Share

5. Detik Ujian

Author: Tazanie
last update Last Updated: 2022-02-28 20:08:46

Ibarat kutukan yang harus Rara lakukan, dia mau tapi tak mau. Untuk apa nilai tinggi akhirnya dia menikah. Nilai jelek pasti ia akan dapat ejekan dari Aslan. Makin belagu dong sih guru menyebalkan! 

Bahkan dia hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan, dan berakhir duduk disini. Rara seminggu ini belajar sungguh-sungguh untuk mencapai nilai terbaik, itu juga atas desakan sang ayah. 

Terpaksa Rara menurut lantaran Fatir drama sakit membuatnya pasrah. Ia mana tega melihat ayahnya sakit, ataupun sedih. Dia ingin belajar atas bentuk kasih sayang kepada ayahnya. 

"Tumben kamu belajar." Tegur Aslan yang kebetulan mengembalikan buku dari perpustakaan. 

Rara mendelik sinis. 

Aslan membungkukkan setengah tubuh, ia melekatkan bibirnya di telinga Rara membuat sang pemilik merasa tegang seketika. "Saya rasa kamu memang berminat jadi istri saya." Bisiknya. 

Rara terbelalak, ia menolehkan wajahnya tanpa sengaja membuat bibir keduanya bertemu. 

Entah kenapa mendadak jantung Rara tak karuan, dia bungkam layaknya patung. Syukurnya tidak ada yang melihat kejadian itu, karena Rara duduk di lorong yang sepi. 

"Kamu sengaja?" ujar Aslan lagi berhasil menumbuhkan amarah gadis yang belum dua puluh tahun. 

"Sembarang! Najis gua sengaja, kayak gak ada cowok lain yang bisa cicip bibir gua." Hardik Rara marah, hingga membuatnya bangkit dari duduknya. 

Seketika murid dan penjaga perpustakaan bergerombol mendekati mereka, suara Rara berhasil menjadikan dirinya sendiri tontonan. "Ngapain lo semua liat-liat! Kenapa gua cantik, hah?" teriak Rara galak. "Pergi gak!" usir Rara memajukan langkahnya sambil berkacak pinggang. 

"Lo gak bosan bikin masalah sama Pak Aslan. Gak capek tuh?" komentar salah satu siswi. 

"Muka lo udah kayak tembok sih."

Rara mulai geram dengan komentar teman-teman setingkatnya itu, mereka gak tau Rara untuk apa shock paling benar. 

"Bubar gak lo semua, atau mau gua lempari buku satu persatu." Ancam Rara histeris. 

Aslan yang terlihat melihat reaksi Rara, dia hanya tersenyum bias. "Kalian semua bisa bubar." Perintah Aslan langsung membuat para murid meninggal keduanya. 

"Elo!" Rara masih menggebu penuh emosi, ia kembali memandangi Aslan terpancar kebencian dari mata Rara. 

"Ini sekolah. Yang sopan sama guru sendiri, kamu gak mau kan dihukum lagi. Sia-sia dong perbuatan baik kamu selama seminggu, hanya karena bersikap kurang ajar sama guru sendiri." Tegur Aslan yang tahu usaha keras Rara selama beberapa hari belakang ini. 

Kemudian Rara tersenyum palsu, menunjukkan gigi ratanya seolah sebagai permintaan maaf. "Ya sudah maaf, Pak." Selama ini Rara ogahan sekali untuk meminta maaf kepada Aslan, bisa bayangan dia ingin menelan kembali apa terlontar dari bibir sexynya. 

"Karena saya ingin melihat nilai terbaik kamu, saya menerima permintaan maaf kamu." Ujar Aslan yang sulit sekali mimiknya terbaca. 

Apa? Apa? Apa? 

Gak salah dengar gua. Emangnya siapa dia, gue juga gak ikhlas minta maaf, najis gua! 

"Sekarang bapak bisa tinggali saya sendiri, saya gak bisa konsetrasi belajar kalau bapak ngintil saya disini. Udah kayak bodyguard." Aslan menaiki alisnya satu membuat Rara sama sekali tak mengerti ekspresi apa yang sedang pria itu tunjukkan. 

