Emily, yang sejak tadi berusaha fokus pada pekerjaannya, akhirnya bisa memperhatikan Mr. Whiteller dengan lebih jelas. Selama rapat tadi, pria itu hampir tidak berbicara. Ia hanya duduk diam, mengamati dengan cermat, dan sesekali berbisik pada Beni. Namun, sekarang, saat ia berjalan menjauh, Emily merasa ada sesuatu yang memancarkan wibawa dari dirinya—sesuatu yang membuat pria itu sulit untuk diabaikan.
Dia tampak begitu tenang, begitu percaya diri, seolah-olah tidak ada yang bisa mengguncang dirinya. Mata hijau itu... Emily tidak bisa melupakan tatapan tajamnya yang sempat bertemu dengan matanya beberapa kali.
Namun lamunan itu tidak berlangsung lama. Leni, yang tampaknya masih senang memanfaatkan momen untuk memberikan komentar, membungkuk sedikit ke arah Emily dan berbisik dengan nada sarkastik.
"Jangan berkhayal, Emi. Melirikmu saja mungkin dia tidak tertarik."
Komentar itu terasa seperti paku yang menusuk gelembung lamunan Emily. Ia menoleh pelan ke arah Leni, menahan emosi yang perlahan muncul di dadanya.
"Aku tidak berkhayal," jawab Emily datar, suaranya lebih tegas daripada yang ia kira.
Emily kembali mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang kini sudah tertutup. Mr. Whiteller dan timnya telah pergi, tapi bayangan pria itu masih melekat di benaknya.
Namun, Emily menggelengkan kepala perlahan, mencoba mengembalikan fokusnya.
…
Beberapa saat kemudian, Pak Boy mendekat dengan langkah cepat. Senyum profesional di wajahnya menyiratkan antusiasme yang biasanya ia tunjukkan saat membicarakan hal-hal penting.
"Emily, nanti malam kamu harus ikut makan malam," katanya dengan nada tegas namun ramah.
Emily menelan ludah. Ia merasa ragu. Makan malam dengan klien besar seperti Whiteller Corp sepertinya lebih dari sekadar acara makan malam biasa.
"Pak, maaf, sepertinya saya tidak bisa ikut nanti malam," ucap Emily hati-hati, mencoba mencari alasan tanpa terdengar tidak sopan.
Pak Boy mengerutkan dahi, jelas bingung dengan penolakannya. "Kenapa? Kamu harus datang, ini penting. Kamu punya andil besar dalam proyek ini, Emily. Presentasimu tadi sangat memukau. Klien pasti ingin mengenalmu lebih jauh."
Sebelum Emily sempat menjawab, Leni yang berdiri di dekat mereka segera menyela dengan nada santai, tapi tajam. "Aku rasa nggak apa-apa kalau Emily nggak ikut, Pak. Ini kan cuma makan malam. Toh, bukan rapat kerjaan yang harus banget dihadiri."
Pak Boy menatap Leni dengan sorot mata tajam yang membuat suasana sedikit tegang. "Bukan begitu, Leni. Mereka adalah klien penting, dan kita harus menghormati undangan mereka. Ini tentang menjaga hubungan baik, bukan sekadar pekerjaan. Emily, kamu harus datang. Urusan apa pun itu, tunda."
Tanpa menunggu jawaban Emily, Pak Boy berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan suasana yang tiba-tiba terasa sunyi.
Leni, yang sejak tadi memasang ekspresi puas, mendekat dan berbisik dengan nada dingin. "Jangan lupa mandi dulu," katanya pelan, Setelah itu, Leni melenggang pergi dengan langkah santai, meninggalkan Emily sendirian di tempatnya.
Emily tetap berdiri di sana. Sekilas, rasa marah muncul—marah pada Leni, Ia menunduk, tangannya mengepal di samping tubuhnya.
