“Phoenix?” Xuan Li tertegun, matanya melebar. Di atas langit yang suram, seekor Fenghuang raksasa terbang rendah dengan anggun. Tubuhnya berselimut nyala api emas yang berkilauan, mengusir kegelapan sekaligus menciptakan tekanan yang tak terlukiskan. Setiap kepakan sayapnya membawa gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar, seperti bayangan ilusi pada air yang tersentuh bara.“Bagaimana mungkin makhluk seperti ini muncul di sini?” bisiknya lirih, penuh ketidakpercayaan.Fenghuang itu melayang perlahan di langit, sayapnya terbentang luas seperti lautan api yang hidup. Setiap gerakan menimbulkan angin panas yang menyapu debu dan pasir, mengguncang dunia seolah memperingatkan keberadaannya. Sepasang mata merah yang bersinar tajam memindai tanah di bawahnya, penuh kehendak dan tujuan.“Tidak mungkin…” Xuan Li menarik napas panjang, pikirannya berputar cepat. “Apa dia mencariku?”Suara pekikan memecah kesunyian, menggema seperti gemuruh langit yang marah. Fenghuang itu ti
Saat Xuan Li mendekati lereng gunung, gelombang panas menyengat wajahnya, membuat kulitnya terasa seperti dipanggang. Udara dipenuhi bau sulfur dan suara gemuruh yang mengguncang gendang telinganya. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah gravitasi di tempat itu meningkat. Namun, kilauan biru di kejauhan terus memanggilnya."Aku harus hati-hati," pikir Xuan Li. Ia menyalurkan energi spiritual ke telapak kakinya, menciptakan penghalang tipis yang melindunginya dari tanah yang panas membara.Langkahnya terhenti ketika ia merasakan getaran tajam di bawah tanah. Tiba-tiba, tanah di depannya retak, dan dari celah itu lava menyembur dengan kekuatan luar biasa. Xuan Li melompat mundur dengan gesit, nyaris terkena semburan tersebut."Ini semakin berbahaya," gumamnya sembari memperhatikan celah-celah yang mulai terbentuk di sekitarnya.Di tengah usahanya mencari jalur yang lebih aman, ia mendengar suara geraman rendah. Xuan Li menoleh, dan matanya bertemu dengan sepasang mata merah menyala. S
Xuan Li melangkah memasuki hutan yang dipenuhi kabut tebal. Udara dingin menggigit, menekan setiap tarikan napasnya. Pohon-pohon raksasa berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari misteri yang menyelimuti tempat itu. Energi yin yang pekat memenuhi udara, terasa seperti duri-duri tak kasatmata yang menembus kulit.“Energi ini...” pikirnya, alisnya berkerut. “Seolah-olah aku telah menembus batas dunia manusia.”Semakin jauh ia berjalan, semakin berat tekanannya. Udara seperti dipenuhi tangan-tangan tak terlihat yang mencengkeram tubuhnya. Dada Xuan Li mulai terasa sesak. Energi gelap di dalam tubuh gioknya merespons, bergejolak seperti naga yang terbangun dari tidurnya. Tubuhnya bergetar, kekuatan itu seakan siap meledak kapan saja.“Tidak sekarang,” bisiknya sembari mengalirkan energi spiritual ke dantian. Batu hitam di dalamnya bergetar ringan, memancarkan kilauan redup yang menenangkan. Perlahan, badai di dalam tubuhnya mereda, meski hawa dingin hutan itu tetap mengintai, sepert
Energi yin merasuk ke dalam tubuh Xuan Li, menyatu dengan kekuatan gelap tubuh gioknya. Alirannya terasa dingin, seperti kabut beku yang menyesakkan dada, bergerak perlahan tapi pasti ke seluruh nadinya. Energi itu tidak bergejolak, namun keberadaannya memengaruhi setiap sudut hati Xuan Li, membangkitkan kenangan kelam dan perasaan yang telah lama terkubur.Udara di sekelilingnya terasa tegang, hampir seperti napas dunia berhenti. Luka-luka di tubuhnya telah sembuh sepenuhnya, kulitnya tampak bersih tanpa bekas goresan. Namun, energi yin yang menyerang tidak berhenti, terus mengalir masuk seperti sungai bawah tanah yang tidak pernah kering."Apa ini?" pikir Xuan Li sambil menggertakkan gigi, merasakan dingin menusuk hingga ke tulang. "Mengapa sulit sekali mengusirnya?"Bayangan gelap mulai muncul di pikirannya. Seperti tirai yang tersibak perlahan, satu per satu wajah dari masa lalunya bermunculan. Pertama, ayahnya. Tatapan dingin pria itu menghantamnya seperti belati."Kau tidak ber
Xuan Li duduk di atas akar pohon tua yang besar, dikelilingi oleh hutan yang sunyi dan pekat. Udara dingin malam menyelimuti tubuhnya, namun ia tetap tenang, seolah rasa dingin itu sudah menjadi bagian dari dirinya.Energi yin mengalir lembut di dalam nadinya, perlahan-lahan berkumpul di dantiannya. Selama sebulan penuh, ia menghabiskan waktunya di tempat ini, beradaptasi dengan energi tersebut hingga akhirnya berhasil menjinakkannya."Memang sulit, tapi akhirnya aku bisa mengendalikannya tanpa merusak stabilitas tubuh giokku," gumamnya sambil memejamkan mata. Ia merasakan harmoni baru yang terbentuk, keseimbangan antara energi yin dan kekuatan gelap tubuhnya. Dengan ini, ia yakin bisa melangkah lebih jauh dalam perjalanan kultivasinya."Seandainya semudah ini mengendalikan tubuh giok, mungkin aku tidak perlu bersusah payah seperti ini."Perjalanan Xuan Li belum berakhir. Ada dua tugas penting yang masih menunggunya. Yang pertama adalah memenuhi janjinya kepada Yan Yue, yaitu membuat
Xuan Li berdiri di depan pintu rumah kayu sederhana yang ia sewa dari pasangan Zhao Yun dan Liu Ying. Rumah itu memancarkan aura hangat. Bunga-bunga liar tumbuh di sekitarnya, sementara aroma kayu segar menguar lembut setiap kali angin berembus.“Kami senang bisa menerima tamu seperti Anda,” kata Zhao Yun, pria paruh baya dengan tubuh sedikit membungkuk. Meskipun wajahnya penuh kerutan, senyumnya memancarkan ketulusan. “Desa kami jarang kedatangan orang asing.”“Iya, kami merasa seperti punya anak sendiri,” kata Liu Ying sambil membawa secangkir teh panas. Uapnya naik perlahan, membawa aroma daun teh lokal yang menenangkan.Xuan Li tersenyum tipis dan mengangguk sopan, meskipun di dalam hatinya ia merasa canggung menerima keramahan yang jarang ia alami.“Terima kasih, Paman Zhao, Bibi Liu. Kalian sangat baik.”Sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, Xuan Li selalu menjaga jarak dengan penduduk lainnya. Hanya kepada Zhao Yun dan Liu Ying ia sedikit membuka diri, meski tetap b
Malam itu terasa berbeda. Xuan Li duduk bersila di lantai kamarnya yang kecil, mencoba memusatkan pikirannya pada kultivasi. Namun, cerita Zhao Yun tentang makhluk yang disegel di sumur tua tak henti-hentinya menghantui benaknya."Lembah di utara, akar naga angin, dan makhluk itu..." gumamnya pelan. "Apakah semua ini saling terkait?"Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya. Namun, suara samar terdengar dari kejauhan. Ting… ting… ting… Seperti bunyi lonceng kecil yang tertiup angin malam, namun nadanya ganjil, nyaris menyeramkan.Xuan Li membuka matanya perlahan. Suara itu tidak wajar. Ada sesuatu yang aneh malam ini.Dari kamar sebelah, ia mendengar percakapan berbisik antara Zhao Yun dan Liu Ying.“Suamiku, suara itu muncul lagi...” suara Liu Ying terdengar gemetar.“Apa mungkin segel itu melemah?” balas Zhao Yun dengan nada penuh kecemasan.Xuan Li memperhatikan dengan seksama. Ia segera berdiri, mengenakan jubahnya, lalu melangkah keluar dari kamar. Angin dingi