Rara membanting pantatnya ke kursi yang ia duduknya. Kini dia menenggelamkan wajahnya, apalagi yang bisa membuat pusing kecuali Aslan. Usaha Rara lakukan selama seminggu bukan untuk laki-laki itu, namun ayahnya. Rara sadar selama ini belum bisa jadi anak baik, sekali-kali ia ingin membuat ayah maupun bunda bangga. Dia sadar, jika ia tidak terlalu pintar. Bisa masuk sekolah populer di Jakarta, dan hanya anak pintar yang bisa menginjak sekolah ini. Pastinya Rara sudah tau alasannya, siapa lagi kalau bukan sang ayah. Fatir ayahnya sudah lama menjadi donatur tetap sekolah itu, tapi ia tidak ingin Rara diperlakukan istimewa. Namun tidak ada guru lain yang berani menghukumnya, terkecuali Aslan. 

***

Ujian sudah dimulai, Rara membaca sangat hati-hati lembar soal yang dia dapat. Kalau biasa ia selalu mengandalkan Edo sahabatnya, kali ini dia menggunakan otaknya sendiri. 

"Ra, lo gak mau nyontek?" ucap pelan Loli disampingnya. Rara tak memperdulikannya, ia serius mengerjakan ujian penentuan naik kelas kali ini. 

"Lol, lo udah?" tanya Rama menendang kursi Loli. 

Loli menggeleng, sebenarnya ia melihat jawaban Rara sudah banyak terisi, hanya dia ragu menyontek Rara. "Edo ngapain sih pindah depan. Gue jadi gak bisa nyontek." Protes Loli. 

"Lo kayak gak tau bu Lastri aja. Yang pintar dipindahin depan semua." Lontar Rama malas, lalu dia memberikan kode melihat Rara. 

Hanya tinggal tiga puluh menit waktu tersisa mengerjakan ujian. Rara memeras otaknya kali ini, akhirnya dia bisa menyelesaikan semuanya dengan usaha sendiri tanpa harus menyontek. "Lol, gue udah selesai." Loli terperangah nyaris tak percaya. 

"Yakin jawaban lo benar." Loli masih tampak ragu, tapi dia juga belum selesai. Daripada harus menunggu lagi, ia akhirnya menyalin setengah jawaban Rara. 

"Tawakal aja gua." Rara menghembuskan napas panjang. Ia sendiri kurang yakin jawabannya, maklum ia selalu mengandalkan otak Edo daripada otaknya. 

"Ya udah sih daripada jawaban kosong, bagi gua jawabannya." Pinta Rama tak sabar. 

"Gak malu lo nyontek, lo kan adik Pak Aslan." Ejek Rara sembari mendelik belakang bangkunya. 

Benar juga. Kalau abang gua tahu, bisa habis gua. Tapi mau gimana lagi gua gak sempat belajar. Membatin Rama. 

Rama sebenarnya otaknya cukup pintar, pastinya lebih pintar dari Rara. Namun malam tadi ia tak sempat belajar hingga membuatnya menyontek. "Bawel lo ah. Cepatan mana jawabannya." 

Rara terkekeh kecil, lalu memberikan kertas jawabannya saat Loli sudah selesai menyalin. Ketiga orang ini memang sudah mahir dalam menyontek, jarang sekali mereka ketahuan, apalagi tempat duduk mereka paling pojok. Otomatis membuat mereka justru bebas melihat jawaban satu sama lain. 

Tit.. Tit.. 

Bel sekolah berbunyi menandakan ujian hari ini selesai. Semua murid diminta untuk meninggalkan kelas. 

Rara, Rama, Loli dan Edo langsung keluar meninggalkan kelas. Empat orang ini menuju kantin, setelah otaknya digunakan untuk berpikir, sekarang giliran perutnya harus terisi. 

"Mbak Nur, Rara pesan bakso dan minumnya lemon tea." Pekik Rara saat sudah di kantin. 

Mbak Nur menghampiri Rara. "Bakso, sama lemon tea ya neng. Kalau yang lain apa?" 

"Eh.. Cepatan pesan, kasian tuh mbak Nur nungguin." Timpal Rara sambil memainkan sumpit di atas meja. 

"Gua samain aja kayak Rara, mbak." Ucap Loli. 