…
Sore itu, suasana kantor mulai lengang. Beberapa rekan kerja sudah berkemas dan beranjak pulang, sementara sebagian lainnya masih duduk di depan meja mereka, menyelesaikan sisa pekerjaan. Emily berjalan menuju ruang kerja Pak Boy. Langkahnya sedikit berat karena rasa lelah yang mulai menguasai tubuhnya setelah seharian bekerja.
Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk perlahan sebelum masuk. Pak Boy tampak sibuk, matanya terpaku pada layar komputer, sementara tumpukan berkas di mejanya menambah kesan sibuk yang selalu melekat padanya.
"Pak, saya pamit dulu. Nanti saya langsung menyusul ke restoran, ya," ucap Emily dengan nada sopan, berdiri di dekat pintu.
Pak Boy tidak langsung menoleh. "Oke, nanti saya kirimkan alamat restorannya lewat grup," jawabnya singkat, matanya masih terpaku pada monitor.
"Baik, Pak," sahut Emily, menahan keinginan untuk meminta waktu lebih banyak. Ia tahu, mengganggu di saat seperti ini bukan ide yang bagus. Dengan langkah pelan, ia berbalik dan keluar dari ruangan, membiarkan Pak Boy kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
Di luar, Emily menghela napas panjang. Udara sore terasa berat di dadanya. matanya menatap kosong ke arah koridor yang sudah mulai sepi.
Ia berjalan keluar kantor dengan langkah lambat. Langit sore mulai gelap, dan jalanan Jakarta seperti biasa—macet, ramai, dan penuh dengan suara klakson yang bersahutan.
Setibanya di kamar kosnya yang mungil, Emily langsung meletakkan tas di kursi, merentangkan tangan, dan memejamkan mata sejenak. Rasa lelah begitu nyata, namun waktu terus berjalan. Ia tidak punya banyak waktu untuk bermalas-malasan.
Dengan langkah cepat, Emily masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir, membantu menghilangkan penat di tubuhnya. Ia mencuci rambutnya dengan sampo yang wangi, memastikan setiap sudut tubuhnya bersih. Dalam hati, ia bertekad bahwa malam ini, ia harus tampil sebaik mungkin.
Selesai mandi, Emily mengenakan handuk dan berdiri di depan cermin. Ia memandangi bayangannya sendiri.Tangan kirinya menyentuh wajahnya, dan mulai melakukan kegiatan perskinkeran.
Sambil berdandan di depan cermin, Emily memutuskan untuk menelepon keluarganya melalui video call. Wajahnya yang letih mulai tampak sedikit segar setelah makeup, namun ada sesuatu di hatinya yang terasa berat. Ia tahu, suara ibunya selalu bisa menenangkan, jadi ia mengambil ponselnya dan memulai panggilan.
"Kakak mau pergi ke mana?" suara lembut ibunya terdengar begitu panggilan tersambung. Wajah ibunya muncul di layar, menampilkan senyum hangat yang selalu menjadi pelipur lara Emily.
"Tim kami dapat undangan makan malam, Bu, dengan klien," jawab Emily sambil mengoleskan blush on tipis di pipinya, berusaha menutupi jejak kelelahan yang masih membekas.
"Oh, baguslah. Bagaimana pekerjaanmu, Kak? Baik-baik saja, kan?" tanya ibunya dengan suara penuh perhatian, seperti biasa.
"Pekerjaan lancar, Bu. Teman-teman di kantor baik semua, aku banyak dibantu mereka," jawab Emily, meskipun dalam hatinya ada rasa bersalah karena tidak sepenuhnya jujur.
"Syukurlah," jawab ibunya sambil mengangguk, senyum lega terpancar jelas di wajahnya. Senyum itu selalu membuat Emily merasa tenang, seolah semua masalahnya bisa ia simpan jauh-jauh.
"Ibu tidak perlu khawatir, ya. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Kakak," ucap Emily, tersenyum sambil menambahkan eyeliner di matanya
"Harusnya Ibu yang bilang begitu. Kamu jangan terlalu khawatir. Ibu baik-baik saja di sini bersama adikmu," balas sang ibu dengan lembut, membuat Emily tersenyum tipis.
