Setelah ayahnya keluar dari kamar, suasana kamar kembali tenang, meskipun keheningan itu segera pecah oleh suara gaduh dari dalam pikirannya.
"What!! Pesta lagi??! Kenapa sih orang kaya senang sekali berpesta? Dan apa kau benar-benar akan pergi ke pesta itu Lunna?" keluh Luna yang mendadak muncul, dengan suara penuh rasa ingin tahu.
Jujur! Saat ini Luna kesal—setidaknya dalam pikirannya sendiri—seolah tidak habis pikir mengapa pesta menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup keluarga kaya.
Sementara itu, Lunna, yang tengah duduk di depan cermin besar dan sibuk merias wajahnya, hanya bisa menghela napas panjang mendengar cerocosan Luna di dalam kepalanya. Dia tidak punya waktu untuk melayani ocehan Luna. Dengan nada ketus, Lunna berkata, "bisa tidak kau diam saja saat aku sedang merias wajahku? Aku butuh fokus!" ketusnya, Ia berharap dengan kata-katanya tersebut Luna bisa tenang walau untuk sesaat.
"Aku benar-benar tidak habis pikir! Untuk apa sih, para orang kaya ini menghamburkan uang hanya demi nongkrong-nongkrong nggak jelas seperti ini? Serius, apa mereka nggak bisa nongki sambil minum bandrek di tepi jalan aja? Coba bayangkan, satu gelas wine di pesta ini harganya berapa? Puluhan juta, Lunna! Puluhan juta! Kalau uang segitu dipakai buat beli bandrek, aku yakin bisa dapat satu gerobak penuh, lengkap sama abang-abangnya!" Luna mendramatisir sambil menggerakkan tangan seolah menghitung angka di udara.
Wajahnya merekah dengan ekspresi penuh semangat, namun tak ada yang tahu apakah itu murni sarkasme atau emosi yang terpendam. Ia mendesah dramatis lalu melanjutkan dengan nada lebih tinggi, "Aaaaah, jiwa misqueen-ku meronta-ronta kalau begini, Lunna! Ini keterlaluan! Mereka hidup di dunia lain apa gimana sih?" cerocosnya.
Lunna hanya memutar bola matanya. Sebenarnya dia malas menjelaskan hal ini untuk kesekian ratus kali pada Luna. Tapi kalau tidak dia jelaskan maka suara cempreng Luna akan memenuhi kepalanya.
“Bukankah kalian yang memintaku untuk mengambil alih tubuh ini? Kalau begitu sebaiknya kau tidur saja di dalam sana seperti Lukcy dan Lusy. Seperti biasa yang kalian lakukan saat ini menguasai tubuh ini. Toh aku juga melakukan hal yang sama. Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau, Lucky ataupun Lucy lakukan saat aku ‘tidur’!" kata Lunna, kali ini dengan nada lebih tegas.
Luna mendengus kecil. “Ck... aku sebenarnya juga ingin begitu! Tapi terkadang jiwa kepo butuh dipuaskan. Aku juga ingin tahu seperti apa gaya hidup kaum orang kaya itu.”cerocos Luna dengan nada sewot.
Lunna menggelengkan kepala dengan kesal. “Kalau begitu, lihat dan nikmati saja. Tapi ingat satu hal, Luna, saat aku sedang bersama circle-ku, sesuai dengan perjanjian kita, kau atau yang lain tidak boleh muncul. Jangan sampai kemunculan kalian menghancurkan nama baikku atau membuatku terlihat aneh di mata mereka. Paham?" tekan Lunna.
Luna akhirnya menyerah dan bergumam, “Ah, tidak seru. Kalau begitu, aku lebih baik tidur atau bicara soal misi baru dengan Lucy dan Lucky.” Setelah itu, suara Luna menghilang dari pikiran Lunna, meninggalkan keheningan yang terasa sedikit mencurigakan.
“Apa dia bilang?? Misi baru?” gumam Lunna pelan sambil menatap wajahnya di cermin. "Luna??? Apa yang baru saja kau katakan?? Misi baru?? Misi apa?? Luna?? Luna??” Panggil Lunna pada dirinya sendiri di depan cermin bagai orang gila.
Tapi mau seberapa kalipun Lunna memanggil Luna, Luna tetap tidak menyahut.
“Apa dia benar-benar sudah pergi? Tapi rencana apa yang dia bicarakan?" Gumam Lunna bingung. Dia mencoba mengingat-ingat, namun tidak satu pun ingatan muncul tentang apa yang disebut Luna sebagai "misi baru."
