Giovani terkejut dan marah mendengar kabar bahwa wanita yang akan dinikahkannya telah diganti. Tanpa melihat siapa penggantinya, ia protes keras. Seandainya saja Giovani tahu bahwa Lunna jauh lebih cantik daripada Andine, tentu ia tidak akan menolak. Bagaimanapun, Giovani memang mata keranjang.
Ibunya, yang sekaligus nenek Darren, mencoba menenangkan Giovani. "Kau lihat dulu, Giovani! Baru kau protes." bujuk sang ibu.
Giovani hanya bisa pasang muka masam. Bujukan sang ibu sama sekali tidak membuat moodnya kembali. Bahkan disaat seluruh keluarga berkumpul untuk membicarakan hal ini, Giovani sama sekali tidak memperlihatkan keinginannya untuk tahu lebih jauh mengenai pengganti tunangannya.
"Hei! Kenapa wajahmu masam seperti itu?" Sapa Mona, yang baru saja tiba dan langsung duduk di samping Giovani.
"Apa kau belum mendengarnya?" jawab Giovani ogah-ogahan.
"Mendengar apa? Ah iya! tentang calon tunangan mu yang kabur ya? Memangnya apa yang telah kau lakukan sehingga wanita itu kabur?" lanjut Mona bertanya sambil berbisik.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Aku bahkan belum bertemu dengannya." jawab Giovani memegang tangan Mona di bawah meja.
"Gio, lepaskan. Bagaimana kalau ada yang melihat." dengan lembut Mona menepis tangan Giovani. Dia tidak ingin ada yang melihat hal tersebut sebab akan membahaya hubungannya dengan Darren. Bagaimana pun Darrena adalah keponakan Giovani. Apa kata orang jika melihat tangan Mona dipegang mesra oleh Giovani.
"Kau terlalu takut, Mona." cibir Giovani lalu mengatur jarak dari Mona.
"Apa yang Mona takutkan, Paman?" tiba-tiba dari belakang Mona dan Giovani telah berdiri Darren. Hal ini tentunya membuat darah Mona dan Giovani tersirap. Kecemasan sempat melanda mereka untuk sesaat. Bagaimana kalau Darren melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi antara Mona dan Giovani.
"Darren? Kapan kau datang? Ayo duduklah di sebelah Mona. Aku dan Mona baru saja berbincang tentang ide gila keluarga Alberto yang ingin merubah calon bibimu. Aku ingin protes tapi Mona menasehatiku untuk duduk diam dan menerima saja keputusan dua keluarga ini. Aku rasa dia terlalu penakut." Kilah Giovani dengan mengarang sebuah cerita walau sebenarnya dia sendiri tidak yakin Darren akan percaya atau tidak. Secara baik dirinya maupun Mona tidak tahu sejak kapan Darren telah berdiri di belakang mereka.
"Oh, aku pikir hal apa tadinya. Karena asal kau tahu paman, wanita ku ini adalah orang yang sangat berani." Ucap Darren kemudian mengecup leher Mona, baru setelahnya dia duduk di kursi yang ada di samping Mona.
"Jadi paman, kemana perginya calon bibiku itu?" tanya Darren, membuka obrolan baru dengan Giovani.
"Entahlah! Aku sendiri pun tidak tahu." jawab Giovani singkat. Moodnya kembali hilang setelah kehadiran Darren yang merusak keromantisannya bersama Mona.
"Sepertinya tidak ada satupun dari kita penyebabnya. Aku berharap hal serupa tidak akan terjadi pada diriku. Jangan sampai ketika semua persiapan pernikahan telah siap, kau malah kabur sayang. Kau tidak akan meninggalkan aku di detik-detik terakhir pernikahan kita?" Tiba-tiba saja pertanyaan Darren berbelok tajam ke Mona. Membuat Mona terbatuk-batuk kecil karena saking kagetnya.