Xuan Li berdiri di tepi sumur tua yang dipenuhi aura kegelapan. Tanpa ragu, ia mulai menggerakkan tangannya, membentuk pola rumit di udara. Setiap gerakan memancarkan cahaya spiritual berwarna kebiruan yang terasa dingin namun kokoh. Cahaya itu membentuk lingkaran besar yang perlahan turun, menyelimuti sumur tempat Lin Gong disegel.Namun, kekuatan besar di dalam sumur tidak tinggal diam. Energi gelap yang berdesir naik menimbulkan ledakan kecil yang mengguncang tanah di sekitar sumur. Udara terasa berat, penuh dengan tekanan yang menyesakkan. Xuan Li terdorong ke belakang, namun ia segera menstabilkan dirinya, kaki mantap menapak tanah. Ia membentuk formasi penghalang, sebuah lingkaran energi pelindung di sekitarnya.“Lin Gong, kau harus tetap tinggal,” gumamnya, meski napasnya sedikit tersengal.Dari dalam sumur, tidak ada suara balasan. Sebaliknya, energi gelap yang memancar dari sana semakin pekat, seolah memiliki kehidupan sendiri. Tanah di sekitarnya bergetar, dan aura dingin m
Xuan Li menyipitkan mata. Energi di tempat ini begitu pekat dengan aura kematian dan penderitaan. Ribuan roh berkeliaran di sekitar formasi, terperangkap dalam siklus abadi yang mengerikan. Mereka berbisik dalam bahasa yang tidak bisa dipahami, namun isinya jelas: keputusasaan, kesakitan, dan kebencian."Kau benar-benar ingin menembus inti formasi ini?" suara Wu Hei terdengar di benaknya, dipenuhi nada skeptis."Jika tidak dihentikan sekarang, ritual ini akan selesai, dan kita akan menghadapi ancaman yang jauh lebih besar." Xuan Li tetap tenang. "Aku tidak punya pilihan lain."Wu Hei terkekeh. "Kau tahu ribuan roh ini tidak akan membiarkanmu begitu saja, bukan?""Aku tahu. Karena itu, aku akan menggunakan kekuatan pengendalian jiwa untuk menekan mereka." Xuan Li menarik napas dalam-dalam, memusatkan kesadarannya. Ia merasakan gulungan pengendalian jiwa yang tersimpan dalam kesadarannya mulai bergetar, seakan merespons niatnya.Saat ia mulai merapal mantra kuno, cahaya biru keperakan
Qing Peng langsung bersiaga. Napasnya sedikit tertahan, tubuhnya menegang. Ia melirik ke sekeliling, tetapi yang terlihat hanya reruntuhan sunyi dan bayangan yang merayap di balik rumah-rumah setengah roboh.Xuan Li tetap diam, sorot matanya tajam. Ia mengamati satu titik di ujung desa, tempat bayangan samar terlihat sekilas sebelum lenyap."Tuan, apakah itu... orang dari Alam Bayangan?" tanya Qing Peng dengan suara tertahan.Xuan Li tidak menjawab. Ia melangkah perlahan, menyelidiki energi yang meresap di udara.Bayangan itu kembali bergerak, lalu menghilang di balik bangunan yang nyaris ambruk.Seketika, Xuan Li berkelebat. Tubuhnya melesat bagai kilat, mendekati tempat bayangan itu menghilang. Qing Peng, meski ragu, segera mengikuti di belakangnya.Begitu tiba, Xuan Li menekan telapak tangannya ke tanah. Gelombang energi merambat dalam keheningan, menyapu setiap celah dan ruang tersembunyi di sekitar mereka.Rintihan lirih terdengar dari dalam reruntuhan.Xuan Li mengangkat alis. I