"Kalau gua siomay ya, mbak. Jangan pakai telur gua alergi." Ujar Rama. "Lo apaan, do. Malah buka buku lo, nggak capek tuh otak." Tegurnya pada Edo yang sibuk memastikan jawaban ujiannya tidak banyak salah. 

"Gu..ggue--"

"Yaelah kelamaan lo, samain aja mbak." Potong Rara kesal, pasalnya ia tak tega melihat mbak Nur menunggu lama. Dibalik sifat brutal Rara, ia memiliki sifat baik pada orang kecil seperti mbak Nur. 

"Ra, gua masih nggak yakin sama jawaban lo." Rara mendengus. 

"Paling nilai lo jelek kayak gua. So.. Kalau gak naik kelas, gua ada temannya." Papar Rara enteng. 

"Ih apaan lo gak naik ajak-ajak." Protes Loli gak terima sambil mengibas rambut sepundaknya itu. 

Kini bibir Rara mengerucut. "Habis seolah-olah lo nyalahin gua terus. Kalau gak percaya jawaban gua, simple gak usah nyontek gua." 

"Baperan lo, Ra." Komentar Rama menarik ujung rambut Rara yang terkuncir belakang. "Eh.. Emang lo udah siap married." 

"What married?" 

Sontak Loli dan Edo kaget, hingga suara khas mereka menimbulkan murid lain yang berada di kantin melihat kearah meja mereka, bahkan Edo yang biasa tergagap bisa berseru dengan lancar. 

"Bisa kali volume suara lo kecilkan." Respon Rara kesal. 

Kedua masih tercengang tak percaya, mulut Loli terbuka lebar, sedangkan Edo melotot, hingga makanan pesanan mereka sudah datang. 

"Aaaa.."

"Uhuk.. Ra, lo apaan sih suapin gua bakso, gua punya makanan sendiri." Loli langsung mengambil minuman karena tersedak akibat ulah Rara. 

"Makanya mingkem! Masuk lalat baru lo tau." Kesal Rara seakan di atas kepadanya terdapat air panas yang baru mendidih. 

"Sekarang lo jelasin sama gua yang barusan Rama bilang. Lo mau married? Sama siapa? Terus sekolah lo gimana?" lontar Loli tak sabar. 

"Pertanyaan lo banyak banget. Bisa kali satu persatu." Mood Rara jadi berantakan seketika, bahkan ia belum menyentuh bakso yang dipesannya. 

"Pokoknya lo harus jelasin sama gua." Rengek Loli. 

"E..elo benar..ran mau ma.. Married."  Sekarang giliran Edo merespon. 

"Rama, mulut lo ya. Udah sama kayak bebek comelnya." Jengkel Rara mendelik tajam Rama yang menyengir. 

Lalu Rara merunduk menghempaskan napas kasar. "Gua memang mau married. Do'ain aja gak jadi." Tutur Rara. 

"Sama siapa?" penasaran Loli, tadinya ia semangat mengisi perut. Tapi nyatanya ia lebih tertarik dengan cerita Rara. 

"Kepo lo."

"Sama abang gua." Sahut Rama polos. 

"Pa.. Pak Aslan."

"Benaran Pak Aslan?" 

Related chapters

  • Teacher, Will You Marry Me?    6. Tanggung Jawab

    Atas permintaan Fatir, Rara sekarang berada di rumah sakit. Ia memang salah karena sudah menabrak adik kelasnya. Padahal baru juga masa-masa ujian berakhir. "Yah, harus gitu Rara ke rumah sakit." Rara berjalan menguntit Fatir. "Harus! Kamu itu udah nabrak orang, harus tanggung jawab," ujar Fatir tegas. Rara mendengus kasar. "Aaah... Ayah gak asik nih." "Kamu jangan protes terus, belajar tanggung jawab. Ingat sebentar lagi kamu itu akan nikah sama Aslan," hardik Fatir. Seperti ayah lain, Fatir juga ingin yang terbaik untuk kehidupan Rara. Melihat Rara masih kekanakan, jangankan mau tanggung jawab, untuk hidupnya sendiri masuk suka tidak benar. "Memang yakin Rara mau nikah sama Aslan?" Rara mencebik kesal, ia berjalan lambat mengekori kemana arah langkah kaki ayahnya. "Kamu udah janji sama Ayah, Ra." "Benaran harus nikah gitu, Rara masih muda ntar malah Rara dipikir hamil lagi sama orang-orang," ucap Rara asal. Fatir membalikkan tubuhnya, i

    Last Updated : 2022-03-17
  • Teacher, Will You Marry Me?    7. Rencana Pernikahan

    "Kesel... Kesel... Kesel..." Rara menutupi muka dengan bantalnya, ia masih merasa jengkel mengingat kejadian Aslan menciumnya. Jijik banget dicium Aslan! Gua harus mandi susu nih kayaknya. Suara ketukan terdengar di telinga Rara, ia bergegas turun dari ranjang dengan muka malas. Lalu dia membuka pintu, terlihat Halimah berdiri sembari menampilkan senyum lebarnya. "Bunda, ngapain senyum gitu? Rara jadi horor lihatnya," kata Rara. Halimah langsung menarik tangan Rara kembali memasuki kamar. "Sayang, kamu harus kelihatan cantik, di luar ada tamu." Rara berdecak. "Ngapain ih? Tamu Bunda, kan." "Pokoknya kamu juga harus keluar!" paksa Halimah seraya membongkar isi lemari baju Rara. "Bunda! Gak usah bongkar-bongkar dong." Rara menarik lengan Halimah agar berhenti mengacak seluruh baju dalam lemarinya. "Pakai ini." Halimah memberikan Rara dress panjang berwarna peach. "Anak bunda pasti kelihatan cantik memakainya. Bunda tunggu di bawah, ya.

    Last Updated : 2022-03-19
  • Teacher, Will You Marry Me?    8. Pernikahan

    Akhirnya hari yang Rara benci datang juga. Terlintas di benaknya melarikan diri, tetapi mengingat pesan Aslan tentang kebahagiaan orang tua, ia mengurungkan niat buruknya itu. "Masya Allah cantik banget ciptaan Tuhan satu ini," goda Loli tetap membuat muka Rara terlihat masih kecut. "Loli lo nyebelin! Bukan bantu gua mikir, malah ngeledek gua lagi," protes Rara. "Yaelah, jangan marah-marah, mau nikah juga.""Yaiyalah gua marah, lo datang ngeledek. Balik sana lo!" "Ngambek melulu lo, lebih baik lo pikiran malam pertama lo." Loli mengidik geli membayangkan Rara melakukan malam pertama bersama Aslan, mereka berdua kan musuh buyutan, bisa seperti kapal pecah ranjang mereka. "Eh, mikir apa lo? Enggak akan pernah perawan gua sama Aslan." "Kali! Pak Aslan kan bakal jadi suami lo, bebas dia mau ngapain lo. Ibarat kata nih, lo itu udah di beli Pak Aslan, lo otomatis milik dia seutuhnya." Rara mencebik sejenak memikirkan nasibnya setelah ini. Yang Loli

    Last Updated : 2022-03-21
  • Teacher, Will You Marry Me?    9. Pindah Rumah

    Atas permintaan Aslan yang sudah jadi suami sah Rara. Kini mereka telah pindah rumah, tidak terlalu besar, tidak juga kecil. Rumahnya cukup sederhana. Aslan tidak suka merepotkan siapa pun, termasuk keluarga Rara. Hanya rumah ini yang bisa Aslan beli untuk mereka tinggal. Selain harganya murah, rumah ini juga tidak jauh dari rumah lamanya. Dengan begitu dia kan bisa tetap memantau ayahnya. "Kamar gue di mana?" muka Rara terlihat kecut. Rumah ini terlalu sempit, dia sulit bernapas rasanya. Apa sih guru menyebalkan ini, tidak bisa cari rumah lebih bagus. "Ini bukan rumah lo yang dulu, kamarnya banyak." Bukannya bersyukur masih ada tempat untuk berteduh, di luaran sana, banyak sekali orang yang gak punya tinggal, bingung mau tidur di mana. Nah, sih ratu sejagat, tidur tinggal tidur, makan tinggal makan. Emang dasar manusia gak pandai bersyukur! "Terus?" decak Rara. "Terus apa?" Aslan kesal gadis ini, mungkin setelah dilahirkan sudah menyebabkan seperti ini. "O.

