“MAS!”
Bening terpaksa membuka mata setelah tangannya yang merabai sisi kanan-kiri tak mendapati sang suami. Ia menarik tubuh tengkurapnya dan menyunggingkan senyum puas. Teringat peristiwa indah semalam.
Ia telah menyerahkan diri kepada sang suami. Setelah 28 tahun menjaganya. Oh indahnya!
Kesadaran yang perlahan diperoleh pun membawa pandangan Bening mengitari ruangan. Serba putih. Tapi, ini bukan kamarnya. Bukan kamar pengantinnya.
Matanya membola. Bibirnya pun ternganga. “I-ini kamar siapa?”
Tubuh Bening berjingkat seketika. “Mas! MAS!”
“Mas Cakra!”
Bening lebih kaget lagi saat ia hendak menuruni ranjang. Tubuhnya hanya berbalut selimut putih dan dari sana ia mulai sadar bahwa ia sedang berada di hotel.
Astaga!
“Mas Cakra yang bawa aku ke sini, kan?” gumam Bening kebingungan.
Hoek!
Perutnya mual tiba-tiba. Ia dengan cepat menuju ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya. Cairan kuning terakhir yang keluar resmi membuat kerongkongannya pahit bukan main.
Ketika tangannya menyeka permukaan mulut hingga seluruh wajah, barulah Bening mulai menyadari sesuatu. Puing-puing ingatannya mulai lahir ke permukaan kepala.
Bukankah semalam ia memergoki suaminya berada di kamar kakaknya?
Bukankah semalam ia lari dan pergi dari rumah masih dengan gaun pengantinnya?
Ia disodori air minum beraroma menyengat dan terasa pahit oleh seseorang. Laki-laki mengerikan yang hendak berbuat asusila kepadanya. Hingga datang seorang malaikat penolong.
“Terus aku ke sini sama siapa?” Bening masih tak paham dengan apa yang terjadi.
Astaga!
Mungkinkah dengan malaikat penolong itu?
Bukannya semalam ia sedang bersama Cakra dan menunaikan ibadah malam pertama sebagai sepasang suami-istri? Ya Tuhan!
Bening buru-buru keluar kamar mandi. Mencari gaun pengantinnya yang tergantung di lemari terbuka dan memakainya segera. Masih basah di beberapa bagian, tetapi bukan itu yang harus dipedulikan.
“Ya ampun, Beniiing!” Tangan Bening mengusak rambutnya kasar. Jam dinding sudah menunjuk ke angka sembilan pagi.
Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Atau jangan-jangan ia melakukan ‘hal itu’ bukan dengan Cakra?
“Nggak, nggak. Kayaknya itu mimpi buruk. Atau aku yang teler,” ucap Bening bermonolog teringat ia telah meneguk minuman aneh dari orang asing.
“Malaikat penolong cuma datang, bawa aku ke sini, dan udah. Tiba-tiba pagi.” Segudang kalimat terus ia gumam guna meyakinkan dirinya sendiri bahwa semalam tidak ada sesuatu penting yang telah terjadi.
“Oke. Cu-ma mim-pi.” Sekali lagi Bening menegaskan kepada diri sendiri sebelum kakinya benar-benar keluar dari kamar hotel tersebut.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindar.
Keluar dari Kamar Bening baru menyadari bahwa ia terdampar hingga ke pusat kota tempatnya tinggal. Uang dan ponsel pun tak ada dalam genggaman. Ia harus memutar otak keras-keras.
“Mikir, Bening! Gimana caranya pulang.”
“Makanya kalau mau minggat bawa hape!” rutuknya kepada diri sendiri.
Bening berjalan ke arah resepsionis. Ia memasang wajah melas dan meminta tolong kepada staf di sana untuk membantunya agar bisa pulang. Dengan segala keahlian akting dan drama, akhirnya ia yang sedang kalang kabut duduk di jok belakang ojek online.
