Home / Rumah Tangga / TERGODA IPAR / Hasil diagnosa

Share

Hasil diagnosa

Author: Rafasya
last update Last Updated: 2023-12-23 10:44:47

Aku menelan ludah, kemudian mengatur napasku. Aku menautkan alis saat suara itu tidak terdengar lagi. Ku dekatkan telingaku kembali menempel pada pintu. Dan ...

KREK!

Pintu terbuka, aku terkejut bukan main.

"M--Mbak Winda, ngapain disini?" ujar Firman dengan wajah yang panik.

"Em, a--aku ... aku ...." Aku tak kalah panik dari Firman.

"Mbak ngapain? Ko gugup gitu, jangan bilang mbak mau ngintip aku?" tanyanya sambil menaik-turunkan alis seakan menyudutkanku.

Aneh, harusnya dia malu karena terpergok olehku.

"Tidak, tadi ... aku hanya mengambil air minum untuk Mas Hendra, dan tak sengaja malah mendengar... mendengar—"

"Oh itu ... Mbak jangan salah paham. Tadi temanku iseng mengirimkan sepenggal video film blue, aku juga kaget, makanya langsung aku matikan dan tak sengaja malah bertemu Mbak Winda,"

"Oh begitu." wajahku berubah sendu, ternyata pikiranku salah.

"Kenapa? Kok, wajah Mbak Winda murung begitu, kecewa ya, karena ternyata bukan aku? Apa Mbak Winda ingin aku melakukannya? Hem." tanyanya menelisik wajahku.

Mendadak pipiku terasa memanas, apa wajahku menampakkan kekecewaan? Kurasa tidak, aku hanya tak enak hati, karena telah menuduhnya secara tidak langsung.

"Mbak! Malah bengong,"

Aku gelagapan, kemudian menggeleng. "Tidak, ma--maaf, aku harus masuk ke kamar, Mas Hendra pasti telah menungguku."

Aku segera masuk ke dalam kamar dengan cepat. Kemudian menghembuskan napas kasar setelah tiba di dalamnya.

Air di dalam gelas yang ku pegang sisa setengah air itu tumpah sedikit demi sedikit saat aku berjalan dengan tergesa tadi.

"Win, kamu kenapa? Ko wajahmu tegang begitu?"

"Em, tidak Mas. Tadi aku ... aku melihat kecoa. Kamu kan tau, aku takut."

"Oh begitu, ya sudah kemarikan airnya."

Aku berjalan menghampiri Mas Hendra kemudian menyerahkan gelas yang kupegang. Setelah menghabiskan air di dalam gelas yang memang sedikit, Mas Hendra langsung menyerahkannya padaku, dan berbaring kembali.

Setelah menaruh gelas di atas nakas, aku naik ke atas r4n--jang kemudian merebahkan diri. Aku sungguh merasa lelah dengan kejadian akhir-akhir ini. Mungki karena terlalu lelah akhirnya aku tertidur juga.

***

Pagi hari kami sarapan bersama, ada Firman yang ikut sarapan bersama kami di meja makan. Pagi ini mas Hendra dan juga Firman akan berangkat kerja bersama.

Aku mengoleskan selai pada roti untuk sarapan di atas meja.

"Mas kau mau selai apa? coklat, strawberry, atau kacang?"

"Apa saja, asal jangan kacang. Aku alergi."

"Baiklah." Aku segera mengoleskan selai strawberry pada roti milik Mas Hendra.

"Win, kau tidak menawari Firman?" Aku melirik ke arah Firman, dia berdiam diri sambil memperhatikanku sejak tadi. Aku mengulum bibir kemudian menunduk, sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Aku masih canggung pada Firman semenjak kejadian kemarin dan semalam.

"Kau mau selai apa, Firman? Aku tidak tahu apa yang kau suka dan tidak suka?"

Aku memang tidak tau banyak tentang adiknya Mas Hendra, selama menikah kami hanya bertemu di acara-acara tertentu saja, tidak seperti sekarang yang setiap hari bertemu.

Firman tersenyum, "tidak perlu repot-repot Mbak, aku akan mengoleskannya sendiri nanti. Buatkan saja dulu untuk Mas Hendra."

Pandanganku kembali pada Mas Hendra, dia terlihat sibuk dengan ponselnya. Kemudian tak berselang lama ponsel Mas Hendra berdering. Menandakan ada seseorang yang menelponnya. Dia mengangkat telpon itu, kemudian bangun dari duduknya dan menjauh dari meja makan.

