Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-03-04 11:15:34

04

Avreen memerhatikan para lelaki yang tengah melakukan lomba renang. Dia turut berseru bersama penonton lainnya, kala Nuriel melesat meninggalkan para peserta lomba.

Avreen yang berada di kursi teras, berdiri dan jalan cepat menyambangi ajudannya, yang baru tiba di tepi kolam. Avreen beradu toss dengan Nuriel, lalu dia berjoget untuk merayakan kemenangan sang pengawal. 

Nuriel bergegas naik dan turut bergoyang. Keduanya tidak peduli diteriaki yang lainnya. Terutama dari lawan Nuriel yang kalah lomba tersebut. 

"Riel, kamu makan apa, sih? Berenangnya cepat banget," tukas Yusuf sembari menggosokkan handuk ke badannya yang basah. 

"Biasa aja, Bang. Nggak ada yang spesial," jawab Nuriel yang telah berpindah duduk di bangku panjang bersama nonanya. 

"Mungkin Nuriel adalah titisan pesut," sela Jauhari sambil memasang tampang serius. 

"Bukan, dia dulunya belut," cakap Chalid, ajudan Panglima. 

"Cecurut," imbuh Aditya. 

"Ikan badut," lontar Hasbi. 

"Anjing laut," papar Jeffrey. 

"Singa laut," imbuh Nanang. 

"Kuda laut," cetus Qadry. 

"Marmut," sahut Chairil. 

"Burung perkutut," jelas Fawwaz. 

"Semut," lontar Ibrahim. 

"Siput," ungkap Syuja.

"Ikan trout," celetuk Robert. 

"Jeruk purut," beber Dimas. 

"Sop buntut," timpal Harun. 

"Lele mangut," jawab Ukky. 

"Enakan bibir diemut," seloroh Wahyudi yang langsung diteriaki teman-temannya. 

"Yud, tolong, ya. Hargai yang jomlo!" desis Gumelar. 

"Makanya, buruan cari calon istri," sahut Wahyudi. 

"Nasibku nggak seberuntung kamu. Susah banget cari perempuan baik yang mau menerimaku apa adanya," keluh Gumelar. 

"Ucapanmu salah. Jangan bilang gitu. Harusnya, yang mencintaimu tanpa batas," ujar Harun. 

"Betul itu. Kalau cinta, pasti dia ikhlas menerima kita, dalam kondisi apa pun," jelas Qadry. 

"Satu lagi, Gum. Jangan terlalu nenggak. Kita nggak ganteng dan belum kaya. Jadi mesti cari yang sepantar," tutur Fawwaz. 

"Sebetulnya, perempuan itu nggak terlalu mementingkan harta," celetuk Avreen yang menyebabkan dirinya dipandangi para lelaki tersebut. "Bagi perempuan, yang penting itu, kenyamanan. Kalau dapat yang kaya, itu bonus," lanjutnya. 

"Nyaman juga butuh modal, Non," ungkap Jauhari. 

"Ya, tapi nggak perlu juga materi berlimpah. Secukupnya aja," kilah Avreen. 

"Non bisa bicara begitu, karena berasal dari keluarga kaya." 

"Loh, yang kaya itu orang tuaku. Papa, Mama, Ayah, Ibu dan yang lainnya. Aku nggak punya apa-apa, Om. Kuliah juga masih ngandelin kiriman uang dari Papa." 

"Bentar." Yusuf memandangi sahabatnya, lalu dia beralih mengamati perempuan bermata sipit di kursi seberang. "Non manggil Ari dengan Om?" tanyanya. 

"Ya," jelas Avreen. "Kenapa, Bang?" desaknya. 

"Umur kami sama. Bahkan Ari paling muda di tim lapis tiga," ungkap Yusuf seraya mengulum senyuman. "Harusnya Non manggil dia Abang juga. Sama kayak Non manggil aku," lanjutnya. 

