Share

BAB 7

Author: Sang Penulis
last update Huling Na-update: 2024-12-02 23:13:03

Proyek Whiteller Corp adalah yang terbesar dalam karier Emily, kesempatan emas yang bisa membawa perubahan besar dalam hidupnya. Namun, setiap kali pikirannya melayang ke Amerika, bayangan wajah ibunya selalu datang menghantui. Ia merasa terjebak di antara tanggung jawab karier dan cinta yang mendalam untuk keluarganya.

Malam itu, Emily duduk termenung di tepi tempat tidurnya, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto keluarga—ibunya dan Elio, adik laki-lakinya, tersenyum hangat di depan rumah mereka yang sederhana. Itu adalah dunianya, sumber kekuatannya untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota besar. Tapi, saat ini, dunia itu terasa begitu jauh dari keputusan yang harus diambilnya.

Tiba-tiba, teleponnya bergetar. Nama Elio muncul di layar, mengejutkannya. Elio jarang menelepon, apalagi di malam hari seperti ini. Emily segera menggeser layar untuk menjawab.

"Halo, Kak," suara Elio terdengar ragu, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Ada apa, El? Tumben telepon malam-malam," tanya Emily.

"Kakak jadi ke Amerika?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

Emily terdiam sesaat. "Iya, kemungkinan besar," jawabnya lirih. "Kenapa, El?"

Ada jeda di seberang. Lalu, suara Elio terdengar lagi, lebih lembut kali ini. "Kakak nggak usah khawatir soal Ibu. Aku bisa jaga Ibu di sini."

Emily menarik napas panjang. "El, kamu masih muda. Kakak nggak yakin kamu bisa mengurus semuanya sendirian. Tanggung jawab ini terlalu besar untukmu."

Keheningan di ujung telepon. Tapi sebelum ia bisa berkata lebih banyak, Elio melanjutkan, suaranya terdengar tegas meski pelan. "Kak, Kakak sudah ngorbanin banyak hal buat kami. Giliran aku sekarang yang gantian jagain Ibu. Kakak ambil kesempatan ini. Aku janji, aku bakal kasih kabar soal Ibu terus ke Kakak."

Emily terisak kecil, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. "Tapi, El... kalau Ibu kenapa-kenapa.. “

Suara ibunya tiba-tiba terdengar di latar belakang. "Ibu nggak apa-apa, Nak," katanya lembut. " Ini giliran kamu, Emily. Pergilah. Jangan khawatirkan kami."

Suara ibunya membuat tangis Emily semakin pecah. "Tapi, Bu... kalau aku kangen, gimana?"

Terdengar tawa kecil dari Elio dan ibunya. "Kan ada videocall," jawab Elio, mencoba mencairkan suasana.

Emily tersenyum kecil di tengah tangisnya. "Tapi kalau aku mau peluk Ibu?"

"Simpan kangenmu, Nak," ujar ibunya lembut. "Nanti kalau kamu pulang, peluk Ibu sampai puas. Ibu janji bakal peluk kamu nggak lepas-lepas. Kalau perlu, Ibu kurung kamu di rumah."

Emily tertawa kecil di antara air matanya, terhibur oleh canda ibunya. Malam itu, Emily merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan. Cinta dan dukungan dari keluarga memberinya kekuatan baru untuk melangkah.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Emily bisa tidur dengan nyenyak. Ia tahu keputusannya sudah bulat. Keesokan harinya, ia akan menghubungi manajernya untuk menyatakan kesiapannya berangkat ke Amerika, membawa harapan keluarga bersamanya.

Hari keberangkatan itu akhirnya tiba. Emily berjalan memasuki bandara dengan perasaan campur aduk—antara gugup, sedih, dan sedikit antusias. Di area keberangkatan, ia segera bergabung dengan rekan-rekan timnya yang juga akan berangkat ke Amerika bersamanya: Leni, Jesselyn, dan Dimas.