Di Alam Manusia, Qing Peng telah pulih sepenuhnya setelah mengalami luka dalam pertempuran sebelumnya. Meski begitu, Xuan Li tidak memberinya banyak waktu untuk bersantai. Hari ini, mereka harus kembali bergerak.Tanpa banyak bicara, Xuan Li melangkah ke depan, matanya menatap datar ke cakrawala. Ia lebih nyaman menyusun rencana dalam diam, menimbang langkah yang harus diambil tanpa harus menjelaskan semuanya pada Qing Peng. Bukan karena ia tidak mempercayai pemuda itu, tetapi karena ada batasan dalam seberapa banyak orang lain boleh mengetahui dirinya.Qing Peng, yang mengikuti di belakangnya, sesekali melirik ke arah Xuan Li. Ia ingin bertanya sesuatu, tetapi melihat ekspresi datar di wajahnya, ia mengurungkan niatnya.Mereka melayang di udara menggunakan artefak perahu terbang milik Xuan Li. Di sepanjang perjalanan, pemandangan yang mereka saksikan sungguh mencengangkan. Bukannya kehidupan yang semarak, melainkan kehampaan yang mencengkeram setiap sudut tanah yang mereka lintasi
Tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari Dewa Langit Surgawi, Liang Zheng menggunakan segel formasi teleportasi untuk mengantarkan Liang Xue yang masih tak sadarkan diri kembali ke kamarnya. Cahaya keunguan berkedip samar sebelum sosok mereka lenyap dari tempat itu.Begitu tiba, Liang Zheng membaringkan tubuh Liang Xue di atas ranjang berlapis sutra, memperhatikan wajahnya yang tenang dalam tidurnya. Namun, sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam, hasrat, ambisi, dan keinginan yang berakar kuat di hatinya.Tanpa ragu, ia mencabut beberapa helai rambut Liang Xue dan menggenggamnya erat di antara jemarinya. Sebuah sihir kuno segera tertanam dalam helai-helai itu, mengikat emosi dan pikirannya agar Liang Xue tidak akan pernah membencinya, tidak peduli apapun yang terjadi."Xue'er…" bisiknya pelan, suaranya sarat dengan obsesi yang semakin mendalam.Ia menundukkan kepala, menyentuhkan bibirnya ke bibir Liang Xue. Begitu bibir mereka bersentuhan, sebuah gelombang energi dahsyat m
Liang Zheng mengejar Liang Xue bukan sekadar karena cinta. Ada alasan lain yang jauh lebih mendalam dan mendesak.Ratu Langit Liang Xue bukan wanita biasa. Ia terlahir dengan tubuh unik, tulang kristal, sebuah anugerah langka yang hanya muncul sekali dalam beberapa ribu tahun. Wanita dengan tulang kristal memiliki takdir yang berbeda dari kebanyakan makhluk di dunia ini. Jika ia melahirkan keturunan dari ras iblis, maka anaknya akan menjadi Dewa Azura, makhluk yang lebih kuat dari iblis biasa. Jika keturunannya berasal dari manusia, anak itu akan mewarisi kekuatan iblis dan dewa sekaligus. Ia akan menjadi entitas yang melampaui batas dua dunia, seorang yang ditakdirkan untuk mendominasi.Dan Liang Zheng menginginkan itu. Ia ingin keturunan dari Liang Xue.Di hadapan Liang Xue, ia tetap mempertahankan sikap lembut dan perhatian. Liang Xue masih kehilangan ingatan, dan itu adalah celah yang bisa ia manfaatkan. Ia hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk menanamkan kebohongan-keboh
Dewa Langit Surgawi melangkah keluar dari ruangan megah itu dengan aura mendominasi. Para pembesar klan iblis segera mengikuti di belakangnya, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah kepergian mereka, Ratu Langit Liang Xue melangkah keluar dengan ekspresi kosong. Ia merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya, meskipun ingatannya masih kabur.Tiba-tiba, sesosok bayangan bergerak cepat dari sudut gelap ruangan. Sebelum Liang Xue sempat bereaksi, sebuah tangan kuat membekap mulutnya, menahan kemungkinan ia berteriak. Liang Xue terkejut, tubuhnya menegang, namun sebelum ia bisa melawan, simbol formasi teleportasi muncul di bawah kaki mereka, mengeluarkan cahaya gelap keunguan.Dalam sekejap, keduanya menghilang dari istana klan iblis.Mereka muncul di sebuah tempat yang jauh dari pusat kekuasaan iblis. Liang Xue terhuyung ketika teleportasi selesai, napasnya sedikit tersengal. Ia memandang sekeliling, mencoba memahami di mana ia berada.Di hadapannya terbentang se
