Bening merasa tubuhnya menggigil. Pertanyaan Cakra seumpama palu godam yang menghantam tepat di jantungnya. Ia ingin menjawab, tetapi kata-kata seakan tercekat di tenggorokan. Ia tak pernah menyangka jika kaburnya semalam karena sakit hati justru menyusahkan diri sendiri.
“KAMU DARI MANA SEMALEM?”
“JAWAB, BENING!”
Suara Cakra benar-benar meninggi sekarang. Bening takut bukan main. Ia harus mengatakan apa?
“JAWAB!”
“A-aku ... aku pergi sama temen-temenku.” Dengan pelan Bening menjawab. Nada bicaranya diatur sedemikian tenang agar semua tampak meyakinkan. Tapi, justru itu terdengar bergetar. Bahkan di telingnya sendiri.
Dan tak dapat disangkal, sorot mata Cakra kini menatap penuh curiga. “Temen-temen? Siapa? Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya.”
Sengaja Bening menghindari tatapan mata suaminya. Ia menggigiti bibir untuk mendapatkan ketenangan diri. “Aku cuma butuh pelampiasan. Kamu nggak lupa kan apa yang terjadi semalem?” Nada bicaranya mulai kembali tegar demi mengingat peristiwa tragisnya semalam.
Harusnya Cakra tidak mengintimidasinya begini. Harusnya dirinyalah yang menyerang serta memojokkan suaminya itu.
“Karena kamu Mas aku jadi pergi. Nenangin diri. Jernihin pikiran.” Tak ingin kalah dari Cakra, Bening pun menekan-nekan kalimatnya.
“JERNIHIN PIKIRAN? Sama siapa? Di mana? Dan kenapa kamu bau alkohol, hah?”
Suara Cakra yang makin meninggi membuat dada Bening berdegup kencang. Ia sadar bahwa percakapan itu tak akan menemukan ujung. Tiada titik terangnya dan hanya akan saling ungkit.
"Mas, cukup! Aku nggak mau bahas ini sekarang!" Bening balas menaikkan suaranya, mencoba menguasai situasi meski dirinya sebenarnya sudah ketakutan.
Tapi Cakra tampaknya tak menyerah. "Enggak, Bening. Aku mau tahu! Aku ini suamimu, dan aku berhak tahu apa yang kamu lakuin semalam!"
“DI MANA DAN SAMA SIAPA?”
Bening memutar bola matanya. Ia malas dengan sikap Cakra. Bukankah Cakra juga bersalah semalam. Mengapa suaminya itu bersikap seakan-akan hanya dirinyalah yang pantas untuk dihakimi?
“Aku udah bilang, kan ... aku pergi sama temen-temen.”
“IYA. SIAPA?” Rahang Cakra sempurna mengeras. Tidak pernah Bening merasa ketakutan seperti ini.
“Kamu tinggal jawab namanya! Kenapa muter-muter sih, Bening! Aku butuh namanya.”
Kata-kata itu membuat Bening terdiam sejenak. Namun, sebelum ia bisa merespons, sebuah ketukan keras terdengar di pintu kamar.
Tok! Tok! Tok!
“Deeek! Cakraaaa!” Suara Sinta terdengar dari balik pintu.
Sekejap, ia dan Cakra sempat adu pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran Cakra, Bening terlalu pusing untuk menerka. Ia merapatkan tubuh ke tembok kala Cakra berjalan menuju ke arah sumber suara. Matanya dipejamkan erat.
Entah ia harus bersyukur atau menangis. Ketukan itu memberinya jeda untuk berpikir tentang apa yang akan ia katakan kepada Cakra. Tetapi, ketukan dari Sinta itu pula yang membuat batin Bening kembali terpukul. Sejadi-jadinya.
Percaya diri sekali kakaknya itu. Sudah bersalah dan kini bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Di mana akal dan nuraninya?
Kala Bening membuka mata, ia sudah mendapati Sinta berdiri di ambang pintu. Dengan senyum sinis yang membuat darah Bening seketika mendidih. Keterlaluan.
“Kalian baik-baik aja, kan? Soalnya teriak-teriak sampai luar kedengeran,” ucap Sinta. Seolah peduli dengan apa yang terjadi.
“Sinta, pergi!” Suara Cakra terdengar tegas. “Kami baik-baik aja.”
Bukannya segera enyah, Sinta justru tampak melongokkan kepala. Matanya yang sinis persis membidik Bening yang kini masih berdiri menempel pada dinding.
“Masa, sih? Kalau baik-baik aja nggak mungkin sampai teriak-teriak dong!” ucap Sinta yang kini malah menyandarkan tubuh ke kusen pintu. Mata Sinta kini bergulir menatap Cakra. “Kamu nggak ngomong yang aneh-aneh ke Bening, kan? Soal tadi malem?”
Dunia Bening seperti berhenti mengitari matahari. Runtuh. Sengaja sekali kakaknya itu berucap demikian. Apa maksudnya?
“Cukup, Sinta!” sergah Cakra, yang kini terdengar semakin marah. “Kamu udah cukup bikin masalah. Jangan tambah keruh keadaan!”
Sinta hanya tertawa kecil sebelum melenggang pergi. Tapi, sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan, ia berbalik dan berkata, “Hati-hati, Cakra. Rahasia kecil kita bisa bikin segalanya makin menarik.”
Bening terhuyung. Kata-kata Sinta seperti pisau yang menusuk tepat ke hatinya. Rahasia apa? Kenapa Sinta mengatakan itu? Dan mengapa, seolah-olah, ia menjadi pion dalam permainan kakaknya?
Cakra menutup pintu dengan keras, lalu berbalik, menatap Bening yang kini terlihat lebih rapuh dari sebelumnya. “Jangan dengerin dia!”
Bening menunduk, ingatan semalam kembali naik ke permukaan kepala. Bagaimana Cakra dan Sinta begitu intim, mesra, dan saling menggebu. Padahal ia lah istri Cakra. Tak seharusnya kejadian semalam terjadi.
Jika Cakra semalam tak berada di kamar kakaknya, ia pun tak mungkin pernah keluar rumah dan berakhir di hotel entah dengan siapa. Aaaargh!
Air mata Bening kembali menetes. Ia menggenggam tangan sendiri, mencoba menenangkan diri. “Aku nggak tahu, Mas. Aku benar-benar nggak tahu.”
“Apa harus aku dengerin kamu?”
“Aku juga nggak tahu kalau seandainya kamu yang bohong.” Kalimatnya lemah dan lirih. Terserah! Ia bingung dengan semuanya.
Bahtera pernikahan yang indah dibayangkan, akankah karam dalam kurun waktu semalam?
“Aku nggak bohong, Sayang. Kakakmu itu yang bener-bener godain aku. Kamu harus percaya!”
Kepala Bening digeleng-gelengkan. “Aku nggak tahu.” Kakinya beringsut hendak menuju kamar mandi. Mungkin mengguyur kepala lebih menarik daripada berbicara muter-muter dengan sang suami.
Namun, tangannya ditarik oleh Cakra. Diremas kuat-kuat dan kembali ia mendapati tatapan menuntut suaminya. “Pertanyaanku belum kamu jawab, Bening Ayu! Semalem kamu ke mana? Pergi sama temenmu yang mana?”
Astagaa!
Menarik napas dalam-dalam, Bening mendongkakkan kepala. Seolah menantang Cakra. Ia tak lagi peduli. Toh, suaminya itu juga telah membuatnya sakit hati. Suaminya itu lah yang membuat ia sendiri tak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Kalau pun aku kasih tau, kamu juga nggak kenal sama dia, Mas.”
Mata Cakra melotot. “Berani kamu bicara begini ke suamimu?”
“KENAPA? KAMU AJA UDAH MAIN GILA.”
PLAK!
Semua hening seketika. Air mata Bening yang belum sempurna habis tadi kembali menuruni pipi. Dunia memang edan ternyata! Harusnya ia yang Murka. Kenapa justru Cakra yang marah?
“S-sayang. Sayang. Aku minta maaf. Aku nggak sengaja!” Suara Cakra bergetar. Matanya menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja dilayangkan ke pipi Bening.
“Kamu udah khianatin aku semalem. Dan barusan, kamu malah tampar aku, Mas.” Mata buram Bening menatap nanar ke arah Cakra. Menyedihkan!
“Aku minta maaf, Sayaang! Aku nggak sengaja!”
Bening hanya diam dan memejamkan mata sembari berbalik arah. Meninggalkan Cakra yang terus memanggil namanya.
Bening merasakan hatinya teriris dengan sikap Cakra pagi ini. Ditambah dengan ingatan kejadian semalam yang tidak akan mungkin pernah ia lupa seumur hidupnya. Tetapi sebenarnya sekarang, ia pun juga ketakutan mendapati kenyataan bahwa ia bangun di sebuah ranjang hotel.
Apa kata Cakra?
Apa yang akan ia jadikan alasan? Oh, Tuhaaaan!
Di kamar mandi, Bening semakin menyadari bahwa semalam ia tidak sedang bermimpi. Rasa perih di tubuhnya mengingatkan pada dosa yang telah ia lakukan. Dosa yang seharusnya tidak terjadi.
Ya Tuhan!
Jika suaminya hanya saling berpagutan, ia justru telah lebih dari sekadar itu.
Haruskah ia meminta maaf sekarang?
Bening keluar dan disambut pelukan oleh Cakra. Suaminya itu kembali menggaungkan kata maaf. “Aku minta maaf, Sayang. Aku khilaf.”
“Harusnya aku tetap di kamar. Aku nggak sengaja. Maaf udah nyakitin kamu!”
“Aku janji, aku nggak akan gitu lagi!”
“Kalau perlu, kita keluar dari sini dan cari kos!”
Hati Bening menghangat, meski sesak itu pun tak musnah sepenuhnya. Nada tulus Cakra sedikit meruntuhkan kekesalannya. Apa yang Cakra gumamkan masuk akal. Justru dalam hati Bening ia tengah sibuk merapal maaf karena telah berkhianat.
Namun, kesibukannya merangkai kata membawa pandangan matanya berhenti pada sebuah koper yang tampak siap di sebelah ranjang.
Arah pandangannya itu disadari oleh suaminya yang langsung memberi penjelasan. “Aku baru dapat kabar kalau aku harus ke Semarang malam ini, Sayang. Restoran yang di sana butuh aku handle!”
“Maksudnya?” Bening mengerutkan kening. “Kamu kan cuti, Mas.”
“Iya. Tapi nggak ada yang bisa selain aku, Sayang. Please kamu ngertiin posisi aku, ya!” Mata Cakra mengiba.
Heeeeh! Bening harus menarik napasnya dalam-dalam. “Berapa hari?”
“Satu ... .”
“Satu hari?” potong Bening.
Cakra mengalihkan pandangan. “Satu bulan, Sayang.”
*****
“SATU BULAN?”“NGGAK KELAMAAN?”“Mas mau ngapain di sana sampai satu bulan?”Kepala Bening yang baru saja dingin sebab kucuran air shower, kini kembali panas. Bahkan lebih membara dari sebelumnya. Suaminya itu ... serius?“Resto di sana lagi terombang-ambing, Sayang. Dan aku yang dipercaya bisa atasi ini. Dilihat perkembangannya sebulan.”Alasan Cakra itu tak mampu masuk ke akal Bening. lebih-lebih Cakra akan pergi di saat seperti ini? Di hari kedua pernikahan mereka? Di saat mereka belum mendapati malam pertama sebagai sepasang suami-istri? Dan saat masalah –entah salah paham entah memang pengkhianatan antara Cakra dengan Sinta belum terselesaikan?Ya Tuhan!“Tapi, Mas. Kita ini baru nikah loh. Kamu juga udah ambil cuti. Ditambah masalah semalem ... apa nggak bisa ditunda?” Mata Bening terpejam, menahan gejolak emosi di dadanya.“Aku ngerti, Sayang. Ini berat. Bukan cuma buat kamu, aku pun juga berat. Tapi, ini juga demi kita. Aku janji bakalan terus kasih kabar!”Aneh. Sangat aneh.
“Ke mana sih kamu, Mas?”Sinta menggenggam ponselnya setengah was-was. Menunggu balasan pesan dari Cakra begitu membuatnya resah. Mungkinkah Cakra sibuk dengan pekerjaan? Atau jangan-jangan adik iparnya itu sengaja menghindar darinya.Pikiran itu tiba-tiba menyalakan bara di dada Sinta. Ia tidak mau jika sampai Cakra menghindar darinya. Terlepas fakta bahwa Cakra kini adalah suami adiknya sendiri, Sinta tidak peduli. Yang ia inginkan adalah menarik Cakra untuk semakin mendekat dan berakhir memujanya melebihi Bening.Ke sekian kalinya Sinta menatap sendu ke arah layar ponsel. Masih tidak ada pesan balasan dari Cakra. Keresahannya bertambah ganas. Sungguh khawatir jika sampai Cakra sengaja menghindar darinya.“Kalau 15 menit lagi dia nggak bales, aku telepon aja!” ujar Sinta bermonolog.Namun, tak perlu menunggu sampai 15 menit karena beberapa detik berikutnya sebuah notifikasi pesan muncul di layar gawai. Sinta menyungging senyum menyadari bahwa pesan itu berasal dari Cakra. Yang sekali
“Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.
“K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun
Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu
“Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus
Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka
“Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi
Dayat tersenyum kecil, tidak kaget sama sekali. Justru, pria itu menatap Bening dengan cara yang membuat Bening semakin gelisah—tatapan seperti seseorang yang sudah tahu rahasia sebelum si pemilik rahasia mengungkapkannya."Aku tahu," kata Dayat, nada suaranya ringan.Bening mengerjap. "Apa?"Dayat menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Waktu kamu pingsan di rumah sakit, aku ada di sana. Aku dengar sendiri waktu dokter ngomong soal kehamilanmu."Bening terdiam. Ada sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya."Jadi, aku cuma menunggu kapan kamu akhirnya bakal jujur." Dayat menatapnya lekat, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit diterjemahkan.Bening merasa darahnya berdesir. "Kalau kamu udah tahu, kenapa nggak bilang apa-apa?"Bening mengepalkan jemarinya, berusaha menahan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jari. Udara di dalam kafe terasa semakin berat. Di hadapannya, Dayat dud
Suara pria di seberang sana terdengar datar, tapi anehnya, seperti telah menunggu panggilan darinya. Hal itu menyalakan sesuatu dalam benak Bening—rasa tak nyaman yang tak bisa ia abaikan. Apakah Dayat benar-benar sudah menduga ia akan menghubunginya?Napas Bening tersengal halus. Bukan karena kelelahan, melainkan karena dadanya terasa sesak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokan, tapi ia harus mengatakannya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengendalikan getar suaranya sebelum akhirnya bicara."Aku cuma mau bilang terima kasih," katanya, berusaha terdengar tenang. "Sudah nolongin tadi. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku—""Sama-sama."Dayat memotongnya dengan nada santai, seakan sudah bisa menebak apa yang akan ia katakan. Bening terdiam sejenak. Ia menunggu, berharap Dayat akan menambahkan sesuatu, tapi tidak."Nggak perlu dipikirin," lanjut pria itu.Bening menggenggam ponsel lebih erat. Ada sesuatu dalam caranya berbicara—tenang, tapi seolah tidak member
Flora baru saja hendak menata ulang kue-kue yang Bening buat ketika sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Bening yang semula berdiri tegak mendadak limbung, lalu ambruk. Flora terperanjat. Napasnya tercekat sejenak sebelum refleks menerjang ke arah sahabatnya itu.Belum sempat ia menjangkau, dua pelanggan yang baru saja masuk ke gerai lebih dulu bergerak. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi dan tegap, langsung menyambut tubuh Bening sebelum kepalanya benar-benar menghantam lantai.“Bening?” gumam pria tersebut, seakan mengenal perempuan yang kini tak sadarkan diri.Flora mengabaikan keheranannya dan buru-buru mengambil minyak kayu putih dari rak. Tangannya bekerja cepat, membalur kaki, pelipis, philtrum, dan leher Bening dengan minyak itu. Dada Bening naik turun pelan, namun tetap tak menunjukkan tanda-tanda sadar. Flora menggigit bibirnya, lalu dengan sedikit ragu, melonggarkan kancing baju bagian atas Bening agar pernapasannya lebih leluasa. Tapi tetap saja, tak ada respo
“Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi
Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka
“Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus
Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu
“K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun
“Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.