Cinta terdengar indah, tapi kadang menyakitkan. Apalagi jika cinta itu sudah tak dapat dipertahankan lagi. Ego dalam menjalani sebuah percintaan, hanya akan berakhir dengan kepedihan. Berbohong dalam menjalani percintaan hanya akan berakhir dengan penyesalan.
Terus apa yang harus dilakukan? Jawabnya, hanya satu MENGAKHIRI.
***
Berkali-kali ia menghembuskan napas gusar.
Bukankah itu sebuah pilihan yang berat? Sebuah keputusan yang sama sekali tak ingin ia putuskan, ada ribuan rasa yang tengah berkecamuk dalam rongga dadanya kini.
Haruskah ia mengambil langkah itu? Tak adakah pilihan lain selain itu? Atau itu adalah teguran untuknya dari Yang Maha Kuasa atas perbuatannya selama ini?
Airah menggelengkan kepala. Bukankah semua yang terjadi dan yang akan terjadi adalah ketetapan dari yang Maha Kuasa? Tak ada yang bisa menolak barang satu pun. Termasuk dirinya.
[ Aku sudah ada di luar] Satu pesan masuk.
Airah membereskan segala peralatan tulisnya, memasukkan ke dalam tas ransel seraya bergegas meninggalkan kelas.
Langkah kaki wanita itu terhenti saat melihat segerombolan pria yang tengah bercanda ria, perhatiannya terpusat pada sosok pria yang berpakaian jaket kain bewarna hitam yang terlihat tengah berbincang dengan salah satu mahasiswa itu.
Mengambil langkah mundur, mencari jalan lain, walau harus memutari beberapa fakultas. Capek. Tentu saja setiap hari dia harus melakukan hal tersebut, menghindar.
Bukan tanpa alasan mengapa Airah melakukan itu. Bertemu dengannya hanya akan menggoyahkan keputusan yang sudah wanita itu buat sematang mungkin.
Samar-samar terdengar seseorang yang memanggil namanya, dan wanita itu pastikan bahwa suara tersebut adalah suara seseorang yang saat ini tak ingin ia temui.
"Airah!" Terdengar suara Bagas yang semakin mendekat. Membuat langkah kaki wanita itu semakin cepat. Dia bagaikan seekor kura-kura yang tengah berlomba lari dengan seekor kelinci.
Bagaimanapun seekor kura-kura mempercepat derap langkahnya pasti akan kalah cepat juga.
Bagas mencekal pergelangan tangannya saat kaki wanita itu hendak melangkah keluar gerbang kampus. Entah bagaimana pria ini bisa melihatnya. Bahkan mengejarnya sampai gerbang.
"Kamu kenapa, sih? Akhir-akhir ini selalu menghindar. Aku punya salah sama kamu?" Airah bergeming tak menanggapi pertanyaan Bagas.
"Airah! Jawab dong!" Suara Bagas naik satu oktaf.
"Maaf, Gas. Aku ingin kita putus," balasannya lirih.
Bagas bergeming menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Kasih aku alasan, kenapa kamu ingin putus?" Bagas menatapnya nyalang. Mencekal pergelangan tangan wanita itu semakin erat.
Airah balas menatapnya lekat mencoba menahan segala gejolak rasa." Aku mencintai pria lain. Maaf, Gas."
Bagas tersenyum sinis." Kamu pikir aku bakalan percaya. Aku tahu kamu bukan wanita seperti itu, Ra."
"Tapi itulah kenyataannya, Bagas. Aku mencintai pria lain. Aku bermain serong di belakangmu. Aku tidak ingin membohongimu terlalu lama. Itu sebabnya aku mengatakan yang sebenarnya sekarang."
"Buktikan kalau memang kamu sudah tidak mencintai aku lagi."
"Kamu ingin bukti seperti apa?" Airah balik menantang.
Rahang Bagas terlihat mengeras. Wajahnya tampak memerah.
Lama mereka saling menatap sebelum sebuah suara bariton menyentak keduanya.
"Airah!" Mereka menoleh melihat seorang pria dengan tubuh atletis yang dibalut jaket kulit menghampiri mereka dengan langkah lebar.
"Lepaskan tanganmu!" titah Adnan menatap tak suka pada Bagas.
Bagas menatap Adnan dengan tatapan yang sama. "Emangnya Lu, siapa, hah?"
Adnan tersenyum. Melepas paksa cekalan tangan Bagas seraya merangkul pundak wanita itu. Airah bergeming menatap punggung tangan Adnan di bahunya.
