Senyum getir tersungging di bibir Serena dan diam-diam meminta maaf pada ibunya dalam hati. "Mafkan aku, Bu. Hanya dengan ini Ibu bisa dioperasi.."
“Bagus.” Kendrick menjawab sembari mengarahkan wajah Serena untuk menatapnya.
Sedetik kemudian, Serena berteriak kecil karena pria itu telah menarik lembut tubuhnya hingga terjatuh ke pangkuan pria itu.
Serena berusaha untuk menahan diri agar tak jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan Kendrick dengan menahan dada pria itu menggunakan tangannya.
Namun, hembusan nafas Kendrick yang panas di lehernya dan pijatan lembut pria itu di pinggangnya membuat tubuh Serena melemas.
"Ada peraturan yang harus kamu pahami saat bekerja bersamaku, Serena.” bisik Kendrick serak. “Jangan sekali-sekali kamu dekat dengan laki-laki lain. Mengerti?”
Serena menjawab dengan anggukan kecil yang langsung membuat Kendrick tersenyum samar. “Mengerti, Tuan.”
“Good.”
Kendrick mengecup pundak Serena dan meremas pinggul wanita itu sebelum kemudian berusaha untuk mengikis jarak di antara mereka.
Namun, sebelum kedua belah bibir itu sempat bertemu, tiba-tiba saja ponsel Serena berbunyi dan sontak membuat wanita itu memanfaatkan kesempatan untuk beranjak dari pangkuan Kendrick.
Saat Serena melihat siapa yang memanggil, tubuhnya menegang dan langsung mengangkat telepon.
Administrator rumah sakit.
[Nyonya, Ibu Anda terus menerus mengalami Infeksi Sekunder. Apakah hari ini Anda bisa segera menjadwalkan operasi?]
Belum sempat Serena menjawab, Kendrick telah lebih dulu mengambil alih panggilan itu. “Lakukan apa pun yang diperlukan dan masukkan tagihannya atas nama Kendrick Alonzo!”
Tanpa menunggu jawaban apa pun, Kendrick langsung menarik tangan Serena untuk mengikutinya. “Kita ke rumah sakit!”
Asisten Kendrick, Julian, langsung menyiapkan mobil dan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit, Serena berlari secepat mungkin menembus manusia-manusia di korido untuk menuju ke ruangan ibunya. Namun, setibanya di sana, dia tak melihat ibunya di mana pun.
Serena lalu masuk lebih dalam dan memeriksa semua brankar yang tirainya tertutup. Namun, ibunya tetap tidak ada di sana.
Serena semakin kalut dan hendak menemui perawat untuk bertanya. Namun, Kendrick telah lebih dulu menarik tubuhnya ke dalam lift dan menekan lantai nomor 20.
“Tuan! Saya harus mencari ibu saya. Dia tidak ada di ruangan dan saya takut terjadi sesuatu padanya. Saya–”
Serena meracau dengan air matanya yang terus mengalir deras. Tadi petugas memberitahu ada masalah pada ibunya dan sekarang ibunya menghilang. Apakah kali ini infeksinya begitu membahayakan?!
“Tenanglah.” Kendrick berkata pelan.
Pintu lift kemudian terbuka dan susunan ruangannya sangat berbeda.
Lantai 20 hanya terdiri dari beberapa kamar dan suasananya sangat tenang. Begitu berlawanan dari kondisi ruangan ibu Serena sebelumnya.
Kendrick lalu kembali menarik tangan Serena dan membawa wanita itu ke salah satu kamar. Saat pintu terbuka, Serena dapat melihat ibunya, Lydia, yang tengah terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya.
“Ibu!” Serena sontak berlari dan langsung memeluk wanita paruh baya itu pelan. “Apa yang terjadi? Ibu membuatku khawatir. Apa yang ibu rasakan sekarang?”
Alih-alih terlihat sedih dan panik seperti Serena, Lydia malah terkekeh sembari menepuk lengan Serena pelan. “Hanya infeksi ringan, tidak membahayakan”
“Tidak membahayakan apa?!” Serena menghapus air matanya sebelum berkata dengan lirih. “Aku benar-benar takut kehilangan ibu.”
