Di kediaman keluarga Graha, Ivan tampak terduduk di sofa. Di hadapannya, Renata dan Basuki duduk bersebelahan. Sementara di atas meja, ada laptop, tablet dan berkas-berkas memenuhi atas meja tersebut. Sebelumnya, Ivan langsung pulang ke rumah orang tua kandungnya begitu mendapat kabar dari keduanya jika telah mengantongi berbagai informasi mengenai penyelidikan ulang yang mereka berdua lakukan atas kasus adiknya Susan delapan belas tahun yang lalu yang telah dinyatakan meninggal dunia karena terseret arus. Meski pun jasadnya tidak ditemukan. Semua anggota keluarganya meyakini jika adiknya Susan itu telah meninggal terseret arus sebab kejadiannya di dekat sungai yang kala itu dalam keadaan deras. Tapi tidak dengan Susan yang berpikir sebaliknya, adiknya itu hilang diculik dan ia yakin jika adiknya itu masih hidup sampai sekarang. Setelah pembicaraan mengenai hal itu beberapa hari yang lalu, Ivan langsung meminta Susan untuk menceritakan dengan detail kejadiannya. Set
Hal tersebut membuat Ivan percaya pada istrinya. Selain itu, Susan juga memberitahu Ivan siapa yang ia duga sebagai dalang dibalik penculik adiknya yang bernama Natasha. Adalah Mahendra yang merupakan saingan bisnis kedua orang tuanya. Susan menjadi semakin yakin juga mengerti seiring bertambahnya usia. Pun ketika ia sudah memasuki dunia bisnis. Namun karena kurangnya bukti, juga ditentang oleh anggota keluarganya yang menganggap dirinya gila, Susan tidak melakukan tindakan apa-apa. Hanya menunggu keajaiban yang tidak tahu kapan pastiannya. Dan yang membuat Susan sakit hati sekaligus sedih adalah anggota keluarganya yang menganggap kedua orang tuanya setres lantaran menganggap Natasha masih hidup. Namun kini semangat Susan berkobar kembali dan menaruh harapan besar pada suaminya. Dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki keluarga Graha, Susan yakin jika sang suami akan bisa menemukan sang adik serta mengungkap kejadian yang sebenarnya. "Kami menemukan banyak sekali ke
Renata tidak melanjutkan penjelasannya, melainkan menatap Basuki di sampingnya. Memberikan tanda pada Basuki untuk menjelaskannya kepada Ivan. Mendapatkan hal itu, Basuki mengangguk. Lalu, ia beralih menatap Ivan dan berkata, "Justru Irjen Pol Samuel yang memiliki hubungan baik dengan Pak Doni, Tuan Muda! Kami menduga Irjen Pol Samuel melindungi bisnis-bisnis ilegal Pak Doni yang membuat bisnis-bisnis ilegalnya tidak pernah tersentuh oleh kepolisian mau pun pemerintahan!" "Begitu sebaliknya, mereka memiliki kerja sama yang saling menguntungkan! Termasuk, karir Irjen Pol Samuel yang melejit pesat karena berkat koneksi yang dimiliki Pak Doni! Kami akan segera mencari tahu hal itu lebih lanjut, Tuan Muda!" Setelah mencerna perkataan Basuki untuk beberapa saat, Ivan mengeraskan rahang, "Sangat aneh. Itu berati, apakah saingan bisnis Malice sebenarnya yang menginginkan kehancuran keluarganya Susan itu adalah Doni? Bukan Mahendra?" "Kemungkinannya seperti itu, Tuan Muda. Musu
