Beranda / Romansa / Terjebak Dalam Pesona / BAB 2: Masuk ke Dunia Baru

Share

BAB 2: Masuk ke Dunia Baru

Penulis: Septiono17
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-30 20:31:20

Malam pertama Lia di apartemen itu terasa panjang dan mencekam. Ia duduk di ujung tempat tidur yang sederhana, dengan lampu kamar yang redup. Suasana sepi mengelilinginya, hanya terdengar suara detakan jam di dinding yang menjadi latar belakang bagi pikirannya yang kacau. Ia memandangi pakaian yang diberikan Karina, pakaian yang jauh berbeda dari yang biasa ia kenakan—sebuah gaun malam berwarna hitam dengan belahan tinggi yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Lia mengusap wajahnya, mencoba mengusir kegelisahan yang semakin menggila. Apa yang telah ia lakukan? Ia merasa seolah-olah terperangkap dalam sebuah permainan yang tidak ia mengerti. Dunia kota yang sebelumnya penuh harapan kini terasa begitu asing. Ia teringat kembali pada ibunya yang mengkhawatirkan keputusannya, dan pada ayahnya yang semakin sakit. Mereka pasti tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di sini.

Pintu kamar yang terbuka sedikit, menyadarkan Lia dari lamunannya. Karina muncul, mengenakan pakaian yang jauh lebih modis dan percaya diri. Wajahnya yang cantik tampak tidak terpengaruh oleh dunia yang mereka jalani. "Lia," kata Karina dengan suara lembut namun penuh arti, "Ada tamu pertama untukmu malam ini. Jangan khawatir, kamu hanya perlu bersikap ramah dan menjaga sikap. Semuanya akan baik-baik saja."

Lia hanya mengangguk, meski hatinya berdegup kencang. Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana ia harus bertindak? Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang dalam, namun tak ada jalan lain selain melangkah.

Karina memberi Lia beberapa petunjuk tentang apa yang diharapkan darinya malam itu—menjadi teman bicara, mendengarkan cerita-cerita para tamu, dan menenangkan mereka dengan kehadirannya. "Jangan takut untuk beradaptasi, Lia," Karina melanjutkan. "Ini bukan tentang hubungan pribadi, hanya tentang menjaga suasana agar nyaman."

Lia tak bisa berkata apa-apa. Semuanya terdengar terlalu asing. Namun, dengan sedikit dorongan dari Karina, ia akhirnya keluar menuju ruang tamu, tempat seorang pria sudah menunggu.

Pria itu, yang tampak lebih tua dari Anton, mengenakan jas gelap dan berdiri dengan sikap percaya diri. Ia tersenyum tipis ketika Lia masuk, seolah sudah menunggu kehadirannya. Lia merasa sangat canggung, tapi ia berusaha tersenyum dan mendekati pria itu.

"Selamat malam," kata pria itu dengan suara dalam yang menenangkan. "Aku Kevin. Senang bertemu denganmu, Lia."

Lia hanya mengangguk, mencoba meredam ketegangan yang melanda dirinya. Ia duduk di kursi yang disediakan dan mulai berusaha berbicara. Namun, kata-kata terasa begitu sulit keluar. Apa yang harus ia katakan? Apa yang diinginkan pria ini darinya?

Kevin tampak lebih santai, sedikit membahas pekerjaan dan kehidupan di kota, namun Lia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam. Ia mencoba bertanya, berbicara seperti yang disarankan Karina, tapi hatinya tidak tenang. Setiap percakapan terasa dangkal, dan ia tahu ada yang sedang dimainkan di balik pertemuan ini—sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia pahami.

Malam itu, Lia harus menahan perasaan campur aduk yang mulai menguasai dirinya. Setiap kata, setiap tatapan dari Kevin, seolah menambah berat beban yang sudah ia pikul. Tak pernah ia bayangkan hidupnya akan berakhir di sini, terjebak dalam permainan yang bukan dia yang mengaturnya.