“Jangan menangis, ibu pasti akan sembuh.” Lydia tersenyum, tapi matanya terlihat sayu dan nafasnya yang terengah-engah.
Melihat itu, nyeri di hati Serena semakin terasa.
Kalau saja ibunya tidak diperkosa, kalau saja dia tidak hadir di rahim ibunya… pasti ibunya tidak akan berakhir dengan nasib seperti ini.
Lydia cantik dan bisa mendapat pasangan yang tulus menyayanginya. Bukan malah terpaksa menikah karena kesalahan semalam oleh Salvio Quirino dan berakhir diusir seperti sampah tak berguna setelah kematian pria itu.
Di dunia ini, Serena hanya memiliki ibu sebagai tempat bertukar cerita dan sebagai tempatnya pulang. Dia mengusap wajah pucat ibunya membuat ibunya tersenyum kecil.
“Aku akan membelikan ibu beberapa suplemen. Apa ibu ingin makan sesuatu?” Serena beranjak dan mengambil dompetnya.
Namun, Lydia menggeleng dan menahan tangan Serena. “Tidak perlu, Serena. Sampaikan saja rasa terima kasih ibu pada suamimu. Seharusnya dia tak perlu menempatkan ibu di ruangan ini. Ruangan kemarin sudah nyaman..”
“Itu.. Ibu. Sebenarnya..”
Perkataan Lydia membuat Serena terdiam dan buru-buru menatap ke arah Kendrick yang ada di dekat pintu.
Posisi pria itu yang berada di belakang Serena membuat Lydia tak dapat melihatnya. Jadi, segera setelah Lydia melihat Kendrick, senyumnya mengembang tipis.
“Serena, kamu membawa teman? Kenapa tidak diperkenalkan?“
Lydia memberi isyarat untuk duduk dan Serena langsung menekan tombol di belakang brankar. Brankar itu perlahan naik dan mencapai ketinggian yang diinginkan.
“Ah ya. Dia teman Serena,” jawab Serena. “Namanya Kendrick, Bu.”
“Ahya, Kendrick.” Lydia tersenyum sopan. “Terima kasih sudah menjadi teman Serena. Dia sama sekali tak punya banyak teman. Jadi, ibu sempat kaget.”
Serena panik menatap Kendrick, takut membuat pria itu tak nyaman. Namun, alih-alih terganggu, Kendrick malah mendekat dan duduk di kursi yang tersedia.
“Bukan masalah besar… Ibu.” jawaban Kendrick membuat Serena menahan napas. “Kami juga baru-baru ini bertemu karena urusan bisnis.”
“Ah, begitu..” Lydia tersenyum sebelum kemudian kembali menatap ke arah Serena. “Lalu, di mana suamimu, Serena? Kenapa beberapa hari ini ibu tidak melihatnya?”
Mendengar nama Leo disebut, Serena berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaan getirnya. Jadi, dia tersenyum dan berkata dengan nada yang dibuat seceria mungkin.
“Leo ada urusan bisnis di luar negeri, Bu. Belakangan ini dia sangat sibuk. Aku akan menyampaikan pesan kalau ibu mencarinya.”
Mendengar itu Lydia mengangguk-angguk, "Baiklah. Sampaikan juga rasa terima kasih ibu ya.”
Serena mengiyakan, tapi diam-diam merasa sedih. Sejak berpacaran dengan Serena, Leo dengan mudah mengambil hati Lydia melalui pembawaan pria itu dan selalu menjadi manusia favorit Lydia.
Oleh karena itu, Serena tak bisa membayangkan apa jadinya kalau ibunya tahu tindakan Leo yang menjualnya pada Kendrick demi uang?
Serena lantas menatap Kendrick karena merasa tak enak, tapi ia sama sekali tak terlihat reaksi apa-apa dari pria itu.
Melihat jam yang telah semakin larut, Serena segera mengalihkan pandangannya kembali pada Lydia dan menyuruh wanita itu untuk beristirahat.
“Aku akan menemui ibu lagi besok.” tutur Serena sembari menggenggam tangan Lydia. Sebelum beranjak keluar, Serena mengecup dahi dibunya dan menyelimuti wanita itu pelan.