Menghela napas, mulut Basuki kembali bicara, "Mereka membangun bisnis bersama mulai dari nol dan berhasil sukses, Tuan Muda. Nama mereka pernah menjadi besar dan ditakuti oleh semua pebisnis pada masanya." "Tapi, entah apa yang terjadi diantara mereka, tiba-tiba saja mereka bersebrangan jalan. Memilih menjalankan bisnis masing-masing. Sepertinya ada masalah diantara mereka berdua, perbedaan pendapat. Hal itu lah yang mungkin membuat Pak Doni tidak suka dan ingin menghancurkan Pak Robin!" "Terbukti sejak mereka menjalankan bisnis masing-masing, mereka jadi putus hubungan, sudah tidak terlihat bersama lagi." Ivan manggut-manggut mendengar penjelasan Basuki. Itu semakin menarik. Kini ia mulai paham. Memang banyak yang awalnya berteman, tapi berubah menjadi musuh. Di saat ini, Renata menambahi, "Tuan Muda bisa menanyakan hal itu kepada Nona Susan atau pun Pak Rahardian. Mungkin saja mereka tahu masalah apa yang terjadi diantara Pak Doni dan mendiang Pak Robin." Ucapan Renat
Mendapatkan pertanyaan itu, Ivan mengangguk. Sementara Susan terperanjat, ia menatap Ivan sejenak dan lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Pak Mahendra! Pasti dia orangnya, bukan?! Tidak salah lagi, Pak Mahendra yang telah menculik Natasha!" Mendapati Susan bicara dengan suara lantang sekaligus penuh keyakinan, Ivan begitu tersentak. Ada yang aneh! Pikirnya. "Kenapa kamu begitu yakin jika orang itu adalah Pak Mahendra, sayang?" ucap Ivan heran sekaligus terkejut. "Karena dia adalah saingan bisnis Malice dari dulu sayang! Dia ingin menghancurkan perusahaan dan keluargaku! Makanya dia menculik adikku!" seru Susan geram. "Semua anggota keluargaku juga sudah tahu! Tapi sepertinya sekarang Pak Mahendra sudah berhenti membayang-bayangi keluarga kami karena dia sudah berhasil mengambil adikku dan orang tuaku juga telah tiada!" Kini, Ivan mengusap wajah dengan kasar sambil mengedar pandangan ke sekeliling. Jelas ada yang tidak beres. Orang yang di
Pukul delapan malam, di unit apartemen, tampak Ivan tengah berbicara dengan Susan. "Yakin, kamu tidak mau ikut?" tanya Ivan hendak memastikan. Malam ini, Ivan akan ke rumah kakek Rahardian untuk membicarakan tentang kasus meninggalnya Natasha. Kakek Rahardian adalah orang yang pertama yang harus tau dan pasti orang tua itu mengetahui banyak hal yang akan membantu. Sebelumnya, Susan mengatakan jika tidak akan ikut ke rumah kakek. Meskipun sang adik diduga tidak meninggal, melainkan benar diculik, tapi para bawahan suaminya belum mengetahui keberadaannya. Demikian, ia akan menunggu keberadaan Natasha diketahui lebih dulu. Susan, dengan menghembuskan napas berat menggeleng, "Kamu saja yang ke rumah kakek, sayang. Aku sudah berjanji kepada kakek jika akan melupakan Natasha." "Aku baru akan berani membahas dengan kakek setelah kita mengetahui keberadaan Natasha." "Kita akan segera mengetahui keberadaanya, sayang. Percaya padaku! Semoga saja, Natasha dalam keadaan baik-baik s
"Tapi, kakek percaya, jika adiknya Susan belum meninggal? Entah itu, hilang, diculik? Sama seperti yang diyakini Susan dan kedua orang tuanya? Mempercayai surat wasiat yang ditulis oleh mereka?" tanya Ivan dengan kening berkerut. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, kakek Rahardian seketika gelagapan. Bagaimana tidak, ia masih sangat terkejut karena tiba-tiba harus mengingat masa kelam yang telah ia kubur dalam-dalam. Lalu, kakek Rahardian menatap Ivan penuh arti dan mengangguk, "Sebenarnya, kakek percaya jika Natasha belum meninggal, Van. Sama seperti Susan dan kedua orang tuanya sebab banyak kejanggalan dengan kematian Natasha. Selain itu, kakek percaya karena kedua orang tuanya Susan yang berwasiat demikian!" Menghembuskan napas berat, kakek Rahardian kembali bicara, "Tapi, seperti yang sudah kakek jelaskan padamu jika kakek tidak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya bisa berharap, Natasha akan kembali ke keluarga ini." Setelah mengatakan hal itu, kakek Rahardian menunduk. Tiba-
