Home / Romansa / Terjerat Cinta CEO Dingin / Bab 86: Mimpi Buruk

Share

Bab 86: Mimpi Buruk

last update Last Updated: 2024-10-05 19:57:11

Mark menatap Sesyl dengan mata yang dingin, tatapannya bagaikan lautan yang tak dapat terbaca. Udara di dalam ruangan itu terasa semakin tebal dengan ketegangan yang tak terucapkan.

Sesyl berdiri di hadapannya, matanya masih berusaha menangkap secercah emosi dari kakaknya yang begitu rapat menutup dirinya. Namun, Mark tetap membungkus dirinya dalam keheningan yang dingin, membuat setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti bilah tajam.

“Jawab pertanyaanku, Mark!” ucap Sesyl terus menekan Mark agar mau bicara jujur padanya.

“Sesyl,” suara Mark akhirnya terdengar, berat dan rendah, seakan setiap kata diucapkan dengan penuh perhitungan. “Jangan pernah ikut campur dalam urusan rumah tanggaku dengan Dania. Apa yang terjadi di antara kami adalah urusan kami. Kau tidak perlu tahu apa pun selain Dania adalah istriku!”

Sesyl terdiam sejenak, hatinya terasa tertusuk mendengar kata-kata itu. Ia tidak pernah bermaksud untuk mengganggu, apalagi menyakiti Dania.

Ia hanya ingin membantu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Widia Anaska
tuh kan jadi kepikiran dan jadi mimpi buruk kan buat kamu
goodnovel comment avatar
Widia Anaska
Mark boleh lohh cerita ke sisyl agar beban hatimu tak terlalu berat
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
kayak nya mimpi itu pas di hari Dania dan ibunya kecelakaan ada sesuatu di hari itu pasti
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 87: Mungkin Belum Waktunya

    Pagi hari tiba dengan lembutnya sinar matahari yang merayap masuk melalui celah tirai kamar. Udara terasa tenang, namun bagi Dania, ada keheningan yang lebih dalam, sesuatu yang mengganjal di pikirannya.Ia bangun lebih dulu dari Mark, pria yang masih terbaring dengan napasnya yang sedikit berat. Dania menatap wajahnya yang pucat, dan perlahan, ia meraba kening Mark dengan lembut.“Dia demam…” gumam Dania pelan, nada suaranya penuh dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.Pikirannya melayang kembali pada kejadian semalam. Mimpi buruk yang mengganggu tidur Mark, keringat yang membasahi tubuhnya, dan suara yang ia dengar setelahnya—terima kasih sudah kembali.Kalimat itu terus berulang dalam benaknya, seperti gema yang tak bisa ia hilangkan. Apa yang dimaksud Mark? Apa yang terjadi dalam mimpinya hingga membuatnya berucap demikian?Dania menarik tangannya perlahan dari kening Mark, berusaha untuk tidak membangunkannya. Ia tahu, pria itu butuh istirahat, terutama setelah semalam

    Last Updated : 2024-10-05
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 88: Itu hanya Mimpi Buruk

    “Sshh! Kenapa kepalaku semakin sering sakit seperti ini?” lirih Dania saat merasakan kepalanya mendadak terasa berat. Rasa pening yang tiba-tiba menyerangnya membuatnya harus menghentikan gerakannya.Ia segera duduk di kursi dapur, memegangi pelipisnya dengan tangan gemetar. Aliran pikirannya terhenti oleh rasa nyeri yang menjalar, membuat dunianya terasa sejenak berputar."Hamil... mungkin ini karena aku sedang hamil," bisik Dania dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Sejak mengetahui kehamilannya, gejala seperti ini sering datang tanpa peringatan, membuatnya merasa lemah dalam beberapa saat, sebelum akhirnya hilang begitu saja.Meski begitu, setiap kali rasa sakit itu datang, ia tidak bisa menyingkirkan kekhawatiran yang diam-diam merayap di pikirannya.Mark, yang baru saja keluar dari kamar, melihat Dania terdiam dengan wajah pucat. Dalam sekejap, ia menghampirinya, langkah kakinya cepat namun penuh perhatian. Kekhawatiran terpancar jelas di matanya.“Dania, ada apa? Kep

    Last Updated : 2024-10-06
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 89: Apa yang Kau Sembunyikan

    Dania menelan salivanya, merasakan kegelisahan yang menjalari tubuhnya. Pertanyaan yang menggantung di udara begitu berat, memenuhi ruang kecil di antara mereka.Ia menatap suaminya, Mark, yang duduk dengan tubuh tegap namun wajahnya tegang, menunggu jawaban yang sepertinya tak mudah diutarakan."Katakan saja, Dania. Jangan ragu," suara Mark terdengar lembut, namun ada nada ketegasan di balik bisikannya. Matanya yang tajam memperhatikan setiap gerakan Dania seolah ia takut melewatkan sesuatu.Dania menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. Rasa penasarannya telah tumbuh menjadi kegelisahan yang tak tertahankan."Terima kasih sudah kembali. Itu yang kau ucapkan setelah mengalami mimpi buruk semalam," ucap Dania pelan, suaranya hampir bergetar.Mark menelan ludahnya, matanya membulat seketika. Kata-kata Dania menyentak kesadarannya, membawa kembali memori mimpi yang seharusnya tetap tersembunyi.Lidahnya mendadak terasa kelu, berat untuk digerakkan. Ia me

    Last Updated : 2024-10-07
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 90: Pingsan

    Waktu sudah menunjuk angka lima sore. Sore itu, awan kelabu menggantung rendah di langit, seakan mencerminkan perasaan yang berkecamuk di hati Mark.Ia menatap Dania yang duduk di kursi penumpang dengan wajah tenang, meski dalam hati, kekhawatiran terus merayapi pikirannya.Langkah mereka menuju rumah sakit seolah menjadi perjalanan yang panjang dan penuh kecemasan bagi Mark. Ia ingin memastikan segalanya baik-baik saja—terutama untuk Dania dan bayi yang sedang dikandungnya.“Kita harus memastikan semuanya normal. Aku tidak bisa membiarkan kehamilan ini membuatmu tersiksa,” ucap Mark, memecah keheningan. Nada suaranya lembut, namun sarat dengan kecemasan yang tak dapat ia sembunyikan.Dania menoleh, senyum kecil tersungging di bibirnya. Mendengar kekhawatiran suaminya yang begitu mendalam, ia tak bisa menahan tawa ringan yang terdengar dari balik bibirnya. “Kau selalu khawatir berlebihan, Mark. Aku baik-baik saja,” katanya, matanya berbinar dengan kehangatan.Mark menoleh sesaat, meli

    Last Updated : 2024-10-07
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 91: Kisah Usang

    Dua puluh tahun yang lalu, di bawah langit sore yang cerah, angin berbisik lembut di antara dedaunan pohon di taman kecil dekat sekolah dasar Jarasi. Taman itu sunyi, hanya diiringi suara sayup-sayup langkah anak-anak yang pulang dari sekolah.Di salah satu sudut taman, seorang anak laki-laki dengan tatapan tajam dan kaku duduk sendirian di bangku kayu tua. Matanya lurus menatap tanah, tubuhnya terlihat kaku, seolah ada beban yang tak terlihat di pundaknya. Itulah Mark, murid baru yang sejak sebulan lalu belum berbicara dengan siapa pun.Dania, seorang gadis kecil dengan rambut hitam yang terikat rapi, melangkah mendekati Mark. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran, senyumnya begitu cerah, seolah membawa cahaya ke dalam kegelapan yang menyelimuti Mark."Hai," ucap Dania lembut, suaranya riang, penuh keramahan anak-anak yang polos. “Kau Mark, kan? Aku Dania. Kita satu kelas dan aku tahu kau murid baru di sekolah ini.”Mark mengangkat pandangannya sejenak, hanya sekilas, kemudian kembali men

    Last Updated : 2024-10-07
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 92: Kisah Usang Part 2

    Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.Dua tahun berlalu, Dania dan Mark telah menyelesaikan sekolah dasar mereka dan bersiap melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama. Hari itu, suasana di rumah Mark dipenuhi ketegangan. Ayahnya, Alex, sibuk mempersiapkan perpindahan mereka ke kota besar untuk mengejar karier yang lebih menjanjikan. Tetapi, Mark tidak setuju dengan rencana itu. Ia merasa dunianya di desa ini, bersama neneknya, dan terutama bersama Dania, adalah satu-satunya tempat yang membuatnya merasa hidup."Aku tidak mau ikut dengan kalian! Aku mau tetap di sini saja!" teriak Mark dengan marah, matanya memancarkan pemberontakan yang tak terbendung. “Silakan kalian pergi, tapi aku akan tetap tinggal di sini!” Ia berdiri dengan tegas di depan pintu, menolak untuk masuk ke dalam mobil yang sudah diparkir di halaman.Alex, dengan wajah tegang dan amarah yang menggelegak, menghampiri Mark dengan langkah berat. “Tidak, Mark. Kau harus ikut dengan kami. Jika tidak, kau akan menye

    Last Updated : 2024-10-07
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 93: Kisah Usang Part 3

    Tubuhnya gemetar, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesedihan yang begitu dalam. Ia jatuh terduduk di kursi di samping ranjang Dania, tubuhnya tersungkur, air matanya mengalir deras. Rasanya seperti dunia telah menghukumnya tanpa ampun.Mata merahnya tak berhenti menatap wajah sang ayah, penuh kebencian. Sejak kecil, ia merasa tertekan oleh ayahnya, tapi hari ini, semua perasaan itu memuncak.Alex terdiam, lalu mengalihkan pandangannya. "Baiklah," gumamnya dengan nada rendah. "Aku akan memberimu waktu lima belas menit. Setelah itu, tidak ada alasan lagi untuk tetap di sini." Dengan wajah yang tak menunjukkan emosi apa pun, Alex melangkah pergi meninggalkan ruangan, membiarkan anaknya merasakan kesedihannya.Mark tak bergerak. Matanya tertuju pada wajah Dania yang kini mulai membuka matanya dengan perlahan. "Dania...," bisik suara lembut di sisi lain ruangan. Famela, ibu Dania, berdiri di tepi ranjang, menatap anak perempuannya dengan napas tertahan. “Dania, Nak, kau sudah siuma

    Last Updated : 2024-10-07
  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Bab 94: Maafkan Aku

    Sudah satu jam lamanya Dania tak sadarkan diri, dan waktu terasa semakin lambat bagi Mark. Hatinya bergulat dengan perasaan bersalah, rindu, dan ketakutan yang meluap-luap. Setiap detik berlalu seperti pedang yang menusuk lebih dalam ke hatinya. Mark menatap wajah Dania yang tenang, namun dalam kesunyian itu, perasaannya tak tenang sama sekali.“Aku baru tahu jika kau mengalami amnesia saat kecelakaan bersama ibumu,” bisik Mark, suaranya bergetar, seolah berbicara kepada dirinya sendiri, tetapi ia berharap bahwa kata-katanya bisa menembus kegelapan yang kini menyelimuti kesadaran Dania.“Awalnya aku kecewa ...,” lanjutnya pelan, matanya masih tak lepas dari wajah wanita itu, “karena kau tidak mengenalku saat pertemuan pertama kita di hotel, saat takdir mempertemukan kita kembali setelah bertahun-tahun lamanya.”“Awalnya aku bahagia karena bisa bertemu denganmu lagi. Ingin rasanya aku memelukmu saat itu. Hanya saja, kau tidak mengenalku sama sekali.”Mark tersenyum tipis, meski senyum

    Last Updated : 2024-10-08

Latest chapter

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   END~

    Satu tahun kemudian ….Clara berdiri di depan jendela apartemen milik Stevan. Lalu pria itu menghampirinya dan memeluk wanita itu dari belakang dan mencium pipinya dengan lembut.“Hi, Stev.”“Hm. Kau tahu? Apa yang sudah ayahmu bicarakan tadi di ruang meeting?” ucap Stevan dengan suara beratnya.“Apa?” tanyanya ingin tahu.Stevan menghela napasnya dengan panjang. “Dia menagih cucu padaku.”Clara yang mendengarnya sontak tertawa. Ia kemudian membalikan badanya dan menatap Stevan.“Lalu, apa jawabanmu?” tanyanya kemudian.Stevan mengendikan bahunya. Ia lalu mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan membukanya.Sontak Clara menutup mulutnya dengan mata membola melihatnya. “Stevan ….”“Clara. Kita sudah melewati perjalanan yang cukup panjang. Aku telah mencintaimu sejak kau masih remaja, aku telah menyayangimu sejak kau lahir ke dunia. Aku tahu, kau adalah takdir yang telah Tuhan tentukan untukku.“Meski us

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Permintaan Clara

    Tiba-tiba, suara dentingan terdengar. Begitu cepat. Tanpa Emma sadari. Mike menendang meja. Meja menjadi miring lalu membuat pisau di tangan Emma terpental.Tring! Pisau menjauh dari Emma. Stevan bergerak dalam hitungan detik.Ia meraih lengan Emma, memelintirnya ke belakang, membuat wanita itu berteriak kesakitan.Clara tersungkur ke lantai saat Stevan berhasil menjatuhkan Emma.Napasnya memburu. "Mmmh ..." mulut itu terikat. Clara tak bisa bicara apapun.“Permainanmu selesai,” desisnya.Emma menatapnya, matanya dipenuhi amarah dan kepedihan.“Tapi aku mencintaimu …”Stevan memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam.“Tidak, Emma.” Ia menatapnya tajam. “Ini bukan cinta, tapi obsesi. Aku tidak pernah mencintaimu dan kau salah mengartikan semuanya. Bahkan kau pun tahu sejak dulu pun aku hanya mencintai Clara.”“Sekali lagi kutegas

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Ancaman Gila

    Emma menyimpan pisaunya kembali, tetapi sorot matanya tetap menakutkan. Clara menelan ludah dengan susah payah, merasakan jantungnya berdegup begitu keras seakan ingin menerobos keluar dari dadanya.Keringat dingin mengalir di pelipisnya, membasahi kulitnya yang sudah pucat.Emma berjalan ke pintu dengan langkah santai, seolah semua ini hanya permainan baginya. Namun, sebelum keluar, ia berhenti dan berbalik."Oh, dan satu hal lagi, Clara …"Clara menahan napas, tubuhnya menegang. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada simpul yang mengikatnya erat dari dalam."Aku ingin dia melihatmu dalam keadaan paling menyedihkan sebelum akhirnya aku menghilangkanmu dari dunia ini."Senyuman Emma penuh kepuasan, seperti seorang seniman yang baru saja menyempurnakan mahakaryanya yang keji.Kemudian, dengan gerakan lambat yang disengaja, ia mendorong pintu gudang hingga tertutup dengan suara berderak, menggema di ruang kosong yang dingin.

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Sudah Dalam Perjalanan

    "Hahaha, lelaki lemah. Kau mau apa? Menangisi wanitamu? Kau memang pantas ku buang sebagai rekanku. Aku tidak suka lelaki lemah sepertimu." Emma merasa menang. Desain tawanya begitu liar."Clara? Ini berbahaya, Emma. Kendalikan dirimu!""Mike, aku ... Aku hanya mengajaknya bermain. Kau tahu, dia selalu menghalangi jalanku. Aku hanya ingin memberinya pelajaran." Suara Emma santai tanpa rasa bersalah sama sekali."Emma, jangan lakukan ini!" suara Mike meninggi, tangannya mengepal. "Kau sudah cukup membuat kekacauan!""Oh, Mike, kau selalu terlalu baik l… atau terlalu bodoh? Aku ingin melihat sampai sejauh mana kau dan Stevan bisa melindungi wanita ini. Sekarang dia ada di tanganku. Jika kau ingin menolongnya, ajak Stevan dan temui aku."“Apa yang kau lakukan pada Clara?” Mike menggertakkan giginya.Tawa Emma terdengar lebih keras. "Ah, kau akan melihatnya sendiri. Aku akan mengirim lokasi. Tapi jangan terlambat… atau

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Hanya Ingin Berbagi Kebahagiaan

    Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar."Seperti yang kau minta. Semuanya akan berjalan lancar."Emma tersenyum puas. Ia meletakkan ponsel itu kembali dan merapikan rambutnya di depan cermin."Malam ini akan menjadi malam yang panjang," bisiknya.Ia meraih mantel, mengenakannya dengan gerakan anggun, lalu mengambil kunci mobilnya dari meja. Satu tarikan napas panjang, satu langkah menuju pintu.Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan tenang.Ponselnya ia tekan. Bukan ponsel yang biasa ia gunakan. Ponsel lain dan nomor ponsel yang baru, telah ia siapkan kemarin."Nona Clara. Apa anda putri dari Tuan Mark? Papa Anda mengalami kecelakaan lalu lintas, saya menolongnya dan tuan Mark sekarang ada di Alvarado hospital medicare center. Tolong datang segera, karena saya harus mengejar jadwal penerbangan saya.""APAA?! ba-baiklah saya segera datang. Terima kasih Nona telah menolong Daddy." Hiks."Apakah Daddy baik-baik saj

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Pastikan Semuanya Siap

    Ia memiringkan kepala, tatapannya terpaku pada sosok Stevan di kejauhan. Mata hitamnya membesar, membulat seakan ia baru saja melihat sesuatu yang indah.Jantungnya berdetak lebih cepat. Pipinya merona."Ah, Stevan …" gumamnya, suaranya terdengar seperti seorang gadis jatuh cinta. "Kau masih tampan sekali. Bahkan dari kejauhan sekalipun!"Ia menempelkan telapak tangan ke pipinya sendiri, memejamkan mata, membayangkan sesuatu.Pernikahan mereka. Stevan di altar, mengenakan jas putih. Ia di sisinya, mengenakan gaun yang memesona. Semua orang tersenyum bahagia.Ya … itulah yang seharusnya terjadi setelah ini.Emma membuka matanya, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras, napasnya semakin cepat."Tapi sebelum aku menjemputmu, sayang …"Tangannya menyelip masuk ke dalam tas kecilnya. Jemarinya bergerak lincah, mencari sesuatu.Lalu, sesuatu berkilau di bawah lampu. Pisau kecil dengan ukiran indah di gagan

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Jaga Clara

    Bodyguard pertama yang mencoba melawan. Namun, Randy dengan cepat menghindar dan menghantamkan pukulan yang kuat.Pria itu jatuh ke lantai mengerang. Tidak bisa bergerak. Bodyguard kedua mencoba menahan Randy. Tapi tidak berhasil.Seperti seorang pria yang sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa anaknya, Randy mengamuk, membabi buta, tidak memberi ampun.Mike tergeletak di tanah. Wajahnya penuh dengan cairan merah pekat. Dan tubuhnya semakin tak berdaya.Di sebelahnya, Randy berjongkok, memeriksa keadaan anaknya. Mike masih bernapas, meskipun dengan susah payah."Mike bertahanlah." Randy berteriak, mengguncang bahu.Mike berharap ada reaksi. Tetapi Mike tidak bergerak. Cairan merah pekat itu mengalir deras dari luka-lukanya. Dan tubuhnya terasa dingin.Emma yang masih berdiri di kejauhan, karena perkelahian bodyguardnya, menyaksikan semua amukan Randy dengan tatapan penuh kebencian."Kau akan mati, Mike. Tidak ada yang bisa m

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Semakin Menggila

    Sementara itu, di dalam mobil, Emma duduk dengan gelisah. Matanya menatap tajam ke depan, namun pikirannya jauh melayang.Botol wine di tangan kanannya hampir kosong, dan dagunya basah oleh sisa-sisa cairan yang tumpah.Ia tampak marah, kecewa, dan sangat kesal. Rasa sakit yang menggerogoti dirinya akibat kehadiran Clara begitu menyakitkan."Stevan…!" gumamnya dengan geram, suara hatinya penuh kebencian. "Kenapa dia harus ada di sana? Apa dia pikir aku tidak tahu apa yang sedang terjadi?"Emma meneguk wine lagi, tanpa peduli dengan keadaan dirinya yang semakin kacau. Ia merasakan ketidakmampuan untuk mengendalikan situasi ini."Kau pikir bisa menghindar, Stevan? Tidak. Aku akan pastikan Clara tahu siapa yang sebenarnya dia hadapi. Tidak ada yang akan bisa menghalangi rencanaku!"Tangannya yang gemetar memegang kemudi, namun di dalam dirinya, ada dorongan tak terhentikan untuk melanjutkan permainan berbahaya ini.Ia tahu bahwa j

  • Terjerat Cinta CEO Dingin   Cemas yang Berlebih

    Clara merapatkan mantelnya ketika angin malam menyelinap melalui serat kainnya. Ia baru saja keluar dari perpustakaan kampus setelah menyelesaikan tugas yang tertunda.Tatapan itu. Perasaan diawasi kembali lagi. Bahkan kali ini orang itu mengikutinya.Awalnya, ia mengira hanya kebetulan. Mungkin efek dari kurang tidur, atau mungkin hanya pikirannya yang terlalu waspada sejak Stevan memperingatkannya soal Mike.Tapi semakin hari, semakin sering ia merasakan kehadiran tak kasat mata yang seolah mengikuti setiap gerakannya.Ia menoleh ke belakang.Jalanan kampus hampir sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berjalan jauh di depannya.Lampu jalan menerangi trotoar dengan temaram, menciptakan bayangan panjang yang bergerak setiap kali angin menggoyangkan dahan pepohonan.Tidak ada siapa pun di sana.Clara meneguk ludah, mencoba menenangkan dirinya.“Hanya perasaanmu saja,” gumamnya pelan.Namun, saat ia kembali melangkah, bulu kuduknya meremang. Ada suara langkah kaki di belakangnya—terde

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status