Avreen memandangi pria yang dimaksud, yang balas menatapnya saksama. "Nanti, deh. Sekarang, lidahku lebih pas manggil Om," sanggahnya, sebelum berdiri dan jalan menjauh. 

Para pria itu saling menyiku, sebelum mereka memutar badan sambil tertawa dengan suara pelan. Jauhari mendengkus kuat, lalu dia bangkit dan mengayunkan tungkai menuju ruang ganti. 

***

*Grup Pengawal Lapis Tiga, Empat dan Lima*

Yusuf : Om @Jauhari. Ka mana, euy? 

Harun : Ari ngambek. 

Nanang : Ari pundung. 

Chairil : Ari merajuk. 

Hasbi : Aku bimbang tadi. Antara prihatin, sama pengen ketawa. 

Qadry : Aku, sih, ketawa aja. 

Jeffrey : Nasibmu, @Jauhari. 

Fawwaz : Ari, muncul, dong. 

Gumelar : Ari nggak ada di mess.

Ibrahim : Ke mana dia? 

Aditya : Ari di rumah Pak Sultan. 

Wahyudi : Dari tadi sore nggak ikut pulang? @Aditya.

Aditya : Hu um. Kami tadi mau pulang bareng, tapi Ari dipanggil Pak Sultan ke ruang kerjanya. Aku pulang duluan. 

Ukky : Bang Ari nantinya pulang pakai apa? 

Gumelar : Banyak yang bisa nganterin. 

Qadry : Ari nggak pulang, Gaes. Dia mau nginap di sana. Ini kata Bang Yan. Mereka baru beres rapat sama Bang Varo, Pak Tio, Mas Marley, Mas Prabu dan Panglima. 

Wandi : Ari disidang? @Qadry. 

Qadry : Enggak. Tadi ngebahas jadwal perjalanan ke Australia. 

Yusuf : Oh, iya. Ari diminta ngawal Non Avreen ke sana. Dia mau ngecek beberapa universitas. Persiapan mau kuliah pascasarjana. 

Kirman : Aku baru dengar berita itu. 

Syaiful : Kamu nggak perlu tahu, @Kirman. 

Uday : Ho oh. Apalah kita, nih. Cuma remahan rengginang. 

Dimas : Aku lagi ngemil opak. 

Syuja : Aku punya kacang bawang. 

Robert : Aku lagi di tempat nasi uduk. Ada yang mau nitip? 

Uwais : Aku, @Robert. Pakai ayam bakar dan tahu goreng. 

Aditya : Aku juga mau, @Robert. Samain aja dengan Uwais. 

Yusuf : Aku mau juga, dong. Ayam goreng. Sate usus. Tahu dan tempe. 

Harun : Aku nitip dua porsi, @Robert. Ayam bakarnya tiga. Tahu, dua, dan sambalnya banyak. 

Hisyam : Aku ngeces! 

Sanjaya : Kalian ini, aku jadi pengen juga. 

Lazuardi : Besok aku nitip duit ke Bibi Maggie. Minta bikinin buat malamnya. 

Frank : Asyik! Besok kebetulan aku off. 

Valdi : Anterin ke rumah Pak Jerome, @Frank..

Frank : Okeh. Aku bawain banyak. Supaya para bule itu ikutan makan. 

Robi : Mereka pada doyan masakan khas Indonesia. 

Uwais : Apa aku pindah ke London aja, dan jualan di sana? 

Hisyam : Sini, @Uwais. Aku butuh asisten baru. 

Uwais : Berangkat!

Fauziah : Aku pengen nyoba dinas di Eropa. 

Hisyam : Bicarakan dengan suamimu, @Fauziah. 

Anjani : Suamiku juga pengen balik lagi ke London. Tapi nggak dibolehin Bang W. 

Hisyam : Bang Mardi sudah pas pegang Amerika. Belum ada yang bisa gantiin beliau di sana, @Anjani. 

Syaiful : Aku mau ngajuin diri buat jadi wakil PG dan PBK di Amerika. 

Harun : Yuks, @Syaiful. Kita bisa saling mengunjungi. 