“Aku akan mencoba mencari sumsum tulang agar ibumu segera di operasi.”
Perkataan Kendrick seketika membuat Serena menoleh kaget.
Sebab, tak hanya membiayai semua biaya pengobatan ibunya, Kendrick juga ternyata berniat untuk mencari sumsum tulang untuk ibunya?
Sikap Kendrick ini sontak membuat Serena kembali membandingkan pria itu dengan Leo, karena meski berstatus sebagai menantu Lydia, pria itu seringkali tak terlihat begitu peduli dengan kenyamanan Lydia.
Jangankan mencari sumsum tulang, fasilitas yang diberikan Leo untuk Lydia pun terkesan seadanya walau bisnis pria itu berkembang pesat sebelum terancam bangkrut.
Tak ada ruangan VIP apalagi VVIP, Leo hanya bersedia memfasilitasi Lydia kamar kelas tiga yang dihuni oleh enam pasien dan mendapat perawatan minimal.
Menyadari itu, Serena menatap ke arah Kendrick dengan penuh syukur. “Tuan.. terima kasih. Saya pasti akan–”
“Bersiaplah untuk membayarnya malam ini.”
Serena menatap bangunan mewah yang ada di depannya itu. Sebelumnya dia telah memasuki mansion itu dengan penuh paksaan. Tapi, kali ini dia memasuki mansion itu dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun. Seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan sangat sopan dan ramah. “Selamat datang Tuan dan Nona.” Serena cukup terkejut mendengar panggilan dari pria paruh baya itu. “Antar dia ke kamar!” titah Kendrick yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Serena. Serena menatap punggung Kendrick yang menjauh masuk ke dalam lift. “Nona, sebelumnya perkenalkan saya Verdi, ketua pelayan di mansion ini,” jelas Verdi dengan membungkukkan badannya. Verdi pria paruh baya yang memegang jabatan sebagai kepala pelayan di mansion Kendrick. Dengan posturnya yang tegap dan sikapnya yang selalu teratur, Verdi dikenal memiliki dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap keluarga Kendrick. Dia juga sangat pandai dalam mempertahankan sikap yang sopan dan profesional, tidak pernah membiarkan emos
Sudut bibir Kendrick seketika terangkat dia langsung menyudutkan Serena ke dinding. “Aku tidak tahu jika kamu akan seberani ini,” bisik Kendrick yang mengecup telinga Serena. “Bukankah ini sudah tugas saya? Anda begitu baik memindahkan ibu saya ke ruang VIP jadi saya pun akan melakukan tugas saya dengan baik.”Kendrick terlihat tidak puas dengan jawaban Serena, dia segera menyambar bibir Serena dengan kasar membuat Serena sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba Kendrick. Ciuman itu tidaklah lembut tapi Serena cukup menikmatinya. Serena bisa merasakan jika Kendrick begitu ahli melakukannya membuat Serena kewalahan.Dia menepuk dada Kendrick, meminta Kendrick untuk melepaskan ciumannya karena Serena kehabisan nafas. Kendrick pun sejenak melepaskan ciuman mereka lalu kembali mencium Serena dan membawa Serena ke tempat tidur. Dengan mudah Kendrick melepas bathrobe yang Serena kenakan membuat Kendrick mengerang kecil. Meskipun awalnya Kendrick menciumnya dengan kasar tapi semakin lam
Serena membuka matanya ketika cahaya matahari masuk melalui celah gorden. Tubuhnya begitu sakit seakan dia baru saja lari maraton berkilo-kilo meter. Inti tubuhnya pun sangat nyeri, karena Kendrick tak membiarkannya istirahat. Pria itu menggempurnya hingga pagi. Serena menatap ke samping dimana Kendrick yang masih tertidur. Wajah Kendrick terlihat begitu tenang berbeda saat Kendrick terbangun maka wajahnya terlihat tanpa ekspresi dan aura dingin menyebar. Serena mengambil bathrobe yang ada di lantai dan segera mengenakannya. Namun, ketika dia akan melangkah turun dari tempat tidur terdengar dering telepon membuat Serena segera mengangkat teleponnya dan mendengar suara Evan di seberang. "Hai, Serena! Aku punya kabar baik untukmu," Evan berkata dengan suara yang ceria.Serena penasaran dan bertanya, "Ada apa, Evan?”"Aku menawarkan pekerjaan sebagai staf di perusahaan kami," Evan menjawab. "Kamu akan bekerja sebagai staf Business Development, dan aku yakin kamu akan sangat cocok untuk