"Tentu saja, sayang. Aku tidak akan mungkin meninggalkanmu. Lagi pula hal ini terjadi mungkin karena paman dan wanita baru akan memasuki tahap pertunangan. Sedangkan hubungan kita? Kita ini sudah melewati itu semua. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpa mu Darren. " ucap Mona sambil tersenyum manis.
Mona mengelus lembut pipi Darren dan menatap Darren dengan penuh cinta. Namun disaat bersamaan, Giovani malah membelai lembut paha Mona yang tersingkap karena rok yang ia kenakan terlalu mini.
Giovani tersenyum nakal dan segera menyudahi aksi gilanya. Baginya sudah cukup untuk menggoda tunangan keponakannya itu.
"Giovani, kemarilah sebentar." Panggil tetua dari keluarga Arberto pada Giovani. Mungkin mereka ingin memperkenalkan wanita yang akan menjadi pengganti tunangan Giovani yang kabur.
Seperginya Giovani, Mona terlihat sedikit resah. Dia sibuk melihat ke kiri ke kanan seolah sedang mencari sesuatu.
"Kau ingin tetap di sini, atau kita pergi mencari udara segar keluar, sayang?" tanya Darren pada Mona karena menyadari kalau Mona sedang resah seolah menandakan bahwa Mona tidak betah di dalam ruangan itu.
"Tidak perlu sayang. Sebaiknya kita tetap di sini saja. Aku penasaran seperti apa rupa putri tertua keluarga Arberto ini. Secara yang aku tahu dia selalu menggunakan topi yang menutupi wajahnya sehingga tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa wajahnya Luna Arberto sebenarnya." jawab Mona mengajak Darren tetap di tempat.
Darren cukup terkejut mendapati informasi ini. Secara biasanya wanita pasti sangat suka memamekan wajah cantik mereka. Tapi mengapa nona muda satu ini malah menyembunyikan wajahnya? Apa jangan-jangan dia jelek?
"Memakai topi yang pakai jaring? Maksudmu dia selalu mengenakan topi jaring seperti putri dan ratu di kerajaan Inggris?" tanya Darren penasaran.
"Benar. Bahkan jaring itu hampir menutup sebagian besar wajanya. Selain itu, dia juga tidak pernah keluar di siang hari. Satu-satunya acara yang dia hadiri adalah pesta yang diadakan di malam hari. Itulah mengapa kami selalu menjuluki dia putri vampire. Karena dia memang tidak pernah keluar di siang hari," jelas Mona panjang kali lebar.
Darren reflek berdecak kagum, "Wow! Berarti wanita yang akan menjadi bibiku kelak adalah seorang wanita misterius?"
Mona mengangguk. "Begitulah kira-kira. Jadi kita tunggu saja dia datang. Aku sendiri sebenarnya juga sangat penasaran dengan wajahnya. Eh, tunggu! Sepertinya itu dia," tunjuk Mona pada seorang gadis yang mengenakan gaun berwarna salem berbahan sutra dengan potongan V di lehernya, lengkap dengan topi dan jaring yang berwarna senada.
Darren tiba-tiba teringat. "Dia—" Darren menggumam dalam hati, "Bukankah dia adalah gadis yang tadi?"
Di ruangan pesta tadi, Darren tidak begitu jelas melihat gadis itu, tetapi di sini, lampu yang terang membuat kulit putih sang gadis bersinar. Bahkan putihnya kulit gadis itu seolah mengalahkan putihnya warna cat dinding ruangan keluarga Smith.
Wajah sang gadis yang tidak terlihat di ruangan pesta karena lampu yang tidak terlalu terang tadi, kini tampak jelas meskipun masih menggunakan topi yang sama. "Cantik sekali," puji Darren dalam hati. Ia benar-benar terkesima melihat calon istri pamannya tersebut.