"Airah adalah calon istriku," balasnya dengan nada tenang.
Bagas berdecih" Lo pikir gue percaya?"
"Kamu lihat." Adnan mengangkat tangan kiri Airah. Memperlihatkan sebuah cincin yang bertengger pada jari manisnya.
"Minggu depan aku dan Airah akan menikah." Setelah mengatakan itu, Adnan menarik tangan Airah, membiarkan Bagas yang masih bergeming menatap kepergian keduanya.
***
Ratusan pesan dan panggilan dari Bagas tak satu pun yang ia balas. Keputusan wanita itu sudah bulat, dia ingin mengakhiri hubungan mereka. Hubungan terlarang yang tak sepatutnya terjalin.
Malas berdebat dengan hati dan logika, Airah memutuskan untuk mengambil wudhu menenangkan jiwanya yang bergejolak. Mengambil mushaf, membacanya dengan tartil penuh kekhusyuan.
Hingga bacaannya terhenti pada salah satu ayat .
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." ( QS. Al-Baqarah [2] ayat 155 - 157 )
Tak terasa air matanya mengalir hingga jatuh membasahi mukena yang ia kenakan. Apakah ini sebuah teguran untuknya atas dosa yang selama ini sudah ia perbuat?
Airah meraih benda pipi yang ia simpan di atas kasur saat mendengar sebuah pesan masuk. Dia mencoba abai tapi pesan itu berkali-kali masuk membuatnya mau tak mau membukanya.
[Aku ada di luar]
[Airah, aku tidak akan pergi dari sini, sebelum kamu keluar]
[Jangan pernah berfikir aku akan memutuskan hubungan sepihak ini]
Airah terperanjat kaget saat mendengar bunyi ketukan pintu, membuatnya harus mengakhiri bacaan pesan yang Bagas kirim.
"Belum tidur, Nak?" tanya sang Ibu saat ia membuka pintu kamar.
Airah tersenyum." Belum, Bu."
Wanita yang paling Airah sayangi itu tampak menghela napas panjang." Apa tidak sebaiknya kamu temui dia?”
Airah menggeleng. " Sudah tidak ada yang perlu dibahas, Bu."
Sang Ibu mengambil kedua tangan Airah seraya menggenggamnya dengan lembut. " Ibu tahu ini berat untukmu, Nak. Ibu--"
"Bu!" Panggilnya. Sintia mendongak dengan bulir bening yang berjatuhan.
Airah melepaskan genggaman tangan Ibunya, seraya menghapus air mata yang berjatuhan dari pelupuk mata wanita yang telah melahirkannya itu.
"Aku akan menemuinya."
Sintia mengangguk, tersenyum." Bicaralah! Dan akhiri semuanya dengan baik-baik."
Airah mengangguk dan lekas menemui pria itu.
Dia menghela napas panjang saat melihat Bagas yang tengah bersandar pada mobilnya.
"Bagas!" Pria itu mendongak. Berlari memeluk tubuh mungil Airah.
"Aku rindu," bisiknya.
Airah menahan gejolak asa yang tengah berkecamuk. Menahan tangis yang hendak keluar. Airah juga rindu. Rindu dalam dekapan pria itu, ada rasa nyaman saat bersamanya. Walau dia yakin ini mungkin akan menjadi pelukan terakhir mereka.
Bagas merenggangkan pelukannya. Menatap wanitanya sambil tersenyum. Kedua mata pria itu tampak sembab.
Apa dia habis menangis?
"Aku punya sesuatu untukmu, Ra. Tunggu sebentar, ya?"
Bagas berlari menghampiri mobilnya. Tak berselang lama ia kembali membawa sebuah kado di tangannya.
"Besok adalah Anniversary kita yang ke 4. Aku tidak mau melewatkan momen bahagia kita. Aku--"
"Mari akhiri semuanya Bagas."
