Share

Bab 129

Author: Patricia
Nadine juga memberi ucapan selamat tahun baru. Suaranya yang lembut dan kalem seakan-akan menyiratkan kegirangan.

Arnold membayangkan Nadine sedang memegang ponsel dan tersenyum saat memberi ucapan selamat tahun baru padanya. Saat cahaya dari kembang api yang menyinari wajah samping Nadine, itu pasti sangat cantik.

....

Pada 1 Januari, Nadine diperbolehkan untuk tidur sampai pukul 11 siang. Cahaya matahari memanjat ke atas balkon dan menembus gorden.

Nadine membuka matanya yang mengantuk. Bayangan dari dahan-dahan pohon di luar jendela terpantul di gorden. Matahari sudah terbit?

Nadine bangkit duduk dan menguap. Lalu, dia berjalan menuju jendela dan menarik gorden hingga terbuka. Benar saja, cahaya matahari menyinari tumpukan salju di lereng gunung dengan menyilaukan.

Jeremy dan Irene sedang membaca buku di halaman sambil berjemur. Jeremy memiliki pendengaran yang tajam. Dia tahu Nadine sudah bangun dari suara gorden dibuka.

Jeremy berprofesi sebagai seorang guru dan taat waktu. Dia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 130

    Sekarang sedang libur semester. Sebagian besar murid sudah diliburkan sehingga halaman sekolah sangat sepi.Satpam mengamati Nadine yang berdiri di depan gerbang. Dia bertanya, "Kamu libur kuliah dan pulang untuk tengok guru-guru, ya?"Murid kelas 12 harus mengikuti bimbingan belajar sehingga tetap ada sesi pembelajaran yang diadakan di sekolah.Sebelum Nadine sempat menjawab, satpam melambaikan tangannya yang tadi dilipat di belakang badan dan berdeham. Dia berkata, "Masuk saja, tapi jangan berisik. Jangan ganggu anak kelas 12 belajar."Nadine terdiam. Keheningan sungguh berat. Nadine tidak berjalan menuju kantor guru karena tujuannya bukan untuk menengok para guru, melainkan berkeliling di lapangan selama dua putaran. Ketika hendak pergi, Nadine melewati dinding kehormatan di sekolah. Lalu, Nadine melihat foto dirinya. Ada keterangan di bawah.[ Nadine Wicaksono: Angkatan 20xx. Juara 1 Ujian Nasional IPA Kota Linong. Diterima di Fakultas Biologi Universitas Brata. ]Angin yang berem

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 131

    Ekspresi Jeremy langsung menjadi muram. "Bu Wanda, Nadine adalah anak baik. Entah dari mana pun kamu mendengar semua itu, tolong jangan pernah katakan lagi! Karena semua itu cuma omong kosong, bahkan bisa dibilang fitnah! Itu bukan sikap yang pantas dimiliki oleh seorang pendidik."Usai bicara, Jeremy beranjak pergi dengan langkah mantap. Bahkan dari punggungnya juga tampak jelas dia sedang murka!Wanda menatapnya dengan sinis. "Huh, padahal jelas-jelas sudah melakukannya, tapi nggak rela diomongin orang? Anak baik apanya? Omong kosong! Dasar perusak nama baik sekolah, nggak tahu malu ...."Dulu, Jeremy sangat membanggakan dirinya. Punya anak yang selalu meraih peringkat pertama di semua mata pelajaran, memenangkan banyak kompetisi, hingga terkenal di seluruh angkatan, bahkan di sekolah.Setiap rapat evaluasi, dia selalu menyebut nama Nadine dengan senyum bangga di wajahnya. Namun, apa hasilnya? Apa gunanya masuk Universitas Brata? Akhirnya jadi mainan orang kaya juga! Huh!Nadine mend

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 132

    "Wah, ternyata benaran Nadine. Waktu di depan pintu tadi kukira aku yang salah orang!" Tetangganya yang bernama Karen ini terkenal suka mencampuri urusan orang lain dan suaranya juga sangat keras.Suaminya juga mengajar di SMA Cendekia. Mereka pindah ke daerah perumahan ini bersamaan dengan keluarga Nadine.Melihat Nadine keluar, Karen langsung bergegas menghampirinya dan menilai penampilan Nadine dari atas hingga ke bawah. "Ckck, Sayang, hebat sekali! Hidup di kota memang mengubah penampilan seseorang. Kamu sudah kaya sekarang ya!"Nadine kehabisan kata-kata."Lihatlah dandanan, tubuhmu, pakaian, dan sepatumu ini. Modis sekali!" Karen terus-menerus memujinya sambil melemparkan tatapan menggoda pada Nadine. "Nak, katanya kamu hidup senang di kota ya? Bisa nggak carikan kenalan untuk anak perempuanku?"Nadine agak kebingungan. "Kenalan apanya?""Duh, kenalan semacam bos besar atau orang kaya. Anakku punya tubuh yang seksi dan wajahnya juga cantik. Apalagi, dia masih muda. Masih umur 22

