun dua kilo. Mommy Keyna menggeleng lemah.“Kamu harus diinfus, Princess. Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” rayu Mommy Keyna.Kelly hanya meringkuk lemas. Ia baru saja memuntahkan makanannya. Yang lebih parah, beberapa minggu ini, ia kehilangan nafsu makan.“Babe.” Brandon mengusap sayang kepala istrinya.“Hem.”“Ke rumah sakit, ya?”Kelly lalu duduk dengan lemas. Ia menatap perutnya yang datar. Lalu, kepalanya mengangguk pelan.Di rumah sakit, Kelly langsung ditangani. Ia wajib dirawat dan mendapatkan perhatian intensif. Brandon berusaha sekuat tenang untuk terlihat tegar meski ia sangat khawatir.“Nggak papa, ya, Babe. Kita jadi impas. Bulan lalu aku yang di rawat. Sekarang kamu dan si kembar tiga.”Tidak ada respon dari Kelly atas pernyataan suaminya. Wanita cantik itu hanya bersandar lemah. Brandon mengelus perut sang istri lalu menciuminya.“Cup, cup, cup. Satu untuk bayi number one, number two dan number three.” Set