Tak ada satu pun yang dapat menolak, ketika takdir sudah menetapkan dua hati untuk berpisah. (Airah~ Bagas) **** Pagi menjelang siang, wanita itu masih bergeming menatap kosong di balik jendela. Menatap pepohonan yang tumbuh segar di area dekat kamarnya dengan buku yang berada dalam pangkuannya. Perdebatannya dengan Bagas tadi malam membuat rasa bersalah bersemayam dalam dadanya. "Jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini, silahkan kamu akhiri sendiri. Tapi ingat! Aku tidak akan pernah mau mengakhiri hubungan ini apa pun yang terjadi!" "Bahkan jika aku sudah menikah? Bahkan jika aku sudah menjadi istri orang lain, Gas?" "Arrrggg." Bagas menjambak rambutnya frustasi. "Beri aku alasan kenapa kamu ingin menikah dengan pria itu? Aku bahkan tidak mendapat jawaban apa pun dari Ayah dan Ibumu. Jangan membuatku semakin gila dengan keputusan tiba-tibamu ini." Bagas menatap Airah dengan wajah dan mata yang terliha
Alhubbu kal harbi, minas sahli an tus’ilaha, walaakin minas sha’bi an tukhmidaha. (Cinta itu laksana sebuah perang, amat mudah mengobarkannya, namun amat sulit untuk memadamkannya) Anonim *** Lebih dari setengah jam menunggu, hingga pintu bercat coklat susu di depan mereka, akhirnya terbuka. Tiga orang yang tengah duduk di kursi panjang depan ruangan tersebut bergegas berdiri dan menghampiri sosok pria berbadan gempal itu. "Bagaimana keadaan anak saya dok?" Kekhawatiran tampak jelas di kedua bola mata paruh baya tersebut. "Dia baik-baik saja, untunglah lukanya tidak terlalu dalam, " balas pria ber-snelli putih panjang di depannya sambil mengulas senyuman. "Bisa saya lihat anak saya, Dok?" tanya Nia. "Silahkan, kalau begitu saya pamit diri, kalau ada apa-apa Bapak Ibu bisa panggil saya. " Mereka mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih. Ketiganya memasuki ruangan, menghampiri sosok yang tengah
Aku merindukanmu seperti matahari yang merindukan bulan. ~ Airah~ *** Hampir mendekati dua belas bulan wanita itu meninggalkan kota metropolitan, dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dia kembali menginjakkan kakinya di kota itu. Kota yang membawanya pada kenangan masa silam. Airah menatap Arunika dengan bulir bening yang berjatuhan, cahayanya memancarkan warna ke orengan dari ufuk timur hingga mengenai dinding kaca kamarnya. Sejuknya udara pagi tak dapat menyejukkan hatinya yang tengah dilipat gejolak yang berkecamuk. "Jadi kapan berangkat ke kampusnya, Ra?" Wanita itu terperanjat kaget saat Sintia tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya. Berjalan mendekat dan menyimpan nampan makanan dan minuman yang ia bawa di atas nakas. Airah menoleh sekilas. "InsyaAllah besok, Bu," balasnya, kembali menatap pepohonan di balik jendela. Sintia menghampirinya. Membalikkan tubuh Airah kemudian menggenggam tangan sang anak dengan lembut dia berujar, "Apa kamu yakin dengan keputusanmu in
"Saya mengerti kekhawatiran Bapak, Ibu," ucap Dokter Andi dengan suara tenang. "Setelah melakukan serangkaian tes dan pemeriksaan, saya bisa mengatakan bahwa kondisi anak Bapak Ibu baik-baik saja. Untungnya, lukanya tidak terlalu dalam. Untuk itu, tidak ada yang perlu Bapak dan Ibu khawatirkan," jelas dokter yang mengenakan jas putih panjang itu, diiringi dengan senyuman lembut yang seakan menghapus kecemasan yang sempat menggantung. Mendengar penjelasan tersebut, barulah ketiganya bisa bernapas lega, seolah beban yang mengganjal di dada mereka sedikit terangkat. Namun, meski rasa cemas itu mereda, masih ada sedikit kekhawatiran yang terpancar di mata masing-masing, sebagai pertanda bahwa mereka belum sepenuhnya bisa mengusir bayang-bayang ketakutan yang sempat menghantui. "Terima kasih banyak, Dok," ucap Nia dengan suara yang bergetar, matanya yang lelah tampak berkaca-kaca, seolah menahan emosi yang tak terungkapkan. "Bisa saya lihat anak saya, Dok?" tanyanya penuh harap, tatapan