Setelah melihat Luna, bukan hanya Giovani, bahkan Darren yang biasanya tegar pun goyah imannya. Padahal, sudah lama dia tidak goyah melihat wanita. Bahkan Mona, yang duduk tepat di sampingnya, tiba-tiba terlihat biasa saja dibandingkan dengan pesona Luna Arberto yang memancar.Sementara Giovani dan Darren terpana, reaksi Mona justru berbeda. Tangannya mengepal erat saat melihat dua pria yang dulu begitu tergila-gila padanya kini memandang Luna dengan penuh kekaguman. "Ini bahaya," pikir Mona. "Jika wanita ini berhasil masuk ke keluarga Smith, Giovani bisa jatuh cinta padanya. Dan Darren? Sepertinya dia pun terlihat terpesona. Aku harus menghentikan ini!"Mona berpikir keras untuk menghentikan hipnotis yang terpancar dari kecantikan Luna. Tapi permasalahannya, dia tidak tahu cara menghentikan semua kekacauan yang disebabkan oleh pesona Luna. Marah? Tapi Mona sendiri belum menjadi istri Darren, dia hanya calon. Dia tidak punya hak bicara banyak. Toh Darren juga tidak bertindak aneh-aneh
Satu minggu pun telah berlalu sejak pesta pertunangan itu. Tapi sungguh diluar prediksi Lunna bahwa Luna akan membuat satu masalah baru lagi. Sebuah masalah membuat kesabaran Lunna benar- benar diuji. "Apa? Yang benar saja!" Sekali lagi Lunna berteriak kencang. Baru seminggu yang lalu Lunna adu urat leher berdebat dengan Luna, hari ini Luna sudah membuat nya pusing lagi. Bisa-bisanya Luna setuju untuk tinggal bersama di rumah Giovani.Sebagai wanita konvensional, hal ini sungguh bertentangan dengan nilai-nilai yang Lunna anut. Makanya hari ini, seminggu setelah pertunangan itu, Lunna kembali mengamuk pada Luna."Lun, tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa di sana. Kamar kita dan kamar Giovani itu beda. Lagi pula, dia tidak akan bisa macam-macam! Dia sendiri sementara kita berempat," bujuk Luna sambil bercanda seperti biasanya."Sekali tidak, tetap tidak! Malah karena kita berempat itulah makanya situasi akan semakin kacau. Kau seperti tidak tahu saja sifat Lucy. Andaikan Giovani tidak
Giovani melirik Darren dan Luna bergantian. Entah apa yang ada di dalam kepalanya, tapi yang pasti saat ini sudah waktunya bagi Giovani untuk pergi karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan."Aku tinggal ya, sayang. Aku masih ada urusan di kantor. Kau bisa berbincang-bincang dengan Mona dan Darren di sini," ucap Giovani kemudian mengecup kening Lunna.Dengan terpaksa Lunna menerima kecupan dari pria itu karena bagaimanapun status pria itu kini adalah tunangannya. Akan sangat aneh kelihatannya jika Lunna menghindar saat Giovani menciumnya."Paman? Apa kau akan ke perusahaan? Apa aku boleh menumpang? Darren dia tidak bisa mengantarku karena dia harus memeriksa beberapa berkas proyek di rumah," ujar Mona tiba-tiba. Mona memang suka memanggil Paman jika ada Darren di dekatnya. Hal itu pastinya karena dia tidak ingin Darren curiga akan kedekatannya dengan Giovani. Apalagi untuk tujuan pergi berduaan dengan Giovani sudah pasti Mona akan memanggil Giovani dengan panggilan Paman."Apa kau tid