Sepulang Ivan dari rumah kakek Rahardian, Susan langsung mendesak suaminya untuk bercerita. "Bagaimana respon kakek, sayang? Apa kakek marah karena kita menyelidiki kasus adikku?!" Susan mengigit bibirnya yang bergetar. Kentara cemas sekaligus tidak sabar. Ivan, dengan tersenyum kecil menggeleng, "Kakek tidak marah, sayang." Sontak saja, Susan terperangah! Lalu, dengan tatapan setengah tidak percaya, Susan berkata, "Be-benar kah?" Mendengar itu, Ivan mengangguk. Kembali mengulas senyum kecil, mulut Ivan kembali bicara, "Karena aku yang mengusut, sayang. Kakek begitu percaya padaku. Pada keluarga Graha. Tapi, jika kamu sendirian, sudah pasti kakek akan marah dan tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu!" Seketika wajah Susan berubah murung. Sudah menduga jika kakek akan marah jika ia mengusut sendiri. Namun, tentu hal itu sudah tidak menjadi masalah sekarang. Susan, dengan tatapan penuh cinta ke arah Ivan menimpali, "Syukur lah. Dengan begitu, aku jadi tidak takut lagi
Tidak disangka, ternyata Susan tidak marah saat Ivan memberitahu perihal ia yang dulu menolak perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya yang tidak lain adalah perempuan yang saat ini menjadi istrinya. Yang mana, hal itu membuat Ivan ribut dengan kedua orang tuanya dan akhirnya Ivan memutuskan pergi dari rumah demi kebebasan. Susan berpikir, tidak ada gunannya ia marah. Toh, dulu, Ivan juga tidak tahu jika yang akan dijodohkan dengannya itu adalah dirinya. Pun kalau seandainya perjodohan itu terjadi, cinta keduanya mungkin tidak akan sedalam seperti sekarang ini. Malahan, kala teringat awal pertemuannya dengan Ivan, rasanya Susan ingin tertawa saja. Memang, benci dan cinta itu beda tipis. Sedangkan Ivan yang mendengar jawaban Susan terang saja lega bukan main. Demikian, kini sudah tidak ada yang dicemaskan lagi. Sudah tidak ada rahasia yang ia sembunyikan dari Susan lagi. Bisa dikatakan, ia telah terbuka sepenuhnya kepada Susan. Begitu sebaliknya. *** Di saat ini, seorang d
Pesta besar-besaran yang sebelumnya telah direncanakan oleh keluarga Graha akhirnya digelar! Pesta itu tidak lain adalah bentuk rasa syukur Graha dan Rosalinda atas kembalinya Ivan, pulang-pulang sudah berstatus menikah, ditambah istrinya yang kini sedang mengandung. Jelas saja, kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh pasangan konglomerat itu bertambah berkali-kali lipat. Selain itu, Graha dan Rosalinda juga ingin mengenalkan Susan–istrinya Ivan sekaligus menantu mereka berdua–yang kini telah resmi menjadi bagian dari keluarga keduanya kepada semua orang. Malam ini, kediaman keluarga Graha disulap menjadi tempat pesta yang begitu megah. Ada ratusan undangan yang datang dalam acara tersebut. Graha mengundang kerabat, kolega, rekan bisnis dan kenalannya. Kesibukan terlihat sejak tadi di dalam mau pun luar rumah. Tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Pelayan hilir mudik membawakan gelas minuman. Tukang pukul berjaga, di tempatkan di setiap sudut ruangan dan beberapa titik. Sementa