"Adik mana, Bu? Kenapa nggak kelihatan?" tanya Emily sambil menatap layar, menyadari bahwa wajah adiknya tidak muncul di panggilan itu.
"Dia pergi, temannya mengajaknya main," jawab ibunya santai, seperti itu adalah hal biasa.
"Aduh, itu anak benar-benar. Bukannya menemani Ibu di rumah, malah pergi main!" ucap Emily dengan nada sedikit kesal, alisnya berkerut.
"Huss, jangan begitu. Biarkan saja, namanya juga anak remaja," tegur ibunya lembut, berusaha membela si adik.
"Untuk apa main-main ke luar? Lebih baik temani Ibu di rumah. Kalau Ibu ada apa-apa, siapa yang tahu?" ucap Emily, nadanya terdengar lebih serius sekarang. Kekhawatirannya akan kondisi ibunya di rumah memang sering menghantui pikirannya."Sudah-sudah. Muka kamu jadi jelek lagi tuh kalau terus marah-marah. Ingat waktu, jangan sampai kamu terlambat," ucap ibunya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.Emily cemberut, tapi tidak bisa menahan senyumnya. "Iya, Bu. Kalau Ibu yang bilang, aku nggak bisa protes.""Sudah, siap-siaplah. Jangan terlambat, Kak," ujar ibunya lagi, nada penuh perhatian itu membuat hati Emily terasa lebih ringan."Iya, Bu. Jangan lupa makan, ya. Aku tutup dulu, ya, Bu," pamit Emily, melambaikan tangan ke layar."Iya, Kakak. Jaga dirimu, ya," balas ibunya, senyum hangatnya masih terpancar hingga panggilan berakhir.Emily menutup panggilan dan menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di meja dan memandangi wajahnya di cermin. Rasanya sedikit lebih ten
"Menarik," ujar Beni akhirnya. "Namun, saya ingin tahu, apakah insiden tadi benar-benar mencerminkan dirinya, atau justru cerminan dinamika tim Anda sendiri?"Leni terlihat sedikit kaget, tapi dengan cepat menyembunyikan reaksi itu di balik senyum diplomatisnya. "Oh, tentu saja tim kami sangat solid, Pak. Insiden tadi hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Saya hanya ingin memastikan Anda dan Mr. Whiteller tidak salah paham terhadap kualitas kerja kami secara keseluruhan."Pak Boy, yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu, akhirnya angkat bicara. Ia menyadari bahwa Leni mencoba menyudutkan Emily dengan cara halus di hadapan Mr. Whiteller dan Beni."Maaf, boleh saya menambahkan sesuatu?" ucap Pak Boy dengan nada yang tenang namun tegas. Ia menatap langsung ke arah Mr. Whiteller dan Beni, berusaha memastikan kata-katanya didengar dengan jelas."Tentu, silakan," jawab Mr. Whiteller sambil melipat tangannya di atas meja.Pak Boy melanjutkan, "Saya memahami kekhawatiran yang Leni sampaikan,
Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Rutinitas Emily kembali berjalan normal, seakan insiden cangung saat makan malam itu hanya menjadi kenangan buruk yang sangat memalukan, namun hal itu perlahan terkubur oleh kesibukannya bekerja. Setelah kejadian tersebut, Emily lebih fokus pada pekerjaannya, memastikan setiap tugas yang diberikan terselesaikan dengan baik.Kabar menyebutkan bahwa Mr. Whiteller dan asistennya, Beni, telah kembali ke Amerika. Meski rasa bersalah masih mengintip di sudut hatinya, Emily merasa lega karena hubungan kerja sama dengan Whiteller Corp tetap berjalan. Perusahaan mereka masih mempercayakan proyek besar itu kepada tim Emily, dan sejauh ini proyek tersebut berjalan tanpa kendala berarti.Komunikasi antara kedua belah pihak kini sepenuhnya dilakukan secara virtual. Dalam setiap pertemuan daring, Emily tidak lagi melihat Mr. Whiteller secara langsung. Biasanya, perwakilan Whiteller Corp yang hadir adalah staf lain dari tim mereka. Meskipun begitu, setiap
