“Emily, kamu bisa nggak sih lebih cepat sedikit? Kita nggak mau proyek ini tertunda gara-gara kamu, loh,” ucap Jesselyn suatu hari, dengan nada yang lebih merendahkan daripada membantu.“Iya, Jess benar. Lagian, ini kan konsep kamu. Harusnya kamu sudah tahu semuanya luar kepala, kan?” tambah Leni, dengan senyum mengejek.Emily hanya mengangguk kecil, berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Ia tahu bahwa terlibat dalam konflik hanya akan memperburuk situasi, terutama di lingkungan kerja seperti ini.Namun, ejekan dan sindiran itu tidak berhenti di situ. Di depan karyawan Whiteller Corp, Leni dan Jesselyn sering membuat komentar yang membuat Emily merasa tidak dihargai.“Emily ini tipe yang suka kerja sendirian. Jadi, jangan kaget kalau dia jarang ngomong,” ujar Leni suatu kali, disusul tawa kecil dari Jesselyn.“Ya, mungkin dia butuh waktu adaptasi lebih lama,” tambah Jesselyn dengan nada sinis.Emily merasa semakin terpojok. Di ruangan yang seharusnya menjadi tempat kolabor
Setelah beberapa saat, Mr. Whiteller bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah mereka. Emily langsung duduk tegak, merasa seperti seorang siswa yang dipanggil guru di depan kelas."Emily, Dimas," sapa Mr. Whiteller dengan suara tenang namun tegas."Good evening, sir," jawab Emily, suaranya sedikit bergetar.Mr. Whiteller mengangguk sopan. "Saya tidak menyangka akan bertemu kalian berdua di sini. Makan malam yang menyenangkan?""Ya, sir. Kami hanya mencoba menikmati waktu luang," jawab Dimas dengan senyum santai, mencoba mencairkan suasana.Mr. Whiteller mengangguk lagi, kali ini dengan sedikit senyum di wajahnya. "Bagus. Sangat penting untuk menjaga keseimbangan Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi"Perempuan yang bersama Mr. Whiteller berjalan mendekat. Ia tersenyum ramah sambil memperkenalkan diri. " Halo, Alice” ucapnya sambil mengulurkan tangan.Emily dan Dimas segera menjabat tangannya. "Emily," ucap Emily singkat."Dan saya Dimas," tambah Dimas.Setelah perbincangan singkat i
Dengan kepala sedikit terangkat, Leni melangkah keluar dari kantin. Teman temannya, yang sejak tadi hanya mendukungnya dari belakang, segera mengikuti tanpa banyak bicara. Mereka meninggalkan kantin dengan suasana yang masih dipenuhi bisik-bisik kecil, namun Leni merasa telah berhasil menenangkan situasi—setidaknya untuk dirinya sendiri.Insiden di kantin, meskipun terlihat selesai, namun kejadian ini mulai menyebar ke seluruh lingkungan kantor, menjadi bahan perbincangan orang orang.…Setelah berganti pakaian dan merapihkan kembali penampilannya. Emily memutuskan untuk ke rooftop kantor, sambil berjalan pelan ia memakan sebungkus kue untuk mengisi perutnya dikarenakan ia belum sempat makan saat di kantin tadi. Udara sejuk menyambutnya saat ia tiba, sedikit menusuk kulit namun justru terasa menenangkan. Pemandangan gedung-gedung tinggi dan kota membuatnya merasa lebih ringan, meski hanya sedikit. Suasana yang sunyi dan jauh dari keramaian kantor adalah apa yang ia butuhkan.Namun, sa