Darren duduk di kamarnya, matanya menatap foto Luna Arberto yang diam-diam dia ambil tadi. Foto itu seolah memancarkan pesona yang sulit dia abaikan. Dalam benaknya, bayangan wajah Luna muncul begitu jelas—saat Luna melepas topi, wajah cantiknya terpampang utuh. Mata, hidung, dan bibirnya begitu sempurna, kulitnya seputih susu, membuat Darren ingin menyentuhnya lagi dan lagi."Haruskah aku menggagalkan rmenjadi bibiku?" pikir Darren sambil tersenyum sinis, seolah ada rencana jahat yang mulai terbentuk di kepalanya."Atau cukup kurasakan saja?" gumamnya lagi, senyumnya semakin lebar saat teringat keberaniannya mencium Luna tadi.Darren sendiri tak tahu dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Tiba-tiba saja dia berani melakukan hal yang seharusnya tak boleh dilakukan pada calon istri pamannya. Tapi semuanya terjadi begitu saja, tanpa bisa dia kendalikan.Darren memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang hampir meledak karena memikirkan wanita yang seharusnya tak boleh disent
Malam telah larut, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Di dalam kamar yang megah dan elegan, seorang gadis perlahan membuka matanya. Itu bukan lagi Lunna, melainkan Lucky—salah satu dari empat kepribadian yang dijanjikan berhak menggunakan tubuh Luna selama satu jam setiap malamnya.“Hmmm... bagus juga kamarnya. Tapi tidak ada boneka! Tidak seru!” gumam Lucky dengan nada kekanak-kanakan saat duduk di tepi tempat tidur.Wajahnya mengerut, merasa kecewa karena muncul di kamar yang membosankan di matanya.“Padahal Kak Lunna tahu kalau aku suka boneka. Tapi kenapa di kamar ini tidak ada boneka sama sekali? Tempat ini terlalu dewasa untuk anak kecil seperti aku,” celotehnya."Selain itu, es krim yang dijanjikan kak Luna pun tidak kelihatan." Serunya sewot setelah lelah matanya menyapu setiap sudut ruangan untuk melihat apakah di sana ada freezer atau tidak. Tapi ya begitulah nothing! Tidak ada satupun hal yang Lucky sukai ada di dalam kamar yang nan megah itu.Karena terlalu bosan, Lucky
Luna buru-buru turun dari tempat tidur, tetapi gerakannya masih kalah cepat dengan Darren yang segera menahannya dengan cara memeluknya dari belakang. Pria itu membisikkan sesuatu di telinga Luna, suaranya rendah dan begitu menggoda. "Kau mau ke mana, Bi? Kenapa sepertinya buru-buru sekali?"Bisikan itu sukses membuat seluruh bulu roma Luna berdiri. Wajah Luna memanas, apalagi saat menyadari bahwa punggungnya bersentuhan langsung dengan tubuh Darren yang tak berbalut pakaian."A-aku? Aku akan kembali ke kamarku," jawab Luna terbata. Jantungnya berdegup kencang, begitu kuat hingga ia sendiri tidak yakin apakah itu detaknya atau detak jantung Darren.Darren tersenyum kecil, lalu semakin mengeratkan pelukannya. "Memangnya kapan aku mengizinkanmu untuk keluar? Kau bahkan belum mendapatkan hukuman apa pun karena berani masuk ke ruang kerjaku dan memakan coklat-coklatku. Bukankah seorang pencuri yang tertangkap harus dihukum sebelum dibebaskan?" bisik Darren. Dan lagi dan lagi mujarab membua
Untuk waktu sesingkat ini, satu-satunya yang terpikirkan oleh Luna ialah meminta bantuan pada Lucy, karakter yang paling dilarangnya untuk muncul oleh Lunna. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya buaya betina yang bisa menundukkan buaya darat. Kita lihat saja, apakah Darren mampu mengalahkan Lucy seperti dia mengalahkan Lunna dan Luna? "Aku mohon Lucy! Muncullah." Panggil Luna yang bak sebuah direct pesan hanya pada Lucy tanpa harus diketahui oleh karakter yang lain yang ada di dalam diri Luna.Lucy membuka matanya setelah bertukar tempat dengan Luna. "Akhirnya, tanpa harus meminta, aku malah dipanggil untuk muncul," gumamnya sambil menempelkan pipinya di atas lantai yang dingin."Bbrr.. dinginnya..." seru Lucy pelan, menikmati sensasi dingin itu. Namun ketika ia sedang menikmati dinginnya lantai kamar Darren tiba-tiba—"Hah? Kaki siapa ini?" lanjutnya heran saat melihat sepasang kaki seorang wanita yang masih lengkap dengan sepatu high heels berwarna merah tepat di hadapannya."Oh! Aku pah