“Kak Kendrick, dia Serena karyawan baru yang aku bicarakan.”“Temanmu?” “Iya, dia temanku.”Evan sebelumnya memang sudah mengatakan jika dia akan memasukan karyawan baru yang tak lain adalah temannya waktu SMA. Serena menelan ludahnya, matanya bertemu dengan sosok yang tak pernah dia duga akan ada disini. Wajah Kendrick datar, dia seolah tidak mengenal Serena. “Serena, perkenalkan dirimu,” bisik Evan membuyarkan lamunan Serena. “Sa-ya Serena.”Hanya itu yang keluar dari mulut Serena dia pun mengulurkan tangannya tapi Kendrick tidak menyambutnya. Serena segera menarik kembali tangannya, dia bingung harus mengucapkan apa karena melihat pria di depannya saja sudah cukup membuatnya terkejut. “Hm kami kembali ke ruangan dulu, Kak.”Evan berpamitan kepada Kendrick tetapi tidak ada tanggapan dari Kendrick. Pria itu tetap dengan ekspresi datar menatap mereka seolah tidak peduli dengan kehadiran Serena sebagai karyawan baru. Evan langsung membawa Serena keluar dari ruangan Kendrick. Evan
Satu jam telah berlalu dan jam makan siang telah lewat tapi Evan belum melihat batang hidung Serena. Dia semakin cemas hingga memutuskan untuk kembali ke ruangan Serena. “Apa Kalian tidak ada yang melihat Serena?” tanya Evan kepada Echa dan Miska. “Sepertinya Serena belum kembali, Pak,” jawab Echa. Evan langsung keluar dari ruangan itu, dia masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas perusahaan itu. Dia begitu gelisah hingga pintu lift terbuka membuatnya terkejut. “Serena?”“Pak Evan?”Evan langsung menarik tangan Serena untuk masuk ke dalam lift. “Apa Kakakku melakukan sesuatu yang buruk?” tanya Evan yang melihat peluh di dahi Serena dan rambut Serena yang tidak serapi siang tadi. “Pak Kendrick hanya menyuruh saya membersihkan ruangan, Pak.”“Jika hanya ada kita berdua maka santai saja,” tutur Evan yang kini keluar dari lift membawa Serena masuk ke ruangannya. “Duduk.”Setelah menyuruh Serena duduk maka Evan membukakan air mineral untuk Serena. “Kamu terlihat lelah, apa kamu
Serena masuk ke dalam kamar dia, merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ponselnya yang ada didalam tas bergetar membuatnya segera mengambil ponsel itu. Tertera nama Evan disana, Serena pun mengangkat telepon itu. “Halo Evan, ada apa?”“Kamu dimana?” “Aku, udah pulang. Kenapa?”“Tidak apa-apa, aku pikir kamu belum pulang. Kamu tinggal dimana?”Sebenarnya Evan berniat untuk mengantar Serena pulang, dia yang tahu jika Serena telah berpisah dengan suaminya membuat dia mendekati Serena. Belum sempat Serena menjawab dia melihat pesan dari Julian jika Kendrick akan segera pulang. Serena yang panik pun langsung terduduk. “Evan, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku tutup teleponnya, bye!”Serena segera masuk ke dalam kamar mandi, dia tanpa berendam langsung membasuh tubuhnya di bawah shower. Serena berniat bersantai terlebih dahulu karena tadi Julian sempat mengatakan jika Kendrick paling awal pulang pukul tujuh. Sedangkan ini baru pukul lima sore. Serena segera bersiap menyambut Kend
Kamar itu dipenuhi dengan hening yang berat saat Kendrick membuka pintu perlahan. Serena terlihat damai, tidur pulas dengan posisi tengkurap, kepala bersandar pada bantal putih yang tampak sedikit kusut karena gerak tidurnya yang tidak tenang. Sebuah senyuman kecil terukir di wajah Kendrick saat dia mengamati Serena yang tampak begitu polos dan tidak bersalah dalam tidurnya.Dia berjalan perlahan mendekati tempat tidur, menatap wajah Serena yang tenang. Kendrick merasa ada secercah kedamaian yang menyelimutinya hanya dengan melihat Serena tidur. Amarah yang hampir saja meledak tiba-tiba lenyap dengan menatap wajah Serena. Setelah beberapa saat berdiri mematung, dia berbalik perlahan, menuju ke walk-in closet untuk memilih setelan terbaiknya. Selama ini dia jarang sekali menghadiri makan malam yang diadakan oleh kakeknya. Namun, kali ini sepertinya dia harus hadir. Setelah kedatangan Evan yang melihat Serena, itu cukup mengusik ketenangannya. Kendrick berjalan keluar dari kamar deng