"Semangat dong, Em!" ucap Dimas ceria, menyadari raut wajah Emily yang tampak berat.

Emily tersenyum tipis, meski hatinya masih dipenuhi kecemasan. "Iya, Dim. Terima kasih," jawabnya singkat.

Sementara itu, di sisi lain, Leni dan Jesselyn sibuk dengan obrolan mereka sendiri, tertawa pelan sambil sesekali melirik ke arah Emily. Namun, Emily memilih untuk tidak terlalu memerhatikan mereka. Dia sudah cukup terbiasa dengan sikap mereka yang sedikit dingin terhadapnya.

Dimas, seperti biasanya, tetap ramah dan perhatian. Ia berjalan mendekat ke sisi Emily, lalu berkata dengan suara tenang, "Di sana sekarang sedang musim dingin. Kamu sudah persiapkan baju hangat, kan?"

Emily mengangguk. "Sudah, Dim. Terima kasih sudah mengingatkan."

Suasana sempat hening sejenak, tapi Dimas kembali memecahnya dengan suara rendah namun penuh ketulusan. "Aku tahu kamu punya banyak beban, Em. Tapi kamu nggak sendirian. Kamu bisa andalkan aku di sana. Lagi pula, kita ini tim, kan? Harus saling melengkapi."

Emily menatap Dimas sejenak, hatinya terasa hangat mendengar ucapan itu. Tapi sebelum ia sempat membalas, Dimas melanjutkan, kali ini sambil melirik ke arah Leni dan Jesselyn, yang masih asyik berbincang. "Dan soal mereka berdua… nggak usah dipikirin. Fokus aja sama kerjaan kita."

Senyum kecil muncul di wajah Emily. Kata-kata Dimas memberikan sedikit kelegaan. "Terima kasih, Dim. Aku benar-benar menghargai itu."

Dimas mengangguk santai, lalu memberi Emily jempol. "Santai aja."

Saat itu, pengumuman untuk penerbangan mereka terdengar. Mereka segera bersiap menuju pintu keberangkatan. Emily menarik napas panjang, menatap sekali lagi ke arah layar ponselnya—foto ibunya dan Elio yang ia pasang sebagai wallpaper kemudian melangkah mantap bersama timnya menuju pesawat. Perjalanan baru ini baru saja dimulai.

Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York. Udara dingin langsung terasa begitu Emily dan timnya turun dari pesawat. Ini pertama kalinya ia merasakan musim dingin secara langsung.

Di pintu kedatangan, seorang pria yang sudah tak asing berdiri menunggu mereka. Beni, asisten Mr. Whiteller, melambaikan tangan sambil tersenyum tipis begitu melihat rombongan mereka.

"Selamat datang di New York," sapanya dengan nada sopan namun formal. "Semoga perjalanan kalian menyenangkan."

Dimas menyambut dengan ramah, "Halo, Beni! Terima kasih sudah menjemput kami."

Beni hanya mengangguk sebelum beralih ke Emily. Matanya menatapnya sesaat, lalu berkata, "Kabar baik melihat mu di sini, Emily."

Emily hanya tersenyum kecil. "Terima kasih, Beni."

Setelah memastikan semua barang bawaan tim sudah diangkut, Beni mengantar mereka ke sebuah van hitam yang sudah menunggu di luar. Perjalanan ke apartemen yang akan mereka tinggali memakan waktu sekitar satu jam. Selama perjalanan, Emily memandangi pemandangan kota New York melalui jendela. Gedung-gedung pencakar langit yang megah membuatnya terpesona, meskipun kelelahan masih terasa di tubuhnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 8

