"Jadi ini kejutannya, Yud?" tanyaku serius.
Yudistira menggaruk kepalanya. Wajahnya mencerminkan kepasrahan ... pasrah kalau aku meledeknya.
"Bukan begini maksudku, Sha. Ini di luar kemampuanku, bukan kejutan buatmu. Kalau kejutan 'kan memang sengaja dibuat untuk memberi euforia lebih," paparnya mengakui keterbatasannya.
Aku mengulum senyum. "Oh, gitu," komentarku singkat. Yudistira melebarkan senyuman di bibirnya, satu jurus untuk mendapatkan permakluman dariku. Aduh, lucunya suamiku!
Pasangan yang baru menikah idealnya langsung tinggal di rumah mereka sendiri, entah itu milik pribadi ataupun kontrak. Sebagai sesama penganut prinsip anti ribut dengan mertua, aku dan Yudistira sepakat untuk tinggal terpisah dari orang tua kami masing-masing.
Sayangnya tingkat kepercayaan diri seorang Yudistira kadang sedikit over. Karena fokus dengan urusan pernikahan, hunting rumah belum membuahkan hasil.
"Nyari yang cocok nggak gampang, Sha. Sebisa mungkin aku mencari yang lokasinya dekat resort biar kita nggak jauh dari tempat kerja, dan yang nyaman untuk dihuni," begitu Yudistira beralasan.
"Nggak apa-apa, Yud. Sabar aja, semoga cepat ketemu, ya." Aku berupaya memberi semangat dan dukungan kepada suamiku.
Untuk sementara waktu kami menjadi warga nomaden; kadang tidur di resort, atau di rumah mertuaku. Sesekali kami menginap juga di rumah orangtuaku, agar mereka tak merasa diabaikan.
Pencarian kami berakhir sekitar sebulan setelah kami menikah. Secara tidak sengaja kami melihatnya. Entah sejak kapan tulisan "Dijual Tanpa Perantara" tertera di sana, tapi kami sangat beruntung bisa menemukannya sebelum ada orang lain yang membeli rumah itu.
Lokasinya di perumahan tak jauh dari resort, bukan di pinggir jalan besar, masih agak masuk gang, tapi justru lebih nyaman karena tidak akan terlalu bising. Dan yang pasti harganya bisa lebih murah. Lebih beruntung lagi saat kami menyambangi rumah itu, pemiliknya sedang ada di sana.
"Permisi, Pak. Rumah ini dijual, ya?" sapa Yudistira pada seorang bapak yang kami temui di depan rumah.
"Betul, Mas. Masnya minat mau beli?" Bapak itu bertanya balik. Senyuman dan sorot matanya mengesankan keramahannya.
"Kalau cocok, Pak. Boleh kami lihat-lihat?"
"Monggo, Mas, saya antar."
Bapak itu membuka pintu gerbang untuk kami. "Taruh sini saja motornya," katanya seraya menunjuk sudut halaman.
Dari perkenalan singkat kami mengetahui bahwa bapak itu bernama Hadi Riyanto. Usianya mungkin sekitar lima puluhan, seumuran dengan Pak Pandu. Bedanya kalau ayah mertuaku masih secara rutin menyemir hitam rambutnya, Pak Hadi ini membiarkan rambutnya memutih secara alami.
Ia bercerita bahwa rumah ini belum terlalu lama dibangun, baru sekitar lima tahun. Anak-anak Pak Hadi sudah besar, dan memiliki pekerjaan yang mapan di luar Jogja.
Beberapa bulan lalu, ibu Pak Hadi yang tinggal di Gunung Kidul jatuh sakit. Bisa dihitung lah, kalau Pak Hadi saja sudah berumur lima puluhan, ibunya pasti sudah lansia.
"Makanya ketimbang rumah ini dibiarkan terbengkalai, kami jual saja, biar kami bisa nemani Ibu di desa. Sekalian juga saya sama istri bisa menikmati masa tua nanti di sana. Kalau disewakan mungkin kami masih harus repot berurusan sama penyewa, tapi dijual sekali urus langsung selesai," paparnya.
Di bagian luar rumah ini sudah tampak asri dengan taman sederhana tapi cantik. Rumah berukuran sedang dengan dua lantai. Saat kami masuk, rasanya lebih menakjubkan lagi. Rumah ini seperti rumah impianku, rumah dengan banyak jendela kaca, sehingga sinar matahari bisa masuk dan menjadi penerang alami di siang hari. Lantainya dipasangi keramik warna putih yang klasik.
Berbeda dengan lantainya yang seragam, setiap ruangan dipasangi wallpaper yang berbeda-beda, membuat suasana semakin menyenangkan. Ada tiga kamar tidur di bawah, dan dua di atas. Katanya ini karena Pak Hadi punya keluarga besar. Iya sih, anaknya ada empat, sama seperti keluargaku, dan keluarga Yudistira. Kebetulan banget, ya.
Di lantai bawah dan atas ada dapur, meskipun yang di atas dapurnya lebih sederhana. Siapa tahu malam-malam penghuni di lantai dua ingin membuat mie instan, 'kan nggak perlu turun ke lantai satu. Tempat mencuci baju ada di atas, tempat menjemurnya bajunya cukup luas, dengan banyak pot berisi tanaman menghiasi. Sepertinya cocok juga bersantai di situ di malam hari saat tidak hujan. Penghuni rumah bisa duduk santai mengobrol sambil memandang langit yang berbintang.
Tur singkat yang begitu seru. Aku tak sanggup menyembunyikan kegembiraanku, rasanya aku benar-benar jatuh cinta pada rumah ini. Yudistira bisa melihatnya dari wajahku.
"Kamu suka, Sha?" tanyanya. Aku mengangguk malu-malu. Pasti senang kalau kami bisa tinggal di rumah ini, tapi aku juga sedikit ragu mengingat ukurannya yang cukup besar. Harganya pasti mahal.
"Dibuka harga berapa, Pak?" Yudistira bertanya tanpa basa-basi. Pak Hadi menyebutkan angka yang membuatku menahan napas. Kalau aku sendiri yang harus membeli, pasti sedari awal aku cuma berani memimpikannya.
Terjadilah negosiasi yang sedikit alot. Pak Hadi tidak berani menurunkan harga terlalu banyak. Yudistira tampak berpikir keras.
"Memang yang mau tinggal di sini nanti siapa, Mas?" Pak Hadi bertanya sambil lalu.
"Kami berdua, Pak," jawab Yudistira. Dari tadi aku memang cuma jadi ekornya, ngikutin saja tanpa berani banyak bicara, kecuali membuat penilaian singkat tentang ruangan-ruangan di rumah ini.
"Oh, sudah punya anak berapa?" selidik Pak Hadi lagi.
"Masih baru, Pak."
"Loh! Saya pikir sudah lama, lho." Raut muka pria paruh baya itu terlihat sedikit heran.
"Masa sih, Pak?"
"Biasanya, 'kan, pengantin baru tuh masih anget, lengket. Mas Yudistira sama Mbak Shanna tampak biasa saja, saya kira kakak-adik malahan," terangnya. Waduh! Kena deh ini!
Aku sih cuma bisa pringas-pringis mati gaya, tapi yang namanya Yudistira selalu punya banyak gaya. "Istri saya ini memang pemalu, Pak," timpal Yudistira seraya menaruh lengannya di pundakku, dan menarikku agar lebih mendekat padanya.
Duh, malu beneran kalau kayak gini! Jantungku berdebar tak karuan, mukaku pasti merah padam. Untungnya si bapak orangnya pengertian.
Pak Hadi nggak tahu sih, kami memang pasangan yang jarang menunjukkan kemesraan di depan umum, apalagi saat cuma berdua, benar-benar hanya seperti teman.
Pembicaraan berlanjut membahas urusan pekerjaan. Saat Yudi menyebutkan tentang resort, Pak Hadi kaget saat mengetahui bahwa Pak Pandu adalah ayah tiri Yudistira.
"Saya ini kawan lama Pandu, lho. Sudah berapa lama, ya, kami nggak jumpa? Nggak nyangka saya bisa ketemu anaknya di sini," ucap Pak Hadi bersemangat.
"Bapak mau bicara sama Papa?"
"Wah, boleh, jelas mau banget saya," jawabnya antusias.
Dasar tukang bisnis! Ngerti banget, ya, si Yudis ini cara mendapatkan hati calon partner. Ya, ya, bisa dilihat juga sih, dari cara ia membuatku mati kutu, dan tak bisa menolak lamarannya kala itu.
"Halo, Pandu ... ini aku, Hadi. Wah, sudah lama, ya, kita nggak ketemu," sapa Pak Hadi saat panggilan suara dengan mertuaku tersambung. Secara alami pria itu berjalan meninggalkan kami, dengan ponsel Yudistira di tangannya.
"Gimana, Yud? Kemahalan ini," tanyaku dengan suara yang tak begitu keras.
"Kamu suka 'kan?" Ia balik bertanya.
"Suka, sih, tapi ...."
"Ya sudah, kita lihat saja, apakah pembicaraan dengan Papa bisa mengubah pikiran Pak Hadi," ujarnya enteng.
Yudi mengatakan ayah mertuaku sudah berjanji akan memberi uang untuk kami membeli rumah. Pak Pandu tidak membayar seratus persen, bisa dibilang mereka patungan. Bagaimanapun Yudistira ingin bertanggung jawab atas pilihannya untuk menikah, jadi ia tetap mau mengeluarkan uangnya sendiri.
Tak lama Pak Hadi kembali bergabung dengan kami. Mukanya berseri-seri, seperti kota Solo ... 'kan slogannya Solo Berseri. Hehe.
"Seru juga nih kayaknya Pak Hadi ngobrol dengan Papa," komentar Yudistira kala Pak Hadi menyerahkan kembali ponselnya.
"Hahaha, begitulah, Mas, kawan lama. Saya sudah ngomong sama Pandu tadi, beres lah pokoknya," sahut pria itu ceria. Pak Hadi menyebutkan harga yang telah disepakati dengan ayah mertuaku, bisa turun lumayan banyak daripada penawaran awal. Wajah Yudistira penuh senyum kemenangan.
"Saya senang, rumah ini bisa saya jual ke orang yang sudah saya kenal, apalagi yang membeli anaknya pemilik Pandawa Resort," tambah Pak Hadi. "Saya percaya rumah ini pasti akan kalian rawat dengan baik."
"Pastinya, Pak."
"Karena kita sudah saling kenal, kapan-kapan kalau saya kangen kota Jogja, saya boleh, ya, main ke sini, nginap di sini?" Mata Pak Hadi kembali berkilat-kilat.
"Tentu saja boleh, Pak," jawab Yudistira lugas.
"Hahaha. Terima kasih lho, Mas Yudistira, tapi saya cuma bercanda. Nggak enak saya menganggu pasangan baru." Pak Hadi kembali menggoda kami.
Yudistira berjanji untuk datang lagi besok, sambil membawa surat perjanjian jual beli bersama seorang notaris. Dalam waktu tiga hari kami telah mengurus kepindahan, menaruh barang-barang dan perabotan yang kami butuhkan. Kami tak perlu banyak bersih-bersih, karena Pak Hadi masih merawat rumahnya dengan baik.
Maka selesailah urusan rumah. Kami berdua lega telah menemukan rumah untuk kami tinggali, yang sesuai harapan kami.
Namun, yang namanya hidup, apalagi hidup berumah tangga, pasti ada masalah. Dan masalah yang kami hadapi menyangkut orang-orang di tempat kerja kami.
Kami sepakat aku bisa tetap bekerja setelah menikah, tetapi tak ada angin, tak ada hujan Yudistira mengeluarkan ultimatum. "Sha, mulai besok kamu nggak usah kerja."
"Sha, mulai besok kamu jangan ngajar si Kim Jong Un lagi," ucap Yudistira tiba-tiba. Aku meletakkan buku yang tengah kubaca seraya menatap pria itu tak percaya. Yudistira mendadak aneh. "Kenapa, Yud? Ada masalah? Namanya Kim Jong In, ya, bukan Kim Jong Un." Kan ... nama orangnya saja sampai diganti sama dia. "Kim itu nggak baik, Sha. Berbahaya," alasannya terlalu dibuat-buat. Mulai provokatif nih orang. "Berbahaya bagaimana? Kalau Jong In memang membahayakan, laporkan ke polisi, keluarkan dari tempat kursus." Sedikit kesal aku menanggapi Yudistira yang mengeluh manja. "Ya, nggak bisa gitu juga ...," Yudis ngedumel tidak jelas. Aku tak paham apa maunya, apalagi terkesan ia egois dan memaksakan kehendaknya yang tidak masuk akal. Aku memutuskan untuk kembali membaca novelku, walau mood-ku sudah mulai terganggu. Kupikir Yudis sudah melupakan permintaannya yang kekanakan, sampai akhirnya ia mengucapkan kalimat yang membuatku sangat sebal. "Sha, kamu jadi ibu rumah tangga saja, ya, di
"Apa-apaan ini?" desisku kehabisan akal. Aku mengepalkan kedua tanganku begitu geram. Mengapa Yudistira malah kabur? Beginikah caranya menyelesaikan masalah? Ia bahkan tidak berpamitan kepadaku. Jangan-jangan .... Ah, cepat-cepat kuusir pikiran yang mulai melantur tidak jelas. Semenyebalkan apapun Yudistira, aku yakin ia akan berupaya menjadi suami yang setia, sekalipun tidak atau belum ada cinta di antara kami, Yudistira pasti berpegang pada komitmennya sendiri. Dengan lesu aku kembali ke dalam, duduk di sofa di ruang tengah, ketimbang masuk ke kamar tidur. Aku masih kesal, tetapi aku mencoba untuk menjernihkan pikiranku yang tengah kacau. "Tahun pertama perkawinan adalah masa tersulit untuk pasangan, Sha. Lima bulan pertama mungkin mereka masih mesra, tapi memasuki akhir semester pertama masalah pelik mulai muncul. Belum lagi dibutuhkan penyesuaian karakter masing-masing. Mereka yang dulunya hanya melihat yang manis-manis saat pacaran, bisa kaget ketika tahu keseharian dan sifat
Orang Kaya Baru, julukan itu mungkin dapat dengan gampang disematkan pada keluargaku. Ayahku yang berutang ratusan juta, mendadak bebas tanpa syarat karena kebaikan seseorang yang seperti superhero. Lebih ajaib lagi mas superhero tiba-tiba melamarku, dan sebulan kemudian, kami menikah. Udah gitu doi nggak cuma ganteng, dan berpenampilan keren, ia juga tajir melintir. "Nggak cuma ketiban duren si Ashanna itu, ketiban duren satu truk," komentar seorang tetangga. Untung saja itu cuma peribahasa. Jadi apa diriku kalau sampai ketiban durian satu truk beneran. Balik jadi Tom and Jerry lagi kali ya? Keluargaku jelas mengalami gegar budaya. Kami yang selama ini hidup sederhana, Bapak, Ibu, dan aku bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami, mendadak menerima sendok emas di tangan kami. Namun, yang paling terpengaruh oleh perubahan ini adalah ketiga adikku. Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Ketiga adikku perempuan, mereka duduk di bangku SMP, dan seumuran. Mereka memang kemb
"Apaan, sih, kalian ini?" tegurku, teguran yang lemah karena aku tak bisa menyembunyikan senyuman di bibirku. Wajahku pun panas. "Eciee, Mbak Shanna yang galak tersipu-sipu," ledek Dida. "Mbak Shanna yang suka ngomel blushing, pemirsa," tambah Disa. "Mbak Shanna langsung klepek-klepek saat ditanya tentang Mas Yudistira," pungkas Desi, melengkapi ledekan sekaligus ejekan mereka padaku. Seraya bertambah besar, ketiga adikku semakin pintar berolok-olok. Dulu mereka biasanya marah atau ngambek kalau kugoda, sekarang mereka pintar menggoda balik dengan lebih sadis. Duh, adik siapa sih ini? "Nanya kok aneh-aneh gitu sih. Terus apa tadi? Mas Yudis kalian bilang mirip sama Sule? Memangnya suamiku susu kedele? Kalau Mas Yudis marah, baru tahu rasa kalian nanti," gertakku, padahal aku tahu, Yudis nggak mungkin marah cuma karena dibilang mukanya mirip sang komedian. Habisnya aku bingung mesti menjawab bagaimana. Kan nggak lucu saat seorang perempuan ditanya, apakah ia mencintai suaminya, da
"Yud, selesai kursus aku mau ke rumah Ibu, ya. Aku dengar dari Disa Ibu lagi sakit," tuturku sedikit gugup. Aku mengaduk-aduk makanan di hadapanku dengan gelisah. Siang itu kami makan di restoran resort. Sebenarnya Yudistira bukan suami yang sulit, dia pasti mau memahami jika ada situasi tak terduga. "Keluargamu adalah keluargaku sekarang. Jika ada masalah di rumah, segera bilang padaku," begitu ia mewanti-wanti agar dirinya dilibatkan jika keluargaku mengalami kesulitan. Saat aku ingin ke rumah orang tuaku, kami selalu pergi bersama. Masalahnya hari ini ada rapat direksi resort, dan Yudistira harus datang. Apakah aku akan diizinkan untuk pergi sendiri? Tadi pagi Disa mengirimiku pesan, mengabarkan kondisi Ibu sedang kurang sehat. Pikiranku langsung mengarah ke penyakit yang selama beberapa tahun ini muncul. "Jangan-jangan benjolannya makin parah," gumamku, tak luput dari pendengaran Yudistira. "Makan yang benar, Sha. Kasihan pak tani yang sudah capek-capek menanam," tegurnya, d
"Pak ... aku tak percaya Bapak seperti itu," kecamku dengan raut wajah mengeras. Gigiku bergemeretak, dan rahangku terkatup keras. Jika orang lain yang mengatakannya, aku mungkin tak akan percaya, tapi ini ayahku sendiri yang bicara. "Maaf, Nak. Bapak bukan orang tua yang baik," sesalnya dengan wajah tertunduk lesu. "Pak ... aarrkkh!!!" geramku kesal. "Bukankah Bapak sendiri yang selalu mengajarkan anak-anak untuk bekerja keras, belajar giat, berusaha sekuat tenaga, dan bukan mengejar hasil mudah, tapi dengan cara tak terpuji?" Suara hujan dan petir di malam itu membuat suasana hatiku semakin buruk, apalagi setelah mengetahui bahwa ayah yang selama ini kubanggakan, kujadikan panutan, ternyata bisa tergoda untuk melakukan tindakan yang tak pantas. "Aku kecewa sama Bapak," pungkasku, sebelum meninggalkan pria paruh baya itu sendirian. Batinku terlalu lelah, tak siap menerima fakta konyol ini. "Shanna." Ibu sempat memanggilku, ketika ia masuk ke ruang tamu tempat aku dan Bapak bi
Sebaik apapun manusia, masih saja ada celah yang orang temukan untuk mencari kejelekan kita. Mereka bebas menilai orang lain sesuka hati, tak peduli itu benar atau salah. Dulu sewaktu aku masih sekolah hingga kuliah, penampilanku seadanya, sesuai budget seorang anak yang masih minta uang jajan dari orang tua. Penilaian orang cenderung positif. "Ashanna itu anaknya baik, ya, manis, sederhana, rajin," celetuk seseorang penuh pujian. "Iya, pintar pula. Sejak SMA sampai kuliah juga dia selalu dapat beasiswa," timpal yang lain menyetujui. Kurang lebih semacam itu komentar orang-orang, baik yang kudengar langsung ataupun dari teman yang melaporkan padaku. Bangga, dong, diriku mendapatkan banyak pujian. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara dari keluarga sederhana, aku tahu biaya hidup dan sekolahku tidak murah. Ayahku hanya bekerja sebagai buruh pabrik, dan ibuku berjualan makanan. Mereka tak pernah mengeluh, selalu tampak gembira di depan anak-anak atau orang lain. Namun, suatu k
"Tidak! Aku tidak seperti itu." "Tidak! Itu bukan kesalahanku." Berdalih ataupun menyangkal adalah satu tindakan yang orang lakukan untuk membela diri dari celaan orang lain. Tidak ingin dicap buruk, manusia mencari banyak dalih, dan pembenaran diri. Itulah yang kulakukan saat ini. Gosip bernada menuduh yang kudengar di warung tadi seperti pukulan beruntun yang meremukkan seluruh hati dan harga diriku. Mereka seolah berkata aku hanyalah anak tidak berharga, yang egois, dan tidak peduli kepada keluarganya. 'Nggak! Itu bukan salahku, aku nggak pernah tahu kalau bapakku berutang, Bapak nggak pernah cerita kepadaku, bagaimana aku bisa membantu? Bapak yang mata duitan!' protesku dalam hati. Dengan susah payah aku pulang, seraya menahan sakit kepala, dan sakit hati yang tak tertahankan. Ibu masih di dapur, jadi ia tak melihatku. Ketimbang bergabung lagi dengan Ibu, aku memilih untuk masuk ke kamarku. Kulihat wajahku yang kusut dan merana di cermin. Aku sudah terlalu lelah untuk lanjut
(Tiga tahun kemudian) "Tangkap, anak-anak!" "Ayo, Dik! Lari!" "Ahahaha! Kakak!!!" Teriakan dan jeritan tawa khas bocah yang sanggup memekakkan telinga, membuat suasana di halaman belakang rumah mertuaku begitu ramai. Berisik, sekaligus menghangatkan hati. Yudistira, suami yang amat kucintai, bermain tangkap bola dengan kedua anak kami, Dias dan Nara. Meskipun keduanya mewarisi wajah sang ayah, sifat mereka sangat berbeda. Nara pemberani, cerewet, dan berjiwa pemimpin, cocok banget dengan suasana hati yang kurasakan ketika aku hamil. Sedangkan Dias lebih tenang, dan mudah tersentuh, cocok juga dengan pembawaanku yang suka mewek saat mengandungnya. Kupandang mereka bertiga penuh sayang. "Lucu banget, ya, cucu-cucu Mama," celetuk ibu mertuaku yang tiba-tiba berdiri di sampingku. "Anak Mama lebih lucu, Ma," sahutku sambil cengengesan. Kan, suamiku memang lucu. Sesaat Mama Ani terbengong, lalu dia memukulku main-main. "Baguslah, kalau kamu masih menganggap anak Mama yang paling luc
"Selamat, Nak! Sudah lengkap sekarang, satu perempuan, satu laki-laki." "Selamat, ya, Yudistira dan Ashanna, anak kalian ganteng banget!" "Lucunya anak kalian!" Pujian semacam itu sering kudengarkan beberapa hari ini setelah si Cendol lahir ke dunia. Membanggakan memang, tetapi tak semua pujian membuatku senang. "Ya, ampun! Ini sih foto copy-an Yudistira." "Mirip banget dengan bapaknya." "Benar, mirip plek ketlipek-tiplek." Katanya anak perempuan lebih mirip ayahnya, sedangkan anak lelaki lebih mirip ibunya. Nah, sekarang aku punya dua anak, satu perempuan, satu laki-laki, mengapa nggak ada satu pun yang mirip aku? Mereka berdua mirip bapaknya, ibunya kebagian apa? Seakan-akan aku cuma dijadikan jalan lewat mereka lahir ke dunia. Aku mau nitipin bentuk hidung saja mereka menolak.Memang sih, hidung suamiku lebih mancung ketimbang hidungku, jadi sudah pasti hidung anak-anakku juga mancung. Hah!"Malah bagus kali, Sha. Nggak akan ada yang meragukan bahwa kamu punya anak sama Yudi
"Sayang, ini kabar bahagia, mengapa kamu bersedih?" Pertanyaan suamiku, meskipun disampaikan dengan suara yang lembut, malah membuatku semakin galau, hingga rasanya aku ingin menangis. Bagaimana aku tidak sedih, baru juga enam bulan lalu aku melahirkan, eh, aku sudah hamil lagi. Bukannya aku tidak senang, tetapi anak pertamaku masih kecil, ia masih butuh banyak perhatian dariku, aku bahkan berencana untuk memberikan ASI eksklusif untuk Nara paling tidak selama setahun. "Seorang ibu hamil bisa saja menyusui, tetapi itu juga tergantung kondisi sang ibu. Bila ibu sehat, tak menutup kemungkinan untuk tetap menyusui," kata dokter kandunganku memberiku sedikit harapan.Sayangnya, aku tidak termasuk ibu sehat itu. Kehamilan kedua, aku malah teler luar biasa. Bukan hanya mengalami morning sick, tubuhku rasanya sangat lemas hingga tak mampu melakukan banyak aktivitas. Dan lagi-lagi suamiku yang harus repot mengurus kebutuhanku, membantuku bila aku perlu makan, atau ke kamar mandi.Namun, yan
"Sakit banget, ya, Sayang?" suamiku bertanya dengan wajah penuh kecemasan.Hanya seulas senyum yang mampu kuberikan sebagai jawaban, karena kuyakin ekspresi wajahku saat ini sudah cukup menggambarkan apa yang kurasakan.Kata orang sakit bersalin tuh sakit banget, dan itu benar kurasakan, padahal ini barulah awal prosesnya. Perut melilit seperti saat sedang kebelet BAB, ada desakan yang kuat untuk mengeluarkan isi perut, tetapi sayangnya melahirkan tak semudah itu.Belum lagi kontraksi yang terjadi, mirip sekali dengan kram perut. Aku pernah membaca di internet bahwa rasa sakit persalinan itu setara dengan 20 tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Dalam kasusku kayaknya 21 tulang yang patah, deh."Sha, kamu benar-benar sanggup melahirkan secara normal? Atau mau operasi saja?" tanya suamiku tiba-tiba.Kupalingkan mataku kepadanya, matanya berkaca-kaca. Aku tertawa lemah. "Yud, aku yang sakit, tapi mengapa kamu yang menangis?" aku balik bertanya. Kusentuh pipi pria yang kucintai itu.K
"Mbak, ini serius pilihanmu, Mbak? Asli, bukan Mbak Ashanna banget, lho." Ketiga adikku memandangku dengan tatapan penuh komplikasi, antara kagum, heran, dan sedikit tak percaya. Nada suara mereka terdengar mencemooh. "Unbelievable! Cantik, sih, cantik ...," komentar Desi mengambang, masih belum sanggup menerima kenyataan. Selama ini aku memang suka tampil cantik, tapi kecenderungannya cantik yang anggun, elegan, bukan cantik ala ciwi-ciwi yang girly dan kemayu. Mengingat tema acara untuk wedding anniversary ketiga kami adalah pernikahan, sudah sewajarnya aku mengenakan gaun pernikahan. Namun, karena perutku yang semakin membesar, jalan bulan keenam gitu loh, aku tak bebas memakai sembarang baju, karena bentuk perutku yang seperti balon bisa terekspos. Berdasarkan rekomendasi dari ahli bridal yang sudah berpengalaman belasan tahun, aku dibantu untuk memperoleh gaun yang tepat. Pilihannya jatuh kepada gaun pengantin ala-ala princess berwarna putih cantik, dengan bagian rok merekah
"Gimana sih kokinya? Kenapa masakannya begini semua? Nggak asyik, ah!" gerutuku dengan wajah tidak senang. Ketiga adikku, terutama Desi yang menjadi koki utama, memandangku dengan wajah merengut. Mereka sebal, karena aku mencela makanan yang mereka buat. Iya, aku yang mengomel tadi, karena sedikit kecewa dengan hasil masakan mereka. "Ya sudahlah, Mbak, tinggal makan pun," gerutu Disa tak senang. "Nggak perlu protes, tinggal buka mulut, nyam nyam nyam, perut kenyang," timpal Desi. Dida pun menimpali, "Rempong bener, sih, Mbak Ashanna ini." "Habis gimana, dong? Kalian masak western food, katanya, makanan Italia, tapi kok semua mengandung keju begini?" Aku mempertegas alasanku memprotes mereka. "Namanya western food, Mbak, pakai keju. Kalau pakai cabai, brambang bawang, ya masakan Jawa. Kalau pakai andaliman masakan Batak. Sudah autentik itu," Desi berdalih lagi. "Lagian tuh makanannya mengandung kalsium tinggi. Bagus untuk pertumbuhan bayi dalam kandungan, sehat untuk bayinya Mbak
"Kamu nggak salah makan, Sha? Atau tadi di rumah sakit dokter nggak keliru nyuntik kamu serum kurang waras, 'kan?"Asyiknya Yudistira tuh kayak gini ini. Dia bisa saja langsung marah karena mendengar permintaanku yang aneh, tetapi ia malah bercanda. Mengejek memang, tapi main-main saja."Ngawur! Aku kan disuntik serum yang bikin bahagia," ucapku sambil senyum-senyum."Hah! Emang serum apaan?" tanyanya dengan nada mencemooh. Aku tertawa kecil. Sebenarnya Yudistira pasti cemburu gara-gara permintaanku yang aneh.Dengan wajah super serius aku menjawab, "Serum yang bikin bahagia? Serum ... ah sama kamu, hidup bersama kamu, punya anak dengan ....""Ahay!!!" seru Yudistira, kali ini ia kegirangan ditambah sedikit tersipu. Ah, kena juga gombalanku. Hihi."Terus tadi kamu bilang ingin menikah lagi tu, apa? Mau nikah sama siapa? Kamu mau poliandri?" Yudistira kembali bertanya menuntut penjelasan. Nah, kan! Mikirnya sudah aneh-aneh. Apalagi coba kalau bukan cemburu namanya?"Idih! Siapa juga ya
"Sudah delapan jam Ibu Fitri mengalami kontraksi, tetapi belum ada tanda-tanda bayinya akan lahir." Ucapan dokter tadi membuat kami cemas. Juna bilang sejak semalam istrinya telah merasakan kesakitan sebagai tanda akan melahirkan, mengingat usia kandungannya sudah melewati angka sembilan bulan. Namun, pagi ini berjam-jam Fitri telah mengalami kontraksi, tetapi si jabang bayi seperti belum rela meninggalkan perut ibunya. Duh, tak bisa kubayangkan, calon ibu ini pasti sudah menghabiskan banyak tenaga. Kalau seperti ini sudah bisa diperkirakan apa yang harus dilakukan terhadap Fitri dan bayinya. "Kami menyarankan untuk operasi saja, demi keselamatan ibu dan anak. Mohon segera diputuskan, Pak, agar Ibu tidak perlu menunggu terlalu lama," ungkap sang dokter kepada Mas Juna, menyatakan hal yang sama persis dengan perkiraan kami. Iparku berpikir di tengah kecemasan. Memang Fitri sendiri berharap ingin melahirkan secara normal, sudah sewajarnya wanita menginginkan metode ini saat bersalin
"Jangan pergi, Sayang! Aku nggak mau ditinggal. Please ...," rengekku sembari mencengkeram erat lengan suamiku.Yudistira menghentikan langkahnya. Ia sudah rapi, ganteng, wangi, dan siap berangkat kerja, tapi rasanya aku tak rela ditinggal di rumah sendiri.Semenjak hamil dan kerap mengalami morning sick, Yudistira, selaku bos dan suami, memberikanku cuti kehamilan tak terbatas waktu. Artinya aku bisa libur selama apapun aku mau, dan kembali kapanpun aku siap, tanpa resiko kena PHK, dan tetap mendapatkan gaji ... maksudnya gaji dari uang pribadi suamiku."Sayangku, Ashanna, kalau aku nggak pergi kerja, kita mau makan apa?" dalihnya agar aku membiarkannya pergi."Aku nggak butuh uang, Sayang, cukup cintamu. Cintamu saja untuk selamanya," ucapku romantis, dramatis, dan nylekutis. Suaraku bahkan terdengar kelewat manis, melebihi sakarin, aspartam dan biang gula manapun.Lagian bohong banget, dia nggak kerja sehari saja bingung mau makan apa? Hah! Kami liburan sebulan pun dia nggak akan b