Jesselyn, yang merasa situasi semakin panas, mencoba mengalihkan perhatian. "Bagaimana kalau kita selesaikan pembicaraan ini nanti, setelah semua lebih tenang?"Namun, Leni tidak peduli. Ia menunjuk ke arah Dimas. "Kamu ini kenapa, sih? Bukannya mendukung tim sendiri, kamu malah berpihak pada dia! Apa kamu nggak sadar, Dimas? Dia cuma beban buat kita! Karyawan disini banyak yang tidak nyaman dengan bau badannya dia"Dimas mengepalkan tangannya, berusaha keras menahan amarahnya. "Kalau ada yang membuat tim kita terlihat buruk, itu bukan Emily, Itu kamu. Dengan sikapmu yang tidak profesional, dengan mulutmu yang tidak bisa dijaga. Kita ke sini untuk bekerja, bukan untuk drama seperti ini. aku tidak melihat orang orang merasa tidak nyaman, hanya kamu saja yang melebih lebihkan"Leni membuka mulutnya untuk membalas, tetapi Jesselyn segera menengahi, "Oke, cukup! Leni, Dimas. Kita tim, ingat? Dan kalau kita terus bertengkar seperti ini, yang rugi adalah kita sendiri."“ kamu pun terlibat
“Jadi, kau belum pernah berpacaran?” tanya Amore dengan nada penasaran, sambil mengaduk minumannya.“Ya,” jawab Emily singkat, tanpa banyak ekspresi.Amore terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu sebelum membuka suara lagi. “Sepertinya temanmu itu bukan orang yang baik.”“Yang mana?” tanya Emily, meskipun sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.“Satu tim denganmu,” jawab Amore, mengerutkan dahi.Emily hanya diam, memilih untuk tidak menanggapi.“Lalu, kau dengan Dimas?” tanya Amore lagi, kali ini dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.“Kami tidak ada apa-apa,” jawab Emily sambil tersenyum tipis. “Kami memang cukup dekat, tapi hanya sebatas rekan kerja.”“Hmm, aku kira kalian berpacaran,” ucap Amore sambil mengangguk-angguk kecil.“Tidak mungkin,” jawab Emily cepat.“Kalau begitu, siapa pria idamanmu?” tanya Amore, alisnya terangkat seolah ingin mengungkap rahasia besar.Emily tertawa kecil. “Hmm… aku sedang tergila-gila dengan Jungkook dari BTS,” jawabnya sambil tersenyum lebar.Me
Tak lama setelah itu, mata Emily menangkap sosok yang sangat ia kenali. Mr. Whiteller berjalan ke arah mereka dengan langkah santai namun penuh wibawa. Emily langsung bangkit dari kursinya, berusaha menjaga sikap seformal mungkin."Selamat malam, Sir," sapa Emily sopan sambil sedikit menundukkan kepala."Selamat malam," balas Mr. Whiteller sambil tersenyum tipis. Kemudian matanya melirik ke arah Amore yang sudah setengah terlelap di kursinya. "Terima kasih sudah menjaganya," ucapnya sambil mengangguk rngan ke arah Emily."Ahh... tampannya aku," gumam Amore di antara tawa kecilnya, membuat Emily tersenyum canggung."Ikut kami. Aku akan mengantar ke apartemen mu," tawar Mr. Whiteller."Oh, tidak, tidak perlu, Sir. Setelah ini saya masih ingin mampir ke suatu tempat. Anda bisa pulang lebih dulu," tolak Emily sopan namun tegas.Mr. Whiteller mengangguk, menghormati keputusan Emily. "Baiklah, kami akan pergi lebih dulu," ucapnya singkat. Dengan sigap, ia membungkuk dan menggendong Amore ta
Setelah beberapa saat berbasa-basi, "Kenapa kita tidak makan bersama? Aku tahu tempat yang bagus di dekat sini."Emily dan Dimas saling pandang. Emily terlihat ragu, sementara Dimas hanya mengangkat bahu seolah menyerahkan keputusan padanya."Kami sebenarnya sedang berencana langsung pulang setelah ini," ucap Emily pelan, mencoba mencari alasan."Ah, ayolah," bujuk Alice. "Ini cuma makan santai. Lagipula, kau pasti lapar setelah belanja lama seperti ini. Aku akan traktir kalian."Dimas langsung merespons, "Kalau ditraktir, aku setuju!" katanya setengah bercanda, membuat Emily mendengus kecil."Baiklah," kata Emily akhirnya, merasa sulit untuk menolak.Alice tersenyum senang. "Bagus! Tempatnya tidak jauh, hanya lima menit dari sini. Ayo, kita pergi bersama."…Mereka tiba di sebuah restoran kecil namun elegan dengan suasana hangat dan pencahayaan redup. Alice memilih meja di sudut yang nyaman, dan mereka segera duduk.Setelah memesan makanan, Alice mulai berbicara. "Dimas, bagaimana me