Darren tidak pernah menyangka bahwa Luna, yang selalu membatu saat ia cium, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Bahkan Luna sudah berani menciumnya. Dan itu bukan hanya sebatas bibir bertemu bibir melainkan sesuatu yang dalam dan sangat liar. Darren belum pernah merasakan sensari berciuman seperti itu sebelumnya. "Usir dia atau aku akan keluar dari tempat ini," ancam Lucy kemudian menyeringai, lalu menopangkan dagunya di kedua tangan, dan tersenyum manis pada Darren. Sementara itu, Darren masih blank. Pikirannya masih berputar-putar pada ciuman panas Lucy yang dikiranya adalah Luna."Kau sungguh ingin Mona melihatku?" Ulang Lucy, terpaksa mengancam sampai dua kali karena Darren hanya mematung di hadapannya."Baiklah." Seru Lucy, kehabisan kesabarannya dan hendak bergerak dari posisinya.Baru setelah melihat Lucy akan bergerak keluar Darren tersentak dan langsung menahan tubuh Lucy. Setelah itu dia buru-buru naik kembali ke atas tempat tidur, berusaha menyembunyikan gejolak di
Tidak banyak yang terjadi malam itu. Giovani dan Lunna hanya mengobrol santai sambil terus mengamati perkembangan Darren.Sehari...Dua hari ...Tiga hari pun berlalu. Darren yang telah sadar pada hari kedua perawatannya di rumah sakit akhirnya diizinkan pulang.Saat itu, Darren sempat merasa heran karena tidak melihat Luna barang sehari pun sejak ia terjaga. Ingin rasanya ia bertanya kepada Giovani tentang keberadaan gadis itu. Apakah Luna memang tidak datang sama sekali untuk melihat keadaannya? Namun, tentu saja Darren tidak bisa menanyakan hal tersebut. Atas dasar apa ia harus menanyakan Luna pada Giovani pula?? Bukankah kalau ada orang yang harus dia tanya, itu adalah Mona?***Satu jam setelah Giovani dan Darren tiba di mansion keluarga Smith, mereka disambut oleh Diana Smith dan Mona yang sudah menunggu di depan pintu. Namun, sekali lagi, Darren tidak melihat Luna. Di mana gadis itu? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Karena masih belum diperbolehkan dokter untuk banya
Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan dua orang di dalamnya—Giovani dan Lunna.Keheningan yang menggantung di udara membuat Lunna merasa tak nyaman. Ia sadar, tak ada orang lain di sana selain dirinya dan pria itu."Kalau kupikir-pikir, selama ini kita bahkan belum pernah bicara berdua saja, kan, Luna?" suara Giovani memecah kesunyian.Pria itu yang tadinya berdiri di dekat pintu perlahan melangkah mendekat ke arah Lunna yang duduk di sofa. Tatapannya penuh makna, seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan biasa."Maafkan aku," lanjut Giovani, suaranya terdengar tulus. "Pekerjaan di kantor sedang sangat banyak. Ditambah lagi, ada beberapa janji yang sudah terlanjur terjadwal dan tidak bisa aku batalkan. Semua itu membuatku tak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersamamu. Padahal, seharusnya kita berdua lebih sering bersama. Tapi lihatlah, karena diriku, kau jadi merasa kesepian."Giovani akhirnya duduk di samping Lunna, namun bukannya menjaga ja
