Hari sudah gelap, Elizabeth masih berdiam diri di dalam rumah. Setelah beberapa menit yang lalu Daniel pergi dan akan kembali untuk membelikan makan malam untuknya. Laki-laki itu melarang Elizabeth untuk keluar rumah agar terhindar dari ocehan semua orang tentangnya saat ini. Sampai akhirnya bel rumah berbunyi, Elizabeth yang tengah duduk di ruangan keluarga pun langsung menoleh cepat ke arah pintu. "Daniel," lirihnya langsung berdiri. Gegas itu membuka pintunya cepat. Namun lagi-lagi yang datang bukanlah Daniel, melainkan sosok laki-laki yang kini sangat Elizabeth benci. Evander, laki-laki itu menatap wajah memerah Elizabeth yang nampak baru saja menangis. "Untuk apa kau ke sini? Jangan tunjukkan dirimu lagi!" seru Elizabeth mengusir Evan. Gadis itu hendak menutup pintu rumahnya, namun tenaga Elizabeth kalah kuat. Dengan cepat Evan menahan pintu itu dan menyelinap masuk ke dalam rumah. Sorot mata Elizabeth penuh permusuhan dengannya, tidak seperti kemarin-kemarin lagi yang te
Berita memanas hingga berhari-hari, akhirnya kini orang suruhan Evan berhasil menangkap dan menyeret seorang pelaku penyebar berita tersebut dan membawanya ke hadapan Evan. Di dalam ruangan pribadinya, Evan berdiri tegap menatap seorang laki-laki asing di depannya dengan tatapan tajam. Laki-laki itu tampak marah, seolah dia bukanlah pelakunya. "Lepaskan aku!" teriaknya memberontak. "Tutup mulutmu!" sentak Jericho menendang bawah lutut belakangnya hingga dia berjongkok. Dia berusaha melawan Jericho yang mencekal tangan laki-laki itu ke belakang, sebelum akhirnya beralih menatap Evan yang melangkah ke arahnya. "Jadi kau..," ucap Evan dengan nada datar. "Kau orang yang menyebarkan berita tentang rumah tanggaku?" Laki-laki asing itu mendongakkan kepalanya menatap Evan, wajah kesalnya langsung berubah gugup dan memucat."A-apa maksud Anda? Saya tidak tahu dan saya tidak melakukan itu!" pekik laki-laki itu mencoba membela diri."Jawab jujur, Gustav!" seru Jericho menekan tangan orang
Keesokan harinya Elizabeth kembali pergi bekerja seperti hari-hari yang lalu. Namun, tidak seperti yang ia duga sebelumnya, situasi hari ini semakin mencekam dan mengerikan. Awalnya Elizabeth menduga kalau di tempat kerja ia akan kembali tenang, tapi ternyata ia salah besar. Kecaman-kecaman kejam justru semakin menghujaninya. Dan Elizabeth sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi, bahkan setelah berita itu telah hilang. ‘Kenapa tatapan mereka seperti ini? Bukankah beritanya sudah ditarik semalam?’ batin Elizabeth terus bertanya, ia berusaha fokus bermain piano dengan tenang meski hatinya penuh dengan kemelut. Sampai tiba-tiba beberapa wanita berpakaian anggun duduk tepat tidak jauh dari tempat Elizabeth duduk bersama pianonya. "Tuan Evan benar-benar sangat baik hati, dia menarik berita tentang kebusukan istrinya yang nakal itu,” ujar wanita dengan dress merah menyala.“Benar. Tuan Evan masih mau memaafkan istrinya yang berselingkuh, sungguh laki-laki yang luar biasa," sahut w