    Last Updated : 2022-03-24
  • Teacher, Will You Marry Me?    10. Suami Gila

    Rara tadinya ingin mengunci dirinya di kamar mandi dan akan keluar setelah makanan siap untuknya. Memang terdengar egois, dia tidak mungkin masak, pegang pisau juga tak pernah. Mentalnya terlalu lemah untuk berada di kamar mandi yang sempit, gelap pula. Terpaksa akhirnya keluar dari sana, membereskan semuanya. Ujung-ujungnya kelelahan sampai ketiduran berduaan di kamar. Ternyata tempat tidur yang tidak terlalu empuk bisa juga membuat Rara tidur nyenyak. Bangun-bangun Rara kelaparan, dia tidak melihat suaminya itu di dekatnya. Tidak penting kepergian Aslan, sekarang dia harus memikirkan perutnya yang kosong. "Aslan... Aslan... Di mana dia?" batang hidung pria itu tidak terlihat. Ah bagaimana nasib perutnya, cacingnya sudah demo. Dia pun keluar rumah mencari Aslan lagi, buruknya motor pria itu tidak ada terparkir depan rumahnya. Tidak mendapatkan Aslan di mana-mana, Rara kembali masuk rumah. Dia membuka dompetnya yang kosong. Ayahnya memang ingin membunuhnya p

    Last Updated : 2022-03-27
  • Teacher, Will You Marry Me?    11. Prihal Ganti Pakaian

    Habis basah-basahan, terpaksa mandi mendadak. Perempuan cantik ini, masih menutupi tubuhnya dengan kimono, dia pikir Aslan tak berada di kamar, ah rupanya dia mojok santai. Rara memutar bola matanya berjalan perlahan sambil netra menangkap pria itu yang sedang baca buku. Dia harus ganti baju di mana, kalau Aslan ada di kamar. Masa harus bukan semuanya depan guru dia anggap musuh ini. Ah ntar pikirannya mesum lagi, dia kan perawan ting-ting. Rara membuka lemari, tapi emang dasar kutu buku, telinganya sampai tuli. Padahal Rara sudah membanting kuat, agar pria ini membiarkannya ganti baju sejenak. Sampai hentakan kaki Rara pun tak dihiraukannya, laki-laki apaan itu? Oh jangan-jangan dia ingin mengintip. Astaga. "Aslan!" panggil Rara dengan ketus. Pria itu menoleh, dia menaikan satu alisnya. "Apa? Ngajak ribut?" pengantin baru itu harusnya nempel terus kayak prangko. Lah, Aslan dan Rara udah kayak kucing dan tikus. Boro-boro nempel, adanya berantem terus, dari hal ke

    Last Updated : 2022-04-03
  • Teacher, Will You Marry Me?    Prolog

    Plak!Hampir setiap hari Rara mendapat tamparan dari Fatir ayahnya. Bahkan ia sudah merasa seperti asupan gizi dari sang ayah."Auh.. Ayah, sakit! Kenapa gak sekalian bunuh Rara?" ucap Rara gamblang."Rara!" bentak Fatir yang nyaris jantungan mendengar perkataan putri satu-satunya."Ya Allah.. Rara, kamu gak boleh ngomong gitu ah, pamali tau apalagi sama ayah kamu." Omel wanita paruh baya membawakan sang suami secangkir teh untuk meredakan amarahnya."Habis ayah gitu sih, bun. Rara ini tiap hari dapat tamparan ayah, mending uang jajan ditambah." Balas Rara mengadukan kepada Halimah bundanya."Kamu udah keterlaluan, masa ayah harus ke sekolah kamu tiap hari." Ujar Halimah."Ayah itu malu loh sama Aslan, Ra. Kamu dan kamu terus dapat teguran, ayah sampai gak punya muka sama Aslan.""Dasar Aslan yang berlebihan tuh, mentang jadi guru di sekolah Rara terus seenaknya

    Last Updated : 2022-02-28
  • Teacher, Will You Marry Me?    1. Sekolah Nusa Bangsa