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 133

    Nadine mengayunkan pel-nya dengan keras, terus mengarahkan pukulannya ke arah Karen. Karen menangkis dengan kedua tangan di atas kepala, lalu berlari ke pintu sambil melontarkan ancaman terakhir, "Lihat saja nanti!""Anggrek wisteria kalian yang menjengkelkan itu sudah menjalar sampai ke halaman rumahku. Besok aku akan membakarnya habis-habisan! Melihatnya saja sudah membuatku muak!"Setelah berkata demikian, dia bergegas pergi karena Nadine kembali mengejarnya sambil mengangkat tongkat pel. "Pergi! Kalau kamu datang lagi, akan kupukul kamu!"Nadine menurunkan tongkat pelnya, lalu menghela napas panjang. Ketika berbalik, dia melihat ekspresi serius ayahnya dan jantungnya berdegup kencang.Setelah beberapa saat, dia akhirnya berbisik, "Maaf, Ayah, aku ....""Sejak kapan kamu belajar begitu?""Hah?""Ya itu ... yang begitu." Jeremy menirukan gerakan mengayun pel seperti yang baru saja dilakukannya.Nadine terdiam."Ehem! Anak perempuan sebaiknya tetap tenang dan anggun, jangan bertingkah

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 134

    Orang yang berbicara adalah bibi kedua, Chyntia, yang bekerja di dinas listrik.Kehidupannya relatif santai karena memiliki pekerjaan tetap dan digaji pemerintah. Oleh sebab itu, tubuhnya cenderung gemuk dan berisi. Hari ini dia mengenakan sweter hijau terang, rambut pendeknya dikeriting hingga mengembang seperti pohon Natal yang besar."Kamu ngomong apaan? Bisa ngomong yang benar nggak?" Paman kedua, Herman, menarik lengan istrinya.Berbeda dengan Chyntia yang "lebar" dan "berisi", Herman bertubuh tinggi ramping dan mengenakan sweater krem polos yang dipadukan dengan celana kain. Rambutnya disisir ke belakang hingga mengilap dan rapi. Meski usianya sudah 40-an, wajahnya masih tetap tampan dan elegan.Keluarga Jeremy memang memiliki gen yang bagus. Ketiga bersaudara Jeremy semuanya memiliki wajah rupawan.Chyntia yang baru saja ditarik suaminya pun mendengus. "Apa sih .... Aku cuma bilang apa adanya. Nadine memang sudah bertahun-tahun nggak ikut tahun baru sama kita. Sebagai bibinya, a

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 135

    Di antara tiga menantu, Riana adalah sosok yang bijaksana dan cekatan, Chyntia punya cara bicara yang menyenangkan, tetapi Irene ... bagaimanapun terlihat tidak cocok di mata mertuanya.Seiring waktu, Jeremy pun jadi kurang disukai. Apa gunanya punya anak yang melupakan ibunya setelah menikah? Jelas lebih berharga anak sulung yang menafkahi mereka dan bahkan menjadi bos besar.Nadine duduk di samping ibunya.Lagi pula, kakek neneknya tidak menyukainya. Oleh karena itulah, Nadine malas untuk mencoba menarik perhatian atau berpura-pura ramah. Asalkan dia bisa diam-diam menyelesaikan makanannya dan pergi setelahnya, itu sudah cukup."Nadine, tas kamu ... lumayan bagus ya. Barang bermerek, 'kan?" tanya Riana sambil meletakkan piring buah, tiba-tiba mengalihkan perhatian ke Nadine.Dalam sekejap, semua mata tertuju ke arahnya. Belum sempat Nadine menjawab, Chyntia langsung memotong, "Oh, logo itu namanya ... apa ya, Ermes ...?"Cecil menyahut dengan nada tidak sabar, "Kalau nggak tahu, jang