Detik waktu berjalan lebih buruk dari yang Evan duga. Setelah kemarahan Elizabeth padanya, laki-laki itu tidak bisa tidur semalaman penuh dan rasa kesal muncul dari berbagai sisi. Bahkan pagi ini, Evan duduk diam di ruang keluarga bersama dengan Jericho yang hanya diam di belakangnya. "Tuan, ruangannya sudah kembali dirapikan oleh pelayan," ujar Jericho tiba-tiba. Tidak ada sahutan apapun dari Evan hingga beberapa detik, sampai akhirnya dia membuka suara. "Aku sedang tidak ingin mengerjakan apapun hari ini," jawab Evan singkat. "Baik, Tuan."Suara langkah kaki masuk ke dalam rumah terdengar oleh Evan. Namun, dia tidak tertarik menengok dan melihat siapa yang kini masuk ke dalam rumahnya. Melihat sosok Clarisa yang muncul, lantas Jericho langsung meninggalkan Evan dan wanita itu. "Selamat pagi," sapa Clarisa tersenyum manis. Wanita itu mendekati Evan yang duduk diam menatap pemandangan taman di pagi yang mendung ini. "Evan, aku bawakan sarapan untukmu. Aku memasaknya sendiri,"
Suara ketukan pintu berkali-kali di luar, seperti sebuah trauma mendalam bagi Elizabeth. Ia takut bila yang datang adalah Evan. Gadis itu baru saja berbaring setelah meminum obatnya. Namun, mendengar suara pintu rumahnya yang terketuk membuat Elizabeth urung beristirahat. "Elizabeth... Kau ada di rumah, kan? Elizabeth...!" Suara itu, suara milik Daniel. Seketika Elizabeth langsung turun dari atas ranjang kamar di lantai satu. Gadis itu berjalan ke depan dengan cepat. Pintu kayu berwarna putih terbuka, dan benar kalau Daniel lah yang muncul."Daniel," lirih Elizabeth menatapnya. Laki-laki itu selalu tersenyum seperti biasa, dia mengangkat kedua tangannya menunjukkan paper bag yang dia bawa saat ini. "Aku membawakanmu makan siang," ujarnya. "Ya ampun Niel, jangan begini setiap hari. Aku juga memasak, kok," ujar gadis itu membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Daniel tak menghiraukannya dan tetap berjalan ke dalam rumah, meletakkan paper bag yang dia bawa. Di atas meja kayu di ruan
Setelah pulang makan malam di kediaman orang tuanya, Evan memikirkan apa yang selama ini sering Exel adukan padanya, yaitu tentang sikap Clarisa saat bersama putranya. Evan tergerak melangkah menuju kamar Exel, ia membuka pelan pintu kayu di depannya dan melihat putranya yang tengah bermain sendirian. "Exel..." Evan memanggilnya dan masuk ke dalam sana. "Papa!" Anak itu langsung berdiri dan berjalan ke arahnya. "Papa mau ke mana?" Evan mengangkat tubuh mungil Exel yang kini terlihat lebih kurus. "Papa tidak ke mana-mana, Papa ingin berbincang dengan Exel," jawab Evan kembali menutup pintu kamar Exel dan berjalan turun ke lantai satu. Anaknya itu tersenyum merengkuh leher Evan dan menyandarkan kepalanya di pundak. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan kerja Evan. Di sana, Evan duduk dan memangku Exel yang sibuk mengambil bolpoin dan kertas di meja kerja Papanya, tangan kecilnya sigap mencoret-coret kertas. Evan mengecup pucuk kepala si kecil penuh kasih sayang. "Sayang, Papa ing
"Exel juga kangen sama Mama, kenapa Mama tidak pulang-pulang, Ma..." Anak itu langsung meminta gendong pada Elizabeth setelah gadis itu mempersilakan Papa mertuanya masuk ke dalam rumah. Arshen duduk di kursi ruang tamu. Ia memperhatikan cucunya yang menunjukkan sisi manja pada Elizabeth. Ekspresi Exel kini tidak lagi murung dan cemberut seperti sebelum-sebelumnya. "Sekarang lega kan, Exel sudah bertemu dengan Mama?" sahut Arshen terkekeh. "Iya Opa, senang sekali. Emmm, Mamaku..." Anak itu duduk nyaman dalam pangkuan Elizabeth dan memeluknya erat. Elizabeth terkekeh gemas, ia mengecupi pucuk kepala putranya berulang kali sebelum beralih menatap Papa mertuanya. "Papa, apa kabar? Maaf ya, Pa, cukup lama Elizabeth dan Papa tidak bertemu," ujar gadis itu sedikit menundukkan kepalanya. Arshen hanya tersenyum, laki-laki itu melihat tidak ada yang berubah dari Elizabeth. Tuturnya masih santun dan ia selalu menghormatinya. "Kabar Papa baik, Elizabeth. Papa ke sini ingin mengantarkan E