    "New York ini luar biasa ya," gumamnya pelan.Dimas, yang duduk di sampingnya, menoleh. "Iya, Em. Ini kesempatan yang nggak datang dua kali. Kita harus menikmatinya."Sementara itu, Leni dan Jesselyn tampak sibuk memotret pemandangan dari dalam mobil, mengunggah foto-foto mereka ke media sosial sambil sesekali tertawa kecil. Emily memilih untuk diam, membiarkan dirinya menikmati momen ini dalam ketenangan.Tak lama kemudian, van berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern yang menjulang tinggi. Beni keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk mereka."Ini tempat kalian selama di New York," kata Beni sambil memimpin mereka masuk ke lobi apartemen yang tampak mewah. "Tuan Whiteller memastikan tempat ini nyaman untuk kalian."Leni dan Jesselyn tampak terkesan, terlihat dari mata mereka yang berbinar. "Wah, mewah banget!" seru Jesselyn.Dimas mengangguk setuju. "Kayaknya bakal betah tinggal di sini."Beni membawa mereka ke lantai dimana tempat unit apartemen mereka berada. Saat pintu u

    Huling Na-update : 2024-12-03
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 9

    Mr. Whiteller sedang berdiri tidak jauh dari mereka, matanya tertuju ke arah mereka berdua—atau lebih tepatnya, ke arah Emily. Terkejut, Emily segera menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, merasa canggung karena tertangkap basah.Wanita itu, tanpa terlihat terganggu, justru melanjutkan dengan santai, “Aku dengar dia tidak suka perempuan.”Emily menoleh dengan ekspresi kaget, alisnya terangkat. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara rendah.Wanita itu terkekeh kecil, seolah puas dengan reaksi Emily. “Kudengar dia sangat keras dalam hal pekerjaan, terutama kepada perempuan. Tapi itu hanya gosip kantor, sih,” ujarnya sambil mengedikkan bahu, seolah tidak peduli apakah gosip itu benar atau tidak.Emily merasa tak nyaman mendengar pembicaraan seperti itu, apalagi di satu ruangan yang sama dengan Mr. Whiteller. Tapi sebelum ia sempat merespons, wanita itu sudah mengulurkan tangannya dengan senyum ramah.“Ngomong-ngomong, aku Amore,” katanya memperkenalkan diri.Emily, meski masih sediki

    Huling Na-update : 2024-12-04
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 10

    “Emily, kamu bisa nggak sih lebih cepat sedikit? Kita nggak mau proyek ini tertunda gara-gara kamu, loh,” ucap Jesselyn suatu hari, dengan nada yang lebih merendahkan daripada membantu.“Iya, Jess benar. Lagian, ini kan konsep kamu. Harusnya kamu sudah tahu semuanya luar kepala, kan?” tambah Leni, dengan senyum mengejek.Emily hanya mengangguk kecil, berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Ia tahu bahwa terlibat dalam konflik hanya akan memperburuk situasi, terutama di lingkungan kerja seperti ini.Namun, ejekan dan sindiran itu tidak berhenti di situ. Di depan karyawan Whiteller Corp, Leni dan Jesselyn sering membuat komentar yang membuat Emily merasa tidak dihargai.“Emily ini tipe yang suka kerja sendirian. Jadi, jangan kaget kalau dia jarang ngomong,” ujar Leni suatu kali, disusul tawa kecil dari Jesselyn.“Ya, mungkin dia butuh waktu adaptasi lebih lama,” tambah Jesselyn dengan nada sinis.Emily merasa semakin terpojok. Di ruangan yang seharusnya menjadi tempat kolabor

    Huling Na-update : 2024-12-05
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 11

    Setelah beberapa saat, Mr. Whiteller bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah mereka. Emily langsung duduk tegak, merasa seperti seorang siswa yang dipanggil guru di depan kelas."Emily, Dimas," sapa Mr. Whiteller dengan suara tenang namun tegas."Good evening, sir," jawab Emily, suaranya sedikit bergetar.Mr. Whiteller mengangguk sopan. "Saya tidak menyangka akan bertemu kalian berdua di sini. Makan malam yang menyenangkan?""Ya, sir. Kami hanya mencoba menikmati waktu luang," jawab Dimas dengan senyum santai, mencoba mencairkan suasana.Mr. Whiteller mengangguk lagi, kali ini dengan sedikit senyum di wajahnya. "Bagus. Sangat penting untuk menjaga keseimbangan Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi"Perempuan yang bersama Mr. Whiteller berjalan mendekat. Ia tersenyum ramah sambil memperkenalkan diri. " Halo, Alice” ucapnya sambil mengulurkan tangan.Emily dan Dimas segera menjabat tangannya. "Emily," ucap Emily singkat."Dan saya Dimas," tambah Dimas.Setelah perbincangan singkat i