    Pagi itu seperti biasa Rara terlambat, gerbang sekolah sudah tertutup membuat Rara harus memajat pagar samping sekolah.Bruk!Rara menjatuhkan tasnya, namun tak disangka tas Rara terkena salah satu guru sekolah."Rara!" teriak laki-laki bernama lengkap Aslan Handika Pratyadi. "Kamu terlambat lagi, nggak ada bosennya kamu." Cecarnya menampilkan muka datar. Rara berdecak."Yaelah, telat lima menit doang. Jadi guru ribet, hidup gua jadi ikut ribet." Sungut Rara malas, setiap Aslan mempergokinya, pasti dia akan mendapat masalah lebih buruk dari ini."Kamu itu udah telat, pakai acara ngomel lagi. Yang guru kamu itu saya. Mau saya laporkan ayah kamu lagi.""Ih.. Dikit-dikit ngadu, salah sikit dihukum. Kena azab lo baru tau." Aslan sama sekali tak marah, dia berdiri tegak sambil menjewer telinga Rara. "Auh.. Gila banget nih guru!" hujat Rara."Saya ini guru kamu yang sopan kalau bicara." Aslan

    Last Updated : 2022-02-28

Latest chapter

  • Teacher, Will You Marry Me?    11. Prihal Ganti Pakaian

    Habis basah-basahan, terpaksa mandi mendadak. Perempuan cantik ini, masih menutupi tubuhnya dengan kimono, dia pikir Aslan tak berada di kamar, ah rupanya dia mojok santai. Rara memutar bola matanya berjalan perlahan sambil netra menangkap pria itu yang sedang baca buku. Dia harus ganti baju di mana, kalau Aslan ada di kamar. Masa harus bukan semuanya depan guru dia anggap musuh ini. Ah ntar pikirannya mesum lagi, dia kan perawan ting-ting. Rara membuka lemari, tapi emang dasar kutu buku, telinganya sampai tuli. Padahal Rara sudah membanting kuat, agar pria ini membiarkannya ganti baju sejenak. Sampai hentakan kaki Rara pun tak dihiraukannya, laki-laki apaan itu? Oh jangan-jangan dia ingin mengintip. Astaga. "Aslan!" panggil Rara dengan ketus. Pria itu menoleh, dia menaikan satu alisnya. "Apa? Ngajak ribut?" pengantin baru itu harusnya nempel terus kayak prangko. Lah, Aslan dan Rara udah kayak kucing dan tikus. Boro-boro nempel, adanya berantem terus, dari hal ke

  • Teacher, Will You Marry Me?    10. Suami Gila

    Rara tadinya ingin mengunci dirinya di kamar mandi dan akan keluar setelah makanan siap untuknya. Memang terdengar egois, dia tidak mungkin masak, pegang pisau juga tak pernah. Mentalnya terlalu lemah untuk berada di kamar mandi yang sempit, gelap pula. Terpaksa akhirnya keluar dari sana, membereskan semuanya. Ujung-ujungnya kelelahan sampai ketiduran berduaan di kamar. Ternyata tempat tidur yang tidak terlalu empuk bisa juga membuat Rara tidur nyenyak. Bangun-bangun Rara kelaparan, dia tidak melihat suaminya itu di dekatnya. Tidak penting kepergian Aslan, sekarang dia harus memikirkan perutnya yang kosong. "Aslan... Aslan... Di mana dia?" batang hidung pria itu tidak terlihat. Ah bagaimana nasib perutnya, cacingnya sudah demo. Dia pun keluar rumah mencari Aslan lagi, buruknya motor pria itu tidak ada terparkir depan rumahnya. Tidak mendapatkan Aslan di mana-mana, Rara kembali masuk rumah. Dia membuka dompetnya yang kosong. Ayahnya memang ingin membunuhnya p