Aku masih duduk satu meja dengan Firman, kami makan roti selai dengan dengan canggung. Aku bangun dari kursi dan menuang susu ke dalam gelas. Gerakan tanganku yang terburu-buru membuatku tak sengaja menumpahkan airnya dan mengenai celana Firman.

"Astaga." pekik Firman.

Aku terkejut kemudian mengambil tisu beberapa helai dan mulai membersihkan celana Firman yang terkena tumpahan

"Ah maaf, aku tidak sengaja."

Aku jongkok sambil membersihkan p4-hanya. Mengelapnya, tumpahan susu itu sedikit mengotori celana Firman.

"Sudah Mbak tidak apa-apa, hanya tumpah sedikit."

"Tidak-tidak, ini salahku biarkan aku membersihkannya."

Aku terus membersihkannya menggunakan tisu, dan tanganku tak sengaja menyentuh benda keras. "Emm, besar sekali," gumamku tanpa sadar.

Glek! Aku lekas tersadar saat ada yang tidak beres. Diriku lekas berdiri dan meminta maaf.

"Ma—maaf Firman, aku... Aku tak bermaksud untuk berbuat m3*sum."

Aku segera bangun kemudian mengelap tumpahan susu di meja, wajahku mungkin saat ini telah merah karena menahan malu.

Mas Hendra datang menghampiri kami. "Ada apa ini? Sejak tadi ku dengar kalian sedang memperdebatkan sesuatu."

"Tidak ada Kak, tadi Mbak Winda tak sengaja menumpahkan susu dan mengenai celanaku. Aku tidak apa-apa, tapi Mbak Winda terus meminta maaf."

"Benar begitu?" tanya Mas Hendra menatapku. Aku mengangguk cepat.

"Ya sudah aku pergi dulu."

"Baiklah, aku juga akan mengganti celanaku, setelah itu baru pergi juga."

Aku menautkan alis saat mendengar Firman akan mengganti celananya. Lalu untuk apa aku membersihkannya tadi.

Aku menatap punggung Firman yang berjalan menjauh, dan kemudian langkah nya terhenti, dia berbalik. Lalu mengedipkan sebelah matanya padaku. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.

Jantungku langsung berde-gup kencang. Aku mengatur napasku. Ada apa dengan Firman? Mengapa sikapnya aneh akhir-akhir ini?

***

Aku mengantar Mas Hendra sampai ke teras, melambaikan tangan saat mobil itu perlahan menjauh. Setelah tak terlihat, aku kembali masuk ke dalam.

Namun, saat hendak masuk ke dalam kamarku aku tak sengaja berpapasan dengan Firman. Aku merasa canggung, atas kejadian kemarin dan hari ini. Namun, lagi-lagi kesialan datang padaku aku hampir terpeleset, untung saja Firman dengan siaga langsung menangkapku.

Aku tak jadi terjatuh, aku menatap wajah Firman dari bawah, pandangan kami beradu. Dari bawah dapat kulihat betapa tampannya pesona adik iparku. Jakun Firman bergerak naik turun, membuat pikiranku melayang.

Firman membelai wajahku dengan lembut.

Glek!

Aku menelan ludah, tersadar dari apa yang sedang terjadi, aku menekan lengan Firman mencoba untuk berdiri. Firman membantuku.

“Terima kasih.” ujarku.

Firman tersenyum, kemudian mengangguk,“Sama-sama, Mbak. Lain kali hati-hati,”

“Hemm, ya.” aku mengangguk cepat. Kemudian langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamarku.

Aku segera mengunci pintu, dan berdiri di belakangnya.

Deg Deg Deg!

Dapat ku rasakan jantungku terus berdegup kencang. Perasaan macam apa ini? Aku segera menggelengkan kepala, jangan sampai Firman berani macam-macam padaku.

***

Hari ini aku pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan kami tempo lalu. Aku dan Mas Hendra memeriksakan diri kami pada SpOG. Mengapa kami belum juga mendapatkan keturunan.

Aku menunggu di luar ruangan, menunggu dokter memanggilku. Setelah bertemu Dokter dan mendapatkan hasilnya aku pulang ke rumah.

Jantungku berdebar-debar, kiranya siapa diantara kami yang bermasalah. Tidak mungkin jika semuanya baik-baik saja aku tak kunjung hamil.