Saat Kevin akhirnya pergi, Lia merasa terlepas, namun perasaan kosong itu datang menggantikan kegelisahannya. Ia berjalan kembali ke kamarnya, merasa seolah-olah baru saja melewati sebuah ujian berat. Ia menatap bayangannya di cermin, wajah yang tampaknya tak banyak berubah, namun hatinya sudah terasa berbeda.

Apakah ini yang ia inginkan? Apakah semua ini akan membawa kebahagiaan yang dijanjikan Anton? Ataukah ia sedang menjerumuskan dirinya ke dalam dunia yang tak akan pernah bisa ia keluar?

---

Keesokan harinya, Karina datang lagi, kali ini dengan senyum penuh arti. "Bagaimana rasanya?" tanyanya, menatap Lia dengan cara yang sulit dipahami.

Lia menghela napas panjang. "Aku merasa... tidak tahu. Rasanya seperti aku bukan diriku sendiri."

Karina tertawa pelan. "Itulah bagian dari proses. Kamu akan terbiasa. Jangan khawatir, ini semua untuk kebaikanmu."

Lia hanya mengangguk. Apa lagi yang bisa ia katakan? Semua yang ia rasakan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia merasa semakin terperangkap dalam dunia ini, namun juga takut jika ia mundur. Keputusan yang ia ambil sudah terlanjur. Kini, ia harus menanggung konsekuensinya, meskipun hatinya terus berontak.

Di luar apartemen, kota tampak sama seperti sebelumnya—ramai, sibuk, dan penuh dengan harapan palsu. Lia tahu, hidupnya kini sudah berada di jalur yang tak bisa lagi ia kontrol sepenuhnya.

Malam-malam berikutnya berjalan begitu cepat. Setiap pertemuan dengan tamu yang berbeda, setiap percakapan yang hanya penuh kepura-puraan, mulai mengikis sesuatu dalam dirinya. Lia merasa semakin jauh dari diri yang ia kenal. Namun, di balik semua itu, ada secercah harapan yang terus menyala—bahwa suatu hari nanti, ia akan mampu keluar dari dunia ini. Mungkin suatu hari nanti, ia akan kembali ke desa dan membawa semua yang ia impikan. Namun, untuk sekarang, ia hanya bisa bertahan.

---

Bab terkait

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 3: Kehilangan Diri

    Hari-hari berlalu dengan cepat, namun bagi Lia, waktu seolah berjalan begitu lambat. Setiap malam yang ia lewati di apartemen itu, bertemu dengan tamu yang berbeda, setiap senyum yang dipaksakan, semakin membuat dirinya merasa hilang. Ia seperti bayangan yang tak pernah benar-benar ada, hanya mengikuti arus yang membawa ke tempat yang tidak diketahui.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Lia mempersiapkan dirinya dengan hati yang berat. Karina memberikan arahan seperti biasa, memberinya pakaian yang lebih menggoda daripada yang ia kenakan sebelumnya. Lia hanya menuruti, meski hatinya merasa semakin sesak. Ia menatap dirinya di cermin, mengenakan gaun merah yang memeluk tubuhnya, dengan rambut yang disisir rapi dan wajah yang dipoles dengan riasan. Semuanya terasa asing. Dulu, ia hanya memakai pakaian sederhana dan rambut yang dibiarkan lepas. Tapi sekarang, setiap pertemuan di dunia ini mengharuskannya tampil sempurna, seperti boneka yang dipoles.“Lia, kamu tampak sangat cantik

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 4: Keputusan yang Terlambat