Sepanjang jalan pulang Bening sibuk merangkai kata. Bersiap mental saat bertemu dengan suaminya, kakaknya, dan juga orang tua. Mengingat peristiwa semalam kembali hati Bening mencelos. Sakit luar biasa. Dadanya seperti dikuliti hidup-hidup.
“Aku maafin kamu, Mas. Tapi dengan syarat ... .”
“Kita mungkin perlu waktu buat sendiri-sendiri dulu! Saling introspeksi sebenernya kita nikah buat apa?” Bening terus melafalkan kalimat tersebut dalam benak. Ia akan menyerang Cakra agar merasa bersalah. Dengan demikian, Cakra akan tetap bertahan dengannya.
Tak bisa dipungkiri. Ia sungguh cinta kepada Cakra.
Bahkan, mungkin ia tak akan sanggup hidup tanpa lelaki yang dicintainya itu. Cinta memang bodoh!
Rumah dengan halaman luas sudah di depan mata. Tampak sunyi seperti tiada apa-apa. Kecuali sisa-sisa tenda pernikahan yang belum dibereskan, tak ada pertanda kehidupan di sana.
“Makasih ya, Mas!” ucap Bening mengembalikan helm kepada driver.
Buru-buru ia masuk ke halaman rumah. Was-was jika ada tetangga yang melihatnya baru keluar masih dengan gaun pengantin. Akan menambah masalah hidupnya kelak.
Pintu terbuka dan ...
“Astaga, Beniiing! Kamu ke mana aja, Nduk?” Suara dan wajah lembut Bu Hidayah –Ibunda Bening menyambut.
Membuat Bening mematung. Demi melihat raut wajah sang ibu, ia tak mungkin menceritakan kebenarannya. Beberapa detik ia diam, berakhir hanya memberi senyuman.
Tangan sang ibu meremas lengan atasnya erat. “Kamu dari mana?”
“Kata Cakra kamu pergi pagi-pagi betul,” ucap sang ibu sembari meneliti penampilan Bening dari atas hingga ujung kaki. “Masih pakai baju pengantin begini.”
Bening kembali tersenyum. “Ada masalah di toko, Buk. Tapi syukurnya udah selesai.” Akhirnya ia berbohong. Demi tak ingin membuat resah hati ibunya.
Napas lega terdengar kemudian. “Ya wis. Kamu masuk! Mandi, ganti baju, terus makan!”
“Cakra pasti khawatir!”
“Lain kali kalau pergi kabari suamimu. Cakra itu sekarang sudah jadi suamimu, Nduk. Jangan main pergi seenak udel!” sergah sang ibu. Bening hanya mengangguk. Pahit.
Persis seperti yang ibunya minta. Bening segera masuk. Ia menuju kamar dan berharap menemukan suaminya di sana. Kembali kepalanya terasa panas tatkala tanpa diinginkan ia berpapasan dengan kakaknya, Sinta.
“Pulang juga kamu, Dek? Mbak kira bakalan minggat.”
Enteng sekali bibir itu berujar demikian. Seperti tidak ada kesalahan. Seperti tak punya dosa. Tapi, sekuat tenaga Bening mengendalikan diri. Meski rasanya ia ingin memaki dan meludahi Sinta.
Sungguh! ia tak pernah menyangka bahwa akan mengalami tragedi mengenaskan seperti cerita halu yang berseliweran di media sosial.
Mencengangkannya lagi, Sinta justru berani menatapnya dan memberinya peringatan.
“Awas aja kalau kamu ngadu ke Ibu! Kamu sendiri yang bakal rugi, Dek! Ibu pasti bakalan shock, tensinya naik, dan ... . Kamu bayangin sendiri ajalah!”
“Mengerikaaaan!” Sinta benar-benar tak merasa bersalah. Bahkan meminta maaf pun tidak. Kakak macam apa itu?
Wajah licik Sinta kini secara leluasa diumbar. “Inget! Jangan sekali-kali kamu ngadu! Atau kamu yang bakalan nyesel! Seumur hidup!” ancam Sinta lagi. Bening tak banyak bereaksi. Ia tak punya pilihan.