    Huling Na-update : 2024-12-05
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 12

    Dengan kepala sedikit terangkat, Leni melangkah keluar dari kantin. Teman temannya, yang sejak tadi hanya mendukungnya dari belakang, segera mengikuti tanpa banyak bicara. Mereka meninggalkan kantin dengan suasana yang masih dipenuhi bisik-bisik kecil, namun Leni merasa telah berhasil menenangkan situasi—setidaknya untuk dirinya sendiri.Insiden di kantin, meskipun terlihat selesai, namun kejadian ini mulai menyebar ke seluruh lingkungan kantor, menjadi bahan perbincangan orang orang.…Setelah berganti pakaian dan merapihkan kembali penampilannya. Emily memutuskan untuk ke rooftop kantor, sambil berjalan pelan ia memakan sebungkus kue untuk mengisi perutnya dikarenakan ia belum sempat makan saat di kantin tadi. Udara sejuk menyambutnya saat ia tiba, sedikit menusuk kulit namun justru terasa menenangkan. Pemandangan gedung-gedung tinggi dan kota membuatnya merasa lebih ringan, meski hanya sedikit. Suasana yang sunyi dan jauh dari keramaian kantor adalah apa yang ia butuhkan.Namun, sa

    Huling Na-update : 2024-12-06
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 13

    Jesselyn, yang merasa situasi semakin panas, mencoba mengalihkan perhatian. "Bagaimana kalau kita selesaikan pembicaraan ini nanti, setelah semua lebih tenang?"Namun, Leni tidak peduli. Ia menunjuk ke arah Dimas. "Kamu ini kenapa, sih? Bukannya mendukung tim sendiri, kamu malah berpihak pada dia! Apa kamu nggak sadar, Dimas? Dia cuma beban buat kita! Karyawan disini banyak yang tidak nyaman dengan bau badannya dia"Dimas mengepalkan tangannya, berusaha keras menahan amarahnya. "Kalau ada yang membuat tim kita terlihat buruk, itu bukan Emily, Itu kamu. Dengan sikapmu yang tidak profesional, dengan mulutmu yang tidak bisa dijaga. Kita ke sini untuk bekerja, bukan untuk drama seperti ini. aku tidak melihat orang orang merasa tidak nyaman, hanya kamu saja yang melebih lebihkan"Leni membuka mulutnya untuk membalas, tetapi Jesselyn segera menengahi, "Oke, cukup! Leni, Dimas. Kita tim, ingat? Dan kalau kita terus bertengkar seperti ini, yang rugi adalah kita sendiri."“ kamu pun terlibat

    Huling Na-update : 2024-12-07
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 14

    “Jadi, kau belum pernah berpacaran?” tanya Amore dengan nada penasaran, sambil mengaduk minumannya.“Ya,” jawab Emily singkat, tanpa banyak ekspresi.Amore terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu sebelum membuka suara lagi. “Sepertinya temanmu itu bukan orang yang baik.”“Yang mana?” tanya Emily, meskipun sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.“Satu tim denganmu,” jawab Amore, mengerutkan dahi.Emily hanya diam, memilih untuk tidak menanggapi.“Lalu, kau dengan Dimas?” tanya Amore lagi, kali ini dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.“Kami tidak ada apa-apa,” jawab Emily sambil tersenyum tipis. “Kami memang cukup dekat, tapi hanya sebatas rekan kerja.”“Hmm, aku kira kalian berpacaran,” ucap Amore sambil mengangguk-angguk kecil.“Tidak mungkin,” jawab Emily cepat.“Kalau begitu, siapa pria idamanmu?” tanya Amore, alisnya terangkat seolah ingin mengungkap rahasia besar.Emily tertawa kecil. “Hmm… aku sedang tergila-gila dengan Jungkook dari BTS,” jawabnya sambil tersenyum lebar.Me