  • Teacher, Will You Marry Me?    9. Pindah Rumah

    Atas permintaan Aslan yang sudah jadi suami sah Rara. Kini mereka telah pindah rumah, tidak terlalu besar, tidak juga kecil. Rumahnya cukup sederhana. Aslan tidak suka merepotkan siapa pun, termasuk keluarga Rara. Hanya rumah ini yang bisa Aslan beli untuk mereka tinggal. Selain harganya murah, rumah ini juga tidak jauh dari rumah lamanya. Dengan begitu dia kan bisa tetap memantau ayahnya. "Kamar gue di mana?" muka Rara terlihat kecut. Rumah ini terlalu sempit, dia sulit bernapas rasanya. Apa sih guru menyebalkan ini, tidak bisa cari rumah lebih bagus. "Ini bukan rumah lo yang dulu, kamarnya banyak." Bukannya bersyukur masih ada tempat untuk berteduh, di luaran sana, banyak sekali orang yang gak punya tinggal, bingung mau tidur di mana. Nah, sih ratu sejagat, tidur tinggal tidur, makan tinggal makan. Emang dasar manusia gak pandai bersyukur! "Terus?" decak Rara. "Terus apa?" Aslan kesal gadis ini, mungkin setelah dilahirkan sudah menyebabkan seperti ini. "O.

  • Teacher, Will You Marry Me?    8. Pernikahan

    Akhirnya hari yang Rara benci datang juga. Terlintas di benaknya melarikan diri, tetapi mengingat pesan Aslan tentang kebahagiaan orang tua, ia mengurungkan niat buruknya itu. "Masya Allah cantik banget ciptaan Tuhan satu ini," goda Loli tetap membuat muka Rara terlihat masih kecut. "Loli lo nyebelin! Bukan bantu gua mikir, malah ngeledek gua lagi," protes Rara. "Yaelah, jangan marah-marah, mau nikah juga.""Yaiyalah gua marah, lo datang ngeledek. Balik sana lo!" "Ngambek melulu lo, lebih baik lo pikiran malam pertama lo." Loli mengidik geli membayangkan Rara melakukan malam pertama bersama Aslan, mereka berdua kan musuh buyutan, bisa seperti kapal pecah ranjang mereka. "Eh, mikir apa lo? Enggak akan pernah perawan gua sama Aslan." "Kali! Pak Aslan kan bakal jadi suami lo, bebas dia mau ngapain lo. Ibarat kata nih, lo itu udah di beli Pak Aslan, lo otomatis milik dia seutuhnya." Rara mencebik sejenak memikirkan nasibnya setelah ini. Yang Loli

  • Teacher, Will You Marry Me?    7. Rencana Pernikahan

    "Kesel... Kesel... Kesel..." Rara menutupi muka dengan bantalnya, ia masih merasa jengkel mengingat kejadian Aslan menciumnya. Jijik banget dicium Aslan! Gua harus mandi susu nih kayaknya. Suara ketukan terdengar di telinga Rara, ia bergegas turun dari ranjang dengan muka malas. Lalu dia membuka pintu, terlihat Halimah berdiri sembari menampilkan senyum lebarnya. "Bunda, ngapain senyum gitu? Rara jadi horor lihatnya," kata Rara. Halimah langsung menarik tangan Rara kembali memasuki kamar. "Sayang, kamu harus kelihatan cantik, di luar ada tamu." Rara berdecak. "Ngapain ih? Tamu Bunda, kan." "Pokoknya kamu juga harus keluar!" paksa Halimah seraya membongkar isi lemari baju Rara. "Bunda! Gak usah bongkar-bongkar dong." Rara menarik lengan Halimah agar berhenti mengacak seluruh baju dalam lemarinya. "Pakai ini." Halimah memberikan Rara dress panjang berwarna peach. "Anak bunda pasti kelihatan cantik memakainya. Bunda tunggu di bawah, ya.

  • Teacher, Will You Marry Me?    6. Tanggung Jawab

    Atas permintaan Fatir, Rara sekarang berada di rumah sakit. Ia memang salah karena sudah menabrak adik kelasnya. Padahal baru juga masa-masa ujian berakhir. "Yah, harus gitu Rara ke rumah sakit." Rara berjalan menguntit Fatir. "Harus! Kamu itu udah nabrak orang, harus tanggung jawab," ujar Fatir tegas. Rara mendengus kasar. "Aaah... Ayah gak asik nih." "Kamu jangan protes terus, belajar tanggung jawab. Ingat sebentar lagi kamu itu akan nikah sama Aslan," hardik Fatir. Seperti ayah lain, Fatir juga ingin yang terbaik untuk kehidupan Rara. Melihat Rara masih kekanakan, jangankan mau tanggung jawab, untuk hidupnya sendiri masuk suka tidak benar. "Memang yakin Rara mau nikah sama Aslan?" Rara mencebik kesal, ia berjalan lambat mengekori kemana arah langkah kaki ayahnya. "Kamu udah janji sama Ayah, Ra." "Benaran harus nikah gitu, Rara masih muda ntar malah Rara dipikir hamil lagi sama orang-orang," ucap Rara asal. Fatir membalikkan tubuhnya, i

