Share

Bab 7.

Penulis: Pena Kara
last update Terakhir Diperbarui: 2021-09-22 21:43:08

Havir segera mengerahkan pasukan yang dipimpinnya untuk menggali terowongan. Havir yang ditugaskan untuk menjaga dengan rapat rahasia ini, berjaga di mulut terowongan.

Sambil menunggu terowongan siap digunakan, Utsman mencoba untuk mengirimkan seorang utusan untuk menegosiasikan pembebasan ayahnya, serta permintaan pembukaan akses pada daerah kekaisaran.

“Siapa di antara kalian yang mau mengirimkan surat negosiasi ini kepada Kaisar Andreas?” di hadapan sekumpulan pasukan, Utsman mencari orang yang mau untuk menyampaikan pesannya kepada pasukan musuh.

Tak ada satu pun yang berani menjawab, tugas yang begitu berisiko dan terasa sedikit gila, mereka takut akan menjadi tawanan jika masuk ke daerah musuh seorang diri.

“Kami mendengar, dan kami taat,” teriak Abu memecah keheningan.

“Berikan tugas itu padaku!” Abu malah meminta untuk mengemban tugas itu. Tak heran, Abu memang orang yang sedikit geser otaknya, yang ada dalam pikirannya hanya patuh terhadap pimpinan, tak peduli dengan risiko yang akan dihadapi.

“Baiklah, kau kirimkan surat ini pada Kaisar Andreas!” perintah Utsman sambil memberikan sebuah gulungan kertas.

Abu pun menuju ke area kekaisaran dengan menaiki sebuah keledai, Abu memang tak punya kuda perang untuk digunakan. Abu juga tak memiliki baju besi dan pedang, hanya panci sebagai pelindung kepala, serta pisau kecil untuk senjata, aksesoris ditubuhnya hanya sebuah katapel yang digunakan sebagai kalung.

Kedatangan Abu pada daerah kekaisaran disambut langsung oleh Jenderal Sina, yang kebetulan sedang bersiaga di atas tembok besar pelindung kekaisaran.

“Hai orang gila, siapa kau? Dan mau apa kau kesini?” tanya Jenderal Sina sambil menahan tawa melihat penampilan dari Abu.

“Aku adalah seorang utusan dari Utsman, ingin bertemu dengan pemimpin kalian untuk memberikan surat ini.”

Mendengar surat itu ditujukan untuk Kaisar Andreas, Jenderal Sina akhirnya menurunkan jembatan angkat yang tempo hari lalu sempat dilalap api, untungnya jembatan ini terbuat dari besi, sehingga masih tetap utuh meskipun sempat terbakar.

“Kawal dia! Aku akan tetap berjaga di sini.” Jenderal Sina menyuruh dua orang anak buahnya untuk melakukan pengawalan, untuk mengawasi seseorang yang gila, Jenderal Sina merasa tak perlu ikut turun tangan.

Ketika memasuki area kastel, Abu melihat Sultan Umar yang sedang berada di atas sebuah menara.

“Hai Sultan, kenapa kau ada di sana? Turunlah!” tanya Abu tanpa sedikit pun sopan santun, wajar saja memang otaknya sudah tidak beres.

“Aku sedang menunggu Utsman, kenapa kau bisa berada sini?” Sultan Umar merasa sedikit kaget melihat salah satu rakyatnya dengan mudah masuk ke dalam area kastel.

“Kau menunggu Utsman? Dia sudah menunggumu di luar. Sebaiknya jangan menunggu di situ, kau bisa menunggu di bawah sini.”

“Di atas pemandangannya jauh lebih indah.” Jawab Sultan Umar dengan bercanda.

“Benarkah? Setelah aku memberikan surat ini, aku akan ikut naik ke sana.” Abu menanggapi canda Sultan Umar dengan serius.

Abu dan dua pengawal sudah sampai di depan kastel, pengawal meminta Abu untuk turun dari keledainya dan berjalan menunduk untuk menghormati Kaisar Andreas.

“Aku tidak mau meninggalkan keledaiku, aku khawatir keledaiku kalian bawa kabur,” tolak Abu.

Dua orang pengawal ini hanya bisa geleng-geleng, mereka tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang dari pasukan musuh berani menghadap Kaisar Andreas, namun memiliki rasa takut kehilangan ketika meninggalkan keledainya.

“Kalau begitu tunggu di sini sebentar! Aku akan melapor pada Kaisar Andreas.” Ucap salah seorang pengawal yang kemudian masuk ke dalam kastel.

Segera saja si pengawal tersebut duduk bersimpuh di hadapan sang kaisar, “Tuan, ada seorang utusan dari Utsman membawa sebuah surat untuk Anda”

“Di mana dia? Biarkan dia masuk,”

“Tapi tuan, dia tidak mau turun dari keledainya, dia ingin masuk dengan menunggangi keledainya.”

“Kalau begitu buka pintu serendah mungkin, sehingga dia harus turun dari keledainya dan masuk dengan cara merangkak.”

“Baik tuan,” jawab si pengawal sambil berjalan mundur dengan menggunakan lutut sebagai tumpuan.

Pengawal pun kembali menghampiri Abu, menurunkan pintu hingga hanya setinggi keledai. Memang beberapa pintu di kastel ini menggunakan sistem buka tutup dengan arah vertikal.

“Cepat masuk! Kaisar Andreas sudah menunggu surat yang kau bawa.”

Meskipun Abu termasuk orang yang bodoh, namun ia mampu menangkap apa maksud dari semua ini.

“Apa kalian mau aku berjalan menunduk untuk menghadap pemimpin kalian?” tanya Abu.

Abu segera turun dari keledainya, kemudian berbalik arah membelakangi pintu. Abu masuk ke dalam kastel dengan cara mundur, tak lupa ia juga menarik keledainya untuk ikut berjalan mundur.

Para pengawal kaget melihat tingkah Abu, Abu sengaja masuk dengan posisi menungging, seolah mengisyaratkan bahwa Abu ingin menyapa Kaisar Andreas dengan pantatnya.

“Sudah aku bilang, aku tak mau tunduk pada pemimpin kalian,” ucap abu setelah berhasil melewati pintu dengan cara berjalan mundur.

Melihat pantat yang tiba-tiba muncul di hadapan mukanya membuat Kaisar Andreas marah, namun ia juga tidak bisa menahan tawa ketika melihat penampilan konyol dari si pemilik pantat tersebut.

“Apa kau yang namanya Andreas?” tanya Abu tanpa sopan santun.

“Siapa kau? Ada perlu apa kau kemari?”

“Apa kau yang namanya Andreas?” tanya Abu sekali lagi.

“Aku Andreas. Ada perlu apa kau mencariku?” Kaisar Andreas mulai merasa sedikit jengkel dengan sikap Abu.

“Ini surat dari tuanku. Tuanku menawarkan sebuah pilihan untukmu, bebaskan Sultan Umar dan bukalah negeri ini untuk siapa saja! Jika kau menolak, tuanku akan datang kemari dan mengusirmu dari sini.”

Bukannya membuka surat yang diberikan oleh Abu, Kaisar Andreas sudah merasa cukup jelas dengan penjelasan yang baru didengarnya.

“Aku tidak bisa memberikan keputusan dengan cepat, aku harus berunding dengan pembesar kerajaan.”

Dalam hati Kaisar Andreas sebenarnya tak ada sedikit pun rasa tertarik untuk berdamai. Dia hanya ingin bermain- main saja dengan seorang badut yang memakai panci ini.

“Kau perlu waktu berapa hari? Satu atau dua hari?”

“Bagaimana kalau satu bulan?” goda Kaisar Andreas.

“Pemimpinku tidak pernah memberi waktu lebih dari tiga hari. Berikan jawaban sebelum tiga hari! Kalau tidak, tuanku akan mengusirmu dari sini,” ucap Abu sambil berjalan keluar. Bagi abu tugasnya sudah selesai, persoalan jawaban itu urusan antara para pemimpin.

Bab terkait

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 8.

    Abu berjalan keluar, masih ditemani oleh dua pengawal yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Sesaat sebelum keluar dari pintu kastel, Abu baru menyadari bahwa kakinya sedang berjalan di sebuah permadani yang bagus. “Hai Andreas, bolehkah aku ambil ini?” Abu memang benar-benar tak waras, setelah masuk dengan tidak sopan, kini ia malah ingin mengambil sebuah barang dari kastel. Kaisar Andreas tak habis pikir melihat tingkah Abu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, baru kali ini ada seorang utusan tak waras yang berani menghadap pada dirinya. “Jadi tak boleh?” merasa tak mendapat persetujuan, Abu menyimpulkan jawabannya sendiri. Abu mengeluarkan pisau kecilnya, kemudian merobek sedikit permadani di kakinya dengan pisau. “Kalau hanya sebesar ini?” tanya Abu yang sambil memperlihatkan potongan kecil permadani pada Kaisar Andreas. “Dasar orang gila, bawa dia keluar!” Kaisar Andreas sudah muak, tak ingin lagi rasanya

    Terakhir Diperbarui : 2021-09-22
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 9.

    Tiga hari sudah berlalu, namun surat dari Utsman belum juga mendapatkan balasan. Di bawah sinar rembulan Utsman semakin membulatkan tekad untuk melakukan penyerangan.“Tuan, terowongan sudah siap dari kemarin, lalu apa yang kita tunggu?” tanya Havir.“Aku masih berprasangka baik kepada mereka, selama tiga hari ini aku terus menunggu dengan penuh harap, menunggu surat perdamaian dari mereka.”“Tuan, saya sangat setuju dengan Anda. Tapi? Pikiran ini tak pernah tenang memikirkan Sultan Umar yang tertawan oleh musuh.”“Terima kasih sudah sangat peduli dengan keselamatan ayahku. Aku sudah memutuskan, malam ini adalah batas terakhir dari perdamaian, jika tidak datang juga surat perdamaian, tembok pelindung mereka akan rata dengan tanah.”“Baiklah tuan, kalau begitu saya izin untuk kembali bertugas mengawasi mulut terowongan”“Lakukan rencana terakhir kita, Buatlah lubang tepat di de

    Terakhir Diperbarui : 2021-10-01
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 10.

    Malam sudah mulai beranjak pamit, cahaya fajar tampak malu-malu mulai mengintip dari sisi timur, Utsman beserta para pasukan sudah berdiri gagah siap mendobrak tembok perbatasan.Abu terlihat berjalan sendirian dengan menunggangi keledainya, langkah demi langkah semakin dekat dengan tembok besar, meninggalkan para pasukan yang berada jauh di belakang.“Ini sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, ribuan pasukan merayap panjang bak ular dari besi,” ucap seorang pengawas dengan raut wajah cemas, yang sedang memantau pasukan Utsman dari atas tembok besar.“Hai lihatlah! Bukankah itu orang gila yang kemarin, dia datang lagi,” seorang pengawas lain sedang mengacungkan telunjuknya ke arah Abu.“Sudah biarkan saja! Yang terpenting kita harus segera melapor kepada Jenderal Sina, musuh pasti akan mulai menyerang.”Abu berdiri tepat pada pinggiran parit, dia mencari sebuah lubang yang sudah dipersiapkan oleh para p

    Terakhir Diperbarui : 2021-10-08
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 11.

    Dari arah belakang Kaisar Andreas tiba-tiba terlihat dua orang datang dengan menaiki sebuah kereta kuda, “Kaisar ... Ini kami sudah membawanya kemari.” Terlihat seseorang dengan kepala yang ditutup oleh kain, dilemparkan begitu saja jatuh ke tanah. “Lihatlah Utsman! Jika kau berani maju, akan kupisahkan kepala ini dari tubuhnya.” Ucap Kaisar Andreas sambil menginjakkan kakinya di atas kepala yang sedang tertutup itu. “Kau pikir kau siapa? Tak ada satu orang pun yang akan menghentikanku menegakkan keadilan” “Apa kau yakin?” Ejek Kaisar Andreas. Dengan perlahan Kaisar Andreas membuka kain penutup pada kepala yang diinjaknya. Tali dibuka, kain ditarik. Semua pasukan Utsman terperangah kaget, orang yang tadi diinjak oleh Kaisar Andreas adalah Sultan Umar. “Hahaha Bagaimana Utsman?” Tawa Kaisar Andreas menghancurkan hati para pasukan. Utsman tak bisa berbuat banyak ketika melihat ayahnya sedang dalam keadaan tak berdaya seperti itu,

    Terakhir Diperbarui : 2021-10-12
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 1.

    Terlihat 50.000 pasukan lengkap dengan alat tempurnya siap untuk berperang. Berdiri dengan gagah, siap untuk menggulingkan kekaisaran Andreas. Mereka hanya menunggu aba-aba dari sang pemimpin, Sultan Umar. “Ayo, berangkat!” Dengan suara lantang Sultan Umar berjalan pada barisan terdepan, memimpin para pasukan yang sudah siap mati di medan perang. Ribuan kaki kuda yang berlari dengan serentak, mampu membuat tanah yang dipijaknya bergetar. Sultan beserta pasukannya mulai meninggalkan kemah-kemah perang, kemah yang mereka gunakan untuk beristirahat di malam hari, juga digunakan untuk mengobati pasukan yang terluka parah akibat peperangan. Kemah mereka berjarak satu kilometer dari musuh, satu kilometer adalah jarak yang ideal, karena panah-panah musuh tak mampu menjangkau jarak sejauh itu. “Lewat sini!” teriak sang sultan mengarahkan para pasukan untuk mengikutinya, mereka menuju ke sebuah pintu gerbang. Satu satunya jalan untuk masuk ke d

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-13
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 2.

    Jenderal Sina segera mengabarkan kondisi perang kepada Kaisar Andreas, “Pasukan musuh sudah berhasil kita pukul mundur.”Kaisar Andreas dengan tawa penuh kegembiraan menyambut kemenangan ini.Sedangkan di pihak Sultan Umar terlihat beberapa orang masih dalam proses pengobatan, mereka sibuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya, menstabilkan kembali emosi yang bergejolak akibat kekalahan telak mereka.“Sultanku, bagaimana rencana Anda? Ini sudah hari keempat, tapi belum juga terlihat hasil yang pasti. Apa kita sudahi saja? Atau Anda masih punya rencana lain?” tanya seorang penasihat.“Kumpulkan semua pemimpin pasukan!” Sultan Umar menjawab pertanyaan dengan sebuah perintah.Seluruh pemimpin pasukan dikumpulkan, Sultan Umar sengaja tidak mengumpulkan seluruh pasukan, karena para pasukan butuh waktu istirahat setelah perang habis-habisan hari ini.Lagi pula jika berpidato di hadapan seluruh pasukan, Sultan

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-13
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 3.

    Di pihak Kaisar Andreas terlihat seseorang sedang memperhatikan sebuah baskom berisi air, “Lihatlah ini!” serunya memanggil teman yang berdiri di sampingnya,Terlihat air dalam baskom bergoyang. “Kau jaga di sini! Aku akan melaporkannya pada Jenderal Sina.” Langsung saja dengan berlari dia menuju ke tempat sang jenderal.“Lapor Jenderal, terlihat air dalam baskom tidak stabil, sepertinya pasukan musuh sedang merencanakan untuk menyerang dari bawah tanah.” dengan napas tersengal-sengal dia melaporkan pada Jenderal Sina.Lantas saja Jenderal Sina bangkit dari duduknya, dia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri, ”Di mana?” Jenderal Sina berjalan cepat menuju jejeran baskom yang berisi air.Tanpa sepengetahuan Sultan Umar, di atas tembok besar ternyata terdapat barisan baskom yang berisi air, tiap baskom berjarak sepuluh meter, ini digunakan sebagai metode sederhana untuk mendeteksi pergerakan bawah tan

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-13
  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 4.

    Bala bantuan tak kunjung datang, area perkemahan sudah dibongkar, para pasukan sudah bersiap untuk kembali pulang.Sisa pasukan yang sedikit serta tidak adanya pemimpin membuat mereka tidak bisa melanjutkan peperangan. Mereka tak mau berlama-lama lagi, mereka takut jika pasukan musuh datang menyergap.Sementara itu di alun-alun kastel Kaisar Andreas sudah dipersiapkan sebuah menara, tak terlalu tinggi, namun cukup jelas untuk dilihat dari kejauhan, Sultan Umar akan dieksekusi di atas sana.“Ayo, cepat! Jangan sampai kita ketinggalan.” Berita pengeksekusian Sultan Umar sudah tersebar ke berbagai pelosok kerajaan, semua warga berbondong-bondong untuk menyaksikan peristiwa ini.Alun-alun kastel sudah dipenuhi oleh berbagai kalangan, tak hanya bawahan Kaisar Andreas saja, rakyat jelata pun ikut menyaksikan acara ini, beberapa orang penulis sejarah juga sudah siap untuk mengabadikan momen ini.“Berdiri!” Dua orang pengawal membuk

    Terakhir Diperbarui : 2021-08-15

Bab terbaru

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 11.

    Dari arah belakang Kaisar Andreas tiba-tiba terlihat dua orang datang dengan menaiki sebuah kereta kuda, “Kaisar ... Ini kami sudah membawanya kemari.” Terlihat seseorang dengan kepala yang ditutup oleh kain, dilemparkan begitu saja jatuh ke tanah. “Lihatlah Utsman! Jika kau berani maju, akan kupisahkan kepala ini dari tubuhnya.” Ucap Kaisar Andreas sambil menginjakkan kakinya di atas kepala yang sedang tertutup itu. “Kau pikir kau siapa? Tak ada satu orang pun yang akan menghentikanku menegakkan keadilan” “Apa kau yakin?” Ejek Kaisar Andreas. Dengan perlahan Kaisar Andreas membuka kain penutup pada kepala yang diinjaknya. Tali dibuka, kain ditarik. Semua pasukan Utsman terperangah kaget, orang yang tadi diinjak oleh Kaisar Andreas adalah Sultan Umar. “Hahaha Bagaimana Utsman?” Tawa Kaisar Andreas menghancurkan hati para pasukan. Utsman tak bisa berbuat banyak ketika melihat ayahnya sedang dalam keadaan tak berdaya seperti itu,

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 10.

    Malam sudah mulai beranjak pamit, cahaya fajar tampak malu-malu mulai mengintip dari sisi timur, Utsman beserta para pasukan sudah berdiri gagah siap mendobrak tembok perbatasan.Abu terlihat berjalan sendirian dengan menunggangi keledainya, langkah demi langkah semakin dekat dengan tembok besar, meninggalkan para pasukan yang berada jauh di belakang.“Ini sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, ribuan pasukan merayap panjang bak ular dari besi,” ucap seorang pengawas dengan raut wajah cemas, yang sedang memantau pasukan Utsman dari atas tembok besar.“Hai lihatlah! Bukankah itu orang gila yang kemarin, dia datang lagi,” seorang pengawas lain sedang mengacungkan telunjuknya ke arah Abu.“Sudah biarkan saja! Yang terpenting kita harus segera melapor kepada Jenderal Sina, musuh pasti akan mulai menyerang.”Abu berdiri tepat pada pinggiran parit, dia mencari sebuah lubang yang sudah dipersiapkan oleh para p

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 9.