Aku menutup kamarku, kemudian berjalan ke arah r4n-jang, aku duduk dan segera mengambil surat dari rumah sakit dalam tasku. Kemudian mulai membukanya perlahan. Jantungku semakin berdegup tak karuan. Perlahan aku membaca dengan seksama setiap kata. Hasilnya sangat mengejutkanku.

Aku membekap mulut tak percaya. Di keterangan tertulis bahwa Mas Hendra tidak bisa mempunyai keturunan, itu artinya dia ... mandul.

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Putri Sangin
sangat puas
goodnovel comment avatar
San Lia
Hendra yg mandull
goodnovel comment avatar
Ida Pariastuti84
Mandull alias infertill
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • TERGODA IPAR   Masakan asin

    Aku menutup kamarku, kemudian berjalan ke arah ranjang, aku duduk dan segera mengambil surat dari rumah sakit dalam tasku. Kemudian mulai membukanya perlahan. Jantungku semakin berdegup tak karuan. Perlahan aku membaca dengan seksama setiap kata. Dan... Hasilnya sangat mengejutkanku. Aku membekap mulut tak percaya. Di keterangan tertulis bahwa Mas Hendra tidak bisa mempunyai keturunan, itu artinya dia.... Mandul.Aku menggeleng kuat. "Tidak, tidak. Mas Hendra tidak boleh tahu tentang ini. Jika dia tahu, dia pasti akan sedih."Aku segera menyembunyikan kertas itu di dalam lemari, menyimpannya rapat-rapat.Banyak orang-orang diluar sana yang diagnosa mandul, tapi tetap bisa punya anak.Aku segera pergi ke dapur, memasak untuk makan malam Mas Hendra dan juga Firman.Saat sedang masak pikiranku melambung pada kertas diagnosa Mas Hendra yang tidak bisa memiliki keturunan. Entah sampai kapan aku akan menyembunyikannya. Yang jelas aku tidak ingin Mas Hendra merasa sedih.Sebenarnya aku juga

    Last Updated : 2023-12-23
  • TERGODA IPAR   Bertemu kakak ipar

    Aku mengangguk kembali. Kemudian mulai mengelus perut bagian bawahnya."Kebawahan lagi Mbak.""Minyaknya tambahin dikit lagi."Lagi-lagi aku menurut, mengikuti setiap yang di katakan Firman. Namun tak lama kemudian gerakan tanganku terhenti, saat tak sengaja menyentuh benda kenyal.Aku melirik ke arah Firman yang ternyata sedang menatapku dengan tatapan sayu."Fi—Firman, K-kau?" Aku menjadi gugup."Maaf, Mbak. Aku tidak bisa menahannya." lirihnya.Aku langsung menarik tanganku dari sana.BRAK!Pintu rumah terbuka menampakkan Mas Hendra di sana. Firman segera terduduk. Dan aku juga segera berdiri. Aku sangat gugup, takut Mas Hendra salah paham."Kalian sedang apa?" tanyanya menatapku dan Firman bergantian."Perut ku sangat sakit Kak, sepertinya aku diare. Jadi aku minta minyak angin dan obat pada Mbak Winda."Aku berusaha bersikap sebiasa mungkin di depan Mas Hendra."Oh, kalau begitu minum obatmu."Mas Hendra masuk ke dalam, kemudian menarik tanganku agar mengikutinya masuk kedalam ka

    Last Updated : 2023-12-23
  • TERGODA IPAR   Satu sama

    "Mbak, Mbak Winda!" Firman menjentikkan jari di depan mataku. Aku langsung tersentak, tersadar dari lamunan."Em, a—apa?" ucapku gugup."Aku tanya, Kak Hendra sering berbuat kasar seperti ini? Eh mbak malah melamun." tanya nya. Menatap wajahku.Jadi yang barusan kami lakukan itu hanya hayalanku? Ah, aku langsung menyentuh bibirku. Benar, kering."Mbak kenapa? Bi bir nya masih sakit?""Bukankah kita tadi—" ucapannku terjeda, aku tak jadi melanjutkannya."Tadi apa Mbak, wah jangan-jangan Mbak mikir yang enggak-enggak ya." Firman mengejekku.Aku langsung menggeleng. "Tidak, Mbak gak mikir yang aneh-aneh kok.""Terus itu kenapa, kok megangin bibir aja, apa Mbak Winda mau Firman ci um, biar cepat sembuh?!" Seketika mataku langsung membulat mendengar penawarannya. Aku langsung mencubit pinggang Firman. "Kamu ya!""Aw, sakit Mbak. Ampun Mbak!" Firman mengg3linjang sambil terkekeh. Aku ikut tertawa bersamanya.Kemudian napas kami terengah, tawa kami pun terhenti."Nah, kalo ketawa gini kan M

    Last Updated : 2023-12-25
  • TERGODA IPAR   Dedemit

    Aku masih diam mematung di kamar mandi, menatap punggung polos Firman yang berjalan menjauh.Aku meringis saat kembali merasakan ingin buang air kecil. Aku segera menutup pintu kemudian buang air kecil dengan lega.Setelah selesai buang air kecil aku kembali ke kamar, aku terkejut saat melihat Mas Hendra terbangun. "Mas, kenapa kau bangun?" sapaku.Mas Hendra tersenyum, "Aku ketiduran, melihatmu yang tidur nyenyak membuatku ikut mengantuk."Aku berjalan mendekat ke arahnya. "Apa kau butuh sesuatu? Biar aku ambilkan.""Emm ya, aku baru ingat. Aku masih punya pekerjaan yang belum ku selesaikan." ujar Mas Hendra."Bisa kah kau pinjam laptop Firman di kamarnya. Laptopku tidak ada signal." sambungnya.Aku terdiam. Apa? Kamar Firman? Jadi aku harus kembali ke sana. Ah menyebalkan. Belum rasa malu karena kejadian tadi menghilang. Dan sekarang aku harus ke kamar Firman."Win, kok melamun? Kau mau meminjamkan tidak. Kalo tidak ya tidak apa-apa. Biar Mas saja yang kesana." ujar Mas Hendra."Jan

    Last Updated : 2024-03-12
  • TERGODA IPAR   Tukang servis

    Aku masuk kembali ke dalam rumah melanjutkan aktifitas memasakku. Aku harap tidak ada gangguan lagi seperti tadi.Setelah selesai memasak menu kesukaan Mas Hendra dan juga Firman, aku langsung mengambil sendok kemudian mencicipinya. "Mmh, rasanya sangat pas." Aku sangat tidak sabar menyajikannya pada suami dan adik iparku.Sore hari,Terdengar suara gemericik air, yang artinya di luar sedang hujan deras. Aku menonton televisi dengan serius, melihat berita maling masuk saat penghuni rumah sedang tertidur. Mendadak aku takut. Karena di rumah hanya sendiri, Mas Hendra biasa pulang malam. aku yang fokus menonton televisi terkejut saat mendengar langkah kaki mendekat. Segala pikiran buruk memenuhi isi kepalaku. Aku langsung mengambil sapu, kemudian menjadi waspada, takut jika itu adalah maling atau penjahat yang ini mencuri di rumahku.Aku bangkit dari sofa, berjalan menuju ruang tengah di sana ada seorang pria yang sedang membelakangiku. Dia menggunakan Hoodie berwarna hitam. Aku merasa a

    Last Updated : 2024-03-13
  • TERGODA IPAR   Ungkapan perasaan

    TUT! panggilan itu di tutup sepihak, tanpa ku tahu siapa yang menelpon suamiku barusan dengan nama kontak 'tukang servis'.Aku segera mengotak-atik ponsel milik Mas Hendra untuk mencari informasi, kemudian membuka aplikasi chat. Berharap ada petunjuk di sana. Namun sayang, aku tidak beruntung. Aplikasi chat itu menggunakan sandi yang tidak aku ketahui.Siapa suara perempuan dengan nama kontak tukang servis tadi? Servis apa? Selama ini tidak ada hal yang aneh-aneh yang menunjukkan Mas Hendra selingkuh.Mas Hendra masuk ke dalam kamar dia melihatku cemas sambil tangan masih mengotak-atik ponselnya."Win. Kau sudah menghangatkan makan malam?" ujarnya. Aku tersentak kaget, sebab sejak tadi terlalu fokus pada ponselnya."Em, be-belum. Oh iya Mas. Tadi—ada yang menelpon dan suaranya perempuan. Dengan nama kontak 'tukang servis' siapa itu Mas?" tanyaku hati-hati.Mas Hendra terlihat kaget, kemudian langsung menghampiriku. Dia merebut ponsel itu dari tanganku.Aku terkejut, gerakan yang sarka