    Lia duduk di ujung tempat tidur, matanya kosong menatap ke dinding putih yang hampir tak memberi kesan apapun. Ia merasa seperti hantu yang berjalan, bergerak tanpa tujuan, hidup tanpa makna. Setiap langkah yang ia ambil, setiap senyum yang ia paksakan, semakin membuatnya merasa kehilangan diri. Dunia yang ia kenal dulu, dunia desa yang sederhana, seakan semakin jauh dan tak terjangkau lagi. Kini, ia terperangkap dalam kehidupan yang penuh kebohongan dan ketakutan.Hari-hari berlalu dengan cepat, namun semuanya terasa begitu lambat. Setiap malam, ia dipaksa untuk bertemu dengan tamu-tamu yang berbeda—beberapa tampak ramah, namun kebanyakan hanya memandangnya dengan cara yang sangat berbeda. Lia belajar untuk tidak merasa terhina, belajar untuk menahan perasaan dan tetap tersenyum. Dunia ini tidak memberi ruang untuk keraguan atau kelemahan. Di dunia ini, dia harus menjadi apa yang mereka inginkan—sebuah bayangan dari kesempurnaan yang tak pernah ia rasakan.Suatu malam, seperti biasa,

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 5: Langkah Kecil Menuju Kebebasan

    Pagi itu, Lia bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya memandangi jendela yang menghadap ke kota. Udara pagi yang dingin menyusup melalui celah-celah jendela yang sedikit terbuka, membawa bau kota yang sibuk. Namun, meskipun suasana di luar terasa biasa, hatinya tak bisa berbohong. Ada perasaan yang lebih berat dari sebelumnya, sebuah perasaan yang semakin sulit untuk disangkal.Malam sebelumnya, setelah pertemuan dengan Darma, Lia merasa seolah-olah ada sesuatu yang terbangun dalam dirinya—sesuatu yang telah lama terkubur. Kata-kata Darma mengenai pilihan dan kebebasan bergaung terus dalam pikirannya. Namun, di sisi lain, ia juga tahu bahwa segala yang telah ia jalani sampai saat ini tidak bisa begitu saja dilupakan. Dunia yang telah mengikatnya terlalu kuat, terlalu dalam. Keluar dari sana berarti memulai semuanya dari awal, tanpa kepastian apa pun.Namun, meskipun hati dan pikirannya bertentangan, Lia tahu bahwa sesuatu harus berubah. Ia merasa semaki

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 6: Di Ambang Ketidakpastian

    Langkah Lia terasa ringan, namun setiap jengkal yang ia lewati seolah menambah beban di pundaknya. Setelah berbulan-bulan terjebak dalam rutinitas yang tak berujung, ia kini berada di luar dunia yang telah mengikatnya. Malam itu, kota yang seharusnya hidup dengan ribuan cahaya tampak begitu sunyi. Hanya suara deru kendaraan yang terdengar, tetapi hatinya berdebar keras, seolah ada ribuan suara yang menceritakan kisah-kisah yang belum ia ketahui.Ia melihat ke belakang, ke gedung tempat ia meninggalkan segalanya—kehidupan yang penuh dengan kemewahan semu dan kekosongan yang menyelimutinya. Ia tahu, meskipun dunia luar lebih keras dan penuh ketidakpastian, ia tidak bisa kembali lagi. Dunia itu sudah tidak bisa memberinya apa-apa lagi selain rasa terperangkap dan kehilangan jati diri.Darma sudah menunggu di luar, berdiri dengan tubuh tegap di pinggir trotoar, di bawah lampu jalan yang temaram. Wajahnya tenang, seolah tak terpengaruh oleh situasi yang baru saja terjadi. Lia merasakan ket

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 7: Cahaya di Ujung Terowongan