Sudah beberapa hari ini, Exel dan Elizabeth menghabiskan waktu di rumahnya yang sederhana. Tentu saja tanpa sepengetahuan Evan. Pertemuan rahasia itu hanya diketahui oleh mereka berdua dan Arshen saja. Hari sudah cukup sore saat Arshen datang menjemput cucunya. Kedatangan sang Opa membuat Exel cemberut kesal. Anak itu langsung memeluk Elizabeth erat-erat dan bersembunyi di balik tubuh Mamanya. "Opa kenapa jemput Exel sih? Exel masih mau main sama Mama!" pekik anak itu marah seperti biasa. "Ya besok lagi dong, sekarang harus pulang dulu." Arshen menjawabnya seraya duduk di kursi. Exel memasang wajah protes, hal ini membuat Elizabeth tersenyum. Gadis itu menangkup kedua pipi Exel dengan lembut. "Sayang, hari ini pulang dulu sama Opa. Besok pulang sekolah ke sini lagi, okay?" Elizabeth mengecup kening Exel. "Heumm, Opa nakal... Exel padahal masih ingin sama Mama." Arshen menghela napasnya panjang dan memberikan waktu pada Exel untuk bersama Elizabeth lagi. Perhatian dan kasih sa
Pernikahan yang dinanti-nantikan sekaligus tak pernah dibayangkan oleh Pauline pun kini terjadi. Menjadi istri seorang Xander Spencer adalah hal yang tak jauh berbeda dengan sebuah mimpi. Dulu, Pauline tidak berani hanya sekedar untuk membayangkannya saja. Tetapi, takdir berkata lain. Hari ini, Pauline dan Xander sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Pauline resmi menjadi istri dari seorang Xander Spencer setelah acara pernikahan mereka diselenggarakan di gedung hotel milik Keluarga Collin pagi ini. Semua keluarga mengucapkan selamat pada mereka, termasuk Exel dan juga Hauri yang turut ikut merasa senang di hari bahagia adik mereka. "Selamat ya, Sayang ... akhirnya kau membuka lembaran baru dengan seseorang yang kau cintai dan yang mencintaimu," ujar Exel memeluk Pauline. "Berjanjilah untuk hidup bahagia dengan Xander." Pauline mengeratkan pelukannya pada sang Kakak dan ia mengangguk kecil. "Iya, Kak. Terima kasih..." Pelukan mereka pun terlepas, Pauline menatap Hauri yang
Pauline tidak pernah memikirkan yang namanya pernikahan sebelumnya. Ia hanya ingin hidup berdua dan membesarkan Alicia. Itulah harapannya awal mula. Namun, ternyata takdir berkata lain. Pauline justru akan menikah dengan laki-laki yang dulu pernah ia tinggalkan karena sakit hati, dan terlebih lagi laki-laki itu begitu lapang dada menerima Alicia dan mengakui sebagai anaknya sendiri. "Hei, kenapa melamun?" Suara Xander membuat Pauline tersentak pelan. Gadis itu menoleh pada Xander yang kini berdiri di sampingnya. Xander langsung memeluk Pauline dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu. "Kenapa?" Pauline mendongak menatapnya dengan senyuman tipis. "Katanya aku harus duduk diam, kau sendiri yang mau memilihkan gaun pernikahan kita," ujar Pauline. "Heem, tunggu sebentar. Tante Helen masih memilihkan yang pas untukmu," jawab Xander, seraya melepaskan pelukannya. Laki-laki itu pun berpindah duduk di samping Pauline. Saat ini, mereka berada di butik milik salah sat