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 136

    Chyntia tertawa kecil, matanya melirik ke arah tumpukan buah yang dibawa Jeremy. "Irene, kalian juga beli ceri, ya? Tapi kenapa kelihatannya lebih kecil dibandingkan yang dibeli Riana?"Irene tersenyum kaku, tapi nadanya tetap ramah. "Mana mungkin keluarga kami bisa dibandingkan sama keluarga Kak Riana?"Chyntia tertawa lepas. "Ah, benar juga! Memang sih, siapa pun nggak ada yang bisa menandingi keluarga Herman dan Riana."Nadine tersenyum kecil, pura-pura tak sengaja bertanya, "Bibi, buah apa yang kamu beli?"Chyntia terdiam sejenak dan senyumnya sedikit memudar. Nadine tampaknya tidak menyadari perubahan itu. Kebetulan kantong buah itu ada di dekat kaki Chyntia, jadi Nadine langsung meraihnya dan membuka isi kantongnya. "Kulihat dulu ... ada apel, pir, jeruk ...."Tak satu pun dari buah itu tergolong mahal untuk musim ini."Bibi pintar pilih buah ya, semuanya buah yang sering dimakan banyak orang," ujar Nadine dengan nada datar, tapi jelas menusuk.Chyntia merasa tersinggung mendenga

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 137

    "Tentu saja.""Gina, kamu terlalu sungkan!" Riana menerima hadiah itu dan meletakkannya di samping. Dia berencana untuk membuka hadiah itu nanti.Namun, Gina dengan santai menambahkan, "Itu gelang emas murni. Kalau modelnya kurang cocok, bisa ditukar di toko."Chyntia langsung berseru, "Wah, Gina memang luar biasa. Sekali kasih hadiah langsung gelang emas murni ...."Gina mengangkat alis sedikit dengan puas, tetapi tetap bersikap rendah hati. "Ah, apa artinya ini? Kak Riana sudah biasa dengan barang bagus. Ini cuma hadiah kecil.""Tapi, kita semua saudara ipar. Kalau Kak Riana dapat hadiah, bagaimana dengan aku dan Irene?" Chyntia melanjutkan dengan nada setengah bercanda, "Kamu ini manajer bank, biasa berurusan sama klien besar. Masa soal seperti ini kamu nggak paham?"Gina tidak segan-segan membalasnya, "Kak Chyntia, maksudnya kamu juga mau gelang emas?"Chyntia tetap tersenyum tipis. "Siapa yang nggak mau gelang emas? Irene, kamu mau juga, 'kan?"Kini, semua mata beralih ke Irene. I

Latest chapter

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 673

    Saat Clarine kembali ke kamarnya, dia tidak sengaja mendengar dua staf yang berbicara. Katanya, pihak atasan sedang memberi tekanan pada mereka. Bahkan ada tokoh penting yang langsung turun tangan dan mengeluarkan ultimatum."Kalau orang itu nggak ditemukan, kalian semua siap-siap angkat kaki!"Siapa yang punya pengaruh sebesar itu? Latar belakang sehebat itu? Siapa yang bisa punya dukungan sekuat itu?Clarine hanya merasa darahnya mendidih. Rasanya ingin langsung keluar dan membentak kedua staf itu. "Dia punya pengaruh apaan? Latar belakang apaan? Cewek itu cuma barang bekas yang sudah dipermainkan habis-habisan sama kakakku!"Jadi, saat Reagan menelepon, insting pertamanya adalah "ini pasti karena Nadine"."Tadi kamu bilang Nadine hilang? Kenapa bisa? Sekarang kamu di mana?" Suara Reagan langsung meninggi. Dia langsung duduk tegak fan tangan yang menggenggam gelas hampir menghancurkan kaca itu.Clarine tertegun. "Eh ... jadi Kakak bukan nelepon karena kabar Nadine?"Mata Reagan memer

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 672

    Cahaya bulan bersinar terang, angin malam berembus kencang dan menusuk. Namun di dalam bar, suasananya hangat seperti musim panas .... Philip mengadakan acara minum-minum dan sekelompok orang sedang seru-serunya bermain kartu."Pair dua! Menang! Hahaha, Ferrari-mu jadi milikku sekarang!""Curang! Curang! Ayo ulang satu ronde lagi!""Eh, kalah sedikit saja langsung teriak curang? Ya sudah deh, kasih kamu satu ronde. Tapi kalau ronde selanjutnya aku menang lagi, rumahmu yang di Bayview Residence juga masuk taruhan!""Oke!"Hanya sebuah rumah dan satu mobil, bukannya tidak mampu!Philip sendiri tidak ikut bertaruh. Dia hanya duduk di samping menikmati keramaian. Saat satu ronde kartu selesai, dia menoleh dan melihat Reagan duduk sendirian di sofa sambil menenggak minuman dengan wajah muram."Kak, baru datang kenapa langsung minum? Tuh, yang lain lagi main gede-gedean. Nggak mau ikutan satu ronde?"Reagan tidak terlalu berminat. "Kalian saja yang main."Sambil bicara, dia kembali menuang a

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 671

    Langit telah gelap sepenuhnya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan konferensi akademik itu pun sampai pada penghujung acara. Saat pembawa acara menyebutkan nama Arnold, semua mata tertuju padanya. Dia melangkah ke atas panggung, bersiap menyampaikan pidato penutup.Di tengah pidatonya, ponselnya bergetar dua kali. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk menjawab.Entah mengapa, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya. Kelopak matanya juga berkedut tanpa henti. Arnold buru-buru merangkum beberapa topik utama konferensi. Gaya penyampaiannya tetap mantap, pandangannya luas, dan isi pidatonya berbobot.Para hadirin mendengarkan dengan antusias dan terus mengangguk.Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mendengarkan laporan-laporannya, jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Arnold. Biasanya, Arnold memaparkan materi dengan runtut dan terperinci. Namun hari ini, dia seperti ingin buru-buru menyelesaikan semuanya.Setelah mengakhiri pidatonya dengan s

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 670

    Rasanya Kaeso ingin melompat untuk memberikannya tamparan. "Kamu bodoh ya? Sudah jam segini, staf kebun pasti sudah pulang! Kamu kira bisa ketemu mereka?"Marvin menggaruk kepala, ragu sejenak. Dia akhirnya memutuskan, "Entah bisa atau nggak, tetap harus dicoba. Kita nggak bisa cuma diam saja!"Tanpa menunggu tanggapan dari Kaeso, dia langsung berbalik dan berlari ke tempat staf biasanya berada.Menyadari tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka harapkan dari Kaeso, Darius dan Mikha memutuskan untuk terus melanjutkan pencarian mereka.Namun, ini aneh. Sepanjang perjalanan, mereka sudah melintasi hampir seluruh zona A, tetapi tak menemukan satu orang pun.Mikha hampir menangis. "Gimana ini? Kak Nadine hilang hampir 2 jam dan kita masih mutar-mutar tanpa solusi!"Melihat air mata Mikha mulai berlinang, Darius yang awalnya masih bisa tenang, akhirnya benar-benar panik juga."Kamu ... kamu jangan nangis, kita 'kan sedang berusaha ....""Tapi, sudah ada solusinya belum? Belum! Hiks .... A

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 669

    "Oke!"Tanpa membuang waktu, Mikha dan Darius langsung berlari ke arah zona A, area terdekat yang kemungkinan masih ramai.Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Kaeso dan rombongannya. Melihat wajah keduanya yang panik, Kaeso segera menebak ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, mengingat hubungan mereka selama ini tidak akur, dia sengaja menghalangi jalan mereka."Eh, kenapa buru-buru begitu? Mau ke mana sih? Cerita dong," ucapnya dengan nada mengejek.Mikha sudah malas berurusan dengannya. Kalau ini situasi biasa, dia pasti akan membalas dengan beberapa sindiran tajam. Namun, sekarang yang ada di kepalanya hanya keselamatan Nadine.Namun, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Kaeso ini sangat pintar cari muka. Di perjalanan tadi, Kaeso terus mengobrol dengan dosen pembimbing. Mungkin dia punya nomor kontaknya?"Kaeso, kamu tahu nomor dosen pembimbing nggak? Kita butuh bantuan mereka, ini benar-benar darurat!"Kaeso mengangkat alis dan memutar bola matanya. Darurat ya .... "Kebetulan ba