    Lia membuka matanya perlahan. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai jendela kecil di kamar sederhana tempat ia tidur. Udara segar memenuhi ruangan, jauh berbeda dengan kamar mewah namun sesak yang dulu menjadi penjaranya. Di sini, tidak ada suara musik bising, tidak ada aroma parfum yang menusuk, dan tidak ada suara langkah sepatu hak tinggi yang menghantui malam-malamnya. Ia bangun dari tempat tidur, merapikan rambutnya yang kusut, dan berjalan ke dapur kecil. Di meja, sudah ada segelas teh hangat dan sepiring roti yang disiapkan oleh pemilik rumah, seorang wanita paruh baya bernama Bu Sari. Wanita itu adalah teman lama Darma yang bersedia menampung Lia sementara waktu. “Selamat pagi, Lia. Tidurmu nyenyak?” Bu Sari menyapa dengan senyum ramah. “Selamat pagi, Bu. Iya, terima kasih. Aku tidur cukup nyenyak,” jawab Lia, meskipun dalam hatinya masih ada perasaan gelisah. Bu Sari duduk di seberangnya, menatapnya lembut. “Kamu bisa merasa tenang di sini. Tidak ada yang akan me

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 8: Bayangan yang Mengintai

    Malam itu, Lia duduk di balkon kecil rumah Bu Sari. Angin dingin menyentuh kulitnya, membuatnya merapatkan selimut yang ia kenakan. Suasana tenang di sekitar terasa menenangkan, namun di dalam dirinya ada kegelisahan yang sulit dijelaskan. Hari-hari di kafe mulai memberikan rasa nyaman, tetapi di sudut hatinya, ia tahu bahwa ketenangan ini belum sepenuhnya aman. Lia memejamkan mata, mencoba membiarkan pikirannya rileks. Namun, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Senyum licik para pria yang pernah ia temui, suara tawa sinis, dan sentuhan yang membuatnya merasa jijik semua kembali berputar di kepalanya. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. “Lia, kamu tidak apa-apa?” suara Bu Sari mengejutkannya. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan khawatir. Lia tersenyum samar. “Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit sulit tidur.” Bu Sari mendekat dan duduk di sampingnya. “Kamu tidak perlu memaksakan diri. Proses penyembuhan itu butuh waktu

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 9: Menyingkap Masa Lalu

    Lia duduk di sudut kamar, memandangi foto dari amplop misterius yang diterimanya. Wajahnya di foto itu adalah gambaran masa lalu yang ingin ia lupakan—polesan makeup tebal, senyum yang dipaksakan, dan gaun mahal yang menutupi luka di hatinya. Foto itu bukan hanya ancaman, melainkan bukti bahwa seseorang masih mengawasinya.Darma datang dengan ekspresi tegas, membawa secangkir teh hangat untuk Lia. “Aku sudah berbicara dengan Rani dan Bu Sari. Kita harus melaporkan ini ke polisi.”“Tapi… aku takut,” jawab Lia lirih. “Bagaimana kalau mereka tahu aku melarikan diri? Mereka bisa menyeretku kembali.”“Lia, kamu bukan budak mereka lagi. Kamu berhak hidup bebas. Ini waktunya kita melawan.”Lia menatap Darma. Ada kekuatan dalam matanya yang membuat Lia merasa sedikit lebih tenang.---Esok paginya, Lia dan Darma pergi ke kantor polisi terdekat. Lia menceritakan semua yang terjadi—bagaimana ia ditipu, dipaksa menjadi wanita penghibur, dan kini diancam. Polisi mencatat keterangannya dan berjanj

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 10: Bayang Bayang yang Mengintai

    Malam itu, hujan turun deras, menutupi suara langkah kaki di luar rumah Bu Sari. Lia duduk di ruang tamu bersama Darma dan Rani, mencoba mencari kehangatan dari teh yang baru saja diseduh. Namun, suasana tegang di antara mereka tak bisa disembunyikan.“Polisi bilang apa?” tanya Bu Sari, menyela keheningan.Darma meletakkan cangkirnya. “Mereka sedang memantau, tapi mereka juga bilang ini kasus yang rumit. Butuh waktu untuk menemukan bukti kuat.”Lia menarik napas dalam-dalam. “Jadi aku harus hidup dengan rasa takut ini sampai kapan?”Rani menggenggam tangan Lia. “Kita semua di sini untukmu. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu.”Lia ingin percaya pada kata-kata Rani, tapi bayangan sosok di seberang jalan masih menghantui pikirannya. Malam ini, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.---Tepat tengah malam, bunyi ketukan keras di pintu depan membuat semua orang terkejut. Darma segera berdiri, memberi isyarat pada yang lain untuk tetap diam. Ia meraih tongkat kayu di sudut ruangan dan b