    Last Updated : 2024-03-14
  • TERGODA IPAR   Meminta maaf

    Aku terbangun di pagi hari. Mataku mengerjap melihat sekitar. Aneh, bukankah semalam aku tidur di sofa ruang televisi. Lalu kenapa aku bisa berada di kamar.Dan, dimana selimut Firman? Bukankah semalam Firman menyelimutiku dengan selimutnya.Aku melihat ke arah suamiku yang sudah berpakaian rapih."Mas, kenapa aku bisa disini? Bukankah—" belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Mas Hendra sudah menjawabnya. "Aku yang memindahkanmu.""Kau?" tanyaku."Iya, tumben sekali kau menonton televisi sampai ketiduran. Tidak seperti biasanya." ucap Mas Hendra sambil memakai dasi di lehernya. Dia menatap wajahku dari pantulan cermin."Aku—aku semalam tidak bisa tidur, jadi mencoba untuk menonton televisi dan malah ketiduran." sahutku. Ku paksakan untuk tersenyum. Agar Mas Hendra tidak curiga bahwa aku tidak bisa tidur karena memikirkan Firman.Aku bergeming, benarkah semalam hanya mimpi? Tapi kecupan itu terasa nyata.Aku mendadak kecewa, jika itu semua benar hanya mimpi. Itu artinya Firman masih ma

    Last Updated : 2024-03-15
  • TERGODA IPAR   Senjata makan tuan

    "Apa Mbak Winda memiliki perasaan yang sama? Di.... Sini." terangnya menunjuk ke arah dadaku.Deg deg deg!Degup jantungku berdetak kencang."Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja aku... Aku—" belum sempat aku menjawab pertanyaannya. Firman telah membungkamku dengan b1birnya.Drrttt Drrttt Drrtt.Dering ponsel Firman berbunyi, dia segera berhenti. Kemudian mengambil ponselnya yang berada di saku celana."Halo?""Baiklah. Ya, aku sudah menemukannya. Aku akan segera kesana. Hem."Napasku masih terengah-engah. Aku merapihkan bajuku yang sedikit berantakan lalu menyaka sudut bib1rku yang terdapat air l1ur kami.Firman melirik ke arahku. Kulihat dad4nya juga masih naik turun. "Mbak, maaf aku harus segera pergi. Em—terimakasih untuk vitaminnya."Hah! Vitamin? Vitamin apa? Mataku langsung mengerjap. Belum sempat bertanya Firman sudah pergi keluar.***Setelah Firman pergi aku segera pergi ke dapur. Belum sempat mengolah bahan apa saja yang ku beli di Bang Jamal. Pintu rumahku ada yang mengetu

    Last Updated : 2024-03-16

Latest chapter

  • TERGODA IPAR   —SELESAI—

    Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu ... Aku dan anak-anak terus mencoba untuk menghibur Winda. Jangan sampai dia sedih dan terus memikirkan Farah. Ternyata, tidak ada usaha yang menghianati hasil. Winda yang tadinya menangisi Farah setiap malam. Kini sedikit berkurang. Hari ini adalah hari jadi pernikahan kami yg ke 6 tahun, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku berencana mengajaknya liburan di bali sekaligus merayakan anniversary kami. Anak-anak sengaja kutitipkan pada Kak Santi selama aku liburan di bali.Kami sampai di resort Bali setelah sebelumnya naik pesawat selama 2 jam. Winda langsung merebahkan diri di kamar hotel. Aku tau dia pasti kelelahan.Setelah memasukan isi koper ke dalam lemari, aku langsung membuka tirai jendela. Terlihat deburan ombak yang sangat kencang di sertai dengan pemandangan yang sangat cantik. Aku sengaja memilih resort yang menghadap langsung dengan laut. Jadi, saat berdiri di jendela seperti yang kulakukan i

  • TERGODA IPAR   Mencoba Ikhlas

    “Bagaimana? Apa ada perkembangan?” itu suara Kak Santi. Aku segera menoleh ke arah nya. Kemudian menggeleng, “Belum, Winda masih belum sadar.” jawabku. Aku menatap ke arah ranjang di mana ada Winda yang tengah berbaring dengan luka perban di kepalanya. Kejadian dua hari yang lalu membuatnya tak berdaya di rumah sakit ini. “Anak-anak bagaimana, mereka sama siapa?” Aku menghela napas sejenak, “Bersama asisten rumah tangga kami.” “Kakak ke rumahmu ya, kasian keponakanku. Dua kali ibu mereka masuk rumah sakit.” Aku mengangguk,“Terima kasih, Kak.” “Ya sudah. Kakak pamit ingin menemui mereka. kamu jangan terus bersedih, doakan saja istrimu cepat pulih.“ “Oh iya, bagaimana dengan pelaku yang menyebabkan Winda begini?” “Aku sudah melaporkannya kepada pihak berwajib, biarkan mereka yang mengurusnya.” Kak Santi tersenyum, “Aku tau, adikku tau apa yang harus di lakukan.”