    Huling Na-update : 2024-12-08
  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 15

    Tak lama setelah itu, mata Emily menangkap sosok yang sangat ia kenali. Mr. Whiteller berjalan ke arah mereka dengan langkah santai namun penuh wibawa. Emily langsung bangkit dari kursinya, berusaha menjaga sikap seformal mungkin."Selamat malam, Sir," sapa Emily sopan sambil sedikit menundukkan kepala."Selamat malam," balas Mr. Whiteller sambil tersenyum tipis. Kemudian matanya melirik ke arah Amore yang sudah setengah terlelap di kursinya. "Terima kasih sudah menjaganya," ucapnya sambil mengangguk rngan ke arah Emily."Ahh... tampannya aku," gumam Amore di antara tawa kecilnya, membuat Emily tersenyum canggung."Ikut kami. Aku akan mengantar ke apartemen mu," tawar Mr. Whiteller."Oh, tidak, tidak perlu, Sir. Setelah ini saya masih ingin mampir ke suatu tempat. Anda bisa pulang lebih dulu," tolak Emily sopan namun tegas.Mr. Whiteller mengangguk, menghormati keputusan Emily. "Baiklah, kami akan pergi lebih dulu," ucapnya singkat. Dengan sigap, ia membungkuk dan menggendong Amore ta

    Huling Na-update : 2024-12-09

Pinakabagong kabanata

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 113

    Sylvester menatapnya dari samping. "Kau mengantuk?"Emily mengangguk kecil. "Sedikit. Ini hari yang panjang."Sylvester tersenyum lalu, dengan lembut, ia meraih tangan Emily dan menggenggamnya."Terima kasih sudah menghabiskan waktumu denganku hari ini," katanya pelan.Emily membuka matanya, menatap Sylvester dengan lembut. "Aku juga berterima kasih"Mereka saling tersenyum, membiarkan kehangatan kecil itu tumbuh di antara mereka, tanpa kata-kata berlebihan.Taksi terus melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang, ditemani cahaya lampu jalan yang menari di kaca jendela. Di dalam kabin yang hening, hanya suara pelan dari radio yang mengalun sebagai latar.Emily bersandar pada jendela, matanya setengah terpejam. Kelelahan tampak di wajahnya, namun ada ketenangan yang begitu indah terpancar dari ekspresinya. Tangan mereka masih bertaut, jemarinya bersarang nyaman di genggaman Sylvester.Sesekali, Sylvester mencuri pandang ke arahnya. Tatapannya lembut, penuh kekaguman dan kasih. Ia m

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 112

    Mereka masuk ke dalam dan memilih meja di dekat jendela. Lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat, sementara aroma masakan yang menggoda tercium di udara."Apa yang kau rekomendasikan?" tanya Sylvester sambil membuka menu.Emily berpikir sejenak. "Mereka punya nasi goreng yang enak, juga sate ayam dan sup buntut. Tapi kalau kau ingin sesuatu yang ringan, mie gorengnya juga enak."Sylvester mengangguk. "Baiklah, aku coba nasi goreng spesial. Kau?""Aku pesan mie goreng saja," jawab Emily, lalu mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka.Setelah pelayan pergi, Sylvester menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Emily dengan ekspresi santai."Aku merasa seperti sedang kencan malam ini," katanya tiba-tiba.Emily hampir tersedak air putihnya. "Apa?"Sylvester terkekeh melihat reaksinya. "Apa ini bukan kencan? Kita pergi bersama, menikmati pemandangan indah, lalu sekarang makan malam berdua."Emily menatapnya dengan tatapan setengah geli, setengah kesal. "Kalau ini kenc