"Jadi, bagaimana pengalaman kalian selama di apartemen? Adakah kendala?" tanya Mr. Whiteller begitu mobil yang mereka tumpangi berbelok keluar dari lingkungan restoran tadi. Suara tenangnya memecah keheningan di dalam mobil."Sejauh ini tidak ada kendala, Sir. Terima kasih atas fasilitas yang Mr. Whiteller berikan kepada kami," jawab Dimas yang duduk di sebelah Mr. Whiteller, yang sedang mengemudi."Saya senang jika tamu-tamu saya merasa nyaman," balas Mr. Whiteller sambil sesekali melirik ke arah jalan."Kami merasa sangat nyaman, Sir," tambah Dimas dengan nada penuh keyakinan.Mr. Whiteller melirik kaca spion tengah, kali ini tatapannya tertuju pada Emily. "Bagaimana denganmu, Emily? Apakah ada kendala selama di sini?" tanyanya.Emily sedikit terkejut mendapatkan perhatian langsung, tetapi dengan cepat menjawab, "Tidak ada, Sir. Terima kasih untuk semua fasilitas yang telah dipersiapkan untuk kami."Mr. Whiteller mengangguk pelan, tampak puas dengan jawaban itu. Namun, jeda sesaat m
Sylvester menatapnya dari samping. "Kau mengantuk?"Emily mengangguk kecil. "Sedikit. Ini hari yang panjang."Sylvester tersenyum lalu, dengan lembut, ia meraih tangan Emily dan menggenggamnya."Terima kasih sudah menghabiskan waktumu denganku hari ini," katanya pelan.Emily membuka matanya, menatap Sylvester dengan lembut. "Aku juga berterima kasih"Mereka saling tersenyum, membiarkan kehangatan kecil itu tumbuh di antara mereka, tanpa kata-kata berlebihan.Taksi terus melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang, ditemani cahaya lampu jalan yang menari di kaca jendela. Di dalam kabin yang hening, hanya suara pelan dari radio yang mengalun sebagai latar.Emily bersandar pada jendela, matanya setengah terpejam. Kelelahan tampak di wajahnya, namun ada ketenangan yang begitu indah terpancar dari ekspresinya. Tangan mereka masih bertaut, jemarinya bersarang nyaman di genggaman Sylvester.Sesekali, Sylvester mencuri pandang ke arahnya. Tatapannya lembut, penuh kekaguman dan kasih. Ia m
Mereka masuk ke dalam dan memilih meja di dekat jendela. Lampu-lampu kuning redup menciptakan suasana hangat, sementara aroma masakan yang menggoda tercium di udara."Apa yang kau rekomendasikan?" tanya Sylvester sambil membuka menu.Emily berpikir sejenak. "Mereka punya nasi goreng yang enak, juga sate ayam dan sup buntut. Tapi kalau kau ingin sesuatu yang ringan, mie gorengnya juga enak."Sylvester mengangguk. "Baiklah, aku coba nasi goreng spesial. Kau?""Aku pesan mie goreng saja," jawab Emily, lalu mereka memanggil pelayan dan memberikan pesanan mereka.Setelah pelayan pergi, Sylvester menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Emily dengan ekspresi santai."Aku merasa seperti sedang kencan malam ini," katanya tiba-tiba.Emily hampir tersedak air putihnya. "Apa?"Sylvester terkekeh melihat reaksinya. "Apa ini bukan kencan? Kita pergi bersama, menikmati pemandangan indah, lalu sekarang makan malam berdua."Emily menatapnya dengan tatapan setengah geli, setengah kesal. "Kalau ini kenc
