Satu minggu telah berlalu..."Butik kita mengalami penurunan yang cukup banyak beberapa hari ini, Elize. Apa yang harus kita lakukan?" Adelaide menunjukkan beberapa berkas tentang keuangan butik Minggu ini yang mengalami penurunan drastis. Melihat data-data yang tercatat secara rinci, bahkan penjualannya pun juga sangat jauh menurun dari hari-hari biasanya. "Tidak bisanya menurun sampai sehabat ini," ucap Elizabeth, wanita itu terduduk sembari memegangi keningnya. "Ini lebih gila dari yang aku perkirakan." "Apa mungkin ini karena adanya dengan butik baru yang ada di depan butik kita menjadi pengaruh besar?" Sevia berucap, wanita berkulit sawo matang itu memperhatikan empat wanita di sampingnya, termasuk Elizabeth. "Tentu saja hal itu terjadi. Barang-barang yang mereka pasarkan hanya berbeda warna saja dengan kita, dan semua modelnya juga sama persis." Adelaide berdecak memukul pelan meja kayu di depannya. "Kurang kreatif sekali pemilik butik itu!" sinis Adelaide dengan kesalnya.
Setelah berhari-hari lamanya Elizabeth terpaku pada masalah yang ada pada pekerjaannya. Penurunan yang drastis, kemarahan pembeli, dan juga para pelanggan yang sering mengambil banyak barang di butiknya. Elizabeth sampai tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Wanita itu gelisah dan terus memikirkan cara, juga hari esok. "Kepalaku sakit sekali," gumam Elizabeth memijit pelipisnya. Rasa sakit yang berdenyut membuat Elizabeth langsung beranjak dari tempat tidurnya. Wanita itu terdiam duduk di tepi ranjang, tertunduk memejamkan kedua matanya. Pergerakan ranjang yang pelan berhasil membangunkan Evan yang hampir saja terlelap dengan nyenyak. Laki-laki itu membuka kedua matanya dan melihat Elizabeth yang bangun, hanya duduk termenung diam memegangi kepalanya. "Sayang, kau kenapa?" tanya Evan, laki-laki itu mendekati istrinya. Telapak tangan Evan menyentuh lembut pucuk kepala Elizabeth. "Kau sakit, hem?" "Hanya pusing saja. Aku tidak bisa tidur," jawab Elizabeth dengan nada lemah. "Aku
Setelah Elizabeth menemui Tania, wanita itu langsung kembali pulang ke rumahnya dan tidak ke butiknya lagi. Elizabeth merasakan tubuhnya yang amat lelah dan lemas, ia menyadari kondisi kesehatannya menurun, karena beberapa hari ini, Elizabeth banyak marah-marah dan sering tidak bisa tidur. Wanita itu pun kini duduk melamun di ruang keluarga yang berada di rumahnya. Sendirian menikmati sepi dan menenangkan diri. 'Apa yang Tania inginkan dariku? Kenapa tidak ada puas-puasnya dia terus menginginkan kejatuhanku setelah beberapa tahun lalu, dia juga menghancurkan kebahagiaan hidupku...' Elizabeth memejamkan kedua matanya dan alisnya mengerut dalam. Hingga tiba-tiba, terdengarnya suara klakson mobil di depan depan. Namun, Elizabeth masih tidak beranjak, dia tidak mood untuk menyambut Evan karena suasana hatinya yang benar-benar buruk. Di sisi lain, Evan yang baru saja turun dari mobil pun langsung disambut oleh kedua anaknya. Exel dan Pauline yang tengah bersama James di teras depan