Xander mengantarkan Pauline pulang, kedatangannya disambut oleh Evan dan Elizabeth. Mereka tampak cemas dan was-was, pasalnya selama bertahun-tahun ini Pauline tidak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun. Meskipun Evan merestui hubungan mereka, tapi tentu saja ia panik dan cemas bila putrinya tidak pulang-pulang. Kini mereka bertiga baru saja pulang, tampak Alicia bersemangat dan kesenangan dalam gendongan Xander. "Opaa...!" Anak perempuan itu mengulurkan tangannya dan berlari ke arah Evan dengan wajah berseri-seri. Evan dan Elizabeth pun tersenyum. "Aduh, kenapa Cucu Opa tidak pulang-pulang!" seru Evan, saat cucunya turun dari gendongan Xander dan berlari ke arahnya. Alicia langsung memeluk Evan, sedangkan Pauline dan Xander kini duduk di sofa. Mereka duduk berjajar dan Pauline tampak menundukkan kepalanya. "Maaf ya, Pa. Aku tidak bisa pulang kemarin. Pauline tidur pulas, aku ... aku juga sama," ujar Pauline merasa bersalah. Evan mengangguk. "Tidak apa-apa, asal kau ber
"Pauline, Sayang bangun ... pindahlah tidur di kamar. Jangan tidur di sini. Alicia sudah tidur di kamar atas." Xander menepuk pipi Pauline dengan sangat lembut sampai gadis itu terbangun dan terkejut saat ia menyadari tertidur di rumah Xander. "Kak..." Laki-laki itu tersenyum. "Pindah ke kamar, tidurlah di sana temani Alicia. Aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu." Pauline langsung bangun dan ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Gadis itu tertunduk. "Bagaimana bisa aku ketiduran sampai jam segini?" lirih Pauline. "Bagaimana aku pulangnya?" "Kan aku sudah bilang, tidurlah di sini. Biar aku yang telfon Papa. Di luar juga udara sangat dingin, kasihan Alicia, Sayang." Xander mengusap lengan kecil Pauline. Gadis itu mengangguk patuh dan ia beranjak dari duduknya. Kedua mata mengantuknya pun tertuju lagi pada Xander. "Janji ya, Kak, teflon Papa," ujarnya. "Iya, Sayang." Barulah Pauline tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu aku ke
"Ma ... Alicia boleh tidak, tinggal di sini sama Mama dan Papa?" Anak perempuan dengan rambut cokelat dikuncir dua itu berdiri di samping sang Mama. Alicia yang menggemaskan tampak mendongak menatap wajah sang Mama. Pauline yang tengah membuatkan kopi untuk Xander di dapur rumah laki-laki itu, ia pun lantas menoleh dan tersenyum pada Alicia yang murung dan mengeluh di sampingnya. "Kita punya rumah sendiri, Sayang." Bibir Alicia cemberut, anak itu menarik-narik ujung blouse yang Pauline pakai. "Tapi Ma, Alicia mau seperti Kak Varo dan Kak Vano, mereka tinggal dengan Tante Mama dan Papa Exel. Masak Alicia hanya tinggal sama Mama, terus Oma dan Opa? Papa tinggal sendirian, kasihan Papa, Ma..." Alicia memprotes sang Mama. Dari arah ruang tengah, Xander yang mendengar perbincangan Alicia dan Pauline, ia tersenyum. Anak kecil mungil itu memang sangat menyayanginya selayaknya Papanya sendiri. Dengan jelas ia mendengar Alicia merengek pada sang Mama dan ia ingin tinggal bersamanya. Per
Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng
Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres
Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me
Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat