Keesokan paginya, saat matahari mulai merangkak naik di balik bukit tandus, Xuan Li kembali melihat pria muda yang mendekatinya semalam. Pria itu berdiri di sudut gua, berusaha menghindari tatapan para algojo.“Kau yang berbicara denganku tadi malam, bukan?” tanya Xuan Li dengan nada dingin.Pria itu tersenyum tipis. “Namaku Fu Yuan,” ujarnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh tambang di kejauhan.Xuan Li mengangguk singkat. “Aku Wu Yu. Kau menyebut sesuatu tadi malam, sesuatu yang bisa membantu kita keluar dari sini. Apa maksudmu?”Fu Yuan menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada yang mendengar. Wajahnya berubah serius. “Hati-hati dengan pertanyaan seperti itu. Di tempat ini, salah bicara sedikit saja bisa membuatmu jadi target algojo. Bahkan bisikan kecil pun bisa berujung pada kematian.”Xuan Li menatapnya tajam. “Aku mendengar sesuatu tadi malam,” ujarnya. “Raungan makhluk besar dari dalam tambang. Apa itu yang kau maksud?”Fu Yuan terdiam beberapa saat sebelum
Malam itu, tambang sunyi seperti kuburan yang dilupakan waktu. Hanya napas berat para tahanan dan dengkuran pelan yang terdengar, membaur dengan aroma lembab dan busuk dari lorong batu yang seolah tak berujung. Xuan Li melangkah hati-hati, tubuhnya membungkuk agar bayangannya tak tertangkap oleh cahaya lentera redup di kejauhan.Ia ingin mencari Fu Yuan, pria misterius yang seolah menyimpan rahasia besar tentang tempat ini. Tak lama ia berjalan, suara rendah dan parau tiba-tiba memanggilnya.“Kau mau ke mana?”Xuan Li tertegun, darahnya terasa membeku. Ia menoleh perlahan dan menemukan Mo Xiang berdiri, matanya yang setengah terpejam memancarkan rasa curiga.“Aku…” Xuan Li meraba-raba alasan di kepalanya. “Aku sedang bermimpi… berjalan dalam tidur.”Mo Xiang mendekat, menatapnya lekat-lekat. “Berjalan dalam tidur? Huh, kau memang aneh, Ketua. Cepat kembali tidur sebelum pengawas melihat kita.”Xuan Li tersenyum kaku dan mengangguk, berpura-pura menurut. Saat Mo Xiang berbalik dan ke
“Aku tidak ingin mati di sini. Tak ada yang lebih buruk daripada menyerah pada rasa takut,” gumam Xuan Li sambil menatap dinding batu yang gelap di sekelilingnya.Kata-kata itu lebih seperti mantra bagi dirinya sendiri, pengingat bahwa kelemahan hanya akan mengundangnya ke dalam kehancuran. Ia menarik napas panjang, berusaha menyingkirkan rasa lelah yang menghantuinya. Tubuhnya yang kaku bangkit dari posisi terduduk. Berdiam diri tak akan membawa perubahan.Tambang ini adalah penjara hidup yang penuh penderitaan. Bukan hanya tenaga yang direnggut dari para tahanan, tetapi juga kekuatan spiritual mereka. Seolah ada energi gelap yang menyelimuti setiap sudut tambang, menyerap vitalitas siapa saja, kecuali para pengawas dan algojo Kekaisaran Neraka Jingga. Duduk meratapi nasib hanya akan membuatnya menjadi korban berikutnya.“Aku harus keluar dari sini. Tidak, aku akan keluar dari sini.” Dalam pikirannya, rencana melarikan diri mulai terbentuk. Tapi melarikan diri saja tidak cukup. Ia m
Aura yang menyelimuti Yan Yue begitu mencekam. Setiap langkahnya memancarkan tekanan yang membuat siapa pun merasa tertindas. Dengan satu ayunan pedang emasnya, ia melontarkan serangan penuh kekuatan, memutus tubuh makhluk iblis itu menjadi serpihan gelap yang menguap di udara.Namun, seolah dipanggil oleh kehancuran rekannya, suara geraman yang menggelegar memecah udara dari arah ruang lain.Xuan Li menahan napas saat suara itu menggema. Jantungnya berdetak cepat, seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Naluri bertahan hidupnya berteriak agar ia menjauh dari lokasi itu. Namun, Yan Yue tetap tenang, dengan ekspresi dingin yang nyaris tidak manusiawi. Ia memandang ruang gelap tempat suara itu berasal.“Makhluk lain,” gumam Yan Yue, matanya menyipit tajam. “Dan kali ini lebih kuat.”Cahaya merah darah melingkari tubuhnya ketika ia melangkah ke udara. Setiap jejak langkahnya meninggalkan pola bercahaya, seperti simbol kuno yang menari di kehampaan. Aura ini menunjukkan bahwa dirinya t
Kekacauan di tambang bawah tanah semakin menjadi-jadi. Energi spiritual yang kembali mengalir dalam tubuh para tahanan berubah menjadi pisau bermata dua. Bukannya bersatu, mereka justru saling menyerang demi merebut batu sumber yang melimpah. Batu-batu itu bersinar samar dalam gelap, memancarkan daya pikat mematikan, seolah-olah merayu setiap orang untuk mengorbankan segalanya demi memilikinya.Jeritan melengking dan tawa histeris bercampur menjadi simfoni horor yang tak terlukiskan. Udara tebal dengan bau besi dari darah yang tumpah. Suara tulang yang remuk dan daging yang terkoyak menggema, menambah keangkeran suasana. Para algojo dan pengawas, yang sebelumnya menjadi penguasa tambang ini, kini terkapar menjadi sasaran dendam."Ini untuk semua cambukanmu!" teriak seorang tahanan dengan penuh kebencian, sebelum menusukkan pisau berkarat ke dada seorang algojo. Tangan yang gemetar itu menghunus dengan kekuatan yang lahir dari dendam bertahun-tahun. "Kau pikir kau tidak akan pernah
Xuan Li berdiri di depan para pengawas dan algojo yang terikat. Tubuh mereka penuh luka, wajah mereka menunjukkan campuran ketakutan dan kebencian. Sorot mata Xuan Li tajam, seperti pisau yang siap menusuk kapan saja.Suasana di ruang bawah tanah itu mencekam. Hanya suara napas berat dan gemericik darah yang menetes dari luka para algojo yang terdengar.“Kalian tahu mengapa aku tidak membunuh kalian di tempat,” ucap Xuan Li dengan nada rendah, penuh ancaman. “Jangan sia-siakan kesempatan terakhir ini. Di mana formasi teleportasi untuk keluar dari tambang ini?”Tidak ada jawaban. Para algojo saling berpandangan, seolah mencari keberanian di antara satu sama lain. Salah satu dari mereka mengertakkan gigi dan meludah ke lantai.“Bunuh saja kami! Kami tidak akan bicara.”Xuan Li melangkah maju dengan pelan namun penuh tekanan. Ia berjongkok di depan algojo yang baru saja berbicara. Sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang lebih menakutkan daripada ancaman.“Aku tidak perlu membu
“Phoenix?” Xuan Li tertegun, matanya melebar. Di atas langit yang suram, seekor Fenghuang raksasa terbang rendah dengan anggun. Tubuhnya berselimut nyala api emas yang berkilauan, mengusir kegelapan sekaligus menciptakan tekanan yang tak terlukiskan. Setiap kepakan sayapnya membawa gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar, seperti bayangan ilusi pada air yang tersentuh bara.“Bagaimana mungkin makhluk seperti ini muncul di sini?” bisiknya lirih, penuh ketidakpercayaan.Fenghuang itu melayang perlahan di langit, sayapnya terbentang luas seperti lautan api yang hidup. Setiap gerakan menimbulkan angin panas yang menyapu debu dan pasir, mengguncang dunia seolah memperingatkan keberadaannya. Sepasang mata merah yang bersinar tajam memindai tanah di bawahnya, penuh kehendak dan tujuan.“Tidak mungkin…” Xuan Li menarik napas panjang, pikirannya berputar cepat. “Apa dia mencariku?”Suara pekikan memecah kesunyian, menggema seperti gemuruh langit yang marah. Fenghuang itu ti
Saat Xuan Li mendekati lereng gunung, gelombang panas menyengat wajahnya, membuat kulitnya terasa seperti dipanggang. Udara dipenuhi bau sulfur dan suara gemuruh yang mengguncang gendang telinganya. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi di tempat itu meningkat. Namun, kilauan biru di kejauhan terus memanggilnya."Aku harus hati-hati," pikir Xuan Li. Ia menyalurkan energi spiritual ke telapak kakinya, menciptakan penghalang tipis yang melindunginya dari tanah yang panas membara.Langkahnya terhenti ketika ia merasakan getaran tajam di bawah tanah. Tiba-tiba, tanah di depannya retak, dan dari celah itu lava menyembur dengan kekuatan luar biasa. Xuan Li melompat mundur dengan gesit, nyaris terkena semburan tersebut."Ini semakin berbahaya," gumamnya sembari memperhatikan celah-celah yang mulai terbentuk di sekitarnya.Di tengah usahanya mencari jalur yang lebih aman, ia mendengar suara geraman rendah. Xuan Li menoleh, dan matanya bertemu dengan sepasang mata merah menyala. S
Kabut racun yang pekat masih menggantung di udara, merayap perlahan seperti roh jahat yang baru bangkit dari tidur panjang. Namun, alih-alih melukai, racun itu diserap seluruhnya oleh tubuh Qing Peng yang tengah bertransformasi.Sisik-sisik hitam keperakan mulai menutupi tubuhnya. Suara tulang berderak menggema, satu demi satu persendian bergerak sendiri membentuk wujud yang bukan lagi manusia. Taringnya memanjang, matanya berubah menjadi emas menyala, pupilnya vertikal seperti ular purba. Tubuhnya memanjang, berevolusi menjadi sosok naga ular penuh dengan aura leluhur.Gelombang energi spiritual yang terpancar dari tubuhnya meledak ke segala arah. Formasi perlindungan yang dibuat Xuan Li runtuh dalam sekejap, serpihan cahaya spiritual menghilang terbakar oleh tekanan kekuatan darah kuno yang terbangun.Pria pembawa seruling menyeringai lebar. Matanya memancarkan rasa puas sekaligus kegembiraan yang tak disembunyikan.“Akhirnya… warisan darahmu terbangun juga,” gumamnya. “Qing Peng, p
Xuan Li menekuk jarinya, memantapkan pola formasi ilusi dan peredam suara di sekeliling Qing Peng. Cahaya formasi berpendar halus, nyaris tak terlihat di balik kabut. Ia memperkuat setiap simpul energi dengan presisi, memastikan bahwa medan perlindungan tidak bisa ditembus, baik oleh mata biasa maupun teknik penglihatan spiritual.Namun, sosok bayangan di atas pohon pinus tidak memberi waktu. Suara tawa dingin kembali terdengar, bagai bisikan angin yang membawa hawa kematian.“Hahaha… Kau benar-benar melindunginya. Atau, jangan-jangan, kau hanya menunggu kesempatan untuk merebut kekuatannya?”Xuan Li melompat ke udara, mendarat di atas dahan sejajar dengan lawannya. Tanpa ragu, ia berdiri tegak, tubuhnya menghadap langsung pria berjubah kelabu yang masih memegang seruling giok dengan rumbai merah menyala.Tatapan mereka bertemu. Mata Xuan Li tampak tenang, tapi ada kilatan dingin tersembunyi di baliknya.“Aku tidak menghalangi siapa pun,” ujarnya pelan, namun tajam. “Tapi itu tidak be
Tanpa membuang waktu, Xuan Li segera bergerak. Kedua matanya menyipit, menatap Qing Peng yang sedang berjuang menahan gejolak dari dalam tubuhnya.Aura darah yang bangkit dari teknik pemanggilan sebelumnya belum sepenuhnya mereda. Sebaliknya, ia justru semakin liar, menggeliat, mencoba membakar sisa-sisa kesadaran Qing Peng. Sisik-sisik gelap mulai merambat dari bawah kulit lehernya, dan matanya berkedip memantulkan cahaya kemilau kehijauan yang tidak manusiawi.“Kalau dibiarkan, dia akan kehilangan kendali di tempat ini,” pikir Xuan Li.Tanpa bicara, ia menghampiri Qing Peng dan menekan jari-jarinya ke beberapa titik akupuntur di tubuh pemuda itu. Gerakannya cepat dan tepat. Setiap tekanan menyalurkan energi tenang dari jari-jari Xuan Li ke jalur meridian Qing Peng, menghambat aliran darah naga yang meledak dari dalam.Qing Peng menggertakkan gigi. Tubuhnya bergetar, tetapi tekanan Xuan Li membuat transformasi itu tertunda. Sisik yang sempat muncul perlahan mereda, meski tidak sepen
Alunan seruling itu terdengar lembut, bahkan hampir biasa bagi telinga orang awam. Namun di telinga Xuan Li, tiap nada bagaikan garis tipis yang menembus kesadaran, membawa gelombang energi pemanggil yang samar namun dalam.Ia duduk diam di balik jendela kamar penginapan."Ini bukan suara seruling biasa," pikirnya. Suaranya tidak terdengar, tetapi pikirannya penuh dengan kewaspadaan.Bagi sebagian binatang roh atau makhluk dari garis darah murni, alunan ini mungkin hanya akan memancing rasa tidak nyaman. Namun bagi makhluk dengan darah warisan, seperti klan ular, efeknya bisa jauh lebih dalam, seolah-olah suara itu membangkitkan sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang tertidur dalam darah mereka sendiri.Qing Peng yang sedari tadi duduk bersila di sudut ruangan, tampak mulai gelisah. Matanya menyipit, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangan kirinya bergetar, menekan pelipis seakan sedang menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya.Xuan Li segera berdiri dan menghampir
Xuan Li terus menyerap setiap potongan informasi yang tersebar di udara Kota Bambu Utara. Obrolan pedagang, bisik-bisik para pengelana, dan percakapan di kedai teh menjadi jalinan benang-benang kecil yang menyingkap gambaran besar yang selama ini tersembunyi. Ia duduk tenang, namun kesadarannya tajam seperti bilah pedang yang tidak pernah berkarat.Semua kabar yang penting sudah terekam jelas dalam ingatannya. Ia memilah dengan cepat: rumor hilangnya para tetua sekte, gerakan ganjil di perbatasan, serta kabar tentang formasi-formasi bayangan yang semakin sering ditemukan. Setiap informasi ia simpan, bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam intuisi tajamnya.Qing Peng muncul dari balik kerumunan, matanya menyapu sekeliling sebelum berhenti tepat di wajah Xuan Li. Ia mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa penginapan sudah siap."Mari, Tuan. Aku sudah menemukan tempat yang tak mencolok, cukup tinggi untuk mengawasi jalan utama dan... cukup sunyi untuk berbicara jika dibutuhkan."X
Xuan Li tidak segera menjawab. Matanya tertutup, aliran energi spiritual masih berputar di sekujur tubuhnya. Beberapa saat kemudian, ia menarik satu pil dari dalam cincin penyimpan. Pil itu mengeluarkan aroma pahit dan dingin yang menyebar dengan cepat.Dengan satu gerakan cepat, ia menelan pil itu.Gelombang energi mengalir seperti ombak ke dalam meridian tubuhnya, mengisi retakan yang terbentuk setelah pertarungan mental di dalam formasi bayangan. Urat-urat spiritualnya yang sempat bergetar kembali stabil. Aura dingin di sekitarnya perlahan-lahan mereda.“Jangan panik. Aku masih hidup,” ucap Xuan Li akhirnya. Suaranya datar, tetapi tidak selemah sebelumnya.Qing Peng menghela napas lega. Ia menjatuhkan diri duduk di sampingnya. “Formasi itu... sangat menakutkan. Aku merasa hawa kematian masih tertinggal di tanah.”Xuan Li membuka matanya, dan sejenak pupilnya masih memantulkan bayangan dunia kelam tempat sebelumnya ia masuk. “Itu memang bukan formasi biasa. Itu bagian dari jaring
Xuan Li menyipitkan mata. Energi di tempat ini begitu pekat dengan aura kematian dan penderitaan. Ribuan roh berkeliaran di sekitar formasi, terperangkap dalam siklus abadi yang mengerikan. Mereka berbisik dalam bahasa yang tidak bisa dipahami, namun isinya jelas: keputusasaan, kesakitan, dan kebencian."Kau benar-benar ingin menembus inti formasi ini?" suara Wu Hei terdengar di benaknya, dipenuhi nada skeptis."Jika tidak dihentikan sekarang, ritual ini akan selesai, dan kita akan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar." Xuan Li tetap tenang. "Aku tidak punya pilihan lain."Wu Hei terkekeh. "Kau tahu ribuan roh ini tidak akan membiarkanmu begitu saja, bukan?""Aku tahu. Karena itu, aku akan menggunakan kekuatan pengendalian jiwa untuk menekan mereka." Xuan Li menarik napas dalam-dalam, memusatkan kesadarannya. Ia merasakan gulungan pengendalian jiwa yang tersimpan dalam kesadarannya mulai bergetar, seakan merespons niatnya.Saat ia mulai merapal mantra kuno, cahaya biru keperakan
Qing Peng langsung bersiaga. Napasnya sedikit tertahan, tubuhnya menegang. Ia melirik ke sekeliling, tetapi yang terlihat hanya reruntuhan sunyi dan bayangan yang merayap di balik rumah-rumah setengah roboh.Xuan Li tetap diam, sorot matanya tajam. Ia mengamati satu titik di ujung desa, tempat bayangan samar terlihat sekilas sebelum lenyap."Tuan, apakah itu... orang dari Alam Bayangan?" tanya Qing Peng dengan suara tertahan.Xuan Li tidak menjawab. Ia melangkah perlahan, menyelidiki energi yang meresap di udara.Bayangan itu kembali bergerak, lalu menghilang di balik bangunan yang nyaris ambruk.Seketika, Xuan Li berkelebat. Tubuhnya melesat bagai kilat, mendekati tempat bayangan itu menghilang. Qing Peng, meski ragu, segera mengikuti di belakangnya.Begitu tiba, Xuan Li menekan telapak tangannya ke tanah. Gelombang energi merambat dalam keheningan, menyapu setiap celah dan ruang tersembunyi di sekitar mereka.Rintihan lirih terdengar dari dalam reruntuhan.Xuan Li mengangkat alis. I
Di Alam Manusia, Qing Peng telah pulih sepenuhnya setelah mengalami luka dalam pertempuran sebelumnya. Meski begitu, Xuan Li tidak memberinya banyak waktu untuk bersantai. Hari ini, mereka harus kembali bergerak.Tanpa banyak bicara, Xuan Li melangkah ke depan, matanya menatap datar ke cakrawala. Ia lebih nyaman menyusun rencana dalam diam, menimbang langkah yang harus diambil tanpa harus menjelaskan semuanya pada Qing Peng. Bukan karena ia tidak mempercayai pemuda itu, tetapi karena ada batasan dalam seberapa banyak orang lain boleh mengetahui dirinya.Qing Peng, yang mengikuti di belakangnya, sesekali melirik ke arah Xuan Li. Ia ingin bertanya sesuatu, tetapi melihat ekspresi datar di wajahnya, ia mengurungkan niatnya.Mereka melayang di udara menggunakan artefak perahu terbang milik Xuan Li. Di sepanjang perjalanan, pemandangan yang mereka saksikan sungguh mencengangkan. Bukannya kehidupan yang semarak, melainkan kehampaan yang mencengkeram setiap sudut tanah yang mereka lintasi