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-13

Bab terbaru

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 10: Bayang Bayang yang Mengintai

    Malam itu, hujan turun deras, menutupi suara langkah kaki di luar rumah Bu Sari. Lia duduk di ruang tamu bersama Darma dan Rani, mencoba mencari kehangatan dari teh yang baru saja diseduh. Namun, suasana tegang di antara mereka tak bisa disembunyikan.“Polisi bilang apa?” tanya Bu Sari, menyela keheningan.Darma meletakkan cangkirnya. “Mereka sedang memantau, tapi mereka juga bilang ini kasus yang rumit. Butuh waktu untuk menemukan bukti kuat.”Lia menarik napas dalam-dalam. “Jadi aku harus hidup dengan rasa takut ini sampai kapan?”Rani menggenggam tangan Lia. “Kita semua di sini untukmu. Mereka tidak akan bisa menyentuhmu.”Lia ingin percaya pada kata-kata Rani, tapi bayangan sosok di seberang jalan masih menghantui pikirannya. Malam ini, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.---Tepat tengah malam, bunyi ketukan keras di pintu depan membuat semua orang terkejut. Darma segera berdiri, memberi isyarat pada yang lain untuk tetap diam. Ia meraih tongkat kayu di sudut ruangan dan b

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 9: Menyingkap Masa Lalu

    Lia duduk di sudut kamar, memandangi foto dari amplop misterius yang diterimanya. Wajahnya di foto itu adalah gambaran masa lalu yang ingin ia lupakan—polesan makeup tebal, senyum yang dipaksakan, dan gaun mahal yang menutupi luka di hatinya. Foto itu bukan hanya ancaman, melainkan bukti bahwa seseorang masih mengawasinya.Darma datang dengan ekspresi tegas, membawa secangkir teh hangat untuk Lia. “Aku sudah berbicara dengan Rani dan Bu Sari. Kita harus melaporkan ini ke polisi.”“Tapi… aku takut,” jawab Lia lirih. “Bagaimana kalau mereka tahu aku melarikan diri? Mereka bisa menyeretku kembali.”“Lia, kamu bukan budak mereka lagi. Kamu berhak hidup bebas. Ini waktunya kita melawan.”Lia menatap Darma. Ada kekuatan dalam matanya yang membuat Lia merasa sedikit lebih tenang.---Esok paginya, Lia dan Darma pergi ke kantor polisi terdekat. Lia menceritakan semua yang terjadi—bagaimana ia ditipu, dipaksa menjadi wanita penghibur, dan kini diancam. Polisi mencatat keterangannya dan berjanj

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 8: Bayangan yang Mengintai

    Malam itu, Lia duduk di balkon kecil rumah Bu Sari. Angin dingin menyentuh kulitnya, membuatnya merapatkan selimut yang ia kenakan. Suasana tenang di sekitar terasa menenangkan, namun di dalam dirinya ada kegelisahan yang sulit dijelaskan. Hari-hari di kafe mulai memberikan rasa nyaman, tetapi di sudut hatinya, ia tahu bahwa ketenangan ini belum sepenuhnya aman. Lia memejamkan mata, mencoba membiarkan pikirannya rileks. Namun, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Senyum licik para pria yang pernah ia temui, suara tawa sinis, dan sentuhan yang membuatnya merasa jijik semua kembali berputar di kepalanya. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. “Lia, kamu tidak apa-apa?” suara Bu Sari mengejutkannya. Wanita itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan khawatir. Lia tersenyum samar. “Aku baik-baik saja, Bu. Hanya sedikit sulit tidur.” Bu Sari mendekat dan duduk di sampingnya. “Kamu tidak perlu memaksakan diri. Proses penyembuhan itu butuh waktu