"Alhamdulillah," ucap Nia dengan suara penuh syukur, ia bergegas merengkuh Bagas ke dalam pelukan hangatnya. Dengan lembut, tangannya yang penuh kasih sayang mengelus punggung sang anak. "Bu!" Bagas membalas pelukan Nia. Pelukan hangat seorang ibu membawanya ke dalam kehangatan dan rasa aman, seolah semua masalah dan kelelahan yang ia rasakan sebelumnya menguap begitu saja. Meski Bagas tak bisa memungkiri, rasa sakit yang ia rasakan kini bukan lagi pada pergelangan tangannya, melainkan pada hatinya. Dada Bagas terasa sesak, seolah ada beban berat yang terus menindihnya, membuat setiap tarikan pasokan oksigen pun enggan masuk ke paru-parunya. Airah, nama wanita itu, terus menghantui pikirannya. Wajahnya, senyumnya, tawanya—semuanya masih begitu jelas terpatri dalam ingatannya, seperti bayangan yang tak bisa ia lepaskan. "Maafkan Bagas, Bu, " katanya dengan suara bergetar, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia semakin erat memeluk tubuh sang ibu kala sakit itu lagi-lagi menyeran
Butiran hujan perlahan membasahi ibu kota, mengguyur semesta dengan gemuruh derasnya. Pohon-pohon basah, dedaunan yang bergoyang, bunga yang layu, tiang listrik yang berdiri kaku, hingga atap-atap gedung yang menjulang tinggi—semuanya berselimut dingin air hujan. Titik-titik bening itu terus berjatuhan, menghantam jendela kacanya, seolah mengetuk lembut, ingin menjadi saksi bisu kesedihan yang tak terucapkan. Menghela napas berat, tangan lentiknya terayun perlahan, menutup jendela kamarnya yang mulai dipenuhi embun. Suara dentingan kaca yang tertutup terdengar lembut, seolah menandai akhir dari pertarungannya dengan malam. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju mokki beds yang bersisian dengan tempat tidurnya. Setiap pijakan kakinya terasa berat, seakan membawa beban hati yang tak terlihat. Di sana, ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya, sementara pikirannya terus berputar dalam pusaran rasa yang tak pernah mampu ia ungkapkan. Seulas senyuman tipis te
Seulas senyuman lembut terbit dari bibirnya, menyapa dunia dengan kehangatan, saat matanya tertumbuk pada dua sosok yang ia sayangi, tengah tertidur pulas dalam damai. Dengan langkah pelan, hampir tak terdengar, Airah beranjak menuju kamar mandi. Mengambil wudhu dengan penuh khusyuk, lalu beranjak untuk melaksanakan salat malam. Dalam kesunyian malam yang mencekam, di antara desah nafas yang lirih, ia menemukan ketenangan yang telah lama ia cari, seperti oase di tengah gurun pasir. Denting jam yang tak pernah berhenti berdetak, terus berputar dalam keheningan, hingga cahaya fajar perlahan merayap keluar dari ufuk timur, menandakan bahwa malam yang panjang akhirnya berakhir, dan hari baru siap menyapa. Sayup-sayup, suara adzan terdengar mengalun merdu, menyentuh relung hati dari benda pipih milik Airah, seperti panggilan lembut yang tak bisa diabaikan. Adzan itu membangunkan sesosok wanita tua yang terlelap dalam tidur panjangnya. "Sudah salat, Ra?" Suara lembut itu menghantam keheni
Cinta adalah penyakit yang tidak ada kebaikan dan balasannya. Ali bin Abi Thalib. *** Lamat-lamat mata sendu wanita itu terbuka. Mengerjapkan, guna menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah plafon putih rumah sakit. “Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah bangun.” Airah menoleh ke samping mendapati raut khawatir seorang pria. Kesadaran wanita itu belum pulih sepenuhnya. Ia memperhatikan sekitar, matanya seketika membulat saat menyadari akan sesuatu. Bagas. “Airah, kamu mau ke mana?” tanyanya saat melihat si wanita turun dari ranjang dan memakai sandal swallow miliknya. Adnan menahan tangannya saat ia hendak menarik handle pintu kamar. “Mas, apa yang kamu lakukan?” “Tubuhmu belum terlalu pulih. Kamu harus istirahat.” Airah menggeleng, bagaimana bisa ia istirahat disaat pria yang ia cintai tengah terluka parah. “Aku tidak apa-apa, Mas.” Airah melepas paksa cekala