Ibunya yang mungkin akan jantungan atau Cakra yang justru hilang dari genggaman. Keduanya sama merugikan. Biarlah sakit itu ia rasakan sendiri. Toh, suaminya hanya khilaf.
“Semoga Tuhan yang membayar semua! Secara lunas!” gumam Bening dalam hati. Setelah Sinta melenggang pergi.
Tangannya memegang gagang pintu kamar, membuka, dan kembali menutupnya keras-keras saat tahu bahwa Cakra memang ada di dalam.
“Sayang!” Cakra membeliakkan mata dan segera beringsut mengetahui kehadirannya. Wajah suami Bening itu pun tampak sumringah.
Bening tak menggubris. Ia masih marah dan harusnya Cakra tahu itu. Suaminya itu mendekat. “Kamu dari mana aja, Sayang? Aku nyariin kamu.”
Bening masih membisu. Matanya menatap Cakra dengan sinis. Menegaskan jika ia masih tak sudi menganggap situasi baik-baik saja.
Namun, di sisi hatinya yang lain pun Bening mulai gusar. Jika Cakra masih mempertanyakan keberadaannya semalam. Lantas dengan siapa semalam ia meramu bahasa cinta? Astagaaa!
“Kamu jangan diem aja dong, Sayang!”
Kepala Bening semakin penuh rasanya. Haruskah ia menyampaikan kegusarannya kepada Cakra. Tapi, ia sedang marah.
“Aku minta maaf, Sayang!”
Bening masih tak mengindahkan. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Menebak dan mengantisipasi bagaimana jika memang ia telah bercinta dengan orang selain suaminya? Apa yang harus ia katakan nanti?
“BENING AYU!”
Bening baru sadar kala Cakra meninggikan suara.
“Aku ngomong sama kamu. Aku minta maaf! Aku khilaf. Mbakmu yang godain aku!” terang Cakra dengan wajah merah padam.
Rahang Cakra pun tampak mengeras sekarang. “Kamu sendiri dari mana semalam? Huh?” Tangan Cakra menyentuh dagu Bening dan memaksanya mendongak.
Mata Cakra memindai penampilannya yang memang porak poranda. “Kamu nggak aneh-aneh, kan?”
“Kamu masih istriku yang utuh kan, Sayang?”
Huh! Bening bingung menjawab apa. Matanya mulai panas menahan cairan sialan. Ketakutannya kini semakin menjadi.
“Jawab, Bening!”
“JAWAB!”
“Jangan samakan aku kayak kamu, Mas!”
Haah! Tangan Cakra melepaskan dagunya segera. Mengibas-ngibas udara kosong. Bening tak tahu mengapa. Yang jelas ia tahu wajah Cakra kian merah padam pertanda amarah.
“Bau al-ko-hol.”
Jantung Bening seakan terhenti. Mengapa ia tak menyadari hal itu? Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba meredakan rasa gugup yang menyeruak.
“PERGI KE MANA KAMU SEMALEM?”
*****
Bening merasa tubuhnya menggigil. Pertanyaan Cakra seumpama palu godam yang menghantam tepat di jantungnya. Ia ingin menjawab, tetapi kata-kata seakan tercekat di tenggorokan. Ia tak pernah menyangka jika kaburnya semalam karena sakit hati justru menyusahkan diri sendiri.“KAMU DARI MANA SEMALEM?”“JAWAB, BENING!”Suara Cakra benar-benar meninggi sekarang. Bening takut bukan main. Ia harus mengatakan apa?“JAWAB!”“A-aku ... aku pergi sama temen-temenku.” Dengan pelan Bening menjawab. Nada bicaranya diatur sedemikian tenang agar semua tampak meyakinkan. Tapi, justru itu terdengar bergetar. Bahkan di telingnya sendiri.Dan tak dapat disangkal, sorot mata Cakra kini menatap penuh curiga. “Temen-temen? Siapa? Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya.”Sengaja Bening menghindari tatapan mata suaminya. Ia menggigiti bibir untuk mendapatkan ketenangan diri. “Aku cuma butuh pelampiasan. Kamu nggak lupa kan apa yang terjadi semalem?” Nada bicaranya mulai kembali tegar demi mengingat peristiwa
“SATU BULAN?”“NGGAK KELAMAAN?”“Mas mau ngapain di sana sampai satu bulan?”Kepala Bening yang baru saja dingin sebab kucuran air shower, kini kembali panas. Bahkan lebih membara dari sebelumnya. Suaminya itu ... serius?“Resto di sana lagi terombang-ambing, Sayang. Dan aku yang dipercaya bisa atasi ini. Dilihat perkembangannya sebulan.”Alasan Cakra itu tak mampu masuk ke akal Bening. lebih-lebih Cakra akan pergi di saat seperti ini? Di hari kedua pernikahan mereka? Di saat mereka belum mendapati malam pertama sebagai sepasang suami-istri? Dan saat masalah –entah salah paham entah memang pengkhianatan antara Cakra dengan Sinta belum terselesaikan?Ya Tuhan!“Tapi, Mas. Kita ini baru nikah loh. Kamu juga udah ambil cuti. Ditambah masalah semalem ... apa nggak bisa ditunda?” Mata Bening terpejam, menahan gejolak emosi di dadanya.“Aku ngerti, Sayang. Ini berat. Bukan cuma buat kamu, aku pun juga berat. Tapi, ini juga demi kita. Aku janji bakalan terus kasih kabar!”Aneh. Sangat aneh.
“Ke mana sih kamu, Mas?”Sinta menggenggam ponselnya setengah was-was. Menunggu balasan pesan dari Cakra begitu membuatnya resah. Mungkinkah Cakra sibuk dengan pekerjaan? Atau jangan-jangan adik iparnya itu sengaja menghindar darinya.Pikiran itu tiba-tiba menyalakan bara di dada Sinta. Ia tidak mau jika sampai Cakra menghindar darinya. Terlepas fakta bahwa Cakra kini adalah suami adiknya sendiri, Sinta tidak peduli. Yang ia inginkan adalah menarik Cakra untuk semakin mendekat dan berakhir memujanya melebihi Bening.Ke sekian kalinya Sinta menatap sendu ke arah layar ponsel. Masih tidak ada pesan balasan dari Cakra. Keresahannya bertambah ganas. Sungguh khawatir jika sampai Cakra sengaja menghindar darinya.“Kalau 15 menit lagi dia nggak bales, aku telepon aja!” ujar Sinta bermonolog.Namun, tak perlu menunggu sampai 15 menit karena beberapa detik berikutnya sebuah notifikasi pesan muncul di layar gawai. Sinta menyungging senyum menyadari bahwa pesan itu berasal dari Cakra. Yang sekali
“Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.
“K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun
Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu
“Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus
Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka
Dayat tersenyum kecil, tidak kaget sama sekali. Justru, pria itu menatap Bening dengan cara yang membuat Bening semakin gelisah—tatapan seperti seseorang yang sudah tahu rahasia sebelum si pemilik rahasia mengungkapkannya."Aku tahu," kata Dayat, nada suaranya ringan.Bening mengerjap. "Apa?"Dayat menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Waktu kamu pingsan di rumah sakit, aku ada di sana. Aku dengar sendiri waktu dokter ngomong soal kehamilanmu."Bening terdiam. Ada sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya."Jadi, aku cuma menunggu kapan kamu akhirnya bakal jujur." Dayat menatapnya lekat, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit diterjemahkan.Bening merasa darahnya berdesir. "Kalau kamu udah tahu, kenapa nggak bilang apa-apa?"Bening mengepalkan jemarinya, berusaha menahan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jari. Udara di dalam kafe terasa semakin berat. Di hadapannya, Dayat dud
Suara pria di seberang sana terdengar datar, tapi anehnya, seperti telah menunggu panggilan darinya. Hal itu menyalakan sesuatu dalam benak Bening—rasa tak nyaman yang tak bisa ia abaikan. Apakah Dayat benar-benar sudah menduga ia akan menghubunginya?Napas Bening tersengal halus. Bukan karena kelelahan, melainkan karena dadanya terasa sesak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokan, tapi ia harus mengatakannya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengendalikan getar suaranya sebelum akhirnya bicara."Aku cuma mau bilang terima kasih," katanya, berusaha terdengar tenang. "Sudah nolongin tadi. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku—""Sama-sama."Dayat memotongnya dengan nada santai, seakan sudah bisa menebak apa yang akan ia katakan. Bening terdiam sejenak. Ia menunggu, berharap Dayat akan menambahkan sesuatu, tapi tidak."Nggak perlu dipikirin," lanjut pria itu.Bening menggenggam ponsel lebih erat. Ada sesuatu dalam caranya berbicara—tenang, tapi seolah tidak member
Flora baru saja hendak menata ulang kue-kue yang Bening buat ketika sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Bening yang semula berdiri tegak mendadak limbung, lalu ambruk. Flora terperanjat. Napasnya tercekat sejenak sebelum refleks menerjang ke arah sahabatnya itu.Belum sempat ia menjangkau, dua pelanggan yang baru saja masuk ke gerai lebih dulu bergerak. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi dan tegap, langsung menyambut tubuh Bening sebelum kepalanya benar-benar menghantam lantai.“Bening?” gumam pria tersebut, seakan mengenal perempuan yang kini tak sadarkan diri.Flora mengabaikan keheranannya dan buru-buru mengambil minyak kayu putih dari rak. Tangannya bekerja cepat, membalur kaki, pelipis, philtrum, dan leher Bening dengan minyak itu. Dada Bening naik turun pelan, namun tetap tak menunjukkan tanda-tanda sadar. Flora menggigit bibirnya, lalu dengan sedikit ragu, melonggarkan kancing baju bagian atas Bening agar pernapasannya lebih leluasa. Tapi tetap saja, tak ada respo
“Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi
Huh!Bening hanya bisa memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam. Kakaknya benar sudah gila. Tidak bisa lagi diingatkan. Justru malah membalikkan keadaan dan seolah tidak bersalah. Susah!“Aku harus gimana, Ya Allah?” Menahan hati yang terluka, Bening beranjak dari tempat.Yang dialaminya itu persis buah simalakama. Ia yang jadi korban dan ia yang tertekan. Sakit hati kini bagaikan melayang. Hendak mengadu kepada sang ibu pun percuma, Sinta pasti sudah mempersiapkan jawaban. Dan Bening pun tak bisa membayangkan jika ibunya shock, darah tingginya kumat, dan ...“Nggak nggak. Ibu nggak boleh tau,” ucapnya menyimpulkan. Ia tidak akan memberitahu ibunya. Cukuplah ia yang mengetahui dan mengatasi.Namun, apakah ia juga sanggup untuk menghadapi kelakuan Sinta dengan suaminya itu seorang diri?Astaga! Bening benar-benar dibuat bingung oleh keadaan. Ia akan meminta penjelasan langsung kepada Cakra.Menunggu kepulangan Cakra tiga minggu lagi sungguh membuat Bening kian nestapa. Bukan ka
“Bener-bener ya kamu, Mbak.”Seraya menggerutu, jari Bening sudah mendial nomor Sinta. Tetapi, hingga panggilan ketiga, sama sekali tidak ada jawaban. Seakan Sinta sengaja tak menjawab telepon darinya. Membiarkan Bening larut dalam emosi serta kecemburuan yang membara.Tidak putus asa, kali selanjutnya Bening menelepon Cakra (lagi). Tetapi, nyatanya nomor suaminya itu justru tidak aktif. Membuat Bening kian curiga. Ia gelisah bukan main. Pikirannya meruncing pada simpulan prematur.BAHWA SUAMINYA MEMANG BERKHIANAT!“Ya ampun, Maaaas. Tega banget kamu!” desisnya dengan hati teriris pilu.Tangannya cepat mengetikkan pesan kepada Cakra. Mempertanyakan kesungguhan Cakra yang berjanji untuk setia, yang telah berjanji untuk terus berkabar bahkan setiap menit. Tapi, nyatanya mana? Kenyataannya suaminya itu justru tidak bisa dihubungi kala suasana hati Bening tengah berselimut kabut kecurigaan.“Mana janjimu? Katanya mau ngabarin aku. Katanya nggak bakal biarin aku mikir yang aneh-aneh.”“Jus
Suara Cakra dari seberang itu segera menyadarkan Bening bahwa sambungan telepon masih berlangsung. Buru-buru ia ambil ponsel dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. Setelahnya, ia sendiri bingung melontar jawaban.“Iya, Mas?”Terdengar embus napas kasar dari seberang. “Siapa pria barusan? Kamu kenal?” Pertanyaan yang lebih pas untuk disebut sebagai introgasi.Sengaja Bening menarik napas dalam-dalam. Ia berharap bisa menemukan jawaban aman dengan cepat. Tetapi, nyatanya isi kepala sedang bergejolak hingga kosong yang Bening rasakan.“Bening. Malam apa maksudnya?” Cakra terus mengejar jawaban.“Aku nggak ngerti, Mas. Aku juga nggak kenal sama pria itu. Mungkin dia lagi mabok atau gimana,” jawabnya asal.Hening.“Halo, Mas! Mas! Mas Cakra!” Bening sengaja menjauhkan ponsel untuk melihat layar. Masih tersambung.“Aku nggak kenal sama pria barusan. Aku juga kaget kenapa dia ngomong kayak gitu,” imbuh Bening. Ia bingung harus mengatakan apa agar Cakra mempercayai kalimatnya.“Kamu
“K-kamu!”Napas Bening seperti tersendat di tenggorokan. Tidak pernah ia bayangkan akan kembali bertemu dengan pria tersebut. Meski malam itu kesadaran tak sepenuhnya ia miliki, tetapi masih ada sisa ingatan tentang siapa pria yang kini berdiri tak jauh darinya.Pria dengan setelan jas rapi itu masih berdiri di tempatnya. Tanpa membuka mulut dan hanya menatap lurus ke arahnya dengan dingin.Bening menarik napas dalam. “Tenang, Bening! Tenaaang!” batinnya.Ia menenangkan diri sendiri meski pikiran dan hatinya telah luar biasa berkecamuk. Dalam embusan napas yang pelan ia terus meyakinkan diri bahwa pria itu hanya kebetulan datang, mungkin hendak membeli kue, dan semuanya akan seperti sedia kala. Baik-baik saja.Ya, tidak ada yang perlu dirisaukan!Pria itu hanyalah masa lalu. Kesalahan semalam. Tak kurang. Tak lebih.Sekali lagi, Bening menarik napas lalu tersenyum. “Ada. Cokelat di sini memang premium. Dipastikan kualitasnya!”“Jadi, nggak bakalan bikin gangguan di tenggorokan ataupun
“Terima kasih, Kak! Ditunggu kedatangannya lagi, yaaa!”Suara Flora amatlah merdu memanjakan konsumen. Tetapi, hanya seperti angin lalu bagi Bening yang telah lebih dulu larut merapikan display rak kuenya.Suasana gerai kembali lengang setelah beberapa gerombol anak muda berbondong membeli Korean Cream Cake. Demi membunuh sepi, tangan Bening cekatan merapikan tatanan. Meski yang sebenarnya sedang berserakan adalah pikirannya.Sebentar lagi langit bersulam warna ungu, tetapi tiga panggilannya kepada Cakra tak diangkat. Suaminya itu juga belum berkirim pesan setelah terakhir pagi tadi.Sebagai perempuan yang baru saja menikah, tentu hati Bening resah. Terlebih mengingat bahwa di usia pernikahannya yang belum genap seminggu sudah diwarna noktah, kian menjadikan Bening banyak pikiran.Suara pintu gerai yang terbuka pun tak menghentikan Bening dengan lamunannya yang kian variatif.“Kak, Cromboloni isi cokelat masih?”Bening tak menyahut karena telinganya sedang tertutup lamunan.“Kakaaaak.