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 7: Cahaya di Ujung Terowongan

    Lia membuka matanya perlahan. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai jendela kecil di kamar sederhana tempat ia tidur. Udara segar memenuhi ruangan, jauh berbeda dengan kamar mewah namun sesak yang dulu menjadi penjaranya. Di sini, tidak ada suara musik bising, tidak ada aroma parfum yang menusuk, dan tidak ada suara langkah sepatu hak tinggi yang menghantui malam-malamnya. Ia bangun dari tempat tidur, merapikan rambutnya yang kusut, dan berjalan ke dapur kecil. Di meja, sudah ada segelas teh hangat dan sepiring roti yang disiapkan oleh pemilik rumah, seorang wanita paruh baya bernama Bu Sari. Wanita itu adalah teman lama Darma yang bersedia menampung Lia sementara waktu. “Selamat pagi, Lia. Tidurmu nyenyak?” Bu Sari menyapa dengan senyum ramah. “Selamat pagi, Bu. Iya, terima kasih. Aku tidur cukup nyenyak,” jawab Lia, meskipun dalam hatinya masih ada perasaan gelisah. Bu Sari duduk di seberangnya, menatapnya lembut. “Kamu bisa merasa tenang di sini. Tidak ada yang akan me

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 6: Di Ambang Ketidakpastian

    Langkah Lia terasa ringan, namun setiap jengkal yang ia lewati seolah menambah beban di pundaknya. Setelah berbulan-bulan terjebak dalam rutinitas yang tak berujung, ia kini berada di luar dunia yang telah mengikatnya. Malam itu, kota yang seharusnya hidup dengan ribuan cahaya tampak begitu sunyi. Hanya suara deru kendaraan yang terdengar, tetapi hatinya berdebar keras, seolah ada ribuan suara yang menceritakan kisah-kisah yang belum ia ketahui.Ia melihat ke belakang, ke gedung tempat ia meninggalkan segalanya—kehidupan yang penuh dengan kemewahan semu dan kekosongan yang menyelimutinya. Ia tahu, meskipun dunia luar lebih keras dan penuh ketidakpastian, ia tidak bisa kembali lagi. Dunia itu sudah tidak bisa memberinya apa-apa lagi selain rasa terperangkap dan kehilangan jati diri.Darma sudah menunggu di luar, berdiri dengan tubuh tegap di pinggir trotoar, di bawah lampu jalan yang temaram. Wajahnya tenang, seolah tak terpengaruh oleh situasi yang baru saja terjadi. Lia merasakan ket

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 5: Langkah Kecil Menuju Kebebasan

    Pagi itu, Lia bangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya memandangi jendela yang menghadap ke kota. Udara pagi yang dingin menyusup melalui celah-celah jendela yang sedikit terbuka, membawa bau kota yang sibuk. Namun, meskipun suasana di luar terasa biasa, hatinya tak bisa berbohong. Ada perasaan yang lebih berat dari sebelumnya, sebuah perasaan yang semakin sulit untuk disangkal.Malam sebelumnya, setelah pertemuan dengan Darma, Lia merasa seolah-olah ada sesuatu yang terbangun dalam dirinya—sesuatu yang telah lama terkubur. Kata-kata Darma mengenai pilihan dan kebebasan bergaung terus dalam pikirannya. Namun, di sisi lain, ia juga tahu bahwa segala yang telah ia jalani sampai saat ini tidak bisa begitu saja dilupakan. Dunia yang telah mengikatnya terlalu kuat, terlalu dalam. Keluar dari sana berarti memulai semuanya dari awal, tanpa kepastian apa pun.Namun, meskipun hati dan pikirannya bertentangan, Lia tahu bahwa sesuatu harus berubah. Ia merasa semaki