***

Jauhari membaca semua pesan di grup itu dari atas. Dia tengah enggan berbincang, yang akhirnya menonaktifkan ponsel dan meletakkan benda itu ke meja sebelah kanan kasur. 

Jauhari merebahkan badan, lalu memandangi langit-langit putih nan bersih. Pria berlesung pipi memikirkan berbagai tugas yang tengah menantinya di masa mendatang. 

Lelaki berkaus putih sebenarnya masih belum siap untuk memimpin satu perusahaan. Namun, dia telanjur menyanggupi untuk menjadi direktur EMERALD, yang telah beroperasi sejak bulan lalu. 

Perusahaan milik ketiga puluh pengusaha dari PG, PC dan PCD itu dibentuk Alvaro, Tio serta Wirya, khusus untuk Jauhari. Ketiga komisaris PBK tersebut ingin Jauhari bisa menyamai kemampuan rekan-rekannya dalam berbisnis. 

Selain Jauhari, kesembilan rekannya di pengawal lapis tiga juga telah mendapatkan bagian perusahaan masing-masing. Alvaro dan Wirya ingin para junior andalan bisa sesukses mereka, serta semua pengawal lapis dua yang diberi julukan Power Rangers. 

Panggilan dari luar menyebabkan Jauhari bergegas bangkit. Dia jalan untuk membukakan pintu, lalu terhenyak menyaksikan orang di hadapannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjerat Daun Muda    Bab 05

    05"Ini, dari Ibu," tutur Avreen sambil mengulurkan tas belanja biru."Makasih," jawab Jauhari. Dia mengambil tas dan mengecek isinya. "Wangi seblak," ungkapnya sembari mengangkat satu wadah makanan plastik dari dalam tas. "Hu um. Kak Mala bikin banyak. Jadinya dibagikan." "Buatan Kak Mala pasti pedas." "Iya, tapi enak. Aku sampai nambah tadi." Jauhari menyunggingkan senyuman yang menjadikan lesung pipinya tercetak dalam. "Sekali lagi, makasih, Non." Avreen mengangguk. Dia mengamati lelaki yang tengah mengecek isi tas. "Om, kata Bang Varo, Om sudah cukup hafal wilayah Australia. Beneran?" "Lumayan. Aku hampir tiap bulan dinas di sana. Kadang sambil ngawal para bos, atau Bang W." "Habis ngecek kampusnya, aku pengen ke Brisbane." "Mau ngapain ke sana?" "Penasaran sama pantainya. Kata Bang Varo, bagus." Jauhari manggut-manggut. "Ya, memang bagus." "Bisa, kan?" "Lihat sikon, Non. Kalau waktunya cukup, kuantarkan ke sana. Kalau nggak, kita ke pantai di sekitar Sydney aja. Bagus

    Last Updated : 2025-03-04
  • Terjerat Daun Muda    Bab 06

    06"Abang tadi ngomong apa sama Non Avreen?" tanya Khairani. "Yang mana?" Jauhari balik bertanya. "Pas nonton tadi. Kalian ngobrol lama." "Oh. Dia nanya gerakan apa yang dipakai hero-nya. Kujelaskan." "Cuma ngomong gitu, tapi, kok, lama banget?" "Enggak, ahh. Sebentar, doang." "Pake nempel lagi." "Mana?" Jauhari mengerutkan dahi. "Kamu ngomongnya aneh. Kenapa?" desaknya. "Beneran deketan tadi. Sama-sama ngeseser mepet." "Jelaslah menggeser, kami kehalang satu kursi kosong." "Aku nggak suka." "Kenapa mesti begitu?" Khairani mendengkus. "Abang masih nggak paham juga." "Maksudnya?" "Kubilang, aku nggak suka. Peka dikit coba!"Jauhari tertegun sesaat, kemudian dia berkata, "Ran, sudah kujelaskan dari dulu, kalau aku cuma anggap kamu sebagai Adik. Aku nggak bisa ngubah hati buatmu." "Kenapa nggak bisa?" "Sulit dijelaskannya. Tapi, pastinya aku lebih nyaman kayak gini." "Aku cinta sama Abang." "I know that, dan terima kasih banyak. Tapi, aku beneran nggak bisa membalas cin

    Last Updated : 2025-03-21
  • Terjerat Daun Muda    Bab 07

    07Jalinan waktu terus berjalan. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu Avreen dan kedua sahabatnya. Mereka begitu antusias untuk memulai perjalanan panjang ke negeri kangguru. Alvaro dan Wirya serta Marley, melepas langsung keberangkatan kelompok pimpinan Nuriel. Ketiganya bersalaman dengan keempat pengawal muda, yang akan menjaga ketiga gadis, selama sebulan ke depan. Wirya mendekap anak buahnya satu per satu. Saat tiba giliran Jauhari, Wirya memeluk asiaten kesayangannya itu lebih lama. Hati Wirya gelisah, karena dia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak baik di tempat tujuan. "Dedi, Harzan dan Chatur, akan menemani kalian secara bergantian," ujar Wirya sembari mengurai dekapan. "Jangan lengah, Ri. Kamu andalanku, karena kamu paling senior," lanjutnya. "Ya, Bang," sahut Jauhari. "Jangan sungkan buat nelepon Mas Keven, Mas Bryan, Hansel atau Jourell. Mereka pasti langsung membantumu jika menemukan kendala." "Siap." "Kalau jadi ke Brisbane, hubungi Dilbert dan Kenrich. Merek

    Last Updated : 2025-03-21
  • Terjerat Daun Muda    Bab 08

    08Dedi, ketua pengawal area Australia dan New Zealand, menyambangi kelompok yang baru tiba di depan pintu keluar, terminal kedatangan Bandara Sydney. Dedi memberi hormat yang dibalas keempat pengawal tersebut dengan hal serupa. Mereka bersalaman dan saling mendekap sesaat. Kemudian Dedi berpindah untuk bersalaman dengan ketiga gadis. Dari kejauhan, seorang pria berbadan tegap mendekat dengan cepat. Harzan, ketua regu pengawal Jourell Cyrus, langsung mendekap Jauhari yang dianggapnya sebagai Abang kandung. Harzan adalah Adik Andara, asisten Zulfi. Dia juga merupakan saudara sepupu Khairani, dan Falea, istri Benigno Griffin Janitra. Harzan menjadikan Jauhari sebagai salah satu senior favoritnya. Terutama karena pria berlesung pipi tersebut sangat ramah. "Zan, kamu meluknya kekencangan. Aku kegencet!" protes Jauhari. "Aku beneran kangen sama Abang. Sudah lama kita nggak ketemu," sahut Harzan sembari memgurai dekapan, dan beralih menyalami Avreen serta yang lainnya. "Berapa lama, y

    Last Updated : 2025-03-22
  • Terjerat Daun Muda    Bab 09

    09Selama sehari berikutnya, kelompok pimpinan Nuriel bertandang ke kediaman Keven Kahraman, salah satu anggota tim 3 PG. Keven dan Aruna, istrinya, telah menetap di Sydney semenjak mereka belum menikah. Keven adalah putra angkat Timothy Arvhasatys, seorang pengusaha senior yang merupakan blasteran Indonesia dan New Zealand. Selain Keven, Bryan Chavas juga diangkat anak oleh Timothy. Kedua orang tua Keven dan Bryan adalah sahabat Timothy. Hingga pria tua tersebut memaksa untuk menjadikan kedua pria blasteran itu sebagai anak angkatnya. Timothy hanya memiliki seorang anak laki-laki bernama Hansel. Sebab itulah Timothy membutuhkan anak yang lain untuk membantunya meneruskan bisnis yang sudah dirintisnya sejak muda, di Australia dan New Zealand. Timothy yang menetap di Auckland, New Zealand, juga kerap mengunjungi kedua putra angkatnya, dan keempat cucu yang sangat disayanginya. Dikarenakan Hansel belum menikah, maka Timothy meanggap anak-anak Keven serta Bryan sebagai cucunya. Sela

    Last Updated : 2025-03-22
  • Terjerat Daun Muda    Bab 01 - Om Badut

    01"Om, jalannya jangan dekat-dekat," bisik Avreen Ravania Gahyaka. "Saya pengawal khusus Nona, nggak bisa jauh-jauh," sahut pria bermata sipit, sambil membatin, karena lagi-lagi dirinya dipanggil Om. "Udah, deh. Sampai sini aja." "Mohon maaf, Non. Permintaan Pak Sultan, saya harus mendampingi Non sampai acara selesai."Perempuan berkulit putih tiba-tiba berhenti, dan menatap tajam pria berbibir tipis, yang juga turut menghentikan langkah. "Aku malu, tahu nggak?" ketusnya. "Enggak." Avreen mencebik. "Tiap Om dampingin itu, aku diledekin teman-teman!" "Diledekin gimana?" "Aku dibilang piaraan Om. Sugar baby." Pria bersetelan jas biru mengilat semi formal tersebuit, bersusah payah menahan tawa yang nyaris menguar. Dia melirik segerombolan perempuan dan laki-laki muda, yang tengah memerhatikan mereka dari sekitar area."Begini aja, kalau mereka ngeledek lagi, Nona bisa balas kalau justru Nonalah yang membayar saya sebagai, ehm ... apa itu namanya? Yang cowok nyenengin cewek itu?"

    Last Updated : 2025-03-04
  • Terjerat Daun Muda    Bab 02 - Om, Masih Hidup?

    02Hari berganti hari. Jauhari tengah mengemudi, ketika ponselnya bergetar nyaris tanpa henti. Dia penasaran, tetapi karena sedang mengejar waktu akhirnya Jauhari mengabaikan hal itu. Pria berlesung pipi tiba di tempat parkir depan kantor PBK di kawasan Jakarta Selatan. Dia mematikan mesin dan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian menyambar ponsel dari dashboard, dan menarik tas kerja di kursi samping kiri. Sekian menit terlewati, Jauhari sudah tiba di lantai 3. Dia mengayunkan tungkai keluar dari lift, sembari memandangi puluhan pengawal muda berbagai angkatan, yang tengah di-briefing Yoga Pratama, direktur operasional PBK. Jauhari tiba di ujung koridor. Dia mengetuk pintu bercat abu-abu sebanyak 3 kali, kemudian membuka benda itu setelah mendapatkan jawaban dari dalam. Jauhari memasuki ruangan. Dia menegakkan badan dan memberi hormat, yang dibalas anggukan Wirya, sang direktur utama PBK. "Tumben kamu ke sini pagi-pagi. Aya naon?" tanya Wirya. "Mau ngobrol bentar," sahut Jauhari.

    Last Updated : 2025-03-04
  • Terjerat Daun Muda    Bab 03

    03Siang menjelang sore itu, Jauhari tiba di kediaman Sultan bersama rekan-rekannya. Mereka tidak melewati pintu utama, melainkan melalui gerbang putih di sisi kanan bangunan. Belasan pria dan beberapa perempuan berpakaian safari hitam, melintasi taman samping sembari berbincang. Avreen yang berada di kamarnya di lantai dua, mengintip dari jendela yang terbuka separuh. Dia memerhatikan para ajudan lapis tiga dan empat yang berbelok ke kiri, hingga mereka menghilang di balik tembok. Avreen menduga jika tim pengawas unit kerja itu hendak melakukan rapat di base camp. Yakni bangunan tiga lantai yang berada di sisi kiri kolam renang. Perempuan berkulit putih bangkit berdiri. Dia menyambar ponsel dari meja rias dan memasukkannya ke saku celana, sebelum melangkah keluar kamar. Suara para bocah terdengar dari ruangan khusus bermain, yang berada di sebelah kiri kamar Avreen. Tempat itu dulunya adalah kamar Mayuree dan Marley. Setelah mereka menikah dan pindah ke rumah masing-masing, dua

    Last Updated : 2025-03-04

Latest chapter

  • Terjerat Daun Muda    Bab 09

    09Selama sehari berikutnya, kelompok pimpinan Nuriel bertandang ke kediaman Keven Kahraman, salah satu anggota tim 3 PG. Keven dan Aruna, istrinya, telah menetap di Sydney semenjak mereka belum menikah. Keven adalah putra angkat Timothy Arvhasatys, seorang pengusaha senior yang merupakan blasteran Indonesia dan New Zealand. Selain Keven, Bryan Chavas juga diangkat anak oleh Timothy. Kedua orang tua Keven dan Bryan adalah sahabat Timothy. Hingga pria tua tersebut memaksa untuk menjadikan kedua pria blasteran itu sebagai anak angkatnya. Timothy hanya memiliki seorang anak laki-laki bernama Hansel. Sebab itulah Timothy membutuhkan anak yang lain untuk membantunya meneruskan bisnis yang sudah dirintisnya sejak muda, di Australia dan New Zealand. Timothy yang menetap di Auckland, New Zealand, juga kerap mengunjungi kedua putra angkatnya, dan keempat cucu yang sangat disayanginya. Dikarenakan Hansel belum menikah, maka Timothy meanggap anak-anak Keven serta Bryan sebagai cucunya. Sela

  • Terjerat Daun Muda    Bab 08

    08Dedi, ketua pengawal area Australia dan New Zealand, menyambangi kelompok yang baru tiba di depan pintu keluar, terminal kedatangan Bandara Sydney. Dedi memberi hormat yang dibalas keempat pengawal tersebut dengan hal serupa. Mereka bersalaman dan saling mendekap sesaat. Kemudian Dedi berpindah untuk bersalaman dengan ketiga gadis. Dari kejauhan, seorang pria berbadan tegap mendekat dengan cepat. Harzan, ketua regu pengawal Jourell Cyrus, langsung mendekap Jauhari yang dianggapnya sebagai Abang kandung. Harzan adalah Adik Andara, asisten Zulfi. Dia juga merupakan saudara sepupu Khairani, dan Falea, istri Benigno Griffin Janitra. Harzan menjadikan Jauhari sebagai salah satu senior favoritnya. Terutama karena pria berlesung pipi tersebut sangat ramah. "Zan, kamu meluknya kekencangan. Aku kegencet!" protes Jauhari. "Aku beneran kangen sama Abang. Sudah lama kita nggak ketemu," sahut Harzan sembari memgurai dekapan, dan beralih menyalami Avreen serta yang lainnya. "Berapa lama, y

  • Terjerat Daun Muda    Bab 07

    07Jalinan waktu terus berjalan. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu Avreen dan kedua sahabatnya. Mereka begitu antusias untuk memulai perjalanan panjang ke negeri kangguru. Alvaro dan Wirya serta Marley, melepas langsung keberangkatan kelompok pimpinan Nuriel. Ketiganya bersalaman dengan keempat pengawal muda, yang akan menjaga ketiga gadis, selama sebulan ke depan. Wirya mendekap anak buahnya satu per satu. Saat tiba giliran Jauhari, Wirya memeluk asiaten kesayangannya itu lebih lama. Hati Wirya gelisah, karena dia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak baik di tempat tujuan. "Dedi, Harzan dan Chatur, akan menemani kalian secara bergantian," ujar Wirya sembari mengurai dekapan. "Jangan lengah, Ri. Kamu andalanku, karena kamu paling senior," lanjutnya. "Ya, Bang," sahut Jauhari. "Jangan sungkan buat nelepon Mas Keven, Mas Bryan, Hansel atau Jourell. Mereka pasti langsung membantumu jika menemukan kendala." "Siap." "Kalau jadi ke Brisbane, hubungi Dilbert dan Kenrich. Merek

  • Terjerat Daun Muda    Bab 06

    06"Abang tadi ngomong apa sama Non Avreen?" tanya Khairani. "Yang mana?" Jauhari balik bertanya. "Pas nonton tadi. Kalian ngobrol lama." "Oh. Dia nanya gerakan apa yang dipakai hero-nya. Kujelaskan." "Cuma ngomong gitu, tapi, kok, lama banget?" "Enggak, ahh. Sebentar, doang." "Pake nempel lagi." "Mana?" Jauhari mengerutkan dahi. "Kamu ngomongnya aneh. Kenapa?" desaknya. "Beneran deketan tadi. Sama-sama ngeseser mepet." "Jelaslah menggeser, kami kehalang satu kursi kosong." "Aku nggak suka." "Kenapa mesti begitu?" Khairani mendengkus. "Abang masih nggak paham juga." "Maksudnya?" "Kubilang, aku nggak suka. Peka dikit coba!"Jauhari tertegun sesaat, kemudian dia berkata, "Ran, sudah kujelaskan dari dulu, kalau aku cuma anggap kamu sebagai Adik. Aku nggak bisa ngubah hati buatmu." "Kenapa nggak bisa?" "Sulit dijelaskannya. Tapi, pastinya aku lebih nyaman kayak gini." "Aku cinta sama Abang." "I know that, dan terima kasih banyak. Tapi, aku beneran nggak bisa membalas cin

  • Terjerat Daun Muda    Bab 05

    05"Ini, dari Ibu," tutur Avreen sambil mengulurkan tas belanja biru."Makasih," jawab Jauhari. Dia mengambil tas dan mengecek isinya. "Wangi seblak," ungkapnya sembari mengangkat satu wadah makanan plastik dari dalam tas. "Hu um. Kak Mala bikin banyak. Jadinya dibagikan." "Buatan Kak Mala pasti pedas." "Iya, tapi enak. Aku sampai nambah tadi." Jauhari menyunggingkan senyuman yang menjadikan lesung pipinya tercetak dalam. "Sekali lagi, makasih, Non." Avreen mengangguk. Dia mengamati lelaki yang tengah mengecek isi tas. "Om, kata Bang Varo, Om sudah cukup hafal wilayah Australia. Beneran?" "Lumayan. Aku hampir tiap bulan dinas di sana. Kadang sambil ngawal para bos, atau Bang W." "Habis ngecek kampusnya, aku pengen ke Brisbane." "Mau ngapain ke sana?" "Penasaran sama pantainya. Kata Bang Varo, bagus." Jauhari manggut-manggut. "Ya, memang bagus." "Bisa, kan?" "Lihat sikon, Non. Kalau waktunya cukup, kuantarkan ke sana. Kalau nggak, kita ke pantai di sekitar Sydney aja. Bagus

  • Terjerat Daun Muda    Bab 04

    04Avreen memerhatikan para lelaki yang tengah melakukan lomba renang. Dia turut berseru bersama penonton lainnya, kala Nuriel melesat meninggalkan para peserta lomba.Avreen yang berada di kursi teras, berdiri dan jalan cepat menyambangi ajudannya, yang baru tiba di tepi kolam. Avreen beradu toss dengan Nuriel, lalu dia berjoget untuk merayakan kemenangan sang pengawal. Nuriel bergegas naik dan turut bergoyang. Keduanya tidak peduli diteriaki yang lainnya. Terutama dari lawan Nuriel yang kalah lomba tersebut. "Riel, kamu makan apa, sih? Berenangnya cepat banget," tukas Yusuf sembari menggosokkan handuk ke badannya yang basah. "Biasa aja, Bang. Nggak ada yang spesial," jawab Nuriel yang telah berpindah duduk di bangku panjang bersama nonanya. "Mungkin Nuriel adalah titisan pesut," sela Jauhari sambil memasang tampang serius. "Bukan, dia dulunya belut," cakap Chalid, ajudan Panglima. "Cecurut," imbuh Aditya. "Ikan badut," lontar Hasbi. "Anjing laut," papar Jeffrey. "Singa laut

  • Terjerat Daun Muda    Bab 03

    03Siang menjelang sore itu, Jauhari tiba di kediaman Sultan bersama rekan-rekannya. Mereka tidak melewati pintu utama, melainkan melalui gerbang putih di sisi kanan bangunan. Belasan pria dan beberapa perempuan berpakaian safari hitam, melintasi taman samping sembari berbincang. Avreen yang berada di kamarnya di lantai dua, mengintip dari jendela yang terbuka separuh. Dia memerhatikan para ajudan lapis tiga dan empat yang berbelok ke kiri, hingga mereka menghilang di balik tembok. Avreen menduga jika tim pengawas unit kerja itu hendak melakukan rapat di base camp. Yakni bangunan tiga lantai yang berada di sisi kiri kolam renang. Perempuan berkulit putih bangkit berdiri. Dia menyambar ponsel dari meja rias dan memasukkannya ke saku celana, sebelum melangkah keluar kamar. Suara para bocah terdengar dari ruangan khusus bermain, yang berada di sebelah kiri kamar Avreen. Tempat itu dulunya adalah kamar Mayuree dan Marley. Setelah mereka menikah dan pindah ke rumah masing-masing, dua

  • Terjerat Daun Muda    Bab 02 - Om, Masih Hidup?

    02Hari berganti hari. Jauhari tengah mengemudi, ketika ponselnya bergetar nyaris tanpa henti. Dia penasaran, tetapi karena sedang mengejar waktu akhirnya Jauhari mengabaikan hal itu. Pria berlesung pipi tiba di tempat parkir depan kantor PBK di kawasan Jakarta Selatan. Dia mematikan mesin dan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian menyambar ponsel dari dashboard, dan menarik tas kerja di kursi samping kiri. Sekian menit terlewati, Jauhari sudah tiba di lantai 3. Dia mengayunkan tungkai keluar dari lift, sembari memandangi puluhan pengawal muda berbagai angkatan, yang tengah di-briefing Yoga Pratama, direktur operasional PBK. Jauhari tiba di ujung koridor. Dia mengetuk pintu bercat abu-abu sebanyak 3 kali, kemudian membuka benda itu setelah mendapatkan jawaban dari dalam. Jauhari memasuki ruangan. Dia menegakkan badan dan memberi hormat, yang dibalas anggukan Wirya, sang direktur utama PBK. "Tumben kamu ke sini pagi-pagi. Aya naon?" tanya Wirya. "Mau ngobrol bentar," sahut Jauhari.

  • Terjerat Daun Muda    Bab 01 - Om Badut

    01"Om, jalannya jangan dekat-dekat," bisik Avreen Ravania Gahyaka. "Saya pengawal khusus Nona, nggak bisa jauh-jauh," sahut pria bermata sipit, sambil membatin, karena lagi-lagi dirinya dipanggil Om. "Udah, deh. Sampai sini aja." "Mohon maaf, Non. Permintaan Pak Sultan, saya harus mendampingi Non sampai acara selesai."Perempuan berkulit putih tiba-tiba berhenti, dan menatap tajam pria berbibir tipis, yang juga turut menghentikan langkah. "Aku malu, tahu nggak?" ketusnya. "Enggak." Avreen mencebik. "Tiap Om dampingin itu, aku diledekin teman-teman!" "Diledekin gimana?" "Aku dibilang piaraan Om. Sugar baby." Pria bersetelan jas biru mengilat semi formal tersebuit, bersusah payah menahan tawa yang nyaris menguar. Dia melirik segerombolan perempuan dan laki-laki muda, yang tengah memerhatikan mereka dari sekitar area."Begini aja, kalau mereka ngeledek lagi, Nona bisa balas kalau justru Nonalah yang membayar saya sebagai, ehm ... apa itu namanya? Yang cowok nyenengin cewek itu?"

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status