Lunna mendesah, merasa lelah dengan intrik kecil yang datang dari sisi-sisi kepribadiannya sendiri. “Apa aku sedang tidur ketika mereka membahas ini? Ah, sudahlah!!! Apa pun itu, pasti tidak ada hubungannya denganku. Lagipula, tidak ada yang mengenal siapa aku di luar sana. Aku selalu keluar dengan topi seperti ini." Ucap Lunna pada dirinya sendiri sambil memegang tepian topinya.
Lunna tersenyum kecil pada bayangannya di cermin. Penampilannya saat ini adalah wujud sempurna dari seorang nona muda keluarga kaya yang misterius dan menawan. Namun, di balik itu, siapa sebenarnya Lunna bisa sangat berbeda tergantung pada kepribadian yang sedang menguasai tubuh itu.
Dalam wujud Luna, Lunna berubah menjadi seorang gadis yang sedikit bodoh, suka berbicara sembarangan, dan belagu. Namun, dia sangat ramah jika sudah mengenal seseorang lebih dekat. Luna adalah perwujudan dari jiwa yang selalu merasa miskin, fokus pada uang, dan tidak pernah puas tanpa perhitungan finansial yang logis.
Ketika menjadi Lucy, Lunna berubah total. Sosok Lucy adalah gadis berusia 18 tahun yang berpikiran bebas dan suka berpakaian seksi, dengan pemikiran liar yang sering kali melanggar norma.
Namun, yang paling menggemaskan adalah saat Lunna berubah menjadi Lucky. Di wujud ini, dia menjadi bocah berusia lima tahun yang manja dan menyusahkan, selalu membuat kekacauan dengan tingkah kekanak-kanakannya.
Setiap sisi ini memiliki karakteristik unik yang membuat kehidupan Lunna jauh lebih kompleks daripada kehidupan seorang nona muda biasa. Dan meskipun Lunna mencoba menjaga kendali di tengah kekacauan internal ini, dia tahu, tidak selamanya dia bisa sepenuhnya menguasai tubuhnya- atau mungkin ini bukan tubuhnya?
Albert menatap Damian dengan wajah penuh kekhawatiran. “Apa kau sudah bertemu dengan Luna?” tanyanya, mencoba mengumpulkan informasi tentang kondisi putri sahabatnya itu.Damian, yang tampak sedikit lelah, mengangguk pelan. “Hmm... dia baru saja pulang dan saat ini sedang ada di kamarnya,” jawabnya dengan nada datar, lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Sepertinya dia baik-baik saja. Sepenglihatanku, tidak ada hal yang janggal saat kami bertemu tadi. Aku cukup yakin kalau tadi aku sedang berbicara dengan Lunna, bukan Luna atau pun karakter lain dalam dirinya. Luna ku sudah lama tidak pulang. Mungkin setelah kematian sang ibu, dia telah melupakan aku sebagai rumahnya untuk pulang.” terang Damian, sedih.Sebagai sahabat dekat sekaligus dokter pribadi keluarga Damian, Albert tahu persis apa yang sedang dihadapi oleh putri sahabatnya itu. Pasca kematian sang ibu, Luna mengalami kondisi yang tergolong jarang terjadi. Namun, penyakit itu jelas bukanlah sesuatu yang remeh seperti
Pesta Dansa malam itu akhirnya dimulai. Cahaya lampu kristal menyinari ruangan yang dipenuhi tamu-tamu bangsawan, berpakaian mewah dengan senyum dan percakapan basa-basi. Musik klasik mengalun, menciptakan atmosfer elegan yang begitu khas dalam acara keluarga Smith dan Arberto.Di sudut ruangan, Hector menepuk bahu Darren dengan ringan, ekspresi wajahnya penuh kesungguhan. "Darren! Arah jam sembilan," ujarnya tegas. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu akan segera menikahi tunangannya, Mona, dalam waktu dekat. Namun, sebagai teman, Hector tidak tega membiarkan Darren masuk ke dalam perangkap wanita licik seperti Mona. Bagaimana mungkin ia tega melihat Darren terikat dengan wanita yang memiliki hubungan gelap dengan Giovani Smith- paman Darren sendiri?Darren, yang sedari tadi tampak santai dengan kaki bersilang, hanya terkekeh kecil sambil mengangkat gelas wine miliknya. "Kau benar-benar tidak lelah mencoba, Hector. Padahal kau tahu bahwa semua usaha mu itu adalah hal yang percuma. Aku d
Baru saja Luna mengira dirinya telah masuk dalam dunia kalangan atas, disaat yang sama sebuah rasa aneh mengalir di seluruh tubuhnya.“Bbrr! Bagaimana bisa Lunna menelan minuman tidak enak ini.” Seru Luna sambil memandangi gelas wine yang telah kosong.Sementara itu, di dalam tubuh yang sama, di dunia yang hanya bisa mereka rasakan, ketegangan tengah memuncak. Sebuah ketegangan yang sebenarnya telah ada sejak Luna menyetujui ide gila Dian namun masih bisa ditahan oleh Lucy dan Lucky dari dalam sana. Ya sebuah ketegangan yang lebih ke amukan amarah yang dirasakan oleh Lunna setelah di swith on dadakan oleh tiga karakter lainnya.Dan Boom!! Kinilah akhrinya ledakan amarah itu pun terjadi.“Apa kau sudah gila, Luna?!” bentak Lunna, suaranya penuh amarah. Ia berusaha memberontak untuk dapat mengambil alih tubuh Luna hanya saja sayangnya saat ini kendali Lucy dan Lucky dengan sekuat tenaga menahannya.“Kalian berdua cepat lepaskan aku! Aku harus segera membatalkan apa yang telah Luna setuju
Giovani terkejut dan marah mendengar kabar bahwa wanita yang akan dinikahkannya telah diganti. Tanpa melihat siapa penggantinya, ia protes keras. Seandainya saja Giovani tahu bahwa Lunna jauh lebih cantik daripada Andine, tentu ia tidak akan menolak. Bagaimanapun, Giovani memang mata keranjang.Ibunya, yang sekaligus nenek Darren, mencoba menenangkan Giovani. "Kau lihat dulu, Giovani! Baru kau protes." bujuk sang ibu.Giovani hanya bisa pasang muka masam. Bujukan sang ibu sama sekali tidak membuat moodnya kembali. Bahkan disaat seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan hal ini, Giovani sama sekali tidak memperlihatkan keinginannya untuk tahu lebih jauh mengenai pengganti tunangannya."Hei! Kenapa wajahmu masam seperti itu?" Sapa Mona, yang baru saja tiba dan langsung duduk di samping Giovani."Apa kau belum mendengarnya?" jawab Giovani ogah-ogahan."Mendengar apa? Ah iya! tentang calon tunangan mu yang kabur ya? Memangnya apa yang telah kau lakukan sehingga wanita itu kabur?" lan
Setelah melihat Luna, bukan hanya Giovani, bahkan Darren yang biasanya tegar pun goyah imannya. Padahal, sudah lama dia tidak goyah melihat wanita. Bahkan Mona, yang duduk tepat di sampingnya, tiba-tiba terlihat biasa saja dibandingkan dengan pesona Luna Arberto yang memancar.Sementara Giovani dan Darren terpana, reaksi Mona justru berbeda. Tangannya mengepal erat saat melihat dua pria yang dulu begitu tergila-gila padanya kini memandang Luna dengan penuh kekaguman. "Ini bahaya," pikir Mona. "Jika wanita ini berhasil masuk ke keluarga Smith, Giovani bisa jatuh cinta padanya. Dan Darren? Sepertinya dia pun terlihat terpesona. Aku harus menghentikan ini!"Mona berpikir keras untuk menghentikan hipnotis yang terpancar dari kecantikan Luna. Tapi permasalahannya, dia tidak tahu cara menghentikan semua kekacauan yang disebabkan oleh pesona Luna. Marah? Tapi Mona sendiri belum menjadi istri Darren, dia hanya calon. Dia tidak punya hak bicara banyak. Toh Darren juga tidak bertindak aneh-aneh
Satu minggu pun telah berlalu sejak pesta pertunangan itu. Tapi sungguh diluar prediksi Lunna bahwa Luna akan membuat satu masalah baru lagi. Sebuah masalah membuat kesabaran Lunna benar- benar diuji. "Apa? Yang benar saja!" Sekali lagi Lunna berteriak kencang. Baru seminggu yang lalu Lunna adu urat leher berdebat dengan Luna, hari ini Luna sudah membuat nya pusing lagi. Bisa-bisanya Luna setuju untuk tinggal bersama di rumah Giovani.Sebagai wanita konvensional, hal ini sungguh bertentangan dengan nilai-nilai yang Lunna anut. Makanya hari ini, seminggu setelah pertunangan itu, Lunna kembali mengamuk pada Luna."Lun, tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa di sana. Kamar kita dan kamar Giovani itu beda. Lagi pula, dia tidak akan bisa macam-macam! Dia sendiri sementara kita berempat," bujuk Luna sambil bercanda seperti biasanya."Sekali tidak, tetap tidak! Malah karena kita berempat itulah makanya situasi akan semakin kacau. Kau seperti tidak tahu saja sifat Lucy. Andaikan Giovani tidak
Giovani melirik Darren dan Luna bergantian. Entah apa yang ada di dalam kepalanya, tapi yang pasti saat ini sudah waktunya bagi Giovani untuk pergi karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan."Aku tinggal ya, sayang. Aku masih ada urusan di kantor. Kau bisa berbincang-bincang dengan Mona dan Darren di sini," ucap Giovani kemudian mengecup kening Lunna.Dengan terpaksa Lunna menerima kecupan dari pria itu karena bagaimanapun status pria itu kini adalah tunangannya. Akan sangat aneh kelihatannya jika Lunna menghindar saat Giovani menciumnya."Paman? Apa kau akan ke perusahaan? Apa aku boleh menumpang? Darren dia tidak bisa mengantarku karena dia harus memeriksa beberapa berkas proyek di rumah," ujar Mona tiba-tiba. Mona memang suka memanggil Paman jika ada Darren di dekatnya. Hal itu pastinya karena dia tidak ingin Darren curiga akan kedekatannya dengan Giovani. Apalagi untuk tujuan pergi berduaan dengan Giovani sudah pasti Mona akan memanggil Giovani dengan panggilan Paman."Apa kau tid
Darren duduk di kamarnya, matanya menatap foto Luna Arberto yang diam-diam dia ambil tadi. Foto itu seolah memancarkan pesona yang sulit dia abaikan. Dalam benaknya, bayangan wajah Luna muncul begitu jelas—saat Luna melepas topi, wajah cantiknya terpampang utuh. Mata, hidung, dan bibirnya begitu sempurna, kulitnya seputih susu, membuat Darren ingin menyentuhnya lagi dan lagi."Haruskah aku menggagalkan rmenjadi bibiku?" pikir Darren sambil tersenyum sinis, seolah ada rencana jahat yang mulai terbentuk di kepalanya."Atau cukup kurasakan saja?" gumamnya lagi, senyumnya semakin lebar saat teringat keberaniannya mencium Luna tadi.Darren sendiri tak tahu dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Tiba-tiba saja dia berani melakukan hal yang seharusnya tak boleh dilakukan pada calon istri pamannya. Tapi semuanya terjadi begitu saja, tanpa bisa dia kendalikan.Darren memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang hampir meledak karena memikirkan wanita yang seharusnya tak boleh disent
Tidak banyak yang terjadi malam itu. Giovani dan Lunna hanya mengobrol santai sambil terus mengamati perkembangan Darren.Sehari...Dua hari ...Tiga hari pun berlalu. Darren yang telah sadar pada hari kedua perawatannya di rumah sakit akhirnya diizinkan pulang.Saat itu, Darren sempat merasa heran karena tidak melihat Luna barang sehari pun sejak ia terjaga. Ingin rasanya ia bertanya kepada Giovani tentang keberadaan gadis itu. Apakah Luna memang tidak datang sama sekali untuk melihat keadaannya? Namun, tentu saja Darren tidak bisa menanyakan hal tersebut. Atas dasar apa ia harus menanyakan Luna pada Giovani pula?? Bukankah kalau ada orang yang harus dia tanya, itu adalah Mona?***Satu jam setelah Giovani dan Darren tiba di mansion keluarga Smith, mereka disambut oleh Diana Smith dan Mona yang sudah menunggu di depan pintu. Namun, sekali lagi, Darren tidak melihat Luna. Di mana gadis itu? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Karena masih belum diperbolehkan dokter untuk banya
Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dua orang di dalamnya—Giovani dan Lunna.Keheningan yang menggantung di udara membuat Lunna merasa tak nyaman. Ia sadar, tak ada orang lain di sana selain dirinya dan pria itu."Kalau kupikir-pikir, selama ini kita bahkan belum pernah bicara berdua saja, kan, Luna?" suara Giovani memecah kesunyian.Pria itu yang tadinya berdiri di dekat pintu perlahan melangkah mendekat ke arah Lunna yang duduk di sofa. Tatapannya penuh makna, seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan biasa."Maafkan aku," lanjut Giovani, suaranya terdengar tulus. "Pekerjaan di kantor sedang sangat banyak. Ditambah lagi, ada beberapa janji yang sudah terlanjur terjadwal dan tidak bisa aku batalkan. Semua itu membuatku tak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersamamu. Padahal, seharusnya kita berdua lebih sering bersama. Tapi lihatlah, karena diriku, kau jadi merasa kesepian."Giovani akhirnya duduk di samping Lunna, namun bukannya menjaga ja
Bunyi monitor kecil berdenging pelan di dalam ruangan, menciptakan ritme monoton yang bercampur dengan suara tarikan napas lemah dari ventilator. Darren terbaring diam di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat, tubuhnya nyaris tak bergerak selain naik-turun halus di bawah pengaruh alat bantu napas. Delapan jam operasi telah berlalu sejak peluru yang hampir menyentuh jantungnya dikeluarkan. Namun, kesadarannya masih belum kembali.Mona berdiri di samping Giovani, matanya menatap Darren yang terbaring tak berdaya di balik dinding kaca ICU. Suaranya berbisik ketika akhirnya ia bertanya, "Apa Darren akan sadar?"Giovani tidak mengalihkan tatapannya dari Darren. Rahangnya mengeras, matanya tajam seakan berusaha menembus tabir ketidakpastian yang menyelimuti sahabatnya. "Dia harus sadar," jawabnya lirih, tetapi penuh keyakinan.Mona melirik Giovani dari sudut matanya, mengamati ekspresi pria itu dengan hati-hati. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menekan kekesalan y
Giovani menarik tubuh ibunya ke belakangnya, tubuhnya menjadi tameng bagi wanita yang telah melahirkannya. Dua peluru yang bersarang di lengannya seolah bukan apa-apa baginya. Rasa sakit yang menjalar di otot dan tulangnya seolah tak cukup kuat untuk membuatnya mundur."Giovani?!" seru Diana, matanya berkaca-kaca saat melihat darah mengalir dari lengan putranya."Bu, tetaplah di belakangku! Putramu ini tidak akan roboh semudah itu!" ucap Giovani mantap, matanya tajam menatap sang penjahat di depannya.Diana mengangguk dengan penuh kepercayaan. "Ibu percaya, Nak."Di seberang ruangan, seorang pria bertopeng mengangkat pistolnya, seringai kejam tersungging di wajahnya. "Hah! Jangan banyak bicara! Kalian berdua akan segera aku kirim ke akhirat dengan cepat!" Tawanya meledak, merasa yakin bahwa dia dan komplotannya telah berhasil melumpuhkan semua orang di dalam mansion keluarga Smith.Giovani tetap menatap lurus ke arah penjahat itu. Otaknya bekerja cepat. Pria ini sendirian di ruangan in
Lunna kini mulai memahami situasi yang tengah mereka hadapi. Pikirannya dipenuhi kewaspadaan, dan matanya menatap Darren dengan penuh tanda tanya."Lalu bagaimana sekarang?" tanyanya dengan nada khawatir.Darren tak langsung menjawab. Ia berjalan cepat ke meja kerjanya, menghidupkan laptop untuk mengecek rekaman CCTV yang tersebar di seluruh mansion. Namun, begitu melihat sesuatu di layar, wajahnya langsung menegang."Sial!" makinya seraya berdiri dengan tergesa-gesa. Ia berlari menuju lemari di sudut ruangan, menarik laci dengan kasar, dan mengambil dua pistol. Dengan cekatan, ia menyelipkan senjata itu ke pinggangnya.Melihat perubahan sikap Darren yang tiba-tiba menjadi panik, Lunna ikut merasa cemas. Ia segera meraih tangan Darren, menahannya sebelum lelaki itu melangkah pergi."Apa yang terjadi? Dan kau mau ke mana?" tanya Lunna dengan penuh kegelisahan.Darren menatap Lunna sejenak sebelum menjawab dengan nada tegas. "Paman dan nenek sedang disandera oleh para penjahat di lantai
Kurama menatap Lunna dan Darren bergantian, wajahnya dipenuhi tawa ceria. “Hahaha, kalian sangat serasi! Sungguh!” katanya dengan suara lantang. “Nah, karena hatiku sangat senang hari ini, aku mengundang kalian berdua untuk makan siang denganku. Kalian tidak akan menolaknya, kan?”Darren segera merespons dengan penuh keyakinan. “Tentu saja tidak. Iya kan, sayang?” Nada suaranya sengaja dibuat lebih dalam, seolah menginginkan Lunna menegaskan kesediaannya.Lunna tersenyum, meski dalam hatinya ada sedikit keterpaksaan. “Ya! Tentu saja.”**Setelah makan siang usai, mereka akhirnya kembali ke mobil. Lunna duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat di dadanya, menatap Darren dengan tatapan yang penuh makna.“Kau memang sangat ahli memanfaatkan situasi, Darren,” katanya dengan nada sinis.Darren, yang tengah menyalakan mesin mobil, hanya tersenyum sambil melirik ke arah Lunna. “Tapi kau terlihat sangat menikmatinya, Bibi.” Ucapnya, lalu mengedipkan matanya dengan jenaka.Lunna mendengu
Meeting panjang bersama Kurama akhirnya selesai. Namun, di luar dugaan, tamu Darren ternyata adalah seorang pria Jepang yang fasih berbahasa Indonesia. Darren, yang awalnya mengandalkan Luna untuk membantunya berkomunikasi dalam bahasa Jepang, justru menemukan bahwa Tetsuji Kurama sangat memahami Bahasa Indonesia. Bahkan, selain mengucapkan "Ohayou Gozaimasu! / おはようございます", tak ada lagi kalimat dalam bahasa Jepang yang keluar dari mulut mereka bertiga—Luna, Darren, dan Kurama.Selama rapat berlangsung, ketiganya berbicara dengan lancar dalam Bahasa Indonesia."Tuan Kurama, aku sangat berharap kerja sama ini dapat benar-benar terwujud antara perusahaan mu dan perusahaan kami," ucap Darren dengan penuh keyakinan."Aku pun demikian, Tuan Darren. Namun, sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku terlibat dalam bisnis real estate," ungkap Kurama dengan jujur. "Tuan Kurama, Anda tidak perlu khawatir. Saat ini, bisnis real estate memiliki potensi yang sangat besar karena merupakan bentuk usah
Diana Smith menatap Lunna dengan ekspresi khas seorang nyonya besar yang sulit untuk ditolak. "Kau tidak keberatan, kan, Luna, kalau harus menemani Darren di kantor hari ini?" ulangnya dengan suara lembut namun penuh tekanan.Darren terdiam, tak peduli apa maksud sebenarnya dari sang nenek, tapi yang pasti hal ini sangat menguntungkannya. Namun tentunya Darren tidak bisa dengan bebas mengekspresikan rasa bahagianya yang tak terkira itu begitu saja. Dia harus tetap pasang wajah cool dan tenangnya di depan semua. Padahal di dalam hati, Darren bersorak kegirangan. n.Berbeda dengan Darren, Lunna justru merengut. Dia sama sekali tidak ingin berdekatan dengan Darren. Terjebak di rumah ini karena rencana si Luna biang kerok itu saja sudah membuat hari-hari Lunna penuh tekanan batin dan kewaspadaan tingkat tinggi. Ini malah ditambah harus ikut ke kantor dengan si Darren. Hal ini sungguh sangat menyebalkan baginya. "Kenapa harus begini sih?" gerutunya dalam hati, meskipun terpaksa harus pasa
"Dimana dia??"Setelah mengantar Mona ke kamar, Darren segera berlari menuju kamarnya. Sepanjang jalan Darren mengumpat kesal karena tadi dia lupa mengunci pintu. Hal ini karena dia terlalu bersemangat untuk mengirim Mona menjauh dari kamarnya. Tapi lihatlah akibatnya, Luna pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur. "Sial! Ternyata benar dia sudah kabur!" gerutu Darren, yang saking kesalnya memukul keras tepian tempat tidurnya. Darren melirik jam tangannya. Hari sudah menunjukan hampir pukul tiga pagi. Dengan cepat, ia mulai merapikan dokumen rapat yang berserakan di atas tempat tidur. Besok pagi-pagi ia harus sudah berangkat ke kantor. Ada hal penting yang harus dia lakukan besok jadi urusannya dengan Luna dia cukupkan saja sampai di sini- untuk hari ini. Dia akan membuat perhitungan dengan Luna untuk ciuman itu setelah urusannya selesai.***Matahari mulai muncul, menyinari mansion megah keluarga Smith. Seluruh anggota keluarga yang tinggal di sana sudah berkumpu