Proyek Whiteller Corp adalah yang terbesar dalam karier Emily, kesempatan emas yang bisa membawa perubahan besar dalam hidupnya. Namun, setiap kali pikirannya melayang ke Amerika, bayangan wajah ibunya selalu datang menghantui. Ia merasa terjebak di antara tanggung jawab karier dan cinta yang mendalam untuk keluarganya.Malam itu, Emily duduk termenung di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto keluarga—ibunya dan Elio, adik laki-lakinya, tersenyum hangat di depan rumah mereka yang sederhana. Itu adalah dunianya, sumber kekuatannya untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota besar. Tapi, saat ini, dunia itu terasa begitu jauh dari keputusan yang harus diambilnya.Tiba-tiba, teleponnya bergetar. Nama Elio muncul di layar, mengejutkannya. Elio jarang menelepon, apalagi di malam hari seperti ini. Emily segera menggeser layar untuk menjawab."Halo, Kak," suara Elio terdengar ragu, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu."Ada apa, El? Tumben telepon malam
"New York ini luar biasa ya," gumamnya pelan.Dimas, yang duduk di sampingnya, menoleh. "Iya, Em. Ini kesempatan yang nggak datang dua kali. Kita harus menikmatinya."Sementara itu, Leni dan Jesselyn tampak sibuk memotret pemandangan dari dalam mobil, mengunggah foto-foto mereka ke media sosial sambil sesekali tertawa kecil. Emily memilih untuk diam, membiarkan dirinya menikmati momen ini dalam ketenangan.Tak lama kemudian, van berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern yang menjulang tinggi. Beni keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk mereka."Ini tempat kalian selama di New York," kata Beni sambil memimpin mereka masuk ke lobi apartemen yang tampak mewah. "Tuan Whiteller memastikan tempat ini nyaman untuk kalian."Leni dan Jesselyn tampak terkesan, terlihat dari mata mereka yang berbinar. "Wah, mewah banget!" seru Jesselyn.Dimas mengangguk setuju. "Kayaknya bakal betah tinggal di sini."Beni membawa mereka ke lantai dimana tempat unit apartemen mereka berada. Saat pintu u
Mr. Whiteller sedang berdiri tidak jauh dari mereka, matanya tertuju ke arah mereka berdua—atau lebih tepatnya, ke arah Emily. Terkejut, Emily segera menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, merasa canggung karena tertangkap basah.Wanita itu, tanpa terlihat terganggu, justru melanjutkan dengan santai, “Aku dengar dia tidak suka perempuan.”Emily menoleh dengan ekspresi kaget, alisnya terangkat. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara rendah.Wanita itu terkekeh kecil, seolah puas dengan reaksi Emily. “Kudengar dia sangat keras dalam hal pekerjaan, terutama kepada perempuan. Tapi itu hanya gosip kantor, sih,” ujarnya sambil mengedikkan bahu, seolah tidak peduli apakah gosip itu benar atau tidak.Emily merasa tak nyaman mendengar pembicaraan seperti itu, apalagi di satu ruangan yang sama dengan Mr. Whiteller. Tapi sebelum ia sempat merespons, wanita itu sudah mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.“Ngomong-ngomong, aku Amore,” katanya memperkenalkan diri.Emily, meski masih sediki