“Sepertinya kabar yang aku dengar itu salah,” gumam Kendrick yang duduk di hadapan Calvin. Kendrick datang malam itu bukan hanya provokasi dari Evan tetapi dia juga ingin melihat keadaan Calvin karena dia mendengar jika pria yang usianya sudah tak muda lagi tengah sakit. “Jadi wanita mana yang akan kamu nikahi,” Calvin mengalihkan topik pembicaraan mereka membuat Kendrick berdecak. “Posisimu akan semakin kuat jika kamu menikah dan memiliki anak, Kendrick.” “Aku tidak membutuhkan wanita.” Terdengar helaan nafas dari Calvin, meskipun keduanya tampak tidak akrab dalam pembicaraan tersebut. Pada dasarnya, mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain. “Aku harus segera pergi,” ucap Kendrick yang bangkit dari duduknya. “Tidak bisakah kamu tinggal di sini, Kendrick?” Perkataan sang kakek membuat langkah Kendrick tertentu. “Kamu pewaris Alonzo sudah seharusnya mansion utama ini milikmu.” “Apa Kakek kira aku miskin, hingga tidak dapat membeli mansion sendiri?” Setelah berkata, Ke
"Aku senang kalau kamu sudah mulai tersenyum lagi," kata Kendrick akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya, seperti mendengarkan alunan lagu yang merdu.Serena terdiam, merenungkan kata-kata Kendrick. Ia menyadari perubahan dalam dirinya sendiri. Rasanya seperti menemukan secercah cahaya di ujung lorong gelap yang tak berujung.Namun, meskipun ada perubahan positif, ia masih tidak yakin dengan apa yang sebenarnya ia rasakan. Apakah ini hanya ilusi dari rasa rindu akan kebahagiaan yang sudah lama menghilang, ataukah ada sesuatu yang nyata?Kendrick tidak berbicara untuk beberapa saat, hanya menemani Serena dalam diam. Serena menghela nafas pelan, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, mencoba meredakan pikirannya yang terus berputar."Aku ingin kamu tetap disisiku, Sayang," kata Kendrick tiba-tiba, membuay suasana tenang yang sebelumnya ada di antara mereka. Serena langsung menegang. Ia menoleh menatap Kendrick, tetapi pria itu tetap menatap lurus ke depan, seolah-olah sedang b
Pagi itu, Kendrick memutuskan untuk Angin sejuk menerpa wajahnya. Dia memperhatikan sekeliling—anak-anak bermain di kejauhan, pasangan muda berjalan bergandengan tangan, dan beberapa orang tua duduk menikmati sore dengan segelas kopi. Semua orang tampak... menjalani hidup.Serena menggenggam lengan bajunya sendiri, merasa terasing di antara mereka. Kendrick berdiri di sampingnya, diam, memberi Serena waktu untuk menyesuaikan diri dengan dunia luar yang terasa asing."Ayo duduk," katanya akhirnya, menunjuk bangku kayu di bawah pohon rindang. Serena menurut, meskipun hatinya masih berat. Mereka duduk berdampingan dalam keheningan, hanya suara burung dan tawa anak-anak yang terdengar."Kamu tahu," Kendrick akhirnya membuka suara, "Aku dulu benci tempat kayak gini." Serena menoleh, keningnya berkerut. "Kenapa?" Kendrick mengangkat bahu. "Karena terlalu ramai. Terlalu banyak orang dengan kehidupan mereka masing-masing, sementara aku sIbuk dengan kehidupanku yang berantakan."Serena terdia