    Tiga hari sudah berlalu, namun surat dari Utsman belum juga mendapatkan balasan. Di bawah sinar rembulan Utsman semakin membulatkan tekad untuk melakukan penyerangan.“Tuan, terowongan sudah siap dari kemarin, lalu apa yang kita tunggu?” tanya Havir.“Aku masih berprasangka baik kepada mereka, selama tiga hari ini aku terus menunggu dengan penuh harap, menunggu surat perdamaian dari mereka.”“Tuan, saya sangat setuju dengan Anda. Tapi? Pikiran ini tak pernah tenang memikirkan Sultan Umar yang tertawan oleh musuh.”“Terima kasih sudah sangat peduli dengan keselamatan ayahku. Aku sudah memutuskan, malam ini adalah batas terakhir dari perdamaian, jika tidak datang juga surat perdamaian, tembok pelindung mereka akan rata dengan tanah.”“Baiklah tuan, kalau begitu saya izin untuk kembali bertugas mengawasi mulut terowongan”“Lakukan rencana terakhir kita, Buatlah lubang tepat di de

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 8.

    Abu berjalan keluar, masih ditemani oleh dua pengawal yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Sesaat sebelum keluar dari pintu kastel, Abu baru menyadari bahwa kakinya sedang berjalan di sebuah permadani yang bagus. “Hai Andreas, bolehkah aku ambil ini?” Abu memang benar-benar tak waras, setelah masuk dengan tidak sopan, kini ia malah ingin mengambil sebuah barang dari kastel. Kaisar Andreas tak habis pikir melihat tingkah Abu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, baru kali ini ada seorang utusan tak waras yang berani menghadap pada dirinya. “Jadi tak boleh?” merasa tak mendapat persetujuan, Abu menyimpulkan jawabannya sendiri. Abu mengeluarkan pisau kecilnya, kemudian merobek sedikit permadani di kakinya dengan pisau. “Kalau hanya sebesar ini?” tanya Abu yang sambil memperlihatkan potongan kecil permadani pada Kaisar Andreas. “Dasar orang gila, bawa dia keluar!” Kaisar Andreas sudah muak, tak ingin lagi rasanya

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 7.

    Havir segera mengerahkan pasukan yang dipimpinnya untuk menggali terowongan. Havir yang ditugaskan untuk menjaga dengan rapat rahasia ini, berjaga di mulut terowongan.Sambil menunggu terowongan siap digunakan, Utsman mencoba untuk mengirimkan seorang utusan untuk menegosiasikan pembebasan ayahnya, serta permintaan pembukaan akses pada daerah kekaisaran.“Siapa di antara kalian yang mau mengirimkan surat negosiasi ini kepada Kaisar Andreas?” di hadapan sekumpulan pasukan, Utsman mencari orang yang mau untuk menyampaikan pesannya kepada pasukan musuh.Tak ada satu pun yang berani menjawab, tugas yang begitu berisiko dan terasa sedikit gila, mereka takut akan menjadi tawanan jika masuk ke daerah musuh seorang diri.“Kami mendengar, dan kami taat,” teriak Abu memecah keheningan.“Berikan tugas itu padaku!” Abu malah meminta untuk mengemban tugas itu. Tak heran, Abu memang orang yang sedikit geser otaknya, yang ada d

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 6.

    “Kenapa kau sangat yakin? Bagaimana kalau anakmu nantinya juga harus berakhir di atas panggung yang sama? Panggung eksekusi.” Kaisar Andreas menganggap sumpah yang baru saja ia dengar hanya seperti sebuah bualan semata.“Kaisar, bagaimana jika kita tunda eksekusi si pecundang itu? Kita cari anak dari pecundang itu, lalu kita bunuh di hadapannya.” Jenderal Sina memberikan sebuah ide, ide yang sangat menarik untuk dicoba.“Setuju ... Buat Umar melihat kematian anaknya!” Sorak-sorai penonton yang hadir mendukung ide yang diberikan oleh Jenderal Sina.“Ha ha ha. Kalian tidak perlu susah-payah mencarinya, dia sedang dalam perjalanan kemari.” Sultan Umar malah menertawakan Jenderal Sina, tak ada sedikit pun rasa takut dalam hati Sultan Umar, ia percaya anaknya akan mampu menembus benteng ini.“Ha ha ha. Jadi anakmu sudah siap untuk mati di tanganku?” Kaisar Andreas menertawakan balik Sultan Umar. &ldqu

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 5.