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 668

    Nadine hanya bisa mencari tempat untuk berteduh. Semua orang tahu bahwa pohon dapat menarik petir, jadi berlindung di bawahnya bukan pilihan.Dalam kilatan cahaya saat petir menyambar, langit sesaat menjadi terang. Nadine melihat tidak jauh dari sana ada sebuah batu besar setinggi pinggang, dengan bagian tengahnya cekung membentuk celah alami. Meskipun sempit, jika dipaksakan, mungkin cukup untuk satu orang berteduh.Hujan semakin deras. Rintikannya menghantam tubuh Nadine hingga terasa agak menyakitkan. Dia mempercepat langkahnya, berusaha berjalan menuju batu itu sesuai perkiraan arah.Namun, tepat saat hampir sampai, dia malah terpeleset. Dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh ke depan.Tempat ini adalah lereng yang cukup curam. Begitu jatuh, tubuhnya langsung terguling ke bawah tanpa bisa dihentikan. Dia refleks menutup kepala dan wajah dengan tangan, mencoba melindungi diri.Satu-satunya hal yang sedikit melegakan adalah lereng ini ditumbuhi tanaman sehingga terasa cukup e

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 667

    Itu adalah hutan entada yang sangat besar!"Ayo cepat ke sini! Di depan ada hutan entada yang sangat besar!" seru Nadine dengan gembira. Mendengar itu, Mikha dan Darius segera berlari mendekat.Entada adalah tanaman kacang yang sangat terkenal. Asalnya dari Provinsi Walo, Florasia, lalu diperkenalkan ke daratan utama. Biasanya, entada tumbuh di lereng gunung atau di hutan campuran, merambat di pohon-pohon besar.Darius mendongak, menatap pohon-pohon entada yang menjulang. Batangnya yang tebal saling melilit, akarnya menjulur hingga 50 meter ke sumber air, membentang di antara pepohonan seperti raksasa yang sedang bersembunyi.Awalnya Darius hanya terkagum, tetapi sekarang dia merasa sangat senang. "Entada bisa tumbuh hingga satu meter panjangnya. Bisa digunakan sebagai obat atau koleksi, dan harganya di pasaran sangat mahal. Ini jelas bisa dihitung sebagai tanaman langka."Nadine mengangguk. "Tapi, hutan entada ini cukup luas. Menemukan entada mungkin nggak mudah. Matahari juga hampir

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 666

    Darius sampai tidak tahu harus merespons apa.Nadine berujar, "Masih ada banyak waktu tersisa, kita coba cari tanaman langka saja."Siapa yang tidak ingin mendapatkan nilai penuh?Mikha berkata, "Ayo, ayo! Sebenarnya dapat 100 atau 80 poin itu nggak terlalu penting buatku, yang penting aku bisa jalan-jalan bareng kalian ...."Setelah beristirahat sebentar, mereka bertiga kembali bergerak. Tanaman langka tidak memiliki daftar tetap seperti soal terbuka. Mereka hanya menemukan tanaman yang diakui sebagai spesies langka.Namun, kali ini pencarian mereka tidak semudah sebelumnya. Menjelang senja, langit mulai gelap dan Mikha kelelahan sampai terengah-engah. "Kita sudah menyusuri hampir 10 zona kecil, 'kan? Nggak ada tanaman langka yang terlihat. Kapan kita baru bisa menemukannya? Aku lapar, mau makan dulu ...."Akhir-akhir ini, Mikha sering diajak Darius untuk lari pagi. Entah karena itu atau alasan lain, dia merasa lebih cepat lapar dibanding sebelumnya. Kini, kakinya terasa lemas dan tid

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 665

    Di sampingnya, ada Kaeso yang tersenyum patuh sambil membawa termos air. Di belakangnya, Marvin membawa banyak barang bawaan.Nadine mengalihkan pandangannya. Lagi pula, dia tidak begitu akrab dengan Jinny."Kak Nadine!" Mikha berlari dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. Di punggungnya, ada tas ransel besar yang terlihat penuh dan berat. Di dalamnya berisikan tabir surya, obat nyamuk, topi, air, dan tentu saja camilan yang tidak boleh ketinggalan.Mikha berkata, "Aku sudah menyiapkan banyak, nanti kita makan bareng ya."Nadine mengangguk. "Oke.""Eh? Darius mana? Dia belum datang?" Karena takut terlambat, Mikha berlari sepanjang jalan dan bahkan tiba 5 menit lebih awal.Darius yang sudah tiba lebih dulu, menatapnya dan membalas, "Dari mana datangnya kepercayaan dirimu kalau aku akan lebih telat darimu?"Mikha mencebik. "Datang 2 menit lebih awal juga bukan sesuatu yang perlu dibanggakan, oke? Aku cuma nggak sengaja ketiduran sebentar tadi. Omong-omong ... kenapa tas kalian kecil

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status