Hujan turun dengan rintik halus, seolah langit ikut berkabung atas kepergian Lydia. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi bunga melati yang tertata di sekitar pusara. Serena berdiri di sana, mengenakan gaun hitam sederhana, matanya sembab karena terlalu banyak menangis sejak semalam. Dia menggenggam erat ujung syal milik Ibunya—satu-satunya kenangan yang masih bisa dia peluk. Nafasnya bergetar saat menatap nisan yang kini terukir nama Lydia Quirino, Ibunya, satu-satunya keluarga yang pernah dia miliki.Melody, Sofia, dan Luna berdiri sedikit di belakangnya, memberikan ruang tetapi tetap ada di sana untuknya. Mereka tahu betapa sulitnya hari ini bagi Serena. "Aku masih tidak percaya, Serena…" suara Melody terdengar pelan, dipenuhi kesedihan yang tulus.Sofia meremas lembut bahu Serena. "Tante sudah tidak sakit lagi sekarang. Tabte bisa tenang."Serena mengangguk kecil, meski hatinya masih terasa kosong. Seberapa pun dia mencoba meyakinkan diri, kenyataan bahwa Ibunya sudah pergi sel
"Bu… bangun, aku di sini… Ibu, tolong jangan tinggalkan aku!"Serena mengguncang tubuh Ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Suaranya bergetar, nafasnya tersengal, seolah mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Kenyataan yang menyakitkan ini terasa terlalu berat untuk diterima.Tidak ada respons. Tidak ada gerakan.Hanya keheningan yang mengerikan. Keheningan itu seperti pisau, mengiris hati Serena, membuatnya merasa seolah dunia di sekelilingnya mendadak gelap."Ibu, kumohon!" Suara Serena pecah. Tangisannya meluap tanpa kendali. Ia menggenggam tangan Ibunya erat-erat, berharap ada kehangatan yang masih tersisa. Tapi dingin. Terlalu dingin. Dunia yang biasanya hangat dan penuh cinta kini terasa seperti ruang yang membeku.Seorang perawat yang berdiri di dekatnya menunduk, matanya berkaca-kaca. Dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Lydia hanya bisa menarik napas berat sebelum menatap Serena dengan penuh belas kasih. Rasa empati di mata mereka me
"Kalau kamu mau pulang, aku tidak akan maksa kamu buat tetap di sini," suara Serena terdengar pelan, tapi nadanya jelas menunjukkan kelelahan.Kendrick, yang berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit, hanya meliriknya sebelum berjalan ke menghampirinya. "Aku tidak akan ninggalin kamu di sini sendirian."Serena menghela napas. Matanya memandang tubuh Ibunya yang terbaring lemah di ranjang, wajah Lydia terlihat begitu pucat di bawah cahaya redup lampu rumah sakit. Dadanya terasa sesak. Sejak dokter mengatakan kalau kondisi Ibunya sudah tidak bisa diharapkan, Serena tahu waktu yang tersisa sudah tidak lama lagi. Kepanikan dan kesedihan menyelimuti pikirannya, membuatnya sulit untuk berpikir jernih.Kendrick berjalan mendekat, meletakkan tangannya di punggung kursi tempat Serena duduk."Sayang.""Hm?""Kalau kamu butuh sesuatu, bilang padaku ya.”Serena menoleh ke arahnya, menatap mata gelap pria itu yang terasa begitu tajam. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuatnya sedikit lebih tena
Mobil melaju cepat menembus jalanan kota yang masih basah akibat hujan tadi malam. Di dalamnya, Serena duduk diam di kursi penumpang dengan tangan saling menggenggam erat di pangkuannya. Dadanya terasa sesak, dan pikirannya terus dipenuhi dengan bayangan ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit. Perasaan cemas menyelimuti dirinya, seolah setiap detik yang berlalu semakin mendekatkan pada kenyataan yang tak ingin dihadapi.Dari sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Kendrick yang sesekali meliriknya. Lelaki itu tidak banyak bicara, hanya memberikan kehadiran yang menenangkan. Namun, Serena tahu, dalam diamnya, Kendrick pasti memperhatikannya lebih dari yang ia sadari. Kendrick selalu bisa merasakan ketegangan di antara mereka, bahkan tanpa kata-kata."Aku di sini," suara Kendrick akhirnya terdengar, lembut namun tegas. "Apapun yang terjadi nanti, kamu tidak sendirian." Kalimat itu terasa seperti pelukan hangat yang meredakan sedikit kegelisahan di hatinya.