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 111

    Sylvester tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan mendekat. Emily bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas."Sylvester…?"Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sylvester sudah mengangkat tangan dan dengan lembut merapikan helai rambut Emily yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga."Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih jelas," gumamnya, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat.Emily terdiam, mendadak kehabisan kata-kata..Sylvester tersenyum kecil. "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini."Emily menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu berpaling kembali ke pemandangan kota."Aku juga," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka, membiarkan angin malam membawa perasaan yang perlahan semakin dalam di antara mereka.Emily tetap menatap ke arah gemerlap

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 110

    Seusai makan siang, Emily dan Sylvester kembali ke kantor. Saat mobil mereka berhenti di parkiran, Emily menoleh ke arah Sylvester."Jadi, kau akan ke mana setelah ini?" tanyanya."Aku ke ruangan Carol," jawab Sylvester santai.Begitu melihat ekspresi Emily yang tiba-tiba cemberut, Sylvester tersenyum kecil dan menatapnya lembut."Percayalah padaku, Em. Aku dan Carol tidak akan ada apa-apa. Dia murni hanya teman untukku," ucapnya meyakinkan.Emily mendengus kecil. "Tapi kalau dia menggodamu, siapa yang bisa menjamin kau tidak tergoda?"Sylvester tertawa pelan, menggelengkan kepala. "Kau ini lucu sekali."Emily melipat tangan di depan dada. "Apa sekarang kau sudah bangkrut sampai tidak bisa membayar orang untuk mengurus pendirian perusahaanmu disini"Sylvester terkekeh, lalu mendekat, berniat memeluk Emily. Namun, Emily buru-buru mundur selangkah."Akan ada yang melihat nanti," bisiknya sambil melirik sekitar."Bukankah itu bagus? Jadi tak ada lagi yang berpikir aku ini kekasih Carol,"

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 109

    Emily menatap Sylvester tajam. "Sylvester…"Sylvester menarik tangan Emily dan menggenggamnya erat. "Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan mengutus orangku untuk menemanimu besok."Carol menyela. "Tanda tanganmu sangat dibutuhkan besok, Syl."Sylvester menoleh dengan ekspresi datar. "Kau bisa mengurusnya, Carol."Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia menarik Emily keluar dari ruangan, meninggalkan Carol yang hanya bisa menghela napas panjang. Emily menatap pria di sampingnya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Langkahnya terhenti ketika Sylvester tetap menggenggam tangannya erat, seolah tak ingin melepaskannya."Sylvester, kau tidak bisa semaumu seperti ini," ujar Emily, mencoba menarik tangannya.Sylvester menoleh, menatapnya dalam. "Aku tahu aku bersalah, aku tahu aku membuatmu kesal dan kecewa, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku."Emily menghela napas panjang. "Kau tidak bisa memaksaku. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berpikir."Sylvester tersen

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 108

    Tidak percaya dengan semua yang ia dengar, Emily berdiri dan melangkah cepat ke lantai tempat ruangan Bu Carol berada. Tanpa berpikir panjang, begitu sampai di depan pintu, ia langsung membukanya tanpa mengetuk.Di dalam, Carol dan Sylvester duduk di sofa, dipisahkan oleh sebuah meja kecil.Carol menatapnya tajam. "Apa kau tak punya sopan santun? Membuka ruangan saya tanpa mengetuk?" tegurnya.Emily hanya melirik sekilas ke arah Sylvester, lalu menarik napas dalam. "Maafkan saya, Bu. Saya tadi ingin masuk ke ruangan sebelah, tapi ternyata salah ruangan. Saya Permisi."Ia segera menutup pintu kembali, tapi sebelum benar-benar rapat, suara Sylvester terdengar memanggilnya. Namun ia memilih untuk terus melangkah pergi. Bukan ke mejanya, melainkan ke meja Dimas."Dimas…" panggilnya lirih."Sebentar, Em. Aku selesaikan ini dulu," balas Dimas, matanya masih fokus menatap layar komputer.Tak ingin mengganggu, Emily memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum sempat sampai ke sana,