"Mendekam diri di penjara!!!" Sontak saja, perkataan Rahardian membuat keduanya terkejut bukan main. Di saat yang sama, mereka berdua balik menatap Rahardian sambil menggeleng tidak percaya. Tega sekali Ayahnya memutuskan hal demikian? Alasan Herlambang menggelapkan dana perusahaan sebab ia yang sangat marah dengan Ayahnya yang selalu berpihak kepada Ivan dan Susan. Alih-alih kepada keluarganya. Sebenarnya, Herlambang hanya ingin melampiaskan kemarahannya saja dan untuk mendapat perhatian kembali dari Ayahnya. Namun, tentu saja, apa yang dilakukan oleh Herlambang sangat keterlaluan dan fatal. Bagaimana tidak, kedua orang tuanya Susan sudah bersusah payah membesarkan Malice hingga seperti sekarang ini dan juga Rahardian sudah setengah mati mempertahankannya. Tapi kini Malice malah akan dihancurkan oleh orang dalam? Anggota keluarganya sendiri? Rahardian terang saja tidak akan memaafkannya, sekali pun orang itu adalah anggota keluarganya sendiri! "Aku adalah anak Ayah. Sedang
Susan menghela nafas lega mendengar jawaban suaminya, "Aku memang pernah menjalin hubungan dengan pria yang umurnya lebih muda sepertimu, sayang. Tapi, tidak untuk memenuhi hasratku saja. Memangnya aku wanita apaan? Dan aku, sungguhan berpacaran dengannya!" "Kalau kamu ingin bertemu dengannya, aku bisa mempertemukanmu dengannya, sayang. Kamu bisa tanya-tanya supaya lebih percaya–" Belum usai kalimat Susan, Ivan sudah memotongnya lebih dulu. "Tidak usah, sayang. Aku percaya padamu. Setelah apa yang dilakukan tante Irene, bodoh sekali jika aku masih mempercayai ucapannya!" Mendengar itu, Susan tersenyum sembari manggut-mangut, "Terima kasih, sayang." Susan kembali memeluk Ivan dengan begitu erat yang langsung dibalas oleh Ivan. Dan yang terjadi selanjutnya membuat Susan sedikit tersentak! Tiba-tiba, Ivan main melumat bibir Susan seraya kedua tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Susan juga tidak mau kalah, ia pun membalas lumatan bibir suaminya. Juga melakukan hal y
Semua orang telah beranjak dari pengadilan dan pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja, Herlambang, Hesti, Irene dan Rasya pulang dalam keadaan ketakutan luar biasa. Saking ketakutannya, mereka merasa seperti seseorang yang mau menemui ajalnya saja! Bagaimana tidak, mereka akan mendapatkan hukuman dari keluarga yang paling ditakuti di negara Ferania. Baik dari kalangan pebisnis mau pun mafia. Demikian, tamat sudah riwayat mereka! Seketika rencana membalas perbuatan Ivan dan Susan, menghancurkan rumah tangga keduanya, menggugurkan kandungan Susan, lenyap sudah. Jelas, sekarang mereka sudah tidak berani melakukan hal tersebut. Selagi masih ada waktu, mereka tidak henti-hentinya meminta maaf dan memohon ampunan kepada Ivan dan Graha. Namun, keduanya tidak mengubrisnya sama sekali. Mengatakan bahwa sudah terlambat untuk mereka melakukan hal itu, tidak ada kata maaf dan ampunan lagi! Hal tersebut membuat ketakutan yang tengah melanda mereka semakin menggila. Tidak sulit untuk m
Mendengar itu, ke empatnya seketika terlonjak! Belum sempat mereka berempat membalas perkataannya, mulut Graha lanjut bicara, "Tidak perlu dijelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu apa yang dialami oleh Ivan di keluarga kalian. Perlakukan kalian kepadanya dan tentu, setelah ini, kalian akan mendapatkan balasan dariku langsung!" "Tidak hanya anggota keluarganya Susan saja, tapi semua orang yang dulu pernah menghina dan jahat kepada Ivan!" Sontak saja, mendapatkan ancaman menggelegar dari orang paling kaya di negara ini membuat mereka berempat ketakutan hebat! Kini, mereka mulai menerima fakta bahwa Ivan adalah anaknya tuan besar Graha setelah memikirkannya agak lama. Kala teringat dengan apa yang dulu pernah Ivan lakukan yang bagi mereka itu sangat mustahil dan tidak masuk akal, tapi sekarang seakan semuanya terjawab sudah! "Sebenarnya, mengungkapkan identitas asliku kepada kalian semua bukan lah gayaku. Jujur, aku senang bermain-main dengan kalian. Itu sedikit menghib
Melihat kedatangan konglomerat yang begitu dihormati itu, membuat semua orang kompak terbeliak kaget sekaligus bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba sang penguasa Ferania itu muncul dan tengah berjalan ke arah mereka? Apakah ada perlu dengan salah satu diantara mereka? Alhasil, semua orang pun buru-buru mengondisikan diri, bersiap menyambut konglomerat tersebut. Sementara Ivan, Susan dan Rahardian saling pandang. Apakah Graha akan ... Seketika semua orang gelagapan saat orang nomor satu itu tiba dan berhenti di hadapan mereka. Demikian, Graha ada urusan dengan salah satu diantara mereka! Kemudian, semua orang kompak membungkuk hormat sembari memuja-muja. Graha sendiri langsung menatap mereka satu persatu dengan tatapan penuh selidik sebelum kemudian pandangannya jatuh kepada Irene. Hal tersebut membuat Irene terlonjak! Kenapa tuan besar Graha menatapku seperti itu?! Alhasil, Irene langsung merasa tidak karuan. Lalu, sebisa mungkin wanita itu mengulas senyum terbaiknya sambil meng
Keesokan harinya, persidangan dilanjutkan. Masing-masing dari Irene dan Ivan kembali memberikan keterangan, membantah, menyampaikan keberatan, memberikan alat bukti dan menghadirkan saksi-saksi. Ivan tidak tahan untuk tidak terbahak seraya menggeleng tidak mengerti saat saksi yang dihadirkan Irene memberikan keterangan. Bagaimana tidak, saksi-saksi itu memberikan keterangan palsu! Tidak kah mereka berpikir konsequensi apa yang akan didapatkannya? Kini waktu yang Ivan tunggu-tunggu telah tiba, Irene terpojok sebab alat bukti yang dihadirkan Ivan ke ruang sidang. Melihat kedatangan orang itu, Irene dan pengacaranya terang saja terbelalak! Bukan kah dia ... Lalu, keduanya pun menjadi panik. Bagaimana tidak, orang itu adalah orang suruhan Irene yang mengedit foto dan video viral tersebut. Kenapa Ivan bisa mengetahui dan berhasil menangkapnya? Padahal, Irene sudah membayarnya tinggi dan menyuruhnya untuk pergi jauh-jauh hari. Melihat reaksi Irene juga pengacaranya seperti itu,
Persidangan ditunda! Hal itu digunakan oleh Irene dan pengacaranya mencari cara untuk dapat memenangkan kasus ini sebab harus melawan pengacara besar yang disewa Ivan. Demikian, Irene dan pengacaranya menjadi ketar-ketir. Apalagi pengacara yang disewa Ivan belum pernah gagal menangani kasus. Entah bagaimana caranya, selalu saja menang! Ivan sendiri juga sibuk mencari cara, saksi atau pun sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang Irene dan menjatuhkannya. Apalagi setelah mengetahui jika Irene hamil dan mengaku-ngaku bahwa dirinya lah Ayah dari bayi yang sedang dikandungnya. Sementara itu, Susan dan Rahardian cepat-cepat menemui Irene. Keduanya berharap masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Toh, mereka memang keluarga. Miris jika harus lapor polisi dan melalui persidangan. Namun, baik Susan mau pun Rahardian sudah tidak heran jika hal itu terjadi mengingat sikap dan perlakuan Irene selama ini. Sebelumnya, Susan dan Rahardian ingin bukti bahwa Irene memang sungg