Serena masih bisa merasakan hangatnya sentuhan Kendrick di kulitnya. Dadanya naik turun dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil, dan pikirannya berkecamuk dengan banyak hal yang baru saja terjadi di antara mereka. Perasaannya campur aduk—antara kebahagiaan dan ketakutan. Hangatnya sentuhan Kendrick membuatnya merasa aman, tetapi ketidakpastian yang menggelayuti pikirannya membuatnya sulit untuk sepenuhnya menikmati momen itu.Dia menoleh ke samping, melihat wajah Kendrick yang begitu dekat. Mata tajam pria itu kini terlihat lebih lembut, memandangnya dengan intensitas yang belum pernah Serena lihat sebelumnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa dihargai dan diinginkan, tapi di sisi lain, ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya membuatnya merasa terjepit."Kau masih tidak percaya padaku?" suara Kendrick terdengar pelan, tetapi tetap penuh tekanan. Suaranya seperti sebuah mantra yang berusaha meredakan badai yang mengamuk di dalam diri Serena.Serena m
Serena masih terdiam, pikirannya melayang ke peristiwa tadi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan Kendrick muncul dengan nampan makanan di tangannya."Sayang, ayo makan," ujarnya lembut, suaranya menghangatkan ruangan yang sempat terasa dingin oleh kesunyian.Serena menoleh, senyum tipis menghias wajahnya yang pucat. Dia perlahan beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Kendrick ke sofa.Di sana, Kendrick dengan penuh perhatian menyuapi Serena, sesekali matanya menatap lembut ke arah Serena, memastikan bahwa ia menghabiskan makan malamnya."Kamu tidak perlu memikirkan apa yang terjadi tadi," kata Kendrick, suaranya penuh kepastian. "Aku janji, kamu akan aman di sini, di sampingku."Serena menatap mata Kendrick mencari kebenaran di sana. "Aku sudah memerintahkan Julian untuk mengurus Ibu pulang," tambah Kendrick."Aku sungguh akan melakukannya, Ken?" tanya Serena, masih ragu-ragu."Tentu saja, apa kamu pikir aku hanya bercanda?" jawab Kendrick, tersenyum."Tapi biayanya?" tanya Serena
“Aku mengenalmu dengan baik Kendrick. Apa kamu gelisah karena wanitamu?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Calvin membuat Kendrick seketika menegang. “Jadi benar kamu memiliki wanita?”“Jangan bicara omong kosong, Kek. Aku sedang tidak ingin membahas pernikahan.”“Sampai kapan kamu akan diam disaat Evan telah mengenalkan Nona Quirino sebagai pasangannya.”“Aku tidak peduli dengan mereka.”“Apa kamu juga tidak peduli dengan jabatanmu itu? Kamu bisa saja tersisih Kendrick.”“Jika seperti itu maka aku akan lihat bagaimana cucumu itu memimpin perusahaan,” Kendrick berkata dengan meremehkan Evan. Dia lalu pergi dari sana tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan kakeknya yang hanya akan menyulut emosinya itu. Kendrick mencari keberadaan Julian dia sejak tadi menunggu Julian kembali. Hingga dia melihat sosok Julian yang masuk ke area pesta membuat Kendrick segera menghampirinya. Julian menundukkan badannya memberi hormat ke