    Jamal merasa sakit hati ketika mendengar pemimpinnya direndahkan.Bagi Jamal, orang lain boleh merendahkan dirinya, namun tidak ada satu orang pun yang boleh menginjak harga diri pemimpinnya.“Hentikan, Jamal! Jangan terpancing,” terdengar suara seorang pasukan yang berusaha untuk menahan emosi Jamal.Melihat pancingannya mendapatkan tanggapan, membuat Jenderal Sina kembali melontarkan beberapa kalimat pancingan lagi.“Umar akan mati sebagai seorang pecundang. Bukankah itu pantas untuk seorang pemimpin seperti dia?” Jenderal Sina sengaja melemparkan kalimat-kalimat celaan.“Jangan pernah menghina orang yang telah menyelamatkanku!” Dengan kemarahan yang memuncak, Jamal berlari ke arah Jenderal Sina, beberapa bawahan Jenderal Sina dilewatinya dengan sekali tebasan pedang.Badan yang kekar karena pernah menjadi budak selama bertahun-tahun, dan keahlian bermain pedang yang sudah sangat terasah, membuat Jamal d

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 4.

    Bala bantuan tak kunjung datang, area perkemahan sudah dibongkar, para pasukan sudah bersiap untuk kembali pulang.Sisa pasukan yang sedikit serta tidak adanya pemimpin membuat mereka tidak bisa melanjutkan peperangan. Mereka tak mau berlama-lama lagi, mereka takut jika pasukan musuh datang menyergap.Sementara itu di alun-alun kastel Kaisar Andreas sudah dipersiapkan sebuah menara, tak terlalu tinggi, namun cukup jelas untuk dilihat dari kejauhan, Sultan Umar akan dieksekusi di atas sana.“Ayo, cepat! Jangan sampai kita ketinggalan.” Berita pengeksekusian Sultan Umar sudah tersebar ke berbagai pelosok kerajaan, semua warga berbondong-bondong untuk menyaksikan peristiwa ini.Alun-alun kastel sudah dipenuhi oleh berbagai kalangan, tak hanya bawahan Kaisar Andreas saja, rakyat jelata pun ikut menyaksikan acara ini, beberapa orang penulis sejarah juga sudah siap untuk mengabadikan momen ini.“Berdiri!” Dua orang pengawal membuk

  • Terbukanya Gerbang Keadilan   Bab 3.

    Di pihak Kaisar Andreas terlihat seseorang sedang memperhatikan sebuah baskom berisi air, “Lihatlah ini!” serunya memanggil teman yang berdiri di sampingnya,Terlihat air dalam baskom bergoyang. “Kau jaga di sini! Aku akan melaporkannya pada Jenderal Sina.” Langsung saja dengan berlari dia menuju ke tempat sang jenderal.“Lapor Jenderal, terlihat air dalam baskom tidak stabil, sepertinya pasukan musuh sedang merencanakan untuk menyerang dari bawah tanah.” dengan napas tersengal-sengal dia melaporkan pada Jenderal Sina.Lantas saja Jenderal Sina bangkit dari duduknya, dia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri, ”Di mana?” Jenderal Sina berjalan cepat menuju jejeran baskom yang berisi air.Tanpa sepengetahuan Sultan Umar, di atas tembok besar ternyata terdapat barisan baskom yang berisi air, tiap baskom berjarak sepuluh meter, ini digunakan sebagai metode sederhana untuk mendeteksi pergerakan bawah tan

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status