  • TERGODA IPAR   Tolong, panggilkan ambulans!

    POV Firman Aku baru saja sampai di kantor. Berbarengan dengan aku masuk ke dalam loby, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya karena itu berasa dari rumah. Aku sangat takut terjadi sesuatu di rumah. Apalagi itu menyangkut Winda. Kondisi nya masih belum stabil. “Halo, Bibik. Ada apa?” “Halo, Pak. Ibu ... Ibu ....” “Ada apa? Bicara yang jelas?! Winda kenapa?” bertubi-tubi pertanyaan kulontarkan, aku benar-benar merasa khawatir. “Ada apa dengan Winda?” “Tadi Ibu pamit keluar sebentar katanya, dia membawa tas.” Ah, aku meraup wajah kasar. “Sudah kuduga, dia pasti akan berpergian. Harusnya aku tetap di rumah.” Aku menyesal. Kupikir memang benar Winda hanya per

  • TERGODA IPAR   Tas biru

    Pagi hari .... Firman membuka matanya perlahan. Kepala yang semalam terasa berat, kini menghilang perlahan. Meskipun dia demam tinggi semalam, tapi dia ingat semalam Winda mengompres dirinya. Firman pikir Winda percaya pada ucapan seseorang yang mengatakan dirinya adalah penyebab kematian Hendra—kakaknya sendiri. Ternyata wanita itu masih perduli padanya. Firman mengulum senyum. Dia menoleh ke samping. Kosong! Winda tidak ada di sana. Entah semalam istrinya itu tidur di mana dia tidak tau. Sebab, setelah minum obat matanya terasa berat. Dia tertidur dan baru bangun sekarang. Firman menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Dia harus segera pergi ke kantor. Hari ini ada jadwal meeting pagi. Sebagai manager yang disiplin tentu saja Firman tidak ingin telat. Meskipun tubunya masih terasa tidak enak. Namun, semangatnya tidak berkurang sedikitpun. Ada wajah Fira dan Farhan, yang menjadi semangatnya ketika rasa malas itu datang. D

  • TERGODA IPAR   Merasa Khawatir

    Setelah itu Winda mendekat ke arah Firman duduk di sampingnya, dia menatap muka wajah yang tengah terlelap. Wajah yang sangat teduh, tiba-tiba saja jantungnya berdetak kencang saat menatapnya. Winda menyentuh dadanya sendiri. Deg Deg Deg!Benar, jantungnya berdebar-debar. Padahal Firman Tengah tertidur.“Perasaan apa ini? Apakah aku jatuh cinta pada Firman?”“Ah, sudahlah. Jika memang iya, bukankah tidak apa-apa. Toh, dia suamiku.” Winda mengulum senyum.Senyum di wajah Winda pudar saat melihat bibir Firman bergetar.“A—aku tidak melakukan apapun, Win. Tidak ...” gumam Firman dengan mata yang masih terpejam.Winda langsung menyentuh keningnya.“Sshh, panas!”“Ternyata Firman demam, pantas saja dia tidak turun untuk makan malam.”Winda segera bangun dari ranjang. Kemudian keluar dari kamar. Dia mengambil sesuatu kemudian kembali lagi ke dalam kamar. Sambil membawa bak berisi air hangat dan juga

  • TERGODA IPAR   Berdebat

    Firman pulang setengah jam kemudian. Setelah menyelesaikan permasalahannya di kantor. Dia segera memarkirkan mobilnya ke garasi. Sebelumnya, dia sudah mendapatkan kabar dari asisten rumah tangganya bahwa Winda sudah pulang.Dengan tergesa dia segera masuk ke dalam rumah. Terlihat Winda tengah duduk di sofa, dengan tangan bersedekap dada. Pandangannya tajam lurus ke depan.Firman tersenyum kemudian berjalan perlahan ke arah nya.“Sayang kamu dari mana saja,” ujarnya saat sudah dekat. Firman duduk di samping Winda. Jarak di antara mereka hanya satu jengkal saja.Winda melirik tajam ke arah Firman. Pria di sampingnya tanpa aba-aba langsung merangkul pundak nya.“Sejak tadi aku mencarimu. Kamu membuatku khawatir, tapi syukurlah kamu sudah pulang.”“Sayang ...”“Berhenti memanggilku dengan sebutan sayang, Firman!” Winda menepis kasar tangan Firman.“Ka—kamu kenapa?”“Aku sudah tau apa yang telah kamu lakukan