“Emily, kamu bisa nggak sih lebih cepat sedikit? Kita nggak mau proyek ini tertunda gara-gara kamu, loh,” ucap Jesselyn suatu hari, dengan nada yang lebih merendahkan daripada membantu.“Iya, Jess benar. Lagian, ini kan konsep kamu. Harusnya kamu sudah tahu semuanya luar kepala, kan?” tambah Leni, dengan senyum mengejek.Emily hanya mengangguk kecil, berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Ia tahu bahwa terlibat dalam konflik hanya akan memperburuk situasi, terutama di lingkungan kerja seperti ini.Namun, ejekan dan sindiran itu tidak berhenti di situ. Di depan karyawan Whiteller Corp, Leni dan Jesselyn sering membuat komentar yang membuat Emily merasa tidak dihargai.“Emily ini tipe yang suka kerja sendirian. Jadi, jangan kaget kalau dia jarang ngomong,” ujar Leni suatu kali, disusul tawa kecil dari Jesselyn.“Ya, mungkin dia butuh waktu adaptasi lebih lama,” tambah Jesselyn dengan nada sinis.Emily merasa semakin terpojok. Di ruangan yang seharusnya menjadi tempat kolabor
Setelah beberapa saat, Mr. Whiteller bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah mereka. Emily langsung duduk tegak, merasa seperti seorang siswa yang dipanggil guru di depan kelas."Emily, Dimas," sapa Mr. Whiteller dengan suara tenang namun tegas."Good evening, sir," jawab Emily, suaranya sedikit bergetar.Mr. Whiteller mengangguk sopan. "Saya tidak menyangka akan bertemu kalian berdua di sini. Makan malam yang menyenangkan?""Ya, sir. Kami hanya mencoba menikmati waktu luang," jawab Dimas dengan senyum santai, mencoba mencairkan suasana.Mr. Whiteller mengangguk lagi, kali ini dengan sedikit senyum di wajahnya. "Bagus. Sangat penting untuk menjaga keseimbangan Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi"Perempuan yang bersama Mr. Whiteller berjalan mendekat. Ia tersenyum ramah sambil memperkenalkan diri. " Halo, Alice” ucapnya sambil mengulurkan tangan.Emily dan Dimas segera menjabat tangannya. "Emily," ucap Emily singkat."Dan saya Dimas," tambah Dimas.Setelah perbincangan singkat i
Sylvester menatapnya dari samping. "Kau mengantuk?"Emily mengangguk kecil. "Sedikit. Ini hari yang panjang."Sylvester tersenyum lalu, dengan lembut, ia meraih tangan Emily dan menggenggamnya."Terima kasih sudah menghabiskan waktumu denganku hari ini," katanya pelan.Emily membuka matanya, menatap Sylvester dengan lembut. "Aku juga berterima kasih"Mereka saling tersenyum, membiarkan kehangatan kecil itu tumbuh di antara mereka, tanpa kata-kata berlebihan.Taksi terus melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang, ditemani cahaya lampu jalan yang menari di kaca jendela. Di dalam kabin yang hening, hanya suara pelan dari radio yang mengalun sebagai latar.Emily bersandar pada jendela, matanya setengah terpejam. Kelelahan tampak di wajahnya, namun ada ketenangan yang begitu indah terpancar dari ekspresinya. Tangan mereka masih bertaut, jemarinya bersarang nyaman di genggaman Sylvester.Sesekali, Sylvester mencuri pandang ke arahnya. Tatapannya lembut, penuh kekaguman dan kasih. Ia m
Mereka masuk ke dalam dan memilih meja di dekat jendela. Lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat, sementara aroma masakan yang menggoda tercium di udara."Apa yang kau rekomendasikan?" tanya Sylvester sambil membuka menu.Emily berpikir sejenak. "Mereka punya nasi goreng yang enak, juga sate ayam dan sup buntut. Tapi kalau kau ingin sesuatu yang ringan, mie gorengnya juga enak."Sylvester mengangguk. "Baiklah, aku coba nasi goreng spesial. Kau?""Aku pesan mie goreng saja," jawab Emily, lalu mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka.Setelah pelayan pergi, Sylvester menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Emily dengan ekspresi santai."Aku merasa seperti sedang kencan malam ini," katanya tiba-tiba.Emily hampir tersedak air putihnya. "Apa?"Sylvester terkekeh melihat reaksinya. "Apa ini bukan kencan? Kita pergi bersama, menikmati pemandangan indah, lalu sekarang makan malam berdua."Emily menatapnya dengan tatapan setengah geli, setengah kesal. "Kalau ini kenc