Allah SWT berfirman dalam (Surah Asy-Syu’arah : 78-82) yang artinya : Yaitu yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang Memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang sangat kuinginkan akan mengampuni keselahanku pada hari kiamat.” *** Perlahan mata sayu itu terbuka. Lamat-lamat ia mengerjap guna menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah plafon berwarna putih. Airah merasakan denyut sakit di kepalanya, di sebelah bagian tangan kanannya terdapat selang infus yang terpasang. Pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok Anya dan seorang dokter laki-laki setengah baya menghampirinya. Anya berhambur memeluk tubuh sang sahabat. “Alhamdulillah, Ra, kamu sudah sadar.” Ia merenggangkan pelukannya. “Apa kamu masih merasa pusing?” Airah mengangguk. ”Iya sedikit pusing.” Mata bening Ai
"Allah melimpahkan setiap ujian-Nya padamu karena Allah percaya bahwa kamu bisa dan mampu dalam melewatinya. " ~Nur Airah Nih~ *** Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Janjian, hari ini Airah dan Anya akan bertemu di Kafe tempat biasa mereka nongkrong. "Assalamu'alaikum, maaf, ya, Ra, aku telat." Airah memutar bola mata malas. Kebiasaan." Wa'alaikumussalam, aku dah nunggu satu jam lebih, loh." Anya menggeser kursi dan duduk di depannya."Iya, maaf banget. Tadi tiba-tiba ada urusan penting di Rumah Kasih Cinta. Maaf, ya. Ra," sesalnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di dada. "Rumah kasih cinta?" Anya mengangguk." Rumah khusus buat pengidap penyakit kanker," sahutnya seraya melambaikan tangan ke pramusaji. Lagu Kupu-kupu Cinta--Sigma pun mengalun merdu. Menemani makan sore mereka. "Hm, An." Anya mendongak melihat wanita di depannya sambil memasukkan mie goreng ke mulutnya. "Boleh aku ikut dengan
"Masa lalu tak hanya memberikan kenangan, namun juga mengenalkanmu akan makna kehidupan." Anonim. *** Waktu berputar seiring dengan roda jam yang berdetak, tak terasa sudah empat tahun sembilan bulan wanita itu meninggalkan bangku perkuliahan. Lulus dengan nilai cumlaude. Ternyata menjadi seorang sarjana itu tidaklah mudah, seperti dugaan sebagian orang. Ada banyak tuntutan dan tanggung jawab yang harus mereka hadapi. Salah satunya, mencari pekerjaan. Sebagian orang berpendapat bahwa menjadi sarjana akan lebih mudah atau memiliki pegangan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik nantinya. Misalnya, menjadi pegawai pemerintahan, mungkin. Mindset tersebut harus mereka ubah. Menjadi sarjana adalah proses kemandirian diri. Bagaimana mereka dituntut untuk lebih kuat mental lagi dalam menghadapi persaingan dunia kerja. Wanita itu pernah bekerja di salah satu minimarket. Hingga cibiran itu pun berdatangan satu per satu. "Sarjana kok, cuma kerja di minimarket. Sayang, Mbak title
Aku tidak bisa menjadi layaknya Fatimah Az-zahra yang mencintaimu dalam dalam diam, tapi izinkan aku menjadi layaknya Siti Hawa yang rela menunggumu hingga ajal ini menjemput. Nur Airah Nih *** "Apa Lu nggak tahu kalau dia sudah tidak di Indonesia lagi?" Air mata tak dapat ia bendung lagi. Hatinya terlalu sakit seakan ada ribuan anak panah yang menembus jantungnya. Jika saja Dani tak memberitahunya, mungkin saja dia tidak akan pernah tahu kalau pria tersebut sudah pergi. Benar-benar pergi meninggalkannya. Airah meremas kuat dadanya, perih. Cintanya kini telah pergi meninggalkan perasaan yang masih utuh untuknya. Meninggalkan ribuan kenangan yang masih ia simpan rapat dengan sempurna dalam sanubarinya. Kini, dia hanya bisa meratapi kepergian pria itu dalam doa yang sering dirinya langitkan. Berharap agar pria itu baik-baik saja di sana. Bunyi ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan. Gegas, dia menyeka air
Benci bukan berarti aku tidak peduli. Bagas Gunawan Basri *** Rahang dan tangannya sama-sama ikut mengeras, menatap tajam pria yang dengan lancangnya menghina wanitanya. Wanitanya? Jika saja pria itu tidak sadar bahwa hubungan mereka sudah berakhir, mungkin saja pria bernama Tomi itu sudah babak belur di tangannya. "Dani!" Pria yang dipanggil namanya tersebut menghela napas berat. Dia paham betul masalah pelik antara sang sahabat dengan mantan kekasihnya itu, yang sialnya masih dicintai oleh sahabatnya. "Gue nggak ngerti deh sama kalian. Kalau kalian masih sama-sama suka, kenapa tidak balikan saja," ucap Fikri seraya menyeruput secangkir kopi. "Itu sama aja Lu nyuruh gue masuk kandang singa. Secinta apa pun gue sama dia. Gue enggak mau jadi perusak rumah tangga orang. Gue masih punya harga diri." Tegas Bagas. Aziz dan Fikri mengangguk paham. "Tapi gue masih nggak ngerti, kenapa Airah tega nyelingkuhin Lu." Ba
"Ketika kepercayaan dirusak, kata maaf sudah tak ada artinya lagi." Anonim *** Suara petir menggelegar diiringi suara gemuruh hujan yang turun membasahi bumi Pertiwi. Suara adzan subuh pun telah terdengar mengalun merdu seantero jagat raya membangunkannya dari tidur lelap. Airah menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya seraya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, berwudhu dan melaksanakan salat subuh. Tepat saat matahari menyingsing, dia telah siap dengan balutan gamis grey polos yang senada dengan warna jilbab lebarnya. Melangkah turun, menuju meja makan. Di sana kedua orang tuanya telah duduk manis di kursi masing-masing. Selepas sarapan, dia gegas pamit kepada kedua orang tuanya. Menuju kampus. Setibanya di tempat tujuan, wanita itu mengernyit heran saat melihat para mahasiswa yang menatapnya sedemikian rupa. Apa ada yang salah? Airah menelisik penampilannya sendiri. Tidak ada. "Pantas sekarang berjilbab. Cuma kedok belaka." "Cih, sok su
Aku memang masih sering meneteskan air mata atas takdir perpisahan cinta kita, bukan karena aku menginginkanmu kembali, tapi karena aku menginginkan kelapangan hati untuk bisa melihatmu bersama dengan yang lainnya. Perih memang tapi harus kulakukan. Bagas Gunawan Basri *** "Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jatuh dari motor seperti itu?" cecar Airah seraya duduk di samping Bagas, menyerahkan obat yang baru saja ia ambil dari Depo Farmasi. "Hanya keserempet mobil yang menyerobot melawan arah, " balasnya tak acuh sembari menerima obat yang diberikannya. Airah mendengus. "Dan orang itu tidak bertanggung jawab." "Hanya luka kecil." Bagas bangkit berdiri. Airah mengikuti. Mengekori langkah Bagas seperti anak ayam yang mengikuti induknya. "Apa kamu yakin tidak perlu dipapah?" tanya Airah balik. Dia meringis melihat Bagas yang berjalan terseok-seok sambil memenangi sebelah kakinya yang sakit. "Tidak perlu. " Beb
Jadilah seperti lilin, agar engkau mengerti apa itu cinta dan ikhlas yang sebenarnya. Rabi'ah Adawiyah *** Kicauan burung kenari saling bersahutan di atas rimbunan pepohonan. Bertasbih memuji Allah Azza Wa Jalla . Rerumputan hijau bergoyang seirama dengan hembusan angin. Arunika pun telah memancarkan cahayanya di atas horizon sebelah timur, hingga menampilkan kehidupan alam semesta dengan hiruk-pikuknya keramaian umat manusia. "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. Al-Isra:44). Airah melengkungkan senyuman saat melihat anak-anak kecil yang ia perkirakan seumur dengan Hafsyah tengah berkejaran-kejaran dengan riang gembira. Anak perempuan yang bermain perosotan dengan ibunya, dan anak laki-laki yang bermain bola dengan
Cinta meninggalkan ingatan yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun, tetapi terkadang meninggalkan sakit hati yang tidak dapat disembuhkan oleh siapa pun. ~Anonim. *** Cinta itu laksana sayatan pedang yang menghujam, tembus masuk ke dalam ulu hati, sekuat apa pun sang pencinta untuk melepaskan belenggu sayatan pedang itu, akan sia-sia, jika hati dan jiwanya masih terpaut pada sang kekasih hati. Tidak mudah memang melepaskan sangkar memori yang terus bergentayangan dalam ingatan karena dia layaknya memori internal yang menyimpan banyak kenangan masa lalu tersimpan utuh jauh ke dalam cranium dan terbungkus rapat oleh selaput otak yang kuat. “Bagaimana caranya aku memberitahumu, bahwa berbicara denganmu dapat menyembunyikan segala yang ada di hatiku.” Kristal bening yang menumpuk dari pelupuk matanya, kini jatuh bercucuran membasahi kedua pipinya. “Aku sangat merindukanmu Bagas.” Kepalanya mendongak, memandangi cahaya rembulan di langit malam sana. Di langit yang gelap gulita, bulan