  • TERGODA IPAR   Winda menghilang

    Pintu ruangan terbuka membuat keduanya terkejut. Delia dan Firman menoleh ke arah sumber suara.Terlihat seorang Office boy datang membawa ember dan kain pel. Dia terkejut melihat Firman yang sedang berada di sana. Berdebat dengan seorang wanita. Wanita yang tentu saja bukan pegawai di sana.“Ma—maaf, Pak. Saya kira bapak tidak masuk hari ini. Sebelumnya saya di tugaskan untuk membersihkan ruangan bapak.” ujar sang office boy dengan wajah menunduk, takut. Dia takut di pecat karena kelancangannya ini.Namun, Firman malah bersyukur. Adanya dia di sana akan membebaskan dirinya dari Delia. Wanita tidak war4s yang ingin menjadi madunya.“Tidak apa-apa, masuk lah. Kau juga tidak lama kan?”“I—iya, Pak.”Delia menghela napas. Dia membuang pandangan ke arah lain. Kedatangan Office boy di sana mengganggu saja.Firman menatap ke arah Delia kembali. Terlihat wajah wanita itu seperti kesal.“Delia, pergilah. Aku harus bekerja.” pinta Firman. “Firman, ku mohon ... Jadikan aku istri keduamu.”“A

  • TERGODA IPAR   Ingin mengulanginya lagi

    “Ya, aku percaya, sangat percaya padamu sayang.” bisik Firman dengan lembut. Membuat darah Winda berdesir.Firman mendekat, menaruh dagunya di bahu Winda. Membuat wanita itu menjadi gugup. Firman menghirup aroma shampoo yang di pakai Winda. Selalu manis, sama seperti awal mereka dekat. Shampoo beraroma strawberry yang membuat Firman jadi bertekuk lutut padanya.“Fi—Firman ....” suara Winda terdengar lirih. Dia bertopang pada sisi lemari. Selimut yang melekat di tubuh Firman jatuh sehingga belalai itu langsung menyentuh paha Winda yang mu lus. Berdiri tegak begitu gagahnya. Napas Winda memburu saat Firman mencium tengkuknya.“Firman, a—aku ....” Winda tergagap.“Sudhalah, semalam kamu sangat menikmatinya.”Ya, memang Winda akui semalam dia sangat menikmati permainan Firman di atas r@njang. Tapi bukan itu yang ingin dia sampaikan tadi.Winda bergeming menatap ke arah lain. Firman memeluknya dengan erat. Setidaknya Winda hanya lupa, bukan menolaknya.“Ayolah sayang, kita ulangi permainan

  • TERGODA IPAR   Terbakar gairah

    Delia tertawa sambil memainkan laptop, “Lihat Firman. Aku kurang paham yang bagian ini. Apa kamu bisa mengajariku dan apa ada saran lain darimu?” Delia terus bicara. Sedangkan Firman hanya fokus pada bibirnya.Suasana semakin terasa panas, Firman mulai melepas jaz kerjanya. Lalu membuka dua kancing bagian depan untuk mengurangi rasa panas di tu buhnya.“Firman hei, kau kenapa?” Delia menyentuh pahanya. Membuat Firman terhenyak sesuatu di bawah sana semakin tak bisa di kendalikan. Sentuhan itu kini semakin terasa. Firman menghembuskan napas kasar, ia menginginkan hal lebih dari ini.Melihat Firman yang gelisah, dengan deru napas nya yang tidak beraturan, membuat Delia tersenyum. Rencananya telah berhasil.“Apa kamu merasa gerah, sama aku juga. Sepertinya akan datang hujan.” Delia melepas blazer yang ia kenakan sejak tadi memperlihatkan bahunya yang mulus.Firman yang terbakar gairah. Mulai tak tenang, ada sesuatu yang harus dia tuntaskan.Ia segera bangun dari sofa. Namun matanya masi

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status