Sylvester tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan mendekat. Emily bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas."Sylvester…?"Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sylvester sudah mengangkat tangan dan dengan lembut merapikan helai rambut Emily yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga."Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih jelas," gumamnya, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat.Emily terdiam, mendadak kehabisan kata-kata..Sylvester tersenyum kecil. "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini."Emily menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu berpaling kembali ke pemandangan kota."Aku juga," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka, membiarkan angin malam membawa perasaan yang perlahan semakin dalam di antara mereka.Emily tetap menatap ke arah gemerlap
Seusai makan siang, Emily dan Sylvester kembali ke kantor. Saat mobil mereka berhenti di parkiran, Emily menoleh ke arah Sylvester."Jadi, kau akan ke mana setelah ini?" tanyanya."Aku ke ruangan Carol," jawab Sylvester santai.Begitu melihat ekspresi Emily yang tiba-tiba cemberut, Sylvester tersenyum kecil dan menatapnya lembut."Percayalah padaku, Em. Aku dan Carol tidak akan ada apa-apa. Dia murni hanya teman untukku," ucapnya meyakinkan.Emily mendengus kecil. "Tapi kalau dia menggodamu, siapa yang bisa menjamin kau tidak tergoda?"Sylvester tertawa pelan, menggelengkan kepala. "Kau ini lucu sekali."Emily melipat tangan di depan dada. "Apa sekarang kau sudah bangkrut sampai tidak bisa membayar orang untuk mengurus pendirian perusahaanmu disini"Sylvester terkekeh, lalu mendekat, berniat memeluk Emily. Namun, Emily buru-buru mundur selangkah."Akan ada yang melihat nanti," bisiknya sambil melirik sekitar."Bukankah itu bagus? Jadi tak ada lagi yang berpikir aku ini kekasih Carol,"
Emily menatap Sylvester tajam. "Sylvester…"Sylvester menarik tangan Emily dan menggenggamnya erat. "Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan mengutus orangku untuk menemanimu besok."Carol menyela. "Tanda tanganmu sangat dibutuhkan besok, Syl."Sylvester menoleh dengan ekspresi datar. "Kau bisa mengurusnya, Carol."Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia menarik Emily keluar dari ruangan, meninggalkan Carol yang hanya bisa menghela napas panjang. Emily menatap pria di sampingnya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Langkahnya terhenti ketika Sylvester tetap menggenggam tangannya erat, seolah tak ingin melepaskannya."Sylvester, kau tidak bisa semaumu seperti ini," ujar Emily, mencoba menarik tangannya.Sylvester menoleh, menatapnya dalam. "Aku tahu aku bersalah, aku tahu aku membuatmu kesal dan kecewa, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku."Emily menghela napas panjang. "Kau tidak bisa memaksaku. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berpikir."Sylvester tersen
Tidak percaya dengan semua yang ia dengar, Emily berdiri dan melangkah cepat ke lantai tempat ruangan Bu Carol berada. Tanpa berpikir panjang, begitu sampai di depan pintu, ia langsung membukanya tanpa mengetuk.Di dalam, Carol dan Sylvester duduk di sofa, dipisahkan oleh sebuah meja kecil.Carol menatapnya tajam. "Apa kau tak punya sopan santun? Membuka ruangan saya tanpa mengetuk?" tegurnya.Emily hanya melirik sekilas ke arah Sylvester, lalu menarik napas dalam. "Maafkan saya, Bu. Saya tadi ingin masuk ke ruangan sebelah, tapi ternyata salah ruangan. Saya Permisi."Ia segera menutup pintu kembali, tapi sebelum benar-benar rapat, suara Sylvester terdengar memanggilnya. Namun ia memilih untuk terus melangkah pergi. Bukan ke mejanya, melainkan ke meja Dimas."Dimas…" panggilnya lirih."Sebentar, Em. Aku selesaikan ini dulu," balas Dimas, matanya masih fokus menatap layar komputer.Tak ingin mengganggu, Emily memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum sempat sampai ke sana,
Emily berdiri di balik pintu dengan napas yang sedikit memburu. Tangannya masih menggenggam erat kenop pintu, memastikan tidak ada celah sedikit pun untuk dibuka kembali."Emily, ayolah, buka pintunya. Aku hanya ingin bicara," suara Ben terdengar dari luar, terdengar memohon tetapi tetap menyimpan nada yang membuat Emily semakin waspada.Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka Ben akan muncul di depan kosannya seperti ini. Bagaimana dia bisa tahu tempat tinggalnya? Dan untuk apa dia datang ke sini?"Aku tidak tertarik untuk bicara, Ben. Pergilah," ucap Emily tegas, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.Ben tertawa kecil. "Kau takut padaku?"Emily diam, tidak ingin memberi celah untuk Ben berlama-lama di sini. Ia melangkah mundur perlahan, menahan napas, berharap Ben segera pergi. Namun, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan."Emily, aku hanya ingin bicara sebentar. Aku tidak akan macam-macam, mengapa kau setakut itu padaku?" suara Ben terdengar lebih le
Setelah menghabiskan masa izin dua harinya, Emily kembali ke kota dan menjalani rutinitas sebagai seorang karyawan. Pagi ini, seperti biasa, ia berangkat ke kantor. Tidak ada yang berbeda sejak sebelum ia pergi ke Amerika. Rekan-rekan kerjanya tetap memperlakukannya seperti sebelumnya. Namun, satu hal yang berubah adalah Leni. Gadis itu kini lebih ramah dan terbuka, yang membuat Emily merasa sedikit lebih nyaman. Setidaknya, kini ia punya tambahan teman selain Dimas.Hari-hari berlalu tanpa banyak kejadian berarti. Semua berjalan seperti biasa—rapat, tugas kantor, makan siang, hingga kembali pulang ke kosannya. Seminggu pun berlalu dengan cepat.Siang itu, saat Emily sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mulai mendengar bisik-bisik dari rekan-rekan di sekitarnya."Oh my God, dia sangat tampan!""Dulu aku sempat bertemu dengannya juga.""Apakah itu benar?""Mereka sungguh berpacaran?""Aku sudah yakin saat proyek tim Leni ke Amerika.""Mereka sangat cocok!""Dia benar-benar tampan."Emi
“Ya?” jawab Emily, berusaha tenang.“Kau sudah sampai di rumah ibumu?”“Sudah. Aku tiba siang tadi, sekarang di sini sudah malam,” ucap Emily lembut.Hening sesaat di antara mereka. Emily kemudian bertanya, “Aku yakin di sana masih pagi sekali. Apa kau terbiasa bangun sepagi itu?”“Aku belum tidur,” jawab Sylvester pelan.Emily terkejut. “Belum tidur?”“Iya... ah, mungkin aku akan melanjutkan tidurku di kantor nanti,” ucap Sylvester sambil tertawa kecil, meski terdengar lelah.Emily terdiam sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau belum tidur?”“Aku menunggu balasanmu,” jawab Sylvester jujur. “Aku berkali-kali menelponmu, tapi tak kau angkat.”Emily menarik napas dalam, mencoba menahan rasa yang sempat mengganjal. “Mungkin karena kau sedang bersenang-senang di luar sana… jadi aku pikir, aku tak mau mengganggu,” ucapnya, sedikit ketus.Sylvester diam sesaat, sebelum akhirnya berkata pelan, “Emily.”“Ya?”“Apa yang Carol katakan padamu?” tanyanya hati-hati.Emily menggigit bibir bawahnya. “M