Sylvester tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu perlahan-lahan mendekat. Emily bisa merasakan jantungnya mulai berdebar tanpa alasan yang jelas."Sylvester…?"Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, Sylvester sudah mengangkat tangan dan dengan lembut merapikan helai rambut Emily yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga."Aku hanya ingin melihat wajahmu lebih jelas," gumamnya, suaranya terdengar begitu dalam dan hangat.Emily terdiam, mendadak kehabisan kata-kata..Sylvester tersenyum kecil. "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu hari ini."Emily menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran di dadanya. Ia tersenyum tipis, lalu berpaling kembali ke pemandangan kota."Aku juga," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.Mereka kembali menikmati kebersamaan mereka, membiarkan angin malam membawa perasaan yang perlahan semakin dalam di antara mereka.Emily tetap menatap ke arah gemerlap
Seusai makan siang, Emily dan Sylvester kembali ke kantor. Saat mobil mereka berhenti di parkiran, Emily menoleh ke arah Sylvester."Jadi, kau akan ke mana setelah ini?" tanyanya."Aku ke ruangan Carol," jawab Sylvester santai.Begitu melihat ekspresi Emily yang tiba-tiba cemberut, Sylvester tersenyum kecil dan menatapnya lembut."Percayalah padaku, Em. Aku dan Carol tidak akan ada apa-apa. Dia murni hanya teman untukku," ucapnya meyakinkan.Emily mendengus kecil. "Tapi kalau dia menggodamu, siapa yang bisa menjamin kau tidak tergoda?"Sylvester tertawa pelan, menggelengkan kepala. "Kau ini lucu sekali."Emily melipat tangan di depan dada. "Apa sekarang kau sudah bangkrut sampai tidak bisa membayar orang untuk mengurus pendirian perusahaanmu disini"Sylvester terkekeh, lalu mendekat, berniat memeluk Emily. Namun, Emily buru-buru mundur selangkah."Akan ada yang melihat nanti," bisiknya sambil melirik sekitar."Bukankah itu bagus? Jadi tak ada lagi yang berpikir aku ini kekasih Carol,"
Emily menatap Sylvester tajam. "Sylvester…"Sylvester menarik tangan Emily dan menggenggamnya erat. "Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan mengutus orangku untuk menemanimu besok."Carol menyela. "Tanda tanganmu sangat dibutuhkan besok, Syl."Sylvester menoleh dengan ekspresi datar. "Kau bisa mengurusnya, Carol."Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia menarik Emily keluar dari ruangan, meninggalkan Carol yang hanya bisa menghela napas panjang. Emily menatap pria di sampingnya masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Langkahnya terhenti ketika Sylvester tetap menggenggam tangannya erat, seolah tak ingin melepaskannya."Sylvester, kau tidak bisa semaumu seperti ini," ujar Emily, mencoba menarik tangannya.Sylvester menoleh, menatapnya dalam. "Aku tahu aku bersalah, aku tahu aku membuatmu kesal dan kecewa, tapi aku tidak akan membiarkanmu menjauh dariku."Emily menghela napas panjang. "Kau tidak bisa memaksaku. Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berpikir."Sylvester tersen
Tidak percaya dengan semua yang ia dengar, Emily berdiri dan melangkah cepat ke lantai tempat ruangan Bu Carol berada. Tanpa berpikir panjang, begitu sampai di depan pintu, ia langsung membukanya tanpa mengetuk.Di dalam, Carol dan Sylvester duduk di sofa, dipisahkan oleh sebuah meja kecil.Carol menatapnya tajam. "Apa kau tak punya sopan santun? Membuka ruangan saya tanpa mengetuk?" tegurnya.Emily hanya melirik sekilas ke arah Sylvester, lalu menarik napas dalam. "Maafkan saya, Bu. Saya tadi ingin masuk ke ruangan sebelah, tapi ternyata salah ruangan. Saya Permisi."Ia segera menutup pintu kembali, tapi sebelum benar-benar rapat, suara Sylvester terdengar memanggilnya. Namun ia memilih untuk terus melangkah pergi. Bukan ke mejanya, melainkan ke meja Dimas."Dimas…" panggilnya lirih."Sebentar, Em. Aku selesaikan ini dulu," balas Dimas, matanya masih fokus menatap layar komputer.Tak ingin mengganggu, Emily memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, sebelum sempat sampai ke sana,
Emily berdiri di balik pintu dengan napas yang sedikit memburu. Tangannya masih menggenggam erat kenop pintu, memastikan tidak ada celah sedikit pun untuk dibuka kembali."Emily, ayolah, buka pintunya. Aku hanya ingin bicara," suara Ben terdengar dari luar, terdengar memohon tetapi tetap menyimpan nada yang membuat Emily semakin waspada.Jantungnya berdegup kencang. Dia tidak menyangka Ben akan muncul di depan kosannya seperti ini. Bagaimana dia bisa tahu tempat tinggalnya? Dan untuk apa dia datang ke sini?"Aku tidak tertarik untuk bicara, Ben. Pergilah," ucap Emily tegas, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.Ben tertawa kecil. "Kau takut padaku?"Emily diam, tidak ingin memberi celah untuk Ben berlama-lama di sini. Ia melangkah mundur perlahan, menahan napas, berharap Ben segera pergi. Namun, suara ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan."Emily, aku hanya ingin bicara sebentar. Aku tidak akan macam-macam, mengapa kau setakut itu padaku?" suara Ben terdengar lebih le
Setelah menghabiskan masa izin dua harinya, Emily kembali ke kota dan menjalani rutinitas sebagai seorang karyawan. Pagi ini, seperti biasa, ia berangkat ke kantor. Tidak ada yang berbeda sejak sebelum ia pergi ke Amerika. Rekan-rekan kerjanya tetap memperlakukannya seperti sebelumnya. Namun, satu hal yang berubah adalah Leni. Gadis itu kini lebih ramah dan terbuka, yang membuat Emily merasa sedikit lebih nyaman. Setidaknya, kini ia punya tambahan teman selain Dimas.Hari-hari berlalu tanpa banyak kejadian berarti. Semua berjalan seperti biasa—rapat, tugas kantor, makan siang, hingga kembali pulang ke kosannya. Seminggu pun berlalu dengan cepat.Siang itu, saat Emily sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mulai mendengar bisik-bisik dari rekan-rekan di sekitarnya."Oh my God, dia sangat tampan!""Dulu aku sempat bertemu dengannya juga.""Apakah itu benar?""Mereka sungguh berpacaran?""Aku sudah yakin saat proyek tim Leni ke Amerika.""Mereka sangat cocok!""Dia benar-benar tampan."Emi
“Ya?” jawab Emily, berusaha tenang.“Kau sudah sampai di rumah ibumu?”“Sudah. Aku tiba siang tadi, sekarang di sini sudah malam,” ucap Emily lembut.Hening sesaat di antara mereka. Emily kemudian bertanya, “Aku yakin di sana masih pagi sekali. Apa kau terbiasa bangun sepagi itu?”“Aku belum tidur,” jawab Sylvester pelan.Emily terkejut. “Belum tidur?”“Iya... ah, mungkin aku akan melanjutkan tidurku di kantor nanti,” ucap Sylvester sambil tertawa kecil, meski terdengar lelah.Emily terdiam sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau belum tidur?”“Aku menunggu balasanmu,” jawab Sylvester jujur. “Aku berkali-kali menelponmu, tapi tak kau angkat.”Emily menarik napas dalam, mencoba menahan rasa yang sempat mengganjal. “Mungkin karena kau sedang bersenang-senang di luar sana… jadi aku pikir, aku tak mau mengganggu,” ucapnya, sedikit ketus.Sylvester diam sesaat, sebelum akhirnya berkata pelan, “Emily.”“Ya?”“Apa yang Carol katakan padamu?” tanyanya hati-hati.Emily menggigit bibir bawahnya. “M