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 4: Keputusan yang Terlambat

    Lia duduk di ujung tempat tidur, matanya kosong menatap ke dinding putih yang hampir tak memberi kesan apapun. Ia merasa seperti hantu yang berjalan, bergerak tanpa tujuan, hidup tanpa makna. Setiap langkah yang ia ambil, setiap senyum yang ia paksakan, semakin membuatnya merasa kehilangan diri. Dunia yang ia kenal dulu, dunia desa yang sederhana, seakan semakin jauh dan tak terjangkau lagi. Kini, ia terperangkap dalam kehidupan yang penuh kebohongan dan ketakutan.Hari-hari berlalu dengan cepat, namun semuanya terasa begitu lambat. Setiap malam, ia dipaksa untuk bertemu dengan tamu-tamu yang berbeda—beberapa tampak ramah, namun kebanyakan hanya memandangnya dengan cara yang sangat berbeda. Lia belajar untuk tidak merasa terhina, belajar untuk menahan perasaan dan tetap tersenyum. Dunia ini tidak memberi ruang untuk keraguan atau kelemahan. Di dunia ini, dia harus menjadi apa yang mereka inginkan—sebuah bayangan dari kesempurnaan yang tak pernah ia rasakan.Suatu malam, seperti biasa,

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 3: Kehilangan Diri

    Hari-hari berlalu dengan cepat, namun bagi Lia, waktu seolah berjalan begitu lambat. Setiap malam yang ia lewati di apartemen itu, bertemu dengan tamu yang berbeda, setiap senyum yang dipaksakan, semakin membuat dirinya merasa hilang. Ia seperti bayangan yang tak pernah benar-benar ada, hanya mengikuti arus yang membawa ke tempat yang tidak diketahui.Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Lia mempersiapkan dirinya dengan hati yang berat. Karina memberikan arahan seperti biasa, memberinya pakaian yang lebih menggoda daripada yang ia kenakan sebelumnya. Lia hanya menuruti, meski hatinya merasa semakin sesak. Ia menatap dirinya di cermin, mengenakan gaun merah yang memeluk tubuhnya, dengan rambut yang disisir rapi dan wajah yang dipoles dengan riasan. Semuanya terasa asing. Dulu, ia hanya memakai pakaian sederhana dan rambut yang dibiarkan lepas. Tapi sekarang, setiap pertemuan di dunia ini mengharuskannya tampil sempurna, seperti boneka yang dipoles.“Lia, kamu tampak sangat cantik

  • Terjebak Dalam Pesona   BAB 2: Masuk ke Dunia Baru

    Malam pertama Lia di apartemen itu terasa panjang dan mencekam. Ia duduk di ujung tempat tidur yang sederhana, dengan lampu kamar yang redup. Suasana sepi mengelilinginya, hanya terdengar suara detakan jam di dinding yang menjadi latar belakang bagi pikirannya yang kacau. Ia memandangi pakaian yang diberikan Karina, pakaian yang jauh berbeda dari yang biasa ia kenakan—sebuah gaun malam berwarna hitam dengan belahan tinggi yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.Lia mengusap wajahnya, mencoba mengusir kegelisahan yang semakin menggila. Apa yang telah ia lakukan? Ia merasa seolah-olah terperangkap dalam sebuah permainan yang tidak ia mengerti. Dunia kota yang sebelumnya penuh harapan kini terasa begitu asing. Ia teringat kembali pada ibunya yang mengkhawatirkan keputusannya, dan pada ayahnya yang semakin sakit. Mereka pasti tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di sini.Pintu kamar yang terbuka sedikit, menyadarkan Lia dari lamunannya. Karina muncul, mengenakan pakaian yang jauh

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status