  • Teacher, Will You Marry Me?    5. Detik Ujian

    Ibarat kutukan yang harus Rara lakukan, dia mau tapi tak mau. Untuk apa nilai tinggi akhirnya dia menikah. Nilai jelek pasti ia akan dapat ejekan dari Aslan. Makin belagu dong sih guru menyebalkan!Bahkan dia hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan, dan berakhir duduk disini. Rara seminggu ini belajar sungguh-sungguh untuk mencapai nilai terbaik, itu juga atas desakan sang ayah.Terpaksa Rara menurut lantaran Fatir drama sakit membuatnya pasrah. Ia mana tega melihat ayahnya sakit, ataupun sedih. Dia ingin belajar atas bentuk kasih sayang kepada ayahnya."Tumben kamu belajar." Tegur Aslan yang kebetulan mengembalikan buku dari perpustakaan.Rara mendelik sinis.Aslan membungkukkan setengah tubuh, ia melekatkan bibirnya di telinga Rara membuat sang pemilik merasa tegang seketika. "Saya rasa kamu memang berminat jadi istri saya." Bisiknya.Rara terbelalak, ia menolehkan wajahnya tanpa sengaja membuat bibir keduanya

  • Teacher, Will You Marry Me?    4. Rumah Aslan

    Ini adalah hari terburuk bagi Rara, dia harus terlihat cantik depan Aslan. Paksaan Halimah membuatnya jengkel. Rara dan sekeluarga disambut dengan ramah oleh Indrawan.Belum apa-apa Rara sudah menumpang toilet, lebih tepatnya dia malas mendengar prihal perjodohan itu.Sambil memasuki toilet Rara memainkan ponselnya, "kenapa gua terjebak disini sih?" dumel Rara tidak bisa santai saat dia masih dalam toilet.Seperti orang linglung Rara mondar-mandir tak tentu arah sembari mengenggam ponsel, namun tiba-tiba Rara tersandung membuat handphoneya terlempar memasuki kloset. "Aaaaaa..." Rara berteriak histeris membuat Rama dan Aslan mendekati toilet. "Taik! Pakai acara jatuh lagi. Gimana gua ngambilnya?" omelnya sendiri."Siapa di dalam, bang?" tanya Rama yang tak mengetahui kedatangan Rara."Teman lo Rara." Jawab Aslan seadanya.Sebenarnya Aslan orangnya sangat simple, apalagi saat luar sekolah dia bisa jadi sosok abang sekal

  • Teacher, Will You Marry Me?    3. Jodoh Rara

    "What?"Mata Rara terbelalak mendengar penuturan Loli, ia bergegas menuju ruangan guru. Tak disangka memang benar Fatir ada di ruangan Aslan. Dari celah jendela Rara dapat melihat mimik wajah marah ayahnya. Mampus lo, Ra! Belum juga 24 jam dia berjanji sudah melanggarnya. Walau dia sudah tahu hukumannya harus menikah bersama Rama, whatever lah.. Rara merasa tetap tenang, dia yakin Rama tidak keberatan, lagi pula mereka sudah bersahabat sejak kecil. "Ra, kira-kira kali apa lagi salah lo?" bisik Loli. Rara memutar kepalanya setengah menatap Loli, kemudian ia perlahan jalan depan pintu, dia yakin mereka bicara suatu yang penting. Ini tak bisa dilewatkan! "Eh.. Bego lo ngapain dekat situ, ketahuan aja ntar habis lo." Peringat Loli. Namun Rara tak mau mendengar, dia tetap menyelinap depan pintu agar lebih jelas mendengar pembicaraan mereka. "Sekali lagi maaf, bukan maksud saya untuk menghukum Rara. Tapi Rara udah keterlaluan." Ucap Aslan. Keterlaluan ap

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status