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 107

    Emily berdiri di balik pintu dengan napas yang sedikit memburu. Tangannya masih menggenggam erat kenop pintu, memastikan tidak ada celah sedikit pun untuk dibuka kembali."Emily, ayolah, buka pintunya. Aku hanya ingin bicara," suara Ben terdengar dari luar, terdengar memohon tetapi tetap menyimpan nada yang membuat Emily semakin waspada.Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka Ben akan muncul di depan kosannya seperti ini. Bagaimana dia bisa tahu tempat tinggalnya? Dan untuk apa dia datang ke sini?"Aku tidak tertarik untuk bicara, Ben. Pergilah," ucap Emily tegas, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.Ben tertawa kecil. "Kau takut padaku?"Emily diam, tidak ingin memberi celah untuk Ben berlama-lama di sini. Ia melangkah mundur perlahan, menahan napas, berharap Ben segera pergi. Namun, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan."Emily, aku hanya ingin bicara sebentar. Aku tidak akan macam-macam, mengapa kau setakut itu padaku?" suara Ben terdengar lebih le

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 106

    Setelah menghabiskan masa izin dua harinya, Emily kembali ke kota dan menjalani rutinitas sebagai seorang karyawan. Pagi ini, seperti biasa, ia berangkat ke kantor. Tidak ada yang berbeda sejak sebelum ia pergi ke Amerika. Rekan-rekan kerjanya tetap memperlakukannya seperti sebelumnya. Namun, satu hal yang berubah adalah Leni. Gadis itu kini lebih ramah dan terbuka, yang membuat Emily merasa sedikit lebih nyaman. Setidaknya, kini ia punya tambahan teman selain Dimas.Hari-hari berlalu tanpa banyak kejadian berarti. Semua berjalan seperti biasa—rapat, tugas kantor, makan siang, hingga kembali pulang ke kosannya. Seminggu pun berlalu dengan cepat.Siang itu, saat Emily sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mulai mendengar bisik-bisik dari rekan-rekan di sekitarnya."Oh my God, dia sangat tampan!""Dulu aku sempat bertemu dengannya juga.""Apakah itu benar?""Mereka sungguh berpacaran?""Aku sudah yakin saat proyek tim Leni ke Amerika.""Mereka sangat cocok!""Dia benar-benar tampan."Emi

  • Tatapan Mr. Whiteller Membuatku Berdebar   BAB 105

    “Ya?” jawab Emily, berusaha tenang.“Kau sudah sampai di rumah ibumu?”“Sudah. Aku tiba siang tadi, sekarang di sini sudah malam,” ucap Emily lembut.Hening sesaat di antara mereka. Emily kemudian bertanya, “Aku yakin di sana masih pagi sekali. Apa kau terbiasa bangun sepagi itu?”“Aku belum tidur,” jawab Sylvester pelan.Emily terkejut. “Belum tidur?”“Iya... ah, mungkin aku akan melanjutkan tidurku di kantor nanti,” ucap Sylvester sambil tertawa kecil, meski terdengar lelah.Emily terdiam sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau belum tidur?”“Aku menunggu balasanmu,” jawab Sylvester jujur. “Aku berkali-kali menelponmu, tapi tak kau angkat.”Emily menarik napas dalam, mencoba menahan rasa yang sempat mengganjal. “Mungkin karena kau sedang bersenang-senang di luar sana… jadi aku pikir, aku tak mau mengganggu,” ucapnya, sedikit ketus.Sylvester diam sesaat, sebelum akhirnya berkata pelan, “Emily.”“Ya?”“Apa yang Carol katakan padamu?” tanyanya hati-hati.Emily menggigit bibir bawahnya. “M

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status