Bunyi monitor kecil berdenging pelan di dalam ruangan, menciptakan ritme monoton yang bercampur dengan suara tarikan napas lemah dari ventilator. Darren terbaring diam di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat, tubuhnya nyaris tak bergerak selain naik-turun halus di bawah pengaruh alat bantu napas. Delapan jam operasi telah berlalu sejak peluru yang hampir menyentuh jantungnya dikeluarkan. Namun, kesadarannya masih belum kembali.Mona berdiri di samping Giovani, matanya menatap Darren yang terbaring tak berdaya di balik dinding kaca ICU. Suaranya berbisik ketika akhirnya ia bertanya, "Apa Darren akan sadar?"Giovani tidak mengalihkan tatapannya dari Darren. Rahangnya mengeras, matanya tajam seakan berusaha menembus tabir ketidakpastian yang menyelimuti sahabatnya. "Dia harus sadar," jawabnya lirih, tetapi penuh keyakinan.Mona melirik Giovani dari sudut matanya, mengamati ekspresi pria itu dengan hati-hati. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menekan kekesalan y
Giovani menarik tubuh ibunya ke belakangnya, tubuhnya menjadi tameng bagi wanita yang telah melahirkannya. Dua peluru yang bersarang di lengannya seolah bukan apa-apa baginya. Rasa sakit yang menjalar di otot dan tulangnya seolah tak cukup kuat untuk membuatnya mundur."Giovani?!" seru Diana, matanya berkaca-kaca saat melihat darah mengalir dari lengan putranya."Bu, tetaplah di belakangku! Putramu ini tidak akan roboh semudah itu!" ucap Giovani mantap, matanya tajam menatap sang penjahat di depannya.Diana mengangguk dengan penuh kepercayaan. "Ibu percaya, Nak."Di seberang ruangan, seorang pria bertopeng mengangkat pistolnya, seringai kejam tersungging di wajahnya. "Hah! Jangan banyak bicara! Kalian berdua akan segera aku kirim ke akhirat dengan cepat!" Tawanya meledak, merasa yakin bahwa dia dan komplotannya telah berhasil melumpuhkan semua orang di dalam mansion keluarga Smith.Giovani tetap menatap lurus ke arah penjahat itu. Otaknya bekerja cepat. Pria ini sendirian di ruangan in
Lunna kini mulai memahami situasi yang tengah mereka hadapi. Pikirannya dipenuhi kewaspadaan, dan matanya menatap Darren dengan penuh tanda tanya."Lalu bagaimana sekarang?" tanyanya dengan nada khawatir.Darren tak langsung menjawab. Ia berjalan cepat ke meja kerjanya, menghidupkan laptop untuk mengecek rekaman CCTV yang tersebar di seluruh mansion. Namun, begitu melihat sesuatu di layar, wajahnya langsung menegang."Sial!" makinya seraya berdiri dengan tergesa-gesa. Ia berlari menuju lemari di sudut ruangan, menarik laci dengan kasar, dan mengambil dua pistol. Dengan cekatan, ia menyelipkan senjata itu ke pinggangnya.Melihat perubahan sikap Darren yang tiba-tiba menjadi panik, Lunna ikut merasa cemas. Ia segera meraih tangan Darren, menahannya sebelum lelaki itu melangkah pergi."Apa yang terjadi? Dan kau mau ke mana?" tanya Lunna dengan penuh kegelisahan.Darren menatap Lunna sejenak sebelum menjawab dengan nada tegas. "Paman dan nenek sedang disandera oleh para penjahat di lantai
Kurama menatap Lunna dan Darren bergantian, wajahnya dipenuhi tawa ceria. “Hahaha, kalian sangat serasi! Sungguh!” katanya dengan suara lantang. “Nah, karena hatiku sangat senang hari ini, aku mengundang kalian berdua untuk makan siang denganku. Kalian tidak akan menolaknya, kan?”Darren segera merespons dengan penuh keyakinan. “Tentu saja tidak. Iya kan, sayang?” Nada suaranya sengaja dibuat lebih dalam, seolah menginginkan Lunna menegaskan kesediaannya.Lunna tersenyum, meski dalam hatinya ada sedikit keterpaksaan. “Ya! Tentu saja.”**Setelah makan siang usai, mereka akhirnya kembali ke mobil. Lunna duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat di dadanya, menatap Darren dengan tatapan yang penuh makna.“Kau memang sangat ahli memanfaatkan situasi, Darren,” katanya dengan nada sinis.Darren, yang tengah menyalakan mesin mobil, hanya tersenyum sambil melirik ke arah Lunna. “Tapi kau terlihat sangat menikmatinya, Bibi.” Ucapnya, lalu mengedipkan matanya dengan jenaka.Lunna mendengu
