Sarah melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Dia sudah merasakan kehamilannya semakin nyata, dan meskipun dia berusaha untuk kuat, tekanan emosional dan stres akibat situasinya dengan Alexander semakin membuatnya merasa lemah. Dia berharap kunjungannya ke dokter kandungan hari ini bisa memberinya sedikit ketenangan.Dr. Bayu, dokter kandungan yang sudah dikenal baik oleh Sarah, menyambutnya dengan senyuman hangat saat dia masuk ke ruang periksa. “Selamat datang, Sarah. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya sambil mempersiapkan alat ultrasonografi.Sarah mencoba tersenyum, tapi kekhawatiran masih terlihat di wajahnya. “Aku baik-baik saja, Dok. Hanya sedikit lelah.”Dr. Bayu menatap Sarah dengan penuh perhatian, dia sudah mendengar sedikit tentang masalah yang sedang dihadapi oleh pasiennya ini. “Mari kita periksa dulu keadaan bayimu,” katanya lembut sambil membantu Sarah untuk berbaring di tempat tidur periksa.Selama beberapa menit, suara mesin ultrasonogra
Setelah seharian bersama Emily, Alexander pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bingung dan marah karena harus menjalani kehidupan yang rumit. Saat mobilnya mendekati rumah, ia melihat sosok yang tak asing sedang berdiri di depan pintu rumahnya, berbicara dengan Sarah."Dr. Bayu?" gumam Alexander dengan nada dingin. Hatinya langsung terasa panas melihat istrinya berbicara dengan pria lain. Alexander memarkir mobilnya dengan cepat dan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Dia bisa melihat Sarah tersenyum saat berbicara dengan Dr. Bayu. Pemandangan itu membuat amarahnya semakin memuncak."Sarah!" panggil Alexander dengan suara keras, menarik perhatian keduanya. Sarah dan Dr. Bayu sama-sama menoleh, terlihat terkejut dengan kemunculan Alexander yang tiba-tiba."Oh, Alexander," sapa Dr. Bayu dengan sopan. "Saya baru saja memeriksa keadaan Sarah dan bayi dalam kandungannya. Semua baik-baik saja."Alexander tidak merespons sapaan itu, pandangannya terpaku pada Sarah. "Apa ya
Pagi itu, Alexander duduk di kantornya, matanya terfokus pada dokumen di depan. Namun, pikirannya melayang-layang, kembali pada kejadian semalam ketika ia melihat Sarah bersama Dr. Bayu. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan senyum Sarah yang ditujukan pada pria lain itu dari benaknya.Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Masuk," katanya dengan nada datar.Pintu terbuka, dan Emily melangkah masuk. Senyumannya yang biasanya membuat hati Alexander berdebar, kini terasa hambar di matanya. "Hai, Alex," sapa Emily dengan lembut."Hai, Emily," balasnya singkat tanpa mengangkat pandangannya dari dokumen.Emily mendekati meja dan duduk di kursi di depan Alexander. "Aku merasa kita perlu bicara," katanya dengan suara serius. "Tentang pernikahanmu dengan Sarah."Alexander menghela napas panjang. "Emily, aku tidak punya banyak waktu sekarang. Kita bisa bicarakan ini nanti."Emily terkejut dengan respons dingin Alexander. "Alex, ini penting. Aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu me
Emily berdiri di depan rumah sederhana yang dihuni oleh Sarah. Ia menggenggam erat kemarahannya, menguatkan tekadnya untuk mendapatkan jawaban. Emily merasa hatinya hancur setiap kali memikirkan Alexander bersama wanita lain. Ia mengetuk pintu dengan keras, tidak sabar menunggu.Pintu terbuka, dan Sarah muncul di hadapannya. Sarah tampak terkejut melihat Emily berdiri di sana. "Emily? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sarah dengan suara gemetar.Emily tidak bisa menahan emosinya. "Aku di sini untuk mendapatkan jawaban, Sarah. Bagaimana bisa kamu merebut Alexander dariku?"Sarah terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Emily melangkah masuk ke dalam rumah tanpa diundang, langsung menuju ruang tamu. Sarah mengikuti, merasa bingung dan cemas."Emily, dengarkan aku," kata Sarah mencoba tenang. "Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah berniat untuk merebut Alexander darimu."Emily menatap Sarah dengan mata berkilat marah. "Lalu kenapa kamu tinggal di rumah Alexander? Kena
Sarah mengunci pintu belakang rumahnya dengan hati yang masih berdebar. Pertemuan dengan Emily tadi meninggalkan bekas yang dalam di hatinya. Setelah memastikan pintu terkunci, dia berjalan ke dapur, menemukan Amelia sedang mencuci piring. Ia mendekat dengan langkah pelan, mencoba menenangkan dirinya."Amelia," panggil Sarah dengan suara lembut.Amelia tidak menoleh, masih sibuk dengan pekerjaannya. "Ada apa, Kak?" tanyanya dingin.Sarah merasa canggung. Amelia selalu bersikap keras di luar, tetapi Sarah tahu betapa besar perhatian yang diberikan adiknya. "Aku ingin berterima kasih atas apa yang kau lakukan tadi. Kau membelaku dengan sangat berani. Aku benar-benar terharu."Amelia berhenti sejenak, meletakkan piring yang sudah bersih. Ia menoleh, menatap Sarah dengan mata yang masih memancarkan ketegasan. "Itu bukan apa-apa, Kak. Aku hanya tidak bisa diam melihat orang menyakitimu."Sarah mendekat, meraih tangan Amelia yang dingin karena air. "Tetap saja, Amelia. Aku sangat berterima
Alexander berdiri di depan rumahnya, merasa gelisah karena tidak menemukan Sarah di dalam. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Setelah beberapa saat berdiam diri, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Sarah dan menjemputnya kembali.Dalam perjalanan, Alexander merasakan campuran emosi yang sulit dijelaskan. Ia tahu bahwa Sarah sedang hamil anaknya, dan ia merasa bertanggung jawab atas keadaan ini. Namun, di sisi lain, hatinya masih terikat pada Emily, wanita yang selama ini ia cintai.Setibanya di rumah Sarah, Alexander turun dari mobilnya dengan langkah tegas. Ia mengetuk pintu dan menunggu. Amelia, yang mendengar ketukan tersebut, segera membuka pintu dan melihat Alexander berdiri di depannya."Amelia, aku datang untuk menjemput Sarah," kata Alexander tanpa basa-basi.Amelia menatap Alexander dengan mata tajam. "Kakakku tidak akan pergi denganmu, Alexander. Kau hanya membuat hatinya terluka."Alexander menghela napas panjang. "Aku tahu aku telah berbuat salah. Tapi Sarah sedang mengand
Sesampainya di rumah, Alexander merasa hatinya penuh dengan rasa bersalah. Dia segera menuju kamar Sarah dengan harapan bisa memperbaiki kesalahannya. Pintu kamar terbuka sedikit, memperlihatkan Sarah yang duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke luar jendela."Sarah," panggil Alexander pelan, suaranya penuh penyesalan. Dia mendekat dengan langkah hati-hati, berharap bisa meredakan kekacauan yang telah ia buat.Sarah menoleh dengan senyum tipis, mata merah karena menangis. "Apa yang ingin kau katakan, Alexander?" tanyanya lembut namun tegas.Alexander menarik napas dalam. "Aku ingin meminta maaf. Aku tahu tadi siang aku membuat kesalahan besar. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu demi Emily."Sarah mengangguk pelan. "Aku sudah menduga ini akan terjadi. Kau selalu memilih Emily, bahkan ketika kau berjanji padaku."Alexander merasa hatinya tercabik-cabik. "Sarah, aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku ingin kita bisa memperbaiki hubungan ini. Aku ingin bertanggung jawab."Sara
Pagi itu, Alexander bangun dengan tekad baru. Dia tahu bahwa dia harus mengambil langkah nyata untuk memperbaiki hubungannya dengan Sarah. Setelah berpikir semalaman, dia memutuskan untuk mengajak Sarah jalan-jalan ke mall, berharap bisa meminta maaf dan menunjukkan keseriusannya untuk memperbaiki hubungan mereka.Alexander masuk ke kamar Sarah dengan hati-hati. Sarah sedang duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang panjang. Ketika dia melihat bayangan Alexander di cermin, Sarah menoleh dan tersenyum tipis."Pagi, Sarah," sapa Alexander dengan lembut. "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini. Kita bisa pergi ke mall, makan siang, dan berbelanja. Bagaimana menurutmu?"Sarah tampak terkejut dengan ajakan itu. Namun, dia bisa melihat kesungguhan di mata Alexander. Setelah berpikir sejenak, dia mengangguk pelan. "Baiklah, Mas Alex. Aku pikir kita memang perlu waktu untuk berbicara dan mencoba memperbaiki semuanya."Mendengar persetujuan Sarah, Alexander merasa lega. Dia berharap