Keputusan Elizabeth untuk menutup butiknya sementara pun sudah bulat. Dan Elizabeth kini kembali fokus mengurus anak dan juga meluangkan banyak waktu untuk membantu suaminya. Seperti sore ini, tampak Elizabeth dan Evan tengah menemani suaminya berada di sebuah hotel, untuk menghadiri sebuah acara pesta yang diselenggarakan oleh Kian. Atas keberhasilan proyek baru miliknya, laki-laki tua itu mengundang Evan dan Elizabeth untuk datang ke acaranya. "Apa kau yakin ingin datang ke pesta ini, Sayang?" tanya Elizabeth menoleh pada suaminya. "Heem, tentu saja. Kenapa memangnya?" tanya Evan menatap istrinya. Elizabeth menggeleng pelan dan tersenyum manis. "Tidak papa." Wanita itu sedikit merasa cemas. Bukankah Kian telah melakukan begitu banyak hal yang menyulitkan suaminya? Tapi mengapa Evan justru tampak sangat santai seolah tak terjadi apapun?Evan tersenyum. Laki-laki itu merangkul pundak Elizabeth sembari melangkah menuju tempat di mana pesta digelar. Seperti yang Evan tuturkan pada
Setelah dua minggu lamanya Elizabeth berusaha mencari cara membangkitkan butiknya. Hari ini, wanita itu mendapatkan kabar mengejutkan dari salah satu temannya. Pagi-pagi sekali, Adelaide sudah menghubungi Elizabeth dan memintanya untuk mendatangi sebuah rumah makan mewah pagi ini. Dan kedatangannya ditemani oleh Evan.Mereka berdua berjalan bersama menuju lantai dua rumah makan megah tersebut. "Itu Adelaide," ujar Evan menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk sendirian."Elize!" pekik Adelaide melambaikan tangannya dengan wajah antusias. "Hai ... tumben sekali mengajakku bertemu di luar, biasanya kalau ada apa-apa kau juga langsung datang ke rumah," ujar Elizabeth pada rekannya tersebut. Adelaide hanya tersenyum manis hingga kedua matanya wajahnya terlihat berbinar-binar. Ekspresi itu membuat Elizabeth menyipitkan kedua matanya, pasti ada sesuatu yang baik, kini tengah dia sembunyikan. Pasalnya, kemarin saja dia masih gelisah saat menghubungi Elizabeth. "Hemm ... kau pasti memb
Apa yang Elizabeth pikirkan tidak luput sama sekali, Tania sangat kebingungan dan cemas melihat butik Elizabeth yang kembali buka dan dalam masa perbaikan. 'Sialan Elizabeth, ternyata dia benar-benar hanya menutup sementara?! Jadi butik itu masih akan terus beroperasi?! Bagaimana bisa?' Tania mengepalkan kedua tangannya. "Rupanya dia tidak main-main dengan ucapannya kalau dia memang akan memperbaiki butiknya. Pantas saja dia terlihat tenang ... kali ini aku tidak akan membiarkan rencananya berjalan mulus!" seru wanita itu tak terima. Wanita itu berjalan kembali masuk ke dalam ruangannya. Di sana, ada asistennya yang selalu Tania tugaskan untuk mencari banyak informasi di luar. Tania berusaha mengorek tentang perkembangan butik milik Elizabeth, melalui asistennya. "Bagaimana, Lexy? Apa yang kau dapatkan?!" tanya Tania pada asistennya tersebut. Gadis berambut panjang bergelombang itu tertunduk dan dia menggaruk pelan tengkuk lehernya. "A-anu, Nyonya ... butik di depan kabarnya
Pauline masih menunggu Mamanya datang menjemput, Tania pun juga sudah pergi sekitar sepuluh menit yang lalu. Tiga stik permen stroberi yang Tania belikan sudah habis. Dua temannya juga sudah pulang. Pauline kesal dengan Mamanya yang kini datang terlambat. Mobil hitam milik Elizabeth baru saja tiba setelah Pauline merasa ia ingin menangis karena terlalu lama menunggu Mamanya. "Ya ampun Sayang, sudah dari tadi ya, Nak? Maafkan Mama ya, Sayang ... Mama harus menunggu Kakak sampai selesai test," ujar Elizabeth mendekati Pauline yang menatapnya marah dan berkaca-kaca. "Mama nakal, tahu! Pauline capek tungguin di sini!" pekik anak itu merengek ingin menangis. "Sssttt ... maaf Sayang, maafkan Mama ya," bisik Elizabeth mengangkat tubuh mungil Pauline. "Ini Mama sudah datang. Ayo sekarang kita pulang, Mama akan suapi Pauline setelah sampai di rumah, setelah itu tidur siang dengan Mama." Anak itu merengkuh leher sang Mama dan menyandarkan kepalanya dengan sangat manja. Mereka pun masuk k
Sikap Pauline menurun dari Elizabeth, hingga saat marah akan betah berlama-lama. Anak itu bahkan tidak takut untuk menyendiri dan tidak mau menyapa siapapun. Sejak siang hingga sore, Elizabeth membujuknya untuk makan dan bermain bersama Exel. Bahkan Elizabeth meminta James membelikan buku baru untuk Pauline. Tetapi putrinya, masih merajuk. "Ini bukunya sudah Mama belikan, sekarang tidak boleh marah-marah lagi ya, Sayang..." Elizabeth berucap lembut, sembari mengusap puncak kepala putri kecilnya. Pauline hanya mengangguk kecil, dia duduk di atas ranjang kamarnya. "Kalau begitu, sekarang Pauline tunggu di sini dulu. Mama ambilkan makan, mama suapi." "Pakai daging sapi panggang, Ma!" seru anak itu mendongak menatap Mamanya. "Baiklah. Tunggu sebentar, Sayang. Jangan ke mana-mana..." Elizabeth melangkah keluar dari dalam kamar. Wanita itu melihat ada Exel yang berdiri di balik pintu dan dia nampak ingin masuk ke dalam kamar. Namun, Elizabeth menyadari kalau Exel pasti was-was setel
Setelah pergi jalan-jalan, Xander mengajak Pauline dan Alicia ke rumahnya. Pauline pikir Xander tetap tinggal di rumah lamanya, tapi ternyata ia salah, Xander telah memiliki rumah sendiri yang jauh lebih megah. Kini, Pauline melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan di belakang Xander yang melangkah di depannya sembari menggendong Alicia yang terlelap dalam dekapannya. "Kak, tidurkan di sofa saja, tidak apa-apa," ujar Pauline tidak enak hati. "Kenapa harus di sofa? Di lantai satu banyak kamar, lantai dua juga ada," jawab Xander sambil berjalan menaiki anak tangga. "Tapi kan—""Anggap saja rumah ini rumahmu sendiri, Sayang," sela Xander. Panggilan Sayang yang Xander lontarkan membuat Pauline terdiam. Ia teringat saat beberapa tahun lalu, Xander memanggilnya dengan panggilan itu dan terdengar sangat romantis. Sampai akhirnya Pauline kembali melangkah naik mengikuti Xander. Mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar bernuansa abu-abu dan putih, memiliki ranjang king size di teng
Pauline terus merenung setelah ia mendapatkan nasihat dari sang Papa. Diamnya membuat Xander yang kini bersamanya pun tampak tak biasa. Laki-laki itu memperhatikannya dan ikut merasakan ada yang lain dengan Pauline. "Kenapa diam saja?" tanya Xander menatapnya dan menarik lengan Pauline sambil memangku Alicia. Pauline menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Emm ... hanya berpikir cuacanya semakin dingin." "Ya, tapi Alicia tidak mau pulang," jawab Xander menahan Alicia yang ada di pangkuannya dan tampak masih ingin bermain lagi di taman. Anak kecil perempuan itu mendongak dan menggelengkan kepalanya. "Ma, Alicia masih mau main sama Papa, nanti kalau Papa pulang, biar Alicia tidak menangis lagi," ujar anak itu. Pauline tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang. Main sepuasnya di taman, ditemani Papa. Mama akan di sini memperhatikan kalian." Jawaban yang Pauline berikan membuat Xander terdiam dan menatapnya dengan dalam. Rasanya seperti tidak biasa melihat ekspres
Suara gema tangisan Alicia menggelegar di dalam rumah Evan. Alicia marah saat ia bangun tidur, Xander tidak ada di sana, hingga membuat anak itu menangis mencari sosok yang ia panggil 'Papa' tersebut. Tangisannya membuat semua orang heboh pagi ini. Sampai Evan dan Elizabeth ikut berusaha menenangkannya cucu kesayangannya. "Sayang, sudah jangan menangis ... nanti Papa Xander akan ke sini, kok," bujuk Elizabeth menggendong Cucunya. "Huwaa ... maunya sekarang, Oma! Alicia maunya sekarang! Huwaa ... Papamu di mana?!" jerit Alicia menangis. Sedangkan Pauline kini berada di lantai dua, gadis itu tengah mencoba menghubungi Xander. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak dijawab oleh Xander meskipun terhubung. Pauline sampai mondar-mandir dengan kepala pening. Sejak petang dia menggendong Alicia yang rewel mencari Xander. "Mama!" pekik Alicia dari lantai satu. "Huwaa ... Mama!" Gegas Pauline turun ke lantai satu dan segera mendekati putrinya yang kini berjalan ke arahnya sambil me
Pauline dan Xander sampai di wahana akuarium raksasa. Di sana, Alicia terlihat sangat senang. Bahkan anak itu tidak mau turun dari gendongan Xander sejak mereka sampai. Tak hanya diam, Pauline pun sesekali mengambil momen dengan membuat video tentang Alicia yang digendong oleh Xander. "Wahh ... Papa! Itu ikannya besar!" pekik anak perempuan itu menunjuk seekor ikan di dalam akuarium raksasa. "Itu ikan apa, Papa?" "Itu ikan paus, Sayang," jawab Xander. "Ikan paus juga punya Mama dan Papa, juga?" tanyanya dengan polos. "Tentu saja punya," jawab Xander terkekeh. Pauline berdiri di samping Xander dan wanita itu menunjukkan gerombolan ikan-ikan cantik di sana. "Itu bagus ya," ujarnya. "Hm." Xander mengangguk. "Apa kau tidak pernah jalan-jalan saat Prancis?" "Tidak pernah. Alicia sangat nakal. Aku pernah mengajaknya ke taman bermain saat itu, hanya berdua, tapi aku awalnya ingin membiarkannya mendapatkan teman, tapi baru beberapa menit, belum ada satu jam sudah jat
Pauline menuruti keinginan Alicia yang meminta jalan-jalan bersama Xander pagi ini. Meskipun situasi tampak canggung yang terjadi antara Xander dan Pauline saat ini, namun justru Pauline lah yang banyak diam, karena Xander sibuk berbincang dengan Alicia. "Papa, jadi lihat ikan lumba-lumba kan, Papa?" Anak perempuan kecil itu duduk di pangkuan sang Mama dan menoleh pada Xander yang tengah mengemudi. "Jadi dong, Sayang. Papa kan sudah janji dengan Alicia," jawab Xander terkekeh. "Asikk...! Nanti pulangnya kita beli es krim ya, Pa..." "Iya, Sayang." Xander tersenyum manis menatap wajah Alicia yang terlihat begitu berbinar berbunga-bunga. Anak perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada sang Mama. Pauline menoleh pada Xander yang kini tampak begitu bahagia. Ia tidak tahu banyak tentang laki-laki ini selama lima tahun terakhir. Hanya saja, setahu Pauline kalau Xander memang belum menikah atau memiliki pasangan. "Kau tidak sibuk kan, hari ini?" tanya Pauline memecah keheningan. "Sa
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alicia tampak sudah bangun dan anak itu terlihat jauh sangat bersemangat. Pauline tidak tahu apa yang membuat anaknya begitu antusias, di sisi lain ia hanya pandai menebak kalau kemungkinan besar Xander lah yang membuat Alicia begitu senang."Mama ... ayo cepat, Alicia mau mandi!" pekik anak itu memanggil Pauline yang masih sibuk di dapur. "Mama...!" "Iya, Sayang sebentar!" Elizabeth terdengar menyahuti teriakan cucu kesayangannya. Sampai tak lama kemudian barulah Pauline muncul dan wanita muda itu naik ke lantai dua menemui si kecil yang langsung memasang wajah protes karena Mamanya terlalu lama. "Kenapa, Sayang? Tumben jam segini sudah bangun, hm?" Pauline langsung mengangkat tubuh Alicia dan mengecupi pipinya."Mama, Alicia mau mandi, terus ganti baju yang bagus warna merah muda!" serunya, antusias. "Alicia juga mau pakai sepatu yang merah muda, pakai jepit yang lucu, Mama..." Pauline terkekeh mendengarnya. "Memangnya Alicia mau ke mana, Saya
Sementara di dalam kamar, Pauline panik saat ia terbangun dari tidurnya, wanita muda itu tidak menemukan putrinya. Padahal sudah jelas-jelas tadi saat ia tertidur, Alicia ada di sampingnya. "Ya ampun, ke mana Alicia malam-malam begini!" pekik Pauline kebingungan. Wanita muda bertubuh langsing itu berjalan membuka pintu kamar mandi, dan anaknya tidak ada. Pauline menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Buru-buru Pauline keluar dan ia berjalan ke lantai satu. Di sana sepi, hanya ada suara beberapa orang di ruang tamu. Sampai Pauline berjalan ke depan dan kemunculannya disambut oleh Papa dan Kakaknya, juga rekan-rekannya. "Pa ... Papa melihat Alicia?" tanya Pauline panik.Evan menunjuk ke arah depan dengan dagunya. Laki-laki itu tampak tidak ragu dengan Xander, apalagi saat Evan tahu, selama Pauline pergi, Xander masih setia sendiri dan dia bilang kalau suatu saat dia kukuh ingin menemukan Pauline. Evan benar-benar melihat kesungguhan itu, hingga ia tidak membuat jarak antara
Hari sudah malam, Pauline tertidur nyenyak memeluk Alicia. Tetapi anak kecil itu belum juga terlelap. Alicia memeluk botol susunya dan diam menatap ke arah langit-langit kamarnya sambil mengoceh sendiri. "Mama capek, Alicia nakal terus, jadi Mama bobo cepat-cepat..." Anak itu mengerucutkan bibirnya. "Alicia mau punya Papa yang baik, biar seperti Kakak kembar. Emmm, Papanya Alicia pergi jauh dibawa Tuhan," ocehnya dengan mata lebarnya yang mengerjap. Anak bertubuh mungil dengan balutan piyama hangat berwarna ungu muda itupun perlahan-lahan merangkak turun dari atas ranjang. Alicia berjalan membawa botol susunya dan keluar dari dalam kamar, setelah ia tahu pintu kamar tidak ditutup rapat. Dengan langkah kecilnya, anak itu berjalan menuruni anak tangga. "Aduh ... aduh ... anak tangganya sangat banyak. Alicia harus hati-hati. Satu, dua, satu, dua!" seru anak itu dengan suara mungilnya. Tampak di ruang tamu, beberapa orang laki-laki yang tengah berada di sana, sibuk membahas pekerja
Napas Pauline tercekat saat ia melihat sosok Xander berdiri di depannya dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Pauline. Belum lagi Alicia yang kini memeluk kaku Xander dan anak itu berisik terus meminta gendong. "Om, itu Mamaku, ayo ... Alicia mau gendong. Katanya kalau bertemu Alicia mau digendong lagi! Ayoo, gendong!" pekik Alicia berjinjit-jinjit mengulurkan tangannya pada Xander.Lamunan Xander buyar karena anak itu, ia menunduk dan tersenyum pada Alicia. "Iya, Sayang..." Xander langsung menggendong Alicia dan mengangkat tubuh mungil itu dalam pelukannya sebelum ia berjalan mendekati Pauline yang masih diam membeku di tempatnya. Alicia tersenyum lebar memeluk leher Xander dan menyandarkan kepalanya di sana. "Om, Alicia kok tahu kalau Alicia di sini?" tanya anak itu. "Tentu saja Om tahu, Sayang," jawab Xander. Pauline mengerjapkan kedua matanya dan napasnya terengah tiba-tiba. Ia tercengang melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sejak kapan Alicia dekat dengan Xand