Di luar alam manusia, ancaman gelang pengendali semakin meluas. Bukan hanya membelenggu para kultivator tingkat rendah, tetapi juga mengincar penguasa dan eksistensi kuat di berbagai dunia. Dewa Langit Surgawi semakin agresif dalam memperluas kekuasaannya, mengincar sekutu baru agar tak ada satu pun yang bisa menentang kehendaknya.Di Istana Iblis, Liang Xue, Ratu Langit yang dulu disegani, masih terjebak dalam ingatan yang kabur. Sebagai keturunan langsung Dewa Langit Surgawi, ia mendapatkan perlakuan istimewa. Namun, meski berbagai metode telah dicoba, ingatannya tetap tidak kembali.Di sebuah ruangan luas yang diterangi lampu spiritual berwarna ungu, Dewa Langit Surgawi duduk di atas singgasananya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya penuh perhitungan. Di hadapannya, beberapa pemimpin klan iblis berdiri dengan kepala tertunduk.“Kita telah kehilangan terlalu banyak utusan di alam manusia.” Suara Dewa Langit Surgawi bergema, mengguncang udara. “Sudah saatnya kita mengubah strateg
Dua anggota Alam Bayangan itu tersungkur di tanah, napas mereka tersengal-sengal. Di bawah tekanan spiritual Xuan Li, tubuh mereka bergetar hebat, wajah mereka penuh luka, dan darah segar mengalir dari sudut bibir mereka.Xuan Li menatap mereka dingin. "Katakan. Apa rencana Alam Bayangan?"Pria tinggi berkulit gelap itu menggertakkan giginya, matanya menyala dengan kebencian. "Kau pikir kami akan mengkhianati Alam Bayangan? Hahaha... Kau hanya buang-buang waktu."Xuan Li tidak menanggapi. Dia mengangkat tangannya, jari-jarinya membentuk segel yang segera melepaskan tekanan spiritual yang lebih besar. Tanah di sekitar mereka bergetar, udara seolah-olah tertarik ke satu titik, menciptakan hisapan yang mengerikan. Pria bercodet mengerang, tubuhnya melengkung kesakitan."Jawab atau mati," ujar Xuan Li datar, matanya setenang dan sedalam jurang tak berdasar.Namun, sepertinya harapannya sia-sia. Kedua pria itu tiba-tiba menegang, tubuh mereka membeku seperti patung. Mata mereka yang penuh
Xuan Li dan Qing Peng tetap berdiri di tempat, tidak menunjukkan tanda-tanda panik meskipun tekanan dari pertarungan yang terjadi di kejauhan mulai terasa hingga ke titik mereka berada. Xuan Li menyipitkan mata, mengaktifkan mata spiritualnya untuk melihat lebih jelas.Yang bertarung di sana bukanlah orang biasa. Kedua sosok itu memiliki aura yang serupa, gelap dan mencekam, penuh dengan dendam."Alam Bayangan..." gumam Xuan Li pelan, nyaris tanpa suara.Qing Peng, yang berdiri di sampingnya, langsung merasakan perubahan kecil dalam ekspresi Xuan Li. "Kita tidak seharusnya terlibat. Mari kita pergi," usulnya tanpa ragu.Xuan Li mengangguk. Tidak ada keuntungan dalam ikut campur urusan orang-orang Alam Bayangan, apalagi jika mereka berasal dari faksi yang sama dan sedang bertarung satu sama lain. Tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, angin tajam menerjang, disertai suara robekan udara yang mengancam.Dalam sekejap, dua sosok yang tadi bertarung telah muncul di hadapan mereka. Mereka