Meeting panjang bersama Kurama akhirnya selesai. Namun, di luar dugaan, tamu Darren ternyata adalah seorang pria Jepang yang fasih berbahasa Indonesia. Darren, yang awalnya mengandalkan Luna untuk membantunya berkomunikasi dalam bahasa Jepang, justru menemukan bahwa Tetsuji Kurama sangat memahami Bahasa Indonesia. Bahkan, selain mengucapkan "Ohayou Gozaimasu! / おはようございます", tak ada lagi kalimat dalam bahasa Jepang yang keluar dari mulut mereka bertiga—Luna, Darren, dan Kurama.Selama rapat berlangsung, ketiganya berbicara dengan lancar dalam Bahasa Indonesia."Tuan Kurama, aku sangat berharap kerja sama ini dapat benar-benar terwujud antara perusahaan mu dan perusahaan kami," ucap Darren dengan penuh keyakinan."Aku pun demikian, Tuan Darren. Namun, sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku terlibat dalam bisnis real estate," ungkap Kurama dengan jujur. "Tuan Kurama, Anda tidak perlu khawatir. Saat ini, bisnis real estate memiliki potensi yang sangat besar karena merupakan bentuk usah
Diana Smith menatap Lunna dengan ekspresi khas seorang nyonya besar yang sulit untuk ditolak. "Kau tidak keberatan, kan, Luna, kalau harus menemani Darren di kantor hari ini?" ulangnya dengan suara lembut namun penuh tekanan.Darren terdiam, tak peduli apa maksud sebenarnya dari sang nenek, tapi yang pasti hal ini sangat menguntungkannya. Namun tentunya Darren tidak bisa dengan bebas mengekspresikan rasa bahagianya yang tak terkira itu begitu saja. Dia harus tetap pasang wajah cool dan tenangnya di depan semua. Padahal di dalam hati, Darren bersorak kegirangan. n.Berbeda dengan Darren, Lunna justru merengut. Dia sama sekali tidak ingin berdekatan dengan Darren. Terjebak di rumah ini karena rencana si Luna biang kerok itu saja sudah membuat hari-hari Lunna penuh tekanan batin dan kewaspadaan tingkat tinggi. Ini malah ditambah harus ikut ke kantor dengan si Darren. Hal ini sungguh sangat menyebalkan baginya. "Kenapa harus begini sih?" gerutunya dalam hati, meskipun terpaksa harus pasa
"Dimana dia??"Setelah mengantar Mona ke kamar, Darren segera berlari menuju kamarnya. Sepanjang jalan Darren mengumpat kesal karena tadi dia lupa mengunci pintu. Hal ini karena dia terlalu bersemangat untuk mengirim Mona menjauh dari kamarnya. Tapi lihatlah akibatnya, Luna pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur. "Sial! Ternyata benar dia sudah kabur!" gerutu Darren, yang saking kesalnya memukul keras tepian tempat tidurnya. Darren melirik jam tangannya. Hari sudah menunjukan hampir pukul tiga pagi. Dengan cepat, ia mulai merapikan dokumen rapat yang berserakan di atas tempat tidur. Besok pagi-pagi ia harus sudah berangkat ke kantor. Ada hal penting yang harus dia lakukan besok jadi urusannya dengan Luna dia cukupkan saja sampai di sini- untuk hari ini. Dia akan membuat perhitungan dengan Luna untuk ciuman itu setelah urusannya selesai.***Matahari mulai muncul, menyinari mansion megah keluarga Smith. Seluruh anggota